
Sebelumnya,
"Agam, jangan mati, bodoh!"
Deanka mengguncang tubuh Agam yang terlentang lemah di kursi ambulance.
"Tenang-tenang, Tuan. Dia hanya pingsan." Dokter Cepy menenangkan.
"Diam kamu Cepy! Memangnya tidak boleh kalau aku khawatir?! Kamu juga Vano, tolong cepat Vano, cepat! Kamu membawa mobil atau mendorong mobil, sih?! Kenapa lambat sekali?!" teriak Deanka.
"Ini sudah cepat, Tuan. Dan saya baru pertama kalinya membawa mobil ambulance, wajar dong kalau saya gugup," ucap Vano yang kali ini berperan sebagai pengemudi.
"Kalau Agam sampai tidak tertolong, yang akan pertama kali aku bunuh itu kamu, Vano."
"Lho kok saya, Tuan? Kenapa tidak dokter Cepy saja?"
"Hei, aku dokter, tenaga medis itu prioritas, matinya belakangan," sela dokter Cepy.
"Pokoknya aku marah padamu Vano, bisa-bisanya kamu merusak sirine ambulancenya, sekarang begini, kan jadinya? Kita membawa pasien tapi naik ambulance tanpa 'Uwiw uwiw,' orang-orang pasti berpikir kita tidak membawa pasien. Nanti saat di lampu merah pasti tidak bisa menerobos."
Deanka terus bersungut-sungut, mata hazelnya tidak berhenti membeliak ke arah Agam yang pucat, dokter Cepy yang sedang memegangi oksigen untuk Agam, dan tentu saja pada pengacara Vano yang sedang mengemudi.
"Cepat, Vano!"
"Ini salah Tuan Muda juga, tahu. Kenapa saat berangkat ke markas BRN harus pakai uwwiw uwwiw? Pakai drama segala, huhh," timpal dokter Cepy.
"Hei, aku begitu agar kita cepat sampai ke markas," sergah Deanka.
"Tapi ide berbohong Anda keterlaluan, Tuan. Tadi itu kita menipu publik. Dan saya sebenarnya tidak ikhlas saat pura-pura jadi pasien," lanjut dokter Cepy.
Ya, tadi saat mereka berangkat, dokter Cepy pura-pura jadi pasien. Kepalanya diikat memakai verban yang sudah dilumuri betadine, dan memakai oksigen. Vano berperan jadi dokternya dan Deanka yang mengemudikan ambulance.
Itu semua ide Deanka, sebenarnya yang harus pura-pura jadi pasiennya adalah Vano, namun pengacara itu menolak. Terpaksa deh, walau tidak suka dokter Cepy akhirnya setuju untuk pura-pura sakit.
"Sudahlah, Cepy. Diam kamu! Lagi pula niat kita kan baik, Tuhan itu Maha Tahu. Urusan dosa serahkan saja pada-Nya."
"Ya, Tuan." Jawab Vano dan dokter Cepy serempak.
"Vanooo, cepaaat!"
Lagi, Deanka berulah. Dia bahkan menodongkan senjata pada Vano.
"Jangan bercanda, Tuan. Saya belum menikah. Belum merasakan nikmat dunia, daripada Anda marah, lebih baik Anda berperan saja jadi sirine, cepat teriak uwwiw uwwiw," kata Vano.
"Hei, berani, kamu ya! Di sini aku sebagai tuan mudanya, enak saja kamu menyuruhku!" bentaknya.
"Hahaha, di sini pemeran utamannya Pak Agam lho, bukan Anda, Tuan Muda," goda Vano.
"Hei, tetap saja aku yang paling kaya," Deanka tidak mau kalah.
"Tapi yang gagah dari dulu memang tetap Pak Agam, apa Anda sadar? Hahaha," kata dokter Cepy.
"Nah, betul itu," sahut Vano.
"Apa?! Awas kalian ya!"
"Hahaha, oiya kalau Tuan Muda merasa Vano kurang cepat, bagaimana kalau Tuan Muda saja yang mengemudi? Lalu kamu Vano yang teriak uwwiw uwwiw," sambung dokter Cepy.
"Tidak sudi! Aku mau memastikan Agam baik-baik saja, aku mau tetap di sini," elak Deanka.
"To-tolong te-tenang, bi-bisakah ...?" terdengar suara lirih.
Sang pemeran utama Agam Ben Buana, siuman. Ia berbicara merespon kegaduhan.
"Agam, kamu sudah sadar?! Aku senang Gam," Deanka berbinar-binar.
"Hmm ...," ucap Agam.
"Apa yang dirasa sekarang, Ben? Terus, kok bisa kamu ada di markas BRN? Heran deh. Untuk sementara jangan banyak bicara dan jangan bergerak ya," kata dokter Cepy.
Ternyata, dokter Cepy tidak tahu tentang Maga.
"Agamnya jangan ditanya-tanya dong! Kamu bilang jangan banyak bicara, tapi kamu malah bertanya. Tidak konsisten," sentak Deanka.
Agam menghela napas, ia menahan sakit, sedikit kesal dan ingin tertawa mendengar percekcokan para sahabatnya. Deanka dan dokter Cepy memang susah akur.
Lalu tiba-tiba Agam merasakan ingin sesuatu.
"Masih lama tidak sampainya? Sa-saya mau p i p i s ...," keluh Agam.
"Apa?! Hei Gam. Tahan dulu kawan, aduh bagaimana ini? Vano lebih cepat lagi!" Deanka kembali panik.
"Mau p i p i s? Langsung di tempat saja Ben. Aku tidak membawa kateter."
"Dasar bodoh kamu Cepy, sudah aku bilang kan kalau Agam tersengat listrik? Kenapa kamu tidak bawa kateter?" Deanka kembali marah.
Deanka faham, andai saja bukan Agam Ben Buana, saat chipnya diaktivasi ke mode medium lenyap, sudah pasti akan ter k e n c i n g - k e n c i n g karena kesakitan.
.
.
.
.
Mode medium lenyap, adalah nama program robotic yang didefinisikan sebagai mode ke dua setelah aktivasi.
Ada tiga program mode pada chip yang tertanam di tubuh setiap anggota BRN.
Pertama, mode aktivasi saat chip itu dipasang. Kedua, mode medium lenyap untuk menghukum anggota seperti yang baru saja diaktifkan pada Agam, dan ketiga adalah mode lenyap yang digunakan untuk membunuh.
"Sa-saya tidak bisa p i p i s sembarangan ...," keluh Agam.
"Ya ampuuun, sabar Gam, sabar ya."
"Ya, sabar ya Ben," kata dokter Cepy.
"Sebentar lagi kita sampai, Pak." Terang Vano
Terpaksa Agam menahannya. Rasanya teramat sangat tidak nyaman. Agam sempat berusaha untuk mengeluarkannya, tapi tidak bisa.
Lengkap sudah penderitaannya, sakit, lemas, pusing, mual, dan kebelet p i p i s. Satu hal lagi, Agam rindu pada istrinya. Tunggu, ada hal lain lagi, ia belum membuat perhitungan pada Angga.
...*...
...*...
...*...
...*...
Ternyata, Agam tidak dibawa ke rumah sakit, tapi dibawa ke rumah Deanka.
Mereka sudah sampai. Ambulance itu langsung disambut oleh beberapa orang tim medis dan dikomandoi oleh Juan.
Agam langsung dipindahkan ke brankar untuk dibawa ke klinik pribadi milik Deanka yang ada di rumah tersebut. Klinik itu hanya digunakan sewaktu-waktu saat urgency saja.
.
.
.
.
"Pak Agam? Kenapa bisa begini?"
Di pintu masuk Aiza Bahira mematung, wajahnya mendadak memucat ketakutan, tubuhnya gemetar. Apalagi saat ia melihat Juan mengambil senjata laras panjang dari tangan suaminya.
"Ssshh, baby ... tenang, oke?"
Deanka segera memeluk istrinya.
"Ada apa, Kak? Aku kaget, di klinik tiba-tiba banyak perawat dan dokter. Kenapa Pak Agam tidak dibawa ke rumah sakit saja? Itu wajah Pak Agam kenapa biru-biru? Terus banyak darahnya, bukan darah bohongan, kan?"
Saat dituntun ke ruangan lain di dalam rumahnya, Aiza masih bertanya dengan wajah paniknya.
"Baik, baik, akan aku jelaskan," kata Deanka sambil mencium puncak kepala Aiza.
Setelah mencuci tangan dan mencuci muka di wastefel yang ada di ruangan itu, Deanka duduk di sofa.
"Duduk di sini baby."
Deanka menepuk pangkuannya agar Aiza duduk.
"Kak, kursinya masih banyak dan luas. Kenapa harus duduk di pangkuan?" Aiza menolak secara halus.
"Ssstt, tidak ada bantahan."
Deanka menggelengkan kepala sambil terus menepuk pahanya.
"Ih, Kak Deaaan." Aiza cemberut.
"Za, harus ikhlas lho kalau disuruh suami, harus senyum, cantik. Wajahnya tidak boleh cemberut," goda Deanka seraya mengulum senyum. Menggoda Aiza di pagi buta rasanya menyenangkan.
"Oke, oke, aku ikhlas, aku senyum," jawab Aiza sambil duduk menyamping dipangkuan Deanka.
"No, no, no," protes Deanka.
"Kenapa lagi, sayang? Salah lagi?" Aiza heran.
"Duduknya jangan menyamping, menghadapku, baby. Me n g a n * k a n g," titahnya.
"Issh, Kak ... akunya lagi hamil, terus ini pakai rok, tidak mau ah, susah sayang," tolaknya.
"Hahaha, yakin tidak bisa? Yakin susah? Kok semalam kamu bisa, sih? Kamu bilang suka dengan posi ---."
"Kak Dean, cukup."
Aiza segera membekap mulut Deanka sebelum suaminya berkata lebih jauh lagi. Deanka kian tergelak, melihat wajah Aiza merona, ia semakin bersemangat.
"Ayo baby ... duduk seperti posisi sema ---."
"Iya, iya, iya," sela Aiza.
"Begini?" tanya Aiza saat ia sudah naik, mengalungkan tangannya di leher Deanka, dan dengan tanpa permisi tangan Deanka sudah memasuki rok Aiza.
"Yes, baby," Deanka menyeringai.
"Ce-cepat katakan, pak Agam kenapa?" tanya Aiza sambil mengatur napas dan mengerjapkan mata seperti tengah merasakan sesuatu.
"Kamu banyak bicara, bibirmu harus dilemaskan dulu," kata Deanka.
Dan sepersekian detik wajah mereka sudah menyatu. Lalu terjadilah hal itu ... hingga menimbulkan suara kecapan dan kecupan yang melenakan dan meresahkan.
Aiza mencubit perut pejal Deanka saat pria itu terus menuntut, tidak mau melepas dan tangannya tidak bisa dikondisikan.
"Hmm, Kak Dean, cukuphhh ...."
Ucap Aiza saat pertautan itu berakhir. Namun disahuti geraman kesal dari Deanka yang merasa dibatasi.
"Cepat cerita, pak Agam kenapa?" tanyanya sambil meletakan kepala di bahu Deanka.
"Huhh," Deanka mengatur napas.
"A-apa bibirmu sudah lemas, hmm?"
Deanka malah balik bertanya.
"A-apa? Su-sudah sayang, sudah," jawab Aiza cepat.
"Sekarang giliran aku yang dilemaskan?" bisik Deanka, lalu ia meniup telinga Aiza.
"A-apa? Maksudnya?" Aiza kaget.
"Jangan pura-pura polos istriku, apa kamu tidak merasakannya? Ayo lemaskan sekarang, kita ke ruang kerjaku, oke?"
Deanka cepat-cepat menurunkan Aiza dari pangkuannya, lalu menarik tangan Aiza menuju ruang kerja yang ia maksud.
"Emm, a-anu Kak Dean, te-terus cerita pak Agamnya kapan? Aku khawatir sama pak Agam, Kak. Mau melihatnya," kata Aiza saat ia melangkah cepat mengimbangi langkah panjang kaki Deanka.
"Haisshh, jangan bertanya dia dulu, tidak perlu khawatir, Agam itu kuat, kalau bukan takdir dia sulit mati," jawab Deanka dengan suara yang mulai gemetar karena menahan amarah, eh maksudnya menahan gairah dan b i r a h i.
Deanka bahkan menendang pintu ruang kerjanya karena tidak sabaran.
.
.
.
.
"Kak Dean, sabar ...," rintih Aiza saat Deanka membaringkannya di sofa, kemudian cepat-cepat melucuti bajunya sendiri.
"Jangan banyak bicara baby, cepat buka pakaianmu," ucap Deanka sambil mengurung istrinya.
Bagi Deanka, menemukan tanggal merah di kalender adalah hal membahagiakan selain mendapatkan laporan surplus keuangan dari perusahaannya.
"Ti-tidak mau," ucap Aiza dengan suara manja sambil memalingkan wajahnya.
"Kenapa?" tanya Deanka, ia lalu menciumi perut sang istri yang terlihat membulat, bening dan mulus.
"Mmm ... ma-mau dibukanya sama Kak Dean," jawabnya dengan suara pelan hampir tidak terdengar, dan pipi Aiza mendadak bersemu merah.
Ya, dalam hal itu Aiza selalu saja bersikap menggemaskan. Terlihat polos tapi aslinya mahir, selalu malu-malu tapi kenyataannya ... sangat mau.
Terkadang Aiza tiba-tiba menggoda Deanka dengan menggunakan pakaian modern semi primitif. Namun saat Deanka mendatanginya, Aiza berkata, "Aku memakai baju ini karena mau sayang, bukan untuk menggodamu."
Begitulah Aiza, bagaimana Deanka tidak tergila-gila?
Kita tinggalkan ruang kerja Deanka yang saat ini sudah mulai panas. Sofa yang kokoh itu bahkan sudah berirama dan berdecit-decit.
Ada apa dengan sofa itu?
Sofa itu terus berbunyi seolah sedang terguncang-guncang dan terhentak-hentak?
Hmm, kasihan sekali sofanya. Untungnya suara decitannya tidak sampai terdengar keluar.
...*...
...*...
...*...
...*...
"Aaaa, tidak mau! Saya tidak mau dipasang kateter!" teriak Agam pada tim medis yang sedang berusaha menahannya.
Setelah dipasang infus dan diobati lukanya, kekuatan Agam kembali. Tapi dokter kepala belum memperbolehkan untuk turun dari tempat tidur karena Agam masih mimisan.
"Pak Agam, sabar, ini tidak akan sakit, Bapak rileks ya, serius tidak akan sakit," ucap dokter kepala.
"Saya bukan masalah sakitnya. Masalahnya adalah saya tidak mau kalian pegang-pegang, lepas! Lepaaas!" teriak Agam sambil menendangkan kakinya.
Sontak lima orang perawat dan dua dokter terjengkang. Padahal, mereka baru memegang celana Agam. Belum sampai membukanya.
"Saya mau ke kamar mandi sendiri."
Agam duduk, dan benar saja dari hidung Agam langsung keluar darah.
"Tuh, kan Pak, apa saya bilang? Bapak harus bed rest dulu, masih mimisan, Pak." Dokter kepala langsung mendep hidung Agam dengan kasa steril.
"Atau pakai pampers saja," saran dokter Cepy.
"S i a l a n kamu, tidak lah. Saya tidak mau, saya bukan bayi," kata Agam sambil tertunduk lesu.
Berbicara tentang bayi, ia jadi teringat akan hari itu. Hari dimana ia meminta jadi bayinya Linda tanpa rasa malu.
"Ya sudah, kalau Anda tidak mau dipasang kateter atau pakai pampers, untuk sementara saya akan tutup dulu lubang hidungnya memakai kasa, Anda bernapas pakai mulut dulu ya," kata dokter kepala.
Agam mengangguk setuju. Ia dipapah ke kamar mandi. Serius, ia sudah tidak tahan. Melihat toilet laksana melihat harta karun.
"Pergi, kenapa kalian masih ada di sini?!" usir Agam pada tim medis yang memapahnya.
.
.
.
.
Karena Agam tidak mau tidur dengan alasan mau menunggu waktu Subuh, akhirnya dokter kepala memutuskan untuk memberikan injeksi obat penenang tanpa sepengetahuan Agam namun atas izin tuan Deanka dan dokter Cepy.
Setelah Agam tertidur, barulah dokter melakukan pemeriksaan lanjutan seperti cek lab lengkap, CT-Scan, rontgen thorax dan USG abdomen.
Luarrr biasa, Deanka memiliki semua peralatan medis itu di rumah pribadinya. Wow, amazing. Namun untuk pemeriksaan lab, Deanka melakukan kolaborasi dengan tim biomed.
Pemeriksaan lengkap itu dilakukan karena Agam terus mimisan. Dan saat darah itu keluar, Agam mengeluh sakit di bagian belakang kepalanya, dan merasa pusing.
Lekas pulih Pak Agam, Linda menunggumu.
...*...
...*...
...*...
...*...
Saat Ini,
"Tunggu dulu di sini ya," ucap Pak Yudha pada Freissya.
"LB nya sedang sedih, moodnya kurang baik," tambah Bu Ira.
"Tidak apa-apa Bu, Pak, aku hanya ma ---."
Sayangnya saat Freissya belum menyelesaikan kalimatnya, Bu Ira dan Pak Yudha berlalu.
Aku hanya mau mengembalikan sapu tangan milik dia.
Padahal, Freissya akan mengatakan itu. Sekarang Freissya terjebak. Ia terpaksa menikmati hidangan besar berupa seorang pria yang tengah mendengkur halus.
S i a l a n, gerutunya saat sadar jika ia terus menatap bocah bongsor itu.
.
.
.
.
Pak Yudha dan Bu Ira kembali menemui Linda.
Linda tidak mau makan, ia terus menangis dan menangis. Kata Pak Yudha, nomor Agam aktif, tapi tidak diangkat. Pak Yudha sudah menghubunginya beberapa kali.
"Makan dulu cantik, kan mau minum obat, ya?" bujuk Bu Ira.
"Pak Yudha, cepat hubungi lagi pak Agamnya." Ratap Linda pada Pak Yudha.
"Baik," jawab Pak Yudha.
Sebenarnya, Pak Yudha sudah menghubungi dokter Rama, tuan Deanka, dokter Cepy dan pengacara Vano untuk menanyakan kabar tentang Agam.
Namun mereka seolah kompak, tidak mengangkat panggilan dari Pak Yudha. Bahkan saat Pak Yudha menggunakan ponsel Gama, mereka tetap tidak menjawab.
Kamu kemana sih, Pak? Kamu jahat, kamu tega membiarkan aku menunggu dalam ketidakpastian seperti ini.
"Huuuks ...." Linda terisak.
"Masih tidak diangkat," kata Pak Yudha.
"Pak Yudha, boleh pinjam ponselnya?"
"Boleh, dong." Pak Yudha memberikan ponselnya pada Linda.
"Tapi Pak Yudha tidak boleh lihat pesannya ya, janji?" kata Linda.
"Siap, tenang saja. Tapi Anda harus makan." Pak Yudha bernegosiasi.
Linda setuju, langsung membuka mulutnya saat Bu Ira menyuapi. Dan Linda belum sempat melihat Freissya karena Bu Ira baru saja menutup tirainya.
Sambil mengunyah Linda mengirim pesan untuk Agam, untuk sang suami yang memesona.
"Assalamu'alaikuum. Ini aku, istri siri Pak Agam, Linda Berliana Briliant. Pak, ada di mana sih? Kenapa membiarkan aku menunggu tanpa kepastian?"
"Aku MARAH! Pokoknya, kalau Bapak tidak ada kabar sampai sore ini, aku akan menolak kalau Bapak tiba-tiba mau menjadi 'Bayi.' Camkan itu! Wassalaamu'alaikuum."
Ternyata oh ternyata, Linda sadis juga ya?
"Sudah, Pak. Terima kasih." Linda memberikan kembali ponsel itu pada Pak Yudha.
.
.
.
.
Sementara di bagian sofa, Freissya terlihat gelisah. Ia beberapa kali melirik ke arah tirai berharap bapak atau ibu-ibu yang tadi menemuinya segera kembali.
'Hrrr ... hrrr ....'
Dengkuran masih beresonansi, lalu ponsel milik remaja lancang itu menyala. Ponselnya ada di meja.
Tertulis jelas di layar ....
Danies Calling ....
Panggilan itu sampai beberapa kali, tapi dihiraukan. Gama tetap terlelap.
Cantika Calling ....
Priskylla Calling ....
"Cih, play boy rupanya," gumam Freissya.
Pasti yang telepon pacarnya, tapi kok beda-beda nama? batin Freissya saat tangan Gama meraba kesana kemari mencari ponselnya.
Rupanya setelah ada banyak panggilan masuk, baru di menit ini Gama mendengar ponselnya berdering.
Karena Gama terpejam sambil mencari, Freissya inisiatif memberikan ponsel itu pada Gama. Gama menerima panggilan tanpa membuka mata.
"Hmmm, halooohhh kamu siapa?"
"...."
"Oh, Cantika? Hahaha, maaf sayang aku baru beres mandinih, HPku direstart, jadi nama kamu tidak muncul."
Bocah kurang asem, dia berbohong. Baru beres mandi? Ck ck ck. Batin Freissya. Bibirnya dicebikkan ke arah Gama.
"Sudah dulu ya sayang, aku belum pakai baju."
"...."
"Kencan? Tidak bisa sayang, aku ada les esktrakulikuler."
Lalu Gama mematikan ponselnya, menggeliat dan tidur menyamping, pas sekali menghadap Freissya.
Lagi, ponsel Gama kembali berdering. Ia mengangkatnya, tapi sama seperti tadi masih dengan mata terpejam.
"Hallo sayang, jangan ganggu dulu, aku lagi joging nih, sudah ya sayang."
"...."
"Jangan marah dong Cantika, nanti aku belikan tas deh, asalkan kamu tidak marah."
"...."
"Sip, dah Cantika."
Freissya tertawa sinis, pria ini benar-benar membuatnya sebal dan kesal.
Apa aku langsung sumpal saja ya mulutnya dengan sapu tangan ini?
Lalu ada panggilan lagi.
"Hmm, dari suara kamu, aku tahu kalau kamu Priskylla, ada apa manisku?"
"...."
"Apa? Ke mall? Hari ini? Tidak bisa manisku, aku ada acara arisan keluarga."
"...."
"Berani kamu ya marah padaku? Ya sudah, detik ini juga, kita ... PUTUS!"
'Trek.'
Gama mematikan ponselnya dan meletakan sembarang di meja.
Freissya geleng-geleng kepala. Bocah ini benar-benar ... b r e n g s e k.
Dan lagi, ponsel Gama kembali menyala. Tapi kali ini, Gama tidak mengangkatnya. Penasaran, Freissya mengintip pada layarnya.
Eliez Calling ....
Namanya beda lagi? Ya ampun, sebanyak apa pacarnya? Yang benar saja.
Karena kesal, Freissya membuat gerakan memukul Gama dari kejauhan.
Namun tiba-tiba Freissya kaget saat Gama menggeliat-geliat, terlentang, lalu mengangkat bajunya tinggi-tinggi untuk mengaruk perutnya.
Lama-lama Gama tidak lagi menggaruk perutnya.
Namun tangan Gama spontan menangkup dan mengusap sesuatu yang biasanya ikut bangun secara alamiah saat ia terbangun di pagi hari.
Freissya hampir syok, wajahnya pucat pasi.
Ya, sebagai seorang suster, ia pasti pernah melihatnya. Tapi ... situasi sekarang berbeda. Jelas sekali ada yang tiba-tiba berdiri tegak dibalik piyama tidur milik Gama.
"Aaaa," teriak Freissya spontan sambil menutup matanya.
Sontak Gama bangun dan langsung terduduk.
Lalu Bu Ira membuka tirai dan berlari bersama Pak Yudha menghampiri Freissya.
Linda melongo bingung saat melihat ada gadis di sofa sedang menutup mata menghadap Gama yang membeliak dan seolah hendak mati berdiri. Tidak, maksudnya mati berduduk karena posisi Gama kan sedang duduk.
"Ada apa?" teriak Bu Ira.
"I-I-Ice?" sapa Gama.
Gama tergagap-gagap dan tergugup-gugup.
"Sudah saling kenal?" tanya Pak Yudha.
"Tidak, aku tidak kenal," tegas Freissya sambil meletakan kotak berisi sapu tangan di meja, lalu berlari keluar.
"Hei, tungguuu."Gama langsung mengejar.
Linda, Bu Ira, dan Pak Yudha saling menatap.
___
Next ....