AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Fighter [Bagian 2]



Sementara di tempat lain, di waktu yang bersamaan, Vano, Pak Yudha dan Aiptu Joey telah berhasil menemukan jalan menuju titik lokasi atas bantuan tiga pelayan wanita yang mereka temui di area perbatasan perkebunan milik tuan Reynaldi dan jalan raya.


Info itu didapatkan setelah Aiptu Joey merasa curiga dengan keberadaan tiga orang wanita berpenampilan seksi di sisi jalan.


"Masa di tempat seperti ini ada SPG? Saya curiga, saya harus memeriksa mereka," kata Aiptu Joey pada saat itu.


Awalnya, yang akan dilakukan Aiptu Joey tidak mendapat persetujuan dari Vano dan Pak Yudha karena disinyalir dapat memperlambat misi menolong Agam dan Linda.


Namun setelah mereka mendekat dan melihat kejanggalan, yaitu salah satu dari wanita itu ada yang tertembak di bagian kaki, akhirnya Pak Yudha dan pengacara Vano sepakat dengan Aiptu Joey.


Mereka tidak menyangka jika kesepakatan itu akan membawa mereka ke jalan pintas menuju kediaman seseorang yang tak pernah diduga sebelummya.


"Biadab! Tuan Reynaldi benar-benar licik!" kata Vano yang saat ini menjadi pengemudi menggantikan Aiptu Joey. Aiptu Joey pindah ke mobil polisi intel yang kali ini berada di posisi depan.


"Berarti yang digosipkan selama ini benar. Dia merekrut karyawan wanita untuk dijadikan budak se-ksnya!" timpal Pak Yudha.


"Naudzubillah, pantas saja istrinya menggugat cerai," sahut Vano, kesal. Tangannya beberapa kali memukul setir.


'Ckiiit.'


Mobil polisi intel berhenti mendadak. Otomatis Vanopun mengerem mobilnya.


"Ada apa?!" teriak Vano. Melongokan kepala sambil sesekali menampar pipinya karena dikerubuti nyamuk.


"Ada mayat!" teriak anak buah Aiptu Joey. Dua orang turun untuk mengecek, ternyata masih hidup.


"Masih bernapas!" teriak yang mengecek.


"Uhhh," rintih pria bertubuh besar yang awalnya diduga sebagai mayat. Wajahnya tak terlihat karena tertutup darah. Ya, pria ini adalah pria yang sebelumnya diserang Agam.


"Angkut ke mobil!" teriak Aiptu Joey.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan. Namun sedikit terhambat karena kontur jalan yang bergelombang. Sepanjang perjalanan, pria yang ditolong itu terus mengaduh kesakitan.


...❤...


...❤...


...❤...


Mari kembali ke rumah Tuan Reynaldi.


Tuan Reynaldi menyeret Linda yang juga sudah berpenampilan toples untuk memperdaya Agam. Ya, setelah anak buahnya banyak yang tumbang bersimbah darah, ia memutuskan memakai cara ini.


Linda yang lemas hanya bisa pasrah, ia menatap nanar, sesekali menggigit bibirnya saat perasaan aneh menelisik tubuhnya.


Linda sadar jika pengaruh obat itu mulai mengusai raganya. Kepala Linda dipenuhi oleh berbagai adegan panasnya bersama Agam Ben Buana. Rasanya ingin bercinta dengan suaminya itu saat ini juga. Kepala Linda menengadah, bersandar pada dada Tuan Reynaldi.


"Menyerahlah! Atau istri cantikmu akan mati!" teriak Tuan Reynaldi sambil menekan moncong pistolnya tepat di dada Linda yang terekspose indah nan menantang.


Walaupun sebagian besar dadanya masih tertutup, namun kondisi Linda yang tampil bikini tentu saja membuat keindahan tubuhnya terpampang nyata.


"Sa-sayang ...."


Seketika itu juga tubuh Agam gemetar, ia menjatuhkan pisaunya sambil berlutut. Melihat kondisi Linda yang seperti itu Agam menduga jika istrinya telah dinodai.


Dunia Pak Dirut seakan gelap seketika. Mata Agam berkaca-kaca. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak dan menjadi suami yang tidak berguna karena tidak berhasil menjaga kehormatan Linda.


"Tangkap dia! Geledah tasnya! Buang seluruh senjatanya!" titah Tuan Reynaldi pada anak buahnya yang saat ini seluruhnya melongo sambil melelehkan air liur akibat melihat kemolekan dan kemilaunya tubuh seksi artis multitalenta Linda Berliana Brilliant alias LB.


"Mm-Maga, help me ...," lirih Linda.


Di alam setengah sadarnya, Linda melihat orang yang sangat ia rindukan. Linda mengira itu hanya mimpi. Belum sadar sepenuhnya jika Agam benar-benar ada di hadapannya.


Agam menyerah dan mengalah. Ia tidak mungkin membiarkan Linda mati. Ia pasrah saat anak buah Tuan Reynaldi mengambil pisau dan tasnya. Agam juga mematung saat tangannya diborgol.


Sementara tatapannya tetap fokus pada tubuh Linda yang saat ini menjadi tontonan seluruh pria yang ada di tempat itu. Hati Agam sakit dan rasa sakit ini benar-benar terasa menguliti sekujur tubuhnya.


Lucunya, yang kondisinya kritis akibat serangan Agampun terlihat membuka matanya perlahan demi melihat keindahan LB.


Demi Tuhan, Agam tak rela. Ia berjanji dalam dirinya akan membunuh Tuan Reynaldi atas penghinaan ini.


"Kenapa Anda tidak membunuh saya saja keparat?!" teriak Agam. Giginya gemeretak. Matanya memerah.


"Jika kamu berani begerak satu inci saja, maka dada indah ini akan meledak dan tidak akan kamu lihat lagi, hahaha," sambil mencium leher Linda dan meraba-raba.


"Tidaaak! Jangaaan! Anda akan mendapat balasan yang setimpal Reynaldi. Aaargh!"


Agam beteriak, ia hampir putus asa. Ya, kelemahan Pak Dirut salah satunya memang terletak pada Linda.


'Tes.' Air mata Agam menetes.


Hatinya hancur-lembur, berkeping-keping dan terluka parah. Tak menduga jika orang yang dulu ia hormati akan seiblis ini.


"Hahaha, menangislah sesukamu! Oiya istrimu sangat nikmat, aku merasakan sensasi bercinta dengan seorang gadis remaja. Dia bahkan berdarah-darah. Hahaha," akunya.


Sengaja berbohong demi memanasi dan menikam hati Agam lebih dalam lagi.


Linda yang tangannya terikat menggelengkan kepala. Refleks membantah pernyataan Tuan Reynaldi walau dirinya setengah sadar. Namun Linda tak mampu berkata-kata karena energinya sedang digunakan untuk berimajinasi.


Padahal, Tuan Reynaldi hanya mengeluarkan kalimat lelucon. Tapi bagi Agam, ucapan Tuan Reynaldi adalah fakta yang seharusnya hanya diketahui oleh dirinya.


"Dasar BEJAD! Kamu iblis berbentuk manusia!" teriak Agam.


Napasnya tersenggal, airmatanya kembali menetes. Bukan, bukan menetes lagi. Kali ini Pak Dirut menangis. Pipi Agam menempel ke lantai, bahunya bergerak karena tangisan itu. Ia ternyata bisa lemah juga saat orang yang dicintainya terluka atau tercampakkan.


"Cepat vidio! Momen langka, seorang Agam Ben Buana menangis bak seorang bocah! Hahaha." 


Tidak bisa dideskripsikan lagi bagaimana bahagianya perasaan Tuan Reynaldi saat ini. Hal yang ia nantikan tiba jua. Tinggal satu langkah lagi, maka seluruhnya akan tertuntaskan. Ia ingin merudapaksa Linda di hadapan Agam.


"Ikat dia ke tiang!" titahnya lagi.


"Baik Tuan."


"Yang merasa ingin balas dendam, silahkan! Rusak saja wajah tampannya dengan tinjuan kalian. Atau lukai saja dengan pisau, asalkan jangan sampai mati."


Lalu Linda membuka mata saat kesadarannya timbul, ia membeliak. Mata cantiknya melihat sang suami sedang dipersekusi.


"Pak Agam?! Lepaskan suamiku, Tuan! Tolong jangan sakiti dia!" teriak Linda, ia meronta.


"Diam kamu cantik!"


'Plak.' Tuan Reynaldi menampar pipi Linda hingga bibirnya kembali berdarah.


"Kurang ajar! Saya bersumpah akan membunuhmu Reynaldi!" Agam sesumbar.


Vano, di mana kalian?! Cepat datang please .... Batin Agam memohon.


Dan ....


'DOR.'


Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah luar.


"Vano? Aiptu Joey?" gumam Agam.


Semuanya terkejut.


"Sebagian cepat cek ke depan! Segera pastikan dari mana asal suara tembakan itu?!"


Tuan Reynaldi sedikit panik. Lalu ia membaringkan Linda yang kembali menggelinjang di atas lantai.


"Baik Tu ---."


"ANGKAT TANGAN! KALIAN SUDAH DIKEPUNG! SAYA POLISI!"


Aiptu Joey tiba, ia meloncat ke ruangan itu sambil mengokang senjata laras panjang. Disusul Vano yang menodongkan pistol dan Pak Yudha dengan pedang terhunus dan boomerangnya.


Alhamdullillah, Agam bersyukur.


Musuh teperangah, dan percayalah, Aiptu Joey, Vano dan Pak Yudhapun teperangah.


Kenapa demikian?


Ya karena mereka juga melihat mutiara indah itu tergeletak di lantai.


"Bu Linda?!" Seru Vano dan Pak Yudha. Aiptu Joey memalingkan wajah sambil menelan saliva.


"JANGAN MELIHAT ISTRIKU! ATAU KALIAN JUGA AKAN SAYA BUNUH!" teriak Agam.


"Maaf Pak, kami tak sengaja," ujar Vano.


"Ampun Pak."


Anak buah Tuan Reynaldi yang sebelumnya sudah terluka oleh Agam angkat tangan. Sisanya berlari ke belakang tubuh tuannya. Vano dan Aiptu Joey mengarahkan senjata pada Tuan Reynaldi.


Tuan Reynaldi mendekap Linda sambil mengarahkan pistolnya, kali ini ke kepala Linda.


'Swak swak swak!'


Tiba-tiba terdengar suara boomerang terbang. Semua mata tertuju pada benda itu.


Tanpa dikira oleh siapapun, Pak Yudha yang merasa menjadi orang paling bersalah atas diculiknya Linda menunjukkan keahliannya dalam menggunakan boomerang. Boomerang berbentuk zigzag itu melesat dan berputar menuju sasaran.


'CTAK!'


Boomerang itu menghantam kuat tangan tuan Reynaldi hingga pistolnya terjatuh. Semua orang kecuali Agam dan Linda melotot karena kagum.


Saat Tuan Reynaldi hendak mengambil kembali pistolnya. Kaki jenjang Linda menendang pistol tersebut hingga menjauh dan berhasil diambil oleh pengacara Vano.


"Sip, bagus sayang!" seru Agam.


Pria sembong itu, kini hanya tangan kosong. Segera mencekik Linda karena tak ada cara lain.


Sementara Aiptu Joey segera bermain dengan pistolnya, ia lari mendekati Agam untuk menembak gembok borgol.


'DOR.'


Borgol terlepas, raja rimbapun terbebas.


Lalu Aiptu Joey menyerang komplotan Tuan Reynaldi yang bersenjata dibantu oleh Vano dan Pak Yudha. Polisi intel sedang bertarung di ruangan lain. Terjadilah baku hantam dan baku tembak di ruangan itu.


Suasana jadi mencekam. Sabetan pedang Pak Yudha dan serangan boomerangnya membuat nyali musuh menciut. Hari ini, Pak Yudhalah top skornya.


.


"Lepaskan istriku!" Pak Dirut is back.


'BUGH.'


Agam menendang kepala Tuan Reynaldi dengan kekuatan penuh hingga Linda terlepas dan jatuh ke pelukan Agam. Agam menangkap Linda sambil menutupi tubuh seksi istrinya itu dengan baju hasil curian.


Tubuh Tuan Reynaldi berputar-putar. Ada jutaan bintang kejora di kepalanya. Telinganya berdenging dan mengeluarkan darah. Darah juga mengalir dari hidungnya. Matanyapun buta untuk sementara. Pandangan Tuan Reynaldi gelap-gulita.


WOW!!!


Semenyeramkan itu ternyata tendangan seorang 'Maga' alias 'Agam Ben Buana.'


MENGERIKAN!!!


"Hmm, Maga ...."


Linda yang sedang dipakaikan baju malah memaksa mencium bibir Agam. Obat itu bereaksi maksimal di waktu yang tepat dan pada orang yang tepat jua.


Agam menolak, ia menyeret pelan tubuh Linda untuk menjauh dari area itu.


"Sayang, tubuh kamu bekas pria lain, kamu harus divisum dulu sebelum bersuci. Maaf ya, ini gara-gara saya." Kembali mendekap Linda dengan mata yang berkaca-kaca.


Linda tak konsentrasi dengan ucapan Agam. Ia malah semakin menjadi. Memegang bagian tubuh Pak Dirut dengan gaya sensual, hingga mata Agam membelalak.


"El, cu-cukup! Tunggu di sini, saya akan membunuh si Reynaldi."


"Ja-jangan Pak ... emmh ... ja-jangan dibunuh."


Linda memeluk Agam dari belakang, tangannya menggerayang kesana-kemari.


"Harus sayang! Dia sudah menodai kamu! Saya harus membunuhnya!" sentak Agam.


"Ti-tidak Pak. Di-dia belum menodaiku."


"Sungguh?" Agam membalikan badan.


"De-demi Tuhan. Ma-mari buktikan kalau Anda tidak percaya, boleh lihat CCTV yang a-ada di mini bar i-itu, a-atau buktikan saja secara langsung," ajak Linda sembari menggigit bibirnya dengan wajah yang kian merona. Ia menggoda Agam dengan tatapan liar dan tangan nakalnya.


"Sa-sayang, ta-tapi kondisi saat ini sedang genting." Agam kebingungan.


Dia juga mau sih, tapi di mana akan melakukannya? Bagaimana cara beralasan pada Vano dan kawan-kawan?


"Umh ... please Maga ... a-aku mau ini. Please ...." Linda bahkan hendak melucuti penghalang di tubuhnya.


"El, sa-sadar sayang, ja-jangan membuka itu!" Agam menahan tangan Linda sambil memeluknya erat-erat.


.


"Pak Agam, LB kenapa?" Vano datang dengan napas yang masih memburu dan keringat bercucuran di leher dan pelipisnya.


"Dia terpengaruh obat. Mungkin dicekok sama si bajingan itu! Kenapa kamu ke sini? Yang lain bagaimana?"


"Saya hanya ingin memastikan Anda Dan LB baik-baik saja. Tenang Pak, semuanya terkendali. Mereka kalah. Tuan Reynaldi sudah diborgol."


"Saya harus segera pergi dari sini. Dia harus minum penawarnya. Nanti saya ke kantor polisi setelah Linda pulih. Saya harus bicara empat mata dengan si keparat itu!"


"Pak Agam, kenapa tidak gunakan tubuh Anda saja sebagai penawarnya? Kasihan LB, Pak. Kalau Bapak tidak mau, apa boleh kalau saya yang ---."


'Bugh.' Perut Vano langsung ditendang.


"Hahaha, maaf Pak. Saya bercanda. Mari saya tunjukkan kamar bagus untuk Anda. Saya tak sengaja melihatnya saat mengejar musuh." Vano berjalan cepat, Agam menyusul.


"Oya? Tapi Van, ini rumah orang lain." Sambil memangku tubuh Linda yang saat ini tengah meracau. Linda bergumaman tidak jelas sembari mengecupi leher Agam.


"Ini darurat, Pak. Cepat lakukan, nah ini kamarnya."


Agampun terpaksa membawa Linda masuk ke kamar itu. Matanya mengitari kamar tersebut.


"Emm, ya sudah. Kamarnya lumayan bagus, ada peredam suaranya juga." Membaringkan Linda.


"Hahaha, selamat bersenang-senang Pak Dirut, saya permisi."


Vano tersenyum, pipinya memerah, dan ia segera pergi setelah menyerahkan kunci kamar pada Agam. Agam lantas mengunci pintu.


"El? Sa-sabar sayang."


Agam terkejut karena saat ia berbalik Linda sudah ada di hadapannya.


Linda meluknya, memegang dasinya, dan menariknya ke atas kasur. Linda bahkan mendorong paksa tubuh Agam hingga jatuh terlentang. Lalu menindih tubuh Agam sambil memiting pinggang Agam dengan kakinya. Bibir Linda menyeringai, tersenyum licik.


"Sa-sayang? Eh eh, kenapa ini? Kamu jadi kuat sekali sayang," seru Agam saat Linda memaksa membuka bajunya dengan tidak sabaran.


'Plak.' Pak Dirut ditampar.


"Awh ... sa-sayang kk-kamu?" Agam jelas kaget.


"Diam kamu Agam Ben Buana! Dasar pria munafik! Aku akan membuktikan seberapa sucinya tubuh kamu jika dibanding dengan dosa-dosaku!" teriak Linda.


Deg, Pak Dirut mematung.


Kalimat yang diucapkan Linda mirip dengan kalimat yang ia ucapkan saat dulu memperkosa Linda.


"El, maafkan saya kalau yang saya ucapkan saat itu teramat melukai hati kamu."


"Diam kamu!" teriak Linda.


Ia mencekik leher Agam sambil menciumi bibir pria itu dengan gaya brutal dan memaksa. Agam ingat benar jika dulu ia juga melakukan hal ini pada Linda.


"A-aah, mmph, haa ---." Serius, Pak Dirut merasa sesak napas, tapi ia tak berani melakukan perlawanan.


"Silahkan perkosa saya sayang, lakukan semaumu, sesuka hatimu. Nikmatilah tubuhku sepuasmu," kata Agam saat Linda mencumbu tubuhnya.


"Aku akan menikmati dan menyiksa tubuhmu sampai kamu pingsan!" teriak Linda.


Agam menautkan alis sambil mengulum senyum. Sedang mengingat-ingat, apakah dulu ia juga mengatakan kalimat itu?


"Buktikan ucapanmu cantik, buat saya lemas dan pingsan," goda Agam seraya memejamkan mata, ia siap menerima segenap berkah dan kenikmatan ini dengan lapang dada.


"Aaargh," teriak Agam, saat Linda tiba-tiba menggigit sesuatu.


Dan Pak Dirut ingat benar jika dulu ia juga menggigit Linda di bagian itu. Agam mengatur napas, jika Linda benar-benar akan balas dendam, maka setelah ini, ia dipastikan akan digigit lagi.


"A-arrgh, El ... sa-sakit, ta-tapi silahkan lanjutkan sa-sayang."


Benar 'kan Agam digigit lagi? Tangan Pak Dirut mengerat pada bantal. Daun telinganya memerah. Mata sayunya terpejam dan terbuka lamban.


Apa yang sedang dilakukan Linda pada Agam? Entahlah.


...~Tbc~...


..."Yuk komen yuk! nyai sudah mengintai dua episode. Tega nian kalau tidak like, dan komen. Punten belum bisa up rutin. nyai ceritanya sedang sibuk. Terima kasih untuk yang sudah like, komen, vote, dan kasih hadiah. I love you all. "...