
.......
.......
.......
.......
'Bruk.'
Map yang dipegang asisten dokter Fatimah terjatuh. Pemandangan ini begitu menakjubkan hingga suster muda itu kehilangan kekuatan pada tangannya.
Bibir Linda yang diserang, tapi bibirnya juga ikut berkedut. Linda yang dipeluk erat, tapi ia juga merasa tubuhnya melemas.
Linda menyadari suara itu, ia terkejut dan membuka matanya.
Sementara Agam belum sadar, jiwa dan raganya masih terpelosok dalam kehangatan, kenikmatan, kemanisan, dan aroma mint yang menyegarkan itu.
Linda mendorong dada Agam, untuk melepaskannya. Tapi seolah ada lemnya, Agam bergeming, malah semakin nakal saja.
Lalu Linda memukul kuat bahu Agam, tapi ... sama. Agam masih asyik menyesapinya. Gila, pria ini benar-benar nakal.
Dan ....
"Auhhh," pekik Agam. Linda menggigitnya.
"El ... kenapa?" keluhnya. Ia mengusap bibirnya yang terasa membengkak.
Tanpa menjawab, Linda langsung memeluk infusan dan urine bag. Kemudian berjalan cepat ke kamar mandi untuk menenangkan diri dan bersembunyi karena teramat malu.
"Ehhm," dokter Fatimah berdeham.
Agam yang membelakangi terkejut, dan saat membalikan badan, iapun terhenyak.
Pipi Dirut HGC itu seketika merah padam. Telinganyapun mendadak merah. Jujur, ia juga malu. Agam tidak ingin jika dosa, kepiawaian, dan kegilaannya dalam hal itu diketahui orang lain.
"Sejak kapan di sini, Dok?" tanya Agam. Tangannya masih menutup bibir yang digigit Linda.
"Sejak tadi. Tapi tidak apa-apa. Saya ada hal penting, Pak." Terang dokter Fatimah.
"Jawab dulu, apa kalian mengintip?" Agam tidak terima.
Dua suster menunduk saja. Tidak berani menatap Agam. Hanya dokter Fatimah yang berani lantang.
"Kita tidak mengintip Pak, justru Pak Agamlah yang tidak seharusnya mesum di kamar perawatan," tegas dokter Fatimah.
"Ya, saya salah. Tapi, apa kalian bisa dipercaya? Tolong jangan mengatakan yang kalian lihat tadi pada siapapun. Atau kalian akan mati dan keluargamu sengsara," tegas Agam. Ia menatap tajam pada suster-suster itu.
Padahal, Agam tidak serius. Ia hanya menggunakan sedikit ancaman ala keluarga Haiden.
"Ba-baik, Pak. Kami akan merahasiakannya," ucap suster serempak.
Dokter Fatimah mengulum senyum, hanya ia yang tahu jika Agam tidak serius. Sebagai dokter pribadi keluarga Haiden, ia tahu siapa saja yang baik dan yang benar-benar jahat.
Dan yang ia tahu, Agam, tuan Bahir, dan tuan Deanka adalah orang-orang baik.
"Ada masalah apa? Saya harus pergi, Dok. Ada misi penting. Bahkan, saya harus menghubungi pangkalan angkatan laut untuk misi ini," terang Agam.
Agam kembali bersiap, ia merapikan baju dan ikat pinggangnya. Ya, tadi celana panjangnya sempat sesak ketika mencium Linda. Gila memang, tapi ya ... begitulah.
Sementara matanya mengerling ke arah kamar mandi. Linda belum juga keluar.
"Wah, misi apa? Terdengar menyeramkan," decak dokter Fatimah.
"Mohon doanya saja, Dok." Agam sedang memakai sepatu.
"Begini, Pak. Saya baru saja dapat kabar dari ruang ICU kalau pamannya nona LB sudah sadar."
"Apa?! Alhamdulillaah." Agam berbinar.
Langsung bergegas ke depan kamar mandi dan mengetuk pintu. Padahal dokter Fatimah belum bercerita lebih lanjut.
'Tuk, tuk, tuk.'
"El, paman Setya sadar," panggilnya.
"Apa?" Yang sedang bersembunyi dari rasa malu akhirnya menyahut juga.
"Benarkah?"
Linda keluar dari kamar mandi, pipinya masih merona.
Ia dan Agam saling bertatapan. Tangan Agam nyaris memeluk Linda, namun ia sadar akan keberadaan orang lain di ruangan itu.
"Dok," Linda menunduk saat berhadapan degan dokter Fatimah.
"Sudah bisa ke kamar mandi sendiri? Suster buka saja kateternya," perintah dokter Fatimah.
"Baik, Dok."
"Tapi nanti kalau Pak Agam sudah pergi," tambahnya.
Dan Agam benar-benar pergi. Agam hanya menatap Linda di ambang pintu. Sebenarnya, ada banyak pertanyaan di hati Linda, namun Linda tidak berani bertanya terlalu jauh.
"Doakan saja semoga pak Agam baik-baik saja," imbuh dokter Fatimah seolah memahami perasaan Linda.
.......
.......
.......
.......
Linda terbaring, ia masih terpikirkan siapakah orang spesial yang akan ditemui Agam?
Lantas, apa pembajakan itu benar?
Atau ... hanya pesan tersembunyi untuk misi lain?
Linda melamun saat suster melepas kateternya dan dokter Fatimah memeriksanya.
"Sangat cantik," puji dokter Fatimah saat ia selesai memeriksa. Linda hanya mengangguk dan tersipu malu.
"Oiya Nona, alhamdulillah operasi paman Anda lancar."
"Operasi?" Linda terkejut.
"Maaf saya baru memberitahu. Saat Nona melakukan operasi estetika, kondisi paman Anda sempat kritis. Jadi, pak Agam mengambil risiko dengan menyetujui operasi pembuluh darah dan syaraf cito untuk paman Anda."
"Begitu ya?"
Linda menghela napas. Sekarang, ia jadi merasa berhutang banyak pada pria itu.
"Berapa biaya operasinya, Dok? Apa Dokter tahu?" tanyanya.
"Gak sampai 1 M, Nona. Hanya ratusan juta. Paman Anda sudah sadar, tapi belum bisa diajak bicara. Jika stabil, rencananya sore ini akan dipindahkan ke ruang perawatan."
"Terima kasih infonya, Dok."
"Sebenarnya saya ke sini selain untuk membahas itu, mau bahas yang lain juga. Kalian keluar dulu ya," suruh dokter Fatimah pada asistennya.
"Harusnya saya cerita pada pak Agam juga," lanjut dokter Fatimah saat kedua asistennya telah pergi.
"Tentang apa, Dok?" Linda jelas terkejut.
"Tuan Yohan mengancam saya, Nona. Dia menyuruh saya membuat pernyataan jika Anda pernah datang ke klinik untuk minta aborsi. Dia memiliki rekaman pengakuan Anda tentang aborsi itu dan katanya sore ini rekamannya akan dibocorkan ke publik."
"Oh, tentang itu? Maaf, gara-gara aku Dokter jadi terlibat. Begini saja, Dok. Dokter lakukan saja apa kemauannya. Aku tidak apa-apa. Dulu ... aku memang pernah ingin menggugurkan anak ini."
"Tapi Nona, kalau saya lakukan, artinya saya berbohong."
"Dok, Anda jelas tidak berbohong, katakan saja aku memang pernah mau menggugurkan, tapi Anda tolak. Toh, itu atas izinku," bujuk Linda.
"Tapi Nona LB, kalau saya melakukan itu maka publik akan mengira jika pernyataan Anda saat acara demo adalah kebohongan, padahal apa yang Anda utarakan sudah sangat baik dan sedikit-demi sedikit bisa jadi telah memperbaiki citra Anda."
"Dok, aku tidak peduli, yang jadi prioritasku saat ini adalah bagaimana caranya agar hubunganku dengan pak Agam tidak terendus publik dan media."
"Kenapa tidak jujur saja, Nona?"
"Rumit, Dok. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya. Intinya, aku melakukan ini demi hal yang lebih penting, demi pak Agam, HGC, aku, dan keluargaku," jawab Linda seraya menunduk.
Kembali merasa tidak percaya jika dirinya benar-benar terlibat drama percintaan dengan anggotan Badan Rahasia Negara.
"Baiklah, saya maklumi."
Dokter Fatimah mengusap rambut Linda. Jujur, ia merasa iba. LB seharusnya bersinar, tapi ... takdir berkata lain.
"Pak Agam orang yang bertanggungjawab, dia tidak akan meninggalkan Anda." Kini dokter Fatimah memeluk Linda.
"Aku tahu, Dok. Dia beberapa kali ingin preskon dan mengatakan semuanya, tapi ... selalu aku larang," jelasnya.
"Hmm, jika itu keputusan Anda, peganglah keputusan itu baik-baik. Jangan dijadikan beban yang nantinya bisa mempengaruhi kesehatan Anda dan bayi Anda."
Dokter Fatimah melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Linda.
Rasa simpatinya pada Linda mulai muncul saat ia melihat bagaimana kepayahan dan kesakitannya Linda saat keguguran, hingga nyaris mengalami perdarahan hebat yang mengancam nyawanya.
"Terima kasih, Dok. Aku jadi merasa memiliki teman." Sambil tersenyum.
"Hehehe, saya juga merasa tersanjung bisa menangani pasien secantik ini. Saya sering menangani artis, tapi perasaan LB yang paling cantik," pujinya.
"Jangan berlebihan, Dok." Linda tersipu.
"Serius, dan saya telah melakukan prosedur yang semakin menyempurnakan kecantikan Anda. Sssttt, Nona LB baru akan faham setelah menikah, hahaha."
Linda mengerutkan dahinya. Ya, Linda hanya tahu jika ia operasi selaput dara. Ia tidak tahu jika Dokter Fatimah telah melakukan prosedur lain pada miliknya berupa tidakan reparasi total yang sifatnya permanen.
"Hahaha, sudah jangan dipikirkan." Dokter Fatimah menepuk bahunya.
"Emm, Dok. Kapan aku bisa menengok pamanku?"
"Nona LB baru pulih total setelah 24 jam, jadi baru bisa dilepas infus dan bebas obat pukul 21.00. Paman Anda bisa dijenguk setelah dipindahkan ke ruang perawatan."
"Oh, begitu ya."
"Ya, benar. Tadi saya sudah bertanya pada kepala ICU. Kepala ICUnya kebetulan kakak ipar saya."
"Kalau begitu saya permisi ya Nona. Ini saya bawakan vitamin dan suplemen untuk kandungan Anda. Jika tuan Yohan mendesak lagi, sesuai dengan perintah Anda, saya akan preskon."
"Terima kasih Dok. Semoga Dokter panjang umur dan sehat selalu." Mereka bersalaman.
"Aamiin," sahut dokter Fatimah.
Setelah dokter Fatimah pergi, Linda kembali ke kamar mandi, ia akan melaksanakan ibadah shalat Subuh dan shalat yang tertinggal pasca operasi.
...*...
...*...
...*...
...*...
Dari parkiran sebuah masjid, mobil Agam melesat cepat. Agam tampak serius dan sibuk.
"Fanny hari ini saya sakit, saya demam," katanya. Agam melakukan VC dengan Fanny.
Ponselnya diletakkan di dashboard depan kemudi. Yang di VC oleh Pak Dirut sedang bersolek. Tengah meggunakan foundation, rambutnya diikat tinggi-tinggi.
"Aduh Pak, maaf sayanya lagi dandan, belum beres, saya jelek ya Pak?" Fanny panik.
"Itu bukan urusan saya, saya sakit, tolong buatkan surat sakit, dan pundurkan jadwal meeting ke hari lain," tegasnya. Matanya fokus ke jalan raya.
"Sebentar, Bapak sakit kok mengemudi, sih? Bapak menyuruh saya berbohong?"
"Saya ada urusan penting, Fan. Kalau masalah ini sudah selesai saya mau berobat."
"Perlu saya buktikan? Baik, lihat ya." Tangan kiri Agam mengambil termometer elektrik dari dalam tas. Lalu ia membuka masker untuk mengulum termometer.
Fanny terkesiap.
"Pak, bibirnya kenapa? Saya salah lihat tidak sih? Kok bengkak?"
'Tiiit.'
"Nih, kamu lihat kan?"
Agam memperlihatkan hasilnya. Masih demam. Suhunya 38,9 derajat celcius. Setidaknya, setelah mendapat obat dari Linda demanya turun sedikit.
"Oiya ya, demam. Baik kalau begitu. Tapi itu bibir Bapak kenapa?" Fanny masih penasaran.
"Hahaha, saya digigit seseorang."
Agam tersenyum. Jadi terbayang, dan mau melakukannya lagi.
"Apa?! Seseorang? Itu berarti manusia, kan? Bapak ---." Fanny menutup mulutnya. Matanya membelalak.
"Tepat, hahaha." Agam kembali tertawa bangga.
"Bapak punya pacar?"
"Emm, bukan pacar, lebih tepatnya calon istri."
"Siapa? Apa saya kenal?" Fanny to the point.
"Emm, ya kamu juga kenal. Sudah ya Fanny."
Agam mengakhiri panggilan saat mobilnya memasuki sebuah area.
...*...
...*...
...*...
...*...
Kawasan Utama Pangkalan Militer Angkatan Laut.
Tertera di gerbang raksasa kawasan tersebut. Di sisi kiri dan kanan gerbang itu berkibar bendera negara berukuran besar.
Agam memakai kembali maskernya. Dan beberapa petugas berseragam militer memeriksa identitasnya. Mobil Agam masuk, dan gerbang itu tertutup kembali.
Sekitar sepuluh menit dari Agam masuk, dua buah helikopter militer terlihat keluar dari helipad yang ada di kawasan itu.
Di dalamnya tentu saja ada anggota militer angkatan laut. Dan seorang warga sipil yang tampak gagah dan tampan dengan kaca mata hitam, topi militer, masker hitam, dan baju anti peluru.
Ya benar. Agam Ben Buana turut serta dalam operasi itu.
Sebagai anggota Badan Rahasia Negara, ternyata salah satu tugas Agam ya seperti ini.
Agam bertugas memberikan informasi penting pada institusi keamanan negara tentang sebuah kejahatan atau hal apa saja yang nantinya bisa mengganggu keamanan negara atau membahayakan masyarakat.
'WRRR.'
Dua heli militer mengudara.
Mereka akan menuju ke perairan Lintang Tenggara di mana di sana sedang atau telah terjadi pembajakan oleh perompak bersenjata api pada kapal feri E452 DT.
"Lokasi awal sekitar 45 derajat lintang tenggara, tolong koordinasikan dengan pos polisi air di kawasan itu, ganti."
Ucap seorang anggota yang berada di heli dan duduk di samping Agam. Ia berbicara menggunakan earphone.
Dan Agampun terlihat berbicara pada earphonenya.
"Mercusuar navigasi tolong lacak dan pantau koordinat pergerakan E452 DT. Oiya, saya menduga para perompak memiliki sebuah kapal induk untuk membawa hasil rampasan dan menyelamatkan diri, ganti."
"Siap, Pak. Ya prediksi anda benar. Ada signal dari kapal tidak dikenal yang mendekat ke lokasi E452 DT, ganti." Terdengar respon dari pusat mercusuar pengawas.
Pembicaraan itu terus berlangsung.
Selanjutnya Agam dan anggota militer di heli itu berkomunikasi dengan bahasa asing. Detail pembicaraan mereka tidak diketahui.
Namun intinya berisi tentang siasat dan strategi untuk menangkap para pembajak itu.
...*...
...*...
...*...
...*...
Kini heli itu sudah memasuki kawasan perairan laut tenggara. Heli melandai tepat di atas kapal feri E452 DT.
Dan dari arah berlawan ada kapal feri yang berukuran lebih kecil dari E452 DT mendekat. Kapal itu berbendera negara ini.
"Mereka menyadari keberadaan kita," kata Agam yang saat ini sedang memantau menggunakan teleskop.
"Kita tidak bisa menyerang sekarang, tunggu dulu kapal dari polisi perairan," ucap seseorang.
"Ya, heli akan tinggal landas lagi," sahut yang lain.
"Izinkan saya mendarat di sini, Dan." Ucap Agam sambil memberikan hormat.
"Baik, hati-hati ya." Kata komandan.
"Di E452 DT ada anak buah saya, tidak perlu khawatir," kata Agam saat ia melompat dari heli dan mendaratkan kakinya di dekat anjungan kapal.
'WRRR.' Heli menjauh
Mereka akan bekerja sama dengan pasukan lain. Perompak itu bersenjata dan memiliki kapal induk. Operasi ini tidak bolah grasa-grusu. Perlu kesabaran dan kewaspadaan agar misi tuntas sesuai dengan harapan.
Agam mematung sejenak saat heli lepas landas. Serius, kepalanya pusing dan saat ia memegang lehernya, masih terasa panas.
"Dosis obatnya kurang sayang," gumamnya sambil mengendap menuju geladak.
Agam ada di mode waspada, namun batinnya tetap terpaut pada Linda dan tidak bisa melupakan morning kiss itu.
Tadi itu nikmat sekali. Aku tidak bisa terus-menerus menumpuk dosa seperti ini. Aku harus segera menikahi Linda. Batin Agam berkecamuk.
Saat ia tiba di geladak, di luar dugaan, kedatangannya langsung disambut oleh puluhan perompak besenjata yang telah menggunakan pelampung.
Tampak tergeletak di geladak, Veto, Yanyan, Ricky dan Relief atau Alief. Mereka ditodong senjata laras panjang tepat di kepala mereka.
"Welcome to this war, let's fight to the death (selamat datang di peperangan ini, mari bertarung sampai mati)!" teriak salah satu dari mereka.
Dan di balik kaca kapal feri sebagian penumpang mengintip ketakutan.
Salah dua dari mereka adalah Ayah Berli dan Hikam. Mata Ayah Berli menatap tajam pada sosok gagah tegap yang saat ini tengah dikepung.
Sosok itu mengingatkannya pada pria yang telah merusak masa depan putri sulungnya.
Kenapa dia mirip sekali dengan Dirut HGC? Batin Ayah Berli.
Pertunjukan apa ini? Apa Agam Ben Buana sengaja pamer kekuatan untuk meraih simpati dan restu Ayah? Licik sekali kamu Agam Ben Buana. Aku yakin itu kamu. Aku tidak akan membiarkan Ayah Berli terpengaruh oleh sandiwara kamu. Batin Hikam.
"Pak, AWASS!" teriak Veto saat Agam mulai diserang.
Namun Agam santai, karena dari arah udara dan laut, bantuan segera datang, ia hanya perlu menghindar dan mencari kesempatan untuk masuk ke dalam feri.
Agam ingin bertemu Ayah Berli serta mengutarakan keinginannya untuk menikahi Linda.
Semoga ayah memaafkanku.
Harapnya dalam hati sambil salto dan berputar menghindari serangan musuh. Beruntung ia memakai baju anti peluru. Jika tidak, yakin nyawa pria itu sudah meregang sedari tadi.
Para penumpang yang mengintip menjerit. Adegan ini sangat menakutkan bagi mereka. Anak buah Agam kembali memejamkan mata, tidak kuasa jika harus melihat Agam terkapar di depan mata mereka.
Dan ....
'DOR.'
Satu peluru menembus betis Agam saat pria itu berhasil mencapai pintu masuk ke dalam kapal.
"Ahh," pekiknya, bersamaan dengan darah yang merembes.
'WRRR.' Suara kebisingan menggema dari rotor dan baling-baling heli.
Bantuan dari udara tiba. Anggota militer dari pangkalan angkatan laut telah datang.
Mereka berloncatan satu persatu dari dalam heli menuju geladak sambil mengokang senjata.
Dan dari arah barat, kapal tongkang milik kepolisian perairanpun datang.
Lalu di tengah suasana genting itu, Agam Ben Buana menyadari sesuatu.
Tidak mungkin.
Agam terhenyak. Segera melakukan panggilan darurat melalui earphonenya.
"Mayday mayday! Keadaan darurat! Kapal feri E452 DT kemungkinan akan tenggelam," teriaknya.
"WHAT'S!"
Jawaban panik dari sana.
Licik, pantas saja mereka memakai pelampung.
"Kapal mau tenggelam!"
"Kapal mau tenggelam!"
"Bagaimana ini?"
Kini para penumpang panik, mereka berebut pelampung, anak-anak dan para wanita menangis histeris.
"Tenang! Tolong tenang!" teriak Agam. Ia berusaha memberikan komando.
"Jangan panik, ada bantun, tolong berikan pelampung pada wanita, anak-anak dan lansia," teriaknya lagi sambil tertatih-tatih dan meringis.
Sementara di geladak, pertempuaran antara perompak dan anggota angkatan laut, tidak dapat dielakan lagi.
Dia terlihat baik, tapi ... apa benar pria itu adalah Agam Ben Buana? Bisa jadi hanya mirip saja, batin Ayah Berli menduga-duga. Sedari tadi ia menatap Agam dari kejauhan.
"Ayah, pakai ini," kata Hikam. Ia memakaikan pelampung pada Ayah Berli.
"AAAA!!!"
Hampir seluruh pemumpang berteriak histeris. Mereka merasakan kapal condong ke salah satu sisi.
Agampun panik, ia melawan rasa sakitnya dan berlari terhuyung-huyung menuju kabin.
.......
.......
.......
.......
Benar saja, setibanya di kabin Agam sadar jika kapal telah dikemudikan otomatis dan kemungkinan sengaja diseting untuk ditenggelamkan beberapa saat kemudian.
Ini pasti dilakukan oleh orang yang profesional.
Siapakah mereka?
Dan mata jeli Agam bisa melihat dengan jelas. Ada seseorang berenang di bawah sana sambil membawa seorang wanita menuju kapal induk yang diduga milik para perompak.
"Yo-yohan?" gumamnya.
Agam mengerjapkan mata. Berharap jika yang ia lihat adalah sebuah kesalahan.