AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Gelebah [Warning!!!]



"Apa masuk akal seorang Agam Ben Buana yang gagah perkasa meminta tolong pada wanita hamil yang lemah? Sulit dipercaya."


Sambil menaiki lift Linda menggerutu. Memang sudah jadi kebiasaannya sering berbicara seorang diri ketika sendirian.


Ia sudah mandi di toilet yang berada di basement. Jadi, saat ini tinggal memakai baju saja.


"Emm, baju mana ya? Rok ini lucu juga."


Ia akhirnya memakai rok longgar sebatas betis, dipadukan dengan kemeja lengan pendek atau short shirt dengan aksen bunga melingkar di bagian lehernya. Memakai pelembab, dan lipstik merah, lalu menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya.


"Lama-lama aku betah juga di kamar ini."


Linda merebahkan dirinya di tempat tidur dan menatap langit-langit.


"Help me, please ...." Suara itu terngiang.


"Ih, apaan sih? Dia kan jago." Menutup telinganya.


"Kenapa tidak minta tolong sama wanita yang bersamamu?! Kemana orang-orangmu?! Lagipula kamukan di tempat pesta. Banyak orang, kan? Kenapa harus minta tolong padaku?"


Linda menutup mata, lebih baik tidur pikirnya.


"Bu Linda ... to-tolong sa-saya ... please .... Sa-saya berada di bahu jalan kilometer empat, gedung HGC. Gunakan mobil mana saja yang ada di parkiran. Help me, please ...."


Terngiang lagi. Kali ini membuat Linda duduk dan merasa tidak tenang.


"Dia memakai nomor baru. Kenapa tidak memakai HP-nya? Berarti tidak sedang memegang HP-nya atau HP-nya mati."


"Minta tolong padaku, berarti tidak ada orang lain selain aku yang bisa menolong dia? Sangat janggal." Linda berpikir keras.


"Aaaa, binguuung," teriaknya.


Linda rebahan lagi, tapi semakin gelisah. Beberapa kali ia miring kanan dan miring kiri.


Nud.


Tiba-tiba janin dalam rahimnya bereaksi. Linda merasakan detaknya sampai ke ulu hati. Ada perasaan tidak enak di dalam hatinya.


Perasaan apa ini?


Linda juga tidak tahu.


"Aku kenapa?"


Linda kembali duduk. Tak terasa tangannya memegang kancing bajunya. Batinnya mulai mencari jawaban.


Tolong.


Jangan.


Tolong.


Jangan.


To---long.


Ada lima kancing ternyata, dan pilihan terakhirnya adalah ....


Tolong.


***


Tubuh Agam menggigil, ia panas dingin. Tadi, setelah meminjam ponsel pejalan kaki, ia cepat-cepat masuk ke dalam mobil, dan menepikan mobilnya di bahu jalan. Di sebuah kawasan yang sebenarnya terlarang untuk parkir.


Tapi ....


Ya mau bagaimana lagi?


Saat ini, ia tidak berdaya. Jika dipaksakan menyetir, bisa jadi akan membahayakan dirinya sendiri, membahayakan orang lain, ataupun keduanya.


"Ibu ... Gama ...," panggilnya.


Entah kenapa wajah ibu dan adiknya tiba-tiba muncul.


"Ahhh ... uuhh ... huuhhh ...."


Tubuh pria itu benar-benar menggigil. Entah obat jenis apa yang dia minum. Efek sampingnya sangat aneh.


Agam merasakan wajah dan badannya terasa panas. Sangat panas, sampai-sampai ia melepas semua yang menempel di badannya, tapi dari bagian pinggang sampai kaki, Agam merasakan kedinginan. Dinginnya teramat dingin, hingga gigi Agam gemeretak.


"Linda ... ka-kamu mau me-menolongku, kan ...." Ocehnya.


"Linda ... ohhh ... hmm ... El ...."


Agam mulai meracau, wajahnya memerah, matanya nanar menerawang.


Bibir tipisnya yang merah alami itu mulai tersenyum-senyum. Kondisi Agam kacau-meracau, memprihatinkan, dan kepayahan. Sungguh kasihan.


'Klik.'


Masih ada sedikit kenormalan untuk memposisikan kursi kemudi ke posisi nyaman untuk tidur.


'Duk.'


Ia menjatuhkan kepalanya tanpa hati-hati. Matanya terpenjam dan terbuka istilah lainnya merem-melek.


Dengan bodohnya jemari Agam menelusuri bibirnya sendiri dengan gaya yang sensual dan mature.


"Linda ... El ... Elbi ...." Racaunya lagi.


Agam meremas-remas rambutnya.


Sungguh, dia tidak seperti Agam yang berwibawa dan gagah itu. Saat ini, Agam laksana pria bayaran yang sedang memikat mangsanya.


Selain fantasi itu, Agam juga sepertinya tengah mengalami efek narkotik dan psikotropik, merupakan sebuah obat terlarang yang biasa digunakan untuk penenang dan banyak dikonsumsi oleh orang-orang galau yang minim iman.


Obat yang membuat si pemakainya merasa nyaman, tapi ada bahaya laten yang mengintai para penggunanya.


Obat ini akan merusak otak dan raga, mengancam kewarasan, serta mengancam jiwa.


Mengerikan!


Say no to drugs!


Otak cerdas Agam saat ini sedang terisi ribuan benang kusut, sulit diurai, rumit, dan ruwet.


Fantasinya sedang berkelana pada pristiwa itu, dan objeknya tentu saja dia.


Ya, dia.


LB.


Teringat kala ia memberikan first kiss-nya pada bibir LB yang merah-merekah. Bermain-main dan bereksplorasi di sana, merenggut seluruh kehangatan dan rasanya.


Lalu teringat lagi saat ia menikmati detail tubuhnya, yang tidak terlewatkan satu incipun.


Lalu ... saat Agam melakukan ini dan itu.


Terngiang di telinganya desahan dan lenguhan sensual Linda yang keluar diantara caci-maki.


Ya, pada saat itu ... Linda memang memakinya, tapi ... Linda juga terlihat seperti menikmatinya.


Desahan itu menggoda telingnya dan membangkitkan gairahnya ribuan kali lipat.


"Arrgghh ...."


Agam berusaha keras untuk waras, ia mencoba duduk, tapi malah terjatuh lagi. Dan kepalanya kembali membentur kursi.


Ia semakin tidak waras, karena mengingat kembali jerit-tangis Linda kala ia memaksa memasuki tubuhnya yang ternyata masih suci. Tersegel rapat, terkemas sempurna, indah, cantik dan rapi.


Terbayang bagaimana darah merah segar itu mengalir dari sana. Darah yang membuat ia sangat menyesal, panik, marah, namun bergairah.


Tapi ....


Tidak bisa berhenti sampai di situ.


"Hmm ...."


Stop, flash back!


Memori otak Agam saat ini tidak bisa dideskripsikan lagi.


Terlalu vulgar.


'Tok tok tok.'


Kaca mobilnya diketuk. Agam tidak merespon karena otaknya tengah error. Ia mendengar ketukan itu, tapi tidak mampu melakukan apapun.


"Pak, saya dari dinas perhubungan kota, tolong jangan parkir di sini. Mobil Bapak bisa diderek." Petugas itu terus mengetuk sambil mengintip di balik kaca.


'BRUM, SRET.'


Tiba-tiba ada mobil lain yang menepi di belakang mobil Agam, lalu keluarlah dua orang pria berkacamata dari mobil itu, mereka tinggi, tampan dan gagah.


Dua orang itu mendekati mobil Agam dan menghampiri petugas.


"Selamat siang, Pak. Ini mobil sahabat saya, apa bisa kami saja yang menangani?" kata salah satu dari mereka sementara di dalam mobil masih ada dua orang pria lagi.


"Oh, Anda sahabatnya? Sepertinya dia sedang sedang tidur."


Petugas itu berniat mengintip lagi, namun salah satu dari mereka menahannya.


"Pak, tolong maklumi dan maafkan sahabat saya, dia tadi mengabarkan kalau sedang sakit," terangnya.


"Baik, kali ini saya maklumi. Saya beri waktu 10 menit, kalau dalam 10 menit masih terparkir di sini, mohon maaf akan kami derek," tegasnya.


"Baik, Pak. Saya jamin, mohon maaf atas kelalaian teman saya dan ketidaknyamanan ini," ungkapnya.


Dua pria tegap itu membungkukkan badan, memberi hormat pada petugas dinas perhubungan saat petugas itu berlalu.


Salah satu dari mereka mengacungkan jempol pada kawanannya yang berada di dalam mobil.


"Ah, aku tidak sabar," kata pria yang rambutnya dicat coklat lalu mengintip ke dalam mobil.


"Hahaha, Roy dia sedang hor --, tapi seperti kesakitan juga. Menarik."


Menjijikkan pria-pria itu bergelak tawa dengan wajah liciknya. Tertawa di atas penderitaan Agam.


Lalu mengetuk kaca mobil.


'Tok tok tok.'


"Pak Agam, kami staf HGC, tolong buka pintunya, Pak. Pak Agam, tolong buka pintunya, kami staf HGC."


Dan ketukan itu semakin kuat, hingga Agam yang saat ini tubuhnya bermandikan keringat, membuka mata dan menoleh.


Apa ...? staf HGC?


Antara sadar dan tidak, antara bayangan para pria yang memang mirip dengan staf HGC, serta antara kemolekan Linda yang tengah memenuhi pikirannya.


Agam akhirnya menurunkan setengah bagian kaca mobil.


Dan pria bernama Roy melongokan kepala ke dalam mobil. Pria itu langsung menelan saliva saat melihat penampakan Agam. Dan tatapannya pada Agam jelas bukan tatapan biasa.


"Ka-kalian staf HGC? To-tolong panggilkan dokter, sa-saya sakit ... to-tolong jangan lihat saya," rintinya.


Dengan susah payah, Agam hendak menutup kembali kaca mobilnya, tapi pria bernama Roy telah berhasil memasukan tangannya ke celah kaca dan menekan tombol kunci.


'Klik.'


Pintu mobil terbuka. Agam tak menyadari karena saat ini ia tengah memeluk tubuhnya yang demam, dan mabuk.


Lalu pria satu lagi melambaikan tangan pada kawanan mereka, memberikan kode agar mobil mereka mendekat.


"Pak, Anda sakit, kita harus membawa Bapak ke rumah sakit sekarang juga." Roy bersiap meraih bahu Agam.


"Ka-kamu staf ba-bagian a-apa ...? Ba-bagaimana bi-bisa tahu sa-saya di sini ...." Dengan bibir gemetar Agam bertanya.


Dalam keadaan seperti itu Agam masih sadar akan satu hal, ia menutupi bagian tubuhnya yang berharga dengan kemeja.


"Kami staf baru bagian keamanan, tadi tidak sengaja melihat Bapak sempoyongan. Jadi, kami diperintahan menyusul Bapak oleh Pak Barata."


"Hmm ... be-benarkah? Ba-baiklah, to-tolong bawa sa-saya ke klinik HGC, oya ... to-tolong minta a-air mineral."


"Air mineralnya nanti saja ya, Pak. Sekarang kita pindah mobil."


"Hahhh .... Sa-saya ti-dak mau pindah mo ---."


Agam belum selesai berucap, namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.


'BUGH.'


Sebuah pukulan kuat tiba-tiba mendarat di kepala Agam.


Seorang pria tinggi besar yang baru saja datang dari depan kemudi mobil kawanan pria gagah itu membuka pintu tengah mobil Agam, dan langsung menyerang. Dia memukul titik lemah Agam di bagian leher dengan barbel.


Dalam kondisi mabuk dan pengaruh obat, Agam yang kuat, tidak berdaya dan lemah. Agam pusing, sakit, meremang, dan pingsan.


Agam yang malang terkapar dalam kondisi tidak memakai baju. Namun celana panjang dan sabuknya masih melekat kokoh.


"Hahahha," si pemukul terbahak-bahak sambil memainkan barbel. Massa berat barbel tidak terdeteksi.


***


"Kuncinya yang mana sih? Ini banyak sekali kunci," keluh Linda.


Linda sudah berada di depan brankas kamar Agam.


Dua minggu yang lalu, Agam memang pernah menunjukkan salah satu brankas berisi kunci mobil pada Linda dan memberitahu sandinya.


"Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi tanpa diduga. Saya khawatir sewaktu-waktu ada kebakaran atau bencana. Jika itu terjadi dan Anda sedang seorang diri di rumah ini, cepat selamatkan diri dan bawa salah satu mobil yang ada di garasi. Keselamatan Anda dan anak saya harus diutamakan."


Begitulah bunyi pesan Agam pada saat itu.


Linda sudah mendapatkan sebuah kunci mobil yang ia ambil sembarang.


Ia berjalan cepat menuju tangga, namun segera berbalik ke lift saat teringat dengan pesan Agam untuk tidak melewati tangga.


.


.


.


'Klik.'


'TIIID.'


Salah satu mobil menyala, saat Linda menekan tombol pada kunci.


Gila, itu mobil sport. Wow.


Linda terkejut. Kunci mobil terbungkus rapi, hingga ia tidak tahu jenis mobil apa yang akan ia kendarai.


"Aku baru kali ini mengendarai mobil sport. Apa aku bisa? Tapi kalau kembali ke atas bisa memakan waktu lagi." Linda mengoceh di samping mobil tersebut.


Bismillah.


"Aku pasti bisa. Sayang, kita jemput calon ayah kamu." Linda mengelus perutnya saat ia sudah berada di belakang kemudi.


Dan janin di dalam perutnya seolah merespon. Ia berdenyut, seirama dengan degupan jantung Linda yang semakin cepat.


Linda menghembuskan napas berkali-kali sebelum akhirnya membulatkan tekad dan melajukan kemudi dengan hati-hati meninggalkan gerbang rumah Agam yang tertutup secara otimatis.


Awalnya Linda ingin meminta bantuan Bagas. Tapi sayang ia belum memiliki nomor Bagas yang terbaru.


Wanita elok itu menggunakan masker, dan sebuah tas selempang kecil berisi ponsel, kartu identitas, uang tunai, kartu kredit, ATM dan SIM.


Linda fokus pada jalanan. Mengendarai mobil ini ternyata butuh konsentrasi ekstra.


Kenapa?


Karena saat Linda menginjak gas, kecepatan yang ia rasakan berbeda jauh dari mobilnya. Biasanya gaya tekan pedal kaki Linda hanya berkisar antara 60 sampai 80 kilometer per jam. Tapi, mobil ini berbeda.


Pijakan Linda justru meghasilkan kecepatan 100 sampai 120 kilometer per jam.


Oh tidaaak, ini cepat sekali.


Linda ketakutan. Dan di saat ia sudah melesat dan menyatu dengan mobil-mobil lain menghiasi jalan raya, wajah Agam kembali mengganggu pikirannya.


Senyumnya, hidungnya, giginya semua terbesit dan membuat Linda semakin tidak tenang.


"Jangan menggangguku, pak." Keluhnya.


Kepalanya menggeleng. Sesekali kepalanya maju untuk melihat keberadaan gedung HGC yang mulai terlihat dari kejauhan.


"Kamu tidak apa-apa kan, pak?"


Entah kenapa mata Linda menjadi berkaca-kaca. Ia teringat pada ucapan Agam.


"Kehidupan saya tidak semudah kelihatannya. Saya punya musuh yang sewaktu-waktu bisa mencelakai saya atau keluarga saya. Itulah salah satu alasan kenapa kamu harus berada di sisi saya. Saya harus memastikan jika kamu tidak melukai anak saya."


***


"Cepat angkat," perintah Roy setelah ia melihat Agam pingsan.


"Mobilnya bagaimana?" tanya pria berbarbel.


"Ya tinggalkan di sini saja bodoh! Mau kamu bawa? Nanti kita terlacak dong," ketus Roy.


"Pria kita ini istimewa, mobilnya pasti dipasang alat pelacak," kata pria yang lain sambil masuk ke dalam mobil Agam dan bersiap memindahkan Agam ke mobil mereka.


Agam yang hari ini naas, dibopong oleh empat orang. Dan saat ini Dirut HGC itu sudah berpindah mobil.


Ia didudukkan di kursi tengah, dan tangannya diikat.


"Kakinya ikat jangan?" tanya si rambut coklat.


"Jangan dong, hahaha." Sela Roy sambil melajukan kemudi dengan senyuman jahatnya.


"Roy, boleh tidak aku menciumnya? Gila, dia wangi sekali." Pria bejat yang tadi memukul Agam dengan barbel mengendusi leher Agam.


"Jangan ada yang menyentuh dia! Tunggu sampai dia sadar dan kita tiba di hotel. Kalian jangan sembarangan, aku bos kalian. Aku yang akan menyentuhnya pertama kali," tegas Roy.


"Hahaha."


Makhluk-makhluk tersesat itu bersambut tawa.


Mobil itu melaju cepat, dan entah di kilometer berapa salah satu dari mereka berdecak kagum saat berpasapasan dengan mobil sport mewah.


"Wah, gila. Itu mobil keren sekali."


"Tapi lebih keren Agam Ben Buana. Wah, dia mulus. Kulitnya halus seperti kulit bayi."


"Max, stop! Sudah kubilang jangan sentuh dia!" bentak Roy.


Sementara dua pria lainnya lebih banyak diam sambil menatap lekat pada Agam.


.


.


.


Ternyata mobil yang berpasasan dengan komplotan pria amoral itu adalah mobil Agam yang dikendarai Linda.


Akhirnya.


Linda hampir sampai di kilometer 4 HGC yang dimaksud oleh Agam. Linda merasa lega karena bisa mengendarai mobil itu tanpa kendala di tengah tatapan kagum para pengendara lain yang membuatnya grogi.


"Tunggu, kok mobil yang diderek itu mirip mobil pak Agam."


Linda terkejut saat melihat mobil derek yang berpapasan dengannya mirip dengan mobil Agam.


"Pak Agam?!"


Terkejut sempurna melihat plat nomornya. Tidak ada nomor yang sama di dunia ini.


Linda tancap gas, berputar haluan dan mengejar mobil derek. Hatinya kacau-balau. Pikirnya Agam kecelakaan dan terluka parah.


'SREK.'


Decitan halus mobilnya mengagetkan pengendara mobil derek. Linda menghadang mobil itu, turun tergesa dengan napas memburu.


"Pemilik mobil ini mana Pak?" tanyanya.


"Ya ampun Nona, tadi itu membahayakan, untung saya mengerem." Petugas itu terlihat marah dan kesal.


"Saya minta maaf, tapi tolong Pak, di mana pemilik mobil ini?" desaknya.


Dan petugas yang pertama kali menemukan mobil Agam menjelaskan detailnya.


"Apa?!"


Linda bergeming saat mobil derek itu kembali melaju.


"Pak Agam, kamu di mana sekarang? Apa yang terjadi? Apa benar mereka teman-temanmu? Tapi kenapa Anda meneleponku? Bagaimana kalau mereka jahat?"


Linda menundukkan kepala pada setir dan menangis. Pikirannya buntu. Ia bingung harus melakukan apa.


Ya Rabb, tolong beri aku petunjuk.


***


"Uhhuk, uhuuk," Agam sadar.


"Wah cepat sekali sadarnya, luar biasa."


"Hmm, El ...."


Agam masih meracau, matanya terpejam, tapi bibirnya bergumaman.


"Sabar ya Pak. Sebentar lagi Anda akan kami layani. Wuahaha."


Mereka masih tergelak.


Dan Agam membuka mata, langsung mengedar.


"A-air ... a-air ...," lirihnya.


Ia hendak menggerakkan tangan tapi ... tangannya terikat. Dan ternyata Agam tidak ingat jika ia telah dipukul karena kondisinya saat tadi dan sekarang sedang ngeflay.


"Mau minum ya pak Dirut? Ini, minumlah."


Pria bernama Max membantu Agam minum. Dan Agam terkulai setelah menenggaknya.


"Kau beri dia apa, Max?"


"Minuman yang sudah dicampur obat bius dan obat kuat. Hahaha."


"Gila kamu! Hahaha."


"Roy, apa aku boleh membuka celananya?" Seringai Max.


"Apa?! Emm, boleh deh. Tapi jangan dimainkan ya! Atau kamu saya bunuh."


"Siap, Bos."


"Hahaha."


Pria-pria biadab itu kembali tertawa-tawa.


"Tunggu, sabuk apa ini? Susah sekali di bukannya." Max kesulitan.


"Risletingnya saja, masa begitu saja kalian tidak becus?!" bentak Roy.


"Serius ini sulit. Celananya tanpa risleting hanya ada sabuk. Aku baru melihat sabuk semacam ini," kata pria yang lain.


"Lima menit lagi kita sampai hotel. Kita eksekusi di hotel saja," perintah Roy.


***


'Tet teet ....'


Di sebuah gedung yang entah di mana berada, sebuah titik koordinat dari salah satu layar monitor menyala.


Ada puluhan layar monitor yang menyala di ruangan tersebut. Ada satu kursi yang menghadap layar utama. Namun, tidak ada yang menempati.


Ada snack makanan ringan yang terbuka tepat di depan kursi itu. Yakin, pemilik tempat ini sebenarnya ada, namun sedang pergi sejenak.


Mungkin ke toilet.


'Tet teet ....'


Koordinat terus menyala.


Lalu di salah satu layar di sisi kanan tertulis sebuah pesan berisi informasi. Layar itu seperti tengah mengetik secara otomatis.


"The belt 054D6 is in danger."


(Ikat pinggang 054D6 ada dalam bahaya).


"Non-user fingerprint detected."


(Sidik jari bukan pengguna terdeteksi).


"The belt 054D6 is in danger."


(Ikat pinggang 054D6 ada dalam bahaya).


"Non-user fingerprint detected."


(Sidik jari bukan pengguna terdeteksi).


"The belt 054D6 is danger."


(Ikat pinggang 054D6 ada dalam bahaya).


"Non-user fingerprint detected."


(Sidik jari bukan pengguna terdeteksi).


Pesan itu terus-menerus muncul, dan perlahan memenuhi layar.


Satuan.


Puluhan.


Ratusan.


Ribuan.


Puluh ribuan.


Ratus ribuan.


Mungkin sampai jutaan pesan dengan informasi yang sama.


"The belt 054D6 is in danger."


"Non-user fingerprint detected."


❤❤ Bersambung ....