
Agam hanya bisa mengatur napas, saat mendengar mesin pompa ASI. Linda menutupinya. Tentu saja tidak terlihat oleh Agam. ASI yang didapat hanya sedikit, Linda terlihat sedih, airmatanya menetes.
"Kenapa sayang?" tanya Agam. Duduk di sisi Linda.
"ASInya sedikit," keluhnya.
"Maaf, apa itu gara-gara saya?"
"Maksudnya?"
"Emm, apa karena kurang stimulasi?"
"Apa?"
Linda mencubit hidung Agam. Kok bisa Agam terpikirkan ke arah sana? Ada-ada saja, pikirnya.
"Kata dokter aku stres." Sambil memberanikan diri menatap Agam, sebelumnya Linda tidak berani bersitatap karena masih kesal.
"Kapan pulang dari rumah sakit?" tanya Agam. Menatap kembali mata Linda.
"Besok," jawab Linda.
"Emm, sayang ... sekarang saya pengangguran, apa tidak masalah?"
"Tidak apa-apa," jawab Linda. Lalu merebahkan diri. Agam turut serta. Mereka berhadapan. Satu selimut.
"Rencananya, saya ingin membeli sebuah rumah di daerah ini. Maksudnya, rumah kita sayang. Untuk sementara, saya tidak akan pulang ke kota."
"Kapan sidang BRNnya?"
"Dua hari lagi, apa kamu cemas?"
Agam menyatukan keningnya. Tapi belum berani melakukan yang lain. Agam takut Linda marah.
"Cemas? Tidak, aku tahu Pak Agam bisa menghadapinya."
Kepalanya sedikit bergeser, hembusan napas Agam dan aroma mint yang keluar dari mulut pria itu membuat Linda berdesir.
"Kenapa, El?"
"Tidak apa-apa," jawab Linda, sedikit gugup.
Rambut Agam yang basah dan harum menambah kesan seksinya. Suaminya ini memang aduduh.
"El," sapa Agam, lagi-lagi kian mendekatkan kepala.
"Hmm," jawab Linda sambil menutup mata.
"Saya mau tahu, di mana kamu live streaming? Maaf ya, saya marah dan cemburu. Lengan kamu terbuka sayang. Kalaupun kamu kecewa dengan hatters, tapi ... jangan melakukan itu lagi ya."
"Di lantai atas rumah sakit ini. I-iya, maaf. Tapi ... Bapak juga, kenapa mengatakan itu?" Cemberut.
"Kan saya sudah bilang itu karena cemburu dan marah. Sayang, saya tidak akan memaksa kamu untuk menutup tubuhmu bila kamu belum siap. Tapi setidaknya, jangan terlalu terbuka ya. Biar saya saja yang melihat keindahan kamu, oke?" katanya.
"Iya, Pak. Maaf ...."
"Bisa tidak, kalau memanggil saya Paren saja, atau Maga saja?"
"Emm, aku sih lebih suka memanggil Maga, tapi ... memanggil bapak lebih nyaman," kata Linda.
"Ya sudahlah, terserah kamu," tak bisa ditahan rupanya. Agam mengecup cepat bibir Linda.
"Mmuach."
"Pak, maksudku Maga, aku tidak mau di ---."
Terlambat. Agam Ben Buana tidak bisa mengendalikan diri. Linda terbungkam oleh sesuatu yang beraroma mint menyegarkan.
"Emmh ...." Lenguh Linda.
Ingin menolak, tapi ... ini terlalu manis dan hangat.
Linda pasrah. Tapi ia tidak membalas. Linda membiarkan Agam merenggutnya seorang diri. Agam tak habis akal. Ia menekan lembut dagu Linda untuk memberikan ruang lebih maksimal. Supaya bisa leluasa mengeksplorasi setiap sisinya.
Lama-lama, Linda terpengaruh jua. Jemari kakinya mengerat. Tangannya spontan memegang sprai. Napasnya kian tidak teratur apalagi saat tangan Pak Dirut mulai merayap entah kemana.
Ingin menolak, tapi ... sulit.
Pada kenyataannya, tubuh Linda juga membutuhkan belaian dan kasih sayang. Apalagi setelah melewati proses operasi SC. Menurut penelitian, cumbuan seorang suami bisa mempercepat penyembuhan pasca SC, menstimulasi produksi ASI, dan membuat istri semakin semangat untuk memaksimalkan perannya sebagai seorang ibu.
"Mmm ... Maga."
Linda menangkup pipi Agam setelah pria itu berkelana di seluruh sudut indra pengecapnya.
Lalu mengusap bibir merah alami milik Agam yang terlihat lembab dan basah. Agam tersenyum. Beban di dadanya seolah menguap kala merasakan nikmatnya desiran napas Linda yang menyatu dengannya.
"A-apa sudah puas?" tanya Linda. Pipinya merona.
"Belum sayang, saya masih mau merasakan yang lainnya," goda Agam.
"Sabar," kata Linda.
Ia mengusap dada bidang Agam yang piyamanya hanya dikancingkan dua buah di bagian bawah. Bagian atasnya dibiarkan terbuka, dan itu ... terlihat aduduh. Bulu halusnya membentang indah dari sini sampai ujung sana. Uhh, ada roti sobek di sana, tinggal ditaburi selai dan sejenisnya. Pasti lezat.
Linda terkikik pelan, ia sempat berpikir yang tidak-tidak. Segera menutup mulutnya dan merubah ekspresi wajah agar Agam tidak curiga.
Tapi ... gagal.
Pak Dirut sudah menangkap gelagat istrinya.
"Kenapa, hmm? Apa mau menyapanya?" tanya Agam.
"A-apa? Menyapa siapa?" Linda gugup.
"Hahaha, saya tahu apa yang kamu lihat," bisik Agam.
"Issh, Anda salah faham. Aku melihat perutku," elak Linda.
"Yakin?" goda Agam.
"Yakin lah," ketus Linda.
Lalu ponsel Agam berdering, ada panggilan dari Pak Yudha.
"Sebentar sayang, saya angkat telepon dulu ya." Agam bangun.
Mata Linda membeliak. Ia bersembunyi di balik selimut. Jantungnya bergejolak.
Kenapa ya?
Apa Linda melihat penampakan di balik piyama Pak Dirut? Entahlah.
"Semuanya sudah siap, Pak," kata Pak Yudha di ujung telepon.
"Baik, terima kasih, Pak. Jangan lupakan satu hal lagi Pak. Tidak ada yang boleh masuk ke kamar perawatan sampai saya mengizinkan, tolong koordinasikan dengan tim dokter," katanya.
"Baik," sahut Pak Yudha.
Lalu Agam menutup panggilan. Kemudian kembali lagi ke tempat tidur. Tersenyum melihat Linda yang bersembunyi.
Kenapa? Pikir Agam.
Alisnya yang hitam dan tegas itu mengernyit. Lalu, ia tahu penyebabnya. Pasti karena ....
Agam masuk ke dalam selimut. Mengurung tubuh keduanya hingga tidak terlihat.
"Maga, jangan dekat-dekat, perutku masih sakit." Terdengar suara Linda di balik selimut.
"Bantu apa?" Suara Linda, gemetar.
"Sayang ..., interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu selain di daerah antara pusar sampai lutut istri ketika sedang haid atau nifas, hukumnya halal," kata Agam.
"Hmm," suara Linda.
"Sayang maaf ya, tapi ... saya harus mengatakan ini."
"Katakan saja," ucap Linda.
Dari pergerakan selimut, sepertinya mereka tengah berpelukan.
"Emm, begini El, mukminin yang beruntung adalah ... orang yang selalu menjaga k e m a l u a n nya dan tidak menyalurkannya, selain kepada istrinya. Artinya, selama suami menggunakan tubuh istri untuk mencapai atau menggapai 'itu,' maka tidak dinilai tercela. Berbeda dengan orang yang mencari 'itu'dengan cara berzina dengan wanita lain atau menggunakan bantuan selain oleh istrinya," suara Agam terdengar semakin parau.
"A-aku, faham," cicit Linda.
"So, can you help me, my dear?" tanya Agam.
Tidak terdengar jawaban. Hanya terlihat pergerakan halus di balik selimut.
Apa yang terjadi? Entahlah ya.
Sepertinya, pesona Agam Ben Buana terlalu kuat hingga Lindapun ... luluh.
Dan Agampun pada akhirnya ... lelah.
Kenapa lelah? Kok bisa?
Karena setelah beberapa saat berlalu, terdengar suara erangan dan lenguhan Pak Dirut. Awalnya, suara Pak Dirut terdengar pelan. Tapi selanjutnya ... itu seperti bukan Agam yang biasanya.
Beberapa kali Pak Dirut juga memanggil-manggil nama Linda.
"O--oh El ...."
"Oh ..., sa--sayang--ku ....."
"Li-Lin--daahhh ...."
Kenapa Pak Dirut begitu ya? Kenapa terus memanggil Linda? Bukankah Linda sedang bersamanya. Entahlah ya. Aneh sekali bukan?
Serius, Pak Dirut sepertinya sangat kekelahan. Makanya jadi meracau seperti itu.
Daripada penasaran, mari ke sana, ke dalam selimut. Untuk melihat yang terjadi di dalamnya. Skip.
.
.
.
.
"Ada obat yang harus disuntikkan pukul 01.00," kata Suster yang saat ini tengah berdiri di depan ruang perawatan.
"Bukan antibiotik, kan?" tanya dokter Rita.
"Bukan, Dok."
"Maaf, ditunda dulu ya. Bisa, kan? Di dalam ada Pak Agam. Sepertinya mereka sedang ada masalah," terang dokter Rita.
"Ya, benar, Sus. Mohon pengertiannya," tambah Pak Yudha.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi."
Pak Yudha dan dokter Rita terkikik setelah suster pergi.
"Sedang apa mereka ya?" kata dokter Rita.
"Mana saya tahu, Dok," sela Pak Yudha.
.
.
.
.
Mari kembali ke kamar perawatan.
Tunggu, dimana mereka?
Di tempat tidur tidak ada Linda maupun Agam. Hanya ada selimut dan piyama Agam bagian atas.
Oh, pasti mereka di kamar mandi. Mari ke sana.
Tunggu, suara apa itu?
"Huuu huuu ...."
Terdengar suara Linda menangis.
"Sabar sayang," suara Agam.
"Hmm, uuhh ... sakiiit Pak ...." Linda merintih.
"Jangan digerakan sayang, darahnya belum berhenti," suara Agam.
"Saya masukan lagi ya." Suara Agam lagi.
"Hati-hati," lirih Linda.
Penasaran, apa yang terjadi? Mari ke sana.
Oh, ternyata sambungan infus Linda terlepas dan mengeluarkan darah. Agam sedang membersihkannya menggunakan tissue basah.
Wajah Agam berseri-seri, semakin tampan. Seolah tanpa beban.
"Terima kasih ya sayang." Ia mengecup kening Linda.
"Untuk?"
"Untuk yang tadi," jawab Agam.
"Pak, melayani ajakan suami itu kewajiban yang harus dikerjakan istri. Katanya, apabila istri menolak ajakan suami maka malaikat akan melaknat si istri," ucap Linda sambil membelai rambut Agam. Pria itu berjongkok. Sedang membatu Linda mengganti pembalut.
"Maaf ya sayang, saya egois. Saya merasa tidak adil dalam hal ini. Maaf ...." Lagi, Agam mencium tangan Linda.
"Aku tidak merasa seperti itu, aku istri Pak Agam, aku tidak akan melukai perasaan dan harga diri Pak Agam," ucap Linda.
"Ya ampun El, aku semakin mencintai kamu." Agam berdiri, lalu menengadahkan rahang Linda.
Selanjutnya ...
Ya ampun, Pak Dirut kembali memagut yang merah merekah itu.
Dan kali ini, LB tidak diam saja. Perlahan, ia mengalungkan tangan di leher Agam. Sesekali Linda memasygul rambut Agam. Aktivitas itu semakin larut dan dalam, seiring laju air keran yang dibiarkan terus menyala.
I love you Agam Ben Buana.
I love you Linda Berliana Briliant.