AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Kehadirannya Begitu Terasa [Bagian 2]



"Nomor 39, dua nomor lagi giliranku. Hmm, terpaksa jongkok deh," bergumam lagi.


Agam sampai heran, kok ada ya manusia yang suka bicara sendiri? Pikirnya.


Untung cantik, dan .... Batin Agam.


Dan apa ya? Hanya Agam yang tahu.


Namun tidak berlangsung lama, Linda terlihat beranjak.


Mau kemana dia? Agam waspada.


Ternyata Linda mengejar ibu yang tadi ia mintai tolong. Ibu itu baru saja keluar dari ruangan pusat pelayanan klien.


"Ibu maaf, tas aku di mana ya?"


"Lah, kata kamu kalau hilang tidak apa-apa, bukan? Tadi sih ada di atas kursi saja, Nak. Maaf ya, Ibu tidak memperhatikan lagi soalnya Ibu juga kan ada perlu."


"Oh, begitu ya.Ya sudah tidak apa-apa Bu," kata Linda sambil menatap si Ibu yang berlalu begitu saja.


Linda kembali berjongkok, bersandar pada tiang di mana ada Agam di baliknya.


"Untung uangnya aku simpan di saku, kalau di tas, pasti raib juga. Tapi baju, dalaman, dan perlengkapan mandiku ada di sana. Kalau aku beli lagi, uangnya pasti tidak akan cukup. Hmm."


Makanya, kamu tinggal bersamaku Linda. Dirumahku, kamu bisa mandi dan berganti pakaian tiap detik. Batin Pak Dirut.


"Hmm, kalau di rumah Pak Agam, aku bahkan bisa menghabiskan sebotol sabun cair setiap kali berendam."


Panjang umur Pak Dirut, Linda ternyata menyebut namanya.


Apa?! Ya ampun, pantas kata bu Ira sabun mandi di kamarnya cepat habis. Mungkin itulah sebabnya tubuhmu menjadi harum mewangi, dan berseri-seri sepanjang hari.


Sedikit lebay juga ya Pak Agam ya.


"Nomor antrian empat puluh satu di loket dua." Nomor milik Linda.


Ya ampun, Linda akan berhadapan dengan Mia. Batin Agam berdebar.


"Nomor antrian empat puluh dua di loket empat." Nomor milik Bu ibu.


"Nomor antrian empat puluh tiga di loket satu." Nomor milik Agam.


Yang menjadi masalah adalah ... Agam mengantri untuk apa ya?


.


.


.


Di loket dua, Linda termangu, merasa yakin jika ia pernah melihat dokter cantik itu. Tapi, di mana ya? Sejenak Linda kebingungan.


Dan Linda baru mengingatnya saat Mia menyapa. Benar, dia adalah wanita yang datang ke rumah Agam di hari pernikahan komisaris HGC, Tuan Besar Bahir Finley Haiden dan nyonya Nara.


Namanya dr. Mianita Indah Barata, Linda membaca name tag milik dokter Mia.


Ada perasaan 'Bagaimana begitu ya' di dalam benaknya, perasaan apa ini? Entahlah.


"Ada yang bisa saya bantu? Saya dengan dokter Mia," katanya.


"Be-begini, a-aku diduga keluarga korban M. Setyadhi. Lusa, korban atas nama M. Setyadhi telah dilakukan autopsi atas persetujuanku, harusnya kemarin sudah ada hasil. Nah, sekarang saya mau menanyakan hasil autopsinya," terang Linda.


Linda menunduk sambil memainkan ujung bajunya, sadar jika ia merasa tidak seharusnya memiliki perasaan 'Bagaimana begitu ya' pada dokter Mia. Secara fisik dan akademik saja, terlihat jelas jika dokter Mia cocok dengan Agam.


Di waktu yang bersamaan di loket satu dimana Agam sebagai kliennya sedang terjadi interaksi juga.


"Ada yang bisa saya bantu? Saya dengan dokter Nani," tanya dokter yang ada di loket satu.


"Saya ...." Agam melakukan gerakan 'Ssstt.'


Lalu Agam menulis sesuatu di secarik kertas. Menulis sesuatu yang sangat rahasia. Dokter Nani sampai terkejut dan menutup mulut setelah membacanya. Segera dokter Nani merobek kertas itu saat mengambil sebuah kartu dari tangan Agam.


Dokter Nani mengangguk, itu adalah sebuah kartu yang sangat rahasia. Kartu apakah? Entahlah, karena sangat rahasia.


Cluenya adalah ... kartu ini pernah ditunjukkan oleh Agam pada petugas keamanan saat menyelamatkan Linda di sebuah penginapan.


Setelah itu, dokter Nani dan Agam tampak bercakap-cakap, entah apa yang dibicarakan, sebab mereka berbicara dengan pelan.


Tanpa diketahui sipapun, Agam sebenarnya tengah memusatkan pengindraan telinganya untuk menguping percakapan di loket dua.


"Maaf Bu, hasil autopsi biasanya kami kirim ke email. Apa Ibu sudah mengecek email?"


"Be-belum, Bu. Po-ponselku hilang," jelas Linda.


"Kan bisa dicek di ponsel lain, Bu. Meminjam punya sahabat mungkin." Mia masih berbicara lemah-lembut pada klien yang menurutnya sedikit aneh.


"Maaf Bu, saat berada di rumah sahabatku, aku lupa mengecek," terangnya. Ya, Linda berkata jujur, jika saat di rumah Bagas ia lupa cek email.


"Ibu ini bagaimana sih? Kenapa tidak dicoba cek di warung internet, bisa kan? Anda sudah mendapatkan informasi sebelumya, bukan? Anda tidak perlu repot-repot datang ke sini kecuali dimintai keterangan oleh penyidik." Mia mulai geram, dari nada bicaranya sudah terdengar meninggi.


"Ya Bu, maaf ...." Linda menunduk, ia sadar jika kesalahan ada padanya.


Agam mengepalkan tangan, merasa tidak rela Linda mendapatkan pelayanan yang menurutnya kurang ramah.


Argh, Miaaa, geram Agam dalam hatinya.


"Ya sudah begini saja, saya minta kartu identitas Ibu, akan saya bantu konfirmasi ke bagian AFIS. Ini untuk mencocokkan keterangan Ibu saja ya, untuk hasil autopsinya saya juga tidak mungkin diberi tahu Bu, kan rahasia."


Mia mengulurkan tangan pada Linda, wajahnya sudah mulai memerah karena kesal. Ia sudah melayani banyak klien. Klien yang menurutnya paling modis ini dirasa sengaja menguji kesabarannya.


"Ma-maaf Bu, ka-kartu identitasku juga hilang, bisakah Ibu membantuku untuk langsung bertemu penyidik dan AFIS team?" kata Linda, sambil menatap ragu pada Mia.


"APA?!"


Mia sampai berdiri, hingga petugas di loket lain dan para kliennya kaget termasuk Agam.


Linda semakin menunduk.


"Ibu tolong ya, jangan menyulitkan dan mempermainkan petugas! Memangnya Ibu siapa suruh-suruh saya, hahh?!"


Petugas keamanan yang bertugas menjaga pintu masuk langsung mendekat.


Semua perhatian kini tertuju pada loket dua, hingga kegiatan di loket satu, tiga, dan empat terhenti sejenak, dan klien lain yang masih mengantri di luar kepo. Mereka mengintip di balik kaca pembatas.


"Ini nih, Pak. Klien ini tidak sopan pada petugas. Kesalahannya banyak. Dia sama sekali tidak tahu prosedur sebelum masuk ke ruangan ini." Mia mengatur napas, lalu duduk kembali di kursinya.


"Maaf, maaf untuk semunya, maaf jika keberadaan ku mengganggu." Linda berdiri dan membungkukkan badan ke semua penjuru.


Seluruh yang menyaksikan termangu, mereka baru menyadari jika sumber keonaran itu berasal dari seorang wanita cantik yang bodynya aduhai.


Linda, Linda, kenapa tidak sekalian buka saja masker kamu, lalu tunjukkan pada mereka kalau kamu itu LB. Agam mengelus dada.


"Memangnya apa kesalahannya? Jelaskan saja Dok agar kita semua tahu. Jujur, saya sebagai klien di rumah sakit ini merasa terganggu, tapi saya juga tidak suka dengan sikap Dokter yang membentak klien seperti itu." Klien di loket empat turut serta berbicara.


"Tolong semuanya tenang. Ya Dok jelaskan saja, ada apa ini? Jangan sampai ada kesalahfahaman," kata petugas kemanan.


"Baik, saya akan jelaskan."


Mia kembali berdiri, sedangkan Linda tampak duduk dengan tubuh gemetar, merasa bersalah dan malu. Dalam kesempatan ini, Agam hanya bisa menyimak.


"Pertama, dia meminta hasil autopsi yang sifatnya rahasia. Kedua, dia tidak membawa kartu identitas. Keempat, dia ...."


Bla, bla, bla. Mia menjelaskan seluruhnya panjang kali lebar.


"Oh, kalau begitu Anda yang salah," kata petugas keamanan, dan diiyakan oleh para klien lain, kepala mereka manggut-manggut.


"Ya, kan? Jadi wajar kalau saya kesal dan marah. Pak tolong usir dia dari ruang ini," tegas Mia.


"Baik, Dok."


"Maaf Bu, tolong beri aku kesempatan. Aku ingin bertemu penyidik." Linda menolak saat petugas itu menarik tangannya.


"Anda lengkapi dulu persyaratannya, Nona. Hanya perlu kartu identitas. Tidak sulit, bukan?" Petugas keamanan tetap menyeret Linda untuk keluar dari ruangan itu.


"Bu, saya merasa keterangan Ibu sudah cukup jelas, saya permisi. Terima kasih," ucap Agam pada petugas di loket satu setelah melihat Linda sudah berada di luar.


Saat Agam beranjak, Mia menyadarinya.


"Pak Agam," panggilnya. Namun Agam tidak menoleh. Mia akan mengejar, tapi di mejanya sudah ada klien baru.


Hmm, kok Pak Agam ada di sini? Untuk apa ya? Batin Mia.


Lalu Mia kembali melajutkan aktivitasnya dan berniat akan mencaritahu masalah ini di lain waktu.


.


.


.


Di sudut selasar rumah sakit, Linda memeluk lututnya, bahunya terus bergerak tidak beraturan. Ia tengah menangis. Tidak mungkin ia kembali ke mansion untuk menjadi santapan Yohan, atau kembali pada Agam untuk sekedar meminjam ponsel.


"Pamaan, huuu ... huuu ... maafkan aku," rintihnya.


Di sudut selasar itu Agam menatapnya.


"Seperti inikah jalan hidup yang kamu inginkan? Aku akan melihat sejauh mana kamu bisa bertahan, kamu menyusahkan dirimu sendiri Linda, dasar keras kepala," gumam Agam.


Lalu ia kembali menguntit saat Linda berlalu. Linda mencari tasnya. Syukurlah, tas itu ternyata diamankan oleh petugas keamanan.


***


Saat ini Linda tengah duduk di halte. Agam memantaunya dari dalam mobil yang terparkir di bahu jalan. Ia ingin tahu bagaimana hari ini wanita itu bertahan hidup.


Setelah puas bermain-main, ia berniat untuk menggunakan gaya ala keluarga Haiden dalam mencapai tujuan. Yaitu dengan cara memaksa Linda. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menikahi Linda secepatnya.


Jika Linda dibiarkan bebas, Agam khawatir tumbuh kembang Buana junior akan terganggu.


Tadi saja ia melihat Linda memakan bakso yang menurutnya terlihat terlihat tidak bergizi. Dan ia juga melihat Linda meminum air teh yang jelas-jelas tidak disarankan untuk ibu hamil karena dapat menghambat penyerapam zat besi di dalam darah.


Agam juga saat ini tengah mengerahkan anak buahnya untuk menemukan paman Linda, M. Setyadhi.


Segera ia melajukan kemudi untuk mengikuti bus yang di dalamnya ada Linda.


Linda duduk di sisi kaca. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca mobil itu sambil melamun. Sama sekali tidak sadar jika ia tengah di pantau.


Deg, jantung Agam serasa dipukul gada. Ia melihat Linda berdiri, maju ke bagian bus paling depan dan seperti tengah mengatakan sesuatu.


"Apa yang akan kamu lakukan, Linda?" gerutunya.


Agam terus memepet mobil bus itu agar bisa melihat Linda. Kepalanya berulang kali menengadah.


"Linda ...."


Hati Agam kini berdesir, ia jelas melihat jika Linda mengamen di dalam bus itu. Kaleng kecil di tangan kirinya dan ranting kecil di tangan kanannya.


Agam geram, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Namun di satu sisi, ia melihat para penumpang sangat menikmati pertunjukan Linda.


"Oh, Lindaaa ...."


Agam memijat batang hidungnya. Sadar jika suara Linda memang merdu dan mempunyai ciri khas sendiri.


Suara Linda termasuk jenis bassy dan serak versi wanita. Membuatnya terdengar berbeda, dan begitu menarik di telinga para pendengar.


Ya, bakat, olah vokal, dan suara vokal berteknik tinggi, memang hal penting bagi seorang penyanyi. Akan tetapi, ada faktor lain yang tak kalah influensial dalam setiap penampilan mereka.


Faktor itu adalah warna suara yang datangnya langsung dari Sang Maha Pencipta.


Setiap penyanyi mempunyai warna atau karakter suara tersendiri, termasuk Linda. Dan wanita ini memiliki karakter suara yang disebut 'Seksi.' Seseksi visualnya.


Oh ya ampun, pantas saja Agam Ben Buana tidak bisa berpaling.


"Kelak, kamu hanya boleh bernyanyi di depanku, hanya untukku Linda," katanya. Sambil meninju setir berkali-kali.


Agam tidak tahan melihat tatapan terpesona dari para penumpang bus.


❤❤ Bersambung ....