
...Peringatan!!!...
...Bacanya santai saja ya, chapter ini sedikit berat. Happy reading....
...---...
"Huuu ... huuks," di ruang ganti, Freissya menangis.
Ia adalah orang pertama yang mengetahui Gama sadar dari komanya. Namun keadaan Gama pasca sadar, membuat hati Freissya teriris. Gama mengalami amnesia, gangguan fisik, dan gangguan verbal. Pria yang dulu jahil dan narsis itu, sekarang hanya bisa melamun dan jarang berkedip. Kondisi Gama sangat memprihatinkan.
Saat tim medis memeriksa Gama, Freissya memilih pergi ke ruang ganti untuk menumpahkan segenap kesedihannya.
Sementara di kamar tempat Gama dirawat, petugas medis tampak sibuk. Mereka melakukan berbagai prosedur untuk mengecek kondisi Gama. Dilakukan rontgen ulang, EKG ulang, CT-Scan, USG abdomen, dan lain-lain.
Termasuk dilakukan cek lab lengkap dan pemasangan holter untuk mengetahui aktivitas listrik dan irama jantung milik Gama.
Pak Yudha terlihat berdiri di sudut ruangan dengan mimik paniknya. Ia memijat keningnya berulang kali. Ia belum siap menerima respon Agam atas kondisi terbaru yang terjadi pada Gama. Pak Dirut pasti shock dan marah. Tapi entahlah akan marah pada siapa. Kemungkinan pada BRN.
Setelah bekerja membantu Vano selama seminggu, yaitu saat Agam berada di Pulau Jauh, Pak Yudha jadi tahu jika Agam Ben Buana adalah mantan anggota BRN, dan Gama menjadi kandidat BRN sebagai pengganti Maga, alias Agam.
"Tuan Gama, lihat saya," titah dokter. Ia menepuk bahu Gama dan menghadapkan wajah Gama kepadanya.
Gama menoleh, ia memutar tubuhnya bak robot, dan seluruh tenaga medis yang berada di ruangan itu kaget karena di leher Gama ada sesuatu yang menyala.
"Tunggu, apa itu?!"
"Saya tidak tahu, saat dilakukan rontgen tulang lumbal dan leher, kami tidak menemukan keanehan, Dok." Jelas tim medis dari bagian radiologi.
"Ini aneh sekali, kita harus segera menghubungi polisi," kata dokter jaga.
"Tunggu," Pak Yudha mendekat.
"Silahkan Pak," perawat memberi jalan untuk Pak Yudha agar bisa mendekati Gama.
"Itu cip," jelas Pak Yudha.
"Apa?!" Seluruhnya kaget.
"Saya harap tim medis yang berada di sini bisa menjaga rahasia," tegas Pak Yudha.
"Jangan khawatir Pak, kami sudah disumpah."
"Begini, Gama adalah kandidat anggota BRN."
"APA?!" Semua terkejut. Melotot, ada yang sampai menutup mulutnya.
"Gawat! Ini gawat!"
Dokter bedah syaraf langsung memucat dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Yang lain menatapnya dan panik. Pak Yudha pun melongo kebingungan.
"Gawat bagaimana, Dok?" tanya dokter jaga.
"Begini, Pak mohon maaf, Anda keluar dulu ya," dokter bedah itu mengusir Pak Yudha.
"Maksud Anda apa?! Kenapa mengusir saya?! Saya di sini wakil walinya, saya berhak tahu kondisi tuan saya!" bentak Pak Yudha.
"Tenang, Pak. Jangan sampai suara Bapak mengganggu pasien lain." Seorang suster mengingatkan.
"Makanya, Anda jangan mengusir saya, dong!"
Pak Yudha emosi. Ia mendekat pada Gama dan memegang tangannya. Air mata Pak Yudha menetes saat ia bersitatap dengan Gama. Di mata Gama seolah tidak ada lagi kehidupan. Tatapan Gama terlihat seperti robot.
"Gama ... kenapa nasibmu malang sekali, Nak ...." Pak Yudha memeluk Gama.
Tim medis saling menatap. Kemudian saling mengangguk, mereka seolah berbicara dengan bahasa isyarat yang tidak dimengerti oleh Pak Yudha.
"Panggilkan suter Freissya, suruh dia menemani Tuan Gama lagi," kata dokter jaga.
"Baik, Dok." Suster yang ditugaskan bergegas dengan langkah cepat.
Tak lama, Freissya pun tiba. Matanya sembab. Gadis itu menunduk, lalu memberi hormat pada para dokter dan seniornya.
"Suster Frei, Anda jaga dulu pasiennya, kami akan mengadakan rapat tertutup," ucap seorang dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi.
"Baik, Dok," lirih Freissya sambil mengusap airmatanya.
Merekapun pergi, hanya menyisakan Gama, Freissya, dan Pak Yudha.
"Val ...." Freissya kembali dirundung kepiluan.
"Nona Ice, saya perlu bantuan Anda," kata Pak Yudha dengan suara pelan.
"Ba-bantuan apa, Pak? Aku di sini hanya suster, aku tidak memiliki kewenangan apapun."
"Nona Ice, saya mohon. Anda harus mendapatkan informasi dari hasil rapat tertutup itu," desak Pak Yudha.
"Untuk apa, Pak? Itu rahasia kami."
"Nona Ice, saya mohon dengan sangat. Kamu kan di sini tenaga medis. Tadi, saya dengar salah seorang dokter mengatakan 'gawat' saat saya menjelaskan jika yang menyala di leher Gama itu sebuah cip," jelas Pak Yudha.
Ia meraih tangan Freissya. Matanya berkaca-kaca. Jelas, jika Pak Yudha sedang memohon pada Freissya. Freissya merenung. Ya, ia juga penasaran. Tapi, ia ketakutan.
"Nona Ice, please. Lakukanlah demi Gama. Apa Anda tidak kasihan melihatnya seperti ini?"
"Ta-tapi Pak."
"Nona Ice, apa Anda tahu alasan kenapa Gama menandatangani kontrak menjadi kandidat anggota BRN?"
"A-apa? A-aku tidak mengerti."
Pak Yudha menghela napas. Terpaksa, ia harus menjelaskan semuanya pada Freissya.
"Gama itu anak istimewa, dia memiliki kemampuan khusus. Karena kemampuannya itu, dia terpilih menjadi kandidat anggota BRN menggantikan seseorang."
Freissya menyimak.
"Gama sebenarnya tidak ingin menjadi anggota BRN. Tapi, BRN bermain licik dan culas, mereka menggunakan kelemahan Gama agar dia mau tanda tangan."
"Pak, aku tidak mengerti, kenapa Bapak menjelaskan masalah itu padaku?" sela Freissya.
"Karena masalah ini ada hubungannya dengan Anda, Nona."
"Tidak mungkin, Pak!" sergah Freissya.
"Nona Ice, dengar ya. Nama Anda terdaftar sebagai orang yang disayangi oleh Gama. Oknum BRN mengancam Gama dengan menggunakan nama Anda. Percaya sama saya, Nona Ice. Saya tidak berbohong."
"A-apa? Be-benarkah?" Freissya tidak percaya.
"Nona Ice, jika Anda tidak bisa mendapatkan informasi itu, maka saya sendiri yang akan bertindak. Tolong jaga Gama!" Pak Yudha membalikan badan.
"Pak tunggu. Baik, aku akan mencari informasinya. Tapi, isi dari informasi itu akan tetap menjadi hakku. Sebagai tenaga medis, aku memiliki kewenangan untuk menentukan pilihan atas semua informasi yang aku dapatkan," jelas Freissya.
"Setuju," kata Pak Yudha.
Pikir Pak Yudha, yang penting Freissya tahu dulu. Setelah itu, ia akan mencari cara agar Freissya mau berbagi informasi. Kendatipun nantinya harus dengan cara memaksa ataupun mengancam gadis itu.
...❤...
...❤...
...❤...
~Ruang Rapat~
"Cip itu mengandung logam, bisa jadi cipnya telah bereaksi karena adanya perubahan suhu. Mungkin menyebabkan luka bakar di dalam kulit ataupun infeksi," jelas salah satu dokter.
"Maaf, Dok. Cip yang ditanam di pasien, saya rasa tidak akan menyebabkan infeksi karena pasti sudah disterilkan. BRN tidak mungkin melakukan prosedur yang membahayakan anggotanya. Yang memasang cipnya pasti tim medis juga, kan?" sanggah seseorang.
"Benar juga. Lantas, errornya dari mana? Ada yang bisa menjelaskan?"
Lalu seorang dokter yang berkaca mata tebal mengangkat tangan.
"Begini, errornya sistem syaraf pusat pada pasien, bisa jadi karena frekuensi tinggi elektroda listrik atau pisau bedah elektron yang digunakan saat kita melakukan pembedahan pada kepala dan tulang punggungnya. Harusnya, sebelum melakukan prosedur operasi, cip itu dilepas dulu," jelasnya.
'BRAK.' Seseorang memukul meja.
"Berarti Anda menyalahan prosedur medis yang telah kita sepakati?! Ingat ya! Seluruh tim medis yang terlibat di dalam operasi itu tidak ada yang tahu kalau pasien tersebut ditanam cip!"
"Tolong tenang, kita cari solusinya," ucap pimpinan rapat.
"Pak, pasien itu adiknya Agam Ben Buana, kalau beliau melaporkan kita atas dugaan malapraktik bagaimana?!" Dokter itu beteriak sambil berdiri.
"Iterupsi, Dok. Saya juga bertugas di hari itu. Saat dilakukan rontgen pada tulang lumbal dan lehernya, kami merasa yakin tidak menemukan keanehan," jelas bagian radiologi.
"Maaf, apa tim radiologi telah melakukan konsultasi hasil rontgen pada profesor?" tanya ketua rapat.
"Izin menjawab. Belum Pak, saat itu kondisinya sangat urgent. Laporan dari tim IGD, pasien ini harus segera dioperasi. Jelas tidak ada waktu lagi kalau kita harus menunggu jawaban dari profesor."
"Ya benar, jika tidak dilakukan operasi segera, pasien bisa saja tidak tertolong."
"Kalaupun kita sempat lapor pada profesor dan mengetahui keberadaan cip itu, apa operasi pengangkatan cip lebih penting dari operasi kepala? Ya, bisa jadi lebih penting, tapi bagaimana kalau pasien itu keburu meninggal saat kita mengangkat cipnya?" tambah yang lain, ia memakai seragam berwarna hijau daun.
Ketua rapat menghela napas. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Saat tim medis telah mengambil keputusan yang sulit, dan keluarga pasien telah tanda tangan, maka hasil akhirlah yang menentukan nasib mereka.
Jika hasil akhirnya baik, tim medis akan merasa bahagia dan bangga. Mereka akan aman dari masalah hukum dan gunjingan publik.
Namun saat hasilnya tidak memuaskan, gagal, ataupun berujung pada kematian pasien, maka tim medis harus siap dengan tuntutan hukum dengan dugaan malapraktik.
Kasus ini lumayan rumit. Tim medis seolah berada di ujung tanduk. Mereka terhimpit di antara dua jurang yang curam dan berbahaya.
Freissya yang berada di barisan belakang gemetar. Ia bisa masuk tanpa kendala ke ruangan ini karena beralasan ingin mengambil sesuatu. Rapat masih berlangsung, saat Freissya memilih keluar dari ruangan itu.
Aku bingung. Pada kasus ini, siapa yang patut disalahkan? Ya, aku memang tidak terima melihat keadaan Val yang seperti itu.
Tapi, aku juga tidak setuju kalau sampai pak Agam membawa kasus ini ke jalur hukum dan menuntut sejawatku dengan tuduhan malapraktik.
...❤...
...❤...
...❤...
"Gama ...."
Agam menatap lekat adik kesayangannya, hatinya hancur-lebur. Ia ingin beteriak dan marah, tapi Agam sadar sedang berada di mana. Vano dan Pak Yudha memegang bahu pria itu di kedua sisi.
"Saya tidak terima. Kenapa adik saya jadi seperti robot? Gama ... maafkan Kakak, Kakak gagal menjaga kamu."
Agam menepis tangan Pak Yudha dan Vano. Ia memeluk Gama. Pria yang jarang menangis itu akhirnya meneteskan air mata dan membasahi pundak adiknya.
"Gama, lihat Kakak."
Agam mengguncang bahu adiknya. Ia berusaha bersitatap dengan Gama. Semenjak Agam datang, Gama belum mengedipkan mata. Ia hanya menatap ke satu titik.
"Saya ingin segera bertemu dengan dokternya! Saya tidak bisa diam saja!" geramnya.
Agam keluar dari ruangan dan secara kebetulan berpapasan dengan Freissya yang hendak masuk ke kamar Gama.
"Ice, sini kamu!" Agam menahan tangan Freissya.
"Ya, P-Pak." Freissya ketakutan.
"Bagaimana kamu dan teman-temanmu mengurus adik saya, hahh? Kan saya sudah bilang, kalau kalian tidak mampu! Saya akan membawa adik saya ke luar negeri!"
Freissya membisu. Vano dan Pak Yudha datang, disusul para perawat dan seorang dokter.
"Pak Agam, mohon tenang. Mari kita bicara."
Dokter itu memberanikan diri mendekat pada Agam. Suster dan perawat menunduk di belakangnya.
"Tenang katamu?! Saya tidak bisa tenang! Cepat antarkan saya pada tim medis yang menangani adik saya! Sekaraaang!" teriak Agam.
"Sssst, Pak ... di sini ada pa-pasien mohon untuk te ---."
"Dan saya juga memohon agar saya bisa bertemu dengan tim dokter itu! Cepat! Atau saya akan menuntut rumah sakit ini! Saya butuh penjelasan! Fahaaam?!" sela Agam seraya beteriak.
"A-ada apa ini?"
Petugas keamanan datang, namun saat melihat sosok Agam, nyali mereka menciut bak kerupuk yang disiram air.
"Pak ... tim dokter yang menangani adik Anda sedang mengadakan rapat khusus," jelas Freissya sambil mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Agam. Serius, Freissya kesakitan. Tangannya mulai memerah. Agam sepertinya tak sadar jika ia telah menyakiti tangan Freissya.
"Di mana ruang rapatnya?! Di mana, hahh?!" bentak Agam. Pria yang sangat wangi itu terus bersungut-sungut. Emosinya meledak-ledak.
"Dok, lebih baik ikuti saja keinginan Pak Agam, Pak Dirut butuh penjelasan saat ini juga," saran Vano.
"Ya, benar Dok. Kami tidak bisa membantu menenangkannya. Maaf," kata Pak Yudha.
"Huuks," Freissya terisak.
Melihat Freissya menangis, Agam tersadar. Ia melepaskan tangan Freissya.
"Cepat antarkan saya ke ruang rapat! Cepat!" desak Agam.
"Maaf Pak, tapi ---."
"HALAH! Lama! Kalau tidak ada yang mau mengantar, biar saya cari sendiri!" bentaknya.
Lalu Agam berjalan cepat keluar dari ruang ICU, spontan Vano, Pak Yudha, Freissya dan yang lainnya menyusul mengejar Agam. Termasuk petugas keamanan.
"Cepat lakukan sesuatu Pak Vano!" kata Pak Yudha.
"Ya Pak, ini aku mau menelepon dokter Cepy." Sambil meraih tergesa ponsel di sakunya.
"Dok! Cepat ke rumah sakit sekarang! Bawa LB ya! Pak Agam ngamuk. Aku khawatir Pak Agam bertindak di luar batas!"
"Apa katamu?! Hei, dia sedang cidera. Mana bisa dia berbuat onar." Suara dokter Cepy.
"Dok! Pokoknya cepat kemari! Kita butuh pawang yang bisa menenangkannya. Pawangnya Pak Agam, ya hanya LB! Cepat ya! Jangan banyak tanya lagi! Masalah cidera Pak Agam, kita urus nanti saja! Yang aku lihat sih, dia sepertinya lupa kalau tulangnya retak."
"G i l a! Dia manusia bukan sih?! Apa kamu yakin itu Agam Ben Buana?! Jangan-jangan hantu."
"Tidak lucu! Aku bicara serius, Dok! Cara jalan dia bahkan sudah tidak pincang lagi! Dia tidak mengambang, kakinya berpijak pada bumi! Jadi dia bukan hantu!" tegas Vano.
Vano mengakhiri panggilan agar dokter Cepy segera bertindak. Giginya mengerat karena kesal pada dokter Cepy.
.
.
"Di ruangan mana dokter-dokter biasanya melakukan rapat? Apa Anda tahu?" tanya Agam pada seorang suster yang berpasasan dengannya.
Suster melongo, sejenak keheranan dan bingung mau jawab apa. Sebab pria di hadapannya begitu tampan. Suster ini tak sadar kalau yang ada di hadapannya adalah Dirut HGC, pun tidak sadar kalau Agam diiringi oleh banyak orang. Matanya fokus mengagumi ketampanan Agam.
"Ssst, ssst."
Suster yang berada di belakang Agam memberi kode. Pun dengan dokter dan yang lainnya. Mereka menempelkan jari telunjuk di bibir. Maksudnya menyuruh agar suster tersebut tidak memberikan informasi pada Agam.
"Ada di samping laboratorium, Pak. Dari sini lurus saja. Nah, saat bertemu dengan ruang mushola, Bapak belok kanan."
Terlambat, suster itu telah terhipnotis pesona Pak Dirut. Vano garuk-garuk kepala, yang lain kian panik.
Terima kasih informasinya," Agam bergegas. Yang lain menyusul.
...❤...
...❤...
...❤...
~Ruang Rapat~
"Baik, karena sudah semakin malam, rapat tertutup, saya cukupkan sampai di sini. Kita akan jadwalkan lagi setelah profesor membaca hasil ront ---."
'BRAK.'
Tiba-tiba terdengar suara hantaman kuat, bersamaan dengan terbukanya pintu ruang rapat.
Seluruh tim medis terperanjat, dan berdiri. Segenap mata tertuju pada pintu. Mereka kaget bukan kepalang. Sosok yang mereka takutkan benar-benar ada di hadapan. Melihat pintu yang rusak parah, semuanya sadar jika Agam Ben Buana sedang marah besar.
Kriiik ....
Suasana menegang. Keheningan melanda.
Agam mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Matanya menyapu dan seolah menikam jantung siapapun yang ditatapnya. Dada Pak Dirut retraksi karena emosi. Tangannya mengepal erat, urat-uratnya menyembul. Huhh, menakutkan.
Tapi ... tetap saja terlihat seksi dan gagah. Oh Pak Dirut, pesona Anda memang aduduh.
'Prutt, prett.'
Sayup terdengar suara kentut seseorang. Mungkin saking ketakutannya hingga terkentut-kentut. Yang mendengar suara itu menggulirkan bola mata. Berdoa di dalam hati agar raja rimba tak mendengarnya.
Doa mereka terkabul. Agam Ben Buana sepertinya tak menyadari suara itu. Atau, Pak Dirut hanya pura-pura tak mendengar? Entahlah.
"Siapa kepala tim dokter yang menangani adik saya! Siapa!" teriak Agam sambil berkacak pinggang.
Dag, dig, dug. Jantung tim medis mulai bereaksi.
Dalam kepanikan itu, mereka tengah berpikir keras. Bagaimana cara menenangkan Agam Ben Buana? Lalu, harus mulai dari mana mereka menjelaskan masalah ini?
"P-Pak Vano, ce-cepat hubungi kepala BRN dan polisi, masalah ini ada kaitannya dengan BRN," bisik Freissya.
"Maksudmu?" Vano menatap Freissya yang wajahnya memucat.
"Ini ada hubungannya dengan cip yang dipasang di lehernya Val," lirih Freissya.
"Apa?!"
"Cepat, Pak. Aku serius," desak Freissya.
"Baik," Vano mengangguk.
"Pak Vano, Anda pengacara, kan?"
"Iya, benar."
"Tim kuasa hukum Pak Agam sebaiknya harus ke sini juga, Pak. Masalah ini harus ada penengahnya. Ini rumit, aku sulit menjelaskannya," kata Freissya.
"Jawaaab! Kenapa kalian diam saja!" Pak Dirut kembali menampakkan taringnya.
...~Tbc~...
nyai: "Bolehkah nyai memohon?"
Reader: "Boleh, tapi hanya satu permintaan?"
nyai: "Hah, satu doang? Em, tapi tak apa. Please berkunjung ke novel baru nyai, dijamin seru dan penasaran."
Reader: "Masa sih, nyai?"
nyai: "Serius, coba deh, dan rasakan sensasinya, hehehe."
Reader: Kriiik, terdiam .... (Terlihat ragu).
nyai: "Huft ...." (Menghela napas).