AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Pertanda Baik



"Maaf, harusnya tidak ada kejadian seperti ini, bagaimana kalau Ayah dan kamu istirahat dulu?" kata Agam saat di ruangan itu hanya ada Ayah Berli, Linda, dan Hikam.


Bu Ira sudah ke dapur, Maxim, Enda dan Pak Yudha sedang ke depan gerbang untuk menemui para wartawan.


"Aku bagaimana Ayah saja," kata Hikam. Hikam murung, kenyataan yang ia dapatkan ternyata tidak sesuai ekspektasi.


Ayah Berli berubah sikap pada Agam, Hikam kecewa. Tapi, untuk sementara waktu ini, ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Ayah, sekali lagi maafkan aku."


Linda beranjak, ia duduk di sisi Ayah Berli dan memeluk bahunya. Ayah Berli diam saja, tidak merespon, tapi juga tidak menolak.


"Ayah, aku tidak bisa pulang, karena kata dokter kandunganku lemah. Sebelumnya, aku dan Pak Agam sudah pergi ke rumah kita yang ada di kota ini, tapi ... Ayah dan ibu tidak berada di sana."


Linda menciumi bahu Ayah Berli sambil mengelap-elap air matanya pada baju Ayah Berli.


Agam memperhatikan, hatinya tiba-tiba hangat. Ayah Berli tidak lagi menolak Linda. Sebuah pertanda baik.


"Ayah mau pegang perutku?"


Linda meraih tangan ayahnya, lalu meletakan tangan itu tepat di bagian pusarnya.


Ayah Berli bergeming, bibirnya tampak mengatup dan gemetar, ia sedang menahan desakan kesedihan yang menggerogoti relung hatinya.


Biar bagaimanapun, bayi yang ada di dalam perut putrinya tetaplah cucunya. Terlepas bagaimana ia terbentuk dan tercipta di rahim Linda, anak itu tetaplah terlahir dalam keadaan fitrah, suci tidak berdosa.


"Saya Agam Ben Buana, siapa nama kamu?"


Tiba-tiba saja Agam menyodorkan tangannya pada Hikam yang sedang menatapnya. Padahal, Agam sudah mengetahui nama pria itu.


Tak ayal, ucapan Agam mengalihkan pandangan Linda dan Ayah Berli.


"Aku Hikam Masyhur."


Dengan lantang dan percaya diri Hikam menerima tangan Agam. Lalu tanpa diduga, Hikam memiting tangan yang halus itu dengan kekuatan penuh hingga terdengar bunyi ....


'Krekk.'


"Ahh ...." Keluh Agam.


Deg, Hikam membatin. Tadinya ia berharap jika Agam akan membalasnya, namun lagi-lagi tdak sesuai ekspektasi.


"Hikam, apa yang kamu lakukan?" Linda menatap Hikam penuh penghakiman.


Langsung mendekati Agam dan memeriksa telapak tangan Agam yang memerah.


Lumayan juga. Sepertinya dia juga mengusai bela diri. Semoga sedikit drama ini bisa membuat ayah Berli iba padaku. Batin Agam.


Harusnya dengan kekuatan tadi, ada ruas jarimu yang patah, dia benar-benar kuat. Telapak tangannya lembut seperti tangan perempuan yang tidak pernah bekerja. Cih, kamu benar-benar menyebalkan Agam Ben Buana. Batin Hikam.


"Maaf, itu hanya bentuk perkenalan sesama lelaki," jawab Hikam sambil meraih jus buah naga buatan bu Ira yang sedari tadi melambai-lambai ingin diseruput.


Awalnya ia juga akan menolak minum atau makan apapun di rumah Agam, tapi saat melihat bagaimana Agam dan Linda bersitatap mesra dan penuh cinta, batin Hikam menjadi panas dan bergemuruh.


"Pelan-pelan minumnya, jangan sampai tersedak," goda Agam. Ia menatap Hikam sambil tersenyum.


Padahal, batin Agam sedang mengumpat pria itu.


Percaya diri sekali kamu mau merebut Lindaku. Oh sorry, kamu tidak akan mampu. Bila perlu, langkahi dulu mayatku.


"Ayah mau jus apa?" tanya Agam.


Namun Ayah Berli diam saja, malah menatap Hikam.


Kamu melanggar, Hikam. Kita sudah sepakat tidak akan makan dan minum di rumah pria ini. Duh, itu jusnya kenapa menggiurkan sekali? Terlihat manis dingin dan segar. Sebagai penjual buah, aku pasti sudah memiliki ikatan batin dengan buah-buahan itu. Batin Ayah Berli.


"Ayahku suka semua jenis jus buah, Pak. Ya kan, Yah?"


Linda kembali menggelendoti Ayah Berli yang saat ini sedang menatap para jus yang dihidangkan di gelas kristal bening, mengkilat, dan cantik.


Tahan, tahan.


Batin Ayah Berli bergejolak saat fantasinya merasa jika jus-jus itu sedang melambai meminta direnggut.


Dan ia semakin kacau saat Linda menyodorkan jus buah mangga langsung ke depan bibirnya. Aromanya yang menyesaki rongga hidung dengan wangi khasnya membuat bibir Ayah Berli spontan mencicipi jus itu.


"Sudah lama aku tidak melakukan ini, membantu Ayah minum. Aku merindukan saat-saat seperti ini," kata Linda.


Wanita cantik itu kini sudah tampak ceria, hanya cuping hidungnya saja yang memerah karena sisa-sisa tangisan.


Lalu Pak Yudha datang.


"Bagiamana?" tanya Agam.


"Alhamdulillaah, wartawan mau mendengarkan penjelasan dari saya. Tapi tetap mau bertemu dulu dengan Pak Agam."


"Baiklah, saya ke sana sekarang."


Agam bersiap. Ia menyisir rambut tebal indahnya menggunakan jemari.


"Anda yakin mau menemui mereka sekarang? Tidak menunggu pengacara Vano dulu?" Pak Yudha khawatir.


"Tidak perlu, saya memanggil Vano untuk agenda lain. Ayah, Linda, dan kamu ... emm Hikam, saya tinggal dulu ya."


Agam membungkukkan badan sebelum akhirnya pergi dari ruangan itu untuk menemui para wartawan.


.


.


.


.


"Ayah, apa Ayah tidak akan memaafkanku?"


Linda kembali merebahkan tubuhnya di bahu Ayah Berli.


Sejatinya hubungan Linda dan ayahnya memang sangat dekat. Linda sangat manja, dan Ayah Berli akan melakukan apapun demi mencapai keinginan Linda.


Ayah Berli dan keluarga besarnya memang menolak cita-cita Linda yang ingin menjadi artis. Namun rengekan dan tekad kuat dari Linda membuat Ayah Berli luluh. Hingga pada akhirnya ia memutuskan merantau ke kota demi mewujudkan cita-cita putrinya.


"Tapi, Ayah hanya mengizinkan kamu jadi pembawa acara berita, jangan yang lain ya, Nak."


Ia mengingat kembali wejangannya pada Linda di hari pertama putrinya bekerja menjadi news anchor.


"Ayah ... sebenarnya aku hamil anak kembar, tapi ... sudah keguguran," jelas Linda. Memudarkan lamunan Ayah Berli.


"A-apa?!" Ayah Berli terkejut.


"Kenapa sampai keguguran? Apa gara-gara dia menyakiti kamu?"


Akhirnya Ayah Berli mau juga menatap Linda.


"Bukan Ayah, bukan gara-gara Pak Agam. Justru karena kesalahanku. Aku mencoba kabur dari rumah ini karena salah faham. Kalau saja Pak Agam tidak menyelematkanku, bisa jadi aku kehilangan keduanya dan kehilangan nyawaku. Aku serius, Yah." Linda meraih tangan Ayah Berli dan menciumnya.


"Ayah sudah memaafkan aku, kan?" Lagi, Linda memastikan.


"Ayah sudah maafkan," lirihnya.


"Apa? Benarkah? Huuu ... Ayah ... terima kasih." Linda memeluk Ayah Berli dan menangis di dadanya.


"Tapi ... kamu pulang ya ... tinggalkan rumah ini, tinggalkan pria itu."


"Ta-tapi Ayah ... aku mencintai dia. Aku tidak mau menikah selain dengan Pak Agam." Linda menatap mata Ayah Berli yang berkaca-kaca.


"Ayah belum mengenal dia. Mana mungkin Ayah menikahkan putri berharga Ayah pada pria yang belum Ayah kenal babat, bibit, bebet, bobotnya."


Rupanya hati Ayah Berli telah melunak, ia mendekap Linda sambil mengusap rambutnya. Jelas, ia begitu merindukan Linda. Kini, setelah Agam tidak ada di ruangan itu, tangisnya pecah.


"Ayah sangat merindukan kamu, Nak. Ayah berpikir kamu dipaksa dan ditekan oleh pria itu. Tapi ... setelah Ayah melihat tatapan dia untuk kamu dan tatapan kamu untuk dia, rasanya ... Ayah juga harus mulai mengenal dia. Berat memang, tapi ... ayah tidak bisa memungkiri kenyataan jika pria itu adalah ayahnya," lirih Ayah Berli.


"Ayah kenapa jadi jadi begini?!" Hikam berdiri.


"Hikam, dengarkan Ayah dulu."


Hikam marah, ia berpikir Ayah Berli telah mempermainkan perasaannya.


"Hikam, bukan begitu. Kondisinya berbeda, Ayah sedang berpikir. Belum tentu juga Ayah menerima dia. Ayah hanya ingin memastikan dan mengenal dia lebih jauh lagi. Ayah tidak mau menyimpan praduga ini berlama-lama," terang Ayah Berli.


"Maafkan aku juga Hikam. Tolong fahami kondisi aku dan Ayah," tambah Linda.


"Tapi Yah, Linda, sudah jelas-jelas Agam Ben Buana itu jahat, dia antek Haiden, dia misterius dan berbahaya. Hidup Linda bisa terancam jika menikah dengan dia. Bukannya Ayah sendiri pernah mengeluh padaku tentang masalah itu?"


"Hikam, cukup! Apa yang kamu bicarakan? Pak Agam berbeda dengan keluarga Haiden." Linda tidak terima dengan ucapan Hikam.


"Ayah tolong jelaskan, ada masalah apa? Apa ini berhubungan dengan anak buah pak Agam? Atau dengan pak Agamnya?" tanya Linda.


Ayah Berli menghela napas.


"Dua-duanya Linda, Agam Ben Buana dan anak buahnya sangat mencurigakan. Terutama orang-orang yang datang pertama kalinya ke Pulau Jauh," kata Hikam.


"Apa maksudmu orang-orang yang berbahasa asing itu? Yang berbicara tentang peretasan dan pembunuhan, kan?" sela Linda.


"Kamu tahu?" Hikam terkejut, begitupun dengan Ayah Berli.


"Ayah, ceritanya panjang. Begini ...."


Linda menarik napas, duduk anggun dan santai, lalu menceritakan bagaimana ia bisa menemukan surat dari ayahnya. Namun ia melewatkan tentang Agam yang menembak ban mobil milik paman Setyadi.


.


.


.


.


Sementara di depan gerbang rumah mewah itu, Agam sedang dikerubuti awak media, ia diapit oleh Enda, Maxim dan Pak Yudha.


"Pak Agam, jelaskan pada kami, ada apa ini?"


"Ya, Pak. Ada artikel tentang pengakuan dosa yang jelas-jelas melibatkan Bapak. Kami tidak faham, memangnya dosa apa sih?"


"Lalu apa benar Bapak ada main dengan sekretaris Bapak?"


"Hei, tenang dong!" teriak Maxim.


"Ya, beri kesempatan pada Pak Agam untuk duduk." Enda berang


Sekretarisku? Maksudnya Fanny? Batin Agam berpikir.


Agam mengedarkan tatapan pada awak media setelah berhasil duduk di kursi yang telah disediakan Pak Yudha.


"Coba jelaskan satu-satu, kenapa kalian datang ke rumah saya dengan berbondong-bondong seperti ini?"


"Memang Pak Agam tidak tahu? Ada yang menemukan vidio syur mirip Bapak dan bu Fanny di situs dewasa. Lalu ada artikel yang menjelaskan Bapak akan preskon pengakuan dosa."


"A-apa?!" Agak terkejut. Mata sayunya sampi melotot sempurna.


"Ya Pak, Bapak dan sekretaris Bapak enak-enak di kamar Dirut, di ruang kerja, di ruang makan dan di ruang rapat."


"CUKUP! DIAAAM!!" teriak Agam.


Dan semuanya terdiam, sunyi, sepi.


"Untuk masalah artikel, saya belum bisa menjelaskannya sekarang. Tentang vidio itu saya pastikan itu rekayasa," tegasnya.


"Tapi Pak ... ka ---."


"Diam! Saya tidak mau menanggapi sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan saya! Silahkan kalian selidiki sendiri kebenarannya! Saya tidak takut!" ketusnya.


Lalu Agam berlalu cepat, ia menyibak kerumunan para wartawan dengan wajah memerah. Merasa waktu berharganya bersama Linda dam calon mertuanya terbuang percuma.


"Urus mereka!" perintahnya pada Maxim dan Enda.


"Baik, Pak."


Sementara dirinya segera masuk ke dalam rumahnya bersama Pak Yudha.


"Kalian bodoh ya! Secara kasat mata saja saya bisa memastikan ini bukan pak Agam. Pak Agam memang putih, tapi tidak putih pucat seperti ini," kata Enda.


Ia, Maxim dan beberapa wartawan sedang menonton vidio yang dimaksud.


Vidio itu telah disunting. Adegan vulgar pada bagian intinya telah diblur dengan filter mozaik.


"Perut prianya four pack, sedangkan pak Agam itu six pack. Pak Agam tinggi tegap, rambutnya tebal dan hitam. Yang ini rambutnya kecoklatan, dan tidak setegap Pak Agam," pungkas Maxim.


"Saya yakin 100 persen ini hanya rekayasa menggunakan wajah pak Agam. Tapi wajah wanitanya? Emm, seperti asli," tambah Enda.


"Kawan-kawan sekarang kita ke rumah bu Fanny saja," seru seorang wartawan.


"Siaaap," sahut yang lainnya.


...*...


...*...


...*...


...*...


"Maaf, ada sedikit masalah," kata Agam saat ia tiba di ruang tamu rumahnya."


"Ada masalah apa, Pak?" tanya Linda.


Wanita itu masih bergelayut manja di bahu Ayah Berli. Dan Agam bahagia melihatnya.


"Ada yang memfitnah saya." Agam duduk tepat di samping Hikam.


Hikam bergeser, tapi Agam jua bergeser.


"Mari berteman," ucap Agam.


"Tidak mau, saya miskin, kamu kaya-raya," ketus Hikam.


"Hahaha, saya tidak merasa kaya, semua ini hanya titipan." Sambil menepuk bahu Hikam.


"Pak Agam, bagaimana kalau kita shalat berjamaah dulu? Sebentar lagi Maghrib, setelah itu baru kita ke rumah sakit," ajak Pak Yudha.


"Tapi selesai shalat kita makan dulu," sela Agam sambil menganggukkan kepala dan melempar senyum kepada Ayah Berli.


Akhirnya, karena shalat hukumnya wajib, mau tidak mau, Hikam dan Ayah Berli terpaksa beranjak jua ke lantai dua menuju mushola yang ada di rumah itu saat adzan berkumandang.


Pak Yudha sebagai imam. Agam sengaja berdiri di samping Ayah Berli. Maxim dan Enda berjaga-jaga di lantai satu.


Rasa sakit post operasi darurat pengangkatan proyektil seolah lenyap manakala Agam merasakan betapa bahagianya bisa beribadah berdampingan dengan Ayah Berli.


"Pak Agam dan Ayah kamu serasi, menantu dan mertua sama-sama ganteng dan gagah," bisik Bu Ira saat shalat telah usai dan Pak Yudha sedang memimpin doa.


Linda hanya tersenyum, lalu ia menatap pundak dua pria yang dicintainya itu dengan hati berbunga-bunga.


Namun kedatangan Maxim mengejutkan semuanya.


"Pak Agam, mohon maaf, ada tamu."


"Siapa?" Agam menoleh.


"Paman Yordan," jawab Maxim.


"Benarkah?" Agam berbinar.


Ia pamit dan berjalan cepat untuk menyambut kedatangan paman Yordan yang memang sangat dinanti.


Alhamdulillaah.


Agam bahagia. Ia ingin segera menyampaikan keluh-kesah dan keinginannya pada paman Yordan.