
Udara malam mulai mendingin. Di saat sebagian manusia bersiap untuk merebahkan diri di peraduan, Freissya justru tengah bersiap untuk bekerja.
Hari ini, ia akan jaga malam. Suster cantik itu tengah mempersiapkan sepeda kesayangannya sebagai alat transportasi yang biasa ia gunakan sehari-hari.
Jika cuaca hujan, ia akan diantar oleh bapaknya menggunakan sepeda motor dan jas hujan tentunya. Malam ini tidak hujan, hanya cuacanya saja yang dingin.
Setelah berpamitan, Freissyapun berangkat. Ia mendorong sepedanya hingga ke halaman depan rumah bu Mara. Rumah Freissya dan bu Mara sebenarnya bersebelahan, hanya saja, rumah Freissya lebih menjorok ke dalam.
.
.
.
.
"Hai teman," seseorang menyapa. Freissya terkejut.
"Vv-Val? Kenapa di luar?" tanya Freissya dengan gugupnya.
Ia masih ingat kejadian memalukan tadi sore saat Gama memintanya untuk melepas infus.
Karena terburu-buru, Freissya lupa menutup risleting roknya. Ia baru menyadari kecerobohannya setelah kembali lagi ke rumah. Freissya sangat malu. Pantas saja, Val terus memalingkan wajah dan tersenyum-senyum saat ia memunggunginya.
Saat itu Freissya berpikir jika Gama menutupi ketakutannya saat dilepas infus dengan tersenyum-senyum, tapi ternyata pria itu tersenyum karena tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak seharusnya.
Dan yang membuat Freissya kesal hingga saat ini adalah ... Gama tidak memberitahunya. Entah sengaja agar ia tidak malu, atau bisa jadi ada motif terselubung.
"Aku mau membeli obat sesuai resep dari dokter cintamu," ujarnya santai.
"Dokter cinta? Emm, obat? Memangnya sudah habis? Kan itu untuk tiga hari," Freissya keheranan.
"Hahaha, buat stock, " dalihnya sambil memakai helm.
"Oh," tidak ingin berbasa-basi. Freissya segera mengayuh sepedanya. Namun ....
"Ice, tungguuu," teriak Gama.
"Ada apa?" Freissya berhenti.
"Hei, kenapa kamu tidak bareng aku saja? Kan aku juga mau ke sana. Naik motor lebih cepat, kan?"
"Memangnya kamu mau ke apotik mana? Yang di depan gang, kan?"
"Tidak, Ice. Aku mau ke apotik yang lebih lengkap."
"Oh, begitu? Terima kasih, tapi aku sudah terbiasa naik sepeda. Lagipula, pemerintah sudah menyediakan jalur khusus untuk pesepeda. Kurasa, naik sepeda malah lebih nyaman," tolaknya.
"Ice, kamu ingat? Kamu suster peribadiku, kamu juga temanku, jangan menolak ya." Gama melajukan motor, hingga posisinya sejajar dengan sepeda Freissya.
"Tidak, Val. Kalau aku naik motor, besok saat aku pulang, otomatis aku harus naik angkutan umum, aku tetap naik sepeda saja."
Freissya tidak sadar jika kalimat itu akan menjadi sasaran empuk dan bumerang yang menyerangnya.
"Besok aku yang jemput kamu, bagaimana?" Gama tersenyum. Freissya hampir kalah.
"Emm, a-aku tidak ada helm," kilah Freissya.
"Hahaha, aku punya helm, ini dia," kata Gama.
Freissya terbelalak saat melihat Gama membuka tas ransel yang ternyata di dalamnya berisi helm wanita berwarna pink keungu-unguan.
Apa dia seniat itu membawa tas ransel berisi helm demi mengantarnya?
Atau, mungkinkah sudah menjadi kebiasaan seorang buaya darat membawa serta helm wanita kemana-mana?
"Itu helm pacar kamu?" selidik Freissya.
"Hahaha, aku jumblo Ice, aku sudah memutuskan seluruh kekasihku. Teman wanitaku hanya kamu satu-satunya," ujarnya.
"Ini helm baru, perlu bukti? Aku ada kuitansi pembeliannya. Pakai ya."
Gama turun dari motor saat Freissya masih melongo. Pria itu mengganti helm sepeda milik Freissya dengan helm tersebut.
"Turun," perintah Gama, tatapan Gama begitu tajam, seolah menusuk jantung Freissya.
Benar saja, gadis itu langsung ketakutan. Ia berpikir lebih baik menurut saja daripada cari masalah dengan pria ini.
Jangan cari mati Frei. Batinnya.
"Ba-baik aku simpan sepeda dulu."
"Yes, aku saja yang simpan. Kamu tunggu di sini." Gama mengambil sepeda Freissya.
Freissya menghela napas dan mengangguk perlahan. Terpaksa deh, ia menaiki motor sport Gama dengan hati gundah-gulana. Dan serius, motor ini menurutnya sangat tidak nyaman.
Freissya harus berusaha keras untuk tidak bersentuhan dengan punggung Gama.
Motor tipe ini memang didesain menukik atau menungging, seolah sengaja dibuat agar punggung pengemudinya harus menempel dengan bagian depan tubuh penumpangnya.
Gilanya, buaya ini membawa tas ranselnya di bagian depan. Freissya menyimpan tas miliknya di tengah-tengah sebagai pembatas.
.
.
.
.
Udara semakin dingin, Gama yang tidak memakai jaket, berulang kali bergidik. Serius, ia lupa memakai jaket. Bukan berarti ingin mendapat perhatian atau pelukan dari Freissya.
Freissya diam saja, sesekali ia menatap punggung berkaus warna biru muda. Mau bicarapun sepertinya sulit. Sebab, harus mendekat ke punggung Gama agar dia bisa mendengarnya.
Dia sama sekali tidak mau berdekatan denganku. Lihat saja Ice, aku kerjai sedikit ah, kata Gama dalam benaknya.
Gama mempercepat laju motornya, Freissya kaget, spontan memegang erat baju Gama dan berteriak.
"Val, jangan cepat-cepat!"
"Ini belum seberapa," jawab Gama.
"Oke, ini terakhir kalinya aku naik motor kamu," teriak Freissya.
"Hahaha," Gama tertawa, kemudian memperlambat lajunya, tapi gasnya dihentak sedikit hingga Freissya maju ke depan dan helm mereka berbenturan.
"Val!" Freissya marah.
Spontan memukuli punggung Gama bertubi-tubi saat laju motor sudah kembali normal. Ia melupakan sejenak kalau Gama adalah adiknya Dirut HGC.
"Kamu gila ya! Memangnya punya nyawa berapa banyak!" bentaknya.
Dan Gama malah senang saat Freissya kembali galak. Ia meraih tangan Freissya saat tangan itu memukul pundaknya. Freissya kaget.
"Val, lepaskan tanganku!"
"Hahaha, kegalakanmu kembali? Aku suka itu, Ice," katanya sambil menarik tangan Freissya ke depan hingga setengah melingkar di pinggangnya. Freissya bahkan bisa merasakan jika tangan Gama begitu dingin.
Deg, ia tersadar. Tidak seharusnya memukul Gama.
"Maaf, Val. Tadi aku kaget. Jadi spontan memukul kamu, maaf ya."
"Apa? Aku tidak dengar," teriak Gama. Padahal, terdengar sih.
"Maaf, Val. Tadi aku kaget. Jadi spontan memukul kamu," teriak Freissya. Mengulang kalimatnya.
"Apa? Serius, aku tidak mendengarnya Ice," Gama berteriak lagi.
"Issh, kataku maaf, Val. Tadi aku kaget. Jadi spontan memukul kamu," Freissya geram, ia akhirnya berbicara sambil mendekatkan kepalanya ke pundak Gama.
Deg, Freissya terkejut, Gama begitu wangi. Wangi parfumnya menenangkan, soft tapi kesan maskulinya tidak hilang.
Tak sadar, Freissya menghidu keharuman itu dalam beberapa detik.
Dan di balik helm, bibir Gama tersenyum. Misi berhasil. Freissya akhirnya mendekat juga, ia berdegup saat tubuh Freissya menempel pada punggungnya. Jujur, baru kali ini ia membonceng seorang gadis. Biasanya, ia berkencan menggunakan mobil.
Gama mempererat genggamannya, tangan Freissya begitu lembut dan hangat. Mungkin karena sering memegang bulu ayam. Gama berpikir seperti itu.
Sepanjang perjalanan, hanya diisi dengan kediaman. Freissya pasrah saat tangan kirinya terus digenggam.
Apa ini sudah termasuk kategori selingkuh? batin Freissya. Ia merasa berasalah.
Gama baru melepas tangan Freissya saat terhadang lampu merah.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Sampailah mereka ditempat tujuan, karena masih jam 9 kurang dua puluh menit, Gama meminta Freissya untuk menemaninya ke minimarket.
"Tidak apa-apa kan temani aku dulu?" tanya Gama.
"Ya, tidak apa-apa. Katanya mau ke apotik?"
"Emm, nanti saja, setelah dari mini market, aku mau ke apotik."
.
.
.
.
Mereka sudah memasuki minimarket, suasana di dalam cukup lenggang.
"Selamat datang di Desemart, selamat berbelanja," ucap kasir. Pandangan kasir wanita itu langsung tertuju pada Gama.
"Gila, ganteng sekali," bisik kasir wanita itu pada temannya saat Gama dan Freissya menjauh.
"Iya, baru lihat ya? Kayanya pengunjung rumah sakit," sahut temannya.
"Aku saja yang dorong trolinya," tawar Freissya.
"Tidak dong, aku saja. Kamu temanku, Ice. Bukan asistenku. Aku hanya ingin ditemani, Oiya, kalau jaga malam biasanya berapa orang?" Gama berbasa-basi.
"Tiga, atau empat orang. Malam ini empat orang jawab Freissya."
"Minuman apasih yang biasanya kalian minum?" Gama bertanya lagi.
"Emm, biasanya larutan penyegar, atau minuman yang mengandung vitamin. Kadang ngopi juga supaya tidak ngantuk," jawabnya.
"Oh, suka ngemil, tidak?" lanjut Gama.
"Sukalah, kalau pasien aman, ya ngemil. Ngemil makanan kering, tapi jam dua malam suka keluar sih, beli makanan berat," jawab Freissya.
"Tidak minum susu kemasan?"
"Minum juga, kenapa tanya-tanya itu? Tenaga medis juga manusia, bukan sejenis umbi-umbian. Jadi, makanannya lazim seperti manusia pada umumnya," ketus Freissya.
"Hahaha, oke, oke, maaf. Aku bangga berteman dengan tenaga medis, oiya pamanku juga dokter," jelas Gama.
"Siapa?" tanya Freissya.
"Pamanku, Ice. Pamanku."
"Siapa yang nanya?" sela Freissya sambil terkikik.
"Ice, kamu." Gama cemberut.
"Hahaha, aku kan tidak bertanya profesi paman kamu, ya kan?"
"Hehehe, iya juga sih." Gama pun tertawa.
"Banyak sekali belanjaannya, kan naik motor. Apa membawanya tidak sulit?" tanya Freissya saat mereka sudah berada di depan kasir.
"Tidak," jawab Gama singkat.
Dan kasir beserta pengunjung lain membelalak saat Gama mengeluarkan kartu tanpa batasnya. Ada yang menelan saliva beberapa kali.
Belanjaan Gama terdiri dari empat goodie bag besar. Freissya bingung karena Gama membeli makanan dan minuman sebanyak itu. Namun kebingungannya terjawab saat Gama berbicara pada pegawai Decemart.
"Kak, apa di sini ada layanan antar belanjaan?"
"Kami akan antarkan sampai bagasi, gratis," jawab pegawai Decemart.
"Aku mau belanjaan ini diantarkan ke ruang ICU rumah sakit. Kalau tidak ada jasa antar, aku mau pesan online."
"A-apa?! Val, jangan," kata Freissya.
"Oh, bisa kok. Mau diberikan pada siapa? Dari siapa?" tanya pegawai Decemart.
"Tulis saja dari tanpa nama untuk seluruh petugas jaga malam ruangan ICU," kata Gama sambil menyerahkan tips dan menarik tangan Freissya untuk keluar dari minimarket.
"Val, kamu berlebihan," Freissya protes.
"Hmm, itu untuk teman-teman kamu, kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku mau berterimakasih karena mereka sudah merawat kakak iparku."
Freissya berasumsi. Ia melamun sejenak.
"Hei, jangan melamun. Paka ini ya." Gama memasang helm pada Freissya.
"Hei, kenapa aku harus pakai helm?" protes lagi.
"Hahaha, pakai saja. Besok kan aku akan jemput kamu," ujar Gama sembari menaiki motornya.
"Eh, eh, Val! Tunggu dulu! Kamu tidak ke apotik?" teriak Freissya.
"Tidak," jawabnya singkat dan pergi begitu saja.
Freissya melongo. Mau tidak mau, ia harus membawa helm lucu itu bersamanya.
"Berarti dia memang berniat mengantarku. Ya ampun, kenapa dia baik sekali?" gumamnya.
"Kenapa aku harus bertemu dia?" sesalnya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Benar Pak Ketua, di rumah ini tidak ada siapa-siapa lagi selain asisten rumah tangga bernama bu Ira," terang seorang pria tegap.
Ia dan lima orang temannya baru selesai mengecek rumah Agam atas perintah ketua dan seizin Maga tentunya.
"Kalian boleh keluar. Saya ingin bicara empat mata dengan Maga."
"Baik."
Ketua menatap lekat pada Agam. Sedari tadi, pria itu tidak banyak bicara kecuali ditanya. Ya, pikiran Agam masih terpaut pada Linda. Teriakan Linda yang memanggil-manggil namanya saat dipapah menaiki heli terus terngiang.
"Maga, apa kamu yakin adikmu tidak memiliki kemampuan seperti kamu?"
"Yakin," jawab Agam singkat.
Ternyata, ia telah jujur pada ketua jika memiliki adik kandung. Karena percuma saja kalaupun ditutupi. Toh, ketua sudah tahu.
"Dimana dia sekarang? Saya harus melakukan tes padanya."
"Pak Ketua!" bentak Agam.
"Sudah saya jelaskan, adik saya tidak memiliki kemampuan apapun. Dan jikapun dia memilikinya, saya tidak akan mengizinkan dia bergabung dengan BRN!" teriaknya.
"Maga, apa kamu tidak bangga jika adikmu terpilih? Di luaran sana banyak generasi yang bercinta-cita menjadi agen BRN. Kehidupan adik kamu akan terjamin jika bergabung dengan BRN. Kamu tahu, kan?"
"Sekali tidak, tetap tidak! Ya, saya bangga telah menjadi bagian dari BRN. Namun beberapa peraturan BRN, saya merasa ada yang tidak manusiawi."
"Untuk masalah itu mari kita bicarakan dengan federasi," ajak Pak Ketua.
"Pak Ketua, saya sudah siap menerima apapun risikonya. Saya siap menghadapi sidang etik. Izinkan saya untuk memilih jalan hidup saya sendiri, saya tidak mau lagi terikat peraturan yang begitu rumit. Keluarga istri saya belum tentu juga mau diajak berdialog, bisa jadi mereka akan ketakutan."
"Jadi benar Anda sudah menikah?" selidik Pak Ketua.
"Ya, benar. Dan Anda pasti sudah tahu siapa wanita yang saya nikahi," tegas Agam.
"Ya, saya tahu. Sekarang, katakan alasannya. Apa yang sudah kamu lakukan? Maga, saya menyayangi kamu, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kamu."
"Terlambat ketua! Harusnya kalau Anda mau membantu, Anda langsung tanda tangan saja surat pengundurannya. Tidak perlu melaporkan masalah saya pada federasi internasional."
"Maga, kamu itu spe ---."
"Cukup Pak Ketua! Cukup! Dari awal, saya menolak dikatakan sebagai anggota spesial! Apa Anda sangat mau tahu kesalahan saya?!" teriaknya lagi.
Sepertinya, Agam benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Maga, tenang. Kamu baru sembuh, kan?"
"Saya memperkosa LB! Anda puas?! Saya adalah laki-laki yang memperkosanya!" jelasnya, berapi-api.
"APA!"
Pak Ketua sampai berdiri saking terkejutnya.
"Maga, katakan kalau itu tidak benar, kamu tidak memperkosanya, kan?" Pak Ketua maju ke hadapan Agam dan memegang tangannya.
"Saya berkata jujur. Apa Anda akan tetap membela saya? Sekarang, semuanya sudah saya jelaskan. Saya hanya perlu bersaksi saat sidang etik."
"Maga ... saya tidak menyangka dan tidak percaya kamu melakukan hal sekeji itu," lirih ketua.
"Sekarang Anda harus percaya, saya sudah mengecewakan dan mencemari nama baik BRN, saya tidak layak dianggap sebagai anggota spesial."
Pak Ketua tertunduk.
"Maka dari itu saya mengundurkan diri. Sekarang, semunya sudah jelas, kan? Anda dan tim Anda boleh meniggalkan kediaman saya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan terima kasih atas kepedulian Pak Ketua selama ini."
"Tapi, Maga. Ada hal lain yang perlu saya sampaikan."
"Maaf, Pak. Saya lelah. Intinya, Saya siap menjalani sidang etik, dan saya tidak mengizinkan adik saya terlibat dengan BRN. Saya juga tidak sudi BRN mencampuri urusan pribadi saya. Jangan ada yang berani menyelidiki latar belakang LB. Atau ... saya akan melakukan sesuatu yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya."
Pak Ketua menghela napas. Sepertinya, Maga yang dahulu ia kenal, telah berubah. Maga telah mengenal cinta yang dahulu susah ia dapatkan saat publik memfitnahnya.
"Baik, saya akan pergi, tapi ... saya tidak akan berputus asa untuk menemukan adik Anda. Bisa jadi adik Anda justru malah tertarik menjadi agen BRN," tegas Pak Ketua.
"Pintunya ada di sebelah kanan," usirnya.
Pak Ketua sampai geleng-geleng kepala mendengar ucapan Agam. Ia tahu jika Agam seperti itu karena kecewa padanya. Pak Ketua akhirnya pulang.
Kini, hanya ada Agam dan Bu Ira di rumah itu. Pak Yudha ikut ke Pulau Jauh untuk memastikan Linda baik-baik saja.
.
.
.
.
Agam bergegas ke kamarnya.
Kemudian menghubungi pengacara Vano untuk mempersiapkan bahan yang akan ia bawa saat sidang etik. Agam merasa sedikit lega setelah jujur pada ketua.
Lalu, Agam menghubungi Mister X untuk melacak keberadaan Gama. Malam ini, Agam sangat sibuk, ia berkutat dengan laptop dan layar komputer yang terkoneksi dengan Vano serta jaringan anonymous.
Bu Ira bahkan beberapa kali mengantarkan susu hangat dan buah-buahan ke kamar Agam.
Tepat pada pukul 02.26 waktu setempat, Agam dikejutkan oleh panggilan dari Pak Yudha.
"Ya, Pak. Ada apa? Bagaimana kabar Linda?" tanya Agam sambil mematikan layar monitor.
"Pak Agam, kita sudah tiba di Pulau Jauh. Tapi ... belum bisa melanjutkan perjalanan ke rumah LB."
Suara Pak Yudha terdengar gemetar. Wajah Agam seketika memucat.
"Kenapa? Ada apa, Pak?!" teriaknya.
"Emm, bu-bu Linda kontraksi Pak, dia menangis terus-menerus ---."
"Apa?!" Agam panik.
"Ta-tapi, bu Linda menolak diperiksa, Pak. Tim dokter kesulitan membujuknya. Jadi, tim dokter belum bisa memastikan apakah sudah ada pembukaan atau belum."
"Ya ampun Pak. Ya, dia pasti menolak, dia itu gadis." Karena panik Agam spontan mengatakan itu.
"Apa?!"
Di sana, Pak Yudha kebingungan. Yakin, Pak Yudha pasti tidak mengerti maksud ucapan Agam.
"Di mana posisi sekarang?"
"Sedang diperjalanan menuju rumah sakit rujukan, Pak. Saya dan bu Linda berbeda mobil. Hikam menjadi penunjuk arah."
"Saya ingin berbicara dengan dokter Rita, bisa?"
"Bisa Pak, tapi dokter Rita ada di mobil lain bersama dengan bu Linda dan pak Berli. Ada dokter Dani yang bersama saya."
"Ya sudah, saya ingin berbicara dengan dokter Dani."
"Baik."
"Ya, Pak Agam. Saya dokter Dani."
"Dok, tolong perintahkan pada seluruh tim medis untuk tidak melakukan pemeriksaan pada LB. Pantau saja kontraksinya. Oiya, saya akan mengirimkan data kesehatannya. LB didiagnosis CPD, dia tidak bisa melahirkan secara normal. Satu hal lagi, tolong rahasiakan masalah ini dari siapapun kecuali pada tim medis yang memang berkepentingan. Faham?"
"Baik, Pak Agam, saya faham."
"LB itu ... emm ... LB itu vi-virgin." Dengan ragu, Agam terpaksa jujur.
"Apa?!" Dokter Dani terkejut.
"Sudahlah, Anda pasti tahu maksud saya," tegas Agam.
"Ya, Pak. Saya faham. Akan saya laporkan perkembangannya pada Anda."
Di sana, dokter Dani berpikir jika Linda hamil karena sengaja menyuntikkan s p e r m a ke dinding abdomennya. Mungkin, Linda berani melakukan itu dan berbohong pada publik demi menaikan popularitasnya. Atau, ada faktor lain yang menjadi alasan. Dokter Dani menduga-duga.
Panggilan tiba-tiba berakhir, Agam yakin ini karena signal di sana kurang baik. Ia kembali menghubungi Pak Yudha, tapi diluar jangkauan.
"Aaarrggh."
Agam berteriak putus asa. Ia sangat ingin mendengar suara Linda dan berbicara denganya.
Lantas, Agam menelepon dokter Fatimah dan langsung memakinya.
"Dokter! Anda bilang, Linda tidak apa-apa naik pesawat! Tapi apa buktinya?! Sekarang dia kontraksi! Kamu harus tanggung jawab!"
"Apa?! Memangnya LB naik pesawat?! Yang saya lihat memang begitu. Kalau tiba-tiba mulas, ya itu alamiah, pasti ada faktor lain yang memicunya. Tapi, Anda tenang saja, kalaupun harus operasi sekarang, insyaaAllah bayinya akan baik-baik saja. Kita berdoa bersama-sama," kata dokter Fatimah.
"Cepat bawa LB ke rumah sakit The Number One, saya sedang jaga malam."
"LB ada di Pulau Jauh, Dok."
"Apa?!"
Sekarang giliran dokter Fatimah yang terkejut.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Huuuks ... Ayah ... sakit ...," keluh Linda.
Ia sedang memeluk Ayah Berli. Dokter Rita mengusap punggungnya sedari tadi, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit rujukan.
"Sa-sabar Nak, sabaaar ...."
Tangan Ayah Berli gemetar saat mengusap keringat di kening putrinya. Air mata pria itu menetes. Tidak terbayang bagaimana kacaunya perasaan Ayah Berli saat ini.
"Huuu huuu ....."
Linda terus menangis, ambang sakitnya memang rendah. Wajah cantiknya langsung memucat setiap kali kontraksi, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Ayah ... a-aku mau mendengar suara Pak Agam .... Telepon dia Ayah .... Ayo Ayah ...." Rayunya.
"Tidak ada signal, Nak."
Ayah Berli menjawab asal-asalan. Tapi, ponsel dokter Rita menyala.
"Ayah ... itu ada signal ...." Lirih Linda.
"Nak, kamu fokus dulu sama kandungan kamu. Lupakan dulu dia ya ...," bujuk Ayah Berli.
"Huuu .... Ayah ... dia suamiku ... aku tidak mungkin melupakannya. Aduuuh ... aahhh ... sakiiit ...," keluh Linda.
"Tarik napas, buang napas, rileks," kata Dokter Rita sambil membaca pesan dari dokter Dani.
Yang masih punya ***vote***, boleh ***vote*** nyai ya, jika berkenan.
Mohon maaf, kemarin nyai tidak bisa memenuhi janji untuk ***up*** dua episode. Kemarin, setelah pulang jaga malam, ternyata nyai sangat lelah dan mengantuk.
Ditambah, harus mengurus para pangeran, dan lain-lain. Jadi, baru bisa mengintai lagi saat hari menjelang malam.
Mohon dima'lumi. *Next time*, tidak akan lagi ada janji-janji mau *up* dua episode dalam satu hari. 😂🤭✌