AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Pewaris Keempat



Sore itu dia berjalan menelusuri trotoar khusus penyandang disabilitas dengan langkah mantap.


Bibirnya yang tampak penuh dan sensual itu menyunggingkan senyumnya. Bahagia karena baru saja mendapatkan uang gajian hasil jerih payahnya bekerja di toko bunga.


Dialah gadis tuna netra itu. Ia sama sekali tidak mengetahui secara detail kedaan yang terjadi di sekitarnya. Tujuannya hanya satu. Segera tiba di rumah nenek dan memberikan uang gaji pertama pada neneknya.


Namun ia berhenti sejenak kala mendengar derap langkah kaki yang berasal dari arah belakang. Karena kekurangannya, ia ternyata memiliki kelebihan di indra pendengaran.


Secara otodidak, ia bisa membedakan bagaimana bunyi suara kaki penyandang tuna netra sepertinya dengan cara berjalan manusia normal.


Apa aku ada yang mengikuti? Batinnya bertanya.


Saat ia berhenti melangkah, langkah kaki itupun berhenti. Dan saat ia melanjutkan langkahnya, derap kaki itu terdengar kembali.


Ya Tuhan, s-siapa ya? Semoga bukan orang jahat, harapnya.


Kembali melanjutkan langkah dengan tangan sedikit gemetar. Tongkat yang ia pegang bahkan sempat terjatuh. Batinnya tidak tenang, jantungnya kian berdegup. Ditambah ada perasaan tidak enak yang mengganggu relung hatinya.


Bibirnya berkamit memanjatkan doa. Naasnya, ia tidak mendengar kebisingan lain yang berada di dekatnya kecuali langkah kaki itu.


Tiba-tiba seseorang merebut tasnya, ia jelas kaget, tapi berusaha memprtahankan.


"I-ini tasku, lepaskan!" teriaknya.


"Hei gadis buta! Lebih baik kamu serahkan saja tasmu!"


"K-kamu jambret? Tolong jangan mengambil uangku, ini gaji pertamaku, please ..." Masih bersikukuh dengan tasnya.


Ternyata yang mengikuti gadis itu memiliki itikad jahat. Mereka beraksi saat gadis itu melintasi jalur yang sepi dari lalu-lalang. Ada dua orang, satu berbadan besar, satu lagi tinggi dan kurus.


"Hei lihat! Dia cantik, ck ck ck, sepertinya mantap nih," ujar yang berbadan besar sambil menelan saliva.


"Benar juga," sahut temannya. Sambil memperhatikan area sekitar, jaga-jaga takut ada yang melintas.


"A-apa maksud kalian, hahh? Silahkan ambil uangku," gadis itu segera melepas tas dari genggamannya saat mendengar ucapan mereka.


Pikirnya, uang bisa dicari. Tapi tidak dengan kehormatan dan nyawa. Lalu melangkah tergesa berupaya meninggalkan penjambret tersebut.


"Hei, tidak semudah itu cantik," si kurus menahan tangannya.


"Kamu mau apa?! Lepas! Atau aku teriak!" bentaknya.


"Silahkan teriak cantik, tidak akan ada yang bisa menolongmu," kata si badan besar.


"Tolooong, tol ---."


Teriakan gadis itu langsung tercekal karena si badan besar sudah membekapnya dengan sapu tangan andalan yang mengandung obat bius.


"Salahmu berteriak gadis cacat!" katanya.


"Ayo kita nikmati tubuhnya, aku sering melihat dia, tapi baru kali ini memiliki kesempatan mendekatinya," ujar si kurus.


Mereka membawa gadis itu ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari area tersebut. Gadis itu dibawa entah kemana, yang tertinggal hanya tongkat tunanetranya, tergeletak di sisi jalan yang sepi.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, seorang pria misterius melintas di jalur itu. Akhir-akhir ini, sudah menjadi rutinitasnya setiap sore untuk pulang ke tempat rahasianya melalui arah ini. Dia akan memantau si gadis tuna netra sampai ke depan rumahnya.


Benar sekali, pria ini adalah Mister X. Ia menautkan alis dan melihat jam di tangan kanannya sebab yang dinanti tak kunjung melintas.


Aneh, pikirnya. Lalu menyusuri jalan tersebut dengan perasaan gundah-gulana.


Dan tibalah ia di jalur yang sepi. Terkejut tiada terkira saat melihat tongkat milik gadis itu tergeletak begitu saja.


Ia merasakan jantungnya memanas. Perasaan takut kehilangan kembali mencuat, kekasihnya yang terbunuh beberapa tahun silam kembali terlintas di benak. Membuatnya benar-benar menjadi pria lemah.


Darah segar itu ... darah yang mengalir dari kepala sang pujaan hati hingga bersimbah seolah tercermin lagi di depan matanya.


"Tidaaak."


Mister X bersimpuh. Memukul dadanya berulang. Mengambil tongkat itu dengan tangan gemetar.


"Kenapa ...?" Rengeknya.


Ingin sekali protes pada Yang Maha Kuasa, tapi ... ia tahu jika semua khendak-Nya selalu yang terbaik. Jikapun manusia melihatnya sebagai hal buruk.


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."


Mister X tahu benar akan ayat itu. Ia menghelas napas, menatap langit sore yang mulai kejinggaan. Ia berserah diri.


Apakah pria misterius ini seseorang yang religius? Entahlah.


Secepatnya langkah ia bergegas. Menuju ke sebuah bangunan rahasia, tongkat gadis itu digengam erat, lalu dalam hati ia berkata ....


Aku akan menyelamatkanmu, Quitta Senja Izora.


Ternyata, Mister telah mengetahui nama gadis itu


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Tu-Tuan Deanka?! No-Nona?!"


Agam membelalak, tubuh tegapnya bahkan mundur beberapa langkah karena tidak percaya dengan fakta yang ia lihat saat ini.


Ketika Agam hendak memasuki ruangannya, Deanka keluar membawa Aiza dengan penampilan yang luar biasa ....


Aneh.


Dan percayalah, keberadaan Agam sama sekali tidak dianggap oleh Deanka. Fokus Deanka hanya satu, membawa Aiza ke rumah sakit detik ini juga. Kalau bisa dalam sekejap sudah sampai.


"Pak Agam, huuu huuu tolong Pak, aku mau melahirkan."


Aiza yang dibawa lari menuju lift, jelas menyadari keberadaan Agam. Agam membelalak. Cepat tanggap sih, tapi tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.


"Apa Anda bilang?!"


Agam berusaha mengejar. Namun pintu lift segera tertutup rapat. Karena jam kerja sudah usai, suasana office area mulai sepi.


Agam turut panik, apa mungkin nona Aiza bisa melahirkan? Batinnya khawatir. Secara, Aiza itu mungil dan masih belia.


"Ini gara-gara kecerobohan Anda, Tuan. Awas saja kalau terjadi apa-apa pada Nona Aiza!" rutuknya sambil berjalan cepat menuju kamar kantor.


Dari penampilan Deanka dan Aiza, Agam yakin jika pasangan muda itu usai memadu kasih.


Pasti, pikirnya.


Benar saja, kan?


Di kamar itu Agam melihat pakaian terintern milik Deanka dan Aiza masih berserakan di lantai.


Agam memijat kepalanya. Lagi, ia harus melihat sisa-sisa gencatan senjata itu dengan mata kepalanya sendiri. Serius, ini membuatnya rindu pada si cantik nan seksi yang semalam telah memanjakan tubuhnya.


Aku merindukanmu, El.


Dengan gerakan cepat Agam merapikan pakaian Aiza dan Deanka sambil memalingkan wajah. Diiringi tawanya saat menyadari gaun Aiza, kaus kaki tanpa pasangan milik Deanka, dan celana panjangnya tergeletak begitu saja dan dilupakan empunya.


Di tengah suasana bingung itu Agam tertawa. Lalu berlari secepat kilat menyusul Deanka menggunakan tangga darurat menuju area parkir VVIP.


.


.


.


.


"Pak Agam," petugas yang berpapasan memberikan salam dan hormat.


Di parkiran VVIP, Agam justru melihat Pak Yudha dan Juan tengah asyik mengobrol.


"Pak Agam? Ada apa?"


Pak Yudha keheranan. Pun dengan Juan.


"Ya ampun, Pak Yudha dan Juan kok malah mengobrol, sih? Nona Aiza mau melahirkan," terang Agam sambil mengedarkan pandangan.


"APA?!" Juan memucat, Pak Yudha membisu.


"Pak Juaaan, Pak Juaaan," teriak seseorang.


Ternyata suara itu berasal dari beberapa orang petugas keamanan. Mereka terengah-engah dan panik.


Kedatangan petugas keamanan menyiratkan sesuatu.


"Bapak lihat tuan Deanka dan nona Aiza?" tanya Agam.


"Ya, Pak. Kami ke sini untuk menyampaikan itu." Mengatur napas, inhale, exhale.


"Lalu mereka di mana sekarang!" teriak Juan.


Saat Juan panik, raut wajah Juan malah seperti orang marah. Lengkaplah sudah kepanikan para petugas keamanan tersebut.


"Tu-tuan Deanka membawa nona Aiza naik taksi. Kami sudah berusaha mencegah dan menawarkan ambulance, ta-tapi ... Tuan Muda menolak, dan mengatakan ...."


"Apa kalian bodoh! Aku tidak punya banyak waktu!"


Dengan ketakutan petugas keamanan itu menirukan ucapan Deanka. Berarti, dari lantai 88, Deanka langsung ke lobi dan memesan taksi. Tidak ke parkiran untuk meminta bantuan pada Juan. Agam salah menduga.


"Ayo kita susul sekarang!" ucap Agam sambil melempar tas pribadi milik Deanka pada Juan.


"Juan, cepat hubungi Tuan Besar dan Nyonya Besar!" titah Agam sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Pak Yudha.


"Siap, Pak Dirut," tegas Juan.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Pak, cepat dong!!" teriak Deanka seraya memeluk Aiza yang tersimpan lemah di pangkuannya.


Keringat Aiza bercucuran menahan rasa sakit yang teramat sangat. Airmatanya terus terurai walau tanpa isakan. Bibirnya sudah merah dan bengkak karena sedari tadi digigitnya acap kali kontraksi datang menyerang.


"Ba-baik, Tuan ...."


Pengemudi taksi gemetar. Ia tahu benar identitas penumpangnya. Mimpi apa semalam, pikirnya. Sekelas sultan, kok bisa istrinya mau lahiran hanya naik taksi, tanpa pengawal dan dengan penampilan yang aneh pula.


"Mau ke rumah sakit mana, Tuan?"


"The Number One, Pak! Cepaaat!" teriaknya lagi.


"Kak ... hmm ... enghh ... ke-kenapa harus ke sana? Ke yang paling dekat saja, sayang ... a-aku tidak kuat, Kak ...."


Aiza memeluk erat bahu Deanka, mencengkram erat, bahkan menancapkan kukunya. Ini teramat sakit. Padahal, Aiza telah banyak belajar mengenai ilmu manajemen nyeri dan cara menghadapi kontraksi.


Tapi faktanya ia tidak mampu mempraktikannya. Sudah mencoba tarik napas buang napas, tapi ... sia-sia.


"Baby, aku mau rumah sakit yang termahal dan terbaik. Lagipula di sana ada dokter Fatimah," kata Deanka.


"Kak ... please ... aku tidak tahaaan ...."


Tibalah mobil taksi itu di persimpangan. Pak supir terjerembab.


"Jadi, mau ke rumah sakit mana, Tuan?"


"Pak! Aku tidak berniat mengulang kalimatku! Cepaaat!!" bentak Deanka. Lagipula tidak terlalu jauh, Deanka berpikir seperti itu.


"Huuu ... Kak Dean jahat! Kak Dean tidak merasakan sih sakitnya! Ini sakit, tahu. Ibuuu, ayaaah, huuu ... huuuks."


Aiza memukul-mukul dada Deanka. Deanka pasrah.


"Baby, lebih baik jauh sedikit tapi fasilitas di sana super lengkap. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau tiba-tiba kamu ada kegawatan, fasilitas di sana lebih lengkap. Ingat Za, The Number One itu rumah sakit rujukan nomor satu di negara ini. Tolong sabar ya?" Sambil menatap Aiza, sementara tangannya sibuk menyeka keringat di pelipis Aiza.


"Huuu ... Ibu ...." Rintih Aiza. Lalu meraih tangan Deanka dan menggigitnya kuat-kuat.


"AAARGH," teriak Deanka. Kesakitan.


Pak supir sampai terlonjak. Menambah kecepatan sambil berdoa agar mereka tiba di tujuan dengan selamat sentosa, damai sejahtera. Aamiin.


"Baby, kamu menggigitku."


"Sakit, sakit, sakiiit, aaa."


Teriakan Aiza membuat Deanka kian panik.


"Kita SC saja ya baby."


"Tidak, Kak! Aku mau lahir normal, huuwwaa."


"Kamu bisa tahan? Kata ibukan semakin lama semakin sakit."


"Ya ampun baby, hatimu sungguh mulia."


Deanka menciumi wajah Aiza. Karena mulasnya hilang sesaat, Aiza juga pasrah.


Ia menikmati cumbuan Deanka. Dan ketahuilah, dalam hal ini, Deanka selalu saja tidak dapat dipercaya. Yang awalnya hanya mengecup kelopak mata dan pipi Aiza, kini beralih pada yang mungil dan berwarna merah delima.


Aizapun menyambutnya, sentuhan lekat dan pagutan di bagian ini ternyata bisa membuatnya sedikit rileks.


Tapi, Pak Supir yang tidak rileks. Ingin tidak terpengaruh, tapi sulit. Akhirnya, pura-pura tidak melihat.


Deanka yang merasa mendapat ruang, langsung menggila. Suaranya memanaskan telinga Pak Supir, jelas sekali jika itu bukan kecupan sayang, melainkan kecupan napsu. Ya, Deanka memang bernapsu.


Kenapa?


Karena aktivitas yang tadi terjadi di kamar belum tertuntaskan. Dan rintihan tak biasa dari bibir Aiza, membuat Deanka kian berhasrat.


Fix, ia sah menjadi bagian dari keluarga Haiden yang terkenal sebagai ... m a n i a k.


Syukurlah, kontraksi menyerang lagi. Kegiatan itu terhenti karena Aiza menggigit bibir Deanka.


"Awhh, baby, sakiiit." Mengusap bibir sensualnya.


"Tapi tidak akan sesakit yang aku rasakan, Kak! Huuu huuu." Sekarang menjambak rambut Deanka.


"Kalau bisa, aku juga inginnya menggantikan rasa sakit kamu, Za."


"Kak Dean pasti tidak akan kuat! Hanya wanita yang kuat!" sergah Aiza.


"Terserah kamu, Za. Silahkan lakukan apapun semaumu," katanya.


"Huuu ... huuu ...." Kini menangis meraung-raung.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Ya ampun X, kamu kemana sih?"


Agam panik, ia menghubungi Mister X tapi tidak terhubung.


Maksudnya, ingin melacak cip Deanka untuk mengetahui keberadaannya. Ia, Pak Yudha, dan Juan sudah berada di IGD rumah sakit terdekat. Namun saat di konfirmasi, Deanka dan Aiza tidak ada di sini.


Kepanikan pun terjadi pada Tuan Bahir dan Nyonya Nara. Saat ini, rombongan dari rumah utama telah tiba di rumah sakit di mana Agam berada.


"Ke-kenapa Deanka ti-tidak ba-bawa po-ponsel, sih?" kata Tuan Bahir, tangan kanan sibuk menelepon, tangan kiri menggenggam erat tangan Nara.


Nara tengah hamil muda, Tuan Bahir begitu posesif dan overprotektif. Mendengar Aiza akan melahirkan, ia langsung mengerahankan kaki tangannya untuk pergi ke rumah sakit bersama-sama.


Tak lupa mensomasi seluruh media untuk tidak meliput apapun yang berhubungan dengan kelahiran cucunya. Ia tidak mau privasi keluarganya terganggu.


"Tuan Besar, Tuan Muda membawa nona Aiza ke rumah sakit The Number One, saya baru saja dapat informasi dari dokter Fatimah," terang Agam. Wajah tampannya mulai sumringah. Merasa lega karena Aiza sudah berada di tempat yang semestinya.


"Aiza dan Deanka sudah tiba di rumah sakit? Syukurlah, ayo semuanya kita ke sana," ajak Nara.


"Siap." Para pengawal siaga.


.


.


.


.


Kini, jalanan pusat kota yang menuju rumah sakit The Number One tampak spesial. Mobil lain yang melintas selain menuju rumah sakit telah dialihkan ke jalur lain.


Jalur itu hanya diperuntukkan untuk rombongan Tuan Bahir dan keluarga besarnya. Mereka akan menyambut kelahiran sang pewaris generasi keempat pemilik kerajaan bisnis Haiden Group Corporation.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Ayo baby, semangat, atau operasi saja ya?"


Deanka hampir putus asa. Pembukaan sudah lengkap dari satu jam yang lalu, namun kepala malaikat kecilnya belum turun.


Aiza bermandikan peluh. Bidan sudah beberapa kali mengganti bajunya.


Aiza telah berjuang mengedan selama satu jam. Rambut Deanka kusut tidak karuan, tapi tetap saja tampan. Terdapat banyak bekas cakaran di leher dan pergelengan tangan Deanka.


Infus terpasang di tangan Aiza, ditambah dengan batuan oksigen canul.


Aiza didampingi Deanka dan Nara. Deanka memegang tangan kanan Aiza. Sedangkan Nara, ibunda Aiza, ada di sebelah kiri.


Tuan Bahir menunggu di depan ruangan bersama orang-orang kepercayaannya. Agam Ben Buana, Pak Barata, dan Juan.


Tuan Bahir awalnya ingin mendampingi, namun melihat kepayahan Aiza, ia tidak sanggup dan hampir pingsan. Tuan Bahir jadi membayangkan bagaimana menderitanya Nara saat melahirkan Aiza.


Deanka dan keluarga besar sudah menyarankan untuk operasi. Namun tekad Aiza begitu bulat. Selama kondisi bayinya masih memungkinkan, ia tetap bersikukuh ingin lahir normal.


.


.


.


.


"Dokter Fatimah! Anda bisa dipercaya tidak sih?! Cepat lakukan sesuatu!" teriak Deanka.


Dokter Fatimah hanya tersenyum. Sedari dulu, ia sudah merasa kurang waras setelah memutuskan bekerja di keluarga Haiden. Bentakan dan teriakan Deanka, ia anggap sebagai angin lalu.


"Sabar Tuan, masih ada waktu satu jam lagi. Proses kelahiran itu alamiah, kita tidak boleh melakukan modifikasi tindakan tanpa ada alasan medis. Nona Aiza dan bayinya dalam keadaan sehat. Hanya kurang power saja," jelas dokter Fatimah.


Di ruangan itu ada dua orang dokter kandungan termasuk dokter Fatimah, dua orang bidan, dan seorang dokter umum.


"Dok, a-aku mau mengedan lagi," ucap Aiza, lirih. Bibirnya pecah karena sering digigit.


"Ayo Nona, semangat ya, jangan lupa sebut nama-Nya. Karena Dialah sumber dari segala sumber kekuatan."


Dokter Fatimah terus memotivasi, dalam batinnya, ia sedang berpikir untuk melakukan tindakan lain jika dalam satu jam ke depan bayi tidak lahir.


"Henggh ... henggh ...." Belum berhasil.


"Ibu ... ma-maafkan Aiza ya Bu .... S-saat Ibu melahirkan a-aku, Ibu pasti kesakitan."


Air mata Aiza menganak sungai. Narapun demikian, Nara tidak banyak bicara, ia hanya bisa menangis dan berdoa.


Dari awal, ia memang risih dengan kehamilan Aiza. Bukannya tidak menginginkan seorang cucu. Tapi, menurut Nara, Aiza masih terlalu belia untuk menjadi seorang Ibu.


"Baby ... maafkan aku, ini gara-gara aku. Huuu ...." Bukannya menguatkan, Deanka malah menangis.


Oiya, penampilan Deanka telah berubah. Percayalah, yang melihat penampilan Deanka tidak banyak. Hanya dokter Fatimah dan staf khusus.


Kenapa?


Karena Deanka mendapat layanan kelas eksekutif. IGD eksekutif terpisah dari IGD umum.


Beberapa jam yang lalu, saat Aiza dipersiapkan di ruang bersalin, Deanka baru menyadari kelalaiannya. Ia begitu malu dengan penampilannya.


Atas perintah Deanka, dokter Fatimah menyuruh salah satu stafnya membeli baju baru untuk Deanka.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


Satu setengah jam berlalu, semua panik. Agam juga ikut mundar-mandir tanpa tujuan. Kursi yang tersedia hanya aksekoris. Tidak ada yang duduk di kursi tunggu. Semuanya berkeliaran bak anai-anai.


"Bagaimana, Dok?"


Lagi, Deanka bertanya sambil memeluk tubuh dan menciumi tengkuk Aiza.


Posisi saat ini, Deanka naik ke bed partus (tempat tidur khusus melahirkan). Sementara tubuh atau tepatnya punggung Aiza bersandar pada dada Deanka. Posisi yang sangat romantis.


"I love you, aku tidak akan menghianatimu, baby. Aku akan mencintaimu, selamanya," bisik Deanka sembari menciumi telinga Aiza.


Aiza memejamkan, sedang merasakan perdetik rasa sakit itu.


"Punggungku sakit sekali Dok ...," rintihnya.


"Nona Aiza sangat hebat. Ya Nona, memang pasti sakit. Saat proses melahirkan, ada pergeseran pada tulang panggul dan punggung, jadi sakitnya ya seperti patah tulang."


"Selain itu, tubuh juga memerlukan banyak usaha dan pergerakan yang tidak biasa. Nah, kondisi-kondisi tersebutlah yang membuat melahirkan terasa sangat sakit," jelas dokter Fatimah.


"Kepala bayinya sudah di depan, Tuan. Sudah terlihat, rambutnya lebat sekali. Tapi ...."


"Tapi apa?" Deanka gusar.


"Sepertinya harus dilakukan episiotomi."


"Apa?! Jangan, Dok. Kumohooon, jangan merusaknya," kata Deanka.


Dokter Fatimah dan tim medis menahan senyum, Nara dan Aiza diam saja.


"Hahaha, Tuan Muda, episiotomi adalah sebuah irisan bedah melalui p e r i n e u m yang dilakukan untuk memperlebar jalan lahir. Tujannya ya untuk membantu proses kelahiran bayi."


"Milik Nona, emm ... bisa dikatakan masih kuncup. Hahaha, jadi terpaksa harus di*e*pisiotom**i**, istilah awamnya digunting. Bagaimana? Anda setuju, kan?"


"A-aku setuju, Dok," kata Aiza. Nara juga mengangguk pelan, tanda setuju.


"A-apa?! Tidak, Dok! Tidak mau! Baby, operasi saja, ya? Aku tidak mau milikmu yang indah jadi terluka," bantah Deanka.


"Hahaha." Tim medis tidak bisa menahan tawa lagi.


Masih berpikir kesitu? Ya ampun, keluarga Haiden memang maniak. Batin dokter umum.


"Nanti saya repaired lagi, Tuan. Akan kembali cantik, kok. Jika Anda menginginkannya, saya bahkan bisa menjadikannya virgin kembali," jelas dokter Fatimah.


"A-apa?!"


Deanka melongo, pun dengan Nara. Aiza tak berkomentar apapun. Ia kembali meneran, tapi ... masih gagal.


"Jaman sekarang apa sih yang tidak bisa dimodifikasi, Tuan? Jika bentuk wajah yang rumit saja bisa dilakukan bedah plastik untuk dipercantik, maka ... emm ... (bla, bla, bla)." Dokter Fatimah menjelaskannya.


Deanka menyimak dengan seksama. Hingga di sepuluh menit batas waktu dua jam, Deanka berkata ....


"Baik, lakukan yang terbaik, Dok. Tapi ... setelah ini, lakukan tindakan itu. Aku mau emm ... itu. Emm ..., virgin," kata Deanka, dengan suara pelan.


"Siap, Tuan," kata dokter Fatimah.


Dasar anak muda, batin Nara.


"Kamu setuju kan, baby?" bisik Deanka.


Aiza tidak mampu menjawab, terlalu kesakitan. Untuk berbicarapun rasanya malas. Ia menatap mata Deanka, lalu mengangguk pelan, dan tersenyum. Artinya, Aiza juga setuju.


Ya ampun, Za. Rupanya kamu sudah terkontaminasi oleh Tuan Deanka. Batin Nara.


Uang, uang, uang, uang. Angan dokter Fatimah.


'KREK.'


Suara gunting terdengar jelas. Bersinergi dengan teriakan panjang Aiza Bahira.


"Mengedan, Nona! Sekarang!" teriak dokter Fatimah.


Dan ....


"Henghhh ...."


Aiza menghabiskan sisa-sisa tenaganya. Deanka dan Nara memejamkan mata.


Lalu ....


"O aaa o aaa o aaa ...."


Tangisan pertama pewaris generasi keempat Haiden Group Corporation, terdengar jua, memenuhi ruangan. Bahkan terdengar hingga ke bagian depan.


Alhamdulilaah ....


Ucapan syukur menggema.


Dan di depan ruangan bersalin khusus para triliuner itu, Tuan Bahir melakukan sujud syukur seraya berurai air mata.


Agam dan Pak Barata menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Mengusap wajah yang lelah menanti, menyambut kebahagiaan dengan suka cita.


Selamat datang di dunia fana, Macil. Bersiaplah untuk mengarungi bahtera kehidupan yang penuh dengan tipu daya ini.