AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Hope Before Sleep



"Bagaimana? Mau membantu saya?" Agam mengulang pertanyaannya.


"Maaf, aku ada tugas lain Pak, permisi." Freissya berlalu begitu saja. Tidak mau menjawab pertanyaan Agam.


"Ice, pikirkan lagi baik-baik, jangan sampai kamu menyesal," kata Agam saat Freissya menutup pintu.


Agam menghelas napas, menatap Gama lalu melanjutkan kembali membaca kita suci.


Gadis itu lumayan cerdas, pikir Agam.


Setelah membaca kitab suci, Agam memulai percakapan dengan Gama.


"Gama, Kakak akan mengabulkan permintaan kamu. Kakak akan membantumu mendapatkan Ice, tapi ... kamu cepat sadar ya," lirih Agam sambil mengelus pipi Gama. Ternyata pipi Gama lembut dan kenyal seperti squishy.


"Apa kamu ingat? Dulu ... muka Kakak sering tersembur air seni kamu. Pasti kamu tidak ingat ya? Bukan Kakak saja sih yang terkena, ibu dan bu Ira juga sering. Kamu itu suka pipis mendadak saat diganti pampers."


"Gama, sejak Kakak tahu akan memiliki adik, awalnya Kakak sedih. Kamu tahu tidak alasan Kakak sedih itu apa? Emm, Kakak takut kalau kamu lebih tampan dari Kakak. Lucu kan?" Agam menahan senyum sekaligus menahan tangis.


"Kakak bersembunyi di kolong tempat tidur saat ibu dan ayah akan memperlihatkan kamu pada Kakak untuk pertama kalinya."


"Kakak dibujuk sama bu Ira agar keluar. Kata bu Ira, 'ayo lihat adiknya, dia lucu dan tampan seperti Kakak.' Tapi Kakak tidak mau lihat. Tetap bersembunyi sampai ketiduran."


"Saat Kakak bangun, Kakak melihat kamu berada di boks bayi. Saat itu hanya ada Kakak dan kamu di dalam kamar. Kakak buka kelambunya, lalu Kakak mengintip. Kamu tidur. Kamu lucu dan tampan. Terus Kakak becermin, ceritanya sedang membandingkan ketampanan kamu dan Kakak. Hehehe, maaf ya saat itu Kakak ke-PD-an, Kakak merasa lebih tampan dari kamu."


"Lalu ... Kakak mencium pipi kamu untuk pertama kalinya. Kamu wangi khas bayi. Mirip seperti wanginya Keivel. Tiba-tiba ibu dan ayah masuk, Kakak kembali ke kolong ranjang, dan pura-pura tidak suka sama kamu."


"Ibu dan ayah membujuk Kakak, Kakak keluar, tapi tetap tidak mau melihat kamu. Padahal, Kakak sudah melihat dan mencium kamu.'Kak ayo lihat, adiknya lucu, ganteng seperti kamu, ayo cium mulutnya. Mulutnya wangi lho, Kak' kata ibu begitu. 'Tidak mau! Aku tidak mau ada adik! Adik bau! Adik jelek!' Kalau tidak salah, itu yang Kakak ucapkan pada saat itu."


Agam terus becerita, mengenang masa-masa indah itu dengan dada yang kian sesak karena menahan kesedihan.


"Kakak selalu berpura-pura tidak suka sama kamu. Padahal, saat tidak ada siapa-siapa, Kakak sering mencium kamu. Kakak bahkan pernah mengganti popok kamu tanpa sepengetahuan ibu dan ayah ataupun Bu Ira. Tapi, akting Kakak tidak bertahan lama. Ternyata, ibu dan ayah memergoki apa yang sering Kakak lakukan dari CCTV. Mereka terharu, Kakak sampai diberi hadiah dan disanjung-sanjung." Agam tersenyum.


"Lucu, kan? Masih banyak lagi cerita masa lalu yang ingin Kakak katakan padamu, tapi ... akan Kakak lanjutkan setelah kamu sadar. Kamu penasaran, kan? Makanya cepat sadar ya .... Kakak mohon ... bangun dan sehat kembali Gamayasa Val Buana," pungkas Agam.


'Tok, tok, tok.'


"Pak, mohon maaf, jam besuknya sudah habis." Seorang suster mendatangi kamar Gama.


"Oh, oke. Terima kasih, Sus. Titip adik saya ya."


"Baik, menjaga pasien adalah tugas kami, Pak." Sambil mencuri pandang. Serius, Agam Ben Buana tampannya tidak membosankan.


"Oiya Sus, saya juga mau titip seseorang. Bimbing dia dengan baik ya."


"Maksud Bapak?" Suster bingung.


"Emm, kenal Suster Freissya, kan?"


"Kenal dong Pak. Dia rekan kerja kami."


"Suster Freissya itu sebenarnya kekasih adik saya," terang Agam.


"A-apa?" Mata suster membelalak.


"Tapi jangan beritahu pada siapapun ya, Sus. Mereka merahasiakan hubungannya." Agam mulai menjalankan misi. Ia tahu info darinya lambat laun akan menjadi bahan gosip hangat di kalangan para suster.


"Begitu ya? Sama kita, Frei mengaku hanya sebagai teman adik Bapak."


"Mungkin masih malu. Ya sudah, saya permisi ya Sus, jika ada apa-apa pada adik saya, tolong segera kabari."


"Baik, Pak." Suster membungkukkan badan saat Agam pergi.


Agam berjalan meninggalkan ruang ICU, semua tatapan tertuju padanya. Tatapan itu baru lekang setelah punggung kokoh Agam menghilang di balik pintu. Pesona Agam Ben Buana tak terbantahkan. Freissya mengintip di balik tirai, ia merasa lega atas kepergian Agam.


Dugaan pak Dirut benar, tipu dayanya tentang hubungan Gama dan Freissya kini memasuki fase baru. Ya, suster yang tadi mendapatkan info dari Agam langsung beraksi. Dia menyampaikan info itu pada teman dekatnya. Teman dekatnya lantas menyampaikan info itu pada teman dekatnya lagi. Begitu seterusnya, hingga terbentuklah sebuah rantai rahasia umum.


"Frei, sebelum pulang mandiin Tn. Gamayasa dulu ya."


"Hah? A-apa? Harus sekarang Kak? Bukannya jadwal mandinya jam enam pagi? Artinya yang harus mengelap yang jaga malam dong, Kak."


"Tadi ada intruksi dari dokter bedahnya Frei, harus dilap dulu, nanti sore kan mau di rontgen thoraks, kalau sudah bersih kan enak." Tanpa diketahui oleh Freissya, mata para kakak senior nyatanya saling berkedip satu sama lain.


"Kak, sama Kak Dani saja ya, aku kan perempuan, aku risih," elak Freissya.


"Frei, Kak Dani kan lagi rapat mutu, tidak tahu juga selesainya kapan," jelas suster senior.


"Ya, Frei lap sekarang saja, lagipula itukan tugas kita," Kepala Ruang ICU tiba-tiba datang dan membujuk Freissya.


Mereka kenapa sih?Freissya mulai tidak enak perasaan. Ia merasa ada yang janggal.


Ketika Kepala Ruangan sudah menyuruhnya, masa ya ia berani menolak? Dengan berat hati, akhirnya Freissya menunduk dan berkata ....


"Ba-baiklah." Lalu bergegas ke kamar Gama.


Lantas, apa yang teman-teman Freissya lakukan? Mereka terkekeh bersama. Sebagian mengangkat jempol. Bapak Kepala Ruanganpun sudah mengetahui gosip hangat itu. Mereka ternyata jahil.


Lalu seorang petugas keamanan memasuki ruang ICU.


"Ada apa Pak?" tanya Kepala Ruangan.


"Pak, di depan ada paket makanan, banyak sekali. Katanya Bapak yang pesan."


"A-apa?! Ta-tapi saya tidak merasa pesan apa-apa." wajah Kepala Ruangan memucat.


"Katanya sudah dibayar kok Pak."


"A-apa?"


Mereka saling menatap dan seorang suster menyadari sesuatu.


"Pak, ini pasti ulah pak Agam."


"Wah, kamu benar," sahut yang lain.


Ternyata, bukan ruang ICU saja yang mendapatkan paket makanan. Ruang OK dan IGD pun dapat. Hari ini, mereka punya cerita. Kemudian ada doa kebaikan dan kesembuhan untuk Gama di setiap suapan yang mereka nikmati.


...❤...


...❤...


...❤...


Akhirnya, tugas pemulihan data selesai jua. Semua informasi penting yang dibutuhkan Agam Ben Buana telah selesai. Disimpan, lalu disurelkan. Kini saatnya Mister X leyeh-leyeh. Bermain game sejenak sambil menunggu kumandang adzan Isya.


Done, Mister X menang telak. Dia meregangkan ototnya, menggeliat-geliat sambil tetap waspada. Matanya sering melirik ke sana. Ke pintu ruang tamu. Beberapa kali dilirik namun yang dinanti tak kunjung tiba.


"Senjaaa," panggilnya dengan suara asli, Mister Example.


"Apa gendut," sahut Senja. Keluar dari balik pintu, sudah menggunakan piyama tidur. Tenang saja, bahan piyamanya tebal kok.


"Apa kamu bilang?" Yang dikatai gendut hanya bisa menahan tawa. Menatap gadis tuna netra itu penuh kekaguman.


"Kak Exam tidak mau kupanggil gendut? Ya sudah, aku panggil botak saja ya, hihihi." Senja terkikik, meraba kursi, lalu duduk di samping Mister X.


"Bibi bilang apa sama kamu?" tanya Mister X seraya berpindah menjauhi Senja.


"Kata bibi, bibi mau pulang besok pagi. Sebenarnya aku merasa aneh sama bibi. Akhir-akhir ini bibi jarang pulang. Kenapa ya, Kak?"


"Kakakku sibuk," kata Mister X.


"Emm, begini ya. Sebenarnya, saat berdua sama Kak Exam aku merasa sedikit risih. Takut Kak Exam menjahatiku."


"Apa? Hei, aku tidak mungkin menjahati kamu. Kamu bukan tipeku. Kamu jelek," sela Mister X.


"Apa? Hahaha, berarti kita sama-sama jelek ya, Kak. Kakak juga kan gendut, dan botak."


Tidak Senja, kamu tidak jelek. Kamu sangat cantik. Aku bahkan sering mimisan gara-gara kamu.


"Kak, kok diam saja? Kakak di sebelah mana sih?" Senja meraba-raba.


"Aku ada di sisi kanan kamu."


"Oh, hehehe, berarti selama ini nenek, paman, bu bos dan orang-orang itu berbohong. Kata mereka aku cantik. Hmm, mungkin hanya ingin menjaga perasaanku saja kali ya? Kak Exam adalah orang pertama yang mengatakan kalau aku jelek. Terima kasih sudah jujur, Kak."


"Ya," jawab Mister X, singkat.


Pandangannya tak luput dari menatap Senja. Dari rambut hingga ke kaki. Lalu naik lagi ke rambut lagi. Sesekali menggelengkan kepala untuk menetralisir pikiran-pikiran nakal itu.


"Kalau boleh tahu, apa Kak Exam bisa mendeskripsikan wajahku?"


"Em, kamu jelek. Titik, itu saja," jawabnya.


"Masa hanya itu? Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa kok, besok aku mau bertanya sama bibi saja, hemh," ketusnya. Gaya Senja saat mengatakan 'hemh' sangat menggemaskan. Mister X sampai melakukan gerakan meremaskan tangan.


Euuhh, tahan ... tahan ... ini ujian. Mister X gundah.


"Ya, silahkan. Oiya aku mengantuk, aku istirahat duluan ya. Dadah adik jelek," ledek Mister X.


"Ye, aku anak tunggal, Kak. Dan maaf-maaf ya, keluargaku tidak ada yang botak. Makan belewah campur otak-otak. Dadah juga botak," ledek Senja sambil melambaikan tangan.


"Argh, k**amuuu**," geram Mister X. Penuh penekanan pada kata 'kamu.' Ingin rasanya menggigit pipi mulus Senja. Tapi ditahan-tahan.


Faktanya, Senja ditipu. Mister X tidak kemana-mana. Masih duduk di tempat dan memandanginya. Mister X ingin mengetahui apa yang dilakukan Senja setelah ia pergi.


Gadis itu melebarkan tangan di sisi telinganya. Rupanya ingin memastikan jika di ruangan ini hanya ada dirinya. Mister X sampai memelankan napasnya. Ia tidak ingin keberadaannya disadari Senja.


"Halooo, Kak Exaaam," panggil Senja.


Mister X berlari senyap ke kamarnya lalu beteriak dari sana.


Suara itu terdengar samar-samar di telinga Senja. Fix, Senja yakin kalau Mister ada tidak ada di ruangan ini. Padahal, pria berlensa indah yang selalu memakai masker hitam itu kembali lagi ke ruang kerjanya.


"Aman," gumam Senja. Lalu ia berdiri dan meraba sekitaran.


"Aku sebenarnya mau mengetahui seperti apa bentuk komputer," gumam Senja.


Dasar ceroboh, kalau kamu tersetrum bagaimana? Mister X segera mematikan beberapa koneksi listrik yang berada di dekat Senja. Hanya layar utama yang masih menyala.


"Apa ini ya? Kok lembek sih? Ihh," Senja menepiskan tangan. Ia tidak sengaja memegang sisa rebusan kentang bekas Mister X. Lagi, Mister X menahan tawa.


"Tunggu, dari teksturnya ini sepertinya rebusan kentang yang dihaluskan. Jorok sekali, kenapa tidak dibereskan? Pasti dia mengandalkan kakaknya untuk membersihkan ini. Dasar adik tidak berguna," rutuk Senja.


"Aduh, kok tiba-tiba mau kentut sih?"


"Pfft," Mister X membekap maskernya. Serius, ia susah-payah menahan tawanya. Senja ternyata tidak gengsian. Bahu Mister X sampai bergerak-gerak karena terpingkal.


"Apa itu?!" Senja kaget. Suara 'pfft' terdengar samar.


"Kak Exam?" panggilnya.


"Kak Exam tidak sedang mengintipku, kan?"


Tapi tidak ada jawaban.


"Hmm, si gendut mungkin sudah tidur, hehe," katanya sambil siap-siap. Sepertinya serius mau kentut.


Jantung Mister X mendadak berdegup cepat. Ini kali pertamanya ia akan mendengar suara kentut dari gadis yang ia kagumi. Kekasihnya yang telah tiada begitu anggun dan pemalu. Sangat berbeda dengan Senja. Kekasih Mister X selalu menjaga keestetikan dan menjaga image.


"Ayo dong perut, kok susah sih?" Senja mengetuk-ngetuk perut dan punggungnya.


"Satu, dua ...." Mulai berhitung.


Dasar gadis aneh. Batin Mister X.


"Ti ---, yah sepertinya aku tidak jadi kentut. Ya sudahlah, kan masih bisa kentut lagi di lain waktu," katanya sambil mengelus perutnya.


"Hari ini bibi membuat siomay, enak sekali. Gara-gara kebanyakan makan kolnya, aku jadi mau kentut terus. Tidak bau sih, tapi lumayan mengagetkanku kalau bunyinya kencang," katanya.


Apa? Dia kaget sama kentutnya sendiri? Ya ampun gadis ini lucu sekali. Mister X tertawa dalam keheningan.


Sebagai calon pendengar ia merasa kecewa. Mister X menyayangkan kegagalan Senja dalam mengeluarkan kentutnya. Padahal, ia penasaran dan sangat ingin mendengarnya.


Seperti itulah keunikan cinta. Suara kentutnyapun begitu dirindukan. Ya ampun.


...❤...


...❤...


...❤...


Agam menatap langit-langit kamar hotel. Ia tidak bisa tidur. Hatinya kembali diselimuti berbagai macam masalah yang merongrong hidupnya.


Info terbaru dari Vano, politikus yang menyimpan dendam pada Briliant telah mengajukan gugatan. Cepat atau lambat, istrinya akan diadili. Selain itu, hasil penyeledikan kebakaran mobil di tolpun dipastikan akan segera rampung dalam dua hari ke depan.


Apa jadinya jika ia dan Linda dijadikan tersangka? Belum lagi urusan Gama dan gugatannya terhadap BRN.


Agam kembali membaca berkas yang dikirim Vano sambil memijat dahinya. Info lainnya adalah kepulangan ibundanya. Ya, kata bu Ira, lusa ibunya akan pulang.


"Huphh ...."


Pak Dirut menghelas napas, lalu menghembuskannya pelan saat ada puluhan surel masuk ke akunnya. Pengirimnya Aulia. Isinya pasti tentang agenda hariannya sebagai Dirut HGC.


"Sayang ... kangen kamu," keluhnya.


Agam membaca tugas-tugasnya sambil membayangkan sang istri dan Keivel. Lalu mengusap kembali tanda cinta yang masih membekas. Ingin menelepon Linda tapi ini sudah jam satu malam. Malam ini, pak Yudha yang menjaga Gama. Kini, wajah Gama yang terbayang di pelupuk matanya.


Agam kembali bersuci, lalu membaca kitab suci untuk mendoakan Gama.


"Semoga (Allah) menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia. Yaa Rabbi, lekas hilangkanlah seluruh penyakit dan kesakitan yang ada pada adikku Gamaya Val Buana. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah Penyembuh."


"Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit dan melenyapkan rasa sakit kecuali Engkau. Engkaulah yang memberikan kesembuhan sempurna tanpa menyisakan rasa nyeri. Yaa Rabbi, sembuhkanlah Gama, sembuhkanlah Gama, sembuhkanlah Gama."


"Aamiin." Agam mengamini doanya.


Lalu merebahkan diri lagi, tak lupa membuka baju dan push up sebelum tidur. Entah dihitungan berapa tubuhnya ambruk. Peluh mengalir di pelipis dan punggungnya. Lalu terlentang dan kembali menatap langit-langit. Eh, ada cicak yang tengah menatapnya.


"Ada mangsa," gumamnya.


Segera berdiri dan membunuh si cicak dengan sabetan sabuk. Hanya sekali serangan si cicak terbunuh. Agam tersenyum puas.


"Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua." Agam mengingat kembali nasihat guru ngajinya yang ditukil dari sebuah hadist.


Baru saja hendak memejamkan mata seseorang menelepon. Agam kegirangan.


"Assalamu'alaikuum," sapa Agam.


"Wa'alaikumusalaam," jawab Linda.


"Kenapa? Kangen ya sayang?" To the point.


"Ti-tidak," elak Linda.


"Oh, kirain saya rindu, hehe," goda Agam.


"Kenapa Pak Agam belum tidur?"


"Karena memikirkan seseorang."


"Siapa? Apa Keivel?"


"Lebih tepatnya momcanya Keivel, dan Keivelnya juga sih."


"Sungguh?" tanya Linda.


"Bersungguh-sungguh sayang, saya ingin memeluk kamu."


"Hanya memeluk? Yakin?" LB memancing.


"Lebih dari pelukan sayang."


"Dasar m e s u m," ledek Linda.


"Bukannya kamu juga m e s u m?" sindir Agam.


"Jangan cuci tangan, Pak."


"Oke, kita bahas yang lain. Kenapa belum tidur sayang?"


"Baru selesai kasih ASI, Pak. Alhamdulillah, Keivel tidak demam lagi. Aku iseng telepon Bapak. Kukira tidak akan diangkat."


"Alhamdulillah," sahut Agam.


"Ya sudah, aku pamit ya Pak."


"Kamu ngantuk?"


"Belum Pak."


"Em, begini sayang, gara banyak masalah dan jauh dari kamu, saya jadi insomnia, ini sudah push up sampai lelah, tapi tetap sulit tidur. Bantu saya agar bisa tidur sayang."


"Hah? Caranya? Aku bukan dokter Pak. Tanya saja sama dokter Mia." Nada cemburu mulai terasa.


"Hei hei, sayang ... saya tidak terpikirkan sedikitpun pada dokter Mia. Kenapa kamu malah mengingat dia?"


"Yang biasa punya obat tidur kan dokter."


"Hahaha, El ... kalau saya butuh bantuan medis, saya bisa telepon dokter Dani, dokter Rita, dokter Fatimah, atau dokter Cepy. Tak perlu dokter Mia. Yang saya butuhkan saat ini adalah dokter cinta, sayang."


"Apa?"


"Dokter cinta saya kan kamu. Ayo dokter cintaku, lelapkan saya, hehe," goda Agam.


"Pak Agam berlebihan deh, aku tidak suka digombal-gombal."


"Saya tidak gombal, El. Ayo sayang lakukan sesuatu supaya aku bisa tidur."


"Aku harus apa?"


"Emm, ada dua pilihan sayang. Satu, bernyanyi hingga saya terlelap. Kedua, emm ... bercinta."


"Apa?! Aku pilih nomor satu. Pak Agam mau lagu apa?" Suara Linda terdengar gugup.


"Tapi saya maunya yang nomor dua sayang."


"Ti-tidak Pak Agam.Em ... a-anu Pak, 🎶🎶," langsung pada intinya. Linda bernyanyi. Suaranya sangat merdu. Agam tersenyum. Merasa terhibur dengan tingkah Linda.


Beberapa menit kemudian ....


"Sayang? Halooo. El, halooo." Sepi.


Linda rupanya sudah tidur. Namun ponselnya masih aktif. Pak Dirut tersenyum.


"Selamat tidur sayang, semoga malam ini kita bisa dipertemukan di alam mimpi. I love you istriku, emmuach."


...~Tbc~...