
"Pak Agaaam, tolooong ...."
Teriakan itu terdengar jelas, begitu memekik seolah merobek genderang telinganya. Spontan ia mendorong pintu ruang tindakan tanpa menunggu aba-aba ataupun minta izin terlebih dahulu pada dokter Fatimah.
'BRAK.'
Pintu ruang tindakan terbuka lebar. Kunci selot, mur, beserta bautnya berhamburan ke lantai dan membuat semua orang yang ada di dalam terkejut.
"Pak Agam! Anda merusak pintunya! Tadi pagar klinik, sekarang pintu klinik! Ya ampun Pak Agaaam, Anda ini Dirut HGC apa perampok, sih?!" teriak dokter Fatimah.
"Kok bisa ya, padahal pintunya sudah saya kunci." Bidan Lia terkesima.
"Maaf, akan saya ganti, tenang saja."
Agam segera mendekat dan meraih tangan Linda yang saat ini tengah menangis dengan keringat bercucuran di sekitar pelipis, kening, dan lehernya.
"Saya di sini," ucapnya lirih.
"Ya sudah Pak Agam boleh mendampingi, tapi ingat jangan membuat keributan. Makanya saya dulu tidak mau menikah dengan pelayar walaupun uangnya banyak ya karena seperti ini, sering ditinggal-tinggal."
"Saat butuh dukungan malah tidak ada di tempat, padahal kan nafkah untuk istri tidak cukup hanya lahir saja, batin juga perlu." Dokter Fatimah curhat sambil mengelap wajah Linda dengan tissue.
"Sabar ya Nona Bulinda," tambahnya lagi.
Agam hanya tertunduk seraya menggenggam tangan Linda yang mendingin.
"Huuuks ...." Linda masih terisak.
"Memang masih lama ya, Dok? Saya tidak tega, apa bisa dipercepat?" tanya Agam dengan nada mendayu karena takut dianggap membuat keributan lagi.
"Pak Agam, ini di dalamnya kan ada janin yang sehat, jadi untuk obat-obatan uterotonika tidak bisa kita berikan, kalau kita berikan nanti bisa merangsang kontraksi dan bisa jadi janin yang sehatpun malah ikut keluar," jelas dokter Fatimah.
"Kamu dengar kan penjelasan dokter Fatimah tolong sabar ya, oke?"
Tak sadar Agam meletakkan tangan Linda di pipinya, lalu mengecupnya berkali-kali. Linda terkejut di tengah kesakitannya dan dokter Fatimah pun menatap aneh pada Agam.
"Iya, Nona. Jadi, kita tunggu jaringannya selahirnya saja. Maaf untuk tadi yang saya katakan mau dikuretase. Saya bercanda ya Nona, tindakan kuretase tidak bisa dilakukan pada kasus Nona, karena di dalam rahimnya ada janin yang lain."
"Ja-jadi dokter menakut-nakuti saya?" Linda mungkin sedikit kesal pada dokter Fatimah.
"Hehehe, maksud saya biar Nona semangat mengedannya."
"Dokter menakutinya di saat seperti ini?! Ya ampun Dok, Anda tega sekali!" Agam berdiri dan kembali membuat suasana menjadi tegang.
"Pak Agam, saya usir lagi, nih!" Mata dokter Fatimah kembali melotot.
"Pak Agam, sabar ...." Lirih Linda. Rambut wanita itu sudah basah seperti baru saja keramas.
"Keguguran seperti ini kasusnya langka, saya tidak bisa mempercepat untuk proses pengeluaran jaringannya demi mengurangi risiko keguguran berulang pada janin yang satunya lagi."
"Ya saya faham, sekarang kendalanya apa? Apa perlu dirujuk ke rumah sakit?" Agam semakin khawatir, dia benar-benar tidak tega melihat Linda terus kesakitan.
"Untuk sementara tidak perlu, nanti setelah jaringannya lahir, akan saya cek darah rutinnya untuk mengetahui kadar hemoglobin di dalam darahnya. Masalah utamanya saat ini, Nona Linda takut mengedan."
"Saya tidak takut Dok, tapi sakit ...."
Butiran bening di sudut matanya kembali mengalir. Mungkin ini balasan dari perbuatannya. Linda sempat berpikir seperti itu.
Maafkan aku ... rintih Agam dalam hatinya.
"Bisa tidak Dok diberi obat anti nyeri? Saya kasihan." Kembali mata Agam berkaca-kaca.
"Masalahnya, jika diberikan obat anti nyeri, maka mulasnya bisa berkurang. Jika mulasnya berkurang, proses pengeluaran jaringannya akan semakin lama."
"Semakin lama jaringannya keluar, maka kemungkinan infeksinya lebih tinggi dan bisa membahayakan janin yang sehat," terang dokter Fatimah.
Penjelasan itu membuat Agam semakin terpuruk dan merasa sangat bersalah. Ia kembali mengecup tangan Linda.
"Sebenarnya ada faktor lain yang menyebabkan pengeluran jaringannya menjadi lama, tapi saya tidak bisa menjelaskannya pada pak Agam."
"Kenapa, Dok? Jelaskan saja."
"Tidak bisa Pak Agam, ini masalahnya sangat privasi, saya hanya bisa menjelaskan pada suaminya."
Tidak mungkin kan aku menjaskan kalau Bulinda CPD dan saluran leher rahimnya sangat sempit, batin dokter Fatimah.
"Dok ..., Bu Bidan ... saya mulas lagi. Ini semakin sakiiit, enghhh ...."
Linda berusaha mengedan lagi.
Ia menarik maskernya karena merasa sesak, padahal sudah memakai oksigen. Maka terlihatlah wajah cantiknya yang memerah dipenuhi peluh dan sedikit memucat di bagian bibirnya.
Hati Agam begitu terluka, rasanya ia ingin menyakiti dirinya sendiri karena sangat menyesal. Bintang cantik yang harusnya bersinar terang di dunia yang ia inginkan, saat ini kondisinya malah sangat memprihatinkan dan mengenaskan.
Kesakitan, keguguran, tersiksa, terluka, dan terpuruk dengan statusnya yang masih lajang. Miris.
Hati Agam kian teriris saat Linda memanggil-manggil nama ayah ibunya di tengah kesakitannya dan meminta maaf.
"Ibu ... maafkan aku ... aku mau ibu ada sini ..., huuu ...."
"Ayah ... maafkan aku ... aku merindukan kalian, huuu ...."
"Linda ...."
Agam kembali memegang tangan Linda seolah ingin memberinya kekuatan agar wanita itu menjadi kuat.
"Sedikit lagi Nyonya, aduh ini kakinya dulu yang kelihatan, sabar ya pasti lebih lama. Tapi kecil kok. Kalau Nyonya kuat pasti cepat lahir."
Bidan Lia terus menyemangati. Sedangkan bidan Rani membantu dokter Fatimah yang terus memantau kondisi janin yang masih sehat melalui layar monitor USG.
"Ayo, ayo, Nyonya cantik, duh sekarang tinggal kepalanya, sedikit lagi."
"Huhhh ... huuhhh ... huuhh ...."
Linda mengatur napasnya untuk mengumpulkan tenaga.
"Satu, dua, tiga, dorong Nyonya," seru bidan Lia.
"Enghhh ...."
Linda berusaha semampunya. Melawan seluruh rasa sakit dan lelahnya. Keringatnya semakin banyak.
Agam melongo, sungguh ini pengalaman yang sangat mengguncang jantung, jiwa dan raganya. Tak kuasa menahan gejolak rasa itu, Agam spontan merengkuh Linda. Ia melingkarkan kedua tangan Linda pada tengkuk kokohnya.
"Peluk saya," bisiknya.
"A-apa?" Linda menatapnya lekat.
"Sssst ...," kata Agam sambil menahan tangan Linda di pundaknya.
Bidan magang dan bidan Rani saling menatap, mungkin merasa aneh dengan interaksi berlebihan diantara saudara sepupu itu.
Linda akhirnya merengkuh Agam, posisinya setengah duduk. Pundak Agam yang harum memberinya sedikit rasa tenang dan nyaman. Airmata Linda membasahi pundak Agam, dan pria itupun merasakannya.
"Untung kalian akur, setidaknya Pak Agam bisa berperan sebagai pengganti suaminya Nona Bulinda," kata dokter Fatimah.
"Ayo sedikit lagi cantik, nah bagus seperti itu." Bidan Lia mengangkat jempol.
"Ayo sedikit lagi, sedikit lagi, iya terus, teruuus."
Bidan Lia sebelas dua belas dengan petugas parkir.
Linda terus mengedan sesuai intruksi, napas kelelahan Linda terdengar di telinga Agam, dan hembusan napas Linda menyapukan hangat di pundak Agam.
"Maafkan saya, saya berjanji akan membahagiakan kamu, saya tidak akan membiarkan kamu bersedih dan kesakitan seperti ini lagi," bisik Agam.
Entah didengar atau oleh Linda sebab wanita itu saat ini tengah berjuang.
"Sedikit, lagi ...."
"Berdoa yaa ... kamu pasti bisa, kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa, kamu harus ikhlas dan bismilaah, oke?" bisik Agam.
Linda mengikuti intruksi Agam, ia memejamkan mata, berdoa pada Tuhannya, meminta pertolongan-Nya dan mengikhlaskan semuanya hanya kepada-Nya.
Sambil memeluk Agam kuat-kuat Linda mengedan semampu yang ia bisa.
Ya, janinnya memang sangat kecil, tapi karena ia mengalami kelainan bentuk panggul bagian dalam, membuat wanita ini sangat kesulitan.
Keberadaan janin lain di rahimmya juga menjadi batu sandungan. Karena dokterpun tidak bisa melakukan tindakan apa-apa kecuali menjaga agar Linda tidak perdarahan, dan janin yang sehat tetap dalam kondisi stabil.
"Enggh ... huhhh ... enghhh ...." Teriak Linda.
Bidan magang melongo, baru kali ini melihat pasien yang tetap cantik paripurna padahal sedang mengedan.
.
.
.
Setelah hampir dua jam berjuang dalam kesakitan Linda, dan penantian semuanya.
Akhirnya ....
Janin usia 18 minggu itupun terlahir jua ke dunia.
"Alhamdulillah hirobbil alamin," seru dokter Fatimah dan para bidan, begitupun dengan Agam. Ia spontan mengecup kening Linda, tapi wanita itu tiba-tiba terkulai lemas dan pingsan.
"Dok, dia pingsan," teriak Agam.
"Astagfirullahaladzim, Pak Agam awas dulu! Kita akan periksa tanda-tanda vitalnya. Cepat, cepat!" teriak dokter Fatimah.
"Dok, nadinya dan tensi darahnya lemah. Nadinya 50 kali per menit, tensinya 80 per 40. Lemah sekali," teriak bidan Rani.
"Pasang infus satu jalur lagi! Guyur ya! Bidan Lia cepat cek perdarahannya! Saya akan mempersiapkan rujukan," perintah dokter Fatimah.
Agam berlari ke pojokan, berjongkok sambil mencengkram kepalanya. Bumi yang dipijaknya seolah berputar-putar. Hati Agam hancur, ia khawatir terjadi apa-apa pada Linda.
"Janin dan jaringan plasentanya sudah lahir bersama-sama, Dok. Tapi darahnya mengalir terus," kata bidan Lia.
Sementara bidan magang entah siapa namanya tengah membungkus janin kecil dan jaringan plasentanya menggunakan underpad dengan tangan gemetar.
"Linda, tolong kuat ... jangan seperti ini ...," gumam Agam, lututnya lemas.
Ia bahkan hampir tidak mampu berdiri saat menyaksikan langsung bagaimana Linda yang tidak sadarkan diri tengah dikerubuti oleh bidan untuk dilakukan pertolongan.
Saat ini Linda sedang diinfus lagi, dan diambil sampel darahnya untuk cek lab dan persediaan transfusi jika dibutuhkan.
"Pak Agam, cepat telepon suaminya! Ini kondisinya gawat! Sampaikan kemungkinan kegawatan sampai dengan meninggal!" kata dokter Fatimah.
"A-APA KAMU BILANG?!"
Agam dengan langkah sempoyongan, beranjak dan mencekik dokter Fatimah.
"P-Pak Agam, ja-jangan seperti ini, Pak." Dokter Fatimah berusaha menahan tangan Agam.
"Tolong-toloong," melihat dokter Fatimah dicekik bidan magang segera meminta batuan pada scurity.
"Itu cepat, dokter Fatimah dicekik," teriaknya dengan mata yang membulat.
Scurity wanita berlari masuk ke ruang tindakan dan tanpa ampun langsung menyerang kaki Agam mengunakan pentungan.
"Saya sudah rekam, ini bisa jadi bukti kekerasan," teriak bidan magang sambil memegang ponselnya lagi-lagi dengan tangan gemetar.
"Dok, tanda-tanda vitalnya mulai stabil," teriak bidan Rani.
"Ya perdarahannya juga berhenti," seru bidan Lia, bersamaan dengan Agam yang tangannya melemas dan melepaskan dokter Fatimah.
Pria itu berubah dalam sekejap. Langsung memeluk dokter Fatimah, meminta maaf dan berterimakasih.
"Maafkan saya, Dok. Terima kasih ..., tim Anda hebat. Saya akan bayar semuanya 10 kali lipat, tolong maafkan kelancangan saya. Tadi saya tidak terima karena Anda mengatakan kemungkinan dia meninggal."
"Uhuk, uhhhuk, i-iya saya maafkan. Saya faham Anda panik."
Dokter Fatimah mengatur napas. Untung saja Agam tidak mencekiknya terlalu kuat.
"Saya hanya tidak suka Dokter berbicara sembarangan tentang kematian dia," kata Agam sambil mendekat ke arah Linda yang sudah sadar tapi masih memejamkan mata.
"Dia pasti sangat kelelahan, biarkan dia istirahat, kita akan bawa ke ruang perawatan setelah dua jam pemantauan di ruangan ini," kata dokter Fatimah sambil menepuk bahu Agam.
Dan saat itulah mata dokter Fatimah membulat saat sadar jika Nona Bulinda sangat mirip dengan artis LB. Saat ia akan bertanya pada Agam akan hal itu, bidan magang menghampiri.
"Dok, janinnya dan plasentanya sudah saya rapikan, mau disimpan di mana?" tanyanya.
"Sudah, Ade simpan di situ saja, lanjut bantu bidan Lia dan bidan Rani ya."
"Baik, Dok."
Bidan magang itu kemudian membantu merapikan alat dan membersihkan ruangan. Sesekali ia tampak mencuri pandang pada Linda yang sudah terbaring nyaman dan sudah dibersihkan.
Gila, cantik sekali. Dan kenapa mirip sekali dengan artis LB. Batinnya.
"Ade, kerja yang benar, jangan melamun."
"Oiya, Kak Rani, maaf." Sahutnya.
***
Jantung Agam berdegup tidak karuan saat dokter Fatimah akan memperlihatkan janinya. Dokter Fatimah membawa Agam ke ruangan khusus.
Dia ... dia anakku ....
Agam menekan sedikit dadanya agar ia bisa tenang.
Sebelum membukanya, dokter Fatimah menjelaskan terlebih dahulu beberapa hal pada Agam.
"Harusnya saya menjelaskan ini pada suaminya, tapi karena yang ada hanya Pak Agam, ya saya akan jelaskan pada Pak Agam saja."
"Ya, Dok." Agam menunduk.
"Usia kandungannya kan kalau dari haid terakhir 18 minggu. Ukuran normal kalau diUSG biasanya panjangnya sekitar 14 cm berat badan sekitar 200 gram. Nah, tadi hasilnya sudah saya ukur. Panjangnya sesuai 14 cm, tapi berat badannya sangat kecil hanya 127 gram."
"Mungkin karena kembar, jadi berat badannya tidak sesuai usia kehamilan. Telinganya sudah terbentuk lengkap. Kalau dia masih dalam kandungan dia pasti sudah bisa mendengar."
Agam semakin menunduk saja. Tangannya yang gemetar ia masukan ke dalam saku jasnya agar tidak terlihat.
"Pada usia ini, tulang-tulang telinga tengah, dan ujung saraf dari otaknya mulai berkembang. Jadi, janin sudah bisa mendengar suara-suara di luar perut, serta suara detak jantung dan aliran darah ibunya melalui tali pusat," kata dokter Fatimah.
Tangannya yang memakai sarung tangan medis mulai membuka lipatan underpad.
Jantung Agam semakin berdegup. Dadanya kian sesak.
"Jenis kelaminnya sudah terlihat jelas."
Agam diam saja.
"Laki-laki, Pak. Saya buka ya. Janinnya kemungkinan meninggal saat proses pengeluaran, soalnya saat saya USG jantungnya masih berdetak, tapi memang sangat lemah."
DEG, mata Agam membulat sempurna.
Buah hatinya, belahan jiwanya, gumpalan darahnya yang terbentuk di sana, kini terlihat jelas.
Dia sangat kecil dan merah, dengan urat serta pembuluh darah yang jelas terlihat membayang di sekujur tubuhnya. Jemari tangan dan kakinya sudah terbentuk sempurna.
"Dok ... bisa tinggalkan saya di ruangan ini, saya mau memotretnya," kata Agam.
"Oh, silahkan Pak." Dokter Fatimah berlalu.
Bruk, Agam bersimpuh di lantai saat dokter Fatimah sudah pergi.
Pria itu bersujud menghadap jasad janin, kedua bahunya tampak bergerak-gerak. Tidak terdengar tangisan, tapi yakin ... Agam yang kuat sedang menangis.
"My baby little boy ... i'm so sorry ... porgive me please ...." Gumamnya.
Lalu Agam berdiri, dan mendekati janin kecil itu. Dengan tangan gemetar ia menyentuh janin itu perlahan. Lalu memegang kaki super mungilnya yang memucat dan terasa dingin.
"Sekali lagi ... tolong maafkan aku. Aku yang jahat ini ... papa biologis kamu sayang .... Tapi ... aku sendiri merasa tidak pantas untuk menjadi papa kamu, aku malu padamu."
"Maafkan aku ... karena nafsu dan kesalahanku ... kamu terbentuk di rahimnya. Dan sekarang ... karena kecerobohanku ... kamu terpaksa lahir ke dunia sebelum waktunya. Kamu adalah korban kebodohanku."
"Aku tidak tahu ... bagaimana nanti di akhirat aku harus mempertanggungjawabkan kematian kamu di hadapan-Nya."
Astagfirullahaladzim.
"Maafkan aku sayang .... My baby little boy ... i'm so sorry ...."
Tiba-tiba ....
'Tok tok tok.'
"Pak Agam, sepupu Bapak ingin bertemu, sekarang sudah ada di ruang perawatan. Dia sudah bangun, Pak." Kata seseorang di balik pintu.
"Saya segera ke sana." Sahut Agam.
Setelah memotret putranya dan merapikan kembali penutupnya Agam bergegas.
"Ruangannya paling ujung, Pak. Hanya ada lima kamar, ada di kamar nomor lima," ujar bidan magang.
Dia tidak memakai name tag. Jadi, sampai saat ini namanya belum diketahui.
***
Di kamar fasilitas VIP itu Linda terbaring. Dua cairan infus masih terpasang di tangan kiri dan kanannya. Terdiri dari vitamin, dan cairan elektrolit. Satu jalur yang tadi terpasang di kakinya sudah dilepas.
Linda sedang menatap tetesan cairan infus saat derap langkah kaki mendekat ke arahnya, ia tahu jika yang akan datang adalah Agam.
Airmatanya kembali mengalir. Merasa sangat bersalah atas hilangnya satu janin dalam kandungannya.
'Kreeet.' Pintu terbuka.
"Linda ...."
Agam mendekat dengan berjuta gejolak rasa, langsung menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Linda.
"Pak Agam ....." Ia menoleh lemah, airmatanya meleleh.
"Su-sudah enakan?" Agam memegang tangannya.
"Su-sudah, Pak." Jawabnya pelan.
"Mau makan?" tanya Agam.
Linda menggeleng.
"Sa-saya minta maaf ...." Lirih Linda.
"Minta maaf untuk apa, hm?" Agam mengusap air mata Linda.
"Karena saya ceroboh." Menatap Agam penuh penyesalan.
"Ssstt ... bukan salah kamu, saya yang salah."
"Bapak ti-tidak salah, sa-saya yang salah." Linda bersikeras.
"Hmm ... baiklah, kamu yang salah," kata Agam sambil tersenyum.
"Iya, saya yang salah, saya minta maaf, Pak ..."
"Karena kamu juga salah, sekarang saya juga akan melakukan kesalahan," kata Agam.
"Ma-maksudnya?" Linda sama sekali tidak mengerti ucapan Agam.
"Saya akan melakukan kesalahan supaya kita sama-sama bersalah."
"Ma-maksudnya?" Linda semakin bingung apalagi saat Agam semakin mendekat.
"Maksud saya seperti ini."
Agam meraih pipi Linda dengan kedua tangan, lalu menekan dagu indah bintang iklan itu.
Dan ....
"Pak Agam, Anda mau a ---."
Mau mencium kamu.
Kata Agam dalam hatinya saat bibirnya dan bibir Linda benar-benar sudah menempel.
Deg, rasanya sangat nyaman.
Pak Agam ....
Kata Linda dalam batinnya saat bibir tipis yang wangi dan merah alami itu mulai bergerak perlahan dan begitu lembut mengecapi serta mengecupi bibirnya.
Deg, rasanya merinding si bulu roma.
Linda memejamkan mata, airmatanya menetes, tapi ... ia tidak menolak.
Pun dengan Agam, mata sayunya terpejam. Hatinya bergejolak, panas dan ....
Dag,
dig,
dug,
derrr ....
Agam tahu ini salah, tapi ... iapun tidak bisa menolaknya. Ingin terus, terus dan terus.
Pak Agam ....
Tangan Linda mencengkram kuat ujung kemeja Agam.
Linda ....
Tangan Agam masih berada di dagu dan pipi Linda.
❤❤ Bersambung ....