AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Baby Blues Syndrome



Walaupun batinnya tengah dilanda kegundahan, bibir merah Agam pada akhirnya senyum-senyum jua. Penampilan Yohan memang menggelitik. Ya, ganteng dan cocok sih, tapi penggunaan peci yang tidak disesuaikan dengan busana lainnya membuat Yohan terlihat lucu.


"Kenapa kamu?!" bentak Yohan.


Yohan melirik Agam yang kali ini duduk di sampingnya. Penerbangan kali ini tanpa kehadiran copilot. Yohan memang sering mengudara seorang diri. Keterampilannya tidak diragukan lagi, negara saja mengakuinya, itulah salah satu alasan Agampun mengandalkan Yohan untuk kembali mengantarnya.


"Kamu lucu," jawab Agam singkat, lebih memilih menatap langit ufuk barat yang perlahan berubah warna menjadi jingga.


"Topi ini ajaib, seluruh pelayanku yang ada di mansion dan apartemen seperti terkesima saat melihatku seperti ini," jelasnya dengan bangga.


"Dari mana Anda mendapatkannya? Motivasinya apa memakai itu?" Agam menoleh, dan kembali tersenyum.


"Hahaha, ceritanya sedikit panjang. Emm, suatu hari gadisku meminta diberikan mukena, awalnya aku kira mukena itu sejenis makanan ringan ---."


"Pfft," Agam menahan tawa.


"Dengarkan dulu, Gam. Jadi karena penasaran, aku memutuskan untuk pergi juga ke toko itu, maksudnya ke toko mukena bersama asistenku. Nah, di toko itu aku melihat topi unik ini, aku beli deh. Kata pemilik toko, saat memakai ini, aku jadi terlihat lebih tampan," jelasnya.


"Itu bukan topi, namanya peci."


"Oh, hahaha, ya sudahlah. Aku suka memakainya karena saat memakai topi eh maksudku peci ini, Sea tersenyum."


"Sea? Siapa dia?"


Agam bertanya. Padahal, ia sudah menduga jika Sea adalah gadis yang mirip dengan nona Aiza.


Gadis yang pernah ia doakan agar bisa merubah Yohan ke arah yang lebih baik. Karena sejatinya mendoakan orang lain hukumnya tentu baik dan berpahala, termasuk juga mendoakan hal-hal yang baik untuk Yohan walaupun berbeda keyakinan dengannya.


Hal yang dilakukan Agam misalnya, mendoakan kesembuhan Yohan saat pria itu sakit, dan mendoakan agar Yohan segera terbebas dari kesulitan duniawinya. Dan yang paling utama adalah ... Agam sering mendoakan Yohan agar mendapat hidayah.


Sebegitu baikah seorang Agam Ben Buana?


Ya, Agam tahu jika doanya untuk Yohan tidak ada kaitannya dengan aqidah. Melainkan lebih merupakan sebuah doa yang bersifat kemanusiaan, di mana sebagai sesama manusia sudah sepatutnya untuk saling tolong-menolong.


"Aku dan gadis itu beda keyakinan, Gam?" Entah ada angin dari mana, Yohan tiba-tiba saja mengatakan kalimat itu.


"Oya?" kata Agam. Pura-pura tidak peduli.


"Ya, Gam," lirihnya. Sedikit melamun sambil menatap gumpalan awan yang menghampar di tengah senja.


"YOHAN! Jangan melamun!"


Agam panik. Mata sayunya yang meneduhkan itu menatap tajam pada Yohan.


"Hahaha, santai dong Pak Dirut, aku juga tidak mau mati sia-sia. Setelah bertemu gadis belia itu, aku merasa seperti memiliki harapan hidup lagi."


"Bebaskan dia, Yo. Kasihan, orangtuanya pasti mencari."


"Tidak bisa Gam. Aku tidak bisa melepaskannya. Lagipula dia anak panti, bila dia tinggal bersamaku justru lebih baik."


"Hmm."


Agam menghela napas. Jika menginginkan sesuatu, keluarga Haiden terkenal pekerja keras. Akan melakukan segala macam cara demi ambisi mereka.


"Jika kamu hanya ingin tubuhnya, lebih baik lepaskan dia dari sekarang, kecuali kalau kamu serius, maka saya dukung," kata Agam.


"Aku juga masih bingung dengan perasaanku, Gam. Pokoknya, semenjak aku bertemu dengan dia, aku jadi merasa jijik pada wanita-wanita j a l a n g itu," ungkapnya sambil bergidik.


"Baguslah, lagipula tidak ada untungnya. Dalam agama saya perbuatan itu sangat terlarang, termasuk dosa besar. Dalam agama Andapun pastinya dilarang juga, kan?" tanya Agam.


"Ya, Gam. Tapi ... aku sudah lama tidak pernah beribadah. Aku kecewa karena Tuhanku seperti tidak bersamaku. Di saat aku berbuat baik, aku malah difitnah. Setelah papaku jadi buronan, keluarga besarku jadi kurang peduli. Tapi, setelah bertemu Sea, aku melihat kedamaian di matanya."


"Apa karena Sea mirip nona Aiza?"


"Apa? Kok kamu tahu?" Yohan tentu saja kaget, aneh pikirnya. Karena sepengetahuannya Agam tidak pernah melihat Sea.


"Hahaha, maaf hanya menebak," kata Agam.


Baru ingat, saat Yohan dan kelompok perompak menyerang kapal kapal feri E452 DT, ia sedang berperan sebagai Maga.


Yohan mengernyitkan alisnya. Ini aneh, tapi ia tidak mau menduga-duga. Tahu benar jika Agam bukankah rival yang mudah ditaklukan. Selain itu, posisinya saat ini sedang bekerjasama dengan Agam.


Tidak elok pikir Yohan jika ia membicarakan masalah yang nantinya bisa menyulut kembali pertikaian atau perang dingin yang selama ini telah terjadi di antara keduanya.


Agam juga menautkan alisnya. Tidak biasanya Yohan menjadi penyabar seperti ini. Biasanya ia menggebu-gebu, emosional, dan tempramental.


Pada akhirnya kedua pria itu hanya terdiam, Agam menikmati keindahan alam dari ketinggian, sementara Yohan fokus pada rute jalur udara yang dilewatinya.


.


.


.


.


Perjalanan kian jauh, heli semakin cepat dan membumbung tinggi, seolah membelah cakrawala yang perlahan menggantikan senja menjadi sang malam.


Yohan menyalakan lampu heli, Agam berdegup, kerlipan lampu malam Kepulauan Pulau Jauh sudah tampak dan menghampar indah bak taburan permata berwarna-warni.


"Oiya, aku tidak menyangka, kamu yang lugu ternyata tidak lebih berandal daripada aku," ucap Yohan. Agam diam saja.


"Semaniak-maniaknya aku, aku tidak pernah ada niatan memperkosa seorang artis. Tapi kamu? Hahaha, aku kaget, Gam. Dalam hal ini aku dan kamu mungkin memiliki selera yang sama," ejeknya.


"Tak perlu dibahas, saya sudah mengakui kesilapan saya. Jangan samakan saya dan kamu. Saya bertanggungjawab, saya juga hanya tidur dengan satu wanita, tidak seperti kamu." Agam geram.


"Hahaha, ya ya ya, kamu menang. Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya dia, Gam? Secara LB itu ---."


"Cukup Yohan! Cukup! Atau kamu saya dorong keluar, mau?!" bentaknya.


"Hahaha, berani? Lalu siapa yang akan jadi pilot?" ledeknya.


"Saya juga bisa, kok. Walaupun tidak seprofesional kamu!" timpal Agam.


"Percaya, percaya," kata Yohan.


"Maaf, dulu aku sempat ingin mencicipi LB, tapi ... setelah menemukan Sea, tidak lagi," tambahnya.


"Jaga mulutmu, Yohan! Atau saya robek saja. Oiya, jika kamu ingin memakai peci, harusnya memakai celana panjang."


"Apa?! Benarkah?"


Yohan terkejut. Langsung sadar jika Sea tersenyum mungkin karena lucu saat melihatnya.


"Sialan, asistenku tidak ada yang mengingatkan kalau memakai peci harus menggunakan celana panjang," rutuknya.


"Tidak apa-apa, karena kamu belum faham, tidak jadi masalah," jelas Agam saat Yohan bersiap untuk melakukan manuver pendaratan.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Nak, ayo dong, makan ya?"


Lagi, Bu Ana membujuk Linda yang sedari pagi atau sejak ia pingsan sama sekali tidak mau makan. Untungnya, ia masih terpasang infus, jadi untuk kebutuhan cairan dan elektrolitnya tetap terpenuhi.


"Ya LB, ayo dong, makan. A ...," bujuk dokter Rita. Tapi tidak berhasil.


Sementara yang lainnya yaitu ayah Berli, pak Yudha dan dokter Dani, sedang berada di ruangan lain tepatnya di ruang perawatan paman Setyadhi.


Paman Setyadhi tiba dari rumah sakit The Number One tadi siang sekitar pukul 13.00 waktu setempat.


Bayi Linda dipindahkan kembali ke ruang perinatologi untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Hal ini karena Linda baru saja didignosa mengalami baby blues syndrome oleh dokter yang menanganinya.


Linda melamun, menangis, dan ASInya tidak keluar. Ia juga tidak mau memangku bayinya. Yang Linda lakukan hanya menatap nanar dan menangis.


Seluruh dokter kebingungan, ditambah Linda tidak mau berbicara. Wanita cantik itu hanya berkomunikasi dengan menggelengkan kepala dan mengangguk. Benar-benar mengkhawatirkan. Rupanya, ucapan Agam berdampak sangat fatal terhadap fisik dan psikologisnya. Linda terguncang.


Selama ini, Linda merasa jika Agam memperlakukannya dengan istimewa. Agam lembut, romantis, dan loyal terhadapnya. Jadi, saat kalimat menyakitkan itu diucapkan Agam, jiwa raga Linda tidak menerima.


Linda bisa saja sabar dan ikhlas saat orang lain menggunjingnya sebagai j a l a n g, tapi ... saat yang menuduhnya adalah Agam, ia tidak rela. Padahal, Agam hanya mengumpakan, tapi ... Linda tetap tidak terima.


Ucapan Agam membuatnya teringat kembali akan kenangan dan pristiwa menyakitkan saat ia dilema dan bingung pasca ternoda, ditangkap polisi, ditinggalkan sahabat, keluarga, dan merasa sangat terpuruk hingga pernah berniat untuk bunuh diri serta menggugurkan kandungannya.


Sementara dokter Rita sedang menyisir rambut Linda dan memberinya serum rambut. Dia juga bingung atas perubahan sikap yang terjadi pada Linda.


"LB, coba tatap saya, kenapa Anda jadi seperti ini?"


Dokter Rita menangkup pipi Linda. Mata dokter itu berkaca-kaca. Bu Ana tidak perlu dijelaskan lagi, matanya sudah sembab.


"Apa ini karena Ibu dan ayah meninggalkanmu? Jika karena masalah itu, tolong maafkan kami, Nak."


Linda menggeleng. Artinya, bukan itu masalahnya.


"Lalu Anda kenapa? Apa Anda ingin Pak Agam segera kemari?" tanya dokter Rita.


Linda menggeleng lagi. Sontak membuat Bu Ana dan dokter Rita semakin bingung. Sebab yang mereka tahu, Linda sangat mencintai Agam. Di mata Bu Ana, Linda bahkan berani mengabaikan keinginan ia dan suaminya demi tetap bersama Agam.


"Anda yakin tidak ingin bertemu pak Agam?" Dokter Rita memastikan.


Linda mengangguk pelan. Jujur, hati kecilnya merindukan pria itu, tapi ... di sisi lain hatinya sangat terluka.


"Huuu," ia kembali menangis.


.


.


.


.


Sementara itu, Agam Ben Bunana langsung menghubungi pak Yudha sesaat setelah mendarat.


Yohan sudah lepas landas. Heli yang dibawanya telah menghilang ditelan awan malam.


"Anda lalai Pak, kenapa Anda bisa tidak tahu Linda live streaming?"


Wajah pria itu memerah, ia menatap tajam pada Pak Yudha yang menunduk di pojokan lorong rumah sakit.


"Maaf," hanya kata itu yang mampu diucapkannya.


Tangan Agam sudah menegang dan gemetar, tapi ... ia tidak akan berani melakukan kekerasan pada Pak Yudha. Begitulah seorang Agam, ia tetap santun pada siapapun yang usianya lebih tua darinya.


Mungkin, jika Vano yang melakukan kesalahan, akan beda cerita.


"Saya mengaku salah."


"Ya sudah, lagipula semuanya sudah terjadi."


Agam melengos, bergegas menuju kamar perawatan untuk menemui Linda.


"Pak Setyadhi sudah sampai di rumah sakit ini, kondisinya semakin membaik," jelas Pak Yudha tanpa menunggu Agam bertanya.


Namun Agam tidak merespon, langkah kakinya semakin cepat. Ia ingin segera bertemu Linda. Dan setibanya di depan kamar perawatan, Agam dihadang dokter Rita.


"Ada apa?" tanya Agam. Tangannya sudah memegang handle pintu.


"Pak Agam, LB tidak ingin bertemu dengan Anda, saya juga tidak tahu alasannya," katanya.


"Awas! Minggir! Saya mau bertemu istri saya!" Agam menepis dokter Rita. Ia menerobos masuk.


Dan Agam kaget saat ia tidak melihat inkubator di ruangan tersebut.


"Mana bayi saya?" tanyanya.


"Pak, tenang dulu," dokter Rita ingin menjelaskan duduk perkaranya, tapi ia bingung harus memulainya dari mana. Ia berpikir lebih baik memanggil dokter jaga untuk menjelaskannya.


"Linda, mana?" Mata Agam mengitari ruangan.


"Se-sedang di kamar mandi, ditemani bu Ana," kata dokter Rita.


Agam tidak sabaran, ia lekas mengetuk pintu kamar mandi.


"El, saya pulang," panggilnya. Berdiri di depan kamar mandi.


"Dok, cepat panggil dokter jaga saja. Jangan Anda yang menjelaskan kalau Linda mengalami baby blues syndrome," bisik Pak Yudha pada dokter Rita.


"Ya," dokter Rita bergegas.


Lalu Linda keluar dari kamar mandi dipapah Bu Ana. Terkejut saat tahu Agam sudah berada di hadapannya.


"El," Agam meraih tangan Linda, tapi ditepis.


"El, saya kembali. Maafkan saya, El." Agam tahu Linda marah.


"Pak Dirut, tenang. Tolong jangan terburu-buru." Bu Ana membantu Linda berbaring, Agam mematung di sisi tempat tidur, dan kaget karena melihat tatapan Linda yang kosong.


"Istri saya kenapa? Pak Yudha tolong jelaskan!"


Pak Yudha tertunduk. Beruntung dokter yang dipanggil dokter Rita segera tiba.


"Mari ke ruangan saya," ajak dokter tersebut.


Agam patuh, ia berjalan gontai. Ini pasti ada hubungannya dengan kalimat itu, Agam sangat-sangat menyesal. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika dugannya benar.


.


.


.


.


"Jadi begitu, Pak. Dokter menjelaskan semuanya."


Lemas, Agam menunduk lesu.


"Baik, terima kasih, Dok. Lalu apa yang harus saya lakukan sebagai suaminya?" tanyanya.


"Biasanya baby blues disebabkan oleh perubahan pada fisik setelah melahirkan si kecil. Ada juga ibu yang sedih karena berhadapan dengan perubahan fisik atau mental ketika sang buah hati lahir ke dunia."


"Tapi, yang dialami LB sedikit aneh, awalnya dia sama sekali tidak ada masalah apapun. Jika dilihat, fisiknyapun tidak banyak berubah, hanya sedikit berisi saja, dan saya yakin sebentar lagi akan kembali normal."


"Saya rasa ada masalah lain yang mempengaruhinya," jelas dokter.


Agam menyimak.


"Dari banyaknya gangguan suasana hati yang bisa dialami ibu setelah melahirkan, baby blues adalah kondisi yang perlu diwaspadai. Baby blues ini dipicu oleh rasa khawatir atau bingung terkait cara merawat bayi dengan baik. Tapikan, LB sudah didampingi oleh tenaga profesinal."


"Saya kesulitan menggali keterangan dari LB. Dia tidak mau bicara."


"Sa-saya sumber masalahnya, Dok." Lirih Agam.


Dokter mengerutkan dahi.


"Baiklah, saya tidak tahu masalahnya. Tapi dalam hal ini, Anda harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk mendengar keluh-kesahnya. Lalu hindari melakukan perdebatan yang sifatnya tidak penting. Fokuslah menjadi pendengar yang baik. Sebab, perdebatan kecil justru dapat memperburuk baby blues yang dialaminya."


"Apa ada istilah suami blues?" tanya Agam.


"Apa? Emm, hahaha, saya baru mendengar istilah itu," jelas dokter.


"Jika masalahnya karena saya, apa yang harus saya lakukan, Dok?"


"Mungkin, Anda bisa memberinya hadiah atau hal-hal yang romantis," jawab dokter.


Pembicaraan Agam dan dokter usai, dokter telah memberikan banyak tips pada Agam.


"Semoga berhasil," kata dokter. Ia dan Agam bersalaman.


"Oiya Pak Agam, Anda tampan, coba saja rayu LB-nya, semoga luluh ya," goda dokter.


Dokter berbicara seperti itu setelah Agam bercerita kepadanya jika ia sempat mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Linda.


"Akan saya coba, tapi ... kalau tidak berhasil bagaimana?" tanya Agam.


"Haha, coba dulu Pak. Harus optimis, jangan pesimis." Dokter menyemangati.