
Ia menggigil di ujung jalan. Kakinya yang tidak menggunakan sepatu boot tertanam di hamparan salju yang meninggi semata kaki. Ia pergi tanpa tujuan. Hanya mengenakan baju pasien dan alas kaki yang tentu saja tidak diperuntukkan untuk busana di musim salju.
Bibirnya memucat. Ia berjalan untuk mencari kehangatan. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Celinguk-celinguk sambil mengernyitkan alisnya.
Dia beberapa kali bertemu orang asing yang menatapnya keheranan. Namun mereka tak peduli. Hanya melihat dan tak menyapa.
Ya, dia adalah Gamayasa Val Buana. Pria muda itu berjalan tak tentu arah. Melewati sisa-sisa hujan salju sambil melamun. Negara ini terasa asing untuknya.
Sebenarnya, turunnya salju senantiasa menjadi saat yang dinantikan di musim dingin. Biasanya, warga di negara ini menikmati suasana turun salju dengan berjalan-jalan di taman kota.
Namun hari ini, taman kota tampak sepi. Lampu-lampu jalan telah dinyalakan karena jarak pandang terbatas kabut. Gama menatap satu-persatu bangunan rumah yang dilengkapi dengan cerobong asap sambil berpikir. Ia merasa dejavu dengan tempat ini. Tapi, sama sekali tak mengingatnya.
Di sisi kanan sana, ada sebuah bangunan yang sepertinya adalah kafe. Gama menuju ke sana.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya pelayan dengan menggunakan bahasa setempat. Ia menatap Gama dengan kening bekerut. Jelas ia tahu jika pria ini adalah seorang pasien.
"Aku mau makan sesuatu," jawab Gama. Seperti halnya Agam, Gama juga menguasai lebih dari tiga bahasa asing.
"Karena musim dingin dan sedang turun salju, toko kami menyediakan b i r dan kudapan hangat. B i r bagus untuk menghangatkan badan."
"Aku tidak mium b i r. Buatkan saja roti bakar dan teh manis hangat," pinta Gama.
"Kami tidak menyediakan teh, Tuan."
"Emm, apa ada kopi?" tanyanya.
"Ada, Tuan."
"Baik, buatkan aku kopi, pakai gula satu sendok makan saja," terang Gama.
"Baik, Tuan."
Sambil menunggu, Gama mengedarkan pandangan. Ia melihat beberapa gadis remaja berpostur tinggi dengan kulit putih kemerahan memasuki kafe sambil berbincang.
Gama menghela napas. Ia jadi teringat akan gadis itu. Seorang suster muda yang berpostur sedang. Tidak tinggi, tidak jua terlalu pendek. Terbayang lagi saat suster itu mengejarnya. Matanya yang melelehkan air mata, membuat dadanya bergemuruh.
Ia bingung, seperti apakah hubungannya dengan gadis itu? Kenapa hatinya seolah terikat oleh suster tersebut?
"Lapor, Pak. Di kafe kami ada pengunjung memakai seragam pasien. Sepertinya anak orang kaya, sebab jam tangan yang digunakannya edisi terbatas dan tidak ada tiruannya."
Di pojok kafe, tepatnya di sisi kasir. Seorang bartender tengah melaporkan keberadaan Gama pada sheriff police.
Ya, budaya di negara ini memang seperti itu. Jika dilihat sekilas, mereka cenderung acuh tak acuh akan kondisi sekitar. Namun saat ada sesuatu yang mencurigakan atau ada pada kondisi bahaya, mereka akan cepat tanggap dan sudah terbiasa lapor langsung pada polisi.
Di negara ini hampir tidak ada kasus meneriaki maling lalu dikeroyok. Jika ada maling, mereka lebih memilih diam demi alasan keselamatan, lalu segera melaporkan kasus tersebut.
"Maaf, bisa disebutkan ciri-cirinya? Atau potret saja diam-diam, lalu kirimkan ke layanan khusus," titah sheriff police.
"Baik, Pak."
Gama tak sadar jika ia dipotret dari kejauhan. Ia sedang asyik menyeruput kopi sambil memandangi salju yang menempel di kaca jendela kafe.
"Aku Ice, apa kamu ingat?"
Ucapan Freissya kembali terngiang. Entah berapa lama Gama merenung sambil menikmati pesanannya.
.
Saat Gama akan membayar pesanan, tiba-tiba, dua orang sheriff police datang. Langsung mencekal tangan Gama di kedua sisi.
"Hei, lepaskan! Aku bukan penjahat!" teriak Gama.
"Maaf, Tuan. Anda sudah terdaftar sebagai orang hilang. Ibu Anda telah melaporkan kehilangan Anda pada kami," terang polisi.
Begitulah sistem pelaporan orang hilang di negara ini. Walaupun Gama belum meninggalkan rumah pemulihan lebih dari 24 jam, tapi Gama sudah bisa dilaporkan sebagai orang hilang.
"Lepaskan, Pak! Aku ingin sendiri! Aku ingin pulang ke negaraku!" teriak Gama.
"Tidak, Tuan. Kami tidak bisa melepaskan Anda."
Gama digiring ke mobil polisi. Tangannya diborgol karena melakukan perlawanan.
"Pak, dia anggota BRN dari negara ...." Anggota sheriff police berbisik pada temannya.
"Benarkah?!" Temannya histeris.
"Benar, sudah ada di data pusat kalau dia akan berada di sini sampai kondisinya pulih. Dia anggota BRN termuda," terangnya.
Gama hanya bisa mengepalkan tangan ketika mendengar obrolan mereka. Sudah ia duga akan mengalami kesulitan untuk hidup bebas saat dirinya berstatus sebagai anggota BRN. Keadaan ini membuatnya semakin membenci Agam.
Karena amnesia, Gama tak ingat jika dirinya pernah mengatakan bersedia menjadi anggota BRN pada Agam. Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, Gama melamun. Ia merasa sendiri dan tak punya siapapun yang bisa mengerti perasaannya.
.
Setibanya di kantor polisi, Gama ternyata sudah ditunggu oleh bu Nadia dan para pengawal.
"Gama, Ibu sangat khawatir."
Bu Nadia berlari untuk memeluk putranya. Diciumnya pipi dan kening Gama sambil diperiksa seluruh tubuhnya. Gama tak merespon perlakuan ibunya. Padahal, borgolnya sudah dilepas. Ia hanya menatap ke satu titik. Cuek, dingin, dan kaku.
Gama berpikir jika wanita yang mengaku sebagai ibunya ini telah pilih kasih terhadapnya.
.
Pun saat ia sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke rumah pemulihan, Gama masih sama. Diam dan tak merespon ucapan bu Nadia ataupun pertanyaan pengawal.
"Mau makan apa, Nak? Itu ada pusat perbelanjaan, apa kamu mau berhenti dulu untuk membeli sesuatu atau makan sesuatu?" tanya bu Nadia.
Gama tetap diam.
"Nak, apa yang kamu inginkan sayang? Jangan membuat Ibu sedih."
Bu Nadia akhirnya menangis sambil memeluk lengan Gama.
"Maaf jika Ibu terkesan semena-mena sama kamu. Gama, kamu memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Kamu tidak bisa memaksakan diri untuk hidup semau kamu."
"Jika kamu tidak memiliki wadah untuk menyalurkan bakat kamu, Ibu khawatir kamu menggunakan kelebihan kamu itu untuk menyombongkan diri dan melakukan tindakan kriminal."
Usut punya usut, Gama teryata dicurigai sebagai salah satu anak muda jenius yang bisa meretas sistem keamanan sekelas bank internasional. Hal ini dibuktikan melalui tes khusus yang telah dilakukan pada Gama.
Kemampuan Gama bahkan dirahasiakan oleh pihak-pihak tertentu agar tidak diketahui oleh BRN internasional. Sebab jika diketahui, maka Gama akan diperebutkan untuk menjadi anggota mereka.
Gama ternyata bisa meretas sistem perbankan. Dia memiliki kemampuan hacker yang sangat luar biasa. Kemampuan itu sangat dicari dan dibutuhkan oleh seluruh negara.
Wajar memang jika hidup Gama tidak akan bisa sama dengan orang lain yang seusianya.
Ada hukum internasional yang telah dibakukan untuk mengatur hidup seorang hacker berbakat seperti Gamayasa Val Buana.
Melihat wanita yang mengaku sebagai ibunya itu menangis, Gama sedikit tersentuh. Belaian telapak tangan hangat bu Nadia membuatnya sedikit terenyuh. Lalu dengan malas ia berkata ....
"Aku tidak ingin apa-apa. Hanya ingin pulang ke negaraku," katanya.
"Baik, Ibu akan bicara pada seseorang agar kamu bisa kembali ke sana," ucap bu Nadia sambil merebahkan kepala di bahu Gama dan melanjutkan tangisnya.
Jangan dikira memiliki anak jenius itu tak melelahkan batinnya.
Sejak kecil, saat Agam dan Gama masih kanak-kanak, bu Nadia telah melewati masa-masa sulit untuk bisa mendidik Agam dan Gama agar bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Belum lagi omongan-omongan miring yang harus diterimanya akibat banyak yang beranggapan jika putra-putranya mengalami kelainan jiwa.
Bayangkan, betapa malunya bu Nadia dan suaminya saat Agam kecil yang masih berusia lima tahun, diantar pulang ke rumah oleh guru-gurunya karena sering merusak barang-barang inventaris milik sekolah.
Lalu Gama kecil terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena dituduh telah merusak seluruh komputer milik sekolah. Gama juga pernah merubah bunyi bel sekolah dari 'kring kring' menjadi 'ice cream ice cream.'
Dan masih banyak lagi ulah tak masuk akal yang sering dilakukan oleh Agam dan Gama.
Tangisan bu Nadia perlahan menjadi senyuman. Mengenang kembali masa-masa itu membuatnya merasa jadi ibu terpilih yang istimewa.
Teringat pula saat ia setiap hari harus membeli pensil dan penghapus baru untuk Agam kecil. Sebab, setiap hari pensil Agam kecil selalu patah, dan penghapusnya selalu hancur.
...❤...
...❤...
...❤...
Mister X membuka matanya saat ia mendengar isak-tangis seseorang yang berada di sampingnya. Ia terkejut sebab matahari sudah menelisik melalui celah tirai jendela kamar penginapan.
Dilihatnya gadis cantik itu masih terbaring tak berdaya di lengannya dengan tangan dan kaki terikat dasi, dan bibirnya tertutup plester putih.
Entah hal apa yang terjadi semalam, hingga kondisi Senja menjadi seperti itu.
"Se-Senja, ma-maaf ya."
Terbangun perlahan. Lalu memindahkan kepala Senja dari lengannya ke bantal.
"Humm humm," tangisan Senja tentu saja tertahan karena bibirnya tertutup plester.
"Lain kali, kalau kamu tidur, pakai piyama panjang, kenapa memakai rok pendek?"
Mister X duduk sambil merapikan rok Senja yang sedikit terangkat. Senja belum berhenti menangis.
"Maaf mengikat kakimu. Semalam, kakimu terus menindih tubuhku. Dan kamu tak tahu seberapa berharganya bagian tubuhku itu." Sambil membuka dasi yang mengikat kaki Senja.
"Maaf juga sudah mengikat tanganmu. Tangan ini semalam terus memeluk tubuhku dan kamu mungkin tak sadar kalau tanganmu sempat menelusup dan tersesat ke tempat terlarang," jelas Mister X.
Seperti itu ternyata alasannya hingga Mister X tega mengikat tangan dan kaki Senja.
"Senja, bukannya aku tak mau, tapi selain berdosa, aku juga bisa dihukum berat kalau sampai ketahuan melakukan itu sebelum menikah." Sambil menghela napas.
Karena melihat rok Senja tersingkap kembali hingga memperlihatkan sesuatu yang mulus dan halus. Segera ia menarik selimut untuk menutupinya. Kipas angin yang berada tepat di ujung kaki Senja membuat hembusan angin ke bagian itu lebih kuat.
Lalu Mister X mendekat ke wajah Senja. Mengusap air mata Senja dengan hati-hati.
"Maaf." Lalu mengusap pipi Senja sebelum mengecup kening gadis itu.
"Bibir ini ... semalam terus berkata ingin dicium lagi dan lagi. Hei, apa kamu tahu? Permintaan kamu hampir membuatku gila. Kalau bibir kamu tidak ditutup seperti ini, aku bisa memakanmu, Senja."
Perlahan Mister X membuka plester itu. Senja meringis, ia merasa sedikit kesakitan.
"Sakit?" Tangan Mister X berhenti menarik.
Senja mengangguk pelan. Batin gadis itu merasa sedih. Ia tak menyangka jika kekasihnya tega mengikatnya seperti ini.
Lagipula, Mister X 'lah yang pertama kali menciumnya. Harusnya, pria ini tak melakukannya dan membuatnya ingin merasakannya lagi.
"Aku buka lagi ya. Akan kulakukan lebih pelan." Kembali menarik plester tersebut.
Bibir Senja yang memerah akibat plester itu membuat Mister X kembali dilema. Rasanya, ingin menikmatinya lagi hingga bagian terdalamnya.
Mister X menggelengkan kepala. Suara Senja membuatnya berpikiran yang bukan-bukan. Kemudian mengusap pelan bibir Senja dengan tissue basah. Lalu kembali meminta maaf.
"Maaf ya, maaf berjuta maaf," katanya.
"Aku mau putus!" sentak Senja sambil membalikan badan membelakangi Mister X.
"Apa? Hei, kamu marah?" Memegang bahu Senja.
"Tidak! Aku tidak marah! Pokoknya mau putus! Titik!" teriaknya.
"Senja, maaf. Kalau saja semalam kamu tak ingin dekat-dekat dan membiarkanku tidur di bawah, aku juga tak mungkin mengikat kamu seperti tadi."
"Sudah aku ikatpun, tubuh kamu terus menggodaku sampai-sampai aku tak bisa tidur. Gara-gara kamu, aku kesiangan karena baru bisa tidur menjelang pagi. Gara-gara kamu juga kita berdua kesiangan dan ketinggalan bus menuju Waroulaut yang jam lima pagi," jelas Mister X.
"Gara-gara aku! Terus saja Kakak bilang semua gara-gara aku! Ya, aku memang tak berguna! Kalau aku jadi beban Kakak, harusnya Kakak berikan saja aku ke pamanku!" teriak saja.
"Hei, Senja, sabar dong, aku tak mungkin membiarkan kamu diperalat pamanmu dan dijual ke pria hidung belang. Aku mengikat kamu karena aku tak pernah tidur satu ranjang dengan siapapun. Entah itu pria ataupun wanita. Aku bahkan tak pernah tidur dengan ibundaku. Jadi wajar kalau aku sampai mengikatmu," kilahnya sambil bersiap untuk segera mandi.
"Terserah Kakak! Pokoknya hari ini kita sudah tak punya hubungan apa-apa lagi!" tegas Senja.
"Hahaha, dengar ya, jika aku telah memilih seorang wanita, maka wanita tidak akan pernah bisa menolakku. Aku bahkan bisa menikahi wanita yang tak mencintaiku."
"Di negaraku, para orang tua justru berbondong-bondong ingin menikahkan putrinya denganku. Bahkan banyak yang bersedia menjadi selirku," terangnya sambil melepas celana panjang yang masih ia kenakan lengkap dengan sabuknya.
"Aku tak peduli! Pokoknya aku mau putus! Hubungan kita hanya teman! Titik!" Senja masih merajuk.
"Aku mandi dulu. Setelah aku mandi, kamu yang mandi."
Mister X tak meladeni ucapan Senja. Ia berlalu begitu saja ke kamar mandi meninggalkan Senja.
Setelah mandi dan melakukan ativitas lainnya. Seperti biasa, Mister X menyiapkan baju dan handuk untuk Senja yang masih saja meringkuk dan merajuk.
"Ayo mandi," ajak Mister X sembari membangunkan Senja.
"Tidak mau!" tolaknya.
"Hahaha, kalau aku naik takhta, maka tak ada satupun yang bisa membantah titahku, termasuk kamu." Memaksa Senja bangun.
"Titahmu?! Hahaha, lucu sekali! Lepas! Aku malas mandi!" Senja bersikeras untuk tidur lagi.
"Hei, kamu mau cari masalah rupanya. Cepat dong Senja, jangan sampai kita ketinggalan bus lagi."
Mister X akhirnya memaksa membopong Senja dan membawa gadis itu ke kamar mandi.
"Aaa, lepaskan!" Senja meronta.
Mister X mengunci pintu kamar mandi dari luar. Selagi Senja mandi, ia pergi sejenak untuk membeli sarapan.
.
Saat Mister X kembali, ia kaget karena Senja belum juga selesai. Sayup-sayup malah terdengar umpatan dari dalam kamar mandi.
"Dasar Exim!"
"Ya ampun Senja, kenapa belum selesai? Harusnya selagi aku tak ada, kamu segera mandi dan berganti baju!" teriak Mister X.
"Apa Kakak pikun?! Siapa yang mengunci pintu kamar mandi dari luar, hah? Aku bahkan sudah kedinginan dari tadi!" timpal Senja dengan beteriak juga.
"Apa?! Hahaha, aku manusia, aku bisa lupa."
Mister X membuka pintu kamar mandi dengan pipi merona. Baru sadar jika dirinya salah.
"Ha ---." Pangeran menutup bibirnya.
Simalakama muncul. Senja keluar dan tentu saja hanya menggunakan handuk yang terlihat kekecilan di tubuhnya yang tampak begitu segar dan ranum itu.
Mister X mengerjap. Ia lalai karena telah mengunci pintu kamar mandi dari luar.
Dengan santainya Senja berjalan anggun melewati Mister X yang menutup mata dengan jemarinya.
Jantung Mister X spontan berdegup cepat. Seolah-olah hendak keluar dari rongga dadanya.
"Kakak mau nonton aku ganti baju?! Cepat keluar!" usir Senja.
Senja tak sadar jika sang pangeran telah berada di belakang tubuhnya, menguntit sambil menghidu aroma wangi sabun yang menguar dari tubuh Senja.
"Senja, kamu seksi sekali." Mister X memeluk pinggang Senja.
"Lepas, Kak! Apa-apaan ini?!" Senja berusaha menepis.
"Kamu menggodaku," bisik Mister X.
"Kak, sadar! Aku tidak bermaksud begitu! Lepas!" Senja berontak saat dekapan Mister X semakin kuat.
"Ta-tapi tu-tubuh kamu indah sekali," dalihnya.
"Kak! Lepas! Jangan kecewakan kepercayaanku! Aku mau bersama Kakak alasannya karena Kakak bukan pria jahat," jelas Senja.
Deg, Mister X tersadar. Segera melepaskan dekapannya dari tubuh Senja.
"Maaf," katanya. Sambil berlalu.
"Kak, tunggu," cegah Senja.
"Kenapa? Cepat pakai bajunya. Aku tunggu di luar."
"Emm, te-terima kasih, aku hanya ingin mengatakan itu. Terima kasih karena Kak Exam sudah berkenan menjagaku tanpa pamrih. Aku bergurau soal putus tadi. Jadi, kita tetap pacaran ya," kata Senja sambil memegang tangan Mister X dan menengadah.
Maksudnya ingin menatap wajah Mister X walaupun faktanya, ia tak mampu melihat seperti apa sosok kekasihnya.
"Emm, sama-sama," Mister gugup. Ia khawatir handuk Senja melorot.
"Senja, cepat lepaskan tanganku," desaknya.
Mister X menyadari jika ada sesuatu yang telah terbangun dari sangkarnya. Alih-alih melepaskan tangannya, Senja malah menelusuri leher Mister X hingga ke rahangnya.
"Se-Senja kamu mau apa?!" teriaknya. Tapi ia tak sanggup menghindar. Kakinya seolah terkunci, diam di tempat, dan kaku.
"Kak, aku mau menyentuh bibirmu, boleh 'kan? Semalam, aku sudah merasakan rasanya. Sekarang jadi penasaran, kalau dipegang rasanya seperti apa ya?"
Saat tangan Senja menyentuh dagu Mister X, ia merasakan jika pria ini memakai masker.
Dengan beraninya Senja berjinjit, lalu menggeser masker tersebut ke atas hingga menutupi sebagian hidung dan mata Mister X. Terpampanglah sudah bibir Mister X yang selama ini selalu disembunyikan.
Warnanya ternyata merah jambu. Bentuknya indah, tidak terlalu tebal, pun tidak terlalu tipis.
Bibir itu gemetar saat Senja menyentuhnya. Gadis itu benar-benar cari mati. Napas Mister X megap-megap. Ia sedang berusaha untuk tidak menghempaskan tubuh Senja ke tempat tidur.
Dan ....
'Cup.'
Satu kecupan sayang mendarat di bibir Mister X. Di balik masker, netra indah itu membelalak.
Siapa yang bisa tahan jika diperlakukan semanis ini oleh gadis seelok Senja? Sekuat apapun ia bertahan, faktanya, Mister X lemah iman.
Dalam keadaan mata tertutup masker, Mister X menundukkan lehernya pelan demi meraih bibir Senja. Dan ternyata, Senjapun demikian. Ia sedang berjinjit untuk mencium bibir Mister X.
Hingga bertemulah sepasang bibir itu dalam keadaan sama-sama kaget namun sama-sama menginginkan.
Tanpa bisa dihindari, terjadilah pertautan itu. Ini yang kedua kalinya untuk mereka. Mister X merasakan kembali bagaimana manis dan lembutnya bibir gadis ini.
Senja pasrah, karena sedari malam ia memang ingin mengulang adegan ini karena menyukai sensasinya.
Perlahan, tangan gadis itu melingkar di pinggang Mister X, dan tangan Mister X perlahan menekan leher jenjang Senja hingga pertautan itu kian serius saja. Senja membuka diri. Ia yang masih berusia 17 tahun, rasa penasaran dan ingin tahunya memang sedang berada di fase tertinggi.
Pertautan itu rupanya lebih dahsyat dari sebelumnya hingga menghasilkan suara kecapan yang terdengar meresahkan telinga.
Serius, Senja jadi lemas. Ia yang nyaris tak bisa bernapas, perlahan goyah. Mister X menyadari jika tubuh Senja kehilangan keseimbangan. Ia menahan punggung Senja tanpa melepaskan pertautan melenakan itu.
"Woy, bangun woy! Kamarnya mau disapu!" teriak seorang perempuan dari luar kamar sambil menggedor pintu kuat-kuat.
Otomatis yang tengah saling menyesap itu terkejut dan saling melepas.
Mister X berlari ke arah kamar mandi dan menabrak pintu. Ia tak bisa melihat karena matanya tertutup nasker. Senja segera naik ke tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut.
"Buka pintunya!"
Suara itu kembali terdengar. Mister X tersadar. Ia memakai kembali maskernya dan membuka pintu. Mister X bersyukur karena petugas penginapan datang di waktu yang tepat.
...❤...
...❤...
...❤...
"Mau ke mana, Pak?"
Linda keheranan karena Agam sudah bersiap di jam sepagi ini.
"Saya harus bertemu ketua BRN dan bertemu seseorang untuk mengurus kepulangan Gama," jelasnya tanpa menoleh pada Linda.
"Pak, apa harus pergi sepagi ini?"
Linda bangun, lalu mendekat dan berniat untuk membantu memakaikan dasi pada pak Dirut.
"Tak perlu sayang. Biar aku saja," katanya. Menepis tangan Linda.
"Pak, Anda kenapa 'sih?"
"Cepat ganti baju tidurmu! Pakai baju yang panjang dan tebal!" titahnya dengan nada ketus.
"Pak, Anda kenapa 'sih? Salahku apa?! Kenapa ketus sekali? Biasanya juga aku pakai baju ini, tapi Anda tak pernah menyuruhku cepat-cepat menggantinya!" teriak Linda sambil cemberut. Lalu meningalkan Agam.
"Sayang, dengar ya, selama datang bulan, kamu tak boleh nemakai baju malam yang seksi!" tegasnya.
"Apa?!" Linda kaget. Ternyata, perubahan sikap Agam karena alasan itu.
Ya, untuk pertama kalinya setelah Keivel lahir, Linda datang bulan. Agam rupanya pusing kepala karena tak bisa 'ehem ehem.'
Sabar dong, pak Dirut.
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk!...
...Maafkan karena nyai telat mengintai AGAPE, ada acara keluarga. ...