AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Remaining Breath For You



"Pak sa-sadar! Pak! Tolooong! Tolooong!" teriak Linda.


Linda berusaha keras menepis Agam. Saat ini, Agam tengah menciumi lehernya.


"Jangan gila Pak! Pak Agam! Sadar!"


"Emmh ...." Linda hampir saja tergoda, ia sedikit melenguh.


Dengan kekuatan penuh, Linda menjambak rambut Agam, lalu menggigit telinga Agam sekuat tenaga. Akhirnya, tercapai sudah sudah cita-cita Linda untuk menggigit telinga pria itu.


"Krek."


Suaranya bahkan terdengar jelas, mungkinkah tulang rawan telinga Agam retak? Ya, bisa jadi.


"Aaaa," teriak Agam. Ia mengerjap.


Saat Agam berteriak, dengan gerakan cepat Linda mendorong Agam. Tadi ketika mengambil earphone, matanya sempat menangkap ada kabel data di dashboard. Akhirnya Linda menggunakan kabel data itu untuk mengikat tangan Agam.


Ada sedikit rasa syukur karena Agam mabuk berat. Jadi, Linda tidak kesulitan melumpuhkan pria ini. Linda kembali melajukan kemudi, sesekali ia melirik pada Agam yang kembali tertidur, tapi bibirnya tidak berhenti senyum-senyum dan mengoceh.


Dan ocehannya itulah yang membuat telinga Linda benar-benar terganggu. Wajah Linda memerah kala mendengar Agam mendesah-desah tanpa sebab, sambil menggigit-gigit bibirnya sendiri.


"Aaaa! Diaaam! Aku bisa gila!" teriaknya.


"Kalau tidak salah dia punya dokter pribadi, harusnya di saat seperti ini aku menelepon dia. Tapi aku tidak punya nomornya."


"Eh, apa aku bawa dia ke klinik saja agar dapat obat penawar? Tapi ... nanti identitasku ketahuan dong. Pihak klinik pasti akan mempertanyakan penyebabnya padaku."


Linda dilema. Ia lalu mencoba menelepon nomor aneh yang tadi meneleponnya, tapi jawabannya membuatnya semakin bingung.


"The number you are calling isn't corret number."


"Aneh sekali," gerutu Linda.


Tidak ada cara lain yang lebih aman kecuali membawa Agam ke rumahnya. Dengan berat hati, Linda melewati begitu saja beberapa klinik dan rumah sakit. Hingga akhirnya ia sampai juga di depan rumah Agam.


***


Ternyata di dalam mobil itu ada remot otomatis untuk membuka gerbang. Linda mengusap wajahnya dan bersyukur kepada-Nya karena bisa membawa Agam pulang.


Walaupun kondisi pria itu tidak baik-baik saja, tapi setidaknya Linda bisa mengabulkan permitaan Agam untuk menolongnya.


Di bassement, Linda termangu. Sekarang ia bingung harus dengan cara apa membawa Agam ke kamarnya. Untuk menyeret Agam ke lift saja pasti memerlukan waktu.


"Aduh, bagimana ini?"


Linda gemetaran, apalagi saat matanya melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Untung saja Agam tidak berhasil membuka sabuknya. Kalau berhasil, wah bisa gawat. Entah sejak kapan benda itu terbangun, dan entah kapan juga akan tertidur kembali.


Ya ampun, Linda beberapa kali menutup mata. Tapi gilanya, sesekali ia juga mengintip di balik jari-jari tangannya.


Linda kemudian keluar dari mobil, mengusap dadanya, mengatur napas, dan mencoba berpikir menemukan ide untuk menangani Agam.


"Kolam renang?"


Sepertinya wanita itu telah menemukan ide. Area parkir memang bersebelahan dengan kolam renang.


"Orang yang sedang mabuk harus dimadikan, atau berendam di air hangat. Betul, aku ceburkan saja Pak Agam ke kolam renang. Semoga cepat sadar."


Dengan sedikit ketakutan, Linda membuka pintu kiri. Agamnya sih tertidur, tapi .... Linda kembali mengatur napas. Lalu perlahan melepas kabel data yang mengikat tangan Agam.


Namun ia terkejut saat melihat ada sedikit tetesan darah di leher Agam


"Darah?" Linda memeriksanya. Memegang perlahan kepala Agam.


Dan matanya membeliak, darah itu ternyata berasal dari telinga Agam yang ia gigit. Efeknya parah juga. Jejak gigi Linda melingkar di sana.


"Pak Agam," ia menepuk bahu Agam.


"Hmm ...." Jawab Agam.


Linda menarik tangan Agam untuk keluar dari mobil, pria itu sempoyongan, dan ....


'BRUGH.' Jatuh tersungkur pada lantai basement.


Linda membangunkannya lagi dengan susah-payah. Terpaksa merangkul dan memapah Agam dan diarahkan menuju kolam renang.


"Maafkan saya Pak Agam," ucap Linda saat ia mendorong tubuh Agam ke kolam renang.


'BYUR.' Agam tercebur. Cipratan airnya sampai membasahi baju Linda.


"Hahhh, tugasku hampir selasai." Linda sedikit bahagia.


"Apa?!"


Linda kembali terkejut karena Agam ternyata malah tenggelam. Harapan Linda Agam akan bangun, sadar, dan berenang. Tapi, saat ini keberadaan Agam malah tidak tampak sama sekali.


Linda panik, tanpa berpikir lama Linda langsung melompat berenang melayang di kedalaman 225 centi meter untuk mencari keberadaan Agam.


Terhenyak ketika ia melihat Agam tertelungkup di dasar kolam.


Pak Agam? Batin Linda berteriak. Ia takut terjadi apa-apa pada pria itu.


Dengan keterbatasan tenaganya. Linda membalikkan tubuh Agam dan memeluknya.


Linda berusaha menarik dan merengkuh Agam sambil berenang. Tapi ... tubuh Agam tinggi dan tentu saja berat. Bobot Agam tidak sebanding dengan Linda.


Ditambah juga Agam yang memakai celana panjang menyerap air, menyebabkan massa tubuh Agam menjadi semakin berat. Diperparah dengan kondisi Linda yang memakai rok berbahan jeans.


Pergerakan Linda terbatas, Linda kepayahan, sudah berusaha berenang dan mengambil napas ke permukaan, tapi ....


Gagal.


Ya Rabb, tolong kami.


Batin Linda bermunajat saat tubuhnya kehilangan kendali dan perlahan tenggelam jua.


Pak Agam ... maaf ... maafkan aku.


Merasa bersalah karena dialah yang mendorong Agam.


Kekuatan Linda hampir hilang, tangannya berusaha kuat untuk tetap memeluk leher Agam. Linda memeluk kuat pria itu, dan saat ini tubuh keduanya seperti akan tenggelam bersama.


Pak Agam ....


Apa kita akan meninggal bersama-sama? Bersama anak kita ....


Jahat sekali orang yang telah mencelakaimu ....


Linda mendekatkan wajahnya pada wajah Agam yang putih bersih dan memucat. Pria itu sepertinya telah meminum banyak air. Linda tidak tahu apakah Agam pingsan karena tenggelam, atau memang pingsan karena efek obat.


Pak Agam ... maaf ....


Linda memejamkan mata, lalu mencoba memberikan sisa-sisa oksigen di tubuhnya untuk Agam. Pria yang pernah memberinya cinta dan kehangatan dengan cara yang salah.


Bibir Linda gemetar saat bibirnya hampir menyentuh bibir Agam. Ia menekan dagu Agam agar mulut pria itu sedikit terbuka, lalu ....


Diberikannya ciuman itu pada pria yang telah mengambil first kiss-nya dan mahkotanya.


Linda memberikan sisa-sisa napasnya untuk Agam, padahal ... ia sendiri sangat membutuhkan napas itu untuk dirinya dan untuk janin yang dikandungnya.


Linda meniup dan mengulum bibir tipis itu dengan rasa yang beraneka. Malu, takut dan sedih.


Malu, malu pada Tuhan.


Takut, takut kehilangan Agam.


Dan Sedih.


Sedih, karena ternyata ... ia mencintai Agam.


Sementara ... suatu saat nanti ia harus rela meninggalkan Agam dan memberikan buah hatinya pada pria ini.


Bibirmu terasa dingin, lembut dan kenyal, tapi ... ada manis-manisnya. Batin Linda.


Dalam pagutan dramatis itu, batin Linda menjerit dan meratap. Air matanya menetes dan bercampur dengan air kolam.


Pak Agam, aku juga menginginkan anak ini ....


Pak Agam, bolehkah jika aku menolak memberikan anak ini padamu?


Aku juga ingin merawatnya, Pak ....


Pak Agam, bolehkah aku tetap bersamamu?


Pak Agam, aku mulai kerasan dan terbiasa dengan rumah ini. Aku nyaman saat berada di dekatmu ....


Anak ini milikmu, bolehkah jika aku juga ingin memiliki kamu?


Pak Agam, a-aku ....


Aku ....


Aku mencintai kamu.


Pak Agam, bisakah kamu mencintaiku juga?


Pak Agam ....


Tolong bertahan, hidup, dan berbahagialah.


Maafkan aku ... aku takut tidak bisa bertahan dan menyelamatkan anak kamu, eemm ... anak kita.


Pagutan Linda di bibir Agam perlahan terlepas, dan tangan wanita itu mulai terkulai dari leher Agam.


Mata Linda mulai terpejam, tangan kanan memegang perutnya. Lalu tangan kirinya berusaha meraih tangan Agam, namun ....


Gagal.


Padahal, jarak ujung jemari keduanya tinggal beberapa centi saja. Perlahan tapi pasti tubuh Linda dan Agam mulai tenggelam menuju dasar kolam renang.


Tidak ada respon dari keduanya. Hanya saja, sabuk Agam terlihat menyala dan berkedip-kedip.


❤❤ Bersambung ....