
"Ini motherboard, Central Processing Unit atau CPU, ini perangkat Random Access Memory alias RAM, Video Graphic Array atau disingkat VGA, hard disk drive, optical disc drive, terus ini Power Supply Unit atau PSU, dan yang ini sangat populer kamu pasti sudah sering mendengarnya. Ini keyboard, mouse dan monitor," jelas Mister X.
Ia sedang memperkenalkan perangkat komputer pada Senja. Sebuah komputer bahkan dipreteli agar lebih banyak lagi perangkat yang dipegang dan di ketahui oleh Senja. Mister X menuntun tangan Senja saat meraba perangkat-perangkat tersebut.
"Hooamm," yang diajari malah menguap.
"Senja, ini baru jam delapan malam, kamu sudah menguap?"
"Dasar botak, memangnya ada istilah menguap tanda mengantuk? Tidak ada, kan?" protes Senja sambil meraba motherboard dan bergidik.
Mister X menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Namun tentu saja Senja tidak tahu. Mereka duduk berdampingan di sebuah bangku yang menghadap monitor, dan perangkat-perangkat hardware lainnya.
"Kenapa kamu bergidik?"
"Motherboard saat diraba terasa seperti ada duri-durinya. Membuat perangkat ini pasti sangat rumit. Yang membuatnya bisa jadi botak karena pusing, hehehe," jelas Senja.
"Memangnya ada istilah botak tandanya pusing,?" ledek Mister X. Ia meniru ucapan Senja.
"Issh."
Senja memukul Mister X. Maksud hati ingin memukul pahanya, tapi apa daya tangannya tak melihat. Malah memukul itu. Memukul spontanitas sesuatu yang bersebalahan dengan paha.
"Awh, Senjaaa," pekik Mister X sambil terkejut. Matanya membulat, segera mengusap miliknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa?" Pelaku pemukulan cuek bebek.
"Kamu tuh ya! Jangan sembarangan memukul dan menyentuh! Kamu memukul asetku tahu!" bentak Mister X.
"Apa? Hahaha. Upss maaf, tak sengaja."
Senja malah terkikik. Mister X merasa kesal, tapi makin gemas pada Senja. Gadis ini benar-benar mood booster untuknya.
"Sakit tahu! Apa ini modus?!" Mister X jadi ada ide untuk meledek Senja.
"Maksud kamu?"
"Kamu sebenarnya penasaran dengan milikku, kan? Apa ingin merabanya juga?" bisik Mister X.
"Apa?! G i l a kamu ya gendut! Ya, benar juga sih, aku memang penasaran. Tapi bukan berarti ingin mengetahui dalam waktu dekat, apalagi sekarang," tegas Senja.
"Hahaha hahaha."
Pernyataan Senja membuat Mister terpingkal-pingkal. Bisa-bisanya gadis itu jujur mengatakan penasaran. Benar-benar polos dan agak mesum pikirnya.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Kamu lucu, Senja. Bahkan lebih lucu dari kucingku."
Mister X bergeser, bahu mereka menempel. Mister X langsung berdebar, sedangkan Senja merasa biasa saja. Andai ia tahu ketampanan Mister X, mungkin akan berdebar juga.
"Boleh aku bersadar di bahumu?" tanya Senja sambil menyandarkan kepalanya. Ia tidak canggung lagi. Setelah kepergian nenek, ia sudah menganggap Example dan bi Miss sebagai kakak kandungnya.
"Bo-boleh," Mister X gelagapan. Siapa sih yang tidak mau disandari oleh wanita secantik dan selucu Senja?
"Se-sekarang, apa yang ingin kamu ketahui?" tanyanya sambil membelai rambut Senja, tapi tidak menempel. Dalam artian membelai rambut secara social distancing.
"Yang tadi perangkat keras, kan?"
"I-iya, ke-keras," jawab Mister X.
Saking gugupnya sampai-sampai yang ia katakan hanya kata 'keras' saja tanpa menyertakan kata 'perangkat.'
"Nah, sekarang jelaskan padaku tentang perangkat yang lunaknya." Entah Senja sadar atau tidak, ia melingkarkan tanganya memeluk bahu Mister X.
"Emm, ba-baik. A-akan aku jelaskan."
Mister X semakin gelagapan. Segera meraih tissue, ia merasakan batang hidungnya mulai hangat. Ini tanda-tanda jika ia akan mimisan.
"Pe-perangkat lunak atau peranti lunak alias software, a-adalah istilah khusus untuk data yang diformat."
"Maksudnya?" Senja tidak faham.
"A-aku belum selesai menjelaskan, maksudnya data yang diformat dan disimpan secara digital. Termasuk program komputer, dokumentasinya, serta berbagai informasi yang bisa dibaca, dan ditulis oleh komputer. Intinya, perangkat lunak itu adalah bagian dari sistem komputer yang tidak berwujud," jelas Mister X.
"Yah, berarti tidak bisa disentuh dong."
"Ya benar, sama seperti pemikiran manusia yang tidak bisa disentuh. Perangkat lunak pada laptop atau komputer itu banyak macamnya. Bisa berupa microsoft word, open office writer, libre office, lotus world, word perfect dan masih banyak lagi."
"Browser, desain grafis, jaringan komputer, presentasi, chatting, pengolah gambar, pengolah data, pengolah angka, itu juga termasuk peranti lunak," tambah Mister X. Senja manggut-manggut.
"Kamu sudah faham?"
"Belum," jawab Senja.
"Lho, itu kepalamu mengangguk-angguk, berarti sudah faham, kan? Harusnya, kamu sudah bisa membedakan mana yang lunak dan mana yang keras."
"Memangnya yang mengangguk-angguk harus berarti faham? Yang berjoged juga kata nenek suka mengangguk-angguk, kok. Jadi, mengangguk itu bukan berarti sudah faham," kilah Senja.
"Ya ampun." Gadis ini.
Lagi, Mister X gemas, dan sekarang tangan satunya tengah sibuk mengelap tetesan darah dari hidungnya. Syukurlah, yang keluar hanya sedikit. Belum diketahui penyebab Mister X mimisan.
Yang jelas, mimisan itu terjadi ketika pembuluh darah kecil di dalam hidung pecah akibat gesekan atau tekanan. Bisa terjadi karena keseringan mengupil atau kondisi udara yang kering.
Nah, ada juga teori yang menyebutkan bahwa peningkatan s e k s u a l berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah.
Teorinya, semakin lama mendapatkan rangsangan s e k s u a l, tekanan darah akan ikut meningkat di sekujur tubuh, sehingga memungkinkan pembuluh darah di hidung untuk pecah akibat tekanan tinggi.
Namun teori tersebut sudah dibantah kebenarannya. Tekanan darah memang cenderung naik saat terangsang atau saat berhubungan intim, tapi hanya dalam skala kecil.
Lantas, penyebab mimisannya Mister X, apa dong? Entahlah.
Setelah mimisannya berhenti, Mister X melanjutkan kembali penjelasannya tentang perangkat lunak dan perngkat keras. Entah berapa lama ia asyik menjelaskan, namun Senja tak merespon, gadis itu diam saja.
"Se-Senja," Mister X memanggilnya. Mengintip wajahnya.
"Kamu tidur, hei gadis mesum," Mister X menggedik bahunya, namun Senja tetap terlelap.
Kesempatan emas. Di balik masker bibirnya tersenyum. Segera membelai rambut gadis itu sembari menghidunya. Aroma shampo Senja sama dengan miliknya. Ya, Mister X memang membelikannya dengan merk yang sama dengan dirinya.
Tidurlah yang nyenyak gadis lucu, bahuku akan selalu ada untukmu.
Ia kemudian membopong Senja ke kamarnya, lalu merebahkan Senja dengan hati-hati.
"Nenek, jangan pergi ...." Senja mengigau, ia memegang tangan Mister X.
"Emh, Senja ...."
Mister X menepis perlahan. Tapi Senja malah menarik tangannya hingga ia ikut terbaring di sisi gadis itu. Belum juga Mister sembuh dari keterkejutannya, Senja memeluknya. Mister X membelalak, tubuhnya memanas.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, ia segera menekan sabuk ajaibnya agar tekunci secara otomatis. Ternyata, sabuk Mister X memiliki fungsi yang sama dengan sabuk milik Agam Ben Buana.
"Baiklah, malam ini kita akan tidur bersama," gumamnya. Mencoba memejamkan mata, tapi sulit. Kehangatan Senja jelas terasa, dan napas gadis itu melintasi lehernya.
Mister X mengatur napas, sedang berusaha sekuat tenaga agar tangannya tidak bertindak di luar batas.
"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."
Mister X tahu tentang penggalan ayat itu, tapi ... ia justru mendekatinya.
...❤...
...❤...
...❤...
"Terima kasih ya sayang, hehehe."
Pak Dirut mengulum senyum. Ia duduk di kursi roda sambil menatap Linda yang sedang pumping.
"Terima kasih untuk apa sih? Cepat tidur Pak, besok kan Bapak mau dipasang penyangga," kata Linda.
"Terima kasih untuk yang tadi sore sayang."
"Ish, apa sih."
"Itu lho sayang, yang sebelum kamu memandikan saya," goda Agam.
"Cukup, jangan dibahas lagi. Kalau Bapak bahas lagi, aku tidak mau membuat vidio itu, aku mau jujur saja pada polisi kalau Bapak yang menculik saya," ancam Linda.
"Oh, ya? Saya tak yakin kamu berani menyudutkan saya. Secara, saya telah memberimu semua hal. Saya juga sering membawamu ke nirwana. Ya, kan?" goda Agam. Ia semakin menjadi. Mendekati Linda dan mengganggunya.
"Apa?! Pak Agam! Hentikan! Aku lagi pumping, Pak! Kalau tumpah bagaimana?!" Linda kesal.
Suaminya ini benar-benar menjengkelkan. Retak pada tulang rusuk dan panggul ternyata tidak menyurutkan gelora Agam Ben Buana akan hal itu. Agam justru semakin manja dan meresahkan.
"Oke, maaf. Baiklah, saya mau siapkan ponselnya dulu."
Setelah merasa cukup menjahili istrinya, Agam kemudian mengatur letak ponselnya agar bisa membidik Linda pada posisi yang tepat dan akurat.
"Kamu harus tampil seolah tertekan, oke?"
"Ya ya ya," timpal Linda.
"Bajunya jangan yang seksi sayang, polos saja."
"Hmm," sahut Linda.
"Pak, aku lupa nama papanya tuan Yohan siapa sih?"
"Tuan Hengky Haiden, sayang."
"Oiya, pada saat melakukan wawancara, ada empat politisi yang menawari aku tidur."
"Apa?! K u r a n g a j a r! Mereka siapa saja?! Pak Dirut langsung naik pitam.
"Emm, aku lupa lagi, Pak."
"Apa termasuk tuan Hengky?"
"Tidak, Pak. Tuan Hengky tidak mengajak tidur, hanya memintaku menemani makan malam, dan merayuku agar mau menikah dengan tuan Rufino Pederik."
"Dasar laki-laki! Selalu saja tak tahan kalau melihat wanita cantik! Menyebalkan!" dengus Agam.
"Jangan munafik Pak. Bapak kan laki-laki, Bapak juga seringnya tak sabar kalau melihatku," ketus Linda.
"El, kalau saya tak sabaran, ya wajar. Toh, kamu istri saya," tegas Agam. Ia mulai mengarahkan kamera pada Linda.
"Pak, nanti dulu, kan aku masih pumping."
"Ya sayang, saya juga tahu. Ini hanya mengecek," jelas Agam.
Sungguh, Agam juga penasaran. Daftar politisi yang diwawancara Linda, dua di antaranya ternyata memiliki saham di HGC. Sebagai Dirut, ia tentu harus mengetahui dan mengungkap tabir ini. Jangan sampai saham yang ditanam dua orang itu berasal dari uang hasil korupsi.
Saat yang dinantikan tiba jua, Agam dan Linda akan segera menjalankan tipu muslihat. Lampu kamar dimatikan. Pencahayaan hanya bersumber dari lampu kamera.
"Huuuks ...." Linda memulai take vidio dengan sebuah tangisan.
"Cut," teriak Agam.
"Kenapa Pak? Aku sudah bersusah-payah mengeluarkan air mata."
"Sayang, setelah saya pikir-pikir, akan lebih natural kalau kamu saja yang membuat vidionya. Dengan kamera depan, El."
"Kamu juga jangan menyebut BRN secara langsung. Katakan saja, kamu dibawa oleh penculik misterius yang berbahasa asing dan bersenjata lengkap. Kamu dibawa ke sebuah ruang bawah tanah yang penjagaannya ekstra ketat dan menggunakan sistem laser."
"Katakan juga kalau orang yang menculik kamu terpasang cip di lehernya."
"Hah? Tunggu Pak, bagaimana caranya aku tahu kalau mereka terpasang cip? Sedangkan cip itu ada di dalam. Tolong berikan clue yang masuk akal, jangan mengada-ada," bantah Linda.
"Lihat saya sayang. Lihat leher saya."
Lalu Agam menekan lehernya, tepatnya di bagian bawah telinga, dan Linda terkejut saat di bagian itu menyala, bentuknya seperti titik laser yang berwarna terang.
"Ja-jadi Pak Agam terpasang cip?" Linda kaget.
"Ya sayang, tapi sudah dinonaktifkan oleh tuan Deanka."
"Oh, begitu? Emm, bagaimana kalau begini, aku katakan saja penculiknya aneh. Aku tak sengaja melihat lehernya menyala seperti laser. Bagaimana?"
"Oke, masuk di akal," Agam setuju.
Namun baru juga Linda akan membuat vidio, ponsel Agam berbunyi, ada panggilan dari Pak Yudha.
"Hallo, assalamu'alaikuum, Pak. Ada apa?"
"P-Pak Agam, Ga-Gama sadar, Pak. Bapak harus ke rumah sakit."
"Apa?! Alhamdulillaah, baik Pak. Terima kasih, saya akan ke sana sekarang." Agam mengakhiri panggilan.
"Ada apa, Pak?"
"El," Agam berhambur memeluk Linda, jalannya sedikit pincang.
"Kenapa?" Linda mengelus punggung suaminya.
"Sayang, Gama sadar. Sekarang saya harus ke rumah sakit. Vidionya menyusul." Binar kebahagiaan terpancar dari mata Pak Dirut.
"Alhamdulillaah. Tapi, Bapak tidak apa-apa, kan? Bukannya masih sakit?"
"Tidak apa-apa sayang, saya merasa baik-baik saja. Saya akan ke rumah sakit bersama Vano. Kamu jaga diri baik-baik ya. Oiya, jika ada apa-apa, kamu harus lari membawa Keivel dan Ners Sinta ke kamar nomor dua belas. Letaknya ada di ujung kamar ini."
"Ja-jadi rumah ini tidak aman?" Linda jadi takut.
"Sejauh ini aman sayang. Tapi kan, saya perlu jaga-jaga."
"Ba-baik, Pak. Bapak hati-hati ya ...."
"Pasti sayang, agar saya lebih kuat dan hati-hati berikan saya bibir kamu dulu," pintanya.
"Apa? Ta ---."
Terlambat, Linda sudah diserang, tiap harinya modus Pak Dirut kian mumpuni. Linda pasrah, tubuhnya hampir goyah karena serangan itu. Untungnya, Agam merengkuh pinggangnya.
"Pak, su-sudah ya, bibirku sakit ...," keluh Linda saat Agam memberi jeda.
"Sekali lagi ya sayang. Karena Gama sadar, saya jadi bahagia. Kebahagiaan saya naik dua kali lipat dari sebelumnya. Jadi, saat menciummu, saya juga harus mendapatkannya dua kali lipat juga."
"Teori macam apa itu, Pak? Sangat tidak masuk akal," protes Linda.
"Teori itu memang ada dua macam sayang, ada yang masuk akal, dan ada yang tidak. Nah, teori yang tadi saya utarakan, termasuk teori yang tidak masuk akal. Hahaha," katanya. Kembali memagut Linda yang masih melongo.
"Hmph ...."
Pak Dirut menggila. Tapi ... Linda suka. Aroma mint dan kelembutan ini selalu membuatnya terlena.
...❤...
...❤...
...❤...
Sea merasa lega, kedatangan kucing asli ternyata tidak membuat ibu warung penasaran dan membuka taplak meja.
"Cari gadis itu ke seluruh kamar! Pasti belum jauh!" teriak ibu warung, lalu ia duduk kembali di kursinya. Sea bisa melihat sepatunya dari jarak dekat karena kaki ibu warung terulur ke kolong meja.
"Baik, Bu." Mereka berpencar.
"Bu, tidak ada Bu. Kami tidak menemukan gadis itu."
"Apa?! Tidak mungkin! Coba kalian cek CCTV di pintu keluar!"
"Baik, Bu."
Beberapa saat kemudian.
"Lapor Bu, dari pantauan CCTV tidak ada rekaman yang menunjukkan kalau gadis itu keluar dari rumah makan ini, berarti dia masih ada di sini.
Deg, tubuh Sea gemetar. Ia memeluk erat tasnya.
"Tunggu," bu warung sepertinya menyadari sesuatu. Sea berdebar, firasat buruk menghampirinya. Mau tidak mau, ia harus mengambil risiko.
Ya, ia harus berlari saat ini juga ke pintu keluar yang sedang terbuka. Rutenya lurus dan searah dari tempatnya bersembunyi. Sea harus berani. Jika sudah sampai di luar, ia hanya perlu beteriak minta tolong, atau langsung naik kendaraan yang melintas.
"Buka taplak mejanya!" teriak bu warung pada anak buahnya.
Satu, dua ....
Sea mulai berhitung. Tekadnya sudah bulat. Apapun yang terjadi ia harus berani.
Tiga.
Dan ia muncul dari balik meja lalu lari tunggang-langgang sebelum anak buah pemilik warung membuka taplak meja.
"Itu dia! Kejaaar!" teriak bu warung. Sontak tiga orang pria mengejar gadis mungil itu.
Sea berlari sambil menangis. Batinnya menjerit pada Yang Maha Kuasa agar diberikan pertolongan. Ia tidak menoleh, pandangannya lurus ke depan, dan iapun berhasil keluar.
"Kena kau!"
Seseorang yang berada di luar menangkapnya. Dia tentu saja masih berkomplot dengan si pemilik warung.
"Lepaskan aku! Lepaaas!" teriak Sea.
"K u r a n g a j a r! Beraninya kamu kabur! Dasar gadis bodoh! Sudah diberi enak malah mau kabur! Tak tahu diuntung dan tahu balas budi kamu ya!"
Bu warung datang, ia mencaci Sea dan menjambak rambut gadis itu.
"A-ampuun Bu, a-aku mau bekerja di sini, ti-tidak dibayarpun tidak apa-apa, Bu, a-asalkan ... aku tidak dijadikan wanita malam, aku tidak mau jadi p e l a c u r, huuu," ratap Sea.
"Enak saja kamu bilang p e l a c u r! Kamu akan aku jadikan PSK! Faham?!" sentaknya.
"Bawa gadis itu! Nani, dandani dia secantik mungkin!"
"Baik, Bu," sahut Nani.
"Jangan Bu, jangaaan, a-aku tidak suci lagi, Bu. Aku pernah diperkosa," kata Sea. Ia terpaksa jujur. Berharap bisa merubah pikiran si pemilik warung remang-remang ini.
"Aku tidak peduli! Kamu itu cantik! Nani, cepat bawa dia!" Sea kemudian diseret. Gadis itu meronta, namun apalah daya, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan mereka.
.
.
Sementara itu, di tempat yang sama, Yohan menepikan mobilnya. Setelah berkeliling dan tak mendapatkan petunjuk apapun, entah kenapa ia jadi tertarik untuk berhenti di sebuah warung yang pintunya sedikit terbuka.
Aneh saja pikirnya. Di saat warung di sekitarnya sudah tutup dan mematikan lampu, namun warung yang ini malah terbuka, dan lampu di dalamnya menyala.
Sebagai casanova, ia sudah mengenal istilah warung remang-remang, namun tentu saja tak pernah berkunjung ke tempat itu. Tiba-tiba muncul niat itu. Jadi penasaran dengan situasi yang terjadi di warung remang-remang.
Tidak, Yohan tidak ada niat untuk menyewa PSK, ia hanya ingin melihat-lihat saja.
Rupanya, setiap tamu yang datang telah dipantau melalui CCTV, mereka tahu jika di depan warung ada mangsa ataupun pemangsa.
Seseorang keluar dari warung, langsung menghampiri Yohan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang pria. Gaya marketingnya sangat bagus, ia begitu ramah dan sopan.
"Kebetulan sekali, warung ini masih buka?" tanya Yohan.
"Ya Tuan, kami menjual paha ayam dan dada ayam. Ada air juga," jelasnya sambil melirik mobil mewah milik Yohan yang mentereng.
"Oh, kebetulan sekali. Aku tidak mau paha atau dada ayam, hanya mau minum," kata Yohan sembari masuk ke dalam. Ia tahu benar istilah ayam itu.
"Baik, silahkan masuk, Tuan."
Pria itu mengiringi Yohan. Tangkapan besar pikirnya. Bibirnya menyeringai bahagia. Jarang-jarang ada pria berpenampilan mahal masuk ke warung mereka. Dari wajah dan mobilnya saja sudah bisa ditebak jika pria ini kaya-raya.
"Selamat datang Tuan," bu warung antusias, ia menyambut Yohan.
"Terima kasih," kata Yohan sambil melihat-lihat. Mata runcingnya bergulir kesana-kemari.
"Selamat malam Tuan," para ayam, eh maksudnya para wanita langsung mengelilingi. Dia tamu paling tampan dan terlihat mahal, mereka jelas terpikat.
"Maaf, aku hanya ingin minum, aku tak butuh ayam-ayam," tolak Yohan, mengibaskan tangannya agar ayam-ayam menjauh.
"Baik," mereka mundur, ibu warung mendekat.
"Saya baru pertama kalinya melihat Tuan. Tapi, wajah Anda sepertinya familiar. Maaf, malam ini, kami tidak punya ayam utuh. Ada sih, tapi keutuhannya diragukan. Tapi ayamnya sangat cantik, apa Tuan mau mencobanya?" tanya pemilik warung sambil meraih pundak Yohan dan memijatnya perlahan.
"Singkirkan tanganmu, kepalaku baru saja lepas jahitan," terang Yohan.
"Maaf, baik Tuan. Kalau Tuan tidak mau tidak apa-apa. Berarti saya akan menawarkan ayam cantik itu pada tamu yang lain," katanya.
"Ya, silahkan," tegas Yohan.
Dan Yohan tidak tahu, jika ayam cantik yang dimaksud ibu warung adalah ... Sea. Gadis yang sedang dicarinya.
...~Tbc~...
...Jangan lupa mampir ke karya nyai yang baru. Dijamin ketagihan dan penasaran. Tapi, harus kuat mental dan jantung ya. Ceritanya sangat menguras emosi. Perlu kesabaran dan keikhlasan saat membacanya. Terima kasih....
Salam rindu dari nyai. Di tempat nyai sedang hujan deras. Kalau ngopi, enak kayanya....
...🥰🥰🥰...