
...*...
...*...
...*...
Makan malam berjalan rukun nan damai, Agam laksana pionir, menjadi pusat perhatian Ayah Berli dan Hikam.
Di tengah makan malam itu, yang banyak berbicara adalah Paman Yordan, targetnya tentu saja Linda.
Secara kasat mata, Paman Yordan berpikir Agam dan Linda sudah serasi.
Ya, cinta memang tidak serta-merta tentang fisik. Ketulusanlah yang diutamakan. Namun, terkadang bentuk fisik bisa mempengaruhi kepercayaan diri pasangan.
🎶 "Kamu cantik hari ini, dan aku suka." 🎶
Goda Paman Yordan, dilanjutkan dengan tawanya yang terbahak. Agam mengerling, rasanya ingin menjambak rambut pamannya. Linda tersipu-sipu.
"Ternyata biang kecantikanmu berasal dari ayah kamu, benar begitu, Pak Berli?"
Paman Yordan melirik Ayah Berli. Yang dirilik diam saja, tapi kali ini ujung bibir Ayah Berli terangkat. Ia menyunggingkan sedikit senyumnya.
"Yang cantik istriku," ucap Ayah Berli sambil beranjak karena ia telah menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Ayah, wastafel untuk mencuci tangan ada di sebelah sini."
Agam sigap beranjak. Ia mengantarkan Ayah Berli sampai wastafel. Padahal, jarak dari meja makan ke wastafel sangatlah dekat.
"Terima kasih."
Ayah Berli merespon, dan Agam sangat bahagia.
"Sabun cuci tangannya ada dua belas macam, Ayah tekan saja tombolnya sesuai dengan warna kesukaan. Aroma sabun yang keluar sudah sesuai dengan warna tombolnya. Kuning untuk aroma pisang, hitam untuk blackberry, hijau untuk mentimun, dan lain-lain," terang Agam.
"Terima kasih."
Lagi, Ayah Berli hanya mengucapkan kata itu.
Dan ketika seluruhnya selesai makan, Ayah Berli dan Hikam beranjak ke ruang tamu ditemani Maxim dan Enda, Paman Yordan ke kamar tamu untuk istirahat, sedangkan Bu Ira dan Pak Yudha kembali pada rutinitasnya.
"Pak Yudha, antarkan Ayah dan Hikam ke kamar tamu yang berada di basement," ucap Agam. Tadi sebelum Ayah Berli dan Hikam memilih menunggu di ruang tamu.
"Tidak perlu, aku dan Hikam tidak menginap di sini," jawab Ayah Berli.
Ayah Berli bahkan tidak menyapa Linda lagi, ia seperti sudah merelakan putri sulungnya melakukan apa saja di rumah ini.
Saat Linda mengatakan ....
"Ayah, aku ingin mengobrol."
Ayah Berli menjawab ....
"Sudah lama juga kamu tidak mengobrol dengan Ayah, tidak perlu basa-basi. Kamu lakukan saja apa yang biasa kamu lakukan di rumah ini."
Linda kembali sedih mengingat ucapan itu. Di dalam lift ia melamun, seolah tidak peduli pada Agam yang sedari tadi mengusap rambutnya sambil mengoceh bangga karena Agam merasa mendapat signal baik dari ayah Berli.
"Saya senang, sepertinya ayah kamu menyukai saya."
"Malam ini, saya akan mengantar ayahmu ke The Number One Hospital sambil berangkat kerja."
"Andai saja tidak ada rapat, saya pasti akan menemaninya sampai bertemu dengan paman Setyadhi, lalu membujuknya untuk menginap di sini."
"El?" Agam baru sadar jika Linda mendiamkannya.
"Linda?" panggilnya lagi saat mereka sudah tiba di lantai dua.
"I-iya," jawab Linda saat Agam memeluknya dari belakang.
"Kenapa kamu mengabaikan saya, hm?" tanyanya sambil menggosok-gosokan ujung hidungnya pada pundak Linda.
"Pak ... geli ...." Linda bergidik.
"Lepaskan."
"Tidak. Jawab dulu, kenapa diam saja?" Agam malah semakin erat memeluknya.
"Aku sedih, Pak. Ayah seolah membiarkan aku begitu saja, aku kan mau bergabung bersama Ayah di ruang tamu," keluhnya sambil berusaha melepaskan tangan Agam yang melingkar di pinggangnya. Tapi, gagal.
"Hahaha, itu artinya ayah kamu ridho kamu tinggal di sini, lagipula kamu kan nyonya di rumah ini, bukan tamu," kata Agam.
"Nyonya? Kita belum menikah, Pak."
"Segera," timpal Agam.
Lalu pria itu merubah dekapan menjadi usapan halus di perut Linda yang sudah membesar, bulat, dan menggemaskan.
Di mata Agam Linda semakin berisi dan seksi, bodynya semakin aduhay, b o k o n g nya bohay, dan bagian tubuh yang lainnya semakin hay hay.
Serius, wanita ini benar-benar racun. Seolah tercipta sebagai pemantik birahi, bahkan suara Linda saja terdengar seperti mengajaknya untuk dicumbui.
Ya ampun.
"Pak aku tidak nyaman, lepas."
Dan ya, akhirnya Agam melepaskannya setelah ia merasa ada yang tidak beres dengan bagian tubuhnya. 'His big brother.'
"Maaf .... Oiya El, kamu terlihat kelelahan, wajahmu sembab. Kalau kamu lelah, baiknya tidak perlu ikut ke rumah sakit. Kamu di rumah saja, besok baru ke rumah sakit, setuju? Malam ini Gama juga rencananya akan pulang, jadi kamu ditemani bu Ira dan Gama." Kini Agam berjalan lambat di samping Linda.
"Bapak mau menginap di HGC?"
Linda menghentikan langkahnya lalu mendongakan wajah menatap Agam. Terlihat jelas di matanya jika wanita itu tidak mau ditinggalkan.
"Ya, kemungkinan menginap. Kenapa? Kalau kamu melarang, saya pulang lagi." Sambil mengusap perlahan pipi Linda.
"Emm, tidak kenapa-napa," Linda sedikit gugup, langsung berjalan cepat ke kamarnya sambil tertunduk.
'BUG.'
Di depan pintu kamar, Agam ternyata sudah menghadangnya. Linda menabrak dadanya.
"Pak!" teriaknya, kaget.
"Boleh tidak saya menginap di HGC?" Sambil menahan handle pintu.
"Terserah Pak Agam saja," jawabnya ketus.
"Oke, saya tidak akan menginap."
Agam berlalu setelah ia merasa mendapat jawaban. Wajah Linda murung ketika mengatakan 'Terserah' artinya Linda tidak suka Agam menginap di HGC.
...*...
...*...
...*...
...*...
"Ya, aku lelah ... sepertinya memang tidak bisa menjenguk paman Setyadhi malam ini. Hmm, maaf ya paman, aku ke sana besok. Aku juga merasa mual, kenapa ya?"
Di kamarnya, Linda bersandar pada beberapa bantal sambil memijat kakinya. Entah kenapa ia merasa kakinya terlihat membesar, bengkak.
"Kakiku kenapa ya? Aku juga pusing." Sekarang ia memijat keningnya.
"Apa mungkin karena sudah beberapa hari tidak memakai kaca mata? Hmm, pusing ...," keluhnya.
Lalu ponsel Linda menyala, ada pesan masuk. Linda terkejut, tapi ada rasa bahagia juga. Tanpa membuka pesan, Linda langsung menelepon balik.
"Bagas? Ada apa? Kamu dan keluargamu baik-baik saja, kan?"
Walaupun Linda pernah dikecewakan oleh Bagas, tapi ... hati wanita itu tetap tulus. Ia tidak menyimpan dendam sedikitpun pada Bagas ataupun pada istrinya.
"Kabar baik, El. El, maaf aku baru telepon kamu, aku mau minta maaf atas sikapku dan sikap istriku. Maafkan kami ya, El."
Di sana, suara Bagas terdengar bersedih, penuh penyesalan.
"Tidak perlu dibahas lagi, Bagas. Aku baik-baik saja, tidak perlu meminta maaf. Oiya, orang-orang pak Agam tidak ada yang menjahilimu, kan?"
"Em, tidak El. Hanya peringatan saja, aku juga meminta maaf atas nama istriku, dia tidak berani mengatakan langsung karena merasa malu. Terima kasih, karena kemurahan hatimu, rumah kami tidak jadi disita."
"Hahh? Mau disita? Siapa yang mau menyita rumah kamu?" Linda mengernyitkan dahinya.
"Awalnya, pak Agam mengancam akan menyita rumahku, El. Tapi tidak jadi karena kamu melarangnya, yang kudengar seperti itu."
"Oh, begitu? Maaf ya Bagas, pak Agam hanya menggertak, kok. Dia tidak akan setega itu. Pada dasarnya dia itu baik."
"Ya El, aku tahu. Tapi El, sebenarnya selain ingin meminta maaf, aku juga menelepon karena ingin menyampaikan sesuatu."
Bagas seperti ragu-ragu.
"Ada apa? Katakan." Linda penasaran.
"Aku juga awalnya tidak mau menanggapi, tapi aku pikir kamu harus tahu. Aku dapat kabar ini dari Angga. Angga tadi menelepon dan dia memintaku untuk memberitahu kamu. Maaf jika yang aku sampaikan membuat kamu tidak nyaman."
"Angga juga memaksa meminta nomor kamu, jadi terpaksa aku berikan. Maaf ya, El."
"Aku dan Angga sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sebaiknya, kamu juga membatasi komunikasi dengan dia."
"Ya El, tapi kata Angga ini penting. Aku juga sudah melihatnya, dan aku syok. Antara percaya dan tidak percaya."
Linda semakin bingung dengan ucapan Bagas. Namun sebelum bertanya lebih jauh, Bagas sudah mengakhiri panggilannya, dan saat Linda hendak menghubunginya lagi, nomor Bagas di luar jangkauan.
"Ada apa sih?" gumam Linda.
Secepatnya ia membuka pesan dari nomor tidak dikenal yang diduga sebagai nomor Angga.
Ada pesan vidio, beberapa pesan berupa copy link, dan ada puluhan pesan panjang, bukan pesan singkat.
Tulisan di pesan itu membuat Linda terhenyak. Ia yakin jika pesan itu memang benar dari Angga, Linda hafal benar gaya menulis Angga seperti apa.
.......
.......
.......
.......
"Lihatlah, betapa bejadnya pria yang kamu dambakan."
"Aku tahu kamu meninggalkan aku pasti karena lebih memilih hidup bergelimang harta dengan pria itu. Jangan kamu kira aku tidak tahu."
"Aku bukan orang bodoh yang bisa dibohongi. Oke, publik tahunya kamu diperkosa oleh seseorang yang kamu akui sebagai orang baik. Tapi, sekali lagi aku tidak bisa dibohongi."
"Aku kecewa padamu, Linda. Aku bisa terima kamu memutuskan aku secara sepihak, tapi aku tidak terima kamu menjadi j a l a n g untuk pemuas k e l a m i n Dirut HGC."
Tangan Linda gemetar, bibirnya mengatup, airmatanya berurai saat membaca pesan itu.
"Untuk apa kamu terlahir cantik kalau tidak bermoral? Kamu hamil karena sengaja jual diri, kan? Kamu dan Agam Ben Buana kumpul kebo, kan? Aku sebenarnya tidak tahan untuk segera membongkar skandal kamu dan Dirut HGC ke publik dan media."
"Tapi, aku tidak tega, aku tidak mau kamu bersedih, atau kandunganmu terganggu. Kenapa aku masih tutup mulut? Karena aku masih mencintai kamu, Linda."
Linda terisak sambil memukul dadanya. Ucapan Angga sangat menyakitkan.
"Linda, aku akan merahasiakan skandal kumpul kebomu dengan Agam Ben Buana, tapi ... aku memiliki syarat."
"Aku menginginkan tubuh kamu, Linda. Ya, silahkan kamu hujat aku karena mengatakan hal gila ini. Tapi serius Linda. Aku juga ingin menikmati bagaimana rasanya tubuh kamu."
"Aku tidak peduli kalaupun kamu bekas dia, aku tidak peduli. Kamu harus tahu, aku tidak pernah melakukan itu. Dan aku hanya ingin melakukannya dengan kamu."
"Mari betemu besok, di hotel X-Sotic, kita habiskan malam bersama ya sayang .... Aku merindukan kamu, Linda. Aku akan melepas keperjakaanku hanya untuk kamu. Aku tidak bisa melupakan kamu, sampai kapanpun kamu adalah kekasihku."
"Aaaaa," teriak Linda.
Linda menangis sambil memasygul rambutnya. Merasa sakit dan begitu hina. Merasa bingung tiada berujung. Linda tidak menyangka dengan jalan pikiran Angga.
"Kamu gila Angga, kamu gila, huuu huuu."
Sambil terisak, Linda lalu membuka pesan vidio dari Angga.
Loading.
Dan ....
"A-apa?"
Ia lemas seketika, tangannya sampai terkulai, ponselnya terjatuh ke kasur.
Dalam vidio itu, orang yang sangat ia cintai tengah beradegan suami istri dengan wanita yang ia kenali sebagai sekretarisnya Agam.
"Ti-tidak mm-mungkin ...." Pekiknya, tubuh Linda benar-benar gemetar.
Vidio itu terlihat begitu nyata, sang pria tidak banyak bicara, dan tanpa ekpresi. Namun suara erotis dan ritme dari penyatuan tubuh keduanya terdengar sangat jelas, dada Linda panas.
Sakiiit ....
Dan pemeran wanitanya terlihat jelas begitu menikmati.
"Tidaaak," teriak Linda.
"Itu pasti bohong, kan?" kilahnya sambil berteriak-teriak.
Ia yang penasaran, lalu memutar acak vidio yang lain, terlihat pria mirip Agam memaksa memasuki Fanny yang mengerang kesakitan. Linda yakin jika di vidio yang ini adalah adegan pertama kalinya untuk Fanny.
Vidio itu seperti diambil dari sebuah CCTV kualitas high, namun untuk recording timenya disamarkan.
"Menjijikkan, kamu munafik, kamu jahat, aku tertipu, Aargh!!" teriaknya.
Linda yang panik, Linda yang cemburu, dan Linda yang tertekan karena pesan dari Angga, membuatnya tidak bisa berpikir rasional.
Hingga Linda tidak terpikirkan jika itu hanyalah sebuah vidio editan hasil karya tangan sang profesional.
Jika saja ia teliti, Linda juga pasti tahu jika itu bukanlah tubuh Agam. Kesalahfahaman Linda semakin diperparah dengan isi copy link yang dikliknya.
Isi link adalah sebuah artikel yang berbunyi ....
"Kepada media, Fy mengakui jika vidio syur di situs dewasa adalah benar dirinya dan ABB. Fy mengatakan memang sempat menjalin hubungan dengan ABB saat dirinya masih menjadi asisten sekretaris, dan ABB belum menjadi Dirut."
"Fy dan ABB sepakat akan membawa kasus ini ke jalur hukum guna menjerat pelaku penyebarnya."
"HGC kembali terjebak noktah hitam Dirut ABB."
"Dulu, dia menggegerkan publik karena skandal h o m o nya. Sekarang kembali berulah dengan s k a n d a l s e k s nya."
"Beberapa pakar telematika sedang menganalisa keaslian vidio itu."
"Pakar telematika yang tidak mau disebutkan namanya menyatakan jika vidio itu 99,4 % asli."
"Pihak kepolisian belum mengambil tindakan karena belum ada laporan."
Linda belum selesai membaca keseluruhan artikel itu.
Linda memegang kepalanya karena semakin berat, ranjang yang didudukinya seolah bergerak dan berputar. Matanya tiba-tiba gelap, berkunang-kunang, dan sangat-sangat pusing.
Dan Linda yang awalnya duduk tiba-tiba saja terjatuh keras ke tempat tidur dengan mata membeliak ke atas, mulut menganga dan terbuka, lidahnya defleksi ke arah kerongkongan.
Dan tiga detik kemudian kaki yang mulus, indah dan sempurna itu terlihat melengking-lengking, menghentak-hentak, dan Linda ....
'KEJANG.'
Linda sepertinya mengalami eklampsia dalam kehamilan. Yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi disertai kejang.
Penyakit ini biasa terjadi sebelum, selama, atau setelah persalinan.
Siapapun, tolong Linda, cepaaat!
...*...
...*...
...*...
...*...
"Kurang ajar! Dari awal aku ingin memecat dia! Sekarang benar, kan? Dia malah memfitnahku! Ini gara-gara tuan Deanka! Dia yang melarangku memecatnya."
Di kamarnya, Agam tengah geram, wajahnya merah-padam. Ia baru saja mendapat laporan dari pengacara Vano jika Fanny telah melakukan preskon dan mengatakan jika lawan mainnya dalam vidio syur itu adalah ABB, Dirut HGC saat ini.
Siapa lagi kalau bukan dirinya?
Agam sedang berkomunikasi melalui ponselnya dengan Vano.
"Begini saja Vano, biarkan saja mereka sibuk menyerang dan memfitnahku. Aku tidak peduli! Toh itu bukan aku. Vidio aslinya ada di Tuan Muda Deanka, kamu konfirmasikan saja dengan dia untuk langkah selanjutnya. Aku tidak mau terlibat, dan jangan melibatkanku."
Agam berjalan ke sana ke mari sambil memakai baju kerjanya.
"Aku tidak habis pikir kenapa Fanny tega memfitnahku. Apa?! Dia menyukaiku? Jangan gila Vano, setahuku dia menyukai tuan Deanka, bukan aku. Sudah ya, aku percayakan padamu. Kamu tidak perlu ke rumahku, kita bertemu di HGC saja."
...*...
...*...
...*...
...*...
"Assalamu'alaikuum, kakak ipar."
Gama yang baru saja pulang langsung bergegas menuju kamar Linda.
Entah kenapa ia merasa ingin segera bertemu Linda dan melihat perutnya. Gama bahkan menolak minuman dari bu Ira saat ia berada di lantai satu dan berpapasan dengan Bu Ira.
Namun di ruang tamu, Gama sempat menyalami ayah Berli dan Hikam. Gama tidak melakukan komunikasi apapun, ia hanya mengira jika dua orang pria asing itu adalah kolega kakaknya.
"Kak Linda dan kak Agam ada, kan?" tanyanya. Tadi, saat bertemu dengan pak Yudha di ruang keluarga.
"Mereka ada di atas, di kamar masing-masing," jawab pak Yudha pada saat itu.
"Kak Linda," panggilnya.
Gama mengetuk pintu kamar Linda tapi tidak ada sahutan.
"Kakak ipar, sudah tidur?"
Perlahan Gama membuka handle pintu, awalnya hanya ingin mengecek saja. Ia berpikir kamar itu pasti sudah dikunci.
Tapi ... ternyata tidak terkunci.
"Eh, tidak tidak dikunci?"
Spontan Gama melongokan kepalanya.
Dan ....
"ASTAGHFIRULLAH! KAK LINDA!" teriaknya.
PANIK.
Mata Gama hampir terlepas dari kelopaknya.
Gama mendapati Linda 'Kejang-kejang.' Jemari kaki, jari tangan dan bibir wanita cantik itu mengerat, matanya masih membeliak.
Sebuah kondisi paling membahayakan pada ibu hamil setelah perdarahan. Penyumbang presentasi kematian nomor dua tertinggi di negara ini.
Gama berlari tunggang-langgang menuju kamar Agam dan berteriak sekuat tenaga untuk meminta pertolongan.
"TOLONG! TOLONG!"
"Kak Agaaam!"
"Kak Linda kejang!"
"Kak Agaaam!"
"Kak Linda kejang!"
"TOLONG! TOLONG!"
Teriakan Gama menggema, namun menjadi sayupan ke lantai satu karena rumah Agam memang besar.
Teriakan Gama bagaikan petir yang menyambar telinga Agam, ia membanting ponsel dan membuka pintu dengan gerakan super cepat.
Agam menabrak Gama dan berlari seribu langkah menuju kamar Linda. Hatinya seolah hancur berkeping seketika itu juga.
Dan saat ia melihat kondisi Linda. Agam terpuruk, tubuhnya seolah tidak bertulang, koyak, dan lemas.
"Lindaaa," teriaknya.
Segera meraih Linda, membuka mulut Linda yang sudah merapat erat, dan saat ada celah, Agam memasukan jari telunjuk dan jari tengahnya ke mulut Linda sebagai upaya pertolongan darurat untuk mencegah jatuhnya lidah Linda ke pangkal tenggorokan dan menyebabkan kematian.
"Gama, cepat panggilkan bantuan darurat! Siapkan mobil dan beritahu paman Yordan, dia ada di sini, ada di kamar tamu lantai satu! Cepat!" teriak Agam dengan suara gemetar. Wajah Agam pucat, dan di sudut mata sayunya jelas terlihat ada air mata.
Gama yang mematung dan melongo segera berlari. Ia berteriak, dan berlari lagi menuju lantai satu.
"TOLONG! TOLOOONG!"
"Kak Linda kejang!"
"APA?!" Pak Yudha dan Bu Ira panik.
"Lindaaa."
Teriakan Agam di kamar Linda, kian terdengar jelas.
Lalu bantuanpun tiba.
Mereka berlarian menuju lantai dua.
Paman Yordan, Ayah Berli, Pak Yudha dan Hikam.
Bu Ira tersungkur kaget di dapur, Gama menelepon rumah sakit terdekat.
Enda dan Maxim menyiapkan mobil.
"Linda ... huuu."
.
.
.
.
.
Untuk kali pertama kalinya dalam sejarah pengintaian, nyai baru mendengar Agam menangis.
...~Vote~...
...~Thank's~...