AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Mister X Effect



Pada akhirnya, Linda hanya bisa menangis, terisak-isak hingga semidu-midu. Ia beringsut menjauhi paha pria misterius itu. Dalam tangisnya, ia memanggil nama putranya.


"Keivel ...," lirihnya.


"Pak Agam, huuu ...." Nama suaminya disebut juga.


"Ayah .... Ibu ...." Terakhir memanggil ayah ibunya.


Walaupun Linda terus menangis, tapi para penculik itu tetap membisu. Tidak meredakan tangisan Linda, ataupun melarang Linda menangis.


"Apa kalian semua bisu?!" Linda marah.


"Kalian tidak berperasaan, apa kalian tahu kalau aku istrinya Agam Ben Buana? Huuu ... aku punya bayi kecil, aku ibu menyusui, huuu," ratap Linda.


Terus menangis membuat Linda lelah. Ia memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa, lama-lama mata Linda pun Lelah jua, hingga akhirnya ia pun tertidur.


...❤...


...❤...


...❤...


"Pak, kenapa arah rumah pak Agam ke sini sih?" Hikam bingung. Ia merasa salah jalan.


"Tenang, semua akan baik-baik saja, yang penting Anda semua selamat," tegas polisi.


"Hikam, aku curiga dengan para polisi ini, untuk sementara waktu kita patuh saja. Fokus kita jaga Keivel. Please, kamu jangan banyak protes." Isi pesan singkat dari dokter Rita untuk Hikam.


Hikam sadar ada pesan, segera membacanya dan keheranan. Langsung dibalas.


"Maksudnya? Dok, polisi itu pengayom masyarakat. Kok bisa Anda mencurigai mereka?"


"Hikam, tolong fahami posisi kita. Apa kamu belum sadar kalau kita bekerja pada orang yang tak biasa? Pak Agam banyak musuhnya. Dari sumber yang aku tahu, nyawa pak Agam dan keluarganya telah lama diincar oleh musuhnya. Hikam, jujur sebenarnya aku takut. Awalnya, aku juga ingin menolak bekerja menjadi pengasuh. Tapi, karena gajinya sangat besar, aku tergiur."


"Apa?" lirih Hikam. Seketika pria itu terdiam. Jantungnya tiba-tiba bertalu-talu.


"Aku tahunya pak Agam orang berbahaya, itu saja."


"Ya, bagi musuhnya pak Agam memang berbahaya. Tapi bagi pengagumnya dia sangat berharga. Konon, Agam Ben Buana berasal dari keturuan seorang ilmuan jenius. Pak Agam memiliki kemampuan langka di bidang akademik yang tidak dimiliki siapapun. Dia jenius dalam suatu bidang. Negara sebenarnya sangat membutuhkan dia. Tapi pak Agam diperlakukan tidak adil oleh negara."


"Aku semakin bingung," balas Hikam.


"Hikam, Keivel itu anak biologisnya pak Agam. Otomatis gen jenius itu pasti diturunkan oleh pak Agam pada Keivel. Aku takut keselamatan Keivel terancam. Menurut sebuah sumber, kejeniusan pak Agam telah dijadikan komoditi oleh salah satu organisasi milik negara. Jadi, aku takut ada yang mengincar Keivel untuk kepentingan pribadi."


Serius, wajah Hikam kian memucat mendengar pernyataan itu. Antara percaya dan tidak.


"Anda tidak mengarang cerita, kan?" Hikam memastikan.


"Tidak, aku serius. Kami, yang bekerja untuk pak Agam, bahkan sudah diwanti-wanti kalau suatu saat ada bahaya, kita tidak boleh panik atau kaget. Kami yang bekerja untuk pak Agam dan keluarganya intinya harus berani mati dan pemberani."


"Dan kalian setuju?" Hikam tak habis pikir.


"Itu konsekuensinya, tapi pak Agam sudah mengasuransi aku dan seluruh keluargaku. Aku sudah menandatangani kontrak kerja."


"Oh, begitu ya. Baik, mari kita berakting, setelah ini kita susun rencana," balas Hikam.


"Ya, kita patuh saja. Pak Agam juga pastinya tidak akan tinggal diam. Apalagi HP-ku kan sudah dipasang pelacak oleh pak Agam. Makanya bu Linda menyuruhku membawa Keivel. Itu karena dia tahu kalau aku membawa pelacak. HP bu Linda kan dibawa polisi."


"Sip, aku faham," balas Hikam.


"Kenapa kalian diam saja?" Polisi melirik ke belakang.


"Ngantuk Pak, terus ini main HP deh supaya tidak ngantuk," jawab Hikam.


"Keivel sedang tidur Pak, tidak boleh berisik," timpal dokter Rita.


"Apa suster Dini dan Ners Sinta sudah tahu kalau kamu mencurigai polisi?" Hikam mengirim pesan lagi pada dokter Rita.


"Sudah, mereka sudah tahu. Cepat hapus percakapan kita. Mari mulai berakting."


"Siap dokter cantik."


"Apa? Jangan becanda Hikam!"


"Memangnya tidak boleh memuji kamu? Kamu kan memang cantik."


"Tidak lucu! Kita lagi serius! Tolong jangan anggap remeh."


"Baik, tapi jangan marah ya, kalau kamu marah, akunya jadi sedih dan kesepian."


"Hikam, kamu!"


"Dok, tidak boleh kasar lho pada orang yang lebih tua. Usiaku lima tahun lebih tua dari Anda. Hehehe."


"Kok kamu tahu sih?" Mata dokter Rita mengerling.


"Tahulah."


"Sudah ah! Bye."


Dokter Rita mengakhiri percakapan. Bibirnya terlihat mengulum senyum. Melihat wajah dokter Rita seperti tersipu malu, hati Hikam berbunga-bunga. Walaupun suasananya sedikit menegangkan, tapi saat melihat manisnya dokter Rita, Hikam jadi merasa tergula-gula.


"Kita hampir sampai," kata polisi.


"Pak, kok kita tidak ke rumah pak Agam?" tanya dokter Rita.


"Maaf, kita tidak bisa mengantarkan ke rumah pak Agam karna LB-nya masih hilang. Jadi, kalian akan kami gunakan sebagai jaminan hilangnya LB."


"Apa?!" Hikam dan dokter Rita terkejut. Pun dengan suster. Tenang, mereka hanya pura-pura terkejut, kok.


"Owhaaa ...." Keivel bangun dan menangis.


"Pak, tolong berhenti dulu, aku mau menyiapkan ASI perah, takut tumpah," kata dokter Rita.


"Baik," jawab polisi.


...❤...


...❤...


...❤...


"Kok bisa kalian kehilangan LB?!" Komandan marah.


"Maaf Pak."


"Saya tak habis pikir, kenapa juga CCTV bandara error?!"


"Kami tidak tahu, Pak. Kami mohon maaf. Tapi tenang saja Pak. Putra pak Agam ada di bawah pengawasan kita."


"Maksud kamu?"


"Yang menculik LB ada dua kemungkinan Pak, bisa musuh pak Agam, bisa juga orang-orangnya pak Agam. Tapi ada sebuah petunjuk yang ditinggalkan mereka Pak."


"Petunjuk apa?!" sentak komandan.


"Saat LB diculik, CCTV di depan bandara mati mendadak. Artinya, komplotan yang menculik LB bukan orang biasa. Sedangkan sistem kendali CCTV bandara hanya bisa dikendalikan oleh dua unsur. Pertama, oleh orang yang berada di tower pengawas, kedua oleh seseorang yang bekerja di CCTV Center milik Badan Keamanan Negara."


"Hmm, narasimu masuk akal. Dulu, kita pernah direpotkan oleh skandal kasus pembohongan publik yang dilakukan oleh keluarga Haiden, dan sekarang keluarga Agam Ben Buana ternyata lebih merepotkan lagi. Asal kalian tahu ya, satuan kita saat ini sedang ditekan oleh pimpinan BRN karena kasus kecelakaan yang terjadi pada adiknya pak Agam. Kita dianggap tidak becus menjaga Sultan Yasa."


"Bukankah Sultan Yasa adiknya Maga?" Polisi muda itu keheranan.


"Hei Maga itu Agam, kamu tidak tahu?!" Komandan geram.


"Apa?! Serius Pak, saya baru tahu."


"Hah? Kamu ke mana saja? Ya sudah, sekarang tugas kalian adalah menjaga putranya LB."


"Siap, Pak. Tapi yang menjaga bayi itu ada empat orang. Satu laki-laki, tiga perempuan."


"Hei, kita memiliki senjata lengkap! Masa kalah oleh warga sipil yang bertangan kosong!?"


"Baik, Dan. Kami faham."


"LAKSANAKAN!"


"Siap, LAKSANAKAN!"


...❤...


...❤...


...❤...


Misi sore ini sangat melelahkan, merentas sistem CCTV bandara benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi. Serius, permintaan Agam Ben Buana sering membuat kepala Mister X hampir pecah.


"Aaargh," teriak pria bermasker itu. Mendengar teriakan, kucing Mister X segera melompat ke pangkuan Mister X.


"Dasar kucing manja," kata Mister X sambil mengelus kucingnya yang sibuk menggeliat sambil sesekali menjilat punggung tangan Mister X.


"Hmm, Senja ... cepat pulang dong senjaku," gumamnya.


Lalu menyalakan layar komputer yang berisi seluruh proyeksi rekamam CCTV yang berada di setiap sudut jalan.


Jalanan inilah yang biasa dilalui Senja baik berangkat maupun pulang dari toko bunga. Mister X bahkan bisa memantau kegiatan Senja selama di toko bunga. Ya, ia telah memasang kamera pengintai di sebuah gedung yang berada di depan toko bunga tempat Senja bekerja.


"Kemana dia?!" Mister X kaget.


Senja di luar jangkauan. Senja tidak ada di depan toko bunga. Padahal, di jam ini seharusnya Senja masih berdiri di depan toko dan membagikan brosur.


Raut kekhawatiran menghiasi tatapan matanya. Segera menyingkirkan kucing yang bergelayut di pangkuannya. Tangannya langsung aktif pada layar sentuh. Sedang mencari keberadaan Senja di beberapa titik lokasi. Namun, nihil.


"Senja, kamu di mana gadis lucuku?" gumamnya lagi.


Jantungnya mulai berdebar, ia tidak ingin kehilangan gadis itu.


"Please ... please ... please ....," kian panik. Seluruh titik luput dari sosok Senja.


Tiba-tiba ....


"Assalamu'alaikuum, Bibi aku pulang."


Deg, batu yang mengganjal di dada Mister X seolah hancur.


Mister X memukul keningnya dan terkikik bahagia. Bisa-bisanya ia sepanik itu dan tak terpikirkan jika Senja pulang lebih awal. Pantas saja sosoknya tidak tertangkap kamera CCTV. Ternyata sudah berada di rumahnya. Mister X Lekas memijat chip kamuflese suara yang berada di lehernya. Entahlah chip seperti apa, hanya Mister X dan jaringan anonymous yang tahu.


"Waalaikumussalaam," jawab Bibi palsu. Segera membuka pintu.


"Bibi a-aku sakit perut," Senja terilihat pucat. Tangannya terulur ingin bersalaman dengan Bibi, sementara bibirnya mencucu manja.


Sejenak Mister X mematung. Bibir itu terlihat begitu manis dan menggemaskan. Sapertinya enak kalau di ....


Mister X menggelengkan kepala sambil beristighfar.


Apa sih yang aku pikirkan? Batin Mister X berkecamuk.


"Kenapa sudah pulang?" tanya Bibi, meraih tangan Senja dan membiarkan gadis itu mencium tangannya.


"Aku sepertinya mau datang bulan Bi, ahh ... sakit sekali. Pinggangku sakit," keluh Senja. Berjalan tertatih sambil meraba-raba. Mister X menguntit dan khawatir.


'Bruk.'


Saat sadar meraba sofa, Senja langsung membanting tubuhnya ke sofa, bahkan tanpa melepas tas gendongnya.


"Ka-kamu selalu seperti ini?" Bibi jadi-jadian bertanya tapi terlihat ragu.


Ya, ampun. Bagaimana kalau Senja membahas prihal datang bulan? Aku kan tidak tahu menahu. Mister X gugup.


"Kadang-kadang Bi, tidak tiap bulan. Memangnya Bibi belum pernah sakit kalau mau haid?"


"Em, em ... a-anu pernah kok pernah sakit," Mister kikuk. Segera meraih ponsel untuk beralibi dan beralasan. Ia tidak mau menjawab asal-asalan.


"Serba-serbi seputar menstruasi." Searching. Berhasil. Apa sih yang tidak bisa ditanyakan pada si g o o g l e?


"Bi ... bisa bantu aku?" rintih Senja saat Mister X membantu melepaskan tasnya.


"Bisa, ada apa?" Kalimat Bibi sedikit ragu. Sebab matanya sedang sibuk membaca artikel tentang menstruasi.


"Aku punya buku braille tentang haid. Sayangnya sudah terbakar. Padahal belum selesai dibaca semuanya. Kata buku itu, sakit saat haid atau menjelang haid disebabkan karena peluruhan dinding rahim yang memicu kontraksi dan menekan pembuluh darah yang mengelilingi rahim."


"Kontraksi itu memutuskan suplai darah dan oksigen ke rahim, akibatnya jaringan rahim melepaskan bahan kimia yang menimbulkan rasa nyeri. Nah, nyeri haid bisa ditangani tanpa obat dan dengan obat. Aku termasuk orang yang mengedapankan cara alami dari pada obat," jelas Senja sambil merubah posisi badannya menjadi terlentang.


Mister X menyimak, ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Senja.


"Cara meredakan nyeri haid yang alaminya Bibi juga pasti sudah tahu, kan?"


"Hah, a-apa? Ya tahu lah. Caranya dengan mengompres air hangat, dan memijatnya, kan?" kata Bibi palsu yang tengah membaca sekilas dan ngasal.


"Bi ... boleh tidak kalau aku meminta bantuan Bibi untuk memijatku."


"Apa?" Mister X kaget.


"Huuu ... biasanya ada nenek yang memijatku," lirih Senja. Mister X terenyuh. Tapi juga bingung.


"Me-mijatmu?" Ragu.


"Ya, Bibi ... please Bi ... tidak perlu lama-lama, sebentar saja. Ku mohon," kata Senja sambil menyingkap bajunya. Mister membelalak. Ia tentu saja kurang faham di bagian mana yang biasanya dipijat saat haid.


"Bi cepat ...." Senja memposisikan diri. Ia menelungkup. Seolah memasrahan punggung indahnya pada Mister X.


Deg, deg, deg.


Mister X gemetar, ia meingintip di balik jemarinya yang dijarangkan. Dadanya panas.


Pinggang itu, lekukan b o k o n g itu. Terpahat sempurna.


Oh tidaaak, jerit Mister X dalam hati. Seiring dengan tetesan darah segar dari hidungnya. Ya, Mister X mimisan.


"Bibi ... please ... aku sakit sekali."


"Ba-baik, tu-tunggu sebentar," kata Mister X. Padahal ia sedang mengatur napas. Mengelap mimisannya, lalu berusaha mengendalikan sesuatu yang tiba-tiba saja bereaksi, sungguh memalukan. Mister X mengusap wajahnya.


Dengan langkah ragu ia mulai mendekati Senja.


"Bi, minyaknya ada di tasku, a-aku ambil dulu," kata Senja, ia berusaha bangun sambil meringis.


"Aku saja yang mengambilnya," kata Bibi si suara palsu.


Dengan tangan gemetar meraih tas Senja dan mengambil minyak hangat tersebut.


"Bibi ... huuu ...," rintih Senja.


"Bagaimana kalau aku em, maksudnya bagaimana kalau Bibi ke apotik dulu, Bibi beli obat saja ya." Daripada memijat, pikirnya.


Bukannya Mister X tidak mau, tapi ... ia takut tidak bisa menahan n a f s u.


"Emmh .... Bi ... ku mohon, setelah dipijat, aku biasanya sembuh," Senja kembali memohon. Tatapan kosong dan rintihan mengibanya membuat Mister X luluh. Perlahan menaburkan minyak di punggung Senja, lalu berlutut di sisinya dan ....


Satu, dua, tiga, berhitung di dalam hati sebelum benar-benar mendaratkan tangannya di punggung yang saat ini semakin menggoda karena mengkilat berlumur minyak hangat.


Dreg--deg--deg--deg, jantung Mister X berpacu cepat.


Tap, tangan yang mahir di atas keyboaard itu akhirnya mendarat jua di punggung Senja.


"Arrhh ...," jerit Senja saat pinggangnya ditekan. Serius, reaksi Senja membuat Mister X menelan saliva.


"Jangan bicara, jangan mengatakan apapun. Bibi tidak suka ada yang bicara kalau sedang memijat," tegas Mister X. Tangannya mengambang di udara. Faktanya sedang terkesima. Terkesima pada permukaan kulit Senja yang terasa halus.


"Aneh sekali, ya sudah aku mau diam saja. Ayo dong Bi, tidak perlu lama-lama. Cukup lima menit saja. Setelah aku sembuh kita gantian. Nanti aku yang pijat Bibi," kata Senja.


Ampuni aku, kata Mister X di dalam hati saat tangannya kembali memijat pinggang Senja perlahan-lahan. Matanya dipejamkan untuk mengurangi keresahan itu.


"Lebih bawah sedikit, Bi," pinta Senja.


"Aku sudah bilang kan, kalau kamu harus diam?!" bentaknya.


"A-apa? Huu .... Bibi ... kalu Bibi tidak ikhlas memijatku, dari awal Bibi tolak saja, tidak perlu marah-marah. Maaf, aku memang tidak tahu diri," rajuk Senja.


Senja menggerakan punggungnya, ia terisak sambil membenamkan kepalanya pada sudut sofa. Lalu memanggil neneknya.


"Nenek ... a-aku merindukanmu," katanya.


Mister X jadi bingung, salah tingkah dan gelagapan.


"Se-Senja, ma-maaf. Bibi tidak ada maksud seperti itu. Ya sudah kalau kamu marah, Bibi pergi saja. Bibi mau beli obat untuk kamu. Oiya, sebentar lagi Example pulang. Jangan lupa makan, permisi," katanya. Dari pada risih, Mister X memilih menjadi Example saja.


Mister X berlalu ke kamarnya, lanjut ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan pria itu. Yang jelas, sekitar lima belas menit kemudian, ia keluar lagi dari kamar mandi dalam keadaan sudah mandi dan keramas.


Setelah berpakaian lengkap, Mister X kembali ke sofa dan terkejut. Ya, ia masih mendapati Senja tertelungkup di sofa.


Kupikir dia sudah ke kamarnya, kasihan sekali. Batin Mister X. Lalu mengecek Senja.


"Senja? Kenapa tidur di sini?" tanyanya.


"Hai gendut, kamu sudah pulang? Hmm, kamu wangi sekali. Parfummu mirip wangi shampo," kata Senja.


"Oh, hahah, ya aku memang baru saja mandi di rumah temanku."


"Pantas wangi shampo," Senja tersenyum. Menatap hampa dan kembali meringis.


"Kamu kenapa?" Pura-pura tidak tahu.


"Hmm, botak ... aku mau haid, aku sakit. Kamu mau tidak memijatku?"


"Apa?!"


Mister X kembali kaget, tapi tidak sampai mimisan. Padahal ia baru saja meredakan sesuatu yang sangat memalukan, masa ya harus diulang lagi?


Tidaaak, bagaimana ini? Mister X dilema.


"Senja, aku laki-laki, aku tidak bisa memijat perempuan," tolaknya.


"Aku faham. Ya sudah, kamu bantu aku ke kamar saja ya. Perutku sakit," keluh Senja.


"Baik."


Mister X memapah Senja menuju kamar. Saat tiba di kamar Senja, kaki Mister X tidak sengaja menginjak jepitan rambut milik Senja yang tergeletak sembarangan. Spontan Mister X kaget dan beteriak. Tubuh tingginya goyah dan tidak seimbang. Ia tersandung ke sisi ranjang.


'Bruk.' Untuk pertama kalinya Mister X jatuh dengan gaya seperti ini. Dan ....


'Bruk.' Senjapun terdampak. Ia jatuh jua dan menimpa tubuh Mister X.


Deg, dua tubuh yang berlawan medan magnet itu menempel erat. Mister X spontan merengkuh pinggang Senja. Sementara Senja hanya melongo bingung dan kaget, ia tentu saja tidak tahu kalau jarak wajahnya dan Mister X hanya berjarak 3 centi meter.


Untung saja Mister X menggunakan masker. Jika tidak, maka hembusan napas si Mister misterius itu pasti sudah menghampiri bibir Senja.


Ssstt, dan ketahuilah di balik masker itu Mister X ternyata sedang menggigit bibirnya kuat-kuat. Serius, ia tak kuasa melihat pemandangan nan indah ini. Ini teramat menggiurkan.


Entah ada dorongan dari mana, tangan Mister X perlahan-lahan menurunkan maskernya.


"Em, E-Exam?" Senja baru tersadar. Mencoba bangun, tapi tangan Mister X masih melekat di pinggangnya.


"Ja-jangan begerak," bisik Mister X dengan suara deep voice-nya.


Jantung Senja berdebar, ia tidak menyangka jika suara si botak dan gendut itu seseksi ini.


Set, saat ini masker Mister X mulai turun, kini tampaklah sudah batang hidung sempurna milik Mister X. Serius, pria ini sangat tampan. Sabar, sebentar lagi bibir misteriusnya akan terlihat. Mata yang lensanya sering berganti warna itu terlihat fokus pada bibir Senja. Mister X bahkan tidak peduli pada tetesan darah yang mengalir lambat dari hidungnya.


"Gendut, apa yang akan ka-kamu lakukan? Le-lepaskan aku, a-aku mau pipis," kata Senja.


"A-pa?" Yah, tidak jadi deh melihat bibir Mister X.


"Serius, aku mau pipis," Senja meronta, Mister X melepaskan Senja.


Pada akhirnya, Mister X hanya bisa terlentang, menatap langit-langit, lalu membayangkan andai saja apa yang ia niatkan tadi terlaksana.


"Aaargh," teriak Mister X.


"Diaaam!" teriak Senja dari dalam kamar mandi.


...~Tbc~...


...Spoiler; next episode banyak mengandung adegan kekerasan. Untuk yang memiliki penyakit jantung, mohon melakukan pemanasan dulu sebelum membacanya....