
~Seminggu kemudian~
Angin laut berhembus perlahan, menggoyangkan daun nyiur, menyibakkan gelombang ombak hingga seakan-akan turut-serta mendorong buih ke tepian.
Pasir putih menghampar luas, warnanya keemasan karena terpantul cahaya senja yang tengah mengulur sang mentari menelusup ke ufuk barat.
Senja di hari ini betapa sunyi dan sepi. Senja di hari ini terasa hampa penuh nestapa. Senja di hari ini tak seindah di saat senja bersamanya.
Netra yang kelam dan selalu gelap gulita itu sedang memandang nanar entah ke mana. Buliran bening membasahi pipi halusnya. Isakan kecil terlontar dari bibirnya yang berwarna merah delima.
"Ayah ... ibu ... nenek .... Kenapa kalian semua meninggalkanku? Di saat sendiri seperti ini, aku merasa jika duniaku benar-benar gelap," lirihnya.
"Senja, kamu di sini?" Seorang ibu datang dari kejauhan dan mendekat.
"Bu Tati?" Gadis itu mencari asal suara. Matanya tetap bergulir, padahal ia sadar tak akan bisa melihat apapun.
"Jangan melamun terus, Nak. Jangan terlalu dipikirkan ya, Ibu yakin Exam akan baik-baik saja," katanya sambil mengusap rambut Senja yang begerak pelan akibat sepoian angin laut.
"Bu, aku membencinya, ta-tapi ... aku juga merindukannya," lirih Senja.
"Membencinya? Atas dasar apa kamu membencinya? Dia pria yang bertanggung jawab, Nak. Sebelum dia dibawa oleh orang-orang asing itu, dia menitipkan kamu pada Ibu. Ibu sudah diberi banyak uang untuk mengurus dan menjaga kamu."
"Tapi kenapa dia tak pamit dulu, Bu? Dia pergi begitu saja tanpa ada satu katapun. Padahal, aku baru saja akan memberikan jawaban kepadanya." Senja berbicara dengan netra berkaca-kaca.
"Saat Exam pergi, Ibu sudah berniat membangunkan kamu, tapi Exam melarang Ibu, dia hanya meminta izin pada Ibu untuk mencium kening kamu. Saat dia mencium kening kamu, Ibu berdiri di ambang pintu. Ibu melihat dia menangis. Lalu orang-orang asing itu membawa Exam."
"Bu, apa orang-orang yang membawa kak Exam terlihat seperti orang jahat?"
"Ibu tidak tahu, Nak. Mereka banyak. Yang masuk ke rumah 'sih hanya dua orang, tapi yang tidak masuk ada banyak. Ibu tidak tahu berapa jumlahnya. Sebab sebagiannya tidak turun dari mobil."
"Apa Ibu sempat mendengar apa yang mereka bicarakan?"
"Emm, sebentar," bu Lela mengernyitkan aliasnya.
"Kalau tidak salah, salah seorang dari mereka berkata, 'Siapkan penyambutan pangeran di Pangkalan Militer,' begitu, Nak."
"Pangeran?" Senja merenung.
"Ya Nak. Oiya, Ibu juga sempat melihat salah satu dari mereka mengganti masker. Wajahnya tampan, Nak. Seperti wajah-wajah pemuda Timur Tengah atau wajah-wajah penduduk Jazirah Arab," terang bu Lela.
Senja terdiam, jikapun ia memikirkannya, ia tetap tak akan mengerti. Satu hal yang hingga saat ini mengganjal hatinya. Ya, Senja tak tahu sampai kapan ia akan berada di Waroulaut. Senja juga tak mungkin pergi ke kota seorang diri untuk menemui paman jahatnya.
"Bu Lela, apa kak Exam menitip pesan untukku?" Senja berharap ada sebuah kalimat dari Mister X yang bisa menenangkan batinnya.
"Tidak ada, Nak. Exam hanya berpesan agar Ibu menjaga kamu, mencari sekolah yang cocok untuk kamu, dan setiap bulannya akan mentransfer uang untuk kebutuhan kamu dan uang gaji untuk ibu."
Senja menunduk, jika sudah seperti ini, ia hanya bisa pasrah pada kenyataan bahwa masa depan dan hidupnya telah mendapat jaminan dari seorang malaikat penolong yang ia sendiri tidak tahu asal-usulnya.
Padahal di malam Mister X pergi, rencananya, pada pagi harinya, Senja akan mengatakan jika dirinya akan menerima pinangan Mister X untuk menikah muda. Keputusan itu diambil setelah ia mendapat jawaban dari doa-doanya melalui mimpi.
Sayang seribu sayang, di saat tekadnya sudah bulat, Mister X malah pergi. Kini, kebersamaannya bersama dengan pria misterius itu hanyalah tinggal kenangan. Air mata Senja menetes. Andai ia memberikan jawaban lebih cepat, apakah hari ini ia akan berada di sisi Exam?
"Huuu, huuu."
Tangisan gadis tuna netra berparas jelita itu pecahlah sudah. Ada perasaan menyesal karena ia terlambat memberikan jawaban.
"Katanya benci? Kok malah ditangisi?" goda bu Lela, maksudnya untuk menghibur Senja.
"Aku bukan menangisi dia, Bu. Aku menangisi nasibku," sangkalnya.
"Sabar .... Oiya, Ibu hampir lupa, kata Exam, kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang dirinya, kamu bisa menghubungi pak Agam."
"Mana berani aku berkomunikasi dengan pak Agam, Bu. Mendengar namanya saja, bulu kudukku langsung merinding."
"Ya ampun Nak, Ibu malah kenal baik dengan pak Agam, sebelum jadi Dirut HGC dia adalah sekretarisnya tuan Deanka. Perangainya memang dingin dan terkesan sombong. Tapi aslinya baik, kok."
"Huuu, terus aku harus bagaimana, Bu?"
"Kamu harus semangat, Nak. Besok, Ibu akan mengantar kamu ke sekolah luar biasa. Kamu harus kejar target jenjang pendidikan. Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Percayalah, di luaran sana banyak orang yang tidak seberuntung kamu, Nak."
"Ya, Bu. Aku juga bersyukur, tapi bagaimana caranya aku membalas kebaikan kak Exam?"
"Mudah 'kok, Nak. Kamu tinggal ikuti saja kemauannya, kamu sekolah, belajar yang tekun dan setia."
"Setia? Maksud Ibu?"
"Senja, sebaik-baiknya pria, kalau tanpa dasar rasa cinta, jarang ada yang mau mengorbankan waktunya untuk seorang wanita. Tapi Exam melakukannya untuk kamu. Jadi, kamu jangan mengecewakan Exam. Dari gelagat yang dia lakukan, Ibu yakin kalau suatu saat Exam pasti akan menemui kamu lagi."
"Kenapa Ibu yakin sekali?"
"Nak, firasat Ibu mengatakan seperti itu."
Lalu Bu Lela memeluk Senja. Keistimewaan yang dimiliki Senja, membuat bu Lela teramat sangat menyayangi gadis ini. Rasa sayangnya pada Senja bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan rasa sayangnya pada nona Aiza.
"Bu Lela ... terima kasih. Mulai hari ini, Bu Lela adalah Ibu ketigaku."
"Ibu ketiga?"
"Ya, Bu. Ibu pertamaku sudah meninggal, ibu keduaku, Nenek. Nenekku juga sudah meninggal. Jadi, Bu Lela adalah ibu ketigaku."
"Baik, mulai hari ini, kamu adalah anak bungsu Ibu," sambil mencium kening Senja.
Kemudian, ibu dan anak itu berpelukan erat. Ada linangan air mata di pelupuk mata bu Lela. Memeluk Senja, membuatnya teringat kembali akan kisah perjuangan hidup dan kisah cinta nyonya Nara dan nona Aiza Bahira.
Senja meredup, malampun tiba. Senja dan bu Lela telah kembali ke rumah impian Nona Muda Aiza Bahira.
.
Pesisir Waroulaut tampak semarak dengan kerlipan lentera kecil para nelayan yang bersuka cita mengais rezeki. Dengan senyum tersungging mereka melaut, tak lupa memanjatkan doa ke khadirat-Nya agar tangkapan ikan di malam ini melimpah ruah.
Ada pemadangan yang mengharukan, terlihat ada seorang balita perempuan yang menangis meraung bermandikan pasir. Usut punya usut, balita itu menangis karena ingin ikut melaut bersama ayah, kakek, dan pamannya.
"Kita tetap di rumah sayang. Kalau kamu sudah besar, baru boleh ikut," kata sang ibu sambil memeluk putri kecilnya.
Tatapan ibu itu fokus ke sana. Ke perahu kecil sang suami yang kian mengecil. Ia terus menatapnya hingga perahu kecil itu menghilang ditelan kejauhan.
...❤...
...❤...
...❤...
"Setelah enam bulanan berlalu, bagaimana rasanya, Tuan Yo?" tanya pak Widi pada Yohan yang saat ini sedang menyiram bunga di balkon apartemennya.
"Emm, rasanya nyaman, jadi terasa enteng, tapi aku merasa ukurannya jadi lebih besar. Apalagi kalau pagi-pagi. Heran aku juga Pak," jawabnya sambil tersenyum.
"Lebih besar? Serius, Tuan? Apa saya juga disunat saja biar jadi lebih besar?"
"Hahaha, ya terserah Anda, disunat itu baik untuk kesehatan, Pak. Kalaupun Bapak tidak berpindah keyakinan ya tak masalah. Keluarga Haiden yang non muslim juga banyak yang disunat 'kok, Pak."
"Hmm, nanti saya pikir-pikir lagi, Tuan. Harus izin istri dulu, soalnya setelah disunat pastinya 'kan tak bisa langsung digunakan untuk bertempur."
"Hahaha, ya juga 'sih, ngomong-ngomong soal bertempur, sudah lama sekali aku tidak bertempur," gumam Yohan sambil mengulum senyum.
"Tuan tidak jajan lagi?"
"Alhamdulillah, tidak. Semenjak aku jatuh cinta pada Sea, memang tak pernah jajan yang seperti itu lagi. Apa lagi sekarang, Pak. Intinya aku tak mau dan tak akan melakukan dosa itu lagi."
Pria berkulit putih bak susu itu rupanya benar-benar telah berpindah keyakinan. Tato di dadanyapun sebagian kecilnya telah dihapus.
"Apa hari ini Tuan mau hapus tato lagi?"
"Jadwalnya besok, Pak. Dalam agama baruku, tato adalah salah satu hal yang diharamkan karena mengandung lebih banyak hal yang merugikannya daripada manfaatnya."
"Tapi kata pak ustadz, tato yang sudah terpatri tidak menjadi masalah bagi taubatnya seseorang atau mualafnya seseorang. Jadi tatonya tidak wajib dihilangkan, Pak."
"Tato tidak menjadi sebab tidak sahnya tayamum atau wudhunya seseorang karena tato sifatnya meresap ke dalam kulit. Selain itu, pak ustadz juga mengatakan bahwa menghilangkan tato merupakan salah satu bentuk merusak diri sendiri. Tubuhku yang sudah sudah rusak karena tato, tidak perlu semakin dirusak dengan cara menghilangkan tatonya."
"Aku cukup bertaubat dan tidak membuat tato lagi. Katanya, yang sudah ada biarkan saja, kecuali ada alat yang bisa menghilangkan tato dengan cara mudah, tidak melukai dan tidak menyakiti."
"Nah, karena sudah ada cara menghilangkan tato dengan cara yang terbaik dan tidak meninggalkan bekas, jadi aku memutuskan untuk menghapus semuanya," jelas Yohan panjang lebar. Pak Widi manggut-manggut.
"Wah, menarik. Terus kapan Anda akan melamar nona Sea?"
"Hmm, Sea baru sebulan kembali ke panti asuhan, Pak. Aku tak mau buru-buru. Sementara waktu, aku akan memberinya banyak kesempatan untuk melepas rindu dengan ibu panti asuhan dan teman-temannya. Lagipula, dia belum tujuh belas tahun, Pak. Aku akan menunggu dia siap dulu, setelah itu baru akan aku lamar."
"Saya setuju, Tuan. Terus bagaimana dengan orang tuanya nona Sea? Apa polisi yang Anda suruh sudah menemukan identitas orangtuanya nona Sea?"
"Belum Pak, polisi kesulitan. Alamat yang dipegang Sea ternyata alamat palsu dan tidak ada di kota ini. Aku juga bingung mencarinya. Rencananya, aku akan meminta bantuan pada Agam Ben Buana."
"Meminta bantuan pada pak Agam? Kok bisa?" Pak Widi keheranan.
"LB dan Sea berasal dari daerah yang sama Pak. Mereka sama-sama dari Pulau Jauh."
"Baik, saya mengerti, Tuan. Oiya Tuan, menurut saya, Anda jadi terlihat lebih tampan. Setelah saya perhatikan, wajah Anda seperti bercahaya," puji pak Widi.
"Hahaha, masa 'sih?" Yohan memegang pipinya.
"Berkat air wudhu mungkin?" kata Yohan, pipinya merona. Lubang hidungnya sedikit mengembang karena dipuji pak Widi.
Begitulah kehidupan seorang Yohan Nevan Haiden saat ini. Yohan telah berpindah keyakinan dan menjalani kehidupan barunya sebagai seorang mualaf. Setiap hari, di waktu luangnya, ia selalu mendatangkan ustadz ke apartemennya. Saat ini, Yohan sedang belajar mengaji dan berpuasa.
Selain itu, bisnisnyapun kini mulai menggeliat. Terbaru, Yohan baru saja membuka usaha yang ia namai sebagai 'Kafe Halal Yo.' Sedangkan pekerjaan tetapnya hingga saat ini belum berubah, ia masih menjadi pilot profesional pesawat komersil.
Yohan bahkan telah diajak untuk bergabung kembali menjadi ektra tim kapten pesawat kenegaraan, namun ia menolaknya.
Yohan segera menghentikan aktivitas menyiram bunga saat ponselnya berbunyi. Wajahnya sumringah kala ia tahu identitas peneleponnya.
'My Darling, Calling ....' Tertulis di layar ponselnya.
"Aduh, Tuan." Ia sampai menabrak pak Widi saking senangnya.
"Maaf, Pak. Ada telepon dari calon istriku," katanya sambil berjalan cepat dan berkata ....
"Assalamu'alaikuum Seaku, cintaku, calon istriku."
...❤...
...❤...
...❤...
"Gama itu anggota tetap BRN, hidupnya tidak akan mudah. Hari-harinya akan dipenuhi tekanan. Baik tekanan fisik maupun tekanan mental. Jika kamu serius mencintai dia, maka kamu harus siap jika sewaktu-waktu Gama diberi tugas berat dan pergi meninggalkan kamu, atau dia pergi dan tak pernah kembali lagi," kata Agam.
Siang ini, ia sedang bertemu Freissya di sebuah kafe yang berada di depan tower HGC. Ada pak Yudha dan sekretaris Aulia juga. Namun jaraknya lumayan jauh. Jadi, percakapan Agam dan Freissya tidak akan terdengar oleh pak Yudha maupun Aulia.
Freissya menunduk. Makanan yang ada di hadapannya masih utuh.
"Tapi, jika kamu ragu, lebih baik ---."
"Tidak, aku tidak ragu," sela Freissya.
"Kamu siap dengan segenap konsekuensinya?"
"Siap, Pak."
"Apa orang tua kamu sudah mengetahui hubungan kamu dan adikku?"
"Sudah Pak. Aku sudah mengatakan pada mereka kalau aku dan Val pacaran, tapi ... mereka tak merestui."
"Untuk masalah restu, jangan dipikirkan dulu. Nanti saya akan mencari jalan keluarnya. Saya hanya ingin memastikan keseriusan kamu dan mengingatkan kamu jika keputusan kamu mencintai Gama sangat beresiko."
"Kamu harus siap hidup tak nyaman dan tak tenang. Ingat, BRN itu Badan Rahasia Negara. Jadi, kegiatan yang dilakukan Gama banyak yang bersifat sangat rahasia. Kerahasiaan itulah yang ke depannya bisa mengancam keselamatan kamu bahkan nyawa kamu. Masih tetap ingin bersama Gama?" Agam memastikan kembali.
"Ya, Pak," ucap Freissya sambil mengusap air mata di sudut matanya.
"Baik, jika kamu yakin ingin mendampingi Gama di masa depan, maka mulai hari ini, kamu harus belajar menjadi wanita kuat. Mulai minggu ini, saat kamu libur kerja, kamu harus datang ke rumah saya untuk mengikuti latihan fisik dan mental, kamu siap?"
"Si-siap, Pak."
"Saya melakukan ini agar di masa depan kamu bisa mempertahankan diri dari gangguan orang-orang jahat. Ya, Gama mungkin saja bisa melindungi kamu, tapi alangkah lebih baiknya kalau kamu juga menguasai ilmu bela diri."
"Ba-baik, Pak. Aku setuju."
"Ya sudah, hanya itu yang ingin saya sampaikan, terima kasih atas waktunya. Salam untuk bapak dan mama kamu. Oiya, ada bingkisan untuk kamu dan keluarga, bawa ya."
Lalu pak Dirut melambaikan tangan pada Aulia. Aulia mendekat sambil membawa sebuah kotak besar yang dibungkus oleh kertas buram berwarna cokelat.
"Pak, tak perlu," tolak Freissya.
"Kalau kamu tidak mau menerimanya, buang saja. Saya harus segera pergi. Masih ada rapat penting," ucap Agam sambil berdiri. Pak Yudha menghampiri untuk memasangkan jas pada Agam.
Setelah Agam rapi, merekapun pergi meninggalkan Freissya yang masih duduk merenung sambil menatap kotak bingkisan.
...❤...
...❤...
...❤...
"Ada apa 'sih, Pak?"
Linda bingung saat Agam menutup matanya dengan dasi, lalu menuntunnya menuju ke sebuah tempat.
"Kamu ikuti saja sayang." Sambil mengecup pundak Linda.
"Pak Agam tidak ngprank kayak di acara-acara TV itu, kan?"
"Maaf, bukan selera saya main prank-prankngan. Ini kotaknya. Silahkan diraba dulu sayang."
Lalu Linda merabanya, tangannya dimasukkan ke dalam kotak. Alisnya mengernyit, sedang menebak, kira-kira apa ya?
"Buku kecil, tipis, ada dua buku, apa ya?"
Setelah merenung, Linda berbalik badan dan langsung memeluk Agam. Agam membuka dasi yang menutupi mata Linda.
"Apa kamu sudah bisa menebak itu benda apa?" Sambil menatap wajah cantik istrinya yang tampak bahagia.
"Hahaha, aku sudah tahu, kok," katanya.
"Oya?" Giliran pak Dirut yang terkejut.
"Aku bahkan sudah tahu sebelum pak Agam mengetahuinya," sambil tersenyum meledek. Pak Dirut kaget.
"Serius?"
"Hahaha, aku serius, Pak. Dua hari yang lalu, saat pak Vano datang ke sini, dia mengatakan kalau hari ini surat nikah yang kita urus-urus akan selesai. Hari ini juga Keivel akan dapat akta lahir, ya 'kan?"
"Apa? Sialan si Vano! Padahal saya sudah menyuruhnya agar tak cerita sama kamu."
Walau sedikit kesal, Agam tetap tersenyum. Lalu ia mendekap Linda dan membisikan sesuatu.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu resmi secara hukum negara menjadi nyonya Buana. Maaf karena surat itu datang terlambat. Terima kasih karena kamu mau melewati prosesnya dengan tanpa mengeluh dan selalu berada di sisiku."
"Sama-sama, Pak. Aku juga terima kasih atas cinta kasih dan pengorbanan Bapak untuk aku dan keluargaku." Sambil menangkup rahang pak Dirut, mata Linda berkaca-kaca.
"Terima kasih kembali, sayang. Kita rayakan yuk!" ajaknya.
"Dirayakan? Boleh, Pak. Tapi, mau ke mana kita?" tanya Linda.
"Kita akan pergi jauh sayang," kata Agam sambil tersenyum.
"Hah? Jangan jauh-jauh Pak. Kasihan ners Sinta dan suster Dini, nanti tak bisa libur kalau mengasuh Keivel terus," tolak Linda sambil mengusap dada bidang suaminya yang terlihat seksi karena sebagian kancing bajunya terbuka.
"Kita akan pergi ke surga dunia sayang, mari rayakan di atas ranjang," bisik Agam pelan. Lalu membopong Linda yang bengong. Pak Dirut tersenyum lebar.
"Apa?! Anda jahat ya, Pak! Kukira benar mau pergi ke suatu tempat, ishh," dengus Linda.
"Hahaha," pak Dirut malah tertawa.
Saat telah berada di depan kamar utama, Agam segera mendendang pintu kamar. Tidak ada kata protes lagi dari bibir Linda. Wanita elok rupa itu terlihat pasrah.
...❤...
...❤...
...❤...
"Lepaskan! Aku tidak bersalah! Aku tidak bersalah!" teriak Yuli sambil meronta-ronta.
Yuli adalah asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman orang tuanya Linda Berliana Brilliant.
"Jangan melawan! Anda terbukti sudah menjual berita tentang LB pada wartawan tanpa sepengetahuan atau izin dari LB. Anda juga sering membocorkan keberadaan LB ke media, dan terakhir, Anda tertangkap kamera CCTV mau membakar rumah orang tua LB!" tegas polisi sambil memasangkan borgol di pergelangan tangan Yuli.
"Huuu, aku minta maaf Pak. Aku janji akan berbuat baik."
"Sudahlah Yuli! Terima saja! Salah kamu tak mau bersyukur! Padahal, bu Ana dan pak Berli sudah memperlakukan kamu dengan baik, memaafkan kamu, bahkan memberi kesempatan padamu berkali-kali."
"Eh, kamu malah melakukan kesalahan lagi dan lagi. Wajar kalau pak Agam membela mertuanya dan menuntut kamu dengan pasal berlipat," kata salah seorang asisten rumah tangga yang merupakan temannya Yuli.
Hari ini, asisten rumah tangga itu akan menjadi saksi pada sidang perdana dengan Yuli sebagai terdakwanya.
"Kamu juga terbukti pernah menggoda pak Agam! Memalukan! Mana mau pak Agam sama kamu! LB itu masuk urutan jajaran artis cantik, tahu! Kok berani-beraninya kamu mau menggoda pak Agam!" ujar asisten rumah tangga yang lainnya.
"Semua itu fitnah, Pak Polisi! Fitnah! Aku wanita baik-baik!" teriak Yuli. Ia masih menyangkal kesalahannya.
"Kamu juga pernah iseng menukar tas LB saat LB dan pak Agam mau liburan. LB sampai pingsan dan masuk rumah sakit gara-gara terlambat memompa ASI."
"Diam kalian! Kalian dan aku sama-sama pembantu! Harusnya kalian membelaku!"
"Kalaupun aku pembantu, setidaknya aku adalah pembantu yang terhormat, tahu diri, dan tidak gatal seperti kamu! Lihat diri kamu! Baru punya kulit putih saja sombongnya minta ampun!"
"Huuuh." Yuli disoraki.
"Sudah-sudah jangan berteman!" kata polisi. Lalu menyeret Yuli menuju ruang introgasi.
...~Tbc~...