AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Bersama Memperjuangkan Cinta



Beberapa saat kemudian


"Jangan menghadapku," tambah Linda.


"Jangan berlebihan, El. Kita di sini istirahat satu jam, setelah itu kita akan ke suatu tempat. Saya mengantuk dan sakit badan, tidak baik menyetir dalam kondisi seperti ini. Tadi itu bertarungnya betulan, saya menerima serangan dari empat orang, hmm lelah ...," keluhnya.


"Siapa suruh membuat drama seperti itu, kalau Bapak sampai sakit, ya risiko, jangan mengeluh," kata Linda.


"Saya tidak mengeluh. Saya anggap sebagai misi latihan." Agam tidak mau kalah.


Saat Linda membuka mata dan melirik Agam, ia langsung terkejut.


"Bapak mau apa?!" Jelas kaget karena Agam membuka bajunya.


"Saya ingin menunjukkan kalau tadi itu saya bertarung serius, saya tidak main-main. Saya rela kesakitan demi menarik perhatian kamu. Yang akting hanya saat ditusuknya saja. Kamu lihat, kan?" jelasnya.


Linda jadi gugup.


Tubuh yang aduduh itu terpampanglah sudah, dengan roti sobeknya yang pas, serta rambut halusnya yang berpusat di dada. Jumlah rambut itu tidak banyak, tidak lebat dan tidak menyeramkan, pokoknya pas. Lalu, rambut itu mengalir tipis-tipis berbentuk garis horizontal, membentang, sampai ke bawah sana.


Linda memalingkan wajah, merasa malu.


"Lihat, kan? Dada saya merah-merah dan memar, punggung saya juga." Agam membalikan badan untuk memperlihatkannya pada Linda.


"Aku tidak peduli, cepat pakai lagi bajunya, ishh, menusuk mata dan membuatku mual," keluh Linda.


"Mual? Maaf kalau membuatmu tidak nyaman."


Ternyata Agam membuka baju untuk mengobati memarnya dengan cara becermin pada kamera ponsel.


Sebenarnya ada memar di bagian punggung yang tidak bisa dijangkau oleh Agam, tapi Linda enggan membantu, ia serius tidak ingin menyentuh Agam walaupun hanya sekedar untuk mengolesinya obat.


.


.


.


"Jadi bagaimana? Kamu setuju kan kalau saya dan kamu menemui orang tuamu?" Agam sudah memakai bajunya.


"Aku juga mau Pak, aku berniat untuk pulang dan mengikuti keinginan ayah, tapi ... aku sedikit ragu."


"Keinginan ayahmu? Keinginan apa?"


Linda menunduk, mau tidak mau, suka tidak suka, Agam harus tahu kalau ayahnya sudah menyiapkan pendamping untuknnya. Seorang pria baik dan kalem, Hikam Masyhur.


"Aku dapat surat dari ayah. Ditemukan oleh polisi di dalam tas yang tidak terbakar."


"Apa saya boleh lihat? Mana suratnya? Mana?" desaknya.


"Emm, Bapak yakin mau membacanya?"


"Yakin, El. Berikan padaku, cepat." Tangannya mengulur. Tapi Linda malah melamun.


Jika Pak Agam membacanya, maka pak Agam akan tahu kalau ayah dan para tetangga takut pada Pak Agam dan anak buahnya. Ayahku mengira kamu orang jahat dan berbahaya. Lebih baik, aku tidak mengizinkan dia membacanya.


"Linda, hei," sapa Agam.


"Intinya, ayahku menyuruhku pulang untuk menikah."


"Apa?! Menikah?!" Agam kaget.


"Menikah dengan saya, kan?!" Napasnya sampai terlihat tersenggal.


"Iya Pak, menikah. Tapi ... bukan dengan Bapak. Menikahnya ya ... dengan pria pilihan ayah."


"APA?!" Agam tak sadar, berdiri.


'DUGKH.'


Kepala Agam membentur sunroof mobil mewahnya.


"AHH, ADUH!" pekiknya.


Tubuh Agam spontan terduduk lagi. Ia memegang puncak kepalanya dan meringis. Kacamatanya sampai jatuh.


"Pak? Ppfft ... hah hahaha," Linda panik, tapi tertawa juga melihat Agam terbentur. Ia sampai terpingkal-pingkal.


"Lindaaa, kamu ---."


Agam kesal, berani sekali wanita itu tertawa di atas penderitaannya. Tapi, saat melihat Linda tertawa lepas seperti itu, entah kenapa ... Agam merasa bahagia. Dan Agam sadar jika tawa Linda bisa menyebabkan hatinya bahagia.


"Puas tertawanya?" Sementara tangannya masih memijat puncak kepala. Asli pening, walaupun tidak sampai terbentuk benjolan.


"Maaf Pak, aku merasa lucu saja melihat ekspresi Bapak kesakitan, lucu sekali, hahaha." Kembali tertawa.


"Linda, dengarkan saya, ini serius. Mari bersama-sama pulang ke Pulau Jauh, kita jelaskan pada ayahmu kalau kita saling mencintai." Agam memegang tangan Linda.


Linda juga tidak menolak. Apakah mungkin ia melupakan perjanjian tidak ada kontak fisik itu? Entahlah.


Linda menunduk saat Agam menatapnya lekat-lekat, lalu bicara lirih.


"Pak, ka-kalau ayah tidak merestui kita bagaimana?"


"Linda, yang ada dalam perut kamu itu anak saya, jadi yang berhak menikah denganmu ya saya, hanya SAYA," tegasnya. Dengan nada penuh penekanan.


Linda belum menjawab, ia masih menunduk. Sebenarnya Agam juga ingin mengatakan tentang pasien yang mirip pamannya Linda, namun Agam tidak mau terburu-buru sebelum anak buahnya mendapatkan informasi yang lebih jelas.


"Linda, kalau kamu memang mencintai saya, mari kita perjuangkan sama-sama cinta kita, kamu jujur saja kalau kamu mencintai saya, tidak bisa hidup tanpa saya, dan tidak bisa menikah dengan siapapun kecuali saya. Katakan juga pada ayah, ibumu, dan keluargamu kalau hanya saya yang bisa membahagiakan kamu."


"A-apa? Harus mengatakan semua itu?"


Sejenak menatap Agam. Kata-kata Agam memang bagus, tapi itu terdengar seperti Agam tengah menyombongkan diri.


"Ya, El. Saya serius, pokoknya kamu harus mengatakan semua kelebihanku pada keluargamu, oke?"


"Hahaha, Bapak sedang menyombongkan diri. Bapak saja yang menjelaskan, kenapa harus aku?"


"Kamu tidak mau? Ya sudah."


Agam tiba-tiba mengambil pistolnya, lalu meniup-niup moncong pistol itu. Linda kaget.


"Pak Agam?! Jangan main-main dengan benda itu!"


Semoga gaya ala Haiden ini bisa mengelabuinya. Batin Agam.


"Linda, saya tahu ini salah, tapi ... apa dengan saya mati kamu baru bisa menyadari kalau saya tulus? Apa dengan saya tidak ada di dunia ini kamu baru akan merindukan saya?" Agam siap mengokang senjatanya, lalu mengarahkan tepat di jantunya.


"Pak Agam! Anda tidak serius, kan?" Wajah Linda memucat.


"Apa perlu adegan yang serius untuk membuatmu faham? Jika ya, maka saya akan membuktikanya."


"Tutup telingamu, saya tidak mau anak saya mendengar papanya sekarat."


"Apa?!" Linda mengatur napas. Sadar jika pria ini memang sedikit berbeda.


Agam merebahkan tubuhnya, tangannya siap menarik pelatuk. Matanya terpejam, tapi sesekali membuka sedikit, atau salah satunya untuk mengintip Linda, saat Linda lengah.


"Pak," Linda menahan tangannya yang memegang pistol.


"Tidak perlu berbohong seperti ini, Bapak tidak melakukan inipun, aku setuju. Aku kangen pulang, aku kangen ayah, ibu, Yolla dan Yolli. Aku ingin menceritakan semuanya pada ayah tentang Pak Agam. Akan aku katakan juga kalau aku mencintai Bapak."


"Benar, kamu setuju?" Pistol yang sebenarnya tidak berpeluru itu di ke sampingkan.


Linda mengangguk.


Alhamdulillaah.


"Terima kasih Linda, emm ... maksud saya terima kasih calon istri." Agam bahagia, ia bergeser hendak memeluk Linda. Tapi ....


"Pak, tidak ada pelukan, masih ingat kan?"


"Baiklah, El. Sekarang kita tidur dulu ya, saya sudah pasang alarm untuk satu jam ke depan."


"Oke," kata Linda.


Ia membelakangi Agam. Kenapa membelakangi? Karena saat menghadap Agam, jadi timbul keinginan untuk tidur di dalam dekapan pria itu.


Tik, tok, tik, tok, tik. Lima detik berlalu.


"Pak Agam ...," panggilnya. Seraya membalikan badan.


"Hmm, ada apa?" Agam membuka matanya.


"Kita tidak bisa beristirahat di sini Pak, a-aku ma-mau ---." Mengatupkan bibirnya.


"Mau apa? Hoaamm, serius saya mengantuk El."


"Aku mau ... (pipis)." Mengatakan kata 'Pipis' tanpa suara, hanya dengan gerakan bibirnya.


"A-apa? Sudah tidak kuat?"


"Iya Pak, aku serius. Bapak tidur saja, aku yang kemudikan mobilnya," Linda berbicara cepat sambil merangkak ke kursi belakang kemudi.


"Jangan lupakan sabuk pengamannya." Agam tersenyum saat Linda sudah memajukan kemudi. Sedangkan dirinya tetap bisa terbaring nyaman.


"Aaaa, Lindaaa," teriak Agam. Matanya membulat sempurna.


"Hahaha, memangnya hanya Pak Agam yang bisa ngebut? Aku juga bisa dong." Teriaknya sambil tancap gas kuat-kuat.


"Linda, jangan sembarangan! Ingat, kamu hamil!"


"Hahaha, calon istri Agam Ben Buana harus kuat dan berani, bukan?"


Jawaban Linda menohok batin Agam, namun ... berhasil membuatnya tersenyum.


***


Setelah berhenti di sebuah moshola kecil untuk melaksanakan ibadah shalat Isya, mobil Agam kembali melaju.


"Kita akan ke mana, Pak?" tanya Linda.


"Ke rumah baru nona Aiza dan tuan Deanka."


"Apa?! Serius?"


"Ya, serius."


"Kita diundang ke sana?"


"Ya, diundang."


"Dalam rangka apa?" tanya Linda.


"Dalam rangka syukuran."


"Empat bulanan?"


"Bukan El," elaknya.


"Lantas?"


"Nona Aiza baru saja bisa berenang, jadi mau dirayakan dengan acara kecil-kecilan. Yang diundang hanya sabahat dekat tuan Deanka."


"A-apa? Terdengar sedikit aneh." Linda menautkan alisnya.


"Tidak aneh kok. Dulu, saat tuan Deanka berhasil membobol gawang, tuan Deanka juga mengadakan acara sykuran secara diam-diam."


"Tuan Deanka pemain bola juga?"


"Bukan."


"Itu, membobol gawang," kata Linda. Sedikit keheranan.


"Maksud saya gawang nona Aiza, hahahaha."


"Apa?!" Linda sampai mengerem mendadak.


Obrolan mereka mengalir begitu saja, dan sangat tidak berbobot.


Akhirnya Agam menceritakan kekonyolan Deanka pada Linda. Dan kalimat Agam yang membuat Linda hampir tersedak adalah ....


"Tuan Muda Deanka sangat suka bercinta, kalau dia tiba-tiba mau, sedang rapatpun akan dihentikan saat itu juga, saya yang melanjutkan tugasnya," terang Agam. Mengulum senyum saat mengingat kembali masa-masa itu.


"Hahh? Ma-masa?"


"Ya serius, dan ada peluang besar kalau kebiasaan tuan Deanka untuk masalah itu ... akan menular pada saya juga, hahaha."


"A-apa?!"


.


.


.


Mobil Agam membelah kegelapan, menaklukan jalanan yang temaram. Linda duduk di bangku sisi kemudi. Mobil itu akan menuju ke sebuah hunian paling ekslusif dan paling elit di negara ini. Pearl Ocean Village.


❤❤ Bersambung ....