
Pak Yudha bersiul-siul, tak cukup bersiul, ia juga memakai headset. Walaupun Agam tidak mengatakan akan melakukan apa, tapi ... ia tahu benar apa yang sedang terjadi. Sebelum memakai headset, Pak Yudha sempat mendengarnya walaupun samar-samar.
Linda mencubit kulit perut Agam yang terasa pejal karena berisi pahatan otot. Jika tidak dicubit, lalu kapan berakhirnya? Pria ini semakin mahir saja. Linda benar-benar kewalahan.
"Maaf, El," ucapnya saat Linda berhasil melepas jalinan itu.
"Pak Agam nakal, sakit tahu," keluh Linda.
"Apa? Sakit? Sakit apa sakit?" godanya. Merapikan dasi yang menutupi mata Linda.
Tiba-tiba ....
'Ckiiiit, brak.'
Pak Yudha hilang kendali, ia menambrak pembatas jalan. Spontan Agam memeluk Linda yang berteriak kaget.
"Pak Yudha! Bisa nyetir tidak sih?" sentak Agam.
"Maaf, Pak. Saya tadi melamun."
"Pak Agam, sudah ah, kita kan baik-baik saja," kata Linda. Walaupun ia berbicara seperti itu, tapi pada kenyataannya jantungnya tetap berdegup. Bahkan hingga saat ini.
"Kenapa sayang?" Agam panik karena Linda memegang dadanya.
"Tidak apa-apa, Pak. Jantungku berdebar-debar."
"Tenang ya," Agam memeluknya.
"Sebentar lagi kita sampai," tambahnya.
Dan tibalah mereka di depan sebuah rumah super besar, di sana sudah ada Hikam, Ayah Berli, Bu Ana, Yolla dan Yolli. Mereka menanti kedatangan Linda dan bayinya.
Pak Yudha turun terlebih dahulu, lalu memberikan kode jika Agam akan memberi kejutan pada Linda. Mereka faham. Di halaman rumah itu ternyata sudah disiapkan karangan bunga yang bertuliskan ucapan selamat dan kalimat cinta untuk Linda.
"Pelan-pelan sayang," kata Agam.
Ia mengarahkan Linda pada halaman utama rumah itu. Rumah itu berada di kawasan elit yang konon pernah menjadi rumah impian Linda di masa kecil.
Pak Yudha mendengar cerita masa kecil Linda dari Hikam, lalu menceritakannya pada Agam. Dulu Linda pernah berkata pada Hikam.
"Hikam, kalau aku sudah jadi artis terkenal, aku akan membangun rumah besar di kawasan paling mewah yang berada di daerah kita."
"Satu, dua ---," Pak Yudha mulai berhitung. Agam membuka perlahan dasi penutup tersebut.
"Ti ---, tiga," kata Pak Yudha. Dan dasi terbuka.
Linda membuka matanya, ia terkejut, mengedarkan pandangan. Bukannya terpesona dengan rumah mewah itu, Linda malah menautkan alis dan bertanya ....
"Ayah, Ibu, bayiku mana?" tanyanya.
"Mereka ada di belakang, Nak. Tadi ada di ambulance bersama dokter Rita, dokter Dani, suster dan perawat.
"Tunggu, harusnya sudah datang, kan?" Agam terkejut.
"Saya tidak melihat ada ambulance," kata Pak Yudha.
"APA?!" Pak Yudha dan Bu Ana terhenyak.
"Ti-tidak mungkin, Pak Agam cepat hubungi dokter Dani atau dokter Rita," desak Linda, air matanya mengembang dengan cepat.
"Sa-sabar sayang," tangan Agam gemetar.
Ia mengambil ponselnya. Pak Yudha dan Hikam memucat.
"Nomor yang Anda hubungi, di luar jangkauan."
"APA! S i a l!" rutuk Agam. Pun dengan nomor dokter Dani.
"Nomor yang Anda hubungi, di luar jangkauan."
"Bagaimana, Pak?" Semuanya terlihat cemas.
"Tidak aktif," kata Agam.
"Apa? Tidak ..., bayikuuu, huuu ...." Linda panik dan histeris. Tiga detik kemudian, ia terkulai lemas dan pingsan.
Agam meraih tubuh Linda, membopongnya, dan berlari cepat menuju ke dalam rumah. Pikirannya kalang kabut.
"Pak Yudha, cepat hubungi rumah sakit! Konformasi ambulance yang membawa anak saya!" teriak Agam.
"Baik," Pak Yudha bergegas.
Bu Ana dan Ayah Berli panik. Hikam berlari ke sana kemari tanpa tujuan. Yolla dan Yolli asyik bermain ayunan di taman kecil yang berada di samping rumah tersebut.
"El, sayang, sadar sayang," Agam memeluk dan mencium wajah Linda.
"Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak saya, walau hanya satu helai rambutnya, kamu percaya sama saya, El. Harus percaya," ratap Agam.
'Tok, tok, tok.'
"Pak Agam," pangil Pak Yudha.
Agam lekas membuka pintu. Bu Ana segera masuk dan memeluk Linda.
"Bagaimana kata pihak rumah sakit?" tanya Agam.
"Pak, ambulancenya belum kembali, nomor polisinya sudah saya dapatkan. Kita harus ke kantor polisi," terang Pak Yudha.
"Apa? Ayo cepat Pak! Ayah, Ibu, saya titip Linda." Agam dan Pak Yudha berlari.
Ayah Berli mematung bingung.
"Dirut, saya ikut," kata Hikam.
"Tidak perlu, kamu berjaga di sini dan laporkan jika ada sesuatu yang aneh. Nanti saya akan mengirimkan polisi untuk menjaga rumah ini," tegas Agam, ia dan Pak Yudha bergerak cepat menuju mobil.
Siapa yang tega bermain-main dengannya?Agam naik pitam. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, wajahnya memerah.
"Tambah kecepatan, Pak Yudha!" teriaknya.
"Baik."
Lalu ada panggilan masuk ke nomor Agam, nomor tidak dikenal. Agam menerimanya dengan tangan gemetar.
Tidak ada suara dari sana, namun beberapa saat kemudian terdengar ada suara bayi menangis. Hati Agam hancur-lebur. Marah, semarah marahnya.
"Ssi-siapa kaliaaaan! B R E N S E K!" umpatnya.
"Pak Agam tenang, bisa saja itu hanya jebakan," kata Pak Yudha. Walaupun panik, ia berusaha menenangkan.
Agam mengatur napas. Mencerna dan meresapi ucapan Pak Yudha. Tapi ... beberapa detik kemudian ia dan Pak Yudha kembali tercengang. Pak Yudha sampai menghentikan laju kemudinya.
"Kumohooon, jangan membunuh bayi itu, dia tidak berdosa, dia masih kecil, bunuh saya saja Tuaaan ...." Terdengar suara dokter Rita.
"Tidaaak, siapa kamu?!!" teriak Agam.
Lalu ada suara lain, yaitu surara teriakan kesakitan dari dokter Dani. Dan ada suara lain juga. Sepertinya, ponsel itu sengaja dibawa oleh seseorang dan dipindahkan dari tempat satu ke tempat lain.
"Jangan Tuan, a-aku sedang hamil muda, kumohooon, jangan menodaiku, huuu huuu. A--aahh ...."
Terdengar suara itu. Agam tidak mengenal suara siapa, bisa jadi itu adalah suara salah satu suster yang turut serta dalam perjalanan mendampingi putranya.
"Tidaaak," teriak Agam. Lalu ia berkata dengan nada memohon yang terdengar menyayat hati.
"Please, jangan sakiti siapapun, jangan sakiti anak saya, mereka tidak bersalah. Jika kalian menginginkan saya, saya akan datang dan siap dibunuh."
"Hahaha, bagus, jangan bawa polisi. Atau anakmu yang kecil ini akan meledak bersama inkubatornya."
"K U R A N G A J A R!!"
Agam menutup sepihak panggilan itu. Ia memukul dadanya. Wajahnya merah padam. Lalu menerka-nerka siapa gerangan yang kemungkinan menjadi dalang dalam aksi ini.
"Pak Yudha, kita menepi. Jangan ke kantor polisi."
"Tapi, Pak." Pak Yudha ragu.
"Pak Yudha, tolong ikuti perintah saya, mereka tidak main-main. Mereka ternyata mengejarku sampai ke pulau ini," kata Agam. Tangannya sibuk menghubungi jaringan rahasianya yang tidak lain adalah Mister X.
"S I A L!" dengusnya.
Tidak ada signal.
"Ya Rabb ujian apalagi ini? Kenapa Engkau selalu menguji saya? Bagaimana kalau saya tidak sanggup menghadapinya?" ucap Agam sambil memasygul rambutnya.
Pak Yudha menatap Agam, air mata Pak Yudha mengalir. Ia bingung harus bagaimana.
Dan Agam sepertinya tahu apa yang harus dilakukan, ia menghubungi seseorang. Entah siapa yang dihubunginya, Pak Yudha tidak tahu-menahu. Agam lalu mengirimkan pesan suara.
"Saya akan menjadi penurut, saya akan patuh, saya tidak akan membangkang lagi. Saya akan melakukan apapun keinginan kalian. Tapi tolong, tolong jangan sentuh anak dan istri saya. Jangan menyakiti keluarga kecil saya. Saya rela mengorbankan kebahagiaan saya sendiri asalkan kalian tidak mengganggu anak dan istri saya."
"Sebelum sidang etik dilaksankan, bisakah kalian mengabulkan permintaan saya? Saya ingin memiliki waktu satu hariii saja dengan anak dan istri saya, dengan mertua dan adik ipar saya yang lucu. Bisakah kalian mengabulkan itu?"
"Sekali lagi, saya tidak akan memberikan adik saya untuk kalian, cukup saya saja yang menderita, dan kenapa? Kenapa kalian tega menculik anak saya yang masih bayi? Dia bahkan hanya seorang bayi prematur yang sangat lemah."
"Apa kalian ingin saya bertindak di luar batas? Ingat, saya bisa menghancurkan gedung BRN jika saya mau, saya beri waktu empat puluh menit untuk kalian mengembalikan anak saya," tegas Agam.
DEG, mendengar kata BRB, bulu kuduk Pak Yudha berdiri. Siapa sebenarnya Agam Ben Buana? Kenapa menyebut nama BRN? Pak Yudha menelan saliva, dadanya pengap seketika.
Agam mengakhiri pesan suaranya.
"Pak Yudha, kita kembali ke rumah," katanya.
"Ba-baik," sahut Pak Yudha.
"Lalu bagaimana dengan putra Anda, Pak?" Pak Yudha memberanikan diri untuk bertanya.
"Saya akan bekerja dari jarak jauh, bila perlu, saya akan membunuh mereka dari jarak jauh juga," tegas Agam.
Kalimat Agam membuat bulu kuduk Pak Yudha kembali merinding.
"Gama, Anda mau kemana?" teriak Vano.
"Anda duduk manis saja, Pak. Aku tidak akan lama," kata Gama.
"Mau kemana? Katakan."
"Anda tidak perlu tahu. Sudah, lanjutkan saja pekerjaan Anda Pak Vano, aku tidak akan lama, serius," kata Gama. Lalu melajukan motornya meninggalkan firma.
"Tidak adiknya, tidak kakaknya semuanya merepotkan," dengus Vano, kesal.
"Tapi, mereka sumber uangku," lanjutnya.
Gama menggeber motornya dengan kencang, ia akan menuju ke suatu tempat. Tempat terlarang yang seharusnya tidak boleh ia kunjungi.
Kemanakah Gama akan pergi?
Mari ketahui di episode selanjutnya.