AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Save Her and Them (Menyelamatkan Dia dan Mereka)



Agam kebingungan, keinginan untuk segera bertemu Linda kian menyeruak.


Kenapa?


Bukankah seharusnya ia membiarkan Linda tidur nyenyak?


Akhirnya ia beranjak ke mushola untuk melaksanakan kewajibannya. Dan selesai beribadah, perasaan tidak tenang kian menyeruak di dalam kalbunya.


Tidak bisa begini.


Setidaknya, malam ini ia harus memastikan apakah Linda tidur di tempat yang layak atau tidak. Agampun bersiap dan bergegas menuju lokasi titik koordinat signal keberadaan Linda. Membawa tas kecil dan sesuatu yang ia sembunyikan.


"Pak Agam, Anda mau ke mana?"


Pak Yudha yang kebetulan berada di basement terkejut.


"Bapak kenapa ada di sini?"


Agam malah balik bertanya sambil membuka kain penutup mobil sportnya.


"Rencananya, saya mau menguras air kolam renang Pak," jawab Pak Yudha.


"Oh, lanjutkan, Pak." Agam masuk ke dalam mobilnya.


"Kalau boleh tahu, maaf sekali saya bertanya lagi. Bapak mau ke mana? Apa perlu saya antar? Tidak biasanya Bapak membawa mobil itu."


"Saya mau cari angin Pak. Malam ini sedikit bosan. Saya keluar dulu ya Pak."


Tidak perlu menunggu jawaban dari pak Yudha, Agam segera melajukan kemudi meninggalkan rumahnya.


.


.


.


Sepanjang perjalanan, hatinya semakin kalut dan tidak tenang. Ada sebuah perasaan tidak enak yang tiba-tiba muncul.


Hingga sampailah ia di sebuah persimpangan antara jalan raya dan gang sempit.


Berdasarkan peta lokasi, untuk sampai ke penginapan itu Agam harus memasuki gang sempit tersebut. Tentu saja tidak bisa masuk menggunakan mobil, melainkan harus dengan berjalan kaki.


Agam memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan toko. Tertulis di atasnya "Toserba." Singkatan dari toko serba Ada.


Untung saja ini pagi buta, jadi keberadaan dia dan mobil mewahnya tidak terlalu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.


Agam turun dari mobil setelah memakai masker. Untungnya ia memakai jaket, cuaca pagi di kota ini ternyata terasa dingin juga.


Angin malam berhembus memainkan rambut kemilaunya. Agam lalu menarik penutup kepala pada jaket itu sambil berjalan mendekati titik lokasi.


"Kenapa kamu menginap di tempat seperti ini, El?" gumamnya.


Langkahnya panjang-panjang. Seolah ingin segera sampai. Sesekali, ia juga mengecek titik koordinat pada ponselnya.


Beberapa saat kemudian kakinya mematung di depan sebuah bangunan yang tak lain adalah bangunan di mana pencuri hatinya tengah menginap.


Agam langsung menghela napas berat. Bangunan itu terdiri dari tiga lantai, bentuknya memanjang, terdiri dari kamar-kamar. Lebih mirip kos-kosan daripada penginapan.


"Penginapan Sederhana," itulah nama yang tertera di sana. Sebuah nama yang memang sangat tepat disematkan pada penginapan ini.


Ditatapnya bangunan ini dari jarak sekitar 3 meter ke arah pintu masuk. Ada scurity yang sedang tidur, bukan sedang menjaga. Security itu tidur begitu saja di atas meja yang disusun. Sementara bagian penerima tamu kosong tak berpetugas.


Pagar utama yang menjadi akses masuk terlihat terbuka.


Hmm ....


Agam jadi bingung mau melakukan apa. Jika dilihat dari titik kordinat, jarak ia dan Linda hanya sekitar sepuluh meter lagi.


Agam menyandarkan tubuhnya pada tembok pagar sambil berpikir untuk menempatkan mata-mata di penginapan ini juga.


Jadi ... pergerakan Linda bisa mulai diawasi dari tempat ini.


Sementara itu, Linda masih berjuang di sela-sela rasa sakitnya untuk meraih ponsel.


Awalnya ia hampir menyerah.


Tapi ....


Membayangkan bagaimana lucu dan cantiknya Yolla dan Yolli, Linda jadi berpikir jika calon anaknyapun kalau perempuan pasti akan cantik dan menggemaskan seperti adik-adiknya.


Dan kalau laki-laki .... Mungkin akan setampan Agam. Linda berusaha bangun. Sungguh dia tidak ingin terjadi apa-apa pada kandungannya.


"Hhhh, hmm ... uuhh ...."


Hanya rintihan dan rintihan yang keluar dari bibir merahnya. Dan wanita itu berhasil duduk dengan susah-payah, wajah cantiknya meringis-ringis.


Ternyata ... seperti ini rasa sakitnya.


Berbanding terbalik dengan rasa yang ia alami dulu saat Agam memasuki miliknya yang berharga.


Dulu juga awalnya sakit, tapi ... tidak sesakit ini.


"Huuh ... aduuuh ...."


Dengan tangan gemetar dan kesulitan, ia akhirnya berhasil meraih ponselnya. Ponselnya retak, sebagian layarnya menghitam, untungnya ponsel itu tidak mati.


Alhamdulillaah, gumamnya dalam hati.


Segera membuka kontak dan memanggil dia dengan air mata berurai.


Linda sadar jika Tuhannya belum menghendaki dirinya untuk jauh dari pria ini. Dia memberi peringatan pada Linda dengan cara ini.


Tersambung ....


Langsung diangkat, mungkin pada setengah dering pertama. Linda sampai kaget karena nyaris tidak mendengar nada dering. Yang terdengar langsung seperti ini ....


"Bu Linda ...."


Suara di sana terdengar lirih seperti menyimpan rasa penyesalan yang teramat mendalam. Atau mungkin hanya perasaan Linda saja.


Sejenak Linda tidak mampu berucap, hanya air mata dan isakan yang keluar.


"Huuuks ...."


Pastinya terdengar ke sana isakannya, dan jawaban dari sana langsung membuat wanita itu terkesiap.


"Tunggu, diam di tempat, dan jangan menangis. Saya akan menemui kamu."


Agam menutup panggilannya di saat Linda hendak membuka mulutnya untuk berbicara. Alhasil, Linda hanya mematung.


Sementara Pak Dirut begitu berbunga-bunga, laksana ada bunga setaman di dadanya.


Ia melangkah yakin ke titik lokasi. Melewati pagar penginapan yang tidak dikunci, dan melewati penjaga yang tengah tertidur dengan percaya diri.


Penginapan macam apa ini? Manajerial mereka sangat kacau. Keluhnya dalam hati.


'Tak, tak, tak.'


Sepatu Agam menghentak anak tangga.


Linda ada di lantai dua, posisi kamar paling pojok. Jantung Agam kian berdegup. Ia baru pertama kalinya ke tempat sesederhana ini, di pagi buta, dan lucunya untuk menemui seorang wanita yang kabur dari rumahnya.


Tubuh tegapnya mematung di depan pintu. Di balik pintu itulah Linda berada. Jantung Agam semakin berdebar. Ia sedang berpikir keras akan mengatakan dan melakukan apa saat bertemu dengan Linda.


Langsung memeluknya dan mengatakan cinta?


Langsung mencium bibirnya sampai wanita itu tidak mampu bernapas?


Atau ... mungkin langsung melamarnya?


Ahh, aku gugup. Batin Pak Dirut berkecamuk.


"Bu Linda," panggilnya pelan seraya mengetuk pintu.


"Pak ...."


Terdengar suara lirih dari dalam sana, nyaris tidak terdengar kalau saja telinga Agam tidak terlatih.


Agam menautkan alisnya.


"Bisa buka pintunya?" tanya Agam.


Tapi ... suara dari dalam kamar malah membuat tubuhnya hampir meledak. Agam mematung, bingung, dan matanya membelalak sempurna. Napasnya naik-turun.


"A-ahhh ... emmh ...."


Suara itu di telinganya terdengar seperti nada suara yang bukan-bukan, mirip dengan suara Linda saat ia berhasil menodainya.


Tubuh Agam gemetar. Sungguh ia tidak bisa berpikir jernih lagi.


Apa wanita ini sengaja meneleponnya untuk mendengarkan ini?


Tapi ....


Kata Bagas dia wanita baik-baik yang sebenarnya masih polos. Agam menghela napas di tengah ketidakkaruanan akal dan pikirannya. Lalu menempelkan daun telinganya pada pintu, untuk memastikan dan meyakinkan kekalutannya.


"Huuu ... uhhh ... Pak A-Agam ... to-tolooong ... tolooong."


Terdengar jelas.


Dan ....


Tanpa basa-basi, dengan kekuatan penuh Agam menendang pintu itu tanpa kompromi.


Satu,


dua,


tiga,


... dan baru pada tendangan ke empat pintu tersebut terbuka setelah Agam menambah kekuatan menggunakan bahunya.


'BRAK.'


Suara tendangan kaki Agam pada pintu tentu saja didengar oleh penghuni lain.


Mereka yang mendengar langsung panik. Ada yang bangun dan langsung mencari tahu, ada juga yang tertidur lagi setelah suara itu menghilang.


"Dengar tidak?!"


"Suara apa tadi ya?!"


"Seperti suara pintu didobrak."


"Ada yang bertengkar biasanya."


"Jangan-jangan seperti minggu lalu?!"


"Memangnya minggu lalu ada apa?!"


"Ada istri sah menciduk suaminya yang sedang begitu-begitu di salah satu kamar."


Desas-desus menyeruak di lantai satu. Sedangkan di lantai dua dan tiga, penghuni kamar yang kepo langsung mendekati kamar Linda bersamaan dengan petugas keamanan yang baru saja tiba.


Dan di kamar yang mereka maksud, tubuh Agam hampir jatuh tatkala melihat pemandangan di hadapannya. Dadanya seolah dihantam gada beberapa kali.


Pencuri hatinya tergeletak tidak berdaya di tempat tidur. Satu kaki indahnya menjuntai hampir berpijak ke lantai dan berdarah. Pada sprei ada darah juga.


Sejenak Agam hanya melongo, menatap wajah Linda yang berkeringat, memucat, meringis, dan merintih kesakitan.


"Pak ...."


Linda memanggil namanya dan menatapnya dalam seakan menembus relung hatinya.


Pria itu masih mematung, bersamaan dengan derap langkah kaki petugas keamanan dan penghuni kamar lain yang semakin mendekat.


"Pak Agam, maaf ... to-tolong saya ... ma-maksud saya, to-tolong bayi saya ... pe-perut saya sa-sakiiiit."


Linda mencoba menyadarkan Agam yang mematung karena terkesima.


Lalu merekapun datang.


"Woy! Ada apa ini?! Kamu merusak pintu?!" teriak petugas keamanan langsung melotot pada Agam dan belum melihat ke arah Linda.


"Eh itu berdarah!" teriak penghuni lain. Seorang ibu-ibu paruh baya.


"Wah iya, ada apa ini?!" teriak yang lainnya dan mencoba merangsek ke dalam kamar bersamaan dengan kembalinya kesadaran seorang Agam.


"Tolong jangan ada yang bergerak!" teriak Agam. Untungnya ia memakai masker. Setidaknya tidak ada yang mengenalinya.


Ia merentangkan tangan dan menghalangi tubuh Linda.


"Semuanya mundur!" teriaknya lagi.


"Hahh, lancang sekali kamu ya!"


Petugas keamanan berniat menyerang Agam, namun baru selangkah badannya langsung mematung karena Agam telah mengeluarkan senjata api dari sakunya. Lalu memperlihatkan sebuah kartu berwarna silver keemasan pada petugas keamanan itu.


Penghuni lain yang ada di tempat kejadian langsung angkat tangan. Ada yang mengira Agam adalah penjahat, ada juga yang mengira jika Agam adalah polisi yang menyamar.


"Saya mau Bapak mengamankan lokasi kamar ini. Jangan biarkan siapapun masuk ke kamar ini!" tegas Agam.


Hanya petugas keamanan itu yang saat ini menyadari siapa Agam setelah melihat kartu itu. Petugas keamanan itu sampai menelan saliva seolah tidak percaya dan gemetar ketakutan.


"Ba-baik, Pak."


Dan seperti penghuni lain, iapun angkat tangan dengan jemari gemeretak.


Agam memasukkan kembali pistol dan kartunya. Lalu membopong tubuh Linda tanpa sepatah katapun.


Pria itu diam membisu, hanya matanya saja yang mengitari penjuru ruangan seperti didektif yang tengah mencari barang bukti.


"Pak ...."


Lirih Linda saat tubuhnya melayang karena diangkat oleh Agam.


"Ssssttt, diam." Tegas Agam. Ia panik. Takut tidak bisa menyelamatkan calon anakya.


"Tutup wajahmu dengan tanganmu," bisiknya.


Lalu Agam melewati orang-orang yang masih ada dalam mode terkesima. Setelah ruang geraknya cukup, Agam membawa Linda sambil berlali.


"Ha-hati, Pak ...." kata Linda. Ia takut terjatuh apalagi saat Agam menuruni anak tangga.


"Biarkan mereka pergi jangan ada yang menghalangi," teriak petugas keamanan saat melihat beberapa orang penyewa kamar menghalangi Agam karena penasaran.


Agam meninggalkan penginapan dengan rasa yang tidak menentu diiringi tatapan kepenasaranan orang-orang yang tadi terbangun, terganggu, dan sekarang mereka tengah menatap kepergian Agam dan wanita penghuni kamar tersebut.


"Pak, siapa wanita itu?" tanya seorang pria pada petugas keamanan.


"Tidak tahu, tadi mukanya juga ditutup, kan?" jawabnya.


Sebagian dari mereka sudah meninggalkan kamar. Sementara pria itu dan petugas keamanan masih berada di kamar itu.


"Kalau laki-laki tadi memangnya siapa? Kok Bapak sampai ketakutan dan gemetar saat melihat kartu identitasnya."


Pria itu rupanya masih penasaran. Ia masih mengekori petugas keamanan yang sedang menutup pintu kamar.


"Sudah, cepat masuk lagi ke kamar kamu dan tidur. Saya tidak bisa mengatakan siapa dia karena data yang ada di kartu itu harusnya dirahasiakan. Mungkin tadi dia kaget saat kita datang. Jadi, terpaksa membocorkan identitas rahasianya pada saya."


Walaupun bingung, tapi penghuni kamar yang berada tepat di samping kamar Linda itu terpaksa mengangguk sambil mengatakan, "Oh, begitu."


.


.


.


Agam masih berlari sambil membopong Linda yang sepanjang perjalanan terus merintih, dan meringis-ringis.


Tangannya memegang baju Agam kuat-kuat. Sesekali ia juga meminta maaf pada Agam dengan air mata yang terus berurai, dan terbata-bata.


"Hukks, ma-maaf Pak ... sa-saya takut bayinya kenapa-kenapa. Maafkan saya, sa-saya ceroboh, hhukks ...."


Agam tidak menjawab. Tes, keringat Agam menetes ke leher Linda. Bukan keringat karena berat membawa Linda, tapi ... ia berkeringat karena panik.


"Pak ... sa-saya berat ya ... ba-bagaimana kalau dipapah saja? Ti-tidak usah seperti ini ... uuuhhh ...," serunya.


"Sssttt," hanya itu kata yang keluar dari bibir Agam.


Jarak dari penginapan ke mobil Agam sekitar 200 sampai 250 meter. Untungnya gang itu sepi dari lalu lalang karena sebagian besar dari warga pastinya masih tertidur nyaman di peraduannya masing-masing.


Akhirnya sampai juga pada tempat yang dituju. Ia sejenak mendudukan Linda di sebuah kursi yang ada di depan "Toserba." Lalu sibuk mengambil kunci untuk membuka mobilnya dengan wajah panik.


Kembali membopong Linda ke dalam mobil saat kursi untuk Linda sudah diposisikan senyaman mungkin.


"Kita akan ke klinik dokter Fatimah. Keasakitan boleh, tapi tolong jangan banyak bicara. Lebih baik berdoa di dalam hati untuk kesemalamatan kamu dan bayi kita," ocehnya saat memasangkan sabuk pengaman.


Deg, Linda terenyuh.


Apa?! Dia bilang bayi kita? Apa tidak salah? Batin Linda.


Ah, mungkin pria itu spontan saja dan tidak sadar mengatakan bayi kita.


"Sudah tahu kamu kecapean, tapi kenapa malah memakan es krim rasa nanas?! Apa kamu tidak tahu kalau nanas itu kurang baik dikonsumsi oleh wanita yang hamil muda?!" ocehnya saat mulai melajukan kemudi.


Eh, sejak kapan dia cerewet? Dia juga memanggilku 'Kamu.' Kerasukan apa dia ya? tanya Linda dalam hatinya.


"Nanas itu mengandung enzin bromelain yang kerjanya memecah protein dalam tubuh, sedangkan janin yang sedang tumbuh terdiri dari sel protein sederhana, kamu tidak tahu?!" Masih mengoceh, namun tatapannya fokus ke jalan raya.


"Saya yakin bromelain itu dapat menyebabkan perdarahan dan keguguran, karena yang saya pelajari cara kerjanya adalah merangsang leher rahim untuk melunak dan melonggar. Jadi, dapat memicu kelahiran bayi prematur."


"Kamu tidak tahu juga, hahh?!"


Linda diam saja. Ia tidak punya banyak energi untuk menjelaskan, dan ya memang benar tidak tahu apa-apa tentang kandungan nanas dan enzim itu.


"Ceroboh! Harusya kamu tidak boleh makan es krim rasa nanas, harusnya kamu juga tidak boleh kecapean!"


Agam lalu menghela napas sambil membelokkan mobilnya ke jalur kanan.


"Harusnya ... kemarin malam saya memegang ponsel saat kamu menghubungi saya. Maaf, ini salah saya." Nada bicara Agam berubah lirih.


"Linda ...." Tangan pria itu meraih tangan Linda.


Sementara pada lengan Agam, terlihat ada ceceran darah yang bersasal dari tubuh Linda.


Linda diam saja. Ia mulai tenang, dan sakit di perut bagian bawahnya mulai berkurang.


"Linda ...." Agam memanggilnya lagi.


Pria itu memanggilnya 'Linda,' bukan 'Bu Linda' lagi. Tadi juga menyebut 'Kamu' bukan 'Anda.'


Kenapa jadi sok akrab? Pikir Linda.


"Hai, kenapa diam saja?"


Tangannya masih memegang erat tangan Linda, ia mengemudi dengan satu tangan. Dan ini adalah kata 'Hai' pertama dari Agam untuk Linda.


"Ta-tadi Pak Agam menyuruh sa-saya diam kan?" Linda gugup. Apalagi saat teringat jika secara tersirat ia mengatakan suka pada Agam melalui surat itu.


"Mulai detik ini, jangan memanggil saya pak atau bapak lagi, bisa?" tanyanya sambil memajukan kepala untuk membaca petunjuk arah.


"Ba-Bapak itu kan bos saya. Wajar kalo saya memanggil Bapak," sambil menarik tangannya. Rasanya aneh kenapa Agam tiba-tiba berubah seperti ini.


"El," panggilnya. Pria itu makin aneh saja dan membuat Linda semakin tidak nyaman.


"Ya ... kenapa?" Linda menunduk.


"Saya sebenarnya ---."


"Uhhh, mmm ... Pak ... perut saya sakit lagi, aaaa ...." Teriaknya sambil melengking.


"APA?! Tahan ya, sabar ya. Sebentar lagi kita sampai."


Agam tancap gas.


'Syuung.'


Mobil mewah itu melesat cepat, bahkan di lampu merahpun tidak berhenti. Untung saja jalanan lenggang.


❤❤ Bersambung ....