
~Pulau Jauh~
Bayi mungil itu sangat rewel, terus merengek dan menangis. Linda sudah berusaha untuk menyusuinya.
Namun sayang seribu sayang, ASInya tidak begitu lancar. Sang bayi mungkin merasa kesal karena tidak puas. Akhirnya diputuskan memberinya tambahan susu formula khusus untuk bayi dengan berat badan lahir rendah.
Dokter Rita begadang, pun dengan yang lain. Mereka cemas, Ayah Berli menatap skerem pembatas berulang kali saat Linda sedang mencoba menyusui cucunya.
"Dok, bagaimana ini? Apa dia marah?"
"Hahaha, tidak LB, bayinya hanya kurang puas," jelas dokter Rita.
Dokter Rita berusaha menenangkan, ia tahu benar jika produksi ASI pada masa nifas sangat dipengaruhi oleh kesiapan dan asupan nutrisi pada masa kehamilan.
Sebenarnya, Agam selalu mencukupi semua hal yang berhubungan dengan nutrisi dan vitamin untuk Linda.
Tapi, di awal masa kehamilannya, Linda memang mengalami stres berat karena merasa tertekan. Linda sering tidak n a f s u makan dan memuntahkan kembali makanannya.
"Sabar ya cantik, ini sudah keluar kok tapi belum banyak."
"Ya, Dok."
Keringat Linda mulai mengalir dari pelipisnya. Punggungnya terasa panas dan sakit, lehernya pegal. Belum lagi rasa sakit dari luka operasi. Acap kali bayinya menyesap, Linda meringis.
Linda jadi teringat pada bayi jadi-jadian yang sedang pergi jauh. Menyusui bayi sungguhan ternyata lebih sulit, pikirnya. Rasa yang terciptapun berbanding terbalik, bertolak belakang.
Ya ampun, aku kenapa sih? Linda memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa?" tanya dokter Rita.
"Tidak apa-apa Dok," jawabnya.
.
.
.
.
Malam semakin larut, bayi merah itu tidak mau lepas dari pangkuan. Tidak mau tidur di inkubator.
Dokter Rita, Pak Yudha, Ayah Berli dan dua orang perawat bergantian memangkunya untuk meninabobokan. Bu Ana pun sebenarnya ingin turut serta. Namun dilarang oleh Linda karena ibunya baru pulih.
"Maaf, jadi merepotkan semuanya," kata Linda.
"Tidak apa-apa kita sudah dibayar," kata dokter Rita.
.
.
.
.
Di hari pertama pasca SC, Linda sudah bisa bangun, dan duduk.
Menjelang Subuh, bayi Linda baru bisa tenang dan mau diletakan di inkubator. Alhasil, tim medis yang mengasuhnya langsung terlelap. Linda tersenyum sambil menatap mereka satu-persatu.
Tak lupa ia juga memandangi ayah dan ibunya yang tidur berjajar bersama kedua adiknya. Hatinya terenyuh. Linda merasa beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Baru saja Linda hendak memejamkan mata, ponselnya menyala. Ada pesan dari si tambatan hati. Sebenarnya, pesan itu telah dikirim Agam dari sejam yang lalu, karena kesulitan signal, baru terkirim.
"Apa jagoan kita sudah tidur?"
"Saya belum tidur sekejappun. Gama berulah, anak itu benar-benar membuat kepala saya hampir meledak."
"Oiya sayang, saya sudah membaca referensi. Ternyata, tidak ada ketentuan waktu minimal sucinya seorang wanita dari darah nifas. Jadi, kapanpun darah itu berhenti walaupun baru berjalan 7 hari atau 10 hari, atau bahkan lebih sebentar dari itu, maka dia dihukumi suci. Artinya diwajibkan melakukan sholat setelah mandi besar."
"Hahaha, jadi berhubungan suami istri juga sebelum 40 hari diperbolehkan, asalkan pendarahan sudah berhenti, dan kamunya sudah mandi wajib. So, kamu jangan membohongi saya. Kalau sudah bersih, jujur ya sayang."
"Apa?!"
Mata Linda sampai mengerjap saat membaca pesan itu. Sempat-sempatnya Agam mencari referensi tentang masalah tersebut di tengah berbagai kemelut yang terjadi kepada mereka.
"Ya ampun."
Pipi Linda bersemu. Langsung ia balas sambil senyum-senyum.
"Meskipun diperbolehkan, tapi kan beresiko, Pak. Risikonya pendarahan. Bisa jadi setelah berhubungan badan perdarahan akan berlanjut dan berefek buruk bagi kesehatanku sebagai perempuan."
"Itulah kenapa ada tenggang waktu 40 hari, tujuannya agar perempuan memiliki waktu pemulihan pasca melahirkan, begitu Pak," balasnya.
Membayangkannya saja sudah cukup membuat bulu kuduk Linda berdiri. Apa lagi saat Linda menyadari fakta lain dari seorang Agam Ben Buana. Ya, suaminya itu kuat dan perkasa. Jangan cari mati pikir Linda.
Pesan Linda centang satu, belum terkirim. Linda menghela napas, lalu memikirkan cara lain untuk menolong Agam dari kasus yang menjeratnya.
"Dok, Dokter Rita," panggilnya.
"Hmm, LB memanggil saya?" Bangun.
"Ya Dok. Maaf mengganggu, padahal Dokter baru tidur."
"Tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?" Ia mendekat dan duduk di tempat tidur.
"Dok, pak Agam mau preskon. Aku juga mau preskon. Apa Anda bisa bantu?"
"Apa? Maksudnya?" Dokter Rita sedikit bingung.
"Aku ingin Anda dan pak Yudha menyiapkan preskon untukku. Kalian bisa mengundang TV lokal dan media lokal Pulau Jauh ke rumah sakit ini. Aku ingin membeberkan fakta sebenarnya pada publik."
"Aku mau meringankan beban pak Agam. Aku tidak mau dia menjadi satu-satu orang yang disalahkan atas kasus itu. Ya, dia memang salah, tapi ... aku juga tidak seratus persen benar," jelasnya.
"Wah, berarti kita harus membicarakan rencana ini dengan Pak Yudha juga. Kan harus ada izin dari pihak rumah sakit. Apa pak Agam tidak akan marah kalau Anda bertindak tanpa sepengetahuannya? Saya takut."
"Dok, masalah pak Agam biar aku yang atasi. Dia jangan sampai tahu. Please Dok, bantu aku ya, rayu Pak Yudha supaya mau bekerja sama, kumohon Dok." Linda memelas dan mengiba.
Dokter Rita berpikir keras. Ia khawatir keputusannya mengikuti permintaan Linda akan menjadi bumerang dan menyulut kemarahan Agam Ben Buana.
Aduh, bagaimana ini?
"Maafkan saya, Bu LB. Sepertinya saya tidak bisa. Anda memang bos saya juga, tapi ... pak Agamlah yang merekrut saya. Di sini saya hanya ditugaskan untuk memantau kesehatan Anda dan bayi Anda. Saya rasa apa yang Anda mintai tidak ada korelasinya dengan tupoksi saya, mohon maaf ya." Dokter Rita tertunduk.
Linda hanya bisa melongo. Ia berpikir keras untuk mencari cara lain. Meminta bantuan Ayah Berli pastinya tidak mungkin.
.
.
.
.
Akhirnya, setelah Pak Yudha pulang shalat Subuh berjamaah, Linda memberanikan diri meminta bantuan pada Pak Yudha dan mengutarakan keinginannya.
Namun sayang, Pak Yudhapun sama halnya dengan dokter Rita. MENOLAK.
"Tidak bisa Bu, maaf ya. Saya tidak mau cari masalah dengan pak Dirut. Dia adalah bos terbaik saya. Saya tidak ingin mengecewakan beliau," tegas Pak Yudha.
.
.
.
.
Linda kembali merenung, memohon pada Yang Maha Kuasa agar diberikan jalan.
Sambil menatap sang putra yang terlelap di pangkuannya, air mata Linda jatuh tepat di pipi bayinya. Lucunya, bayi tersebut mendadak tersenyum. Linda segera mengambil ponsel untuk mengabadikan moment tersebut.
Dan saat tangannya membuka aplikasi kamera, maniknya melihat pada salah satu aplikasi yang tidak pernah dibukanya setelah ia tinggal bersama Agam.
Deg, jantungnya berdegup. Tiba-tiba ada ide.
Perlahan Linda membuka aplikasi media sosialnya untuk login. Ia memasukan alamat e m a i l dan password yang ia sendiri hampir melupakannya.
Percobaan pertama gagal.
Password is wrong.
Lalu mencoba lagi dan lagi. Hingga pada percobaan kelima Linda berhasil login.
Akhirnya ....
Ia bahagia. Mengecup kening putranya dan tersenyum.
Akun medsos milik Linda telah diikuti oleh jutaan orang baik dalam maupun luar negeri. Fans dan haters pastinya. Semua akun medsos milik Linda sudah terverifikasi alias centang biru.
Sayangnya signal di ruangan ini sangat buruk. Linda kembali berpikir keras.
.
.
.
.
Pada pukul 08.00 waktu setempat, Linda meminta tolong pada suster untuk diantar berjemur ke lantai tertinggi rumah sakit. Ia menyembunyikan ponsel di sakunya.
"Saya saja yang mengantar," tawar dokter Rita.
"Tidak Dok, saya dengan suster saja," tolak Linda.
"Dokter jaga bayiku ya."
"Kenapa harus jauh-jauh berjemur ke atap, Nak? Kenapa tidak di sini saja?" Bu Ana keheranan.
"Emm, aku mau sekalian lihat pemandangan Pulau Jauh, Bu, kangen. Hehehe, kan sudah lama tidak pulang, mari Sus," ajaknya.
Lalu suster mendorong Linda yang duduk di kursi Roda. Linda belum bisa berjalan, kateter urine dan infus masih terpasang.
.
.
.
.
Setibanya di atap rumah sakit yang bersebelahan dengan helipad, Linda meminta suster untuk meninggalkannya.
"Suster, aku mau sendirian," ucapnya.
"Jangan, ditemani saja ya."
"Tidak Sus, aku mau sendiri. Tenang saja, aku kan belum bisa berjalan. Tidak mungkin lari apalagi kabur," kata Linda, ia meyakinkan suster yang menatap khawatir kepadanya.
"Baiklah, Anda mau berjemur berapa lama?" tanya suster.
"Minta kontak Suster saja, kalau bejemurnya sudah cukup, nanti aku menghubungi Suster."
"Baik," suster memberikan kontaknya pada Linda dan pergi.
Selepas suster pergi Linda mengambil ponselnya. Di sini signal kuat. Pesannya untuk Agam langsung terkirim. Pun sebaliknya.
"Hmm, jujur saya sudah tidak sabar sayang, pokoknya kalau kamu sudah bersih, kita honeymoon ya El. Please .... Untuk masalah dampak dan risikonya, kita konsultasikan lagi dengan dokter Fatimah."
Linda terkejut. Gila, Agam Ben Buana masih saja membahas hal itu.
"Sabar ya Pak. Anda suamiku, aku tidak akan melewatkan kewajiban itu."
"Oiya Pak, memangnya ada apa dengan Gama? Aku jadi khawatir."
"Nanti saya jelaskan kalau kita bertemu. Sekarang saya mau ke HGC memberikan surat pengunduran diri, lalu preskon."
"Sampai jumpa sayang, salam cinta untuk jagoan kita, dan salam rindu untuk yang seksi dan cantik, yang emm ... nakal, tapi saya suka, pokoknya yang tersegalanya untuk kamu, hanya kamu. Love you, my Briliant."
Melalui pesan itu, Agam merayu dan menggoda istrinya. Linda berpikir, ia juga tidak mau kalah. Tapi bingung. Mau balas apa ya?
"Terima kasih salamnya. Salam balik untuk yang tampan dan baik hati, yang kaya-raya dan gagah perkasa, yang jenius dan berwibawa, yang memiliki tanda lahir istimewa berbentuk hati, yang tubuhnya indah, mulus, dan atletis, yang ... yang apalagi ya? Aku bingung Pak. Hehehe."
"Ya, ampun El. Pesan dari kamu membuat saya tersedak."
"Dimaafkan sayang, sudah dulu ya, itu pengacara Vano sudah bertanduk."
"Mmmuach."
"Mmmuach juga, Pak. Semoga semuanya lancar. Aamiin."
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
~Pusat Kota~
"Sudah tampan, Pak." Protes Vano, sedikit kesal pada Agam yang terus becermin sambil senyum-senyum.
"Hahaha, kata Linda aku tampan, baik hati, kaya-raya dan gagah perkasa. Jenius dan berwibawa, apa iya? Menurutmu bagaimana, Van?"
"Hmm, tidak diragukan lagi, Pak. Oiya Pak, HGC kan sudah ada sekretaris baru, lulusan universitas luar negeri, katanya sih cantik sekali, saya sudah lihat aslinya tapi lebih cantik LB daripada dia."
"Sekretarisnya perempuan lagi? Hmm, saya pikir laki-laki. Tapi saya tidak peduli, Van. Toh, saya juga kan mau mengundurkan diri," ucap Agam seraya menguntit Vano. Mereka baru akan berangkat menuju HGC.
"Bagaimana hasil pembicaraan Bapak dan gadis itu?" tanya Vano saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Agam menghela napas, ia mengingat kembali pertemuannya dan pembicaraannya dengan Freissya dan Gama selepas shalat Subuh.
Masih ingat bagaimana gadis itu gemetar saat berhadapan dengannya. Biasanya para gadis yang baru bertemu Agam akan mencuri pandang, tapi tidak dengan Freissya. Ia melihat Agam bak melihat singa.
Freissnya menunduk, bahkan keringatnyapun bercucuran.
"Kak, jangan membentak dia, jangan membuantnya takut," bela Gama pada saat itu.
"Diam kamu buaya, saya belum mempersilahkan kamu bicara, sultan Yasa! Oiya, sejak kapan kamu dipanggil sultan? Mendengar kamu dipanggil sultan Yasa oleh teman-temanmu, Kakak merasa lucu. Hahaha." Agam tergelak.
"Kak, aku juga tidak mau dipanggil sultan Yasa, bukan aku yang meminta, julukan itu murni inisiatif merekan," terang Gama.
Pada saat itu, Agam lalu menyampaikan keinginannya pada Freissya untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Agam juga membeberkan pada Freissya tentang orang-orang yang terlibat dalam itu.
Dan apa yang didapatkan Agam dari Freissya sungguh di luar dugaan. Gadis itu bersimpuh di hadapan Agam dan memohon. Freissya berkata ....
"Pak Agam, tolong kasihani aku yang miskin ini. Orang-orang yang terlibat, semuanya putra orang besar, sama sekali tidak sebanding dengan aku dan keluargaku."
"Maksud kamu apa? Di mata hukum kita semua sama," sela Agam.
"Pak Agam, mungkin Anda berpikir seperti itu, tapi tidak bagiku."
"Lantas maumu apa? Kalau kamu butuh uang, berapapun akan saya berikan."
"Mohon maaf Pak Agam, aku tidak butuh uang, aku hanya butuh ketenangan. Tolong jangan membawa kasus ini ke ranah hukum, a-aku akan menganggap ini sebagai kecelakaan saja, jangan melaporkan anak-anak itu, aku tidak ingin keluargaku syok karena masalah ini."
"Ice, kakakku mau menolongmu, biar semuanya jelas Ice. Agar kamu juga sadar kalau aku tidak salah dan terus-menerus membenciku," sela Gama.
"Gama, diam dulu. Biarkan dia bicara," kata Agam.
"Pak Agam, kalau kasus ini dibawa ke jalur hukum, akan ada banyak sekali keluarga yang terlibat. Hemat saya ini lebih baik jangan. Ya, saya juga menginginkan keadilan, tapi keluarga tuan Mateo, keluarga tuan Gifka dan tuan Josep pastinya tidak akan tinggal diam. Kasus ini akan menimbulkan konflik yang dampaknya besar, nama baik pak Agam dan adik Anda juga akan terpengaruh."
"Pastinya tidak semua orang akan percaya kalau aku dan adik Anda dijebak. Mereka pasti akan melakukan pembelaan, yang bisa jadi malah menyudutkan keluarga Pak Agam."
"Selain itu, aku juga tidak mau bapak dan mamaku tahu masalah ini. Walaupun aku berada di pihak korban, tapi ... jika masalah ini diungkap, keluargaku pasti tertekan. Tetanggaku, dan seluruh orang di negara ini pada akhirnya akan tahu, dan aku tidak mau menjadi bahan perbincangan publik," terang Freissya panjang lebar.
"Ice."
Gama tertegun, ia bingung. Hanya bisa menyerahkan seluruh keputusan pada kakaknya.
"Kalau kamu menikah saja dengan adikku, bagaimana? Mau?"
"Apa?!"
Gama dan Freissya terlonjak kaget.
"Saya bertanya pada Ice, bukan padamu, buaya!" sentak Agam.
"Maaf, aku tidak bersedia, Pak. Aku hanya ingin meminta tolong pada Bapak untuk merahasiakan kasus ini dari siapapun."
"Baik, kalau itu keputusanmu, saya tidak akan memaksa, tapi ... kamu operasi ya, semua biaya tanggung jawab saya."
"Operasi?" Awalnya, Freissya tidak faham.
"Ya operasi ---."
"Aku faham," sela Freissya.
"Tapi, aku tidak mau Pak, biarkan saja. Aku akan menjadikan ini sebagai pelajaran berharga," lanjut Freissya seraya terisak.
"Ice, kalau kamu hamil bagaimana?" Gama menyela.
"Tidak perlu khawatir, aku bisa menanganinya, aku tidak akan hamil."
"Bagaimana kalau calon suamimu tahu kamu tidak gadis lagi?" tanya Agam.
"Aku akan memutuskan kak Gio. Aku akan mencari kekasih baru yang bersedia menerimaku apa adanya."
"Apa?! Kamu mau putus? Alhamdulillaah. Ice, lihat aku Ice, kamu tidak perlu mencari lagi. Aku bersedia menerimamu apa adanya." Gama bersuka cita.
Agam geleng-geleng kepala menyaksikan ulah adiknya.
"Maaf, aku ingin putus dari kak Gio bukan karena alasan tidak gadis lagi, tapi ... aku kecewa karena dia membohongiku. Dia tidak memberitahu kalau kakeknya adalah dokter senior keluarga Haiden."
"Kenapa kamu fobia sekali dengan kata-kata Haiden?" Agam penasaran.
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Intinya, aku dan keluargaku tidak ingin memiliki hubungan spesial dengan keluarga Haiden, terkecuali hubungan bisnis," tegas Freissya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Pak, bagaimana hasil pembicaraan Bapak dan gadis itu?"
Vano mengulang pertanyaannya karena Agam malah melamun.
"Maaf, Van. Begini, kamu, Maxim, dan Enda harus merahasiakan kasus ini. Saya tidak jadi membawa kasus ini ke jalur hukum. Kamu tidak perlu membuat delik perkara, semuanya batalkan."
"A-apa? Anda serius?"
Vano pura-pura melotot. Padahal, tangan kanannya refleks mengepal dan membuat gerakan yes, yes, yes sebagai ungkapan bahagia karena bebannya akan berkurang. Untungnya Agam duduk di kursi penumpang. Jadi, tidak melihat gerakan Vano.
"Serius Van, dan kamu tidak perlu bertanya apa alasannya, cukup diam dan laksanakan," tegas Agam.
"Siap," ujar Vano.
"Kok macet sih? Ada apa ya? Biasanya jalur ini ramai lancar," Vano kesal.
Agam juga menautkan alisnya sambil mengintip keluar dari balik kaca.
"Coba kamu tanyakan, Van."
"Baik," Vano melongokan kepala dan bertanya pada petugas polantas yang sedang mengurai kemacetan.
"Maaf Pak, ada apa ya? Kok macet?"
"Oh, maaf terganggu perjalanannya Pak. Tadi ada kecelakaan beruntun, gara-gara ada fansnya LB yang berkerumun di bahu jalan, untungnya tidak ada korban jiwa," terang polisi.
"Apa?! Fans LB?" Vano kaget, apalagi Agam.
"Iya Pak, LB live streaming untuk pertama kalinya setelah kasus itu, jadi mereka heboh."
"Hahhh? B-baik, Pak. Te-terima kasih."
Vano menutup kaca cepat-cepat. Bulu kuduknya seketika merinding, hawa-hawa ketegangan di dalam mobilnya sudah mulai terasa.
"Vano, berhenti di sini! Tepikan mobilnya!" teriak Agam.
Tuh kan, sumber ketegangan sudah berkoar.
"Ya Pak," cicit Vano. Menepikan mobil, badannya mulai panas dingin.
"Apa kamu memfollow medsos, istriku?!"
"Ya, Pak. Se-semua medsos LB saya ikuti, saya kan fansnya."
"Cepat buka! Sekaraaang! Berani-beraninya dia live streaming tanpa seizinku," geram Agam.
Kenapa tidak pakai ponsel Anda sendiri saja, sih? Batin Vano. Sedikit khawatir ponsel barunya akan terdampak kemarahan Agam.
Benar saja, Linda telah live streaming sekitar lima menit yang lalu, wajah Agam memerah, fokus utamanya pada pakaian Linda yang terbuka, tapi Agam tidak bisa berkata-kata saat melihat istrinya itu terisak, berurai air mata.
"Pak ... tenang, kita lihat apa yang akan dikatakan LB ya," Vano menenangkan. Tangannya gemetar saat meletakan ponsel di atas dashboard.
"Huuks, huks ..., maaf mengagetkan kalian, maaf tidak bisa menyapa satu persatu. Maafkan atas penampilanku yang tidak sopan ini. Saat penampilanku sopan saja kalian selalu menghujatku, dan memfitnahku sebagai j a l a n g. Jadi, aku sengaja membuka bajuku agar hatersku merasa puas."
Ucapan Linda begitu sarkas. Agam diam terdiam seribu bahasa.
"Badanku sedikit gendut, silahkan kalian hujat, aku tidak peduli. Oiya, aku sudah melahirkan seorang putra. Tapi, putraku terlahir prematur."
Penonton live streaming itu sudah mendekati angka 1 juta. Luar biasa, dan tentu saja terus bertambah. Agam tercengang, istrinya ternyata sangat terkenal. Segera mengecek ponselnya. Pengikut Linda hampir mencapai 10 juta akun lebih. Padahal, 3 bulan yang lalu masih di angka 4 juta.
"Pada kesempatan ini ... aku hanya ingin mengatakan sebuah permohonan pada kalian yang membenciku, pun pada kalian yang masih setia menjadi fasnku."
"Aku memohon agar kalian berhenti menghujat Dirut HGC, Agam Ben Buana. Ya benar, dialah yang memperkosaku. Tapi ... sekarang dia adalah suami sahku. Aku dan dia telah menikah secara agama."
Linda .... Agam terharu.
"Jadi, tolong jangan menyalahkannya lagi. Maaf jika aku mengecewakan kalian, maafkan jua suamiku. Dia dan aku manusia biasa, bukan malaikat. Aku telah memaafkan pak Agam. Dan asal kalian tahu, aku baru menyadari jika di hari dia merenggut kesucianku, a-aku ...."
"A-aku telah jatuh padanya."
Deg, Agam terenyuh, tapi ... dadanya sakit.
"Silahkan kalian asumsikan sendiri maksud dari ucapanku. Terserah kalian mau menilainya seperti apa. Tapi di mataku, dia adalah pria yang baik. Tolong jangan memaksa mencari-cari kesalahannya"
"Kalian tahu, kan? Mencari kesalahan orang lain adalah tindakan yang negatif. Teorinya adalah ... semua hal yang negatif, pasti berasal dari sesuatu yang negatif pula."
"Jadi, ketika seseorang senang sekali mencari hal-hal yang salah dalam diri orang lain, bisa jadi, dia sendiri sebenarnya dipenuhi banyak kesalahan yang membuatnya tidak bisa melihat kebaikan orang lain."
"Mencari-cari kesalahan orang lain hanya membuang-buang energi yang sebetulnya merugikan diri sendiri."
"Kalau pun tujuannya baik untuk mengingatkan, seharusnya bisa bijak menasehati bukan dengan mencari-cari kesalahannya. Yang aku heran, orang-orang seperti itu seolah tidak sadar bahwa ada kesalahan dan kekurangan yang melekat juga dalam dirinya."
"Sekali lagi, aku memohon dengan sangat. Tolong beri aku kesempatan untuk menata hidupku menjadi lebih baik. Seperti halnya kalian, aku dan suamiku juga ingin bahagia. Maaf, jika prilaluku tidak mencerminkan publik figur yang baik."
"Jangan ditiru ya, begitupun dengan perbuatan suamiku. Hanya aku yang tahu kenapa dia melakukan itu. Andai kalian berada di posisinya bisa jadi kalian juga akan melakukan hal yang sama."
"Aku tegaskan lagi, dengarkan ini baik-baik. Dia memperkosaku karena marah. Aku memfitnahnya sebagai h o m o. Meludahi wajahnya, dan mengumpatnya dengan kata-kata kasar. Bahkan, a-aku juga menuduhnya memiliki penyakit kelamin dan b i s e k s u a l."
"Hingga detik ini, aku masih menyesali kehilafanku, aku menyesal telah melukai perasaannya, tapi ... aku tidak menyesali pertemuan dengannya."
"Walaupun Tuhan mempertemukan kami dengan cara yang tidak biasa, tapi ... ini adalah takdir. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya, dan aku mencintainya."
Linda menuduk dan kembali terisak. Beban di benaknya perlahan menguap sedikit demi sedikit.
"I love you too," gumam Agam, hatinya hangat dan berbunga-bunga, tapi tetap saja tidak rela melihat Linda tampil terbuka. Ingin segera menemuinya dan memberinya 'Pelajaran.'
...*Jika berkenan, mohon dukungannya, terima kasih*. ...
...*Vote, like, komen, dan sekuntum bunga*....
