AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Tactics



"Pak Agam."


Linda berlari ke arah Agam, teramat kaget melihat kondisi suaminya. Segera memeriksa wajah Agam, tangan dan kakinya sambil menangis.


Kejahilan dokter Cepy berlanjut, karena melihat ringisan Agam kurang maksimal, ia mencubit kuat punggung Pak Dirut tanpa sepengetahuan Linda.


"Awh, awh ...." Agam mengaduh. Linda semakin panik.


"Apa yang sakit, Pak? Di mana lagi selain di kepala?" Linda pikir Agam kesakitan karena ia menyentuhnya. Padahal, Agam kesakitan karena ulah dokter Cepy.


"Pak Agam harus istirahat Bu, dia cidera karena insiden itu," jelas Vano.


"Besok pagi rencananya akan dipasang gips penyangga. Tulang panggul dan tulang rusuknya ada yang retak," tambah dokter Cepy.


Vano dan dokter Cepy seolah tak memberi kesempatan pada Pak Dirut untuk mengatakan apapun. Mereka menceritakan semua hal yang terjadi pada Agam dengan cerita yang sedikit berlebihan dan melenceng dari fakta yang diungkapkan oleh Enda, Maxim, maupun Yanyan.


"Pak Agam harus bedrest, dia mengalami luka dalam yang lumayan parah. Tidak bisa mandi sendiri, harus dimandikan, makannya juga harus bubur, tidak boleh makan yang keras-keras dulu," kata Vano.


Apa?! Perasaan dokter rumah sakit tidak mengatakan itu, batin Agam.


"Pak ... maafkan aku. Huuu .... Semua gara-gara aku, jadinya Pak Agam terluka seperti ini."


Linda menangis, meletakan kepalanya di pangkuan Agam, ia bersimpuh bertumpu pada lutut. Agam membelai rambut Linda. Vano dan dokter Cepy menahan tawa. Agam memicingkan mata, lalu menebaskan jari telunjuk ke lehernya. Yang berarti ancaman tegas untuk Vano dan dokter Cepy.


"Ya sudah Bu LB, mari kita ke dalam, kami lapar," ajak Vano.


"Ya, aku juga lapar," timpal dokter Cepy sambil menarik tangan Vano untuk menjauh dari Agam dan Linda. Sebagai orang yang berpengalaman, ia faham benar jika Agam dan Linda membutuhkan privasi.


"Dok, apa-apaan ini? Kenapa tanganku ditarik?" Vano belum faham.


"Ssstt, kamu mau selamanya mengerjai Pak Dirut? Walaupun kita sahabatnya, kalau terus mengesalkan, kita bisa dipecat Van," bisik dokter Cepy setelah menjauh dari Agam dan Linda.


"Oh, bilang dong dari tadi," Vano akhirnya faham.


.


.


"Sayang ... sudah ya, saya sebenarnya tidak kenapa-napa, mereka saja yang berlebihan." Agam menengadahkan dagu Linda, lalu menyeka airmatanya.


"Pak, kalau Bapak tidak apa-apa, mana mungkin pakai kursi roda, mana ada kepalanya diverban," protes Linda sambil menatap wajah suaminya.


"Saya mendapat jahitan di kepala sayang, tapi tidak perlu khawatir, ini hanya jahitan kecil. Oiya, Keivel tiba dengan selamat, kan?"


"Huuks, i-iya ta-tapi kenapa harus diantar dengan cara seperti itu? Kenapa Keivel didusin, Pak?" Linda menyeka air mata, berdiri, lalu mendorong kursi roda.


"Itu kamuflase El, nanti dokter Rita dan Ners Sinta juga mau didusin. Eh, maaf sayang, saya lupa, dokter Rita sepertinya tidak bisa ke sini dulu."


"Kenapa, Pak?"


"Dia masih di rumah sakit sayang. Emm, Hikam terluka parah."


"Apa?! Terluka? Tapi kondisinya tidak fatal, kan?" Linda khawatir.


"Hikam sudah sadar kok, saya akan bertanggung jawab, kamu tenang ya. Saya ingin bertemu Keivel, bawa saya ke kamar."


"Baik," jawab Linda.


"Emm, apa saya berat?"


Agam merasa tak nyaman didorong oleh Linda, ingin rasanya berjalan sendiri, tapi khawatir retakan pada tulangnya akan bertambah parah.


"Tidak Pak, tidak berat. Kan pakai kursi roda," kilah Linda.


"Hahaha, oiya ya, lagipula biasanya juga kan saya suka menindih kamu, dan seingat saya, kamu tidak pernah mengeluh." Entah apa maksud kalimat Pak Dirut, ia mengulum senyum. Linda langsung memukul bahu Agam.


"Tidak lucu," ejek Linda, kesal.


Saat melewati ruang makan, tampaklah Vano dan dokter Cepy. Mereka sedang menyantap apapun yang ada di meja.


"Gam, temanmu yang pakai masker itu siapa? Koki ya? Masakannya enak sekali," puji dokter Cepy.


"Saya tidak perlu menjelaskan identitas mereka, intinya mereka bukan koki, dan kalian jangan macam-macam," ancam Agam.


"Itu makanan pesanan, di sini tidak ada yang bisa memasak kecuali Pak Agam, tapikan Pak Agamnya sedang sakit," jelas Linda. Lanjut mendorong Agam, meninggalkan dokter Cepy dan Vano yang asyik mengunyah.


.


.


Setibanya di kamar, Agam langsung turun dari kursi roda, Linda menahannya, ia menopang tubuh Agam. Khawatir terjatuh pikirnya.


"El, saya bisa berjalan sendiri, tapi belum bisa berjalan seperti biasa. Untungnya, saya sedikit menguasai ilmu peringan tubuh, jadi saat jatuh ke aspal cideranya tidak fatal."


"Alhamdulillah, terima kasih sudah menyelamatkan Keivel," Linda memapah Agam. Agam mendekati Keivel yang masih terlelap.


"Sayang, kenapa Keivel tidur di karpet? Badannya bisa sakit-sakit, El."


"Pak, kalau aku tidurkan di kasur, terus ditinggalkan, khawatir Keivelnya jatuh." Linda tak mau disalahkan.


"Tapikan Keivel belum bisa tengkurap sayang," Pak Dirut protes lagi.


"Pak, aku hanya mencegah," Linda kukuh. Langsung cemberut. Melepas tangan Agam, Pak Dirut hampir goyah untungnya segera memegang sisi tempat tidur.


"Maaf," Linda menyadari kesalahannya. Segera memeluk Pak Dirut dari arah depan, karena Linda tahu yang retak adalah tulang rusuk suaminya.


Agam tersenyum, menyambut tubuh Linda dan mendekapnya.


"Kamu tidak ada salah sayang, kenapa meminta maaf terus? Oke, saya setuju Keivel tidur di bawah. Jadi kita bisa berbaring di atas ranjang tanpa Keivel. Maksud kamu begitu kan, El?"


"Kenapa jadi ke situ? Aku tidak terpikirkan bermesra-mesraan di hadapan Keivel," kilah Linda. Ia memalingkan wajah saat Agam hendak mencium pipinya.


Namun Pak Dirut menahan pipi Linda di kedua sisi. Linda tidak bisa menghindar lagi. Agam menciumi pipinya, lalu keningnya. Kemudian menatap tajam pada bibir Linda.


"Pak Agam, A-Anda sedang sakit, kan?"


"Benar," jawab Agam seraya menelusuri bibir Linda dengan jemarinya.


"Emm, ka-kata dokter Cepy ---." Linda tak jadi protes.


"Ssst, tulang rusuk saya memang sakit, tapi ... kamu kan bagian dari tulang rusuk saya. Emm, perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok. Jika saya berusaha meluruskannya, kamu akan patah. Tapi jika dibiarkan, kamu akan terus bengkok."


Pak Dirut memulai rayuan mautnya. Kepalanya sudah mendekat, sebentar lagi bibirnya akan berlabuh di sana. Linda mengerjapkan mata. Jadi ragu, pria di hadapannya ini beneran sakit tidak sih?


"Pak, dalam konteks itu, maknanya kaum laki-laki harus memperlakukan istrinya dengan lemah-lembut dan tidak tergesa-gesa, kan? Artinya, kalau aku ada kesalahan, Pak Agam harus memperbaikinya dengan perlahan-lahan."


Linda mengulur waktu, ia menahan bibir Agam dengan jarinya. Sebenarnya, Linda juga rindu, tapi untuk saat ini waktunya kurang tepat. Pak Dirut yang sudah menutup mata membuka kembali matanya.


"Sayang ... dengar ya, perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, bukan berarti bersifat jelek dan bukan bermakna sebuah kekurangan bagi seorang perempuan. Ini hanya masalah fungsi saja sayang. Maksudnya, laki-laki dan perempuan memiliki fungsi dan peran yang berbeda sesuai dengan kehendak penciptaan-Nya."


"Faktanya, anatomi tulang rusuk manusia normal terdiri dari 12 pasang, dan itu berlaku untuk pria maupun perempuan, tidak ada yang berkurang sepasangpun. Jadi, persoalan asal muasal wanita dari tulang rusuk, ini digolongkan sebagai perkara ahwalul ghaib," jelas Agam.


Serius, Agam tidak senang saat Linda menghalangi bibirnya. Namun cara Pak Dirut memarahi Linda terlihat sangat elegan dan tak biasa. Linda menyimak, mendengarkan petuah suaminya dengan tatapan kekaguman.


"Jadi, menurut saya, perempuan terbuat dari tulang rusuk itu memiliki makna kiasan. Bahasa sederhananya, perempuan itu laksana tulang rusuk, jadi saya ha ---."


Argumentasi Pak Dirut tercekal. Linda tergoda. Ia berjinjit dan meraihnya. Melihat bibir tipis yang merah alami itu terus bicara, Linda tak tahan jua. Hingga inisiatif memulainya tanpa permisi.


Pak Dirut menyambutnya dengan suka-cita. Ia memeluk pinggang Linda dan menahan tengkuknya agar pertautan itu kian mendalam. Lama-lama, Linda yang kewalahan. Beberapakali mencubit lengan Agam, namun Pak Dirut seolah tak ingin terlepas dari jalinan itu, sampai-sampai suara kecupan dan kecapan Pak Dirut membangunkan Keivel.


"Owhaaa ...."


Keivel bangun. Agam kaget, terpaksa melepas yang manis nan lembut itu dengan berat hati. Linda terengah-engah, bahkan terbatuk-batuk. Pak Dirut tersenyum puas, ia mencoba mendekati Keivel namun keburu meringis.


"Awhh ...." Ia memegang pinggangnya. Serius, ini bukan akting. Agam kesakitan.


"Pak, cepat berbaring," sebelum memangku Keivel, Linda terlebih dahulu membantu Agam membaringkan tubuhnya. Pipinya masih merona, bibirnya diusap berkali-kali, jujur tadi itu terasa ... nikmat.


"Makanya jangan banyak tingkah Pak, sudah tahu lagi sakit," oceh Linda sambil meraih Keivel ke pangkuannya.


"Bukan bertingkah sayang, saya hanya memberikan apa yang kamu mau. Siapa yang menyerang duluan? Kamu kan?" sangkalnya.


"Ya, aku yang salah," kata Linda, ia berlalu. Keluar dari kamar meninggalkan Agam.


"Sayang, mau kemana?" Agam terkejut.


"Bapak istirahat saja, aku mau membuat bubur."


"Membuat bubur? Kamu bisa? Yakin?" teriak Agam.


Serius, Pak Dirut ragu. Ia merasa selama ini tak pernah melihat Linda menyentuh peralatan memasak. Pernah sekali mencuci piring, itupun malah jadi malapetaka dan menyebabkan nona Aiza harus dirawat di rumah sakit.


"Sayang, jangan memaksakan diri, saya tidak perlu makan bubur, kita beli saja," Agam masih beteriak saat Linda menutup pintu kamar.


.


.


"Pak Vano, bisa jaga Keivel?" Linda menyodorkan Keivel pada Vano.


"Bi-bisa," Vano gelagapan. Mengambil Keivel dengan sedikit ragu. Dokter Cepy terkikik.


"Ada yang bisa aku bantu?" tawar dokter Cepy.


"Aku mau membuat bubur untuk Pak Agam, tapi aku belum pernah memasak." Linda jujur, sungguh ia sangat malu. Tertunduk, memainkan ujung bajunya.


"Hahaha, Anda artis, wajar kok tidak bisa juga. Jadi, mari aku bantu."


Dokter Cepy mengikuti Linda ke dapur sambil mencebikkan bibir pada Vano. Ia berpikir menang banyak. Bisa membantu idola memasak bubur, siapa sih yang tidak senang?


"Sana!" usir Vano sambil mencium pipi Keivel.


.


.


Setibanya di dapur, Linda langsung membuka YT untuk mempelajari tutorial membuat bubur. Bukannya membantu, dokter Cepy malah asyik memperhatikan LB.


"Anda sudah beristri, kan? Tolong jaga pandangan Anda!" tegas Linda.


"Maaf," kata dokter Cepy.


.


.


Sementara di ruang tengah, Vano mematung, ia keheranan saat merasakan pahanya hangat. Kehangatan itu mengalir dan merambah hingga ke celana bagian dalamnya.


"Tunggu, apa ini? Keivel, Paman kenapa ya? Eh? Haaa? Aaaa, tolooong," teriak Vano.


Sontak dokter Cepy dan Linda datang.


"Ada apa?!" Linda panik.


"Bu LB, aku diompoli Keivel. Aduh bagaimana ini? Kenapa Keivel tidak pakai pampers?"


"Oh," Linda terkikik.


"Maaf Pak Vano, tadi memang sengaja tidak aku pakaikan pampers."


"Kenapa?" Vano bertanya lagi.


"Ya mau saja, Pak. Aku tidak harus beralasan, kan?" kata Linda sambil mengambil Keivel untuk membersihkannya. Sementara Vano segera ke kamar tamu untuk berganti pakaian. Dokter Cepy tertawa puas.


Ternyata, semua interaksi di rumah ini terpantau oleh Agam melalui CCTV yang terkoneksi dengan ponselnya. Agam tersenyum melihat tontonan itu. Ia merasa terhibur.


Namun saat Linda dan dokter Cepy kembali ke dapur, batin Pak Dirut mulai panas. Ia memantau aktivitas Linda dengan bibir mencucu. Vano kembali jadi pengasuh setelah Keivel dipakaikan pampers.


Dan Pak Dirut kian tak tahan saat melihat kebersamaan Linda dan dokter Cepy. Padahal, posisi Linda dan dokter Cepy berjauhan.


"Awas kamu Cepy!" Dengan tertatih, Agam keluar kamar. Ia berjalan tanpa kursi roda.


.


.


"Diam kamu!" sentaknya. Lanjut berjalan tertatih menuju dapur.


"Cari mati kamu, Dok." Gumam Vano. Lalu menyusul ke dapur sambil membawa Keivel.


"El, cukup! Saya sudah bilang tidak perlu makan bubur, kan?!" Agam menarik tangan Linda yang sedang mencuci beras.


"Gam, tidak perlu cemburu. Demi Tuhan, aku hanya ingin membantu," jelas dokter Cepy.


"Saya tidak butuh penjelasan kamu Cepy!" Sambil menyeret Linda. Sepintas, Agam terlihat sembuh total dari cideranya.


"Bapak sedang sakit, aku mau belajar memasak," Linda berusaha menepis tangan Agam.


"El, saya tidak bertanya. Kamu diam! Oke?" bentaknya.


Ternyata, jika berurusan langsung dengan Linda, Pak Dirut tidak bisa ditolelir. Sekalipun itu pada Vano ataupun dokter Cepy. Saat Vano atau dokter Cepy mengatakan mengagumi Linda, Agam masih bisa bersabar, tapi saat melihat langsung LB berinteraksi dengan dokter Cepy, Pak Dirut langsung panas.


Dia pencemburu, batin Linda. Terpaksa patuh, mengikuti langkah Agam untuk kembali ke kamar.


"Vano, tolong kamu jaga dulu Keivel sampai Ners Sinta datang," kata Agam.


"Siap," sela dokter Cepy.


"Cepy, aku tidak bicara padamu! Aku tidak menyuruhmu! Kamu cepat pulang!" usirnya.


"Gam, aku harus memantau perkembangan tulang kamu, aku menginap di sini."


"Oke, tapi kamu tidur di gudang!" tegas Agam.


Disambut tawa Vano.


.


.


"Pak, kenapa berlebihan seperti itu? Sungguh, aku hanya mencintai Pak Agam." Setibanya di kamar Linda langsung protes.


"Cukup sayang, sekarang saya ada tugas untuk kamu. Mari kita serius," ajak Agam. Ia duduk perlahan di sofa. Linda membantu.


"Apa yang harus aku lakukan, Pak?"


"Kamu buat keterangan, nanti saya yang akan merekamnya. Katakan kalau kamu diculik oleh BRN."


"A-apa?! Kenapa aku harus mengatakan itu? Pak Agam menyuruhku berbohong?"


"Linda Berliana Brilliant, dengar ya. Keberadaan kamu di sini adalah tawanan saya. Saya sengaja menculik kamu untuk mengadu domba BRN dan polisi."


"Apa?! Maksudnya? Pak, aku sama sekali tak mengerti. Tindakan Bapak bisa dikategorikan kriminal. Kenapa Bapak berani sekali mengadu domba BRN dan polisi?"


"El, kalaupun saya jelaskan, kamu pasti tidak akan langsung mengerti. Intinya, saya sedang menjebak dalang utama yang ingin menghancurkan saya dan adik saya. Saya curiga orang yang menjahati saya ada di antara mereka. Lakukan untuk saya, El." Lalu menggigit jari telunjuk Linda.


"Ahhh, Pak Agam, kenapa harus gigit-gigit segala?" perotes Linda sambil meniupi jarinya.


"Karena saya marah, apa kamu masih ingat? Kalau kamu selingkuh, saya akan membunuh selingkuhan kamu."


"Tapi, Pak. Aku tidak selingkuh, jangan aneh-aneh deh," ketus Linda.


"Baik, maaf sayang. Jadi bagaimana? Kamu mau mengikuti perintah saya?" desaknya.


"Pak, terus bagaimana dengan kasus hukumku? Bukankah aku tersangka? Kalau tindakan Pak Agam terbongkar, apa ini tidak akan memperberat kasus hukumku?"


Linda bicara serius, ia menatap Agam. Yang ditatap, balik menatap. Sejenak mereka malah asyik berpandang-pandangan. Hingga keduanyapun tersenyum bersama.


"Ehmm," Pak Dirut berdeham.


"Sayang, kasus kamu itu dibuat-buat, mereka sengaja mengganggumu agar saya terusik. Mereka sulit menemukan celah untuk menjebloskan saya ke jeruji besi. Salah satu jalannya ya dengan mendapatkan kelemahan saya. Mereka tahu jika kelemahan saya ada di keluarga, termasuk di dalamnya ada kamu, ibu, Gama, dan Keivel. Begitu sayang, apa kamu faham?"


"Emm, begitu ya?" Linda menautkan alisnya. Jujur, ia takut.


"Tenang saja sayang, tidak perlu khawatir, saya melakukan ini tidak sendiri. Ada juga orang penting yang mengetahui kasus ini dan ada di pihak kita."


Linda berpikir keras. Ia masih ragu.


"Tidak apa-apa. Kalau kamu tidak setuju, saya tak masalah sayang. Saya tidak akan memaksa kamu, El." Agam bergeser, lalu memeluk Linda.


"Pak, jangan peluk-peluk dulu, Bapak kan lagi sakit," Linda tak nyaman, karena selain memeluk tangan Pak Dirut pun mulai berkelana.


Agam tak peduli, menjawab protes Linda dengan senyuman. Lalu berkata ....


"Saya akan tetap seperti ini sampai kamu memberikan keputusan."


"A-apa? Emm, apa dokter salah diagnosa?" tanya Linda.


"Maksud kamu?"


"Saya ragu kalau Pak Agam sedang sakit, jangan-jangan tulang Bapak tidak ada yang retak."


"Hahaha, kamu tidak percaya? Hasil rontgennya ada di dokter Cepy, kamu bisa mengeceknya sayang."


Linda terkesiap, apa yang dilakukan Agam justru membuatnya sulit berpikir.


"Pak, a-aku tidak bisa berpikir," keluh Linda.


"Oiya, El. Apa kamu ingat? Orang yang kamu wawancara secara rahasia itu salah satunya adalah tuan Gunatara dan papanya Yohan. Nah, Yohan meminta bantuan kita agar hasil wawancara kamu dengan papanya dibongkar ke publik."


"Ehm, aku ingat-ingat dulu."


"Yohan yakin kalau papanya tidak melakukan korupsi seorang diri. Ia tidak terima karena selama ini hanya papanya yang disudutkan dan dijadikan buronan interpol. Begitu cantik, jadi ... ada vidio lain yang harus kamu buat di tempat persembunyian ini. Kamu harus membeberkan seluruh fakta-fakta yang kamu ketahui saat wawancara itu. Jangan dikurangkan ataupun dilebihkan. Mau bekerja sama dengan saya?"


"Emm ...." Linda kembali bingung.


"Atau ... mau bercinta dengan saya?" tanya Pak Dirut.


"A-apa?" Linda mencubit Agam, suaminya ini benar-benar m e s u m.


"Makanya cepat beri saya keputusan, El. Atau ...."


"Atau apa lagi, hah? Ish, dasar laki-laki, sudah tahu lagi sakit!" ketus Linda. Tapi tak menolak ataupun menepis saat tangan nakal Pak Dirut semakin tak tahu diri.


"Hahaha, atau ... emm ... beri saya kenikmatan," bisik Agam.


"What's!" Linda mengerjapkan mata.


...❤...


...❤...


...❤...


Setelah melakukan kesepakatan dengan Agam Ben Buana, Yohan merasa sedikit lega. Setidaknya, ia bisa mengurangi reputasi buruk papanya, harapannya seperti itu. Sejahat apapun sang papa, di lubuk hatinya, ia tetap mencintai dan merindukannya.


Malam ini, pria yang berkulit sangat putih itu, tengah menelusuri pinggiran kota untuk mencari Sea. Kondisi pencahayaan di daerah ini tampak remang-remang, mata runcingnya terus beredar. Sementara batinnya terus diliputi kekhawatiran.


"Sea, kamu di mana?" gumamnya.


Lalu, apa yang terjadi pada Sea?


.


.


Malam ini, di sebuah warung yang terletak di pinggiran kota, Sea sedang merapikan dan mencuci peralatan makan. Jam delapan malam, warung ini akan tutup. Gadis itu teramat bahagia karena pemilik warung tiba-tiba menawarinya untuk bekerja tanpa syarat apapun.


Sea tentu saja tidak menolak, ia memang butuh pekerjaan untuk menyambung hidup. Di hari pertama bekerja, dan di malam pertama menginap di warung ini, Sea tidak menemukan keanehan, semuanya berjalan normal dan wajar.


Tapi, malam ini Sea bingung. Ia melihat warung kembali beroperasi. Padahal pintu masuk jelas-jelas telah ditutup. Sejenak Sea mematung, lalu memilih kembali ke kamarnya yang terletak di belakang warung, tepatnya di samping kamar mandi.


Dan saat ia melewati lorong kecil, ia tak sengaja mendengar pembicaraan pemilik warung.


"Aku yakin dia masih gadis, tapi kalaupun sudah tidak perawan, visual dia punya nilai jual. Dia cantik."


Deg, Sea kaget. Apa yang mereka bicarakan? Pikirnya. Walaupun ia yakin bukan membicarakan dirinya, tapi Sea penasaran, iapun lanjut menguping.


"Yang mana sih? Aku belum melihatnya." Terdengar suara pria dewasa.


"Itu lho yang tadi cuci piring dan mengelap meja, nah ini fotonya. Cantik, kan?"


Lagi, Sea terkejut. Alisnya bertemu. Ia sadar jika yang tadi mencuci piring dan mengelap meja hanya ia seorang diri. Sea langsung gemetar. Ia ketakutan dan tentu saja ingin segera melarikan diri dari tempat ini.


Sea mengendap, ia ke kamar untuk mengambil tasnya dan kabur. Airmatanya langsung bederai. Tak menyangka jika ibu warung yang ia kira tulus ternyata serigala berbulu domba.


Warung ini kemungkinan warung remang-remang yang bermodus warung makan. Ya Rabb, tolong aku, selamatkan aku. Jeritnya dalam hati.


Setelah mengambil tas, Sea kembali mengendap, ia bermaksud menyelinap. Jantungnya berdebar. Ia takut ketahuan. Sea semakin ketakutan kala ia mendengar sesuatu yang tak patut dari sebuah kamar yang ia lewati. Kemarin malam, kamar itu sepi, lampunyapun dimatikan. Tapi malam ini, kamarnya menyala dan terdengar aktivitas tidak senonoh sedang berlangsung di dalamnya. Terdengar rintihan dan erangan yang menjikkan.


Sea menutup telinga.


Tidaaak. Lutut Sea gemetar.


.


.


Pintu keluar yang ia maksud, ternyata terhalang oleh meja yang di isi beberapa orang pria dan wanita yang tengah mengobrol sambil merokok dan minum-minum.


Sea menunduk, ia kemudian berjongkok dan bersembunyi di bawah meja. Rencananya, akan menuju ke pintu keluar dengan cara merangkak.


"Sea," seseorang memanggilnya. Ternyata, gadis ini meperkenalkan dirinya sebagai Sea. Apakah Sea memang nama aslinya? Entahlah.


Jedug, jantung Sea terkejut. Ia menutup bibirnya sambil berdoa agar ia tidak ditemukan.


"Ku lihat, tadi dia ke kamarnya, Bu." Sahut seseorang.


"Coba kamu cari ke kamarnya," titah pemilik warung.


"Baik Bu."


Tidaaak, bagaimana ini? Sea dilema.


Terlebih saat ia menyadari jika pemilik warung mendekat ke arahnya, lalu duduk di kursi yang mejanya dijadikan tempat bersembunyi oleh Sea. Untungnya meja itu dilengkapi oleh taplak meja yang menjuntai, jadi untuk saat ini, belum ada yang tahu jika Sea ada di balik meja tersebut.


"Bu, Sea tidak ada di kamarnya, terus tasnya juga tidak ada, Bu." Orang yang disuruh mencarinya telah kembali dan melaporkan hasil penemuannya.


"Apa kamu bilang?! Jangan-jangan dia kabur! Cepat cari gadis itu! Cepaaat!" teriak pemilik warung sambil menggebrak meja.


'Brakk.'


"Haa ---." Sea yang terkejut segera menutup mulutnya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat.


"Tunggu, aku mendengar sesuatu," kata pemilik warung. Wanita yang berdandan modis itu mengernyitkan keningnya. Ia merasa mendengar sesuatu di dekatnya. Tapi, di mana ya?


"Mi-miawww ...." Sea terpaksa menirukan suara anak kucing saat tangan si pemilik warung hendak menyingkap taplak meja.


"Oh, kucing," guman pemilik warung. Ia tidak jadi menyingkap taplak meja.


"Huuhh ...." Sea bernapas lega, menelan saliva sambil mengusap dadanya.


Namun tiba-tiba ....


"Miawww," dari arah lain terdengar jua suara anak kucing yang sesungguhnya.


Dag, dig, dug. Mata Sea membulat sempurna.


...~Tbc~...


.......


.......


.......


...Jika berkenan, boleh mampir ke karya baru nyai, simpan di rak buku ya, terima kasih....