
"Dok, jangan katakan pada Linda kalau saya menelepon." Isi pesan dari Agam untuk dokter Rita.
"Ada apa, Dok?" Linda yang baru selesai shalat Dzuhur melirik sambil merapikan mukenanya.
"Tidak ada apa-apa Bu LB, hanya mau mengecek saja."
"Oh."
Linda tersenyum. Sekarang hubungannya dengan dokter Rita semakin dekat. Awalnya, ia sempat gusar atas keberadaan dokter Rita. Dokter Rita cantik dan sebaya dengannya, ia takut Agam tergoda. Linda sempat terpikirkan ke arah sana.
Terlebih Linda mengalami pengalaman buruk tentang dokter Mia yang dijodohkan pada Agam oleh Pak Barata. Linda sebenarnya penasaran akan status dokter Rita, namun ia tidak berani membahas itu untuk menjaga dan menghormati privasi dokter Rita sebagai dokter pribadinya.
Kebaikan dokter Rita menjaga Alf, membuat Linda berusaha keras membuang prasangka buruk itu.
"Saya permisi, Bu LB," dokter Rita berpamitan.
"Baik, Dok. Kalau Keivel rewel langsung bawa kesini saja," titah Linda.
"Ya, Bu."
Dokter Rita menutup pintu kamar perlahan sambil membaca kembali pesan dari Agam.
Apa Pak Agam akan pulang?
Dokter Rita tersenyum mengingat kembali bagaimana paniknya Dirut HGC saat mendengar Linda sedang shalat.
.
.
.
.
Linda becermin, bertolak pinggang sambil menatap tubuhnya yang katanya terlihat seksi. Berat badan Linda sudah kembali normal seperti sebelum hamil. Ia juga sudah mulai melakukan olah raga rutin untuk menjaga kebugarannya.
Lalu memeriksa bekas luka operasi SC di bagian bawah perutnya. Sudah samar, bahkan hampir tidak terlihat. Bibir merahnya tersenyum, entah kenapa, ia merasa jika dirinya sangat layak dan pantas untuk seorang Agam Ben Buana.
"Jika kamu sudah bersuci, jangan lupa kabari saya. Kata dokter Fatimah, darah nifas ada yang bersih sebelum hari ke empat puluh."
Kalimat peringatan itu kembali terngiang. Serius, Linda merinding si bulu roma. Hari ini ia sudah bersuci, tapi ... takuuut .... Takut Pak Dirut pulang dan menagih yang 10 persen itu. Ternyata Linda belum siap.
Kenapa?
Alasan pastinya hanya Linda yang tahu. Yang jelas, untuk benar-benar menyerahkan diri pada Agam Ben Buana ia harus melakukan latihan fisik terlebih dahulu.
Agam itu Maga, mantan anggota BRN yang jenius dan ... kuat. Kata kuat tolong digaris bawahi.
Maga, dia bisa melakukan push up sebanyak 100 kali dalam waktu 60 detik. Sangat cepat, bukan?
Maga, dia bisa meretakan tembok dan mematahkan tulang dalam satu tinjuan.
Maga, dia yang bersalto dengan gaya tak biasa di hari kemenangannya terpilih sebagai Dirut HGC.
Cengkraman mesra tangan Agam Ben Buana bahkan bisa menimbulkan bekas, dan tanda cinta dari bibir tipisnya, bisa menyebabkan luka lebam dalam beberapa hari.
Mengerikan bukan? Itulah salah satu alasan kenapa Linda harus benar-benar siap lahir dan batin. Tapi ... cara pak Dirut mencumbu Linda benar-benar dahsyat dan sangat luar biasa.
"Katakan jangan ya, kalau aku sudah bersuci?" tanya Linda pada dirinya sendiri.
"Lebih baik nanti saja ah, setidaknya setelah Keivel aqiqah," guman Linda.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Bu Aulia serius?!"
Seluruh staf tampak terkejut setelah mendapatkan informasi dari Aulia.
"Saya serius, cepat kalian catat saja jumlah keluarga yang akan hadir, kita jangan sampai melewatkan kesempatan ini."
Aulia sibuk, ke sana ke mari tanpa peduli lagi dengan penampilannya. Ya, ia lupa memakai kembali high heelsnya.
.
.
.
.
Pukul 16.30 waktu setempat, Pak Yudha naik ke lantai 88 untuk menjemput Agam. Terkejut pria itu saat melihat Agam yang justru berada di ruang olah raga. Tengah bercengkrama dengan barbelnya.
"Permisi, Anda tidak pulang?" tanya Pak Yudha sambil menaiki treadmill, menseting manual dan melangkah santai.
"Oiya, maaf saya lupa memberitahu. Malam ini kita mau mengadakan acara makan malam bersama. Pak Yudha ikut ya," ucap Agam.
Penampilan Pak Dirut seksi sekali, hanya memakai celana panjang, tubuh polosnya bekeringat, mengkilat, sangat aduduh.
"Wah, asyik nih, dalam rangka apa, Pak?" Langkah Pak Yudha mulai cepat.
"Emm, intinya sebagai ungkapan rasa syukur karena sampai detik ini saya masih bisa bernapas. Saya juga berharap semoga saya dan orang-orang yang saya cintai panjang umur, termasuk Pak Yudha," jelas Agam.
"Aamiin, saya setuju dengan Pak Agam, karena sebenarnya di dunia ini tidak ada penderitaan yang abadi, juga tidak ada kebahagiaan yang abadi. Kecuali bagi mereka yang pandai bersyukur, selamanya ia akan merasakan kebahagiaan."
"Ya Pak Yudha, bagi saya, bukan kebahagiaan yang menjadikan saya bersyukur, tapi dengan bersyukur membuat saya bahagia. Rahasia kebahagiaan kan ada tiga poin. Bersabar, bersyukur, dan ikhlas," jelas Agam.
"Se-se-setuju," sahut Pak Yudha, suaranya tesendat karena langkahnya sudah sampai di mode berlari cepat.
Agam tersenyum, lalu menaiki treadmill yang ada di samping Pak Yudha dan mulai melakukan gerakan pendinginan yang dipadukan dengan berjalan santai.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Acara makan malam bersama berlangsung meriah. Lumayan ramai karena staf Dirut dan sekretaris boleh membawa sanak-saudara.
Dan percayalah, sebagian besar dari mereka bukannya membawa keluarga melainkan membawa sahabat dan kekasih. Hal ini wajar sih, kenapa? Karena sebagian besar karyawan HGC berasal dari luar kota.
Acara dadakan itu bahkan diiringi oleh pertunjukkan musik dan mendatangkan artis ternama. Malam ini, yang menjadi mega bintang tentu saja Agam Ben Buana. Terlepas dari kasus yang baru-baru ini menjeratnya, Agam tetaplah Agam. Dia selalu mempesona.
Padahal, gelar sebagai 'pemerkosa, h o m o dan skandal kumpul kebo' sempat disematkan oleh publik kepadanya, tapi ... Agam Ben Buana berhasil lolos dari jeratan hukum, dan asumsi negatif. Bahkan, HGCpun telah memafkan kesalahannya dan tidak memecatnya. LuaRRR biasa. Agam Ben Buana bukan kaleng-kaleng.
Sebenarnya yang membenci Agam banyak. Tapi, hanya berani bersuara di belakang. Saat berhadapan langsung dengan Pak Dirut, percayalah, nyali mereka akan menciut.
Agam duduk di samping Pak Yudha. Menu yang disajikan sangat banyak. Boleh mengambil sepuasnya. Agam hanya mengambil menu tinggi protein dan buah, tanpa nasi.
Dan tanpa diketahui siapapun, ada seseorang yang secara diam-diam merekam kebersamaan Agam dengan stafnya. Wajah Agam terlihat ceria, senyum manis tersungging dari bibirnya acap kali ada staf yang menyapa.
Pak Yudha beberapa kali mengerutkan dahi. Merasa aneh dengan sikap bosnya itu. Staf wanita yang mendapat senyuman dari Agam langsung terbuai. Terus mencuri pandang pada Pak Dirut sambil menikmati hidangan.
Dan seorang anak magang tiba-tiba maju ke depan. Berdiri di sisi Agam.
"Pak Dirut, apa saya boleh berfoto dengan Bapak?" Menunduk, meremas ujung bajunya.
"Kamu siapa? Dari bagian mana?" sentak Pak Yudha. Agam tidak merespon. Masih asyik dengan minumannya.
"Saya anak magang, Pak. Saya ikut ke sini diajak teman," jelasnya.
"Tidak boleh ada yang berfoto dengan Pak Dirut, silahkan kamu kembali ke tempat," tolak Pak Yudha.
"Ba-baik."
Gugurlah sudah harapan gadis itu, ia berjalan mundur sambil menunduk. Ternyata Pak Dirut sangat sulit diraih. Melirik pun tidak, bahkan seolah tidak mendengar kalimatnya. Padahal, kalau saja bisa berfoto, ia akan mencetak foto itu, membingkainya dan menyimpannya di tempat terbaik.
Sudah menjadi ciri khas Pak Dirut jika mengadakan acara maka jangan harap ada minuman beralkohol. Pun pada acara makan malam kali ini, semua menu harus berlabel HALAL. Titik.
.
.
.
.
"Pak Yudha, saya mau pulang duluan," kata Agam.
"Saya juga mau ikut pulang dengan Anda, Pak."
Setelah itu, Agam izin pulang dan menyuruh stafnya untuk melanjutkan acara hingga batas waktu yang telah ditentukan.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Sebelum tidur, seperti biasa, Linda memainkan ponselnya. Sejenak mengecek media sosial untuk sekedar melihat-lihat. Lalu iseng menautkan e m a i l yang ia miliki. E m a i l yang terpasang di ponselnya sebenarnya dibuat oleh Agam. Tapi, tidak ada salahnyakan membuka e m a i l sendiri?
Terkejut bukan kepalang, ternyata banyak sekali pesan masuk. Jika dicek satu persatu, mungkin tidak akan kelar dalam waktu satu malam untuk membukanya. Ada puluhan ribu pesan, bayangkan.
Tapi fokusnya tentu saja pada pesan terbaru. Pesan ini mencuri perhatian karena riwayat terkirimnya.
Awalnya, Linda terlihat biasa-biasa saja, tanpa ekspresi. Tapi, langsung duduk saat vidio yang dikirim itu diputar.
Linda melihat Agam dikelilingi banyak orang terutama wanita cantik yang didominasi oleh mereka yang berpenampilan seksi.
Agam tersenyum dan terlihat begitu ramah. Dada Linda langsung panas seketika. Apalagi saat melihat wanita-wanita itu seakan mencari perhatian dari suaminya. Ada juga yang mencuri pandang.
Dada Linda semakin panas. Seperti inikah rasa cemburu itu? Ternyata ... rasanya sakit. Tidak berdarah, tapi ... rasanya perih.
"Apa setiap malam dia berpesta seperti ini? Pantas saja kalau meneleponku malam terus!" rutuknya sambil melemparkan ponselnya.
Ingin marah, ingin menjambak rambut indahnya, ingin menggigit bibir tipisnya, kalau bisa sekalian saja ingin mencecik lehernya.
"Kamu sampai mengatakan aku sebagai j a l a n g gara-gara lives streaming, sekarang Pak Agam jelas-jelas melihat langsung wanita-wanita itu, haishh," Linda benar-benar kesal. Ia tidak suka melihat Agam tersenyum pada wanita lain.
"Aaaaargh," teriaknya.
"Awas saja kalau kamu pulang! Aku tidak akan memberikan yang sepuluh persen itu!" gerutunya.
Linda berpikir keras. Merasa heran dengan staf wanita HGC yang berpenampilan terlalu seksi.
Kenaikan gaji atau jabatan memang kebanyakan adalah hasil dari kerja keras dan ketekunan. Namun bukan rahasia lagi jika penampilan yang menunjang juga mendorong kesuksesan.
Sejumlah penelitian bahkan telah membuktikannya, terutama pada pekerja wanita. Sebuah riset terbaru pun mengungkap cara berpakaian para wanita karier yang dianggap menarik membuat mereka mudah naik jabatan.
"Ahh, aku tidak peduli dengan penelitian, itu!"
Ya, Linda pernah membaca sebuah riset yang mengungkap jika cara berpakaian yang menarik bisa meningkatkan percaya diri dan membuat wanita lebih sukses dalam pekerjaan.
Hasilnya pun cukup mengejutkan dan menyedihkan saat dilihat dari segi moral. Dikatakan jika wanita yang memakai rok pendek saat di kantor, akan lebih mudah dipromosikan daripada yang berpenampilan cupu (culun punya).
"Yang benar saja! Apa mereka sengaja bekerja sambil menggoda suamiku?!" rutuknya lagi, kesal.
"Harusnya tidak perlu berpakaian seseksi itu untuk mendapat perhatian suamiku atau mencapai posisi tinggi di perusahaan!"
"Dengan dedikasi, usaha maksimal, dan sikap profesional yang baik, harusnya sudah cukup untuk menggapai kesuksesan. Cukup memakai baju yang layak dan sopan, bisa kan?" Linda masih berbicara sendiri, bibirnya mengerucut.
Pucuk dicinta ulampun tiba, yang tadi dicemburuinya menelepon.
"Aku malas menerima telepon dari Anda! Biarkan sajalah! Huuh!"
Linda memaki ponselnya yang tidak berdosa. Si ponsel bahkan ditendang saking kesalnya.
Di saat ia bersusah-payah memenuhi kebutuhan ASI untuk bayi Alf, Linda berpikir Agam malah asyik bersenang-senang besama para wanita seksi, tersenyum-senyum, dan seolah melupakan dirinya dan Keivel.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Angkat dong, sayang."
Agam masih berusaha menghubungi Linda, sudah panggilan kedelapan, tapi tetap tidak diangkat. Tentu saja semakin penasaran. Agam segera menelepon dokter Rita.
Tapi, lagi-lagi, Agam harus gigit jari. Kata dokter Rita, pintu kamar Linda terkunci, dan saat dipanggil tidak ada sahutan. Agam panik, khawatir terjadi apa-apa pada istri cantiknya itu. Dan Agam tahu jika kunci duplikat kamar tersebut ada pada Linda.
"Cepat kamu hubungi ayah Berli atau Hikam. Minta bantuan mereka untuk mendobrak pintu kamarnya!" teriak Agam.
"Ta-tapi Pak, ini jam sebelas malam, pak Berli dan Hikam pasti sudah tidur. Hikam juga malam ini tidak menginap di sini," terang dokter Rita.
"Saya tidak mau tahu! Pokoknya, sebelum jam dua belas malam, saya harus sudah bisa berbicara dengan istri saya!" tegas Agam, lalu menutup panggilan secara sepihak.
Di sana, dokter Rita kalang-kabut.
"Kamu kenapa, El? Kamu baik-baik saja, kan?" guman Agam.
Kepanikan Agam ternyata belum berakhir. Saat ia pulang, Agam berpikir harus segera memasang CCTV di kamar itu agar ia bisa memantau Linda di mana saja, dan kapan saja.
Jika saja bisa mempercepat waktu, Agam ingin segera mencapai lusa. Ingin segera pulang menemui Linda dan putranya. Dan yang paling penting adalah ... Pak Dirut ingin segera melakukan itu. Emm ... ingin segera b e r c i n t a pastinya.
Ya ampun, sabar ya Pak Dirut. Episode p a n a s nya sedang proses editing and review.
...~Tbc~...