AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
I Wrote She's A Future Wife (Aku Menulisnya Calon Istri) [Visual]



Agam sungguh menjadi pribadi yang berbeda. Sentuhan tangan halus nan hangat di pergelangan dan dagunya laksana pemantik yang mencairkan hatinya yang beku.


Mata Linda hanya fokus pada bibir tipis merah yang pecah, pada pipi mulus yang lebam membiru, dan pada sudut mata sayu yang membengkak dan lecet. Tak ada rasa lain selain peduli, tak ada maksud lain kecuali ingin tahu kenapa dan segera mengobatinya.


"A-apa kamu suka coklat?" Agam bertanya lagi, saat Linda masih menatap wajahnya dengan seksama.


"Suka, tapi kenapa harus membahas coklat? Pak Agam belum menjawab pertanyaan saya, ini kenapa?" mata indah itu masih terfokus pada memar dan luka di wajah Agam.


Namun tak berlangsung lama. Saat mata keduanya tak sengaja bersitatap. Linda mengerjap, terhenyak tatkala menyadari tangannya memegang tangan Agam. Dan diluar dugannya, ia juga memiliki keberanian memegang dagu Agam.


Oh tidaak, ini gila. Ini tidak masuk akal.


"Ma-maaf," Linda terburu-buru melepas tangan yang menempel. Lalu memalingkan wajah dan kebingungan harus mengatakan apalagi.


"Tunggu di sini, saya akan mengambil coklatnya." Ah, Agam. Pria itu masih saja membahas prihal coklat, dan serius ia ke luar dari mushola untuk mengambil coklat pastinya.


"Coklat? Untuk apa? Untukku?" gumam Linda.


Tatapan matanya jatuh pada kemeja Agam yang tergeletak di lantai dan dasi berwarna cerah yang disarankannya tadi pagi. Ada ceceran darah pada baju dan dasi itu.


Padahal, dua hari yang lalu wajah Agam baru saja pulih pasca terbongkarnya rahasia umum keluarga Haiden yang berujung pada penangkapan beberapa politisi akibat dugaan korupsi.


Satu hal yang membuat Linda bahagia dari peristiwa itu adalah politisi yang bernama Rufino Pederik menjadi salah satu tersangka yang terlibat dalam korupsi proyek tol bersama ayahnya, tuan Gunatara. Setidaknya Linda bisa menegakkan leher jika pada saat itu menolak pinangannya adalah langkah yang sangat tepat.


Linda mengambil baju yang tergeletak itu, dan memasukkannya ke dalam troli pakaian kotor.


"Apa aku harus menunggu dia mengambil coklat?"


Linda bingung antara menunggu Agam atau kembali ke kamarnya. Namun tiba-tiba, otaknya mengolah data. Terbayang betapa nikmatnya coklat saat dikulum dan meleleh di mulutnya.


Terbayang juga sensasi makan coklat yang bisa membantu menenangkan pikiran. Berbagai penelitian memang telah membuktikan jika coklat mengandung anandamide yang dapat membuat kerja otak lebih tenang dan rileks.


"Baiklah, aku akan menunggunya." Keputusannya bulat. Saat ia hendak berpikir ulang, suara bass itu mengagetkannya.


"Bu Linda," sapanya.


Pria itu menyodorkan kotak coklat hadiah dari Tuan Muda Deanka seraya menunduk. Lucunya, Agam belum memakai baju. Pesona tubuhnya terekspose begitu saja, gratis.


"Ini coklatnya," suara itu kembali mengagetkan Linda yang gugup.


Tanpa basa-basi, Linda langsung mengambil coklat itu dengan gerakan cepat sambil memalingkan wajah, lalu berlari terbirit menuju kamarnya. Mukena bagian bawahnya disingsingkan agar langkahnya semakin cepat.


"Tungguuu," kata Agam.


Tapi Linda tak menoleh.


"Sama-sama," gumam Agam. Padahal Linda tidak mengucapkan terima kasih. Sikap manis Linda sudah cukup membuatnya bahagia.


Walaupun Linda tidak mencintainya, tapi ... sekarang Agam tahu kalau Linda akan belajar untuk menyukainya.


Alhamdulillah, batinnya bersyukur.


Dan saat melihat pakaian kotornya sudah berada di keranjang cucian, hatinya semakin hangat.


Agam bergegas ke kamarnya. Setelah membersihkan dirinya, ia kembali ke mushola untuk memohon ampunan dan meminta petunjuk pada sebaik-baiknya tempat mengeluh.


.


.


"OMG, aku belum mengatakan terima kasih." Linda mematung sesaat.


"Lagipula, kenapa dia tidak memakai baju sih? Aku kan jadi malu," gerutunya.


"Ya sudahlah."


Ia penasaran pada kotak tersebut. Linda menautkan alis saat membaca tulisan yang tertera di atasnya.


'For my heart my Agam.'


'From Deanka and Aiza.'


Ia memutar kotak karena penasaran.


"Baik dikonsumsi untuk ibu hamil dan menyusui." Keterangan itu membuat batinnya berdesir.


Tapi tangannya refleks membuka satu kemasan dan memakannya.


"Emm, enak," gumamnya.


***


Lima hari setelah Agam Ben Buana dilantik menjadi direktur utama HGC, Agam mendapatkan undangan untuk menghadiri acara lamaran komisaris HGC bernama tuan Bahir Finley Haiden. Tuan Bahir Finley Haiden adalah mertua dari Tuan Muda Deanka.


Agam tidak ingin datang sendiri, ia berniat datang bersama Gama, karena ibu masih di luar kota.


"Gama, kamu libur, kan?" tanya Agam pada adiknya.


"Ya libur lah, Kak. Ini kan hari minggu," jawabnya dengan malas.


"Ayo ikut Kakak ke acara lamaran komisaris HGC," ajaknya.


"Aduh, maaf Kak. Hari ini ada jadwal futsal lawan dewan guru, acara ulang tahun sekolah," kata Gama.


"Ya sudah Kakak paling datang sendiri." Agam menghela napas.


"Kak Agam, please deh. Kenapa Kakak tidak mengajak Kak Linda saja? Kasihan dia Kak. Selama ini dikurung terus. Untung dia sabar."


"Gama, kamu tahu kan kalau dia presenter terkenal? Kalau Kakak bawa dia, Kakak khawatir akan ada yang mengetahui identitasnya. Lagipula belum tentu juga dia mau diajak."


Agam berlalu, pikirnya lebih baik pergi sendiri daripada memaksa Linda.


"Coba saja, Kak. Bisa saja dia mau," teriak Gama pada Agam.


Satelah Gama menyerang Agam pada malam itu, Gama akhirnya memaafkan Agam. Pada malam itu, hati Gama tersentuh saat ia tak sengaja melihat interaksi Agam pada Linda saat Agam memberikan coklat.


Gama yakin jika Agam mencintai LB. Apa yang ia lihat pada malam itu tentu saja membuatnya semakin yakin jika kakak kebanggaannya bukanlah penyuka sesama jenis.


Gama memang membenci tindakan Agam pada Linda, namun kebenciannya itu tentu saja tidak bisa merubah apapun karena nasi telah menjadi bubur. Terlebih saat ini di perut LB ada calon ponakannya.


.


.


Benar juga. Aku akan coba mengajaknya.


Agam berpikir keras saat melihat Linda tengah membaca buku di perpustakaan.


Mata Linda sangat serius, ia memicing di balik kacamatanya.


"Ehem, ehem." Agam berdeham.


Linda diam saja. Untuk apa juga dia melirik? Pikir Linda.


"Bu Linda," sapa Agam.


"Ya," jawab Linda pelan, tanpa menoleh.


"Apa Anda mau ikut dengan saya?" tanya Agam ragu.


"Ikut ke mana Pak? Bukankah kata Bapak saya tidak boleh ke mana-mana?" ia tetap fokus pada bukunya.


"Saya ada undangan menghadiri acara lamaran komisaris HGC," jawab Agam.


"Tidak Pak, saya tidak ikut. Saya di rumah saja. Lagipula saya tidak mempunyai hubungan apapun dengan komisaris HGC. Saya di sini karena kebetulan saya mengandung bayi Anda," kata Linda.


"Hmm, sudah saya duga, kamu pasti tidak mau ikut." Agam Berlalu.


Linda mengerling, ia berpikir sejenak, hingga akhirnya terpikirkan ide untuk melakukan negosiasi.


"Pak Agam tunggu," panggil Linda.


"Saya mau ikut, tapi ... please izinkan saya melihat adik kembar saya. Saya sangat merindukan mereka. Besok mereka ulang tahun. Sa-saya mau memberi hadiah. Melihat mereka dari jauh juga tidak apa-apa," ucapnya.


Agam berpikir sejenak, "Baik." Ia mengangkat bahu dan berlalu.


"Benar saya bisa melihat mereka?" tanya Linda.


"Saya sudah menjawab kan? Lima menit lagi kita berangkat," ucapnya.


"Ba-baik, Pak."


Linda langsung beranjak ke kamarnya.


"Apa benar aku mau menghadiri acara lamaran dengan dia?" Agam menampar pipinya sendiri saat ia bercermin di kamarnya.


PLAK, "Ahh, sakit." Keluhnya.


Agam gugup. Waktu lima menit tidak akan cukup untuk bersiap. Agam gelisah, ia menatap bingung bajunya yang berjejer.


Harus memakai yang mana ya? Apa tidak apa-apa kalau tidak senada dengan dia?


Ini? Bukan.


Ini? Bukan.


Ini? Bukan.


"Aaarrggh," teriaknya.


Agam kebingungan memilih baju. Saat ini baju-baju tersebut menumpuk di tempat tidur.


Tiba-tiba ponselnya menyala. Ada pesan dari seseorang yang ia simpan kontaknya dengan nama, "Calon Istri."


"Pak Agam, saya sudah di basement, kenapa Anda lama sekali?"


"Bagaimana ini?" Agam kian gugup.


"Tunggu, saya ada urusan mendadak," balas Agam.


Ting, sebuah ide muncul.


Dia di parkiran, kan? Bibirnya tersenyum.


Agam lalu membuka koneksi CCTV di parkiran yang terhubung dengan ponselnya. Tersenyum kembali ketika melihat wanita cantik itu tengah menunggunya. Agam jadi tahu harus memakai baju yang mana agar senada dengan baju Linda.


Rambut Linda mulai panjang, ia tidak memakai kaca mata. Binar bahagia langsung terpancar di wajahnya. Bisa melihat atau bertemu dengan Yolla dan Yolli pasti akan sangat membahagiakan. Aslinya Linda memang sosok yang periang dan ceria.



"Pak Agam," teriaknya.


Ia berlari menghampiri Agam yang mematung.



"Mana maskermu? Mana kacamatamu? Kenapa tidak pakai jaket? Kenapa lipstiknya merah sekali? Kenapa tidak pakai baju lengan panjang? Kena --."


"Kenapa Anda mengajak saya?" sela Linda. Ekspresinya langsung berubah sinis.



"Saya tidak ikut, Pak Agam saja.


"Bu Linda, tunggu, maaf. Saya tidak bermaksud ---."


"Saya juga mau pakai masker dan kaca mata, ini ada di dalam tas," tegasnya.


"Baik, saya mohon maaf, silahkan." Agam membuka pintu mobil di samping kemudi.


"Saya tidak mau di depan."


"Hmm ... baik, silahkaaan." Agam membuka pintu belakang, sambil memalingkan wajah.


Wanita ini benar-benar menguji kesabarannya. Dan yang paling dominan adalah Linda sangat menguji keimanannya. Mencintai pablik figur yang cantik dan terkenal pastinya tidak mudah.


Sepanjang perjalanan, yang tercipta hanya keheningan. Linda diam, pun dengan Agam. Agampun kembal dingin dan kesal. Kenapa?


Karena Linda duduk pada posisi di mana ia tidak bisa mencuri pandang dari spion.


"Arahnya ke sini?" tanya Linda.


"Ya," jawab Agam singkat.


"Anda tidak menipu saya kan, Pak?"


"Menipu?"


"Saya tidak yakin kita mau ke rumah calon istri komisaris," keluh Linda.


Linda merasa heran, karena rumah calon istri komisaris HGC ada di perkampungan yang letaknya di pinggiran kota. Karena Agam tak menjawab, Lindapun terdiam.


***


Ruang tamu rumah calon istri komisaris HGC begitu sempit. Halaman depan rumah itu sudah didekorasi sedemikian rupa. Walaupun sederhana tapi tetap cantik. Sama sekali tidak kentara jika ini adalah acara lamaran komisaris HGC.


"Pak Dirut," sapa seorang wanita cantik yang berusia sekitar 40 tahunan. Wanita itu menyapa ramah pada Agam dan Linda saat mereka sudah berada di ruang tamu.


Aku yakin ini calon istri pak komisaris. Wah, anggun sekali, batin Linda.


"Nyonya, maaf saya datang tidak membawa apa-apa, hanya doa tulus yang saya bawa," kata Agam, sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.


Agam lalu bersalaman dengan wanita cantik itu dan dua orang wanita lain, yang dipanggil Nenek dan Bibi.


"Terima kasih atas kehadirannya Pak Agam, silahkan nikmati hidangan alakadarnya," ucap wanita itu sambil melirik pada Linda.


"Siapa ini Pak?" tanya wanita itu sambil mengarahkan jari jempol pada Linda yang ikut bersalaman tapi terus menunduk.


"Oh, ini ... ini asisten baru saya. Sedang batuk dan flu, jadi memakai masker," seloroh Agam asal-asalan.


Apa?! Asistennya? Gila dia. Siapa yang mau jadi asisten kamu?


Linda mengumpat dalam hatinya, dan tiba-tiba tangan Agam mencubit punggungnya.


"Auwh," keluhnya, namun langsung bisa membaca situasi.


"Uhhuk, uhhuk, i-iya Nyonya, saya asisten beliau dan saya memang lagi batuk dan flu." Linda melakukan penekanan pada kata beliau sambil menghidukan cuping hidungnya agar terdengar seperti sedang flu.


Agam mengatupkan bibirnya menahan senyuman. Wanita ini ternyata bisa diajak berbohong juga, pikirnya. Agam melirik pada Linda, hatinya berdesir. Setiap kali melihat Linda, maka kejadian indah yang membuat Linda marah dan terluka itu akan terlintas kembali.


"Oh, begitu ya. Semoga lekas sembuh. Silahkan duduk lagi, Pak, Nona," kata wanita itu.


"Wanita itu namanya nyonya Nara, calon istrinya komisaris," jelas Agam saat wanita cantik bernama Nara, Nenek dan Bibi tidak ada di tempat.


"Saya tidak nanya, tuh," sela Linda dengan ketusnya.


"Kamu." Rahang Agam mengeras.


Di tengah kekesalannya, Agam kembali duduk di kursi tanpa berbalik badan. Ruang tamu yang tidak luas, menjadi semakin sempit dengan keberadaan kursi-kursi. Karena tidak konsentrasi, Agam malah duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Linda, hingga kejadian lucupun tak terelakan.


Sama dengan Agam, Lindapun langsung duduk, di kursinya tanpa membalikan badan. Dan ....


Gek, Linda menduduki Agam.


"Ehh, ka-kamuuu." Agam terkesiap.


"Emmh, uppss." Mata Linda membulat.


Linda juga menutup mulutnya. Ia tekesiap saat merasakan kursi yang tadinya keras, tiba-tiba menjadi empuk, sedikit pejal dan hangat.


"Bapak kenapa duduk di kursi saya?!"


Linda cepat-cepat mengangkat bokongnya, andai maskernya dilepas akan tampak jika wajah Linda memerah karena malu dan juga marah.


"Bu Linda yang tidak lihat-lihat dulu! Bukan salah saya." Agam tetap duduk santai di kursi tersebut.


"Harusnya Babak ingat kalau itu kursi saya, bilang saja Bapak mencari kesempatan dalam kesempitan," gerutunya.


"Hei, ini bukan kursi kamu," kata Agam.


Linda kesal, ia melangkah hendak menjauh dari Agam, namun aktivitas lalu-lalang para pekerja yang sedang membereskan kursi dan membawa makanan membuat langkah Linda tercekal dan kejadian itupun terulang kembali.


Seorang pekerja tidak sengaja menyenggol bahu Linda, Linda kehilangan keseimbangan dan ....


Gek, Linda kembali terjatuh di pangkuan Agam, lumayan kencang, sampai-sampai Agam beristighfar karena mengkhawatirkan sesuatu. Entahlah itu berkah atau musibah.


"Maaf," ucap Agam singkat. Sambil bergerak cepat mengangkat pinggang Linda dari pangkuannya seirama dengan gerakan Linda yang terburu-buru berdiri.


Tak bisa diutarakan lagi bagaimana malunya Linda.


Agam berdiri, lalu menghalangi Linda dari lalu-lalang.


"Ke-kenapa berdiri di situ?" tanya Linda, ia masih gugup dan malu.


"Saya sedang melindungi calon anak saya dari benturan, Anda jangan salah faham," tegas Agam.


❤❤ Bersambung ....


..._____...


Mohon maaf bila untuk tiga hari ke depan, jadwal up nyai terhambat. Dari hari kemarin, nyai sibuk mempersiapkan semua hal untuk keperluan tindakan ablasi.


Nyai didiagnosis Bradikardi VES Bigemini. Keputusannya, besok nyai harus ablasi atau kateterisasi jantung. Mohon doanya agar operasinya lancar dan penyakit jantung nyai bisa disembuhkan. Aamiin.


..."Allah tidak akan menurunkan satu penyakit kecuali Allah turunkan juga obatnya."...


...(H.R. Bukhori)...


..._____...


Selamat menjalankan ibadah puasa untuk saudaraku sesama muslim. Semoga puasa serta ibadah kita selalu dilandasi keikhlasan. Dan semoga rahmat Allah selalu bersama kita. Aamiin.


...-----...