AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Menanti Sang Malam [Gif]



"Kebakaran hebat yang diduga akibat konsleting listrik terjadi di kawasan padat penduduk jalan Kenari 4. Puluhan rumah warga hangus terbakar, kerugian materil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, dilaporkan 20 orang luka-luka, 8 orang meninggal dunia, dan 12 orang lainnya masih dinyatakan hilang."


"Kebakaran ini terjadi sangat cepat, di pagi buta, di saat orang-orang masih terlelap."


Mister X terperanjat berita itu sangat mengejutkan. Siang ini ia baru saja menyelesaikan misi khusus, hingga kabar ini luput dari pantauannya.


"Se-Senja?"


Seketika, bibirnya di balik masker itu kaku, tangannya yang sedang memegang mouse gemetar dan berkeringat. Kembali ke bayangan terburuk kematian kekasihnya yang tragis dan mengenaskan.


"Tidaaak," teriaknya. Lagi, ia lemas.


Gadis itu, ya gadis tuna netra itu adalah salah satu penghuni di kawasan padat penduduk jalan Kenari 4.


Setelah menenangkan diri, Mister X bergegas, berjalan cepat. Keluar dari tempat rahasianya. Tubuhnya menghilang di balik pintu meninggalkan layar monitor yang masih menyala.


Mari keluar dari tempat rahasia yang sedikit menyeramkan ini. Tanpa keberadaan Mister X. Tempat ini ternyata sepi. Sangat sepi, semua serba hitam, lemari, sofa dan lainnya berwarna hitam.


Tunggu, apa itu? Ada yang bergerak di balik selimut hitam Mister X. Menyeramkan, oh ... ternyata hanya seekor kucing hitam berekor panjang.


.


.


Sepeda berwarna hitam itu dikayuh begitu cepat, melesat dengan kecepatan tinggi melewati jalur khusus sepeda. Gaya pesepeda itu sangat memukau hingga menjadi pusat perhatian. Ditambah penampilan misterius pengemudinya, menjadikannya sangat mencolok.


Bahkan ada yang bertepuk tangan saat melihatnya.


Mister X.


Ya, yang memacu sepeda itu adalah Mister X. Apa ia tidak memiliki kendaraan bermotor? Entahlah.


Kini, sepeda itu tengah berada di jalur khusus tuna netra.


...❤...


...❤...


...❤...


Dan sampailah Mister di kawasan yang ia tuju.


Ia menepikan sepeda di sisi kerumunan korban kebakaran dan para wartawan yang sedang meliput. Ada banyak polisi dan tim evakuasi. Ada juga tim medis dan para relawan.


Semua bahu-membahu menolong korban. Melakukan aksi nyata sesuai dengan kemampuan, fungsi, kapasitas, dan tupoksinya.


Matanya beredar. Gemetar tubuhnya saat melihat rumah milik neneknya Senja rata dengan tanah. Pun dengan puluhan rumah lainnya, yang tersisa hanya debu dan puing-puing yang menghitam.


"Se-senja .... Nenek ...," rintihnya.


Dadanya sesak. Ia berjongkok dan terpuruk. Ketakutan menyelimuti relung hatinya. Takut pada kemungkinan jika si gadis senja dan neneknya tidak selamat.


Tidak terbayang, bagaimanakah seorang gadis buta bisa membebaskan diri dari kobaran api? Sedangkan ia tidak bisa melihat apapun.


Tapi ... Mister X tetap berbaik sangka. Ia menanamkan semua yang baik-baik di dalam batinnya. Mister X tetap yakin akan pertolongan dan kuasa-Nya.


Lalu memberanikan diri bertanya pada seorang bapak-bapak yang terlihat tegar namun matanya memerah dan sembab. Bapak itu sedang menatap ke salah satu tempat yang rata dengan tanah.


"Pak, mohon maaf, boleh aku bertanya?"


Suara yang berat itu terdengar jua. Suaranya sangat 'LAKIK.'


Tapi ... apakah itu suara asli Mister X? Belum tentu.


Tanpa menoleh pada Mister X, pria itu menjawab ....


"Boleh, kenapa? Dari tadi saya ditanya-tanya terus," katanya.


"Apa Bapak kenal dengan gadis tuna netra bernama Zora? Mohon maaf, dia dan neneknya se-selamat,kan?" tanyanya.


"Oh, di rumah yang ditinggali Zora dan neneknya hanya ditemukan satu kerangka yang terbakar. Tidak tahu siapa? Bisa jadi Zora, bisa jadi neneknya. Yang jelas, Zora dan neneknya masih dinyatakan hilang. Harus diidentifikasi dulu itu jenazah siapa," jawabnya.


DEG.Mister X bedegup.


Siapakah yang selamat?


"Bisa jadi yang meninggal itu Zora, diakan buta," kata Bapak itu.


"Belum tentu," tegas Mister X.


"Ya, semoga saja dua-duanya selamat dan ada di pengungsian, dan jenazah itu bukan Zora dan bukan pula neneknya," sindir Bapak itu.


"Terima kasih, Pak."


Suara berat itu terdengar lagi. Mister X kembali menaiki sepedanya saat si Bapak baru saja menolah ke arahnya.


"Hmm, siapa anak muda itu? Penampilannya unik sekali," kata si Bapak. Lalu melanjutkan lamunannya.


Baru dua detik melamun, seorang polisi menghampirinya.


"Pasti saya mau ditanya-tanya lagi," gumamnya sambil menghela napas.


...❤...


...❤...


...❤...


"Sayang ... ayolah, kata kurirnya satu jam lagi. Jarak tokonya dari sini memang lumayan jauh, dan itu toko yang paling lengkap," kata Agam.


Setelah memberi paracetamol pada Linda, Agam membujuk lagi agar dirinya bisa membantu. Serius, Agam semakin panik. Rintihan Linda benar-benar membuatnya bingung.


"A-aku bingung," kata Linda.


"El, saya suami kamu," lama-lama Pak Dirut tidak sabaran juga. Menatap Linda sambil bertolak pinggang.


"Huuu huuu ...." Linda malah menangis. Dibentak Agam, jadi semakin sedih.


"Bahkan sebelum Keivel ada, saya adalah orang pertama. Maksud saya, emm ... saya sering jadi bayi, kan?" Agam jadi bingung harus mengatakan apa.


"Huuu ... a-aku juga bukannya tidak mau Pak .... Tapi ...."


"Tapi apa, El? Tapi apa sayang?"


Agam memasygul rambutnya sendiri karena kesal. Ingin rasanya memaksa Linda, tapi ... mana mungkin ia berani memaksanya.


"Ta-takut sakit, Pak ...," keluhnya.


"Ya sudah, kalau tidak mau kamunya jangan nangis dong, El. Dipijat tidak mau, saya bantu tidak mau, mau saya paksa, hahh?"


Agam mendekat.


"Huu ... huu .... Maga ... ja-jangan marah, a-aku takut kalau kamu marah." Linda beringsut, wajahnya berkeringat.


Agam menghela napas, lalu merebahkan diri di sisi Linda.


"Ya sudah, saya peluk ya, maaf cantik," rayunya.


Linda mendekat perlahan, tubuhnya masih menggigil.


"Maafkan saya sayang, tadi terlalu khawatir. Boleh, silahkan menangis sesuka kamu, oke?" Merangkup pipi Linda lalu perlahan mengecup bibirnya.


"Sa-satu jam lagi, kan? Aku akan menunggu," kata Linda. Bersikukuh tidak ingin dibantu Agam dengan alasan takut sakit.


"Baiklah, sesukamu sayang,"


Agam mengalah. Hanya bisa mengompres dan menatapnya dalam kegundahan. Beberapa kali harus menelan saliva untuk menahan gejolak rasa yang kian tidak terkendali. Rasa yang bercampur menjadi satu. Antara ingin menolong Linda dan ingin m e n j a m a h nya.


Tak lupa mengirim pesan pada Hikam dan memarahinya.


"*Dari mana kamu menemukan si Yuli, hah? Dia tidak b*ecus bekerja! Katakan pada dia harus siap menerima pembalasan dari saya."


Pesan terkirim. Hikam pasti kaget saat membaca pesan itu.


.


.


Empat puluh menit berlalu.


"Sayang, makan dulu ya, saya suapi."


"Ti-tidak mau Pak, a-aku tidak n a f s u makan, aku hanya mau pumping, itu saja."


"El, sayangi kondisi tubuh kamu. A," menyodorkan makanan pada Linda.


Kalau seperti ini terus, dia bisa tidak ada tenaga. Apa malam ini akan gagal lagi? Keluh Pak Dirut dalam benaknya.


Linda malah menggeleng, terpaksa Agam yang memakannya.


"Mau makan apa sayang? Ini, lihat daftar menunya."


"Kubilang juga tidak mau apa-apa. Bapak kok bawel sekali sih?"


"Ya ampun sayang, aarrgh," Agam beteriak, tapi pelan.


"Ya sudah, saya shalat Asar dulu ya."


"Nanti dulu Pak, temani dulu," memegang ujung baju Agam.


"Ya ampun, okelah sayang."


"Kita shalat berjamaah saja," kata Linda. Berusaha bangun.


"Oke," Agam memapahnya menuju ke kamar mandi.


"Ahh, sakit ...," keluh Linda saat tersentuh tangan Pak Dirut.


"Maaf, sabar ya sayang."


.


.


Bahkan setelah Agam dan Linda usai melaksanakan shalat Asar, sang kurir belum datang jua. Padahal, satu jam telah berlalu.


Agam menghubunginya lagi, dan info terbaru ia terjebak macet.


Pada akhirnya, Agam tidak bisa tinggal diam. Siapa sih yang tega membiarkan istrinya tersiksa?


Selesai shalat, pada saat Linda mencium tangan Agam, tanpa disadari Linda, Agam terpaksa memukul titik lemah di leher Linda, sebagai mantan anggota BRN, Agam pastinya faham benar tentang masalah ini.


'Pukh.'


Dalam satu pukulan, Linda terkulai. Ia tersungkur dan jatuh lemas di pangkuan Agam. Agam menyambut tubuhnya dan meminta maaf.


"Maaf ya sayang," katanya.


Lalu membuka mukena Linda, membawa Linda yang tidak sadarkan diri dan merebahkannya di tempat tidur.


Di tatapnya, dicium pipinya, lalu iseng menghabisi bibirnya. Agam tersenyum, mungkin ia baru merasakan sensasi mencium bibir wanita yang pingsan.


Ya ampun, Pak Dirut.


Adegan selanjutnya rasanya tak harus dideskripsikan. Intinya, apa yang akan dilakukan Pak Dirut adalah tindakan mulia dan sudah tepat, titik. No debat. Jangan pula berpikir ini m e s u m. Tidak sama sekali!


Tunggu, memangnya apa yang akan dilakukan Agam? Tidak ada yang tahu, kan? Ya sudahlah.


.


.


Mari tinggalkan saja kamar mewah ini, mari ke balkon dan menikmati indahnya sang mentari yang hendak membenamkan diri.


Pemandangan yang sangat 'Waw.'


Langit menjingga, kemilaunya bak emas yang pedar. Lereng gunung memutih, sang kabut mulai tiba, memeluk gunung dan menyejukkannya. Para petani pergi, meninggalkan sawah menuju rumah. Burung-burung kembali ke sarangnya. Beradu ciap bersenda gurau.


Ratusan burung terbang berduyun, menghiasi langit dengan noktah hitam yang bergerak.


Mengepakkan sayap, gemulai dan indah. Terbang ke sana ke ufuk barat, kian menjauh dan mengecil. Hingga menghilang dan tak berjejak.


.


.


Ketika helmnya dibuka, wajahnya pucat dan panik. Ada dus besar di jok motornya.


"Pak, saya kurir," ucapnya pada petugas keamanan.


"Pesanan milik siapa?" tanya petugas keamanan.


"Atas nama Agam Ben Buana," jelasnya


"Itu milik saya."


Tibalah pria tegap tampan itu dari arah lobi. Wajah Agam beseri-seri. Entah apa yang sudah terjadi padanya. Pak Dirut sepertinya sedang berbunga-bunga.


"Pak Agam, mohon maaf atas keterlambatan saya," katanya dengan wajah mengiba, tapi sedikit tenang setelah tahu jika pengguna jasanya tidak marah dan tidak semenyeramkan yang ia bayangkan.


"Tidak apa-apa, terima kasih karena Bapak sudah bekerja keras," ucap Agam sambil menerima kuitansi dan mengeceknya.


Petugas villa mengambil pesanan Agam.


"Letakan di depan kamar saja ya, Pak," kata Agam.


"Pak, apa ini?"


Bapak kurir kaget saat menyadari Agam memasukan beberapa lembar uang ke dalam sakunya. Padahal, pembayaran barang-barang itu sudah selesai melalui transaksi digital.


"Itu rizki Bapak, tidak seberapa kok. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya karena Bapak sudah bersusah payah," ucapnya.


"Alhamdulillaah, jazakallahu khairan, terima kasih Pak Agam," ucapnya.


Kini, wajah Pak kurir tidak lagi bermuram durja, berubah menjadi sumringah. Bahagia tiada terkira.


.


.


"Hmm."


Si cantik membuka matanya, mengerjap dan bingung. Duduk, lalu meraba tubuhnya. Belum ada yang berubah. Saat kakinya digerakkan, tidak juga merasakan sakit.


Linda meraba dadanya. Masih penuh, tapi tidak sesakit tadi. Tubuhnya juga baikan, tidak deman ataupun menggigil lagi. Benar-benar pulih.


"Pak Agam, Pak Agam," teriaknya. Panik saat sadar suaminya tidak ada di kamar.


Melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 18.12. Artinya, sudah waktunya shalat Maghrib.


"Magaaa," lagi, Linda memanggilnya.


"Apa sayang."


Agam masuk ke kamar sambil membawa pesanan.


"Sudah berapa lama aku tidur?" Linda rupanya belum menyadari apa yang terjadi.


"Sebentar, kok. Selesai shalat Asar kamu langsung tidur," kata Agam. Membuka pesanan sambil mengulum senyum.


"Begitu ya?" Linda garuk-garuk kepala. Merasa ada yang aneh, tapi ia lupa, apa ya?


"Kenapa?" Agam pura-pura polos.


"Kok aku merasa tidurnya nyenyak sekali Pak, seperti orang pingsan." Lagi, Linda garuk-garuk kepala.


"O, ya?" Agam tetap asyik dengan isi dus, dikeluarkan satu persatu-persatu, dan dicek. Semua pesanan lengkap.


"Pak Agam, aku sudah sembuh," kata Linda.


"Syukurlah, alhamdulillaah. Ya sudah, sekarang kita shalat dulu. Oiya, kamu belum mandi. Selesai shalat mandi ya."


"Baik," jawab Linda. Terlihat bersemangat.


Agam terkekeh saat Linda berada di kamar mandi.


"Semoga dia tidak sadar ya," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar dan tersenyum-senyum. Apa gerangan yang dipikirkan Pak Dirut? Entahlah.


"Aaa, Magaaa," teriak si cantik dari kamar mandi.


Agam yang sedang mensterilkan dot, terperanjat. Bergegas ke kamar mandi.


"Ada apa sayang? Cepat, dong. Kitakan belum shalat."


"Ngaku! Apa yang kamu lakukan saat aku tidur, hah? Kenapa ada ini di sini?" Sambil menunjukkan tanda cinta di dadanya.


"Tidak, saya tidak melakukan apapun," elaknya. Memilih mendekti wastafel untuk berwudhu.


"Pak Agam! Jujur!" Linda menarik lengannya.


"Sudahlah sayang, yang penting kamu sembuh, kan?"


"Iya, iya, tapi jawab dulu, kenapa aku bisa tiba-tiba tidur? Terus, apa yang Anda lakukan?"


"Hahaha," sambil menyeret tubuh Linda ke sisi tembok.


"Ka-kamu mau tahu?"


"I-iya," Linda gugup, aroma mint itu semakin mendekat.


"Rahasia sayang, bagaimana saya menolong kamu, itu ... em ... ra-ha-si-a," bisiknya.


Linda menghela napas. Ia pasrah. Berjanji dalam dirinya tidak akan bertanya masalah itu lagi.


.


.


"Layanan, villa," teriak seseorang dari luar.


"Ya," Agam membuka pintu, Linda tengah berdandan di ruang ganti.


"Makan malamnya sudah siap, Pak," jelas petugas villa.


"Baik, terima kasih," kata Agam.


Agam sudah rapi, memakai setelan kasual berwarna soft blue. Tampan sekali. Kini sedang menanti bidadarinya. Agenda kali ini adalah ... makan malam romantis.


Linda berdegup saat sudah selesai dan hendak menemui Agam. Ia takut penampilannya kurang sempurna. Lalu pura-pura berakting di depan cermin. Bergaya ala wanita penggoda.



"Lumayan lah," gumamnya. Lalu keluar dari ruang ganti.


"Wah, so seksi, merah-meriah," puji Agam.


"Tidak suka?" tanya Linda.


"Suka dong," Agam meraih tangan Linda.


"Pak Agam tampan sekali."


"Hahaha, perasaan biasa saja, nah begini dong sayang, pakai baju panjang."


"Maaf ya Pak, dulu, aku biasanya dandan sama makeup styles, kalau sendirian tidak begitu mahir."


"Ini sudah lebih dari cukup sayang, kamu paket lengkap. Cantik, dan seksi."


Linda hanya tersenyum. Dan terkejut dengan apa yang tersaji di hadapannya.


Sebuah meja makan private telah tersaji. Menghadap ngarai, dan view menakjubkan lainnya.


Dihiasi kerlipan lampu berwarna-warni. Di kelilingi bucket bunga setaman. Ada lampion indah di atasnya. Menu yang disajikanpun sangat beragam. Linda terpukau, mematung, memeluk bahu Agam.


"Lihat itu sayang," kata Agam. Ia menunjuk puncak ngarai.


Linda menatap kesana, tiba-tiba ratusan lampu menyala dan membentuk namanya. Linda terkejut, menutup mulutnya dan terharu. Langsung berderai air mata. Menangis di dada Agam.


...❤"I LOVE YOU, LINDA."❤...


"Harusnya tidak perlu berlebihan seperti ini, Pak," lirihnya.


"Tidak berlebihan sayang, ini malah sangat sederhana, tadinya saya ingin ada helikopter yang membawa kita ke pulau yang ada di sana, saya ingin mengukir nama kita berdua di pulau itu, tapi layanan seperti itu tidak tersedia," jelasnya.


"Huuu ... kasihan sekali mereka harus mendaki ngarai malam-malam begini," kata Linda.


"Hahaha, kamu lucu deh. Mereka sudah dibayar sayang. Sekarang kita makan ya, saya sudah tidak sabar."


"Bapak lapar sekali?"


"Bukan sekali tapi berkali-kali sayang." Sambil menarik kursi dan mendudukkan Linda. Lalu Agam duduk di sisinya.


"Wah, menunya banyak sekali, aku jadi bingung mau pilih yang mana ya?"


"Yang mana saja boleh sayang."


"Pak Agam mau makan apa? Mau yang mana? Biar aku ada inspirasi," kata Linda.


"Saya mau makan kamu," jawab Agam spontan.


"A-apa? Bapak tadi bilang apa?" Linda gugup.


"Perasaan saya belum mengatakan apapun," kilahnya. Mengalihkan pembicaraan sambil memainkan ponsel. Pak Dirut menulis pesan.


"Setelah saya makan malam, dekorasi kamar harus sudah selesai. Buat yang paling spesial. Oiya, jangan lupa pasang pewangi yang sudah saya berikan, letakan disetiap sudut." Pesan terkirim.


"Pak Agam," panggilnya.


"Maaf sayang, ada urusan sedikit," katanya. Tersenyum manis di hadapan Linda, namun batinnya berkata ....


"Siap-siap ya sayang, malam ini kamu tidak akan bisa tidur. Kita akan menghabiskan malam sampai ayam jantan berkokok, sampai para petani datang lagi ke sawah."


"Kenapa, Pak?"


"Ti-tidak apa-apa sayang." Sedikit gugup.


Melirik Linda, eh yang dilirik sedang menikmati pisang ambon. Pak Dirut mengerjap, menggelengkan kepalanya.


Gila, ada apa denganku? Batin Agam.


Pak Agam kenapa ya? Batin Linda.


.


.


"Cepat-cepat! Sepuluh menit lagi makan malamnya akan selesai," kata kepala tim dekorasi villa.


"Hampir selesai, Pak."


"Cepat nyalakan aroma terapinya."


"Baik Pak."


"Wah, kerja bagus, kita pasti dapat hadiah."


.


.


Dan langit di malam ini tampak cerah, secerah hati Pak Dirut dan Linda. Selesai makan malam, Linda bersandar di dada Agam.


"Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama sayang, saya juga mengucapkan terima kasih karena kamu menerima perasaan saya," kata Agam. Memegang bahu Linda, lalu mengecup bibir merahnya yang kali ini beraroma saus tiram.


Linda sangat bahagia. Mereka lalu menerbangkan salah satu lampion ke angkasa.


"Pak, sudah yuk, udaranya mulai dingin. Aku mau ke kamar."


"Mari sayang."


Agam semangat, ia sudah lama menantikan moment ini. Sebenarnya, sudah sedari tadi ia ingin mengajak Linda ke dalam kamar.


...~Tbc~...