
~Tiga jam yang lalu~
"Gam, aku menemukan fakta menarik. Ya Tuhan, aku tidak percaya."
"Ada apa sih, Tuan? Cepat katakan, Linda sudah menunggu saya."
"Sialan kamu ya, mentang-mentang istrimu seksi, berani ya mengabaikanku."
"Hahaha, Tuan mengakui istri saya seksi? Ya ampun, jangan macam-macam Tuan, dia milikku, Anda sudah memiliki nona."
"Hei, aku juga punya mata. Hanya menilai, Gam. Tidak lebih dari itu. Aku mencintai Aiza sampai kapanpun. Sampai maut memisahkan," tegasnya.
"Oke, oke, cepat katakan, ada apa?"
"Apa kamu ingat nama Briliant yang masuk daftar wartawan yang harus diwaspadai?"
"Emm, ya saya ingat. Tapi, itu sudah lama sekali."
"Nah, apa kamu tidak ada perasaan curiga terhadap istrimu? Katamu nama dia ada Briliantnya, kan?"
"Ya, benar Tuan. Langsung pada intinya saja," desak Agam.
"Istrimu bukan wanita polos, dia ---."
"Hahaha, memang tidak polos, dia luar biasa," sela Agam.
"Hei, kemana otakmu? Jangan-jangan kamu berpikir ke arah sana lagi, dengar dulu dong, aku belum selesai bicara," kata Deanka.
"Usia istriku 24 tahun, ya pasti bedalah dengan nona Aiza yang masih 19 tahun."
"Hei, biarpun Aiza 19 tahun, hahaha, dalam hal itu dia sudah tidak polos lagi. Hanya pura-pura polos. Itu dia salah satu alasan yang membuatku kecanduan bercinta dengan dia, selain sem ---."
"Cukup Tuan." Agam membekap bibir Deanka.
"Jangan menceritakan masalah kasur pada siapapun, itu rahasia Anda dan nona," tambah Agam.
"Oh iya ya, Tuhanku, maafkan aku. Aku suka lupa. Terbawa perasaan Gam. Begini Gam, LB tahu kalau kamu direkrut menjadi anggota BRN karena ayahku, maksudku mertuaku."
"A-apa?" Agam terkejut.
"Benar, aku yakin Briliant yang dimaksud oleh ketua itu pasti dia."
"Tidak, Tuan. Itu tidak mungkin."
"Gam, percaya padaku. Dia bahkan marah dan menyalahkan aku karena mundur dari HGC. Kamu ingat-ingat lagi. Dulu, ketua mengatakan Briliant itu selalu diterima oleh narasumber untuk menjadi pemandu wawancara rahasia. Alasannya karena dia memikat dan seksi."
Agam diam, hanya menautkan alisnya. Merenung.
"Ini berkaitan Gam. LB bisa jadi adalah Briliant yang dimaksud. Kalau benar, artinya dia memiliki informasi penting tentang oknum elit negara. Apa kamu tidak pernah menemukan kejanggalan?"
"Hmm, yang saya temukan hanya kecantikannya. Tunggu," Agam mengingat sesuatu.
"Dulu, saya pernah diserang dan para penyerang itu mengatakan ingin membunuh LB."
"Nah, benar kan? Pasti dia."
"Tapi Tuan, kalaupun benar dia. Saya yakin dia tidak berbahaya. Dia tidak jahat."
"Ya, Gam. Memang tidak jahat. Hanya saja kamu harus waspada karena bisa jadi Linda memiliki informasi penting yang dirahasiakan dari siapun. Ingat, wartawan bernama Briliant itu dikabarkan pernah mewawancara banyak pejabat negara dan hasil wawancaranya banyak yang belum dipublikasi."
"Tapi Tuan, dia hanya penyiar televisi," bela Agam.
"Ya, yang kita tahu mungkin hanya itu. Tapi kita tidak tahu sepak terjang Linda saat jadi penyiar telah melakukan apa saja? Ya, kan? Kamu harus waspada. Maksudku, waspadalah dengan keselamatan istri kamu. Bisa jadi LB menjadi target pembunuhan seperti kasus-kasus pembunuhan pada beberapa anggota pers yang disinyalir memiliki informasi penting."
"Briliant sudah tepat berada di samping kamu, aku yakin kamu bisa melindunginya. Namun, aku khawatir dia tidak sebaik yang kamu pikirkan."
"Hahaha, jangan berlebihan Tuan. Saya jamin dia baik. Dia banyak fansnya. Menurut Aiptu Joey, hampir seluruh polisi yang berada di markas resor kota pusat mengidolakan LB, artinya dia bukan orang jahat," terang Agam.
"Baik, jika kamu yakin aku juga yakin. Cepat gali informasi apapun yang bisa kamu dapatkan dari dia sebelum orang lain mengetahuinya."
"Hahaha, maksud Anda apa, Tuan? Saya sudah berhenti dari anggota BRN. Saya tidak perlu informasi apapun dari dia. Saya hanya butuh cintanya," kata Agam sambil beranjak.
"Kalau begitu, dapatkan informasi itu dan berikan hasilnya padaku. Setuju?"
"Tidak bisa. Saya tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kenyamanan istri saya termasuk Anda, Tuan Muda. Rahasiakan tentang Briliant dari siapapun, atau HGC akan saya hancurkan," tegas Agam.
"A-apa?! Jangan gila kamu ya, Gam!" bentak Deanka sambil mencengkram kerah baju Agam.
"Saya serius Tuan. Apa yang dikatakan Briliant benar, jika saja dulu ayah Anda tidak melaporkan kelebihanku pada elit BRN, mungkin aku tidak akan menjadi anggota BRN dan merasa kesulitan seperti ini. Ya, saya memang bangga karena terpilih, tapi di balik itu semua sebagai manusia saya juga merasa terbebani."
"Dan apa Anda tahu? Sekarang, BRN tahu kalau saya memiliki adik. Jangan-jangan Anda yang membocorkan rahasia ini?" tuding Agam sambil menepis tangan Deanka.
"Apa?! Agam, jangan asal menuduh! Kamu tidak percaya padaku lagi?!" geramnya. Wajah Deanka sampai memerah karena kaget dengan sikap Agam.
"Begini saja Tuan, saya juga tidak mau hubungan kita jadi buruk gara-gara perkara ini, biar bagaimanapun keluarga Haiden tetap berjasa karena telah menjadikan saya seperti sekarang ini."
"Tapi kedepannya, baik Anda ataupun tuan Bahir, tidak boleh ikut campur lagi dengan urusan pribadi saya, dan keluarga saya. Jika saya menemukan sedikit saja celah ke arah sana, maka jangan salahkan saya jika HGC akan saya hancurkan," ancamnya. Agam membisikan kalimat itu di telinga Deanka.
Deanka terdiam. Hanya bisa menghela napas dan menatap kepergian Agam dari ruang kerjanya sambil mengepalkan tangan.
"Aizaaa, Aizaaa," teriak Deanka saat Agam telah pergi.
"Ya, Kak ada apa?" Aiza bergegas masuk ke ruang kerja suaminya.
"Bisa kan tidak teriak-teriak? Kenapa sih? Aneh deh, Kak Dean juga tidak mengantar pak Agam sampai gerbang, kenapa?" ketus Aiza.
Deanka menjawab pertanyaan itu dengan memeluk Aiza.
"Aku dan Agam baru saja berdebat, aku mau marah pada dia, tapi tidak sanggup," bisiknya.
"Berdebat? Ya wajarlah, Kak. Tidak perlu dipermasalahkan. Sesama sahabat adakalanya berselisih faham. Itu hal lumrah."
"Baby, tapi aku kesal pada dia. Bantu aku untuk menyembuhkan kekesalan ini, oke?"
"A-apa? Bagaimana caranya? Kenapa harus aku? Kak Dean bisa meredam kekesalan dengan minum jus dingin atau berenang, ya kan?"
"Aku maunya kamu. Mari kita bercinta baby," bisiknya.
"Apa? Kak Dean, aku lelah, semalam kan sudah, lebih dari dua kali malah, masih sakit, Kak ...," tolaknya.
"Itu kan semalam Za. Tidak akan sakit baby, aku jamin," godanya.
"Kenapa Kak Dean seperti ini? Kakak seperti maniak tahu." Aiza cemberut.
"Aku juga tidak tahu baby. Mungkin karena aku sudah menjadi bagian dari keluarga Haiden, hahaha," gelaknya sembari memboyong Aiza ke tempat tidur yang berada di ruangan itu.
"Ya ampun sayang ...."
Aiza geleng-geleng kepala, namun ia pasrah saat suaminya mulai melakukan aktivitas yang mendebarkan jantungnya dan membuat tubuhnya seolah tersengat listrik.
Beberapa saat kemudian kamar itu sudah tidak layak lagi untuk dinarasikan. Terlalu hot. Aiza berteriak dan merintih-rintih, sementara Deanka mengerang-erang.
Seperti itulah kira-kira suasananya. Luluh sudah kekesalan Deanka pada Agam seiring dengan air cintanya yang tumpah ruah.
"Thank's you, baby," bisiknya.
Aiza tidak menjawab. Hanya mengusap rambut Deanka saat si mata hazel itu mengecup keningnya, lalu mengecupi perutnya dan berkata ....
"You are amazing. Macil ... papa mencintai kamu."
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
~Saat ini~
"Sabar Pak, jangan emosi."
Linda menenangkan Agam yang baru saja masuk ke dalam mobil setelah menemui wali kelas Gama secara rahasia. Agam dan wali kelas bertemu di tempat rahasia yang biasa mereka gunakan. Sebenarnya, tempat itu masih berada di lingkungan sekolah.
Linda melepaskan masker Agam, lalu mengecup kening Agam yang raut wajahnya terlihat jelas sedang menahan amarah. Pak Yudha kembali melajukan kemudi tanpa berkomentar.
"Gama," dengus Agam sambil mengepalkan tangannya. Kecupan di kening tidak bisa meredam kekesalannya pada sang adik.
"Kenapa, Pak? Ayo ceritakan." Ucap Linda sambil menyandarkan kepala di bahu Agam dan mengelus dada bidang milik pria itu.
"Gama tidak bisa dilacak keberadaannya. Dia merusak cip yang aku pasang di motor dan merubah navigasi arah GPS di ponselnya, anak itu," geramnya.
"Ponselnya dimatikan El, ya ampun Gama. Kenapa kamu keras kepala sih? Perasaan saya tidak keras kepala deh, ya kan Pak Yudha?"
"Ya benar, Anda tidak keras kepala," jawab Pak Yudha.
Tidak mungkin kan Pak Yudha mengatakan kalau Agam sebenarnya lebih keras kepala daripada Gama?
"Tunggu, Gama bisa memindahkan navigasi?" Linda mengerutkan dahi.
Dan ucapan Linda membuat Agam teringat ucapan tuan Deanka tentang Briliant.
"Emm, El ...." Agam merangkul Linda.
"Ya, Pak."
"Sepulang dari sini kita harus berbicara empat mata, dari hati ke hati, kalau bisa kulit ke kulit," ucap Agam.
"Uhhukk." Pak Yudha langsung batuk mendengar kalimat dari kulit ke kulit.
"Hahhh?" Linda bengong.
"Kenapa bengong, El?" Agam menatap istrinya.
"Bapak bilang kulit ke kulit," bisik Linda.
"Apa? Kok bisa? Masa sih?" Agam mengulum senyum.
"Tidak merasa mengatakan itu?" selidik Linda.
"Saya lupa," sergah Agam.
"Oke, tidak apa-apa. Oiya, Bapak jangan banyak bicara ya. Kita obrolkan semuanya di rumah. Sekarang istirahat saja."
"Baiklah," jawab Agam. Ia menghela napas, lalu merengkuh Linda lebih erat lagi.
Baru juga matanya akan terpejam, ponselnya menyala. Ada panggilan dari Paman Yordan.
"Ya Paman, ada apa? Bagaimana kabar ayah mertua dan paman Setyadhi? Semua baik-baik saja, kan?"
"Gam, Paman tidak bisa menceritakannya sekarang. Kamu bisa tidak datang ke rumah sakit The Number One? Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Baik, saya ke sana. Pak Yudha kita putar arah, ke rumah sakit The Number One," perintah Agam.
"Siap," sahut Pak Yudha.
"Pak Yudha bisa tidak kalau setel radio?" pinta Linda.
"Radio di dashboardnya rusak sayang," terang Agam.
"Jangan berbohong, Pak. Aku tidak apa-apa kok. Aku sudah tahu kalau aku sedang jadi tranding topik," kata Linda.
Agam dan Pak Yudha terkejut.
"Kamu tahu dari mana?" Agam kembali menatap Linda sambil mengusap pipi mulusnya.
"Aku tahu dari tuan Deanka."
"Apa? Ya ampun, sembarangan! Dia berani sekali." Agam kembali geram.
"Pak, aku tidak apa-apa aku baik-baik saja. Tadi hanya sedikit pusing, sekarang sudah sembuh kok," ucap Linda.
"Kita sekalian periksa kandungan kamu, saya tidak mau terjadi apa-apa pada anak kita. Awas ya kamu Tuan Muda," ancamnya.
Agam meraih kembali ponselnya. Kali ini untuk menghubungi dokter Fatimah.
"Hoam, ada apa Pak?" Suara dokter Fatimah.
"Anda sedang di mana? Ke rumah sakit The Number One sekarang ya, saya mau cek kandungannya LB."
"Aduh Pak, tidak bisa. Saya baru juga nempel ke bantal. Baru datang dari sana lepas jaga malam. Kalau mau cek, ke klinik saya saja ya."
"Baik, nanti saya ke klinik sekalian mau mengambil vidio itu."
Agam mengakhiri panggilan.
"Vidio?" Linda langsung tersadar.
"Iya vidio kamu, sayang," bisik Agam.
"Ish, kenapa sih harus dividio segala?" Linda kesal.
"Haruslah sayang, saya yang memintanya. Untuk mencegah mal praktik. Hehehe."
"Kok bisa sih didokumentasikan? Bukankah harusnya dirahasiakan?" tanya Linda. Ia juga berbisik di telinga Agam.
"Karena itu operasi estetik sayang, jadi boleh. Tapi hanya part yang disetujui medis saja yang boleh didokumentasikan, begitu kira-kira," ujarnya.
"Kepala bagian penyiaran stasiun TV KITA mengatakan, mempunyai informasi penting yang kemungkinan akan dirilis dalam satu pekan ke depan."
"Seluruh awak media penasaran, beberapa diantaranya langsung menyambangi kantor TV KITA untuk mendapatkan klarifikasi."
Terdengar suara penyiar dari saluran radio yang disetel.
"Hmm, mantan bos kamu eksis ya," kata Agam.
Linda hanya tersenyum kecut. Tidak mau menanggapi ucapan Agam.
"Emm, aku jadi ngantuk," kata Linda.
"Ngantuk? Bersandar di sini sayang," ucap Agam. Ia menarik Linda dalam dekapannya.
Pak Yudha senyum-senyum.
"Badan Keamanan Negara atau BRN, akan malakukan sidang etik untuk yang ke empat kalinya, sidang akan diagendakan pekan depan."
Deg, Agam terkejut, begitupun dengan Linda.
"Jika terbukti melanggar, anggota yang disidang kemungkinan akan dikenai hukuman dari sanksi ringan, denda, hingga hukuman berat. Hukuman akan diputuskan berdasarkan hasil forum federasi regional dan internasional."
Apa yang mereka maksud itu, aku? Harusnya aku tidak perlu disidang. Kan sudah mengundurkan diri. Ini tidak adil, batin Agam.
Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah agar Pak Agam tidak disidang? Aku harus bersaksi jika pada hari itu, aku tidak diperkosa. Batin Linda.
"Pak Agam," panggilnya.
"Ya, El. Ada apa?"
"Aku mau mengatakan sesuatu? Tapi harus berbisik," kata Linda.
"Boleh," Agam mendekatkan telinganya ke bibir Linda. Berdesir tubuh Agam saat bibir yang merah merekah itu menempel pada cuping telinganya.
Ohh, El ..... Keluh Agam dalam hati.
"Sebenarnya, pada hari itu ... a-aku tidak merasa diperkosa."
"Apa?!" Agam kaget. Pak Yudha terkejut karena bentakan Agam.
Aduh, harus bilang apalagi ya? Jadi bingung. Batin Linda.
Wanita ini, aku tahu maksudmu, El. Kamu mau menolongku saat sidang etik, kan? Batin Agam.
"Emm ... sudah saya duga, kamu menikmati permainan saya, kan? Saya hebat, bukan?" bisik Agam.
"Emm ... i-i-iya," balas Linda dengan wajah memerah.
"Malah saya sempat berpikir matamu seolah memohon untuk diulang lagi, apa benar?"
"Apa?! Yang itu salah. Jangan mengada-ada, aku pingsan, kan?" elak Linda sambil mencubit pipi Agam.
Lalu keduanya saling menatap dan tergelak.
"Hahahah hahaha."
"Hahah hahaha," Pak Yudhpun turut serta terbahak padahal, ia tidak tahu-menahu.
*Jangan lupa* ***like***, ***komen*** *dan* ***vote***. *Terima kasih*.