AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kemelut



"Val, cepat pakai bajunya! Yang tadi bekas olah raga saja, a-aku tidak nyaman melihat tubuh kamu."


Freissya memalingkan wajah, bibir gadis itu memucat karena suhu semakin dingin. Hujan masih lebat, suasana alam berkabut.


"Itu ada keringatnya Ice, aku tidak suka memakai baju bekas."


"Ya ampun Val, itu kan bekas kamu." Freissya kesal, ia melirik sebentar, lalu berpaling lagi.


"Ice, tunggu."


Gama memegang bahu Freissya. Kondisi Gama yang bertelanjang dada membuat gadis itu gemetar.


"Bibir kamu pucat Ice, berarti tubuh kamu sangat kedinginan." Gama menangkup pipi Freissya hingga bibir gadis itu membentuk huruf V karena tertekan.


"Val, le-lepaskan tanganmu. Please ... jangan seperti ini," tolaknya.


"Huhh, I-Ice kamu hipotermi, lepaskan baju kamu ya, kamu memakai dalaman kan, ini baju luarnya basah sekali."


Gama menatap baju Freissya. Dengan baju yang basah, penampilan Freissya begitu seksi. Kemeja putih Freissya melekat lekat pada kulitnya, hingga warna dan lekuknya tempampang nyata.


Sadar akan hal itu, Freissya segera mendorong dada Gama dan memeluk tubuhnya sendiri.


"Jangan kurang ajar ya!" teriak Freissya.


"Maaf Ice ...." Gama memukul mata dan kepalanya sendiri. Jantungnya sudah tidak karuan.


"Sampai kapanpun aku tidak akan membuka baju disini. Jangan modus ya! Aku lebih baik mati kedinginan daripada membuka bajuku," kilah Freissya.


"Oke, terserah kamu," kata Gama.


Mata buayanya selalu saja melirik ke daerah sana. Daerah yang indah itu ternyata ada bunga-bunganya, berwarna merah, kuning, kelabu, hijau muda dan biru.


Sial. Rutuk Gama dalam batinnya.


Lalu curah hujan yang tertiup angin memasuki kaca bagian depan yang terbuka. Tadi saat mobil masi menyala, Gama sempat membukanya.


"Aarrgh, Val ... anginnya semakin besar." Freissya berusaha menghindar.


"Ice, ayo kita pindah ke kursi belakang," ajaknya. Lalu mengatur posisi kursi agar Freissya bisa lewat.


"Ta-tapi Val ---."


"Ice, curah hujannya semakin deras, tolong perhatikan kesehatan kamu," desaknya.


"Ice ayolah, aku tidak akan menjahati kamu," ajaknya lagi.


"Ba-baiklah."


Freissya mengikuti saran Gama. Mereka berpindah ke kursi belakang. Di sini lumayan hangat, mereka tidak terciprat air lagi.


'DUARRR.'


Suara petir yang disertai kilatan kembali memekak telinga. Keduanya terkejut, dan keterkejutan itu membuat mereka spontan saling memeluk, lalu larut dalam pelukan itu untuk beberapa saat.


Jedag, jedug. Jantung mereka bersahutan. Jujur, Freissya merasa sedikit nyaman, dada Gama hangat. Pun dengan Gama, saat mendekap gadis yang telah mencuri hatinya, kemelut di batinnya seolah menguap, hembusan halus napas Freissya mampu menenangkan jiwanya.


Deg, Friessya tersadar, tidak seharusnya ia berpelukan seperti, ini tidak elok.


"Val ...," lirihnya. Lalu berusaha melepas dekapan.


Namun ... terlambat.


Gama tidak melepaskan tubuhnya, pria itu malah mempererat dekapannya dan berkata ....


"Ice ... aku hanya ingin menghangatkan tubuhmu. Izinkan aku menolongmu ya. Janji, tidak akan menjahati kamu. Aku masih ingin hidup Ice, apa kamu tahu? Kakakku pernah berkata, jika aku berbuat jahat, maka dia akan membunuhku," katanya. Kemudian merebahkan kursi hingga posisi mereka menjadi bersandar.


"Ta-tapi Val, aku ... ak ---."


"Sssst ... kamu juga merasa nyaman, kan?"


Sambil mendekap, tangan Gama yang lain menengadahkan dagu Freissya lalu meletakan jari telunjuk di bibir gadis itu.


Bibir Freissya gemetar, ia ketakutan tapi bingung harus melakukan apa.


"Lihat bibirmu, sekarang sudah kembali memerah, itu karena aku memelukmu," katanya.


Buaya yang tengah kasmaran itu lalu meniup wajah Freissya yang melongo. Hembusan udara dari Gama membuat mata Freissya spontan terpejam. Freissya ingin berteriak dan marah. Ia hendak berusaha bangkit, tapi ... ia mengurungkan niatnya saat melihat sebuah selongsong senjata api tersimpan di saku mobil.


"Val, a-apa kamu berani membunuhku?" Terpaksa merebahkan kembali kepala di bahu Gama.


"Membunuh? Maksudmu?"


"I-itu ...." Dengan sudut matanya, Freissya melirik saku jok.


Gamapun melirik, ia mengerutkan dahi, lalu tersadar akan sesuatu. Akal bulus dan tipu muslihatnya muncul kembali.


"Oh, itu senjata cadangan yang diberikan kakakku. Digunakan sewaktu-waktu kalau aku terdesak," jelasnya.


"A-apa? Ja-jadi itu asli?" Netra beningnya seolah mengiba agar tidak dibunuh, gadis itu ketakutan.


Padahal, jika diperhatikan lebih detail, benda itu hanyalah airsoftgun. Kemungkinan milik teman Gama yang sengaja disimpan di dalam mobil.


"Asli dong," jelasnya sambil mengulum senyum.


Asli airsoftgun, tapi ini tipe yang mahal. Jadi, terlihat seperti senjata sungguhan, kata Gama dalam hati.


Freissya menelan saliva. Batinnya berteriak meminta tolong pada kedua orang tuanya, ia juga memanggil nama Gio. Meminta perlindingan dari Yang Maha Kuasa sudah sedari tadi ia panjatkan.


Terpaksa deh, ia bertahan di bahu Gama, dan membiarkan pria mengerikan ini mendekapnya. Terkadang, pura-pura menyerah merupakan cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengelabui musuh saat merasa kalah atau terdesak.


"Hangat, kan?" tanya Gama, ketika menyadari jika Freissya tidak menolak.


Gadis itu hanya mengangguk sambil menghalangi bagian dada dengan kedua tangannya.


Lama mereka terdiam. Freissya memilih memejamkan mata daripada harus melihat dada polos Gama yang berada tepat di depan mata. Sementara Gama terus menatap gadis itu tanpa berkedip, lalu berkata dalam batinnya ....


Maafkan aku Ice. Sebenarnya, mobil ini tidak mogok, ponselku juga tidak mati. Yang mati hanya ponsel kamu. Maaf ya.


Ternyata, mobil mogok, ponsel mati, dan kaca depan yang terbuka sedikit hanyalah akal-akalan Gama saja.


"Ice," Gama memanggilnya, namun gadis itu bergeming.


"Ice," memanggil lagi, kemudian perlahan menengadahkan kepala gadis itu.


Dia tidur?


Gama tersenyum.


Freissya yang awalnya hanya pura-pura terpejam, ternyata malah ketiduran. Wajar sih, semalaman Freissya kan bergadang.


Ya ampun Ice, apa kamu nyaman tidur di bahuku? Atau semalam kelelahan? Maaf ya, aku membohongi kamu.


Gama memandangi Ice yang terlelap, lalu perlahan melepas dekapannya untuk menyalakan kembali mesin mobil dan mengaktifkan penghangat. Lantas kembali lagi ke bangku belakang dan merebahkan diri di sisi Freissya.


Entah apa jadinya jika nanti Freissya bangun dan mengetahui kalau dirinya ditipu. Apakah akan marah? Entahlah.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Dewan direksi HGC, pada hari ini sedang mengadakan rapat terbatas untuk membahas tentang kinerja Direktur Utama mereka. Hal ini dilakukan mengingat akhir-akhir ini Agam Ben Buana sering absen dalam beberapa rapat dan kegiatan penting.


Ada beberapa catatan. Dari mulai sakit, izin, dan hari ini tiba-tiba izin untuk pergi ke luar kota dan melimpahkan wewenang pada staf sekretaris. Saat Agam Ben Buana tidak ada, pernah juga digantikan beberapa hari oleh tuan Deanka.


Dan laporan medis milik Agam ternyata membuat mereka khawatir. Mereka heran kenapa bisa Agam Ben Buana yang selalu tampak sehat dan bugar tiba-tiba anemia berat dan harus dirawat beberapa hari.


"Saya rasa pak Dirut mengidap penyakit yang sengaja disembunyikan dari kita," kata salah satu peserta.


"Ya benar. Bukannya kita tidak membutuhkan pak Dirut. Semua orang sudah tahu kemampuannya, tapi jika beliau keseringan tidak masuk kerja, keseriusannya pada HGC perlu dipertanyakan dan dievalusi," ujar yang lain.


"Kalau menurut saya, untuk apa kita membahas masalah ini? Toh, pak Dirut sudah izin sesuai dengan prosedur, beliau juga telah melimpahkan wewenang dan mengerjakan tugasnya saat tidak masuk kerja. Mempertanyakan keseriusannya adalah hal yang bodoh. Kata stafnya, pak Dirut malah memimpin rapat saat dirinya terbaring sakit dan ditransfusi darah," terang yang lain.


"Tapi pak Dirut tidak terbuka pada kita, dia tidak memberitahu dimana dia dirawat dan melarang kita menjenguknya. Mencurigakan, bukan?"


"Saya rasa wajar pak Dirut melakukan itu, mungkin untuk mencegah gratifikasi. Secara di HGC banyak penjilat," bela yang lain.


"Pokoknya, saya akan melaporkan kejanggalan ini pada dewan komisaris, pak Agam memang mumpuni, tapi kedisiplinan juga penting," tegas ketua rapat.


Dan rapatpun usai tanpa kejelasan. Mereka terpecah menjadi dua kubu yang pro dan kontra. Kubu yang ingin menindak Agam Ben Buana jelas sekali adalah kubu yang selama ini sering menentang keputusan Agam.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Cuaca di Pulau Jauh begitu cerah, seorang pria menatap cerahnya sang mentari dengan wajah sendu. Ia sedang berdiri di balkon salah satu ruangan rumah sakit. Menyandarkan tubuh proporsionalnya di antara tiang dan tirai.


"Anda tidak boleh masuk, yang bisa masuk hanya LB dan orang tuanya," kata suster.


Agam teringat kembali bayangan itu.


"Sus, saya ---."


"Kata ayah Berli atau orang tuanya LB, siapapun tidak boleh melihat bayinya kecuali LB dan orang tuanya, begitu Pak."


"Saya ayah kandung bayi itu," lanjut Agam dalam batinnya.


"Baiklah Sus, kalau tidak boleh, saya mau lihat fotonya saja, fotokan ya, terus saya mau lihat sertifikatnya. Sebentar saja, apa boleh?" tanya Agam.


"Maaf kalau boleh tahu, Anda siapanya LB?"


"Sa-saya suaminya, Sus."


"Apa?! Hahaha, ya sih Bapak cocok sama LB. Tapi dalam data kami, LB sendiri. Penanggung jawabnya atas nama pak Berli," terang suster.


"Emm, apa identitas ayah bayi itu tidak ada catatannya?" tanya Agam.


"Ya Pak, semua identitas ayah bayi dikosongkan, ini fotonya."


"Terima kasih, Sus."


Pria itu memegang dadanya. Entah apa yang ia pikirkan.


Sementara di dalam ruangan, seorang pasien terbaring. Pasien itu berparas cantik, tampak tidur nyaman dengan cairan infus dan monitor masih terpasang di tubuhnya. Di tangan kanannya terpasang dua gelang. Warna biru dan pink.


Pink untuk identitasnya. Tertulis di sana Linda Berliana Briliant, sementara satu gelang lagi berwarna biru. Merupakan gelang tanda identitas untuk bayinya.


Benar, mereka adalah Agam dan Linda. Setelah merenungnya dirasa cukup, Agam medekat pada Linda. Mata yang tadi sendu berubah menjadi binar bahagia.


Bibir tipisnya yang merah alami itu menyunggingkan senyum. Masih belum hilang dalam ingatannya akan sosok kecil mungil yang menjadi buah cintanya. Ia sangat merindukan putranya. Namun sayang, Agam belum bisa melihatnya dari dekat.


Ya, beberapa jam yang lalu, Agam sudah diperbolehkan melihat bayi yang saat ini sudah pindah dari ruang rawat NICU ke ruang perinatologi. Kondisi bayi itu sudah membaik, namun masih perlu perawatan dalam inkubator.


Tapi, apa yang didapat Agam belum sesuai harapannya.


Kata dokter, bayi LB sempurna. Panca indra dan anggota tubuhnya lengkap. Agam sudah melakukan sujud syukur atas anugrah terindah ini. Walaupun harus menelan pil pahit dan perasaan sedih karena ulah mertuanya.


Kisah cintanya begitu berliku, namun pada hari ini, Agam semakin yakin jika Tuhan-Nya telah menjawab satu persatu dari doa yang sering ia panjatkan selama ini. Tapi ... Allah mengujinya lagi dengan fakta yang melukai batinnya.


Nama Agam hilang dari identitas bayi. Ia tentu saja sedih. Namun untuk sementara waktu, Agam berniat tidak akan bertindak dulu sampai ia tahu motif ayah Berli.


"Sayang," kata pertama itu diucapkan sebelum ia mengecup kening dan pipi Linda.


Yang dikecup langsung terjaga dan membuka mata. Lalu membalas senyuman pria itu sambil mengusap rambutnya. Linda memang menggilai rambut indah suaminya.


"Su-sudah sarapan?" tanya Linda.


"Sudah dong," sambil duduk di sofa, setelah membiarkan rambutnya dielus-elus.


"Dokter Rita, dokter Dani, dan perawat ada di hotel. Pak Yudha dan ayah mau jemput ibu mertua," jawabnya.


"Ja-jadi ibu mau ke sini?"


"Ya, El. Mungkin sama adik-adik kamu," tambahnya.


"Ya ampun, terus Hikam ke mana?"


"Mati," jawab Agam singkat.


"Hahhh?" Linda jelas terkejut.


"Ada suami di sampingmu, kenapa masih menanyakan pria lain?"


Agam kembali mendekat, dan di luar dugaan Linda, tangan pria itu meraih sesuatu miliknya yang saat ini semakin padat dan berisi.


"Ahh," pekik Linda.


"Sa-sayang, a-apa sakit?"


"Pak Agam jahat, aku sedang produksi tahu," keluhnya.


"Ehm, ehm, em ... perasaan pelan-pelan, ma-maf sayang," elak Agam. Pipinya merona. Malu, tangannya tidak bisa dikondisikan. Lalu ia membuka kembali foto mungil bayi mereka.


"Aku tidak sabar ingin memberinya ASI," kata Linda.


Ia mengambil ponsel Agam, dan menatap lekat penampakan bayi mereka dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Teringat dulu, ia sempat ingin menggugurkannya.


Bayi merah itu tertelungkup, sedang dihangatkan di dalam inkubator.



"Jangan melukai perasaan kamu lagi, kita akan bahagia, El." Seolah bisa menebak perasaan Linda, Agam menenangkan. Padahal, ia pribadi sedang terluka.


"Coba dua-duanya ada ya," lirih Linda.


"Ssstt, sayang jangan begitu, ketentuan-Nya pasti yang terbaik, kita bisa membuatnya lagi, kan?" kata Agam.


Yang lagi sedih akhirnya sedikit tersenyum juga mendengar ucapan suaminya. Linda mencubit gemas tangan Agam, lalu mereka saling menatap dan melempar senyum. Sungguh pemandangan yang indah. Mereka sangat serasi.


"Oiya, Pak Agam mau dipanggil apa sama bayi kita?" tanyanya saat Agam membantunya untuk miring.


"Emm, saya mau dipanggil paren."


"Paren? Bahasa apa itu? Aku baru dengar." Linda merenung sejenak.


"Hahaha, paren-nya serapan dari bahasa asing parent yang artinya orang tua. Tapi saya sederhanakan jadi paren. Kepanjangan dari papa keren," jelasnya.


"Hahh?" Linda mengulum senyum. Tidak menyangka jika suaminya sedikit narsis.


"Emm, ide bagus." Linda rupanya setuju. Cocok pikirnya. Toh, Agam Ben Buana memang keren.


"Kalau kamu apa?" Agam balik bertanya.


"Apa ya? Sama seperti Pak Agam, aku juga mau panggilan yang tidak bisa. Tapi apa ya?"


"Bagaimana kalau momca?" Agam ada ide.


"Momca?"


"Iya sayang momca, mo-nya dari bahasa asing mother yang berarti ibu. Ca-nya kepanjangan dari cantik. Momca, mother cantik," katanya.


"Hahaha, kalau 'M' nya apa? Kan momca ada 'M' nya," tanya Linda.


"Itu variasi sayang, bisa diartikan sebagai my mom, maksudnya my mother cantik. Setuju?"


"Boleh juga," ucap Linda.


"Hadiahnya dong, El. Kan saya sudah kasih ide."


"Hadiah apa? Berarti Bapak pamrih ya," keluh Linda.


"Hahaha, terserah kamu menuduh apa. Saya mau ini sayang." Agam mengusap bibir Linda.


"Apa?" Linda menatap.


Ia tersenyum melihat Agam memejamkan mata dan mencucukan bibirnya. Lantas Linda mengalungkan tangan di leher Agam, berniat akan melakukannya. Jujur, ia juga rindu. Detik selanjutnya Pak Dirut yang tidak sabar. Langsung menyambar.


"Mmm ...." Linda kaget.


'Teeet.' Bel rumah sakit berbunyi.


"HHH," Agam kesal, baru juga menempel. Serius, ia belum beraksi. Linda terkikik.


Agam ingin marah jika saja yang datang adalah dokter Rita atau dokter Dani. Namun yang masuk ke ruangan adalah suster dan dokter rumah sakit tersebut.


"Selamat pagi menjelang siang?" sapa dokter yang datang.


"Ya, terima kasih."


Pak Dirut langsung mendingin, sikapnya kembali kaku. Ia memperhatikan seluruh pemeriksaan yang dilakukan pada Linda dengan ekspresi datar laksana permukaan lantai.


Sesekali Linda melirik Agam, pria itu memajukan bibir saat bersitatap dengan Linda.


"Sudah bisa miring kanan-kiri?" tanya dokter.


"Sudah, Dok."


"Sore nanti harus bisa duduk ya. Besok pagi, Anda harus belajar menyusui bayinya," lanjut dokter.


"Baik, Dok." Linda mengangguk.


"Oiya, apa ASInya sudah keluar?" Dokter wanita itu bertanya lagi.


"Emm, be-belum dicek Dok," jawab Linda, ragu.


"Dari sekarang sering dibreast care ya, ini saya berikan lembar baliknya, supaya lancar," titah dokter.


"Baik, Dok." Agam yang menyahut. Semuanya terkejut. Linda jadi malu.


Suster-suster yang sedari tadi mencuri pandang pada Agam terkikik. Untungnya, di Pulau Jauh mereka tidak mengenal Agam dengan baik. Tapi mereka tahu tentang LB. Namun telah diwanti-wanti oleh kepala ruangan untuk merahasiakan info apapun.


Mereka tahu jika LB adalah artis yang tiba-tiba hilang, lalu muncul lagi dan mendadak hamil karena diperkosa. Namun mereka belum tahu jika pria tampan dan gagah dihadapan mereka adalah si pemerkosa itu dan merupakan ayah biologis bayi LB.


Karena setahu mereka, tidak ada data identitas ayah dari bayi yang dilahirkan LB. Pada identitas bayi, nama ayahnya hanya ditulis oleh tanda hubung (-).


Agam antusias, ia semangat mengambil lembar balik itu dan membacanya.


"Kapan bayiku akan rawat gabung, Dok?" Linda sudah tidak sabar ingin bertemu dan menyentuh bayinya.


"Rencananya sore ini Bu, rencananya kami akan memindahkan inkubator cadangan ke ruangan ini," jelas dokter.


"Terima kasih," ucap Linda setelah seluruh pemeriksaan usai.


Dokter dan suster meninggalkan ruangan.


"Pak Agam, kok bisa inkubatornya dibawa ke sini?" Linda keheranan.


"Bisa dong sayang, apasih yang tidak untuk seorang LB?" kata Agam sembari mendekat dan memperlihatkan lembar balik breast care pada Linda.


"Jadi Pak Agam yang mengusulkan inkubatornya dibawa kesini?"


"Bukan saya, saya hanya menyuruh dokter Dani untuk masalah itu." Sudah duduk di sisi Linda.


"Hmm, sama saja. Eh tunggu, Pak Agam mau apa?"


"Hahaha, praktik breast care sayang."


"A-apa?! No Maga, No!" teriak Linda.


"Kenapa?"


"Takut ada yang datang lagi," tolaknya.


"Hmm, iya juga sih, di sini tidak tersedia layanan eksekutif, kalau ada saya mau pindah," keluhnya.


"Ruangan ini sudah bagus, Pak. Aku menolak pindah rumah sakit."


Lalu ponsel Agam berbunyi.


"Tunggu sayang, ini pengacara Vano. Saya ke balkon dulu ya."


Linda mengangguk.


"Kenapa, Van?"


"Pak Agam, gawat Pak! Ada media yang membuat berita kalau Andalah yang memperkosa LB."


"A-apa? Serius kamu, Van?"


"Serius. Sedang genting sekarang, Pak. HGC diserbu media, tuan Deanka dan komisaris baru bisa ke HGC nanti malam. Anda dicari, Pak. Bagaimana ini? Saham HGC turun, jajaran direksi masih bungkam. Semua pihak menunggu penjelasan Anda. Anda di manasih? Saya jemput, ya."


"Astaghfirullah, huhh ...." Agam menghela napas sambil memijat keningnya.


"Pak, jawab dong. Saya kan pengacara sekaligus juru bicara Bapak. Saya yakin sebentar lagi media akan datang ke firma hukum dan meminta penjelasan dari saya."


"Van, saya ada di Pulau Jauh, Linda melahirkan."


"Apa?! Wah, Saya jadi paman dong, selamat Pak. Saya turut bahagia. Tapi, masalah di pusat kota bagaimana, Pak? Dan dari mata-mata kita di BRN, pak Ketua juga akan rapat terbatas setelah ada pemberitaan itu. Anda benar-benar merepotkan semua pihak."


"Vano, cukup! Apa kamu pikir saya tidak tertekan? Saya juga manusia Vano. Saat ini kepala saya rasanya mau meledak. Untuk masalah berita itu, biarkan merebak saja, jika ada media yang bertanya padamu jawab no comment. Toh pada kenyataannya saya memang memperkosa dia."


"Dari dulu saya memang ingin berterus terang, tapi Linda selalu menolak. Saya menuruti keinginannya karena saya setuju dengan pendapat Linda. Linda tidak ingin keburukan saya diketahui anak saya di masa mendatang."


"Tapi, sekarang nasi sudah menjadi bubur, ini adalah risiko yang harus saya tanggung. Sebenarnya saya tidak merasa tertekan oleh berita itu, tapi ...."


Agam melirik sejenak pada Linda yang tengah tersenyum padanya.


"Tapi apa, Pak? Ada masalah apa?" Suara Vano terdengar dipenuhi kekhawatiran.


"Vano .... Ayah Berli sepertinya belum mengakui saya seutuhnya."


"Maksud Anda?"


"Saat tadi saya ke ruang perinatologi, ayah mertua sama sekali tidak mencantumkan nama saya pada identitas bayi. Seluruh point yang seharusnya berisi nama saya dikosongkan. Kata dokter Dani, ayah Berli yang mengurus pendaftaran. Artinya, dia sengaja menutupi kenyataan jika saya adalah suaminya LB."


"Saya sedih Vano, saya tulus mencitai Linda, kami saling mencintai. Kenapa ayah mertua seolah tidak menginginkan saya?" lirih Agam.


"Pak Agam, mertua Anda mungkin punya alasan."


Bel ruangan berbunyi lagi. Artinya, akan ada yang datang.


"Vano, nanti saya telepon lagi. Saya akan memberikan keterangan setelah melihat keterangan dari tuan Deanka dan pak komisaris. Saya ingin tahu seberapa jauh ayah dan menantu itu membela saya," jelasnya.


"Bagaimana kalau tuan Deanka dan tuan Bahir lepas tangan?"


"Maka dari itu saya ingin tahu dulu, Van. Tolong rahasiakan keberadaan saya, jangan sampai media tahu kalau saya ada di Pulau Jauh."


"Baik, Pak."


Panggilan berakhir.


Ternyata yang datang adalah ayah Berli, namun hanya seorang diri. Wajah pria itu tampak panik.


"Kenapa Ayah? Pak Yudha dan ibu mertua mana?" tanya Agam. Ia tetap bersikap baik dan hormat pada Ayah Berli.


"Pak Dirut, aku mau bicara, pak Yudha diantar Hikam. Aku kembali lagi ke sini karena ada hal penting."


Ayah Berli menarik tangan Agam dan membawanya keluar dari ruangan itu. Linda mengernyit, perasaannya tidak enak. Hanya bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja.