
Yaa Rabbi, apa aku bisa mengemban amanah ini? Yaa Rabbi, tetap bimbing aku, bimbing hatiku, lisanku dan langkahku.
Agam duduk seorang diri di tengah acara pesta kemenangannya sebagai direktur utama Haiden Group Corporation atau lebih dikenal dengan nama HGC. Acara belum usai, Agam merenung sambil menikmati jus mangganya.
Malam semakin larut. Saat ini, para tamu yang menjadi bagian dari acara rapat luar biasa pemilihan direktur utama HGC masih menikmati pesta. Ada yang berdansa dengan pasangan masing-masing, ada juga yang sedang berkaraoke ria.
Yang boleh berdansa hanya pasangan suami-istri saja. Tidak ada minuman beralkohol di acara itu. Jalannya acara dikawal ketat oleh pihak kepolisian.
"Boleh aku duduk?" tanya seseorang yang menghampiri dan berdiri di hadapan Agam.
"Silahkan," jawab Agam.
Wanita itu duduk dengan gemulainya.
"Ada apa Bu Rista? Apa ada yang perlu kita bicarakan?" tanya Agam, matanya tetap fokus pada minuman di tangannya.
"Kenapa Pak Agam sendirian saja?"
"Bukan urusan Anda. Ini acara saya. Mau saya sendirian juga ya terserah saya," kata Agam seraya meneguk kembali minumannya.
"Kenapa Bapak tidak membawa seseorang?"
Wanita itu bertanya sambil memajukan dadanya berharap Agam bisa melihat kemolekannya. Sayangnya Agam tak menoleh.
"Pak, apa Bapak sudah punya pasangan?" Wanita itu rupanya sangat berani.
"Jika bukan urusan pekerjaan, lebih baik Bu Rista pergi saja," sela Agam. Agam tidak menjawab pertanyaan wanita itu.
"Jangan terlalu galak, Pak. Dari galak biasanya jadi cinta lho."
"Apa?! Cinta? Hahaha, sudahlah Bu Rista jangan membuat saya semakin marah."
Kehadiran wanita itu ternyata memperburuk suasana hatinya. Agam lalu berdiri mendekati balkon. Ia menatap suasana dan panorama malam dari ketinggian.
Kemilau lampu terlihat berkerlip, menghampar menyemai cahya, menerangi sang malam. Malam yang indah, gedung yang megah, pesta yang meriah, bertolak belakang dengan hatinya yang gundah, resah dan gelisah.
"Pak Agam, saya serius. Saya lajang dan Anda juga lajang, kan? Bagaimana kalau kita berkencan saja?"
Agam membalikan badan dan menatap Rista dengan sorot mata tajam.
"Bu Rista, rupanya Anda benar-benar ingin membuat saya marah. Saya pergi! Silahkan lanjutkan pestanya. Sudah saya bayar sampai pukul 3 pagi."
Agam melengos. Ia menyambar tas dan kunci mobilnya. Pria itu benar-benar pergi meninggalkan pestanya dan meninggalkan Rista yang kesal dan geram.
Semakin kamu menghindar dariku, aku semakin tertantang untuk memilikimu. Batin Rista.
Siapakah Rista?
Rista merupakan salah satu pemegang saham HGC. Rista juga adalah putri dari mantan kepala pengawal yang bekerja di rumah utama untuk ayah Tuan Muda Deanka bernama pak Rudi.
Namun semenjak penyerangan dan peristiwa besar terjadi di kediaman elit milik keluarga Haiden, pria bernama pak Rudi itu menghilang. Posisi pak Rudi saat ini telah digantikan oleh mantan anggota militer yang mengajukan purna tugas dini bernama pak Barata.
Agam berjalan tergesa menuju parkiran, ia masih mendengar dengan jelas dentuman musik dari arah ballroom saat ia masuk ke dalam lift.
Setelah berada di dalam mobil Agam kembali merenung.
Apa benar sekarang ia adalah direktur utama HGC?
Apa ia mampu?
Apa jalan karirnya akan mulus?
Apa ia tidak akan memiliki musuh?
Agam bertanya pada dirinya sendiri.
Harusnya ini adalah momen bahagia dalam hidupnya, terpilih menjadi direktur utama di perusahan terbesar di negara tersebut adalah prestasi luar biasa. Tapi, entah kenapa kebahagiaan itu sulit sekali akrab dengannya.
Agam berteman dengan sepi. Ibunya berada di luar kota untuk acara amal pasca tejadinya bencana alam di suatu daerah. Sedangkan adiknya lebih memilih menghadiri turnamen futsal antar sekolah. Dan seorang wanita yang sudah tiga bulan tinggal di rumahnya mustahil bisa menemaninya.
Agam menghela napas, mencoba menguapkan perasaan kesepian yang merongrong batinnya.
Ia lalu membuka kotak hadiah pemberian Tuan Muda Deanka. Kotak berisi coklat itu berbentuk hati, kemasannya bermotif stiker smile dan kiss. Agam membukanya, mengambilnya satu dan mengulumnya.
Rasanya pas tidak terlalu manis. Komposisinya coklat murni dan susu kambing. Sisanya pengemulsi makanan, dan tanpa bahan pengawet. Keterangan lainnya tertulis, "Baik dikonsumsi untuk ibu hamil dan menyusui."
"Linda, kamu harus mencoba coklat ini," gumamnya sambil melajukan kemudi.
Setibanya di rumah, Agam langsung menuju lantai dua rumahnya. Ia terkejut saat melewati kamar Linda. Pintunya terbuka lebar, dan saat Agam memberanikan diri untuk melihat ke dalam, Linda tidak ada di kamar.
Panik, saat itu juga ia panik. Segera masuk dan mengetuk kamar mandi. Ia khawatir Linda pingsan di kamar mandi seperti tadi pagi. Namun baru saja tangannya menempel, pintu itu sudah terbuka dan sosok yang dicarinya tidak ada.
"Lindaaa," panggilnya.
Ia melangkah cepat menuju perpustakaan, di sana Linda juga tidak ada. Ia kian panik, ditendangnya pintu kamar sang adik dengan kekutan penuh.
BRAKK, Gama terperanjak, mata Gama masih terpejam, namun tubuhnya refleks memasang kuda-kuda, posisi kuda-kudanya kokoh dan sempurna. Namun sayang posisinya menghadap kamar mandi.
"Kamu lihat LB?!" tanya Agam.
Sang adik langsung memutar tubuh ke arah asal suara, membuka mata dan bedecak kesal.
"Haish, ganggu saja." Gama melengos dan kembali merangkak ke tempat tidur.
"Gama," teriaknya. Tangan Agam menahan kerah baju bagian belakang milik Gama.
"Kakak serius, apa kamu melihatnya?!"
"Tidak!" tegasnya. Sambil menepis tangan Agam.
"Ayo bantu Kakak cari dia."
"Tidak!"
"Gama!"
"Apa! Apa! Memang dia itu siapa?! Aku gak peduli dia itu LB atau siapalah! Apa hubungan dia sama Kakak, hahh?! Saat kutanya, Kak LB bilang bukan siapa-siapanya Kakak. Lalu kenapa dia harus tinggal di rumah kita?! Gara-gara ada dia, aku kehilangan fasilitas!" Gama marah, ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Gama, dengarkan Kakak dulu, nanti kamu juga pasti tahu. Untuk saat ini Kakak belum bisa menjelaskan alasannya."
"Halah, apa Kakak pikir aku bodoh dan polos?! Dia hamil, kan?!"
"Gama! Kamu?!" Agam menarik selimut Gama.
"Apa! Kaget ya?!" Gama bangkit dan duduk.
"Aku gak bodoh Kak! Penyakit apa yang tiap pagi mual-muntah?! Nangis-nangis terus sering banget aku lihat dia memegang perutnya. Jangan bohongi aku lagi Kak! Jelaskan sekarang!"
"Gama ...." Agam duduk di sampingnya, meraih bahu Gama. Namun Gama menolak, bergeser dan menjauh.
"Aku benci sama Kakak!" ucapnya.
"Maaf Kakak salah." Agam menunduk, dadanya kembali sesak.
"Jujur Kak. Kakak ngehamilin dia?!" tanyanya. Sorot mata Gama begitu tajam, seolah ingin menembus hati Agam yang dingin dan membeku.
"Kak LB pernah memintaku membeli mangga muda, aku juga memergoki dia mengendap-endap ke dapur mengambil garam dan cabai. Kak, tolong jelaskan semuanya sekarang."
"Gama, Kakak ...."
Kebingungan Agam sangat akut. Bagaimana mungkin ia menjelaskan pada Gama tentang permasalahannya dengan Linda.
Apalagi kalau Gama sampai tahu jika ia memperkosa Linda. Mau disimpan di mana harga dirinya? Apakah pantas ia disebut pengayom untuk adiknya? Harusnya ia jadi suri tauladan, tapi apa yang ia lakukan pada Linda sungguh memalukan. Agam membisu.
"Cepat jelaskan Kak! Kalau tidak, besok pagi aku mau ke stasiun TV KITA dan melaporkan keberadaan Kak LB," tegasnya.
"Gama! Jangan gegabah!" bentaknya.
"Tekadku sudah bulat," sela Gama.
"Gama!" Agam beranjak, ia mencengkram baju Gama, dan menyeret adiknya ke dinding.
"Kamu berani melawan Kakak?!"
"Kenapa tidak?! Ayo kita bertarung sekarang!" Gama membenturkan kepalanya untuk menyerang wajah Agam.
Agam mengelak, ia memukul pundak Gama hingga Gama tersungkur. Tak mau kalah, Gama menarik kaki Agam saat ia tersungkur
BRUG, tubuh kedunyapun terjatuh bersamaan membentur lantai. Dengan cepat Gama memegang dasi Agam, bangkit dan menarik kuat dasi tersebut.
BUG, Agam menendang perut Gama.
"Awh." Gama mengaduh.
"Ayo bunuh saja adikmu ini! Bunuh!" Gama terlentang dan menyerah.
"Ayo lawan Kakak! Bangun kamu!" Agam menendang kaki Gama.
"Aku serius besok akan mengatakan pada wartawan kalau LB ada di rumah ini."
"Kamu bosan hidup?!" kata Agam.
"Ya, aku bosan hidup. Aku bosan dengan kebohongan Kakak! Aku bosan terus terlibat dengan riwayat kelam Kakak. Aku Muak! Sebelum Kakak membunuhku, jawab pertannyaku yang tadi, Kakak menghamili LB?" desaknya dengan tatapan sinis.
"Baik, Kakak akan jujur sama kamu. Jawabannya adalah ya. Kamu PUASS?!"
"APA?!" tangan Gama mengepal dan gemetar.
Ia bangun, langsung menyerang Agam tanpa ampun dan membabi-buta. Ia mendorong Agam ke tembok, menendangnya, menonjok perutnya, dan menonjok wajah Agam tanpa jeda. Gama tak terima kakak kebanggaannya melakukan hal yang dilarang agama.
"Suka sama suka?! Dijebak?! Atau Kakak memaksa dia?!" dengan rahang mengeras dan amarah tak terkendali, Gama masih sempat bertanya.
Agam menyeringai, ia pasrah saat hantaman bertubi-tubi itu mendarat di tubuhnya.
Sambil mengusap darah segar yang mengucur dari hidungnya Agam berkata, "Kalaupun Kakak jelaskan detailnya, kamu pasti tidak akan percaya dan tetap akan menyalahkan Kakak."
"Katakan!" Gama berhenti menyerang Agam. Ia memegang bahu Agam, menahannya di dinding dan menatap lekat wajah kakaknya.
Mata Gama berkaca-kaca. Perlahan iapun mengusap darah yang mengucur dari hidung Agam akibat ulahnya.
"Katakan, apa alasannya?" bibir Gama mengatup. Sedikit banyaknya ia tahu kalau kakaknya tidak baik-baik saja.
"LB menghina Kakak, Kakak sakit hati, dan ... Kakak memaksa dia," Agam jujur. Gama mematung.
"Dan ini, luka ini." Agam mengangkat bajunya.
"Hari itu ... Kakak sangat putus asa. Saat itu, Kakak ingin pergi dari dunia ini. Jika dengan menghajar Kakak, hatimu bisa sedikit tenang, ayo lanjutkan." Agam menarik tangan Gama dan menamparkan tangan itu ke pipinya.
"Tolong jangan menjadi seperti Kakak, kamu harus jadi pria baik." Ia mengusap bahu Gama.
"Kakak jahat! Pergi, pergiii," teriaknya. Gama mendorong punnggung Agam ke luar dari kamarnya.
BRUK, ia menutup pintu dengan kencang. Gama lalu menangis di balik pintu itu. Ia tak menyangka kakak yang ia banggakan dan rajin berpuasa Senin Kamis itu berani melakukan prilaku menjijikan, sebuah dosa besar yang dilarang agama.
"Gama ... Kakak minta maaf," suara Agam dari luar kamar membuat tangisnya semakin menjadi. Gama masih remaja, secara emosional, ia memang belum stabil.
Namun, didikan Agam tentang budi pekerti luhur, etika dan tata krama telah membekas di benaknya. Agam bahkan menyediakan les khusus bagi Gama, untuk mengajarinya berbagai hal yang berhubungan dengan agama dan kerohanian.
"Huuks ..., tidaaak," teriak Gama.
"Maaf, maaf, maaf ...." Agam masih berucap maaf saat tubuhnya perlahan merosot dan bersandar pada pintu.
Dasi dan bajunya berlumur darah, bibir merahnya pecah, pipinya yang baru saja pulih kembali lebam dam membiru.
Sungguh, ia tidak merasakan sakit akibat serangan Gama. Yang sakit adalah batinnya, yang remuk-redam adalah jiwanya.
Ya Rabbi, batinnya kembali menjerit, ia meminta kekutan dari langit.
Tempat paling menenangkan di rumahnya adalah mushola. Dengan sedikit meringis, ia berjalan sempoyongan menuju mushola, sambil membuka bajunya yang tercecer darah.
DEG, Agam menghentikan langkahnya. Di dalam moshola, Agam melihat Linda yang sedang berdoa dan terisak. Mukena berwarna putih masih melekat di tubuhnya. Laksana ada dorongan gaib, Agam tiba-tiba saja melangkahkan kembali kakinya dan mendekati Linda.
Ternyata kamu ada di sini. Batin Agam lega.
"Jika dia baik, tolong dekatkan dia padaku. Jika tidak baik jauhkanlah. Tapi ... aku tidak mencintainya," suara halus itu terdengar jelas di telinga Agam.
DEG, hati Agam berdesir hebat, entah kenapa ucapan terakhir Linda tiba-tiba menyisakan luka. Agam mematung, memegang baju kotor dan dadanya.
"Tapi ... aku ingin belajar ... setidaknya untuk menyukai dia," kata Linda.
Apa? Agam menautkan alisnya.
Apa dia ingin belajar menyukaiku? Saat itu juga, Agam merasa hatinya sedikit hangat.
"Hatcim, hatcim." Ruangan yang dingin, ditambah tidak memakai baju, membuat Agam bersin-bersin.
"Pa-Pak Agam?!" mata Linda membeliak.
"Ma-maaf," Agam gelagapan.
Agam semakin tak berdaya saat tangan halus itu menahan tangannya.
"Pak Agam ke-kenapa?!" Linda menatap wajah Agam.
"Sa-saya, saya ---." Ia bahkan lupa, ada apa dengan wajahnya?
Saat Agam masih linglung, Linda kembali bertanya, "Terus kenapa Anda senang sekali tidak memakai baju?!"
"Sa-saya ...," Agam malah menatap tangan yang melingkar di pergelangannya.
"Ini kenapa?!" entah sadar atau tidak, Linda berjinjit dan memegang dagu Agam guna memeriksa luka-lukanya.
"A-anu, sa-saya ...." Agam masih linglung dan limbung. Wajah cantik berseri yang memakai mukena putih itu begitu dekat dengannya.
Apakah ini mimpi? Jika ya, tolong ... jangan bangunkan aku.
"A-apa kamu suka coklat?" Agam balik bertanya.
❤❤ Bersambung ....