
Pak Dirut baru selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi seraya bersiul dan menebar senyum.
Ternyata seperti ini rasanya melewati waktu tanpa putra-putrinya. Rasanya ... hampa. Batinnya langsung terpaut dengan Keivel, Aidan, dan Ariella. Ocehan menggemaskan Keivel terngiang di telinga. Tangisan Aidan dan Ariella mengganggu relung hatinya.
Namun, saat ia memandang keindahan di hadapan, rasa ketergantungan pada putra-putrinya itu nyaris menguap barang sesaat. Iapun melangkah pasti mendekati Linda sambil merapikan piyama tidurnya.
Linda masih asyik memompa ASI dengan busana malamnya yang mampu membelalakan mata siapapun. Termasuk mata sayu pak Dirut tentunya. Warna baju Linda merah menyala, tipis, dan mengkilat. Linda juga menggerai rambutnya yang mulai memanjang di sisi leher jenjangnya. Tak lupa menyelipkan mahkota bunga mawar merah di telinga kanannya.
"Masih lama?" tanya pak Dirut.
"Emm, masih deras, Pak. Aku lanjut tak apa-apa, kan?"
Linda bahkan tak menolah pada pak Dirut yang teramat tampan dan menguarkan wangi, karena terlalu fokus memompa ASI.
"Berapa menit lagi, sayang?"
Pak Dirut tak sabar. Sekarang, ia memeluk Linda. Tangannyapun perlahan merayap ke dalam gaun untuk mengelus yang mulus nan halus itu seraya menghidu tengkuk Linda.
"Pak, sabar 'dong. Lima menit lagi. Setuju?" tawar Linda.
"Hmm, lama," protes Agam.
"Lima menit lama? Sebentar kali, Pak." Linda terkekeh. Nyatanya, saat ASI-nya sedang banyak, ia tak mau melewatkan pumping.
"Sayang, saya sudah menunggu selama 48 hari 13 jam 22 menit." Ternyata, pak Dirut sudah menghitungnya.
"Baik, aku sudah selesai 'kok, Pak."
Linda segera merapikan kantung ASI yang telah terisi dan memasukkannya ke dalam freezer.
"Ayo kita wudhu dulu sayang," ajak pak Dirut.
Lalu merekapun ke kamar mandi dengan cara berjalan yang tak biasa. Linda menginjak kedua kaki Agam sambil memeluk pinggangnya, lalu Agam berjalan membawa Linda. Setelahnya, mereka lekas naik ke tempat dengan hati riang-gembira.
"Pak, lampunya dimatikan ya. Pakai lampu tidur saja," kata Linda saat melihat pak Dirut melucuti piyamanya.
"Tidak sayang, saya maunya terang-benderang. Saya ingin melihat sekujur tubuh kamu secara detail." Lalu merebahkan diri seraya menarik Linda ke dalam dekapan.
"Malu, Pak. Aku tak semulus dulu, ada bekas luka SC-nya."
"Bekas SC? Tak masalah sayang. Tunggu, saya mau cek dulu ya. Oh, ini? Tidak begitu terlihat 'kok, sayang. Serius."
Pak Dirut meyakinkan Linda dengan cara mengeceknya. Wajah Linda memerah. Posisi saat ini teramat intim.
"Boleh saya mengecek bagian yang lain?"
Pak Dirut mulai bermain dengan kata-kata yang mampu membuat Linda tersipu malu dan kebingungan harus menjawab apa.
"Emm, ma-mau cek bagian mana?"
Linda mulai gugup. Ya, ini bukan pertama kalinya. Tapi, karena prosedur bedah itu, mau tak mau, telah menjadikan Linda menjadi wanita yang berbeda dari wanita pada umumnya.
Usut punya usut, prosedur itu ternyata baru dilakukan pertama kalinya oleh dokter Fatimah. Ya, bisa dibilang jika Linda adalah kelinci percobaan.
Operasi ginekologi estetik tersebut ternyata bukan operasi hymenorrhaphy yang biasa dilakukan pada wanita-wanita kalangan atas di negara ini. Bahkan, prosedur inipun tak dilakukan pada nona Aiza.
Hymenorrhaphy yang dilakukan pada Linda ternyata melibatkan sistem robotic yang sampai sampai saat ini masih dalam tahap uji coba untuk dipatenkan.
Kenapa dokter Fatimah berani melakukannya pada Linda?
Itu karena Agam Ben Buana adalah sponsor utama pada proyek rahasia ini. Agam Ben Buana bahkan menjadi salah satu pencipta dari sistem robotic tersebut. Fakta ini baru diungkap oleh dokter Fatimah setelah Agam merasa keheranan karena Linda selalu kembali virgin.
Awalnya, Agam menganggap hal ini mustahil. Selain itu, tujuan utama Agam membuat sistem robotic tersebut adalah untuk menciptakan alat yang bisa membantu tim medis dalam mempercepat penyembuhan luka pada organ dalam pasien.
Namun siapa sangka, sistem robotic tersebut malah digunakan oleh dokter Fatimah untuk prosedur hymenorrhaphy pada Linda.
Agampun sempat marah dan tak terima istrinya menjadi kelinci percobaan. Namun, setelah ia sadar menjadi pria yang sangat beruntung, Agampun mengurungkan niatnya dan tak melaporkan ataupun menggugat dokter Fatimah.
Karena ini prosedur rahasia, hingga detik ini, Linda ternyata tidak mengetahui jika pada inti tubuhnya telah terpasang sistem robotic yang secara otomatis bisa membuatnya selalu virgin.
"Semua bagian," jawab Agam.
"Dari ujung rambut, sampai ke ujung kuku kaki kamu sayang," tambahnya.
"Emm ...."
Linda bingung memilah kata, sebab pesona pak Dirut terlalu memukau dan menyilaukan. Hanya bisa menatap wajah tampannya saat Agam mulai membelai rambutnya.
"Rambut yang indah," puji Agam.
"Te-terima kasih," cicit Linda sambil memejamkan mata karena pak Dirut kini membelai wajahnya.
"Keningmu, alismu, matamu, hidungmu, semuanya cantik dan indah." Lagi, Agam memuji.
"Terima kasih."
Linda membuka mata perlahan sambil menelusuri rahang tegas pak Dirut.
"Pak Agam juga indah." Linda balik memuji.
"Panggil saya, Maga," bisik Agam sembari mengecup cuping telinga Linda. Linda merinding si bulu roma. Bibir pak Dirut menghantarkan kehangatan dan aroma mint yang selalu membuatnya tunduk.
"Bibirmu cantik sayang."
"Terima kasih, bibir Anda ... seksi," sahut Linda.
"Boleh saya menikmati bibir yang cantik ini?"
Pak Dirut benar-benar pandai membuat Linda tersanjung dan terbuai oleh rayuan mautnya.
"Bo-boleh." Mustahil Linda menolaknya.
"Buka mulutmu sayang ..., lalu katakan kalau kamu mencintai saya. Kamu milik saya, selamanya," titah pak Dirut sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Linda.
"A-aku mencintaimu, a-aku milikmu ... selamanya."
Linda berkata dengan gugupnya. Bagaimana tak gugup? Yang beraroma mint itu nyaris menyentuh bibirnya. Hembusannya bahkan sudah terasa.
"Mari bersama ke surga dunia," gumam pak Dirut.
Linda mengangguk setuju. Ia menatap nanar wajah yang teramat tampan itu seraya bersyukur di dalam hatinya karena bisa memiliki seorang Agam Ben Buana. Seorang pria yang menurutnya sudah sempurna.
Karena terdorong oleh rasa syukur itu, Linda tak sadar jika kepalanya begerak perlahan untuk memagut bibir pak Dirut terlebih dahulu. Agam terkejut, namun tentu saja tak menolak. Akhirnya, merekapun terjalin.
Jalinan itu terus berlangsung. Kian mendalam dan memanas. Hingga keduanya seolah kehabisan oksigen secara bersamaan. Tak ada yang mengalah, tak ingin ada yang mau melepas terlebih dahulu. Sungguh, mereka bak musafir di gurun pasir yang tengah dahaga. Lalu menemukan oase.
Suara kecapan dan lenguhan dari jalinan itu terdengar begitu jelas. Saat jalinan itu terlepas, mata keduanya telah sama-sama mengiba dan mendamba. Kobaran hasratpun sudah terpancar dari tatapan keduanya. Linda mengusap dada bidang pak Dirut dengan gerakan sensasional nan menggoda. Lalu meraba roti sobeknya dengan gaya yang memantik birahi.
Agam mengatur napas untuk mengendalikan diri. Namun ia ... gagal. Karena faktanya, hanya dalam hitungan detik, tangan pak Dirut telah berhasil merobek baju Linda hingga terkoyak dan menjadi dua bagian. Baju itu telah berpindah tempat. Dari tubuh Linda ke lantai.
Linda terkejut maksimal. Namun keterkejutan itu tak berlangsung lama. Sebab pak Dirut segera membuai tubuhnya dengan kelembutan dan cinta.
Buaian yang membuat Linda lemah tak berdaya. Kelembutan yang membuat Linda memejamkan matanya seraya mendesis dan mendecak. Serta cinta yang membuat Linda merasa jika dirinya adalah wanita yang paling beruntung dan sangat dicintai.
"Mmmh .... Maga .... Mmmh ...."
Linda bahkan sudah melupakan kata dan rasa 'malu.' Ia spontanitas menggoda pak Dirut dengan sejuta pesona dan kemolekan tubuhnya. Padahal, tanpa Linda godapun, pak Dirut sudah bertekuk lutut.
Alhasil, kini ... giliran pak Dirut yang mengelepak dan gemeretak. Bibir Agam sampai memerah karena berulang kali ia gigit agar alunan suaranya tak mengganggu Linda.
"Ssshh ... sa-sayang .... El ...."
Di puncak acara, kesabaran pak Dirut kembali diuji. Lagi, Linda harus menangis dan merintih kesakitan. Malah memohon pada Agam agar aktivitas ini dihentikan.
"Ma-maaf, saya tak bisa memenuhi permintaan kamu," ucap Agam. Ia menciumi air mata Linda yang meleleh begitu saja.
"Sa-sakit ... Maga ...." Sambil memukuli punggung pak Dirut.
"Ssst ... sabar ... rileks ya sayang ...."
Lantas membungkam bibir Linda sambil terus berusaha untuk menerobos benteng pertahanannya. Linda memekik dan teramat heran. Kenapa kejadian ini selalu terulang?
"Sabar ya sayang ... akan nyaman dan nikmat pada waktunya," bisik Agam.
Ternyata, perlu waktu dan strategi untuk berhasil menggapai dan mencapainya.
Perjuangan pak Dirutpun membuahkan hasil saat ia merasakan ada yang menetes hangat dari sana. Tangisan Lindapun melemah kala pak Dirut perlahan menggiring dan membawanya menuju tempat yang 'katanya' disebut sebagai surga dunia.
Seiring berjalannya waktu, tangisan Linda lambat-laun berubah menjadi lenguhan yang mengalun lembut nan syahdu. Untungnya, Linda telah terlatih dan terbiasa. Jadi, ia bisa mengimbangi kekuatan super Agam Ben Buana.
Akhirnya, Agam dan Lindapun terombang-ambing di tengah samudra cinta.
Kapan mereka akan berlabuh dan menepi? Entahlah.
Dari dasyatnya gejolak sang ombak, sepertinya ... sampan berbentuk ranjang yang mereka tumpangi, tidak akan berlabuh dan menepi dengan mudahnya.
Mungkin ... baru akan menepi esok hari. Yaitu, saat angin laut begerak dan berhembus menuju daratan. Atau ... saat matahari sepenggalah naik.
...❤...
...❤...
...❤...
Freissya yang telah dibekali Agam oleh ilmu kanuragan, otomatis langsung menyerang sosok yang baru saja menjamah dan menciumi kakinya. Langsung ditendang sekuat tenaga tanpa basa-basi.
"Kurang ajar! Siapa kamu!?" teriak Freissya sambil pasang kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan serangan susulan.
Gama terkejut. Ia tak menyangka istri imutnya bisa sekuat itu. Lampu yang dirubah Gama menjadi remang-remang, dan tubuh Gama yang bertambah tinggi, membuat Freissya tak mengenali sosok Gama.
"Aku akan menusuk dan menikammu!" ancam Gama. Sekalian saja ia mengerjai istrinya. Gama memanipulasi suaranya dengan alat rahasia yang biasa digunakan oleh Mister X.
"Siapa kamu, hah?! Tunjukkan wajahmu! Tombol lampunya ada di dekat kamu! Cepat nyalakan kalau memang kamu bukan pecundang!" Freissya sesumbar.
Freissya tak gentar sebab Agampun telah membekali dirinya dengan ilmu bela diri dan senjata khusus yang bisa digunakan sewaktu-waktu saat dirinya merasa terdesak.
"Biarkan saja lampunya seperti ini, kalau berani cepat lawan aku!" tantang Gama.
"Siapa takut?" sahut Freissya.
Lalu ia melompat ke atas kasur untuk melakukan serangan. Saat hendak menendang sosok itu, kaki Freissya dicekal, lalu dihempas ke tempat tidur dan ditindih oleh Gama.
"Lepas!" Freissya berontak karena kakinya terkunci.
"Jangan melawan cantik, bagaimana kalau kita bersenang-senang saja? Aku janji kamu akan membuatmu kecanduan," rayu Gama seraya menyentuh sesuatu milik Freissya.
"K e p a r a t! Langkahi dulu mayatku!"
Freissya berusaha bangun untuk menghentak kepala Gama dengan kepalanya. Serius, Gama ingin mengacungi jempol karena kagum dengan kemahiran Freissya. Jika saja ia bukan anggota BRN dan tak bisa bela diri, ia yakin akan kalah telak saat melawan Freissya. Saat ini saja, sundulan Freissya nyaris mengenai pangkal hidungnya.
Untungnya, Gama berhasil menghindar. Karena tak tahan berlama-lama menahan kerinduan, Gamapun mengeluarkan kekuatannya. Ia menekan tombol khusus yang ada di jam tangannya. Tombol itu ternyata mengeluarkan laser yang secara otomatis mengikat tangan dan pergelangan kaki Freissya.
"Apa yang kamu lakukan?! Tolooong!"
Freissya akhirnya ketar-ketir sebab rivalnya ternyata memiliki kekuatan yang tak masuk akal dan tak terduga.
"Kalah kamu ya," ejek Gama. Ia lantas menciumi leher Freissya sambil menyeringai.
"Hey! Hentikan!"
Freissya berniat menekan tombol darurat yang juga terpasang di jam tangannya. Namun tak berhasil.
"Apa maumu, hah?! Cepat katakan!" Freissya kembali beteriak.
"Aku mau tubuh kamu cantik. Ingin menghabiskan malam bersamamu dengan cara menjadi kumbang. Dan kamu adalah bunganya. Aku akan menyesap seluruh benang sari yang kamu miliki," bisik Gama. Masih menggunakan suara manipulasi.
"Baik, tapi tolong lepaskan aku dulu!"
Freissya sepertinya akan menyusun siasat. Namun, Gama sudah di ujung tanduk. Ia tak tahan lagi hingga akhirnya menyambar bibir mungil Freissya. Memagutnya kuat-kuat karena rindu.
Deg, Freissya mematung. Tubuhnya seakan melemah seketika. Ia jelas mengenali aroma vanila ini. Aroma yang sangat ia rindukan.
Tes, air mata Freissya menetes. Ia yakin jika sosok ini adalah suaminya. Lalu, laser yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya terlepas. Bersamaan dengan itu, lampu kamarpun menyala.
"V-Val?"
Tangis Freissyapun pecah. Gama tersenyum sambil mengusap bibir Freissya.
"Huuu ...." Freissya memukuli Gama.
"Ice ...." Gama membiarkan Freissya memukulinya.
Lalu merekapun berpelukan. Gama mendekap Freissya. Ia bahagia tiada terkira karena masih diberi kesempatan untuk memeluk Freissya dan bersua keluarga besarnya.
"Sudah 'dong menangisnya cantik. Aku rindu."
"Kenapa pulang? Kenapa mendadak pulang? Kenapa tak memberitahuku kalau kamu mau pulang?"
"Sengaja, aku ingin memberi kejutan."
"Aku tak suka kamu tak memberitahuku. Lihat, aku bahkan tak bersolek sedikitpun. Kalau aku tahu kamu mau pulang, setidaknya aku bisa memakai baju yang paling bagus dan seksi," gerutu Freissya.
"Hey, kamu sudah cantik dan seksi. Untuk apa bersolek dan memakai baju bagus? 'Toh, nanti juga bajunya akan dilepas juga. Ya, kan? Hahaha."
"Haish, kamu menyebalkan!" Freissya mencubit pipi Gama.
"Ice, apa kamu tak merindukanku?"
"Rindu, 'lah," jawab Freissya.
"Buktikan, 'dong," katanya.
"Kamu tak makan atau mandi dulu?"
"Aku sudah makan, sudah mandi juga. Ayo cium tubuhku."
"Hmm, oiya ya, wangi." Freissya tersenyum.
"Tapi, akunya belum mandi, Val. Aku jadi kurang percaya diri."
"Tak masalah, mari kita mandi bersama. Tak ada salahnya 'kan kalau aku mandi lagi?"
"Emm, boleh." Freissya semangat, namuan pipinya langsung merona.
"Jangan begerak, Ice. Malam ini, aku tak akan membiarkan kakimu kamu menginjak lantai."
"Maksudnya?"
"Aku mau gendong kamu," katanya. Lalu memangku Freissya dan membawanya ke kamar mandi. Gama menutup pintu kamar mandi dengan kakinya. Aktivitas di dalamnya tak terekspos.
Apa yang terjadi di sana?
Sebab, sudah sepuluh menit berlalu dari mereka masuk ke kamar mandi. Namun, belum ada tanda-tanda mereka akan keluar.
Namun ... lima belas menit kemudian, barulah terdengar aktivitas di dalamnya.
Oh ya ampun, namanya juga pasangan muda. Mari maklumi karena suara keintiman mereka terdengar sangat berisik. Suara Freissya mendominasi. Suara Gamapun terdengar, tapi tak beteriak-teriak seperti Freissya. Gama lebih tenang dan sepertinya bisa mengendalikan situasi.
"Jika dengan beteriak membuatmu puas, maka, teruslah beteriak sesukamu." Suara Gama.
"Aaaa .... Aaaa .... Val, Aaaa ...." Suara Freissya.
Apa yang terjadi?
Suster Freissya kenapa ya?
Entahlah.
...❤...
...❤...
...❤...
Di sebuah negara kaya di Timur Tengah, seorang pria tampan rupawan tengah melamun di kamarnya. Dari penampilan dan kamar yang ditempatinya, sudah dipastikan jika pria ini bukanlah pria biasa. Kamarnya bak kamar istana. Ya, dia memang tinggal di sebuah Istana.
Sistem pemerintahan di negaranya adalah Monarki Konstitusional. Yaitu, sistem pemerintahan yang kepala negaranya adalah seorang Raja sedangkan kepala pemerintahannya adalah Perdana Menteri. Negara inipun termasuk ke dalam jajaran negara destinasi wisata mancangara.
"Cepat, angkat 'dong, Pak Agam," katanya. Ternyata, dia sedang menelepon Agam Ben Buana. Akhirnya mengakhiri panggilan karena tak kunjung diangkat.
"Senja, kamu di mana?" gumamnya sambil memeluk bantal.
Ya, di negara ini memang tidak ada guling. Tapi karena terlalu lama merantau di negara kepulauan, ia jadi terbiasa memeluk guling. Tak ada guling, bantalpun jadi.
Hingga saat ini, ia ternyata belum mendapat kabar jelas tentang keberadaan Senja. Terakhir kalinya berkomunikasi dengan Agam, ia mendapatkan informasi jika gadis pujaannya itu berada di tempat yang aman.
Namun, Agam tak membeberkan dengan jelas lokasinya. Hal inilah yang membuatnya gundah-gulana.
Lalu, ia melihat jam dinding yang menempel di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 21.17 waktu negaranya. Berarti, di negara Agam sudah pukul 01.17 dini hari. Bibir sensualnya tersenyum, karena terlalu memikirkan Senja, ia sampai lupa jika Agam Ben Buana mungkin saja sudah terlelap di alam mimpi.
"Atau pak Agam sedang bercinta dengan LB?" duganya. Praduga yang tepat.
"Hmm." Ia menghela napas. Berada di istana benar-benar membuatnya jenuh dan terkekang. Lalu, ia menekan tombol yang ada di dinding kamarnya.
'Sraaak.' Langit-langit kamarnya terbuka.
Langsung tembus pandang ke hamparan bintang di langit. Kini, kaca khusus berbentuk lengkungan menjadi pembatas langit-langit kamarnya. Sungguh panorama yang menawan. Mata indahnya menatap ke sana. Ke satu bintang yang sedari tadi terus berkedip-kedip.
"Jika suatu hari kita ditakdirkan untuk berpisah, dan Exam merindukanku, Kak Exam tinggal keluar malam saja."
"Keluar malam? Untuk apa?"
"Untuk melihat bintang kecil yang berkedip-kedip."
"Tanpa keluar malam, dari kamarku, aku sudah bisa melihat seluruh bintang. Aku bahkan punya kamar yang dilengkapi dengan teleskop antariksa yang biasa digunakan oleh astronot."
"Hahaha, Kak Exam membual ya?"
"Tidak, aku serius. Makanya, kamu harus ikut denganku agar kamu bisa percaya."
"Hahaha, Kak Exam lupa ya? Kan aku tak bisa melihat."
"Aku akan menyiapkan operasi mata untuk kamu. Oiya dari mana kamu tahu ada bintang yang berkedip-kedip?"
"Dari nenekku."
"Apa hubungannya antara bintang yang berkedip dengan kamu?"
"Jadi, kalau Kak Exam merindukanku, dan aku tidak berada di sisi Kak Exam, anggap saja kalau bintang yang berkedip itu adalah aku."
"Bagaimana kalau bintang yang berkedipnya ada banyak?"
"Anggap saja jika seluruh bintang yang berkedip itu adalah aku. Jadi, akunya ada banyak."
"Senja ...."
Ia terus menatap langit seraya mengingat kembali momen indah di mana ia dan Senja menghabiskan setengah malam di tepi pantai Waroulaut, ditemani api unggun, dan mendiang bu Lela sambil menikmati ikan bakar.
Ia merindukan momen itu, andai ia mempunyai kekuatan memundurkan waktu, mungkin sudah kembali ke momen itu detik ini juga.
"Yaa Rabb, tolong hadirkan gadis itu dalam mimpiku. Aku sangat-sangat merindukannya." Ia menengadahkan tangan ke udara. Berharap bisa bertemu Senja, walaupun hanya bersua di alam mimpi.
...~Tbc~...