AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Keputusan Seorang Ayah [Visual]



Linda berjalan cepat menuju kamar klinik. Hatinya gundah diselimuti rasa bersalah. Tuan Deanka telah menjelaskan penyebab sakitnya Agam.


Linda tidak menyangka jika Agam rela mengundurkan diri dari BRN demi dirinya. Padahal, menjadi anggota BRN adalah kebanggaan dan mungkin menjadi impian sebagian orang karena gaji yang ditawarkan sangat fantastik.


"Agam melakukannya demi kamu. Dia ingin mengungkap hubungannya dengan kamu ke publik. Dia tulus, tapi sayang kamunya bodoh dan membuatnya tersudut."


"Maksud Anda apa, Tuan? Kenapa Anda menyalahkan aku? Siapa yang tersudutkan?"


Saat itu Linda tentu saja tidak terima.


"Saat kamu didemo, harusnya kamu jangan mengatakan pada publik kalau diperkosa. Kenapa tidak bilang saja kamu dan si pria dijebak? Percuma kamu mengatakan kamu diperkosa karena telah memfitnah pemerkosa kamu, pernyataan itu sebenarnya kurang masuk akal."


"Dalam hal ini tindakan Agam tetap saja salah. Dan saat elit BRN mengetahui fakta anggotanya sudah memperkosa maka nasib suamimu dipertaruhkan."


Saat itu Linda terkejut dan hanya bisa menunduk.


"Sebenarnya jika merunut semua pernyataan kamu dan kedekatan kamu dengan Agam, ketua BRN mungkin sudah bisa menyimpulkan siapa laki-laki yang mengambil kehormatan kamu.


"Kenapa ketua BRN bisa tahu?" sela Linda pada saat itu.


"Linda, dengar ya, kamu jangan pura-pura bodoh. Setiap anggota BRN pastinya akan selalu diawasi gerak-geriknya. Anggota BRN bahkan ditanam cip pelacak dan pemidai di tubuhnya. Hanya saja, Agam Ben Buana bukan anggota biasa. Dia pandai menyimpan rahasia. Aktivitas pribadi dia bukan hal yang mudah untuk dilacak."


"Tapi, ketua BRN juga bukan orang sembarangan. Kamu tahu dokter kepala yang menangani Agam? Nah, dia adalah kaki tangan ketua BRN."


"A-apa?" Linda terkejut.


"Ya, jadi keberadaan kamu di sisi Agam pasti sudah terendus. Untungnya, Agam itu anak emas. Ketua BRN sangat menyayangi Agam. Aku yakin sejauh ini, ketua BRN tetap melindungi Agam walaupun dia tahu Agam telah melanggar janji Mohlimo atau Malima."


"Janji apa? Mohlimo?"


"Tidak perlu aku jelaskan. Intinya, cepat atau lambat, Agam akan menghadapi sidang etik, dan mau tidak mau tindakan asusilanya terhadapmu akan diketahui juga oleh publik."


Linda mengingat dengan baik semua hal yang dikatakan Deanka. Selain itu, ia dan Deanka sempat terlibat pertengkaran. Linda spontanitas membeberkan informasi pada Deanka tentang BRN dan keterlibatan tuan Bahir Finley Haiden yang berperan penting dalam merekrut Agam Ben Buana. Dalam hal ini, Linda menyalahkan mertua atau ayah angkat tuan Deanka.


Kenapa Linda bisa tahu?


Sebuah pertanyaan yang masih menjadi misteri dari sosok cantik nan seksi, Linda Berliana Briliant.


.


.


.


.


"Assalamu'alaikuum," ucap Linda sebelum masuk ke kamar perawatan di mana Agam berada. Ia mengucap salam setelah menekan bel.


"Wa'alaikumussalaam," sebuah jawaban hangat terlontar dari dalam bersamaan dengan terbukanya pintu. Lalu keluarlah sosok pria yang didambanya.


Linda kaget karena Agam cepat-cepat menarik tangannya, menutup dan mengunci pintu, lalu memeluknya erat.


"Pak, aku sesak," keluh Linda.


"Saya rindu, kenapa lama sekali perginya, hmm?" Masih medekap Linda, sambil menciumi puncak kepalanya.


"Lama? Perasan hanya sejaman, Pak. Ti-tidak lama," sanggahnya.


Linda berusaha melepaskan diri tapi tidak bisa. Sekarang Agam sudah menghimpitnya di antara dinding. Dada pria itu menempel pada dada Linda. Syukurlah, karena perut Linda sudah membesar, jadi ... yang bisa menempel hanya dada Agam.


"Pak Agam emm ... ma-mau apa?"


"Mau kamu lah," godanya.


"Pak ... kata dokter kepala juga harus banyak istirahat, jangan begini ah. Takut kambuh lagi." Linda mendorong perlahan dada suaminya.


"Tidak boleh menolak lho, El. Saya yakin sekarang tidak akan kambuh lagi," katanya. Lalu menciumi pipi Linda bertubi-tubi. Di bagian bibir Linda dilewatkan untuk mencegah hal-hal yang diinginkan.


Padahal baru berpisah satu jam, namun sepertinya Pak Dirut merasa jika hari ini ia baru bisa leluasa mengutarakan perasaannya pada Linda karena infusnya telah dilepas.


"Pak Agam cukup ...."


"Baiklah, sekarang saya mau menyapa calon bayi kita."


Seperti biasa, Agam berlutut, menyingkap perlahan gaun Linda dan mengutarakan rindunya. Setelah puas, ia berdiri lagi, dan kembali memeluk Linda.


"Hmm, semoga saya diberikan kesabaran," ucapnya.


"Aamiin," sahut Linda.


Jujur, Linda juga mengaminkan kesabaran untuk dirinya pribadi. Sebab faktanya, iapun merindukan moment itu. Siap sih yang tidak terpikat dengan pesona Pak Dirut?


.


.


.


.


Kita mau pulang sekarang?" tanya Linda saat melihat Pak Yudha merapikan barang-barang milik Agam.


"Iya sayang, tadinya mau istirahat di rumah kita yang ada di sini. Tapi ada hal penting yang harus segera diselesaikan," terang Agam.


"HGC?" duga Linda.


"Bukan sayang, ini masalah Gama."


"Kenapa? Apa di sekolahnya ada masalah?" Linda penasaran.


"Sekolahnya baik-baik saja, nanti saya jelaskan," ucap Agam.


Agam sedang mengacingkan bajunya, dan Linda membantu. Mata Agam tidak berpaling. Ia menatap intens pada Linda. Kemungkinan ingin menyambar kembali bibir merah istrinya. Namun sayangnya ada Pak Yudha.


Sebelum meninggalkan rumah megah itu, Agam dan Deanka terlihat berbicara empat mata di ruang kerja Deanka.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Siapa kamu?! Aku tidak mengenal Anda!" teriak Ayah Berli pada pria yang ada di hadapannya.


"Pak, saya bukan orang jahat. Saya mantan bosnya Linda," ucap pria itu sambil tersenyum.


"Mantan bos putriku?"


"Iya, Pak. Sebenarnya saya dan Anda pernah bertemu, mungkin Anda sudah lupa," jawabnya sembari memeriksa beberapa dokumen di tangannya.


Ayah Berli merenung, mencoba mengingat-ingat.


"Apa Anda kepala bagian penyiaran TV KITA?"


"Hahaha, tepat sekali. Saya bukan penculik. Tidak perlu takut atau panik. Lihatlah fasilitas yang ada di sini, semuanya mewah. Saya menyediakannya untuk Anda sebagai ungkapan terima kasih karena selama bekerja di TV KITA kinerja LB sangat luar biasa."


Ayah Berli terkejut. Ya, kini ia ingat jika wajah itu pernah dilihatnya. Namun Ayah Berli lupa dengan nama pria itu.


"Apa yang Anda mau?" tanya Ayah Berli.


"Data liput? Data apa? Kenapa data itu ada pada anakku?"


"Pak, saat masih aktif jadi penyiar berita, LB pernah saya tugaskan untuk mewawancara seseorang yang sangat penting. Rekamannya belum saya terima, tapi LB sudah terlanjur menghilang dan mengundurkan diri."


"Saya memiliki kesulitan untuk menemukan LB dan berkomunikasi dengannya. Dan karena bantuan seseorang, saya jadi tahu jika LB berada bersama dengan Dirut HGC, dan mereka kumpul kebo. Apa benar?"


"Apa?! Jaga ucapan Anda! Anakku tidak kumpul kebo. Oh, jadi Anda yang memfitnah anakku?!" teriak Ayah Berli. Ia tiba-tiba ingin menyerang pria itu. Namun tidak berhasil karena dihadang oleh dua orang yang lainnya.


"Hahaha, tenang Pak. Demi Tuhan, bukan saya yang menyebarkan berita itu. Saya juga kaget saat berita itu beredar."


"Pembohong!" Ayah Berli berteriak lagi.


"Serius, Pak. Dan lihat artikel ini. Ada pihak yang melakukan somasi dan gugatan atas beredarnya berita tentang Linda. Lihat terlapornya, bukan saya, kan?"


Pria itu meleparkan sebuah koran harian pada Ayah Berli. Ayah Berli tidak langsung mengambilnya.


"Baik, sekarang katakan saja mau Anda apa.? Dan katakan juga apa yang akan terjadi jika putriku tidak memenuhi permintaan Anda."


"Hahaha, sangat mudah. Katakan pada LB jika data itu tidak segera diberikan maka saya akan mengungkap sosok yang menjadi lawan kumpul kebonya."


"Maksud Anda, akan mempublikasikan nama Agam Ben Buana?" tanya Ayah Berli.


"Ya, benar. Walaupun sulit untuk menyeret namanya, tapi saya sudah memiliki kolega dari rival HGC untuk membongkar skandal besar ini ke publik. Dirut HGC kumpul kebo, hahaha."


"Tenang, saya belum membocorkan berita ini, pihak dari rival HGC belum tahu masalah ini. Oiya, saya juga menyayangkan pengakuan LB yang mengatakan diperkosa. Saya tidak menyangka dia berbohong."


"Maksud Anda apa? Jangan menyalahkan putriku!"


"Bilangnya diperkosa tapi tenyata sengaja menjadi wanita bayaran Dirut HGC. Dulu saya mengaguminya dan simpati karena dia mengatakan telah diperkosa. Ternyaata dia b i n a l, cantik tapi menjijikkan. Saya menyayangkan karena Anda tidak mendidik LB dengan baik."


"Cukup! Dia bukan b i n a l. Putriku anak baik! Dia tidak kumpul kebo dengan Dirut HGC, hubungan itu terjadi karena Dirut HGC memperkosanya!" teriak Ayah Berli spontan, darahnya mendidih mendengar kata b i n a l disematkan pada Linda. Terasa menyakitkan di hatinya. Siapa sih yang rela anaknya di fitnah? Ia meronta ingin menyerang pria itu.


"Apa?!"


Kepala bagian penyiaran TV KITA terkejut. Ayah Berli pasti berkata jujur. Ini berita besar. Akan menjadi berita s k a n d a l HGC terheboh jika dipublikasikan. Dengan demikian, ia sudah memiliki dua berita besar.


Pertama, Agam kumpul kumpul kebo dengan LB. Kedua, LB ternyata diperkosa oleh Agam Ben Buana. Wah, berita yang sangat menjanjikan jika diuangkan.


"Hahaha, terima kasih infonya, Pak. Semua ucapan Bapak sudah saya rekam," katanya sambil menekan ujung pulpen yang terselip di saku kemejanya.


Ayah Berli geram. Ia baru sadar jika ucapannya berbuah simalakama. Tidak ada cara lain selain segera mengambil langkah tepat untuk menyelamatkan dan mengembalikan nama baik putrinya. Ia menarik napas, dan berkata ....


"Baik, aku sepakat untuk meminta data penting itu dari Linda. Tapi ada syaratnya. Karena Anda telah mendapatkan info tentang Dirut HGC dariku, maka aku meminta agar Anda melalui media yang Anda miliki segera membersihkan nama baik putriku. Setuju?"


"Hmm, baik. Berita seperti apa yang Anda inginkan?"


"Katakan bahwa Linda memang benar-benar diperkosa dan tidak kumpul kebo. Dia berada di rumah Agam Ben Buana karena pria itu mau bertanggung jawab. Katakan juga kalau dulu Linda tidak melapor pada polisi karena ketakutan. Dan satu hal lagi, ini berita yang paling penting. Agam Ben Buana dan putriku sudah ... menikah," terang Ayah Berli.


"Apa?!"


Direktur penyiaran TV KITA kembali membelalakan mata. Sekarang ada tiga topik berita penting dari narasumber terpercaya. Ia benar-benar merasa bahagia.


"Baik, saya sepakat."


Ia berdiri dan meraih tangan Ayah Berli untuk bersalaman. Ayah Berli meraihnya. Sedikit kelegaan kini menyelimuti relung hatinya. Dengan mengatakan Linda dan Agam telah menikah, Ayah Berli berpikir setidaknya ia telah menyelematkan nama baik menantunya karena mau bertanggung jawab.


Cepat atau lambat, publik memang harus tahu jika Linda dan Dirut HGC memiliki hubungan spesial. Untuk masalah selanjutnya setelah berita ini beredar, Ayah Berli berpikir akan memikirkannya nanti.


...❤...


...❤...


...❤...


...❤...


"Ahhhh ... uhhh ... ahhh ... sakiiiit ...," gumamnya.


Di kamar kost, Gama merintih kesakitan. Semalam sebelum tidur, untuk pertama kalinya ia memakan mie rebus yang di campur dengan telur dan saus.


Mie itu dimasak oleh bu kost dan diantarkan ke kamanrya sekitar pukul setengah dua belas malam. Ibu kost memberikannya karena Gama mengatakan tidak jadi membeli makanan gara-gara ada ular yang menghalangi jalan.


Gama memegang ponselnya. Sekarang jam 9 pagi. Ia sudah melapor pada wali kelas jika dirinya sakit perut dan tidak bisa masuk kelas. Namun belum menelepon Pak Yudha. Ponsel Gama dipenuhi pesan dari teman dan para kekasihnya.


"Telepon Pak Yudha jangan ya? Aarrrgh ... sakit sekali. Perutku melilit. Usus-ususku seperti dipelintir," keluhnya.


Tubuh Gama sampai melengking-lengking. Namun ia tidak berani menelepon Pak Yudha karena ingat nasihat Agam untuk tidak pulang ke rumah sebelum Agam menyuruhnya.


"Aduh, bagaimana ini?"


Semalam, setelah Freissya tenang, ia langsung pulang ke kostan bersama Freissya dan tidak jadi beli makanan. Padahal, rencana awalnya adalah membeli makan malam lalu membeli kue camilan dan susu di minimarket.


"Nak ganteng."


Suara ibu kost memanggilnya. Gama tidak menyahut.


"Nak ganteng, tidak sekolah? Katanya masih sekolah, kan?" panggilnya.


Kali ini Gama menyahut, namun suaranya lirih. Jadi tidak terdengar.


"Nak Val!"


Bu kost rupanya khawatir, ia naik dan menggedor pintu kamar Gama.


"Val," panggilnya.


Gama memang memperkenalkan diri bernama Val Yasa pada ibu kost.


"Tidak dikunci Bu," jawabnya.


"Ya ampun! Kamu kenapa?!"


Saat pintu terbuka dan melihat Gama melengking-lengking di lantai, ibu kost panik. Jiwa keibuannya langsung bangkit. Dipegangnya tangan dan kening Gama yang berkeringat.


"A-aku sakit perut Bu ...."


"Ya ampun, bukannya minta tolong, kenapa diam saja? Kamu sabar ya. Tunggu dulu, Ibu mau panggil si Frei. Dia suster, sudah kerja di rumah sakit pemerintah, semoga dia punya obat cadangan, kalau tidak salah tadi ibu melihat dia menjemur baju."


Lalu bu kost berlari meninggalkan kamar Gama.


"Apa? Suster Frei? Berarti aku akan diperiksa oleh Ice? Ohh Ice ... apa kali ini aku harus bersyukur karena sakit perut? Padahal baru semalam aku berterimakasih pada ular, ya ampun ...."


Bibir Gama tersenyum.


"Tunggu, aku tidak mungkin terlihat berantakan seperti ini. Walaupun sakit, di hadapan Ice aku harus terlihat sempurna."


Gama memaksakan diri ke kamar mandi. Ia berjalan terhuyung-huyung, gosok gigi lagi, mencuci muka, lalu menyisir rambutnya. Gama juga mengganti bajunya dengan sweater berwarna merah muda yang sangat pas di tubuhnya. Tidak lupa menyemprotkan parfum mahal miliknya.


Lalu terbaring tampan sambil memejamkan mata untuk menyambut kedatangan Ice. Gaya tidurnya sangat elegan, bak pangeran tidur.


Begitulah cara kerja buaya menaklukan mangsa. Pura-pura tidur, dan saat ada kesempatan, langsung hap.



Lihat saja Ice, aku akan menjadi satu-satunya pasien paling tampan yang pernah kamu temui. Jika kak Agam bisa meluluhkan LB, masa aku tidak bisa meluluhkan kamu?


Yang cantik dan menggemaskan, cepatlah kemari. Obati aku, dan nikmati ketampananku, hahaha.


___