AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Ada yang "Mati Kutu"



Seluruh kamera on.


Agam dan rengrengannya telah berada di area inti preskon. Linda dan Bagaspun demikian. Sedangkan beberapa anggota kepolisian resor kota berada di ruang tunggu yang posisinya bersebrangan dengan area preskon.


Linda berusaha tenang, mencoba mengurai ketegangan dengan menebarkan senyuman. Senyumannya melebar saat tak sengaja bersitatap dengan kameramen dari media TV Kita. Stasiun televisi yang telah membesarkan namanya.


Namun hatinya masih tetap gundah-gulana, ini adalah kali pertamanya ia berhadapan dengan wartawan sebanyak ini, dan tiba-tiba secarik kertas yang diberikan Bagas mampir di telapak tangannya.


..."Semangat! Kamu pasti bisa."...


...Agam....


Seketika bibir merah itu tersenyum, dan entah kenapa tulisan Agam tiba-tiba saja menyulut keberanian dan kepercayaan dirinya.


"Mari kita mulai saja," ucap Linda pada Bagas.


Bagaspun senang. Saat LB percaya diri, maka kepercayaan diri Bagas akan naik dua kali lipat. Agam mengulum senyum saat wanita yang dikaguminya mulai berbicara.


"Silahkan bertanya, satu pertanyaan mewakili satu media," ucap Bagas setelah sebelumnya berbasa-basi dan mengucapkan selamat datang pada para wartawan.


"Saya dari TV Says. Tolong jelaskan, kemana saja Anda selama ini? Apa benar Anda liburan bersama pak RP?"


"Maaf, cukup satu pertanyaan saja," sela Bagas.


"Tentang RP tidak perlu dijawab ya El," bisik Bagas.


"Bagaimana El, mau langsung dijawab? Apa mau dikumpulkan dulu pertanyaannya?"


"Langsung jawab saja. Begini, tiga bulan yang lalu saya mengalami kecelakaan. Akibat kecelakaan ini saya harus dirawat di rumah sakit. Saya dirawat di luar negeri. Saya sengaja tidak mempublikasikan masalah ini karena sebuah alasan yang tidak bisa saya jelaskan."


Dia bilang kecelakaan? Ya ampun. Agam menunduk menyembunyikan wajah tampannya yang sedikit memerah.


"Kecelakaan ini mengakibatkan punggung saya didiagnosis LBP (Low Back Pain) dan harus menjalani operasi tulang punggung."


"Kecelakaannya lalu lintas, trauma atau cidera akibat jatuh?" Wartawan TV Says masih penasaran.


Memangnya sesadis apa aku sampai punggungmu harus dioperasi? Alasan dia itu, masuk akal juga sih. Dia pandai bersandiara. Sangat menarik. Agam semakin menunduk.


"Kecelakaan lalu lintas," tegas LB.


"Pelakunya bagaimana, apa sudah ditangkap?"


"Pe-pelakunya masih di bawah umur, bisa dikatakan masih bocah. Jadi, saya tidak menuntutnya."


Bocah? Ck, dia pandai bersilat lidah, pantas saja lidahnya panas. Batin Agam.


Seluruh audiens menyimak, dan mengangguk, sepertinya mereka percaya dengan keterangan LB. Terkecuali Bagas pastinya.


"Pertanyaan selanjutnya," kata Bagas.


"Saya dari TV KITA, apa Anda akan kembali ke TV KITA? Kenapa sampai menyembunyikan masalah kecelakaan itu pada publik? Kecelakaan itu kan musibah, bukan aib, harusnya Anda ungkap saja. Apa Anda tahu? Ketiadaan Anda dari TV KITA berdampak buruk pada rating saluran kami," keluh wartawan tersebut.


"Saya mohon maaf, tapi ... saya sudah membayar denda atas kelalaian ini melalui manajer saya. Jadi, secara hukum saya tidak bisa disalahkan atas buruknya rating saluran acara TV KITA, khususnya untuk program yang bawakan."


Good job.


Agam mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Ekspresi Agam tentu saja terabadikan oleh banyak mata kamera. Serius, para wartawati terpana, dan pemiarsa di rumah menganga.


Ketampanan Agam dengan latar belakang isu hubungan tak wajar bersama Dirut HGC sebelumyapun ternyata membuat kaum pria amoral menelan saliva.


Banyak yang berharap bisa menaklukan Agam, menikmati kegagahan dan keelokan tubuhnya, plus menikmati kekayaannya.


Iyuh, mengerikan.


Zaman memang sudah edan.


Tidak!


Bukan zamannya yang edan, tapi manuasianya yang tak beriman.


"Menurut saya, apa yang dilakukan LB sangat tidak masuk akal. Di saat program LB naik daun dan menjadi pemenang acara berita kriminal terbaik, kenapa Anda malah menghilang? Orang tua Anda tidak bisa kami temui untuk dimintai keterangan, bahkan kediaman Andapun tidak berpenghuni. Saya merasa janggal. Tolong jelaskan agar kami tidak berperasangka buruk pada Anda," kata penanya lain.


"Alasan detailnya mungkin bisa dijelaskan oleh manajer saya." LB melirik pada Bagas.


"A-apa?!"


Untuk beberapa detik Bagas melongo, untungnya kemelengoan Bagas tidak berlangsung lama.


"Begini teman-teman media, sebenarnya sayalah yang merencanakan ini. Saya yang mengusulkan pada LB untuk bersembunyi. Saya berpikir trik ini bisa bermanfaat untuk menaikan popularitas LB. Kata lainnya, saya yang merencanakan berita sensasi ini. Tolong jangan salahkan LB."


Bagas berdiri, lalu membungkuk di hadapan awak media.


Penyidik kepolisian yang berada di ruangan lain, tampak sedang mencatat keterangan Linda dan Bagas.


Keterangan Bagas memicu desas-desus dan keributan. Masih banyak yang tidak puas dengan penjelasan Bagas.


Sesi pertanyaan terus berlanjut hingga sampailah ke pernyataan mencengangkan dari seorang LB.


Linda Berliana membeberkan pada media dan publik jika dirinya akan vacum dari dunia hiburan selama kurang lebih dua tahun.


"Bukankah Anda terikat kontrak iklan dengan HGC?"


"Apa Anda dikontrak ekslusif oleh HGC selama dua tahun, dan tidak boleh tampil dimanapun?"


"Anda pasti mendapat nilai kontrak yang fantastik sampai-sampai rela vacum untuk sementara waktu."


"Kenapa Anda harus vakum? Menurut saya ini keputusan negatif, reputasi Anda bisa menurun selama Anda vakum. Saat Anda kembali, belum tentu juga ada produser yang melirik Anda."


"Pak Agam, izin bertanya. Apa vakumnya LB ada kaitannya dengan proyek iklan ini?"


"Jika memang vakum adalah pilihan terbaik untuk Anda, tolong katakan pada kami apa yang akan Anda lakukan selama vakum? Apa membuat single lagu? Membuat film mungkin. Atau ... sengaja vakum untuk melejitkan popularitas?"


Linda diberondong banyak pertanyaan. Sejenak ia memimun air putih yang telah disediakan sambil memikirkan jawaban.


"Vakumnya saya tidak ada hubungannya dengan proyek ini. Selama vakum, saya akan beristirahat dan pemulihan LBP, mohon hargai keputusan saya, terima kasih dan mohon maaf jika ada yang keberatan dengan keputusan saya."


Linda mengakhiri sesi untuknya. Sesi selanjutya adalah petanyaan untuk Dirut HGC dan divisi pemasaran.


.


.


"Kenapa memilih LB sebagai bintang iklan?"


"Nilai plus LB apa? Hingga HGC memutuskan untuk memilih LB."


"Kapan iklan produknya akan ditayangkan?"


"Tema apa yang diusung HGC untuk proyek iklan ini?"


"Will HGC cooperate again with foreign companies?"


"Does your program involve foreign investors? If so, from which countries?"


Ada beberapa pertanyaan dari media asing.


Dan ada banyak lagi pertanyaan lain. Salah satunya adalah pertanyaan yang seperti ini.


"Pak Agam dan LB tampak serasi. Maaf, apa kalian memiliki hubungan spesial?"


Sebuah pertanyaan konyol yang menyebabkan mata Linda dan Agam bersirobos.


Alasan HGC memilih LB dan kelebihan LB dijawab langsung oleh kepala bagian pemasaran.


"Jika tidak ada kendala, lusa iklannya akan ditayangkan oleh seluruh stasiun televisi yang ada di negara ini, termasuk TV pemerintah. Saya terlibat, karena ini proyek baru saya. Salah satu misi saya untuk menjadikan HGC semakin terdepan ada di proyek ini," terang Agam.


"Untuk tema yang diusung mungkin kalian akan faham setelah iklannya dirilis. Proyek ini sangat penting bagi saya. Kenapa TV pemerintah sampai terlibat? Alasannya karena proyek saya bersinergi dengan program pemerintah dalam hal menjaga kelestarian laut. Kalian lihat saja lusa, dan jangan lupa beli produknya ya," pungkas Agam. Diakhiri dengan sebuah kata persuasif.


"Untuk misi yang ini, saya tidak melibatkan investor asing. Proyek ini melibatkan banyak penyelam dan pengrajin. Semuanya harus warga lokal."


"Tapi, proposal proyek ini telah saya serahkan kepada kementrian kelautan dan perikanan untuk dibahas di forum internasional," terang Agam dengan menggunakan bahasa Inggris untuk menjawab pertanyaan dari media asing.


"Oiya, saya dan LB adalah patner kerja. Apakah patner kerja bisa dikatakan sebagai hubungan spesial? Ya, itu terserah penilaian kalian."


.


.


Setelah semua pertanyaan terjawab, seluruh yang hadir di podium preskon termasuk Agam dan Linda kemudian berdiri dan serempak mengatakan sebuah kalimat.


"The sea has given, then give the sea something."


"Laut telah memberikan, maka berikanlah sesuatu pada laut."


Bersamaan dengan itu wallsreenpun menampilkan kalimat yang diucapkan itu, dan semua orang yang hadir bisa membacanya dengan jelas. Lalu muncul spoiler iklan yang dibintangi Linda.


"Waaah," decakan kagum menggema.


Para awak media memberikan standing applause, tema kali ini sangat luar biasa.


Pada wallsreen ....


Mata mereka lalu dimanjakan dengan pemandangan bawah laut yang memukau.


Kemudian ada sekelompok penyelam membawa bendera negara berenang di bawah laut yang kotor dan dipenuhi sampah. Para penyelam itu memunguti sampah.


Lalu scene berubah menampilkan penghuni laut yang mati akibat sampah.


Slide bergerak cepat menampilkan foto-foto dari berbagai belahan dunia yang menunjukkan kerusakan ekosistem dan biota laut akibat sampah yang dibuang ke laut.


Menampilkan juga fakta menyeramkan saat tumpahan minyak dan gas mencemari samudra luas.


Ada juga adegan menyayat hati manakala seorang nelayan tua menangis di tepi pantai sambil menarik jangkarnya yang kosong. Tidak ada satupun ikan yang tertangkap, yang terjerat di jangkarnya hanya serpihan kayu dan sampah plastik.


Lalu turunlah bidadari yang berlari ke arahnya. Begitu cantik dengan gaun bertabur mutiara berwarna biru laut dan putih, gaun yang melambangkan lautan dan buih ombak.


Nelayan tua tersenyum saat sang bidadari memberikan mutiara dan tas sekolah kepadanya.


Nelayan itu lalu berkata, "Terima kasih bidadari."


Dan bidadari itu menjawab, "Maaf, saya bukan bidadari, saya LB."


..."Welcome To The New Star...


...LINDA BERLIANA,...


...The New Brand Ambassador of HGC New Product."...


Kalimat itu mengakhiri slide. Tepuk tangan kembali menggema. Linda kembali disorot dan dibidik kamera. Wajahnya sampai berkerlap-kerlip memantulkan blitz. Bagas segera mengganti kaca mata Linda dengan kaca mata hitam.


Linda berdiri dan melambaikan tangan. Pun dengan Agam, para staf biro iklan dan tim pemasaran.


Mereka tampak bersuka cita. Sangat optimis jika brand baru HGC akan laris manis di pasaran karena bahan bakunya berasal dari benda-benda yang memiliki nilai historis.


.


.


"Tidak ada penangkapan," ucap seorang penyidik.


"Siap, Dan."


"Kita kembali ke markas."


***


Tiga jam kemudian, di sebuah lorong biro iklan.


"Kenapa Pak? Bukankah kita mau pulang?" Linda menoleh.


"Jawab dulu pertanyaan saya, kenapa Anda bilang pelakunya bocah? Apa Anda menganggap saya bocah?"


"Haha, Bapak marah?" Sambil terus berjalan melewati lorong menuju pintu keluar.


"Elbiii, jawab! Kenapa, hahh? Apa tidak ada sebutan lain selain bocah? Pak tua yang renta bisa, kan?" Agam mengejarnya.


"Karena setahu saya hanya bocahlah yang suka memasukkan sesuatu ke sembarang tempat. Adik saya saja pernah memasukkan gantungan kunci ke lubang hidungnya."


Linda berucap dan berlalu, sedangakan pipinya belum hilang dari rona kemerahan.


DEG.


"A-apa ka-katamu?!"


Agam mematung, matanya berkedip cepat, sedang mencerna penjelasan Linda.


"Memasukkan sesuatu ke sembarang tempat?"


"Adik saya saja pernah memasukkan gantungan kunci ke lubang hidungnya."


Ucapan Linda terngiang.


Dan seketika, iapun "Mati kutu."


❤❤ Bersambung ....