AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Pergi dan Kabar Kabur



"Sebal, sebal, sebaaal!" teriak Linda. Sambil memukuli dada pak Dirut. Yang dipukuli hanya senyum-senyum sambil melipat kedua tangan di dadanya.


"Ada apasih, Bu?" Pak Yudha yang sedang menyetir penasaran.


"Pak Agam mempermalukanku, Pak," keluhnya.


Linda masih geram dengan kejadian di ruang interogasi. Bisa-bisanya suaminya itu mencium bibirnya di hadapan banyak orang. Kalau hanya sekedar kecupan sayang sih, ya tak masalah. Tapi yang terjadi tadi adalah ciuman panas membara. Linda pastinya marah, malu dan juga kesal.


"Sudahlah sayang, jangan dibahas lagi. Sekarang kamu tidur saja. Nanti malam 'kan harus memomong bayi besar," goda Agam.


"Bayi besar itu maksudnya Anda? Maaf ya, bayiku hanya Keivel seorang!" tegas Linda. Pak Yudha terkekeh.


"Yakin bayi kamu hanya Keivel? Saya tak yakin tuh." Dengan percaya dirinya pak Dirut mengatakan kalimat itu.


"Yakin seyakin yakinnya!" teriak Linda. Rupanya kekeselan di dada Linda masih belum hilang.


"Kalau kamu bicara terus, jangan salahkan saya kalau saya mencium kamu lagi," ancam Agam.


"Haish!" dengus Linda.


Linda ingin marah lagi, namun ponsel Agam keburu bedering. Terpaksa deh, si cantik tutup mulut karena tak ingin mengganggu percakapan suaminya.


"Halo," sapa Agam.


Yang menelepon ternyata adalah nomor asing yang pernah menelepon sebelumnya dan menanyakan keberadaan pangeran Enver.


"Pak Agam, Anda jangan menipu kami! Kami sudah mendatangi alamat yang Anda berikan. Tapi pangeran Enver tak ada di tempat. Yang kami temukan hanya kucing hitam dan barang-barang!" teriak suara di ujung telepon yang tentu saja menggunakan bahasa asing.


"Saya sudah memberikan alamat yang sesungguhnya tanpa rekayasa! Jika pangeran Enver tidak ada di tempat, maka itu bukan salah saya! Mungkin dia telah pergi sebelum kalian datang!" teriak Agam, tak mau kalah.


"Dari mana pangeran Enver bisa tahu kalau utusan kerajaan akan datang? Apa Anda yang memberi tahunya?!" tuduh penelepon itu.


"Bicara atau tidaknya saya dengan pangeran Enver, bukan urusan kalian! Yang jelas, saya tidak akan mudah ditipu! Bisa jadi 'kan kalian hanya mengaku-ngaku sebagai utusan dari kerajaan untuk mencari pangeran Enver, padahal aslinya kalian adalah pengkhianat atau musuh keluarga kerajaan yang ingin membunuh pangeran Enver!" Lagi, Agam tak ingin kalah lantang dan galak dari mereka.


"Anda lancang menuduh kami! Kalau Anda tak percaya, mari kita bertemu! Kami akan menunjukkan pada Anda segel dan stempel resmi kerajaan untuk membuktikan pada Anda kalau kami benar-benar utusan resmi kerajaan!" tegas si penelepon.


"Saya tak peduli!" teriak Agam. Lalu ia mengakhiri panggilan secara sepihak.


"Dari siapa sih, Pak? Kok sampai marah-marah?" tanya Linda.


"Tak perlu tahu sayang. Mereka tidak ada hubungannya dengan kamu."


Agam tak ingin Linda mengetahui masalah ini dan membebani istrinya. Agam berpikir tugasnya untuk menolong Mister X telah usai.


Jujur, Agam tak tahu apakah penelepon itu benar-benar utusan kerajaan atau bukan. Makanya, karena tak ingin terjadi kesalahan dan membahayakan Mister X, Agam memutuskan untuk memberitahu pria misterius itu jika pangeran Enver Xzavier sedang dicari.


Jika memang benar Mister X meninggalkan rumah rahasia, itu artinya, Mister X punya alasan pribadi yang menyebabkan ia memilih bersembunyi dan tidak mau ditemukan oleh utusan tersebut.


"Ya sudah, aku tak mau tahu lah," kata Linda sambil menyandarkan kepalanya di bahu Agam.


Agam membelai rambut istrinya. Lalu pria itu melamun karena ingat akan permasalahannya dengan sang adik. Terakhir ia menelepon Gama melalui ibundanya, Gama mengatakan tidak ingin bicara dengannya karena marah.


"Hmm."


Pak Dirut menghela napas. Saat ini, hampir seluruh musuh telah berhasil ia taklukan. Namun ia tak menyangka jika adiknya sendiri tiba-tiba memusuhinya.


Gama, maafkan Kakak ya, jerit Agam dalam benaknya.


Namun penyesalannya tiada guna karena Gama telah sah bergabung dengan BRN. Bahkan nama Gama telah diketahui dan diresmikan oleh Presiden dan Federasi BRN Internasional.


...❤...


...❤...


...❤...


Setelah tiga jam perjalanan, mobil bus yang ditumpangi Mister X dan Senja tiba-tiba mogok di tengah jalan. Penumpang diperintahkan untuk turun dan beralih ke kendaraan lain. Lucunya, yang menjadi penumpang hanya tersisa Senja dan Mister X.


"Kak, bagaimana ini?" Senja kebingungan.


Ternyata kebingungan Senja tak seberapa jika dibanding dengan kebingungan Mister X. Ya, Mister X bingung karena hari mulai petang dan kendaraan umum yang melintasi daerah ini sangat terbatas dan jarang.


Mister X sudah bertanya pada supir untuk meminta solusi. Dan pak supir menyarankan agar Senja dan Mister X menginap dulu di penginapan dan baru melanjutkan perjalanan pada esok harinya.


"Ini bus terakhir, Tuan. Setelah ini tak ada bus lagi. Ada lagi bus ke utara besok pagi sekitar jam lima," terang pak supir.


"Oh, begitu ya. Terima kasih infonya, Pak." Mister X lantasi kembali mendekati Senja yang duduk di sana. Tepatnya di seberang jalan.


"Senja, kita harus ke penginapan. Kita akan melanjutkan perjalan besok pagi. Kita berada di daerah pinggiran. Jadi tak bisa memesan taksi online dari sini," terang Mister X.


"Tak masalah, Kak. Tapi daerah ini ramai, kan?" Sambil menajamkan pendengarannya karena merasa sepi.


"Emm, lumayan ramai," jawab Mister X.


Padahal, saat ini mereka tengah berada di sisi jalan raya yang diapit oleh perkebunan luas kelapa sawit di sini kanan, dan perkebunan karet di sisi kiri.


"Pegang tanganku," kata Mister X.


"Mau ke penginapan sekarang?"


"Ya," jawab Mister X singkat.


Sebenarnya, di lubuk hati Mister X, ia masih mengkhawatirkan Agam Ben Buana. Ia takut Agam atau keluarganya terancam keselamatannya gara-gara Agam membiarkannya pergi dari rumah rahasia itu.


"Senja, apa kamu lelah?"


"Tidak," jawab Senja, berbohong.


Sebab aslinya kakinya mulai lelah. Senjapun merasa heran sebab dari pendengerannya, tempat ini sangat sepi. Tidak terdengar kendaraan melintas ataupun suara manusia yang sedang bercengkrama. Yang terdengar justru suara kicauan burung.


"Kak, sebenarnya kita akan ke mana? Apa kita sudah pergi jauh dari kota?"


"Benar," kata Mister X.


"Apa?! Ki-kita mau kemana memang, Kak?" Langkah kaki Senja berhenti sejenak.


"Rencananya, kita akan pergi ke Waroulaut. Apa kamu pernah mendengar nama daerah itu?"


"I-iya, aku pernah dengar. Itu tempat kelahiran nona Aiza, kan?"


"Kamu benar. Dulu, saat aku bekerja untuk tuan Deanka, aku pernah pergi ke sana. Aku sudah melihat bagaimana indahnya pemandangan di sana dan melihat bagaimana masyarakatnya sangat bersahaja. Di sana ada kawasan suku adat yang dipimpin oleh Tetua. Nah, aku ingin membawamu ke sana agar kamu aman," jelas Mister X.


"Selain itu, aku juga sebenarnya sedang menghindar dari kejaran sebuah kelompok. Aku merasa jika Waroulaut adalah tempat yang tepat untuk kita bersembunyi," tambahnya.


"Oh, oke. Aku mengerti, Kak."


...***...


"Wah, itu dia penginapannya." Mister X bahagia.


Setelah berjalan cukup jauh, tiba juga akhirnya ke tempat yang dituju. Sebuah penginapan sangat sederhana yang entahlah di dalamnya seperti apa.


"Masih ada satu kamar kosong. Mau berapa malam?"


Belum juga Mister X berbicara, pelayan penginapan itu sudah mendahului pembicaraan.


"Hanya sisa satu kamar?" Mister X kebingungan. Masa ya, ia dan Senja satu kamar?


"Ya Tuan, kalau mau pesan silahkan. Kalau tidak mau, silahkan pergi dan tidur di jalanan karena di daerah ini tidak ada penginapan lagi selain penginapan ini."


Ya ampun, penginapan macam apa ini?


Mister X heran, kok ada pikirnya trik marketing semacam ini. Sangat tidak masuk akal.


"Oiya, kalau malam di daerah ini banyak binatang buas. Ada b a b i hutan, serigala, dan harimau. Jadi hati-hati saja ya Tuan. Takutnya, saat Anda memutuskan tidak mau menginap dan memilih tidur di pinggir jalan, Anda atau istri cantik Anda diterkam oleh salah satu dari binatang yang saya sebutkan tadi," lanjut pelayan tersebut.


"Apa?!" seru Mister X dan Senja. Senja bahkan langsung memeluk lengan Mister X dan berkata ....


"Kak, a-aku takut diterkam serigala atau harimau. Aku juga takut diinjak-injak b a b i hutan. Tidak apa-apa kita satu kamar saja. Yang penting kita selamat," kata Senja.


Mister X garuk-garuk kepala. Justru, dengan mereka sekamar, Mister X tak bisa menjamin keselamatan Senja dari terkamannya.


Kalau kita sekamar, aku bisa menerkam kamu, Senja. Batin Mister X.


"Selain ada harimau, b a b i hutan, dan serigala, ada anjing hutan juga. Daerah ini memang terkenal keangkerannya. Di kebun sawit itu pernah ditemukan kerangka manusia. Pernah juga ditemukan tubuh manusia yang tak lagi utuh alias sudah terkoya-koyak. Ihhh, menyeramkan," terang pelayan itu sambil bergidik ngeri.


"Kak, takuuut." Senja semakin panik.


"Sabar, aku sedang cari ide. Bu, kami belum jadi pasangan. Kami baru pacaran. Jadi, kami tak bisa menginap di satu kamar," jelas Mister X.


"Satu atau dua kamar sama saja, karena yang beperan penting adalah manusianya bukan jumlah kamarnya. Kamarnya dua juga percuma saja kalau manusianya tidak benar. Namanya juga s e k s bebas, ya berarti bebas dilakukan di manapun. Di luar kamar penginapan ini kalian bisa melakukannya, kan?"


Keterangan pelayan tersebut begitu frontal. Mister X melongo. Senja apalagi. Gadis itu melongo sambil membelalakan matanya.


"Pacarku pria baik, Bu!" teriak Senja. Ceritanya sedang membela Mister X.


"Hahaha, ya ya ya saya percaya. Ya sudah, kalian mau menginap atau tidak? Kalau tidak, silahkan pergi," usirnya.


Mister X sampai menelan saliva kasar saking anehnya pada pelayan itu. Padahal, di penginapan lain seorang resepsionis biasanya diharuskan bersikap ramah-tamah. Tapi di sini malah sebaliknya.


"Kak, kita menginap di sini saja. Tidak apa-apa satu kamar. Nanti, aku tidur di kasur, Kakak tidur di kamar mandi," kata Senja dengan polosnya.


"Apa?!"


Mister X kaget. Andai saja Senja tahu identitas asli Mister X, Senja pasti akan menyesali ucapan tersebut seumur hidupnya.


"Hahaha." Bu pelayan jutek terbahak-bahak mendengar penuturan Senja.


"Baiklah, kita akan menginap di sini." Terpaksa Mister X menyetujui karena tak ada pilihan lain.


"Nah, begitu dong. Ini kuncinya. Kamarnya nomor 13. Paling ujung sebelah kanan," jelas pelayan tersebut.


Mister X segera mengambil kuncinya. Lalu ia dan Senja bergegas ke kamar yang dimaksud.


...***...


"Wah, akhirnya bisa bertemu dengan kasur juga," seru Senja.


Setelah meraba keberadaan kasur, Senja segera merebahkan diri. Terlentang pasrah begitu saja dan seolah melupakan pria di sampingnya yang saat ini sedang menatapnya sambil mengerjapkan mata.


"Senja, kamu harus mandi dulu. Aku tunggu di luar. Kalau kamu sudah selesai, aku juga 'kan mau mandi," kata Mister X sambil mengeluarkan perlengkapan mandi, handuk, bahkan pakaian ganti untuk Senja. Termasuk pakaian dalam gadis tersebut.


"Hmm, aku ngantuk," keluh Senja.


"Nanti istirahatnya setelah kamu mandi. Cepat! Aku simpan sabunnya di kamar mandi ya. Baju ganti kamu aku simpan di atas tempat tidur."


Setelah mengatakan itu Mister X keluar.


"Oiya, aku juga mau beli makanan untuk kita, cepat mandinya ya. Jangan lama-lama," tambahnya saat ia berada di ambang pintu.


"Oke, Kakak cerewet sekali seperti nenekku," protes Senja.


Setelah mengatakan itu, Senja melamun sejenak karena tiba-tiba merindukan sang nenek yang telah pergi ke haribaan-Nya.


.


Senja telah mandi dan mengganti pakaiannya. Ia sedang menyisir rambutnya saat Mister X datang. Wangi sabun dari tubuh Senja menguar menabrak hidung Mister X.


"Wah, sudah wangi, nih." Sambil meletakan makanan di meja kecil terbuat dari kayu yang ada di kamar tersebut.


"Ya dong wangi. Ya sudah, Kakak cepat mandi. Oiya, aku sudah mencuci bajuku. Tapi masih di ember. Belum aku gantung," terang Senja.


"Tak apa-apa, serahkan padaku." Sambil melucuti bajunya.


Andai Senja melihat bentuk tubuh Mister X, gadis itu mungkin akan pingsan. Sungguh, tampak sebelas dua belas dengan aduduhnya tubuh Dirut HGC.


"Nanti kita makan bersama setelah aku mandi," katanya.


Kemudian bergegas ke kamar mandi. Hanya menggunakan boxer dan handuk yang dililitkan di leher. Kebiasaan Mister X memang seperti itu, melilitkan handuk di lehernya.


Setibanya di kamar mandi Mister X tercengang.


Bagaimana tidak?


Ember dan seluruh baju Senja termasuk pakaian dalamnya, terlihat mengambang di dalam bak mandi. Mungkin maksud gadis itu diletakan di sisi bak. Tapi faktanya, malah ditenggelamkan.


"Ya ampun, Senja."


Mister X meringis saat mengambil segitiga dan kaca mata bahan kain berwarna pink dari bak tersebut. Tak sadar, ia spontan meremas kacamata tersebut. Lalu menatap si segitiga pink yang terlihat mungil dan lucu karena ada pitanya.


"Kak, jangan melakukan apapun pada pakaian dalamku ya, hahaha." Goda Senja dari luar.


Mister X kaget. Ia berpikir, kok bisa gadis itu menuduhnya dengan sesuatu yang kebetulan sedang terjadi?


"Sorry, ya. Aku tak ada beselera!" teriaknya sambil cepat-cepat memasukkan seluruh pakaian Senja ke dalam ember dan menutupnya rapat-rapat.


"Yakin tak beselera? Hahaha." Senja kembali berulah.


"Bisa diam tidak?!" teriak Mister X sambil memukul pintu kamar mandi.


"Hahaha," di luar, Senja terbahak-bahak.


"Awas kamu ya!" ancam Mister X.


"Hahaha, maaf Kak. Cepat ya mandinya, aku lapar."


Ternyata, Senja menggoda Mister X karena kelaparan. Walaupun Senja tak bisa melihatnya, Mister X tetap memakai pakaiannya di dalam kamar mandi. Baru keluar dari kamar mandi setelah ia rapi.


Mister X melepas maskernya. Tapi selalu menunduk. Wajahnya tidak terlihat jelas. Ia segera menghidangkan makanan dan mengajak Senja untuk makan. Makannya juga sambil menunduk, tak bicara dan tak bersuara. Mereka makan dalam keheningan.


.


.


Malam beranjak larut. Senja tidur di atas tempat tidur. Yaitu sebuah ranjang dengan ukuran kasur 200x180 cm. Lebar kasurnya bahkan lebih kecil dari tinggi Mister X. Senja terlelap sambil memeluk guling dan berselimut.


Sementara Mister X terlihat meringkuk di lantai. Ia beralaskan bedcover milik penginapan. Tubuhnya diselimuti hoodie.


Lalu entah di jam berapa samar-samar terdengar suara anjing melolong, melengking, hingga menegakkan bulu kuduk siapapun yang mendengarnya.


Tring, mata Senja terbuka lebar. Suara itu jelas mengganggunya karena membuat gadis ketakutan. Lalu ....


"Auuuwww, auuuwww."


Yang itu terdengar seperti lolongan serigala. Bulu kuduk Senja merinding, ia semakin ketakutan. Segera menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Namun suara itu terus terdengar. Bahkan kian jelas seperti mendekat ke penginapan.


"Kak ...," panggilnya.


Tak bisa dibayangkan bagaimana takutnya Senja di dalam dunia gelap gulitanya. Sebenarnya, Senja tentu saja tidak takut dengan kegelapan. Namun suara-suara itulah yang membuatnya takut.


Senja bangun, segera meraba sekitaran sambil memanggil nama Mister X.


"Kak Exam, kamu di mana? Huuu, a-aku takut," katanya. Sayangnya, Mister X rupanya benar-benar terlelap.


"Kak Exam!"


Senja mengeraskan suaranya manakala suara lolongan anjing bersahutan dengan suara burung hantu.


"Se-Senja?"


Syukurlah, Mister akhirnya X terjaga. Segara bangun dan meraih tangan Senja yang saat ini berada di depan kamar mandi.


"Apa Kakak tidak mendengar suara itu? Aku takut, aku tak bisa tidur."


"Itu hanya suara binatang. Tenang ya. Mereka tak mungkin kemari." Memapah Senja untuk kembali ke tempat tidur.


"Tapi suaranya semakin dekat, Kak."


"Ssst, tak apa-apa. Mungkin sedang mencari mangsa. Kan kita ada di kamar. Tenang ya." Merebahkan Senja dan menyelimutinya.


"Kak, jangan kemana-mana, temani aku." Senja bergelayut di lengan Mister X.


"Se-Senja, ja-jangan begini. Ini bahaya." Mister X gugup.


"Sebentar saja Kak, sampai anjing-anjing itu berhenti bersuara. Kumohooon," ratapnya.


"Hmm, ba-baiklah." Terpaksa merebahkan kepala pada bantal yang di ada di sisi Senja."


"Khrrrmm." Ada sayupan suara lain.


"Hahh, Kak ... i-itu suara apa lagi?!" Senja spontan memeluk bahu Mister X.


"Sepertinya itu suara harimau."


Mister X akhirnya waspada. Ia meraih tas kecil miliknya yang berisi pistol untuk jaga-jaga. Ternyata, cerita pelayan itu bukan isapan jempol. Di daerah ini memang banyak binatang buas yang berkeliaran.


"Kak, apa kita sedang berada di hutan belantara? Kenapa banyak sekali hewan pemangsa?"


Napas Senja tak beraturan, naik-turun dengan cepat, dan tubuhnya semakin menempel di dada Mister X.


Mister X memejamkan mata. Dari jarak sedekat ini, bibir Senja terlihat seolah sedang menggodanya. Dan di bagian dada itu ....


Tidak.


Mister X ketakutan. Bukannya takut dengan binatang buas. Ia justru takut jika dirinya berubah menjadi binatang buas dan memangsa Senja.


"Kak ... huuu ... takut ...." Senja menangis, dan tanpa bisa dicegah lagi, Senja memeluk tubuh Mister X.


Deg, jantung Mister X bertingkah. Sentuhan Senja membuatnya tergugah secara alamiah dan naluriah. Di bawah sana, ada sesuatu yang tiba-tiba terasa sesak dan menyempit.


"Se-Senja, k-kamu yakin mau memelukku seperti ini?"


"Ssst, Kak ... jangan banyak bicara." Memeluk kian erat. Mister X keringat dingin.


"Arghh ..., Senja, tunggu ya. Aku mau buka baju. A-aku gerah, aku kepanasan."


Mister X duduk sejenak untuk melepas bajunya. Jadilah pria itu bertelanjang dada.


"K-Kak? Emh ...."


Senja panik. Ia tak sengaja menyentuh tumpukan pejal yang menghiasi tubuh Mister X.


Namun suara geraman harimau membuyarkan ketakutan Senja hingga kembali memeluk Mister X.


Deg, Senja tersadar. Ia merasa sedang memeluk tubuh seorang pria dewasa yang terpahat indah. Jantungnya berdegupan. Bibirnya terbuka lebar karena kaget.


Lalu ... saat Senja hendak berkata. Tiba-tiba saja, sesuatu yang lembut dan kenyal menempel di bibirnya.


Apa ini?


Batin Senja bergejolak. Dan saat keterkejutannya masih dalam mode on, sesuatu itu telah begerak lembut menelusuri bibirnya. Senja mematung. Tubuhnya mendadak kaku.


Ternyata, sang pangeran tak kuasa menahan diri. Ia memagut bibir ranum yang tak pernah terjamah itu dengan tangan gemetaran. Ini yang pertama kali untuknya. Ini ciuman pertama milik sang pangeran.


Napas Mister X jadi gaduh. Rasa ini terasa asing, sedikit aneh, tapi candu. Senja meremang, karena kepolosannya, gadis itu sampai tak bisa bernapas.


Senja tak sadar jika tubuhnya sedang berada dalam bahaya. Semoga pangeran lekas sadar dan tak tejerembab dalam dosa yang lebih besar lagi.


Saat Senja megap-megap, Mister X menghentikannya. Senja mengambil udara banyak-banyak.


"Kak, a-apa yang dilakukan tadi itu cap bukti atau tanda kalau kita sudah pacaran?" tanya Senja dengan polosnya.


"Emm, a-apa? I-iya, be-benar," jawab Mister X sambil menutup wajahnya karena malu.


Mister X sadar diri dan ingin segera meminta maaf pada Senja karena telah melakukan perbuatan tak patut itu.


"Kak, a-ayo lakukan lagi," ajak Senja dengan pipi merona.


"A-APA?!" Mister X, TERKEJUT!!


"Ta-tadi itu rasanya a-aneh, Kak. Ta-tapi, kok a-aku suka ya?"


Gubrak. Mister X mati kutu.


"A-ayo, lagi Kak," desak Senja.


Lagi? Jangan! Lagi? Jangan! Mister X dilema.


...❤...


...❤...


...❤...


"Maaf Pak, ada telepon dari ibu Anda. Katanya sudah menelepon Anda tapi tak aktif," jelas Pak Yudha. Menyodorkan ponselnya pada Agam yang saat ini tengah sarapan bersama Linda.


"Ponsel saya memang sengaja dimatikan," kata Agam.


Semalam, pak Dirut sengaja mematikannya agar aktivitasnya bersama Linda tidak terganggu oleh siapapun. Semalam, Agam menggila setelah melihat Linda melakukan olah raga pole dance di kamar mereka.


"Halo, Bu," sapa pak Dirut.


"Ben, Gama kabur dari rumah pemulihan, bagaimana ini, Ben?" Bu Nadia panik.


"Apa?! Gama kabur?!" Pak Dirut teperanjat.


"Benar, Ben. Dan dia menulis surat yang isinya larangan untuk mencarinya. Dia juga mengatakan tidak akan merugikan BRN. Dia hanya butuh ketenangan untuk memulihkan ingatannya dengan caranya sendiri tanpa ada bantuan dari siapapun," jelas bu Nadia.


"Ya ampun, Gam." Agam tertunduk lesu. Nafsu makannya hilang seketika.


...~Tbc~...


...Pokoknya, nyai akan menunggu komentarnya....