
"Sabar yaaa, please ...."
Sesekali Agam melirik ke arah Linda.
"Uhh, hu hu hu ... huhhh ... sakiiit, Pak ...."
"I-iya saya tahu. Sebentar lagi sampai kok. Mungkin lima menit lagi. Tenang oke, tarik napas, buang napas. Tenangkan pikiran kamu. Bayangkan sedang makan sesuatu yang kamu sukai," kata Agam. Ceritanya sedang mensugesti Linda agar rasa sakitnya berkurang.
"Huuu huuu ... ini gara-gara Pak Agam! Ini sakit sekali, aaarrghh ... laki-laki hanya tahu enaknya saja, aahh ... emmh ... seperti ada yang mau keluar Pak, cepat Pak ... cepaaat ...." Linda semakin gelisah.
"A-apa? Enak apanya? Ya maaf saya salah. Saya sadar dari awal ini salah saya. Tapi tolong bertahan ya, kumohooon." Agam kembali meraih tangan Linda untuk digenggamnya.
"Huuu ... ibu ... ayaaah ...." Linda meratap.
"Saya tidak mau keguguran Pak. Saya takut bayinya tidak bisa bertahan, huuu huuu."
"Sssstt, sudah jangan panik. Saya juga tidak mau bayi kita kenapa-kenapa. Itu dia klinik dokter Fatimah," seru Agam.
Ia semakin tancap gas dan berbelok menukik sembarangan demi segera sampai di halaman klinik. Namun Agam yang panik tidak bisa mengendalikan kemudi. Ia pun menabrak pagar klinik milik dokter Fatimah.
'BRAK.'
Suaranya kencang. Membuat penjaga klinik terkejut. Mereka langsung keluar bersama beberapa orang petugas yang lain.
"Tunggu, ya."
Agam keluar dengan cepat.
Pagar rusak berat. Dan bagian depan mobilnya tergores. Tapi bukan masalah penting, yang terpenting adalah ia harus segera menangani dan menolong Linda.
"Mana dokter Fatimah?! Saya membawa pasien," teriak Agam. Dan membuat para petugas terkejut.
"Mana pasiennya? Dokter Fatimahnya sedang istirahat. Biar kita tangani dulu."
"Tidak mau! Saya mau ada dokter Fatimah! Bangunkan dia! Cepat bangunkan, cepaaat!" teriaknya.
"Tolong tenang Pak! Jangan membentak kami! Kami di sini bekerja profesional. Saya akan periksa dulu pasiennya," kata seorang petugas wanita, tertulis di name tag nya. Bidan Lia.
"Saya panik! Pasiennya perdarahan! Saya harus berbicara dulu dengan dokter Fatimah."
Agam bersikeras, tapi tangannya terlihat menarik brankar. Ya, Linda memang harus segera ditangani oleh siapun itu.
Tapi ....
Status Linda sebagai artis membuatnya bingung. Padahal ke dokter Fatimah ia sudah menjelaskan kalau Linda adalah Bulinda, sepupunya.
Aduh, bagaimana ini. Ia ragu saat mau membuka pintu mobil.
"Pak Agaaam, cepaat ...." Di dalam mobil tangan Linda terlihat mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Darah dari sana terus mengalir.
"Aaaah," teriakan panjang Linda menggema saat gumpalan darah keluar spontan begitu saja tanpa bisa ditahan.
"Huuu ...." Linda menangis, menangis dan menangis.
"Kalian minggir dulu! Saya mau berbicara sebentar dengan pasiennya."
Agam menyibak petugas yang ada di depan pintu mobilnya, dan merekapun memberi jalan pada Agam.
Agam membuka pintu mobil.
"Kalian jangan melihat kemari!" bentak Agam.
"Ih siapa sih dia, mentang-mentang ganteng, banyak duit, dan mobilnya bagus sampai sombong dan arogan begitu," bidan Lia bisik-bisik pada temannya.
"Benar, tidak sadar apa ya dia sudah merusak pagar klinik?" sahut temannya yang lain dengan suara pelan.
"Linda ...."
Agam segera memeluk yang sedang menangis itu saat pintu mobil sudah terbuka.
Linda tidak menolak, saat ini ia memang butuh dukungan dan hanya pria ini yang bisa diandalkan untuk saat ini.
"Pak ... tadi sudah ada yang ke-keluar," rintihnya.
"Apa yang keluar?"
Agam mencoba menenangkan sambil mengusap peluh di wajah Linda.
"Satu orang cepat panggil dokter Fatimah!" teriak Agam, sejenak melongokan kepala untuk menatap tajam pada petugas yang semuanya adalah perempuan. Sampai scuritynyapun perempuan.
"Pak Agam ... jangan galak-galak, sa-saya juga takut, a-apalagi mereka. Linda menatapnya dalam.
"Eh, benar kita bangunkan saja dokter Fatimah, lagipula kalau ada keluarga pasien yang semena-mena kitakan diharuskan untuk lapor beliau," kata bidan Lia.
"Ya sudah saya ke dalam." Seorang bidan langsung berlari.
"Huuu huuu ...."
"Ssshh, ssshh, sudah tidak perlu menangis lagi. Kita serahkan pada Yang Maha Kuasa, oke." Agam memeluk Linda kembali, didekapnya erat dengan tangan yang gemetar.
"Saya bahagia bisa menemukan kamu, Linda." Sambil mengusap rambutnya.
"Tapi, saya tidak menyangka jika pertemuan kita akan dalam keadaan segenting ini."
"Huuukks." Linda hanya menjawabnya dengan isakan.
"Sekarang tolong bantu saya, untuk mengatakan apa pada dokter Fatimah, saya tidak mau identitas kamu terbongkar dan membuatmu tidak nyaman lagi. Atau kita jujur saja pada dokter Fatimah. Saya rela menanggung malu dan kehilangan HGC demi kamu dan bayi kita," kata Agam.
Dan ucapan Agam membuat Linda terenyuh, sedih, dan juga sakit.
"Saya meninggalkan Bapak karena saya tidak mau menjadi beban untuk Pak Agam. Saya tidak mau merusak karier Pak Agam. Pak Agam orang hebat. Bukan orang pinggiran seperti saya. Ya, saya memang artis terkenal, tapi image saya selalu dianggap buruk. Cukup saya saja yang merasakan penghinaan ini, Bapak jangan."
"Linda, tolong jangan berbicara seperti itu."
Agam mendekapnya semakin erat. Ada desiran rasa sakit yang menguliti hati Agam setelah mendengar ucapan Linda.
"Bapak sudah baca suratnya, kan? Saya sudah merelakan semuanya Pak ... Bapak tidak perlu lagi bertanggung jawab untuk kejadian hari itu."
.
.
.
"Dok, Dok, banguun, Dok! Ada keluarga pasien mengamuk sampai menabrak pagar, kita tidak bisa menangani, Dok."
Teriak seorang bidan sambil mengetuk pintu jendela kamar dokter Fatimah, yang rumahnya ternyata ada di belakang klinik tersebut.
Kamar dokter Fatimah berada di bagian depan, mungkin sengaja untuk memudahkan bidan yang bekerja di kliniknya agar bisa memanggil dokter Fatimah secara cepat.
Dan beberapa saat kemudian dokter Fatimah terlihat keluar dengan wajah yang masih mengantuk, ia mengucek matanya berkali-kali.
"Ya ampun, kok bisa sampai menabrak pagar?! Yuk kita ke sana," ajaknya. Merekapun bergegas.
Setibanya di depan kliniknya, wajah dokter Fatimah langsung merah padam saat tahu pagarnya benar-benar rusak berat.
"Heee! Anda siapa?! Berani sekali Anda merusak pagar klinik saya! Setelah pasiennya ditangani, kita harus membuat perhitungan," teriak dokter Fatimah di belakang punggung Agam yang saat ini masih memeluk Linda.
Mata dokter Fatimah mengernyit, ia sedikit hafal dengan punggung tegap itu. Namun masih ragu.
"Pak Agam, katakan saja pada dokter Fatimah kalau saya adik kembarnya LB," bisik Linda.
"Hahh, apa dia akan pecaya? Berarti saya punya sepupu artis dong." Agam masih bingung.
"Cepat keluar! Mana pasiennya?! Kok malah pelukan terus?!" teriak dokter Fatimah.
"Coba saja, saya tidak tahan Pak ... i-ini sakit sekali .... hmm ...." Linda semakin kesakitan sampai tak sadar mencakar kuat leher Agam.
"Ba-baiklah."
Agam akhirnya mengikuti saran Linda walaupun hatinya sedikit kecewa karena yang ia mau adalah berterus terang pada dokter Fatimah.
"Dok ini saya." Agam membalikan badan dan membuka maskernya.
"Apa?! Pak Agam?!" Langsung kaget.
"Cepat-cepat! Keluarkan pasiennya!" perintahnya.
Para bidan langsung sibuk. Untuk sementara waktu mereka tidak menyadari jika pasien yang saat ini terbaring di berankar adalah LB.
"Kenapa?! Sepupu pak Agam, kan?" tanya dokter Fatimah sambil membantu mendorong brankar ke ruang tindakan dan Agam mengekori dengan wajah yang memerah karena panik.
"Iya Dok, cepat tangani. Kalau bisa, dokter saja yang menangani," kata Agam saat sudah berada di ruang tindakan.
"Aaaa, huu ... uuhh ... sakiiit ...." Sementara Linda masih terus mengaduh.
Kalau saja bisa, ingin rasanya Agam menggantikan posisi Linda agar dirinya saja yang sakit.
Mereka termasuk dokter Fatimah masih belum ada yang menyadari jika pasien molek nan elok itu adalah Linda Berliana.
"Bidan Lia, Bidan Rani tolong infus dua jalur! Ade yang sedang magang, siapkan mesin USG!" Dokter Fatimah segera memberikan intruksi.
"Satu jalur untuk cairan pengganti pendarahan, pasang RL (Ringer Laktat), guyur ya."
"Baik, Dok."
Sementara dokter Fatimah dengan sigap segera memakai baju tindakan, apron, masker, sarung tangan medis, visor, dan sepatu boots.
"Satu jalur lagi untuk terapi anti perdarahan, berikan drip kalnex-vit K dalam Nacl 100 mil," kata dokter Fatimah.
"Baik, Dok."
"Pasangkan oksigen juga, tiga liter per jam ya."
Mereka tampak terampil dan cekatan. Sementara Agam hanya mematung di pojokan, ia sangat kalut, sekalut-kalutnya.
"Bisa tidak Dok agar dia tidak kesakitan, saya tidak tega melihatnya," kata Agam.
"Pak Agam kalau tidak kuat di luar saja. Lalu tolong kabari suaminya. Katakan istrinya perdarahan banyak, ada kemungkinan juga janinnya tidak bisa diselamatkan."
"A-apa?! Tidak bisa Dok. Tolong selamatkan!" kata Agam.
Sementara bidan Rani tengah bersiap untuk membersihkan darah di sekitar area inti dan kaki Linda.
Agam membalikan badan saat melihat bidan Rani hendak membuka pakaian Linda bagian bawah.
"Pasang tirai pembatasnya," kata dokter Fatimah, ia sadar jika Agam mungkin tidak nyaman kalau sampai melihat aurat sepupunya.
Kini dari bagian dada Linda sampai ke bawah telah dipasang tirai khusus. Bidan bekerja di sana tanpa terlihat oleh Agam. Mirip seperti tirai pembatas pada meja operasi caesar.
"Bagaimana Pak Agam? Sudah menghubungi suaminya?"
"Su-sudah, Dok."
Agam yang tadi pura-pura keluar sambil memainkan ponsel, terlihat masuk lagi ke dalam ruang tindakan degan wajah cemas dan gugup.
"Pak Agam ...." Linda meliriknya.
"Saya di sini."
Agam berdiri di sisi Linda. Linda lalu memalingkan wajah ke arah Agam, memegang dan menggigit ujung baju milik Agam guna menahan rasa sakitnya.
"Kenapa sampai perdarahan banyak begini? Kan saya sudah bilang tidak boleh kecapean," sambil melakukan USG dokter Fatimah terus mengomel.
"Terus janinnya bagaimana, Dok?" tanya Agam sambil tak henti mengelus tangan Linda yang memegang bajunya.
"Kemungkinan hanya satu janin yang bisa di selamatkan."
"A-apa?!" Agam terkejut dan lemas.
"Ti-tidak, ja-jangaaan," rintih Linda. Kesedihan dan kesakitan kian melanda batinnya.
"Ini tidak bisa dipertahankan lagi, Nona. Sebagian tubuh janinnya sudah mendekati mulut rahim. Kemungkinan sudah ada pembukaan."
"Denyut jantungnya juga melemah. Alhamdulillaah, kembarnya dikorion-diamnion, artinya terdiri dari dua kantung ketuban dan dua plasenta, jadi saat yang satunya tidak bisa bertahan, yang satunya lagi belum tentu tidak bisa bertahan juga."
"Janin yang satunya lagi sejauh ini tidak terpengaruh, denyut jantungnya dalam batas normal," jelasnya.
"Huuu ... maaf ...." Ucap Linda lirih.
Ia menatap lekat pada Agam yang matanya terlihat jelas berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, mungkin belum rizkinya, masih ada satu lagi. Kita jaga bersama-sama, ya ...." Bisik Agam di telinga Linda.
Interaksi mereka bagitu intim, dokter Fatimah dan para bidan tidak menyadarinya karena mereka sedang fokus pada tindakan.
Mata Agam melihat ada masker medis di ruangan itu, dengan sigap ia mengambil dan memakaikan masker itu pada Linda. Identitas sepupu palsunya untuk sementara waktu .... Aman.
"Dok saya minta maskernya," kata Agam.
"Ya, boleh. Silahkan."
"Anda akan melahirkan, Nona. Harus kuat ya, walaupun ukuran janinnya masih sangat kecil tapi rasa mulasnya bisa jadi sama seperti lahiran normal. Apalagi kalau ambang sakit Anda rendah, rasa sakitnya ya begitulah," terang dokter Fatimah.
Linda hanya mengagguk, pasrah. Di balik masker ia menggigit bibirnya kuat-kuat, untuk mengurangi nyeri.
Hatinya hancur berkeping-keping. Impian untuk memomong bayi kembar hapuslah sudah. Kini ... yang ada tinggallah penyesalan yang teramat mendalam. Ia tiba-tiba menyesal karena terlalu egois pada dirinya sendiri.
Ia tidak memikirkan risiko sejauh ini saat memutuskan untuk meninggalkan rumah Agam.
Penyesalanpun dirasakan oleh Agam. Dadanya kembali sesak. Merasa menjadi sumber utama yang menyebabkan satu janinnya tidak bisa bertahan. Agam tertunduk lesu, batinnya terluka.
"Bidan Lia, coba lakukan pemeriksaan dalam," kata Dokter Fatimah sambil merapikan dan mematikan mesin USG.
"Baik, Dok. Nyonya, saya periksa dalam dulu, ya." Kepala bidan Lia melongok di balik tirai pembatas.
Linda mengangguk perlahan sambil memejamkan matanya.
Dan ....
"Aaaah, sa-sakiiit sekali Bu Bidan, huuu." Linda histeris membuat Agam panik.
"Anda bisa melakukannya pelan-pelan, kan?!" bentak Agam.
"Dengar ya Pak, saya belum apa-apa ini." Bidan Lia jadi naik pitam.
"Ya ampun, begini saja Pak Agam tolong tunggu di luar, saya tidak suka ada keributan di ruang kerja saya," tegas dokter Fatimah.
"Ta-tapi, Dok." Agam tidak rela meninggalkan Linda. Ia manatap Linda.
"I-iya Pak. Pak Agam di luar saja," ucap Linda. Jujur, ia juga sedikit risih dengan keberadaan Agam.
Akhirnya dengan berat hati Agampun keluar.
"Bukaan berapa?" tanya dokter Fatimah setelah Agam pergi.
"Dok, saya belum berhasil serius sempit sekali, Dok." Bisik bidan Lia pada dokter Fatimah.
"Hah, ah masa sih?"
"Benar Dok, saya sudah beberapa kali periksa pasien, yang seperti ini baru, Dok. Dokter saja deh yang periksa, saya angkat tangan. Jerit-jerit lagi pasiennya, ke sayanya juga jadi tidak tenang," kata Bidan Lia.
"Ya sudah saya saja. Kamu siapkan partus setnya."
"Baik, Dok."
Ternyata apa yang dikatakan bidan Lia benar adanya. Lindapun kembali berteriak kesakitan.
"Siapan USG, lagi. Saya mau USG panggul."
"Baik, Dok."
"Ke-kenapa USG lagi Dok," tanya Linda. Wajahnya masih meringis-ringis.
"Leher rahim Nona sagat sempit, hehehe. Sakrumnya juga teraba. Ini sebenarnya bisa dikatakan keuntungan untuk para suami, tapi jika dilihat dari sisi medis bisa dikatakan sebagai kelainan, tapi saya belum yakin," jelas dokter Fatimah sambil mengulum senyum, beruntung sekali pikirnya pria yang menikah dengan sepupunya Agam.
"Sa-saya tidak mengerti, Dok."
"Begini Nona, saya menduga, Anda memiliki kelainan bawaan panggul sempit. Tapi, untuk menentukan apakah Nona memiliki panggul sempit atau tidak, diperlukan pemeriksaan panggul oleh saya sebagai dokter kandungan."
"Ke-kelainan?" Linda terkejut.
"Panggul saya besar Dok, kok bisa?"
"Hahaha, panggul besar yang tampak besar dari luar berbeda dengan dignosis CPD atau istilah medisnya cephalopelvic disproportion. Nah, USG panggul bertujuan untuk melihat kondisi organ dan struktur bagian dalam panggul Nona, seperti otot, pembuluh darah, dan jaringan ikat yang menyokong panggul."
"Jika memang benar kondisi panggul Nona sempit, saya mungkin akan menyarankan Nona untuk melahirkan melalui operasi caesar pada saat melahirkan nanti," jelas dokter Fatimah.
"A-apa? Saya tidak mau operasi, Dok. Saya mau lahir normal. Aahh ..., aduh Dok perut saya semakin sakit."
"Sabar ya Nyonya, mungkin janinnya akan segera keluar. Narik napas, buang napas, rileks," kata bidan Lia.
Berbeda dengan dokter Fatimah, bidan Lia memanggil nyonya pada Linda.
"Fix ya Nona, Anda saya diagnosis CPD," terang dokter Fatimah setelah melakukan pemeriksaan panggul dan USG panggul."
"Dok ... sa-saya mau ke kamar mandi, sa-saya aaah ...." Kembali kesakitan.
"Jangan bergerak Nyonya, Anda itu mau melahirkan," kata bidan Lia.
"Sebenarnya bukan melahirkan. Namamya peroses pengeluaran jaringan konsepsi. Karena usia kehamilannya belum mencapai 20 minggu atau lima bulan. Jadi, namanya keguguran atau abortus spontan," terang dokter Fatimah.
"Aarrgh ..., Dok ... Bu Bidan ..., tolooong ini sakit sekali, huuu huuu."
Linda memeluk tangan dokter Fatimah. Ambang batas nyeri wanita itu mungkin sangat rendah.
"Sudah kelihatan jaringannya, ayo sedit lagi. Tinggal mengedan saja," seru dokter Fatimah dan bidan Lia.
"Emm .... Hmm ... sa-saya tidak bisa." Linda geleng-geleng kepala.
"Ya ampun, Nyonya. Ini tidak sebesar kepala bayi. Ini sangat kecil, keciiil sekali, harusnya mudah." Bidan Lia geregetan.
"Ta-tapi ini sakit, saya takuut," keluh Linda.
"Mau saya bantu pakai alat? Kita kuretase saja ya." Dokter Fatimah sengaja menakut-nakuti.
"Apa?! Yang pakai alat itu? Tidaaak, tidak mau, Dok." Teriak Linda sambil berusaha mengedan sekuat tenaga.
"Ayaaah, ibuuu ... huuu ... aku minta maaf ...," rintihnya.
Linda kembali menangis meratapi kemalangan nasibnya. Mengalami sakitnya keguguran padahal belum menikah.
Dan saat kontraksi kuat menyerang perutnya, ia tak sadar memanggil nama dia.
Dia yang saat ini sedang sibuk bulak-balik di depan ruang tindakan seperti setrikaan dengan raut wajah panik tingkat dewa. Sesekali pria itu menggaruk lehernya, mengusap wajahnya, dan menjambak rambutnya sendiri hingga tampak berantakan.
"Pak Agaaam, tolooong ...." Teriak Linda.
.
.
.
POV
Seorang bidan magang.
Malam ini adalah malah "Ter," selama aku berjaga di klinik dokter Fatimah.
Suasananya terheboh, mobil pasiennya termahal, keluarga pasiennya terganteng dan terwangi, tapinya tergalak juga.
Dan ada satu hal lagi. Pasiennya tercantik, termulus, terkinclong, dan sempurna fisiknya, mirip artis.
Pasiennya didiagnosis CPD, tapi itu tidak akan mempengaruhi penampilannya. Aku baru tahu kalau ternyata yang CPD itu tidak harus yang badannya pendek saja.
Hamilnya kembar, sayang sekali yang satunya keguguran, tapi untungnya masih ada satu bayi lagi yang bisa diselamatkan.
Tapi ... kok aku seperti kenal sama pasiennya. Pernah lihat di mana ya? Rasanya sering melihat wajah cantik yang mirip seperti pasien tadi ....
Hmm ....
❤❤ Bersambung ....