AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Secret Member [Visual]



Pria itu menghabiskan waktu lumayan lama di kamar mandi. Setelah sekitar tigapuluh menitan barulah keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah rapi. Sudah memakai celana panjang lengkap dengan sabuk anti huru-haranya, namun tetap pada kebiasaannya pada saat tidur. Tidak memakai baju.


Masih terlihat jelas beberapa memar di bagian dada dan punggung Agam akibat misi itu. Misi jahil untuk membuat Linda kembali bersamanya.


Sekarang ia sedang menatap lekat-lekat yang sedang tertidur di karpet. Agam duduk di sampingnya, memperhatikan Linda dengan seksama.


Dari sudut dan sisi manapun, sedang tidur ataupun terjaga, Linda tetap terlihat cantik, dan satu hal lagi yang tidak bisa luput dari tatapan setiap pria adalah ... Linda itu seksi.


Dia dianugrahi semua hal baik yang didambakan oleh seluruh wanita, tanpa perlu melakukan operasi atau prosedur lainnya. Agam menarik napas dalam-dalam. Jadi teringat ledekan tuan Deanka, dokter Cepy dan baru-baru ini ledekan dari pengacara Vano.


Ketiganya mengatakan hal yang sama pada Agam. Yaitu, Agam berselera tinggi untuk masalah wanita. Agam tersenyum kecut, merasa tidak terima dengan tuduhan itu. Karena ia merasa mencintai Linda dengan tulus.


Harusnya sebelum tidur kamu gosok gigi dulu, El. Selera tinggi dari mananya? Dia bahkan tidak menjaga kesehatan giginya.


Rutuk Agam dalam hati ketika memindahkan Linda ke tempat tidur.


Setelah Linda terbaring, ia menarik selimut. Menutupi Linda sampai batas lehernya.


"Semoga mimpi indah, El." Sambil mengecup kening Linda.


Lalu ia merebahkan tubuhnya di karpet. Andai di kamar ini ada sofa. Mungkin, tidur di sofa akan lebih baik daripada tidur di karpet. Sebenarnya tempat tidur itu cukup luas, berukuran king size. Tapi ... tidak mungkin naik ke sana. Agam sadar lemah iman.


Jujur, ia bukan pria religius, walaupun rutin puasa Senin-Kamis, tapi ... keinginan itu selalu memuncak saat berdekatan dengan Linda.


Anehnya, debaran itu muncul hanya saat bersama Linda. Ia sering bertemu klien dan sekretaris yang cantik-cantik, tapi ... tidak berminat sedikitpun. Malah sering marah jika ada wanita yang terang-terangan tebar pesona.


Agam lalu membuka koleksi foto Linda di galeri ponselnya. Ia berlama-lama menatap foto candid Linda saat di studio rekaman milik musisi Abun SS. Agam memotretnya secara diam-diam.



"Aduh, tidak nyaman," keluhnya. Beberapa kali merubah pososi tidur tapi sulit menemukan posisi yang pas.


Terakhir ia miring kanan dan memeluk bantal. Lama-lama matanya terpejam dan telelap juga.


Seiring bergeraknya jarum jam, malam terus berlalu, dan suhu ruangan semakin dingin. Maka dengan sendirinya tubuh manusia akan spontan mencari tempat hangat saat kedinginan.


Dengan mata yang setengah terpejam, Agam bangun, dan merangkak ke tempat tidur. Ia merebahkan dirinya di sisi kanan Linda lalu meraih satu bantal untuk dijadikan pembatas.


.


.


.


.


Malam menjelang pagi, udara di kamar itu semakin dingin. Apa karena settingan AC? Entahlah.


Linda dengan kebiasaan tidur ala pemberontak, tidak semanis Agam pastinya. Linda beberapa kali memindahkan bantal pembatas tanpa sadar, Agam sudah memperbaikinya berulang kali.


Namun, saat Agam berada di tahap tidur pulas dan hendak menyambut mimpinya, Agam bergeming saat Linda perlahan memepet tubuhnya, menaikan satu kaki ke tubuhnya, menaikan tangan ke dadanya, dan terakhir, Linda berlindung di bawah ketiak Agam.


Finally, Linda memeluk Agam tanpa keraguan. Beberapa menit kemudian, keduanya tampak terlelap dengan adegan berpelukan. Seolah tengah berbagi kehangatan dan kenyamanan dari tubuh masing-masing.


Linda menelusupkan kepalanya pada dada bidang dan kokoh itu. Dan Agam memeluk tubuh elok nan seksi itu dengan eratnya. Tampak serasi, pemandangan itu sungguh indah, andai saja tidak ada kemelut dan kabut di balik perjalanan cinta mereka.


"Hmm ...."


Linda merasa nyaman, tidurnya kali ini sungguh berkualitas. Hangat, dan saat ia menghidu ada aroma wangi yang menguar.


Tapi, apa ini? Tangannya serasa memegang sesuatu yang hangat. Dan tubuhnya terasa sulit digerakan.


"Aaaaa," teriak Linda. Langsung meronta dan histeris saat sadar ia tengah memeluk Agam.


Agam juga kaget, karena Linda mengamuk. Namun ia tetap tenang saat Linda merajuk dan memukulinya menggunakan bantal.


"Pak Agam! Kamu ya! Kenapa kita jadi tidur bersama?!" Sambil terus menyerang Agam bertubi-tubi.


'Buk, buk, buk.' Menghujani Agam dengan bantal.


"Pukul saya sesukamu," kata Agam. Lalu ia menelungkup sambil tertawa-tawa.


"Kurang ajar ya kamu Pak Agam! Aku sudah mewanti-wanti tidak ada kontak fisik!" Linda kesal, ia segera bangun bermaksud pindah ke karpet.


"Siapa yang pertama memeluk? Kamu, El. Saya sudah membuat pembatas. Tapi kalau pada akhirnya kita berpelukan, ya mau bagaimana lagi?" kata Agam.


Ia juga beranjak. Malah menyusul Linda.


"Pergi! Mau ke mana? Kenapa memindahkan aku ke tempat tidur? Jadi pelukan kan kita." Masih tidak terima. Wajahnya ditekuk.


"Saya tidak tega kamu tidur di bawah El, sekarang ayo kamu pindah lagi, saya yang di karpet."


"Tidak mau! Terus kenapa Pak Agam naik ke tempat tidur juga?!" Masih dengan nada tinggi.


"Serius saya tadinya di bawah, El. Saya tidak sadar jadi pindah, hehehe." Sekarang malah ikut rebahan lagi pada karpet, di samping Linda.


"Pak Agaaam! Awas!" Linda mendorong pria itu.


Agam yang tidak memakai baju, serius membuatnya risih.


"Maaf El, kamu yang di atas, saya yang di bawah, janji tidak akan naik lagi."


"Ish, Pak Agam! Ya sudah," ketusnya.


Namun saat Linda hendak naik ke tempat tidur, panggilan untuk beribadah berkumandang. Ya ampun, ternyata mereka telah menghabiskan malam bersama.


Alhamdulillaah.


Agam langsung melakukan rutinitas selepas tidur, pushup 50 kali, situp 50 kali. Linda mematung, secara tak sadar, ia kembali jadi penonton.


"Kamu suka ya melihat saya olahraga? Hahaha," ledek Agam setelah aktivitasnya selesai dan melihat Linda masih menatapnya.


"Apa?! Ti-tidak, tidak suka." Secepatnya memalingkan wajah, namun wajahnya jelas masih memerah.


"Kelak kita akan olah raga bersama setelah menikah," goda Agam.


Linda hanya mendengus kesal, tapi sesaat kemudian iapun tersenyum, namun segera menutup mulutnya agar senyumannya tidak terlihat Agam.


Kita akan beribadah di rumah Tuan Muda, bersiap ya," katanya.


"Pak Agam, aku tidak mau ke sana?" Linda menolak.


"Kenapa?" tanya Agam sambil bersiap. Ia memakai kemejanya.


"Aku tidak nyaman dengan tatapan para pelayan itu, mereka seperti mengolokku. Aku mau beribadah di masjid atau mushola sekitar sini saja."


"Emm, baiklah. Saya ikut denganmu, kita beribadah bersama."


.


.


.


"Oiya El, selagi libur, saya ada urusan dengan Yohan. Jika kamu berkenan, kamu tinggal bersama nona Aiza selama saya pergi. Sore saya jemput. Mau? Nona Aiza baik, sangat baik," kata Agam.


Mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah masjid yang ada di kawasan itu. Linda memakai masker untuk menyembunyikan identitasnya.


"Pak, aku belum mengenal nona itu dengan baik. Hanya bertemu sekali saat acara lamaran itu. Kenapa Pak Agam selalu memuji dia? Seolah dia adalah wanita terbaik di mata Pak Agam." Linda berjalan cepat, nada bicaranya ketus.


"El, tunggu. Dia memang baik, dia juga lucu dan imut," Agam seperti sengaja memansi Linda.


"Apa?! Dasar laki-laki. Kenapa Pak Agam tidak menikah saja dengan dia? Huuh." Berjalan semakin cepat. Setengah berlari.


"Terserah," kata Linda.


Ada yang panas di dadanya saat Agam memuji wanita lain. Agam terkekeh, senang rasanya membuat Linda cemburu. Segera pria itu mengejar Linda.


"Nona Aiza tidak seseksi kamu. Bagi saya kamu yang tercantik," ucap Agam saat ia berhasil mengejar Linda.


"Tolong ya Pak Agam, jangan menuduhku seksi, aku tidak suka."


Linda berjalan mendahului Agam saat rumah Agam semakin dekat.


.


.


.


"Oiya, ada urusan apa Bapak ingin bertemu tuan Yohan?"


Agam menghela napas, ia kembali duduk di tangga.


"Mungkin, kamu belum membuka laman pencarian. Emm, ada berita tentang kamu, El. Sudah dirilis sejak semalam," terang Agam sambil memijat batang hidungnya.


"Oh, berita tentang kehamilanku? Aku kira ada apa," kata Linda. Ia cuek, dan berlalu begitu saja ke dalam kamar.


"Apa?! Kamu tidak kaget? Linda, El, tunggu."


Agam mengejar, menahan tangan Linda dengan tatapan menyelidik.


"Pak Agam! Sudah aku katakan tidak ada kontak fisik." Linda menepis, tapi Agam tetap mencengkram pergelangan tangan Linda.


"Kenapa kamu seolah biasa saja mendengar berita itu, hahh? Saya panik Linda, panik! Mereka meremehkanmu dengan berita murahan itu seolah kamu wanita pemabuk yang sering main di klub malam. Saya tidak terima! Saya akan membuat perhitungan dengan Yohan!" bentaknya.


Terlihat jelas jika Agam marah. Genggaman tangannya sangat kuat. Sejenak Agam lupa, jika yang ia pegang adalah tangan wanita yang lemah.


"Aku memang benar mengatakan itu pada tuan Yohan, aku katakan aku mabuk dan tidur dengan pria, ada yang salah?!" teriaknya. Bibir Linda sudah gemetar menahan tangis.


"Tapi El, kamu tidak mabuk-mabukkan, di berita itu disebutkan kalau kamu ingin aborsi, apa benar?!" Agam belum melepaskan Linda.


"Benar Pak, benar! Aku katakan pada tuan Yohan kalau empat bulan yang lalu setelah aku mendapatkan penghargaan itu, aku diajak seseorang untuk berpesta, dipesta itu aku mabuk, dan saat aku bangun, aku telah kehilangan kesucianku."


"Linda, kenapa kamu beralasan seperti itu? Kenapa harus dengan cara meredahkan dirimu sendiri, kenapa?" Agam menatapnya tajam.


"Ini pilihanku Pak! Tidak ada seorangpun yang bisa melarang keputusanku! Ayahku saja aku bantah, apalagi kamu Agam Ben Buana! Kamu hanya orang asing yang mencuri semua yang aku miliki! Huuuks ...." Akhirnya pertahanan Linda pecah. Airmatanya berurai lagi.


"Apa kamu bilang?! Orang asing?! Linda, kamu ---!"


Agam marah, tangan yang tadi di perlengan Linda kini berpindah mencengkram dagu Linda. Ia tidak terima dikatai sebagai orang asing.


"Jangan sekali-kali lagi kamu mengatakan saya orang asing, saya calon suami kamu, saya calon ayah anak kamu! Fahaaam!" teriaknya.


Linda memalingkan wajah dan menangis, tangannya gemetar. Jika Agam murka, tenyata pria ini sedikit kasar.


Linda jadi faham, jika sebaik-baiknya keluarga Haiden, atau orang-orang kepercayaan Haiden, pada dasarnya akan tetap brutal dan kasar seperti berita yang telah beredar selama ini.


"Huuu huuu, a-andai saja a-aku bisa memilih dan menolak, aku tidak mau mencintai kamu," lirihnya.


"Apa?! Maksudmu?!"


Agam mengusap air mata Linda, tapi gigi-giginya mengerat dan napasnya tersenggal.


"Aku menghinakan diriku demi kamu Pak Agam! Aku katakan kalau aku tidak tahu siapa pria yang meniduriku. Aku memang mengatakan datang ke klinik untuk aborsi. Aku mengaku ingin aborsi karena tidak mau kehamilanku diketahui oleh agensi HGC, dan manajerku. Semua aku demi kamu, Pak .... Demi melindungi Pak Agam, huuu ...."


"Cukup Linda! Cukuuup! Sampai kapan kamu akan berdalih tentang reputasi, reputasi, dan reputasi! Sementara saya sendiri tidak peduli lagi dengan reputasi saya. Sekarang ayo kita pergi bersama-sama lakukan preskon, dan kamu bantah berita itu. Ayo!" desaknya. Serius ia menarik tangan Linda.


"Tidak Pak, tidak mau, huuks."


Linda menolak, ia bertahan dengan cara berpegangan pada ujung tempat tidur.


"Kenapa Linda? Kenapaaa?! Kenapa saya tidak bisa melakukan apapun untuk menolong kamu?! Kenapa kekuasaan saya tidak bisa saya gunakan untuk membantu kamu?!"


Agam melepaskan pegangannya. Ia duduk di tempat tidur sambil memasygul rambutnya kuat-kuat. Pria itu terlihat sangat-sangat putu asa.


"Apa yang aku lakukan justru karena Pak Agam sangat berkuasa. Pak Agam, tolong hargai keputuasanku, kumohooon."


Dengan langkah ragu, Linda mendekat ke arah Agam, lalu bersimpuh di hadapan pria itu.


"Pak ..., a-aku mantan repoter, sedikit banyaknya aku tahu tentang keluarga Haiden, HGC, dan para petinggi Haiden yang berkuasa di negara ini. Aku sebenarnya ta-tahu rahasia tentang Pak Agam. Walaupun aku ragu, tapi ... Pak Agam harusnya tahu jika apa yang aku lakukan adalah pilihan terbaik untuk saat ini."


"Selain demi reputasi HGC, aku melakukan ini demi hal lain juga Pak .... Jangan mengira kalau aku wanita bodoh."


"Jangan bertele-tele Linda, ayo kita preskon." Agam berdiri, tekadnya sudah bulat.


Dan Lindapun berdiri, ia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Agam.


"Pak Agam! Lihat aku!" tegasnya.


Dan saat Agam melihat Linda.


'PLAK.'


Satu tamparan keras mendarat di pipi Agam. Cukup keras hingga pipi kiri Agam memerah.


"Linda?"


Bagi Agam tidak terasa sakit walaupun pipinya sampai memerah, hanya saja ia kaget.


"Jika aku saja berani mengorbankan harga diriku demi Pak Agam, kenapa Bapak tidak bisa? Harusnya sebagai orang yang spesial Pak Agam berpikir dulu sebelum bertindak." Walaupun airmatanya mengalir, tapi nada suara terdengar tegas.


"Maskudmu?" Sambil mengatur napas dan mengusap pipinya.


"Sekarang Pak Agam buka dompet pribadi Pak Agam, lalu ambil salah satu kartu rahasia yang dimiliki Pak Agam."


"Apa?!" Agam kaget.


"Apakah semua warga di negara ini bisa meretas? Kenapa Pak Agam sering dilindungi anggota militer dan polisi? Kenapa anak buah Pak Agam memanggilku 201. Saat Pak Agam diculik oleh para pria itu, aku berkomunikasi dengan orang yang suaranya berubah-rubah, dia juga memanggilku dengan nomor yang tidak masuk akal."


"Aku juga melihat pria yang menolong Pak Agam membawa bom asli. Dan secara tidak sengaja aku melihat pin rahasia di baju pria itu. Jika dugaanku tidak salah, apa benar Pak Agam anggota bagian sipil Ba ---."


"Stop! Cukup, El." Agam membekap bibir Linda.


Pria itu mengatur napas, lalu tanpa bisa dihindari, Agam memeluk Linda dan mengatakan ....


"Maafkan saya, Linda. Ya, saya memang salah satu anggota yang kamu maksud. Tapi El ... saya merasa ini terlalu berat. Saya akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. Saya tidak mau keanggotaan ini mengganggu hubungan kita."


"Pak ... tidak semua orang bisa seperti Pak Agam. Bapak terpilih itu artinya Bapak mampu dan layak. Biarkan aku dengan keputusanku hingga kesabaranku habis dan tidak mampu bertahan lagi," kata Linda.


"Linda ... sepertinya ... kamu memang benar-benar wanita yang dikirimkan oleh-Nya untuk saya. Kamu layak jadi pendamping saya."


"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Pak." Linda berniat melepaskan diri, namun Agam menahannya.


"Oiya sayang ... saya ada informasi penting untuk kamu."


"A-apa?! Sa--sayang?" Linda panik.


"Info apa?" tanya Linda. Masih tidak percaya dengan panggilan 'Sayang.' Dan ia merasa aneh, Linda lebih suka dipanggil 'El.'


"Mari kita bicara di tempat tidur," ajaknya.


Apa? Bicara di tempat tidur?


❤❤ Bersambung ....