AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Pria yang Serba Bisa



"Paman kan dokter militer, saya rasa tidak perlu memanggil pengawal. Paman saja yang obati," kata Agam sambil membuka celana panjangnya lalu naik ke tempat tidur.


"Hahaha, oh jadi kamu penyebabnya."


'BUKK.'


Paman Yordan memukul mustika milik Agam, karena merasa sedikit kesal, dan ia memang jahil.


"Argh, Pamaaan! Apa kamu gila?! Sakiiit." Agam melengking sampai meringkuk kesakitan.


"Hahaha, i'm sorry big brother," kata Paman Ben sambil menarik kaki Agam untuk mengobatinya.


"Paman tega sekali, dulu ibu juga menendangnya."


"Hahaha, tapi masih berfungsi, kan? Asalkan your big brother tidak pecah, Paman rasa tidak apa-apa." Sambil mengobati luka Agam, Paman Yordan tidak berhenti terkekeh.


"Pelan-pelan, Paman. Sedikit ngilu. Huhh ...." Keluh Agam.


"Kok bisa kamu tertembak? Payah."


"Saya diserang banyak musuh. Paman enak, tidak ikut angkat senjata."


"Heh, sembarangan saja kamu bilang enak," sambil menyentil kuat kening Agam.


"Dengar ya, Ben. Menjadi seorang dokter militer itu bukan hanya harus paham ilmu kedokteran pada umumnya, namun juga harus menguasai teknik-teknik pertempuran."


"Hmm, ya ya ya," sahut Agam.


"Pasalnya dokter militer itu kan diterjunkan secara terbuka di lokasi pertempuran dan bertugas untuk memberikan pertolongan kepada prajurit yang terluka."


"Hmm ...." Agam ber 'Hmm' lagi.


"Jadi, saat berada di lokasi pertempuran, selain alat kesehatan, dokter militer juga dibekali dengan persenjataan. So, kemampuan dalam menembak juga harus dikuasai."


"Selain itu, penanganan terhadap prajurit yang terluka pun dibutuhkan kemampuan khusus karena secara teknik penanganannya berbeda dengan penanganan pasien di rumah sakit. Maka dari itu dokter militer diwajibkan ikut pelatihan yang disesuaikan dengan profesi kedokteran dan kemiliteran," terangnya.


Agam mengangguk faham, dan Paman Yordan sudah selesai membalut kembali luka Agam.


"Selesai," pungkasnya.


"Terima kasih, Paman." Lalu Agam mengganti celananya dengan yang baru.


"Ben, ada hal yang harus Paman sampaikan. Mari kita bicara serius."


"Tentang apa, Paman?"


"Begini, saran Paman, kamu mundur saja dari BRN. Paman khawatir skandal kamu dengan Linda terendus elit BRN. Bahaya, Ben. Anggota BRN kan dilarang melakukan kejahatan, harus steril dari seluruh tidak pidana."


"Ya, saya tahu Paman."


"Apalagi keberadaan kamu sangat penting. Posisi sebagai penerjamaah multibahasa dan pembaca sandi itu langka, Ben."


"Paman, langsung saja pada intinya. Maksud Paman apa? Bukankah Paman sendiri yang memotivasi saya? Paman bilang harus menggunakan kelebihan untuk menolong orang lain, kan?"


"Ya, Paman memang mengatakan itu, tapi BRN sangat kejam. Masa anggota yang melakukan tindak pidana harus dilenyapkan? Sedangkan anggota BRN kan manusia, bukan para malaikat. Namanya manusia suatu ketika pasti melakukan kesalahan. Sama halnya seperti kasus yang menimpa kamu."


"Ya Paman, saya juga bingung."


"Begini saja, kamu temui komandan tertinggi BRN, katakan yang sejujurnya pada beliau, lalu ajukan surat pengunduran diri."


Agam menghela napas, Paman Yordan banyak benarnya. Suatu saat, bukan tidak mungkin jika skandalnya dengan Linda akan tercium juga. Sebelum hal itu terjadi, Agam memang harus mengambil langkah preventif.


Apalagi, baru-baru ini ada artikel yang memuat berita tentang 'Pengakuan Dosa seorang Agam Ben Buana.'


Bisa jadi, artikel itu adalah signal rahasia dari badan inteligen agar dirinya waspada. Atau ... sengaja diterbitkan oleh seseorang yang mencurigainya dan ingin menghancurkannya.


"Paman benar, akan saya pertimbangkan. Sebenarnya, saya juga ingin mengundurkan diri dari HGC, tapi jika saya mundur HGC akan diekspansi asing."


"Jangan, Ben. HGC satu-satunya perusahaan anak negeri terbesar di negara ini, jangan dilepas. Kamu boleh meninggalkan HGC setelah menemukan orang yang kompeten dan satu visi-misi dengan kamu. Jika belum, jangan coba-coba."


"Baik, Paman."


"Ayo, Paman tidak sabar ingin bertemu Linda, eh maksudnya ingin bertemu ayahnya. Hahaha."


"Paman!" Agam memukul bahu pamannya.


"Hahaha, oiya kamu itu langka Ben. Paman yakin kalaupun kamu mengundurkan diri, elit BRN tidak akan semudah itu membiarkan kamu lolos. Nah, saat itu terjadi mainkan triknya."


"Maksud Paman?"


"Hahaha, kamu lakukan barter. Kamu keluar dari BRN, atau tetap di BRN tapi keselamatan kamu dan Linda terjamin."


"Hmm, good idea," Agam angkat jempol.


"Lagipula Linda dan kamu saling mencintai, okelah dulu memang belum, tapi saat ini wanita itu sudah mencintai kamu, kan?"


"Saya kira sudah."


"Buktinya?" selidik Paman Yordan.


"Hahaha, ada deh." Agam malu-malu.


"Kamu tidak tidur lagi dengan dia, kan?" bisiknya.


"Astaghfirullaah, ya tidaklah Paman. Saya malah sudah memperbaiki mahkotanya," bisik Agam.


"Apa?! Gila, kamu Ben! Kenapa kamu melakukannya?" Paman Yordan terlihat kaget.


"Kenapa? Tidak masalah, kan?" Agam jadi bingung.


"Sssst, hahaha, masalahnya nanti kamu akan kecanduan, Ben," goda Paman Yordan, dan ia kembali tergelak.


"Hahh? Cukup Paman, jangan dibahas lagi." Wajah Agam kembali merona.


Sial, kan aku jadi tidak sabar. Gerutu Agam dalam hatinya.


Mereka berjalan berhimpit-himpitan menuju dapur, padahal jalur yang dilewati sangat luas.


"Apa kamu sengaja mengoperasinya untuk pemuas?" bisik Paman Yordan.


Sebuah pertanyaan absurd yang membuat kepala Agam berdenyut, pusing dan kesal.


"Paman! Jaga ucapanmu! Saya melakukannya karena dari awal ingin memperbaiki mahkotanya. Itu saja, tidak ada maksud lain," tegasnya.


Agam kesal, ia mendorong tubuh Paman Yordan dengan bahunya.


"Terserah," ucap Agam.


Ia berjalan cepat menuju dapur, tepatnya ruang makan.


.


.


.


.


Dan Agam terkejut setibanya di sana. Karena Linda, Ayah Berli, Pak Yudha, Bu Ira, Hikam, Maxim dan Enda sudah duduk di kursi meja makan dan tengah menunggunya.


"Pak Agam," serempak, Bu Ira, Pak Yudha, Enda dan Maxim berdiri, lalu mempersilahkan Agam untuk duduk.


"Ehhem, sebelumnya saya perkenalkan dulu, ini Paman Yordan," kata Agam.


"Salam kenal, aku pamannya Ben. Dari kuliah, bekerja, menikah sampai punya dua orang putri, aku tinggal di luar negeri, aku WNA, hehehe."


Lalu Paman Yordan menyalami semuanya satu persatu, dan Linda sengaja ia salami di bagian akhir.


"MasyaAllah, so pretty," pujinya.


"Te-terima kasih," Linda tersipu.


Sementara Hikam mengerling, ia memperhatikan sekeliling, ingin menemukan yang janggal di rumah mewah ini, tapi ... nihil.


Bahkan para pengawal dan asisten rumah tanggapun makan satu meja dengan majikannya.


Apa Agam Ben Buana sudah mengatur semua ini untuk menarik simpati Ayah Berli? Hikam berpikir seperti itu di dalam batinnya.


Tapi, semua yang terjadi berjalan begitu natural. Dan Hikam semakin kaget saat pria paling bersinar di ruangan itu mengatakan hal di luar dugaannya.


"Silahkan dinikmati menunya, saya akan membuat smoothies rendah lemak," kata Agam.


"Asyik, smoothies buatan Pak Agam itu paling enak dan paling lembut," puji Bu Ira.


"Benar, Pak Agam itu pria serba bisa, bisa membuat berbagai menu," tambah Pak Yudha.


"Benar Ayah, aku bahkan sudah ketagihan masakan Pak Agam," sela Linda.


"Bos besar kami memang luar biasa. Sering memasak untuk kami juga." Pujian lain terlontar dari bibir Enda.


Di balik meja itu tangan Hikam mengepal, Agam menjadi primadona. Begitu sulit digapai, rasanya tidak mungkin ia bisa mensejajarkan diri dengan seorang Agam Ben Buana.


Batinya semakin sakit dan merasa tertipu. Jauh-jauh ia ikut dengan Ayah Berli dari Pulau Jauh, tapi ... apa yang ia dapatkan?


Hanya penghinaan yang membuatnya semakin membenci Agam.


Hikam memutar pandangan, semua orang mulai mencicipi menu makan malam, termasuk dirinya.


Namun ... Hikam yang duduk di samping Ayah Berli dapat melihat dengan jelas jika Ayah Berli sedang memperhatikan Agam yang sedang membuat smoothies.


Agam yang memakai celemek jingga terlihat begitu terampil saat meracik buah-buahan dan beberapa sayuran menjadi smoothies.


Tidak, ini seperti bukan akting ataupun rekayasa. Pria itu memang pandai. Batin Hikam.


"Silahkan," kata Agam.


Tangan Agam yang berbulu halus itu menyodorkan segelas smoothies ke hadapan Hikam.


"Ini untuk teman baru, smoothies stroberi kayu manis."


"Ini untuk Ayah, smoothies vanila bluberi," ucap Agam saat menyodorkan gelas pada Ayah Berli.


Ayah Berli tidak memberi respon apapun.


"Ini untuk calon istri, smoothies bayam wortel."


"Uuuh ... so sweet," sahut Maxim dan Enda.


"Untuk Pak Yudha dan Bu Ira jus jeruk saja, hahaha." Agam terbahak.


"Wah, kok tidak smoothies?" Pak Yudha protes.


"Kan kita sering minum smoothies buatan Pak Agam," kata Bu Ira sambil terkikik.


"Untuk Paman smoothies apa, Ben?"


"Untuk Paman Yordan air putih saja, hahaha." Serius, Agam hanya menyodorkan air putih pada pamannya.


"Sialan kamu, Ben!" Kali ini Paman Yordan yang protes.


"Hahaha." Maxim dan Enda tertawa puas.


"Heh, Ben. Paman jauh-jauh datang dari LN, eh kamu hanya memberi air putih."


Agam malah mengangkat bahu dan duduk di kursinya.


"Pak Agam, mohon maaf, untuk saya dan Maxim mana minumannya?" tanya Enda.


"Kalian ambil sendiri saja," jawab Agam.


"Apa?!" Maxim dan Enda terkejut.


Lalu disambut tawa oleh Paman Yordan, Bu Ira, dan Pak Barata. Dan Lindapun turut tertawa. Suasana ruang makan begitu hangat.


Hikam semakin kesal, tapi nafsu makannya tidak berkurang. Hikam terlihat lahap. Masakan Bu Ira sangat lezat.


Ayah Berli menikmati hidangan tanpa ekspresi, entah apa yang tersirat dalam benak pria itu.


Yang jelas, matanya selalu mencuri pandang untuk menatap Agam. Mungkin sedang mencari di mana letak kekejaman seorang Agam Ben Buana.


Dan Ayah Berli terkejut saat menikmati smoothies buatan Agam. Serius, ini smoothies terenak yang pernah ia rasakan.


Sebagai penjual buah, aku pasti sudah memiliki ikatan batin dengan para buah. Smoothies ini enak sekali. Agam Ben Buana, apa kamu bukan pria jahat? Batin Ayah Berli.


Satu hal yang lucu dari Ayah Berli adalah ... selalu merasa jika dirinya memiliki ikatan batin dengan buah-buahan.


Lalu, apa penjual ikan asin juga memiliki ikatan batin dengan para ikan asin? Hmm, entahlah.