
~Pulau Jauh~
Malam ini Linda sangat bahagia, bagaimana tidak?
Ayah, ibu, dan adik kembarnya tengah berada di sampingnya. Suasana kamar VVIP itu sangat ramai. Satu hal yang melengkapi kebahagiaan Linda adalah kehadiran si dia. Ya, dia yang paling tampan. Agam Ben Buana. Suaminya.
Namun kebahagiaan Linda sedikit terganggu saat Agam menerima panggilan telepon dari seseorang pada pukul sembilan malam lewat dua belas menit.
"El, tunggu, saya keluar dulu."
Agam meminta izin, karena sedang ramai, ia tidak mungkin menerima telepon di dalam ruangan.
"Jangan lama-lama ya," ucap Linda sambil membelai rambut Yolla dan Yolli yang tertidur di sisi kiri dan kanannya.
Ayah Berli dan bu Ana sedang keluar. Sang bayi tertidur, sementara Pak Yudha dan tim medis tampak sedang mengobrol di sisi lain ruangan tersebut.
.
.
.
.
"Halo, Gama? Ada apa? Di mana kamu, hahh?"
"Huuu, Kak ... tolong aku Kak .... Kumohon tolong aku Kak. Aku harus bagaimana? Please ...." Suara Gama mengagetkan Agam.
"Gama! Kamu jangan membuat Kakak gila, ya! Ada apa?! Kamu tidak membunuh orang, kan?!"
Agam sampai berteriak. Ia berada di salah satu lorong sepi rumah sakit tersebut.
"Tidak, Kak .... Aku tidak membunuh. Tapi ... huuhuu. Aku ---."
"Gila kamu ya! Kenapa kamu menangis?! Jangan membohongi Kakak ya!" teriaknya lagi.
"Kak Agam, aku janji. Ini adalah permohonan terakhirku, kalau Kakak tidak menolongku, rasanya aku lebih baik mati saja. Aku malu, Kak ... aku malu ... aku bingung. Hanya Kakak yang bisa membantuku saat ini."
"Ya ampun, katakan! Maumu apa, hahh?! Kakak saja sedang pusing sekarang. Kamu tahu kasus Kakak, kan? Tolong Gama, mengertilah perasaan Kakak. Katakan, berapa uang yang kamu mau? Satu milyar?"
"Huuu ... Kak ... aku tidak butuh uang, aku hanya ingin bertemu dengan Kakak saat ini juga. Aku tidak bisa mengatakan di telepon. Aku harus menjelaskannya secara langsung."
"Gama! Jangan bertele-tele! Atau Kakak tutup teleponnya! Kalau butuh bantuan, asal kamu mengaktifkan lagi cip pelacaknya, Kakak bisa memerintahkan anak buah Kakak untuk menolongmu, sudah ya!"
"Kak tunggu. Sudah aku katakan hanya Kakak yang bisa menolongku, aku tidak mau ditolong siapapun kecuali Kakak, kumohon Kak ... atau ...."
"Atau apa?"
"Atau Kakak tidak akan melihat aku lagi."
Agam mengusap dadanya. Mencoba menenangkan emosinya yang meluap.
"Katakan, ada apa? Apa alasannya? Cepat katakan."
Suara Agam mulai terkendali. Mana mungkin ia berani membiarkan adik tercintanya berada dalam kesulitan.
"Kak ... a-aku dijebak."
"Dijebak?"
"Huuu iya Kak .... A-aku diracun dengan obat kuat, bukan aku saja, ada orang lain yang jadi korban juga, huuu ---."
"Maksudmu?! Jangan cengeng! Jangan menangis! Coba jelaskan perlahan. Oiya, Kakak mendengar ada suara ombak, sebenarnya kamu kenapa? Dan kamu di mana sih, Gamayasa Val Buana?!" Agam meninggi lagi. Ia mondar-mandir dan gusar.
"Kak ... pokoknya Kakak harus menemuiku malam ini juga, aku ada di pesisir pantai kota, tolong aku Kak ... please ... please ... setelah ini ... aku janji tidak membantah Kakak lagi, aku akan melakukan apapun yang Kakak mau. Aku tidak akan menentang lagi."
"Baik, Kakak pegang kata-katamu. Tapi, Kakak baru bisa menemuimu jam tiga pagi. Perjalanan udara dari sini ke kota lumayan jauh."
"Apa?! Memangnya Kakak di mana?"
"Kamu tidak perlu tahu."
Agam mengakhiri panggilan. Lalu kembali ke kamar perawatan.
.
.
.
.
"Pak Agam, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" Pak Yudha khawatir melihat wajah Agam murung.
Linda menatap dari kejauhan sambil mendengarkan perbincangan Pak Yudha dan suaminya.
"Pak Yudha dan tim medis tetap di sini, saya mau pulang lebih awal."
"Apa? Ada apa, Pak? Bukankah masalah HGC akan Anda tangani besok?" Pak Yudha heran, pun dengan Linda.
"Ada hal yang mendesak." Sambil mendekat ke arah Linda.
Pak Yudha terdiam.
"Sayang, tidak apa-apakan? Kamu ikhlas, kan?"
"Kalau memang sangat mendesak tidak apa-apa, Pak. Aku akan berdoa semoga lancar. Oiya, untuk permasalahan HGC aku juga ingin dilibatkan." Linda memegang tangan Agam.
"Ya sayang, besok saya akan preskon dan mengundurkan diri dari HGC."
Tim medis dan Pak Yudha terkejut mendengar keputusan Agam.
"Aku mendukung," ucap Linda.
"Terima kasih, El. Saya tidak akan mengorbankan HGC. Dengan saya mengundurkan diri semoga saham HGC kembali ke posisi teratas."
"Tapi, bagaimana dengan rival asing itu, Pak? Bukankah mereka mengincar kursi Dirut?"
"Emm, pasti sih. Tapi, saya yakin tuan Deanka dan tuan Bahir tidak akan tinggal diam."
Agam dan Linda kemudian berpelukan. Linda menangis.
"Tugas saya apa, Pak?" tanya dokter Dani.
"Dokter Dani ikut dengan saya. Besok, Anda harus ke sini lagi. Tugas Anda adalah mendampingi paman Setyadhi pindah dari rumah sakit The Number One ke rumah sakit ini," jelas Agam.
"Baik," sahut dokter Dani.
Agam mencium kening Linda sebelum pergi, lalu mencium perlahan putranya yang terlelap. Terakhir mengelus pipi si kembar. Adik iparnya yang sangat menggemaskan.
Agam bahkan tidak menunggu dulu kedatangan ayah Berli yang ternyata sedang mengantar bu Ana untuk konsultasi kesehatan.
Ya, seperti diketahui sebelumnya, ibunya Linda memang sakit, namun sakitnya itu lebih cenderung ke sakit psikis karena terlalu memikirkan Linda. Dan di daerah Pulau Jauh, ada praktik jam malam untuk konseling kesehatan di bidang psikiatrik.
Perpisahan itu akhirnya terjadi jua, ingin rasanya Agam memagut bibir Linda sebelum ia pergi, tapi sayang semua hanyalah angan-angan. Akhirnya ada ide, yaitu dengan cara mengirim pesan ke ponsel Linda.
"I love, i wanna kiss you, my dear." Tulis Agam.
"Me too, my husband." Balas Linda.
Lalu berbagi stiker yang sedikit mewakili perasaan keduanya.
Linda merelakan kepergiaan Agam dengan deraian air mata. Doa terlontar di bibirnya.
Semoga kerunyaman ini segera berakhir. Dokter Rita mengikat rambut Linda, ia seolah tahu bagaimana sedihnya perasaan Linda saat ini.
Menjadi LB, memang sempurna, cantik, terkenal dan menjadi istri pria tampan yang kaya-raya. Tapi ... melihat bagaimana LB sering murung, aku jadi berpikir dua kali jadi artis terkenal. Batin dokter Rita.
"Hmm," tak sadar ia mencium rambut Linda.
Kapan lagi bisa menyisir dan mencium rambut artis, ya kan?
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Untungnya penerbangan darurat tersedia. Agam bisa terbang ke kota malam ini juga.
"Vano, adik saya ada di pesisir pantai kota, kamu amankan lokasi di sana, perintahkan anak buah saya untuk ke sana. Tapi ingat, jangan ada yang mendekat. Cukup amankan saja, ingat itu! Adik saya aneh. Baru kali ini saya mendengarnya menangis. Dia katanya dijebak. Kumpulkan barang bukti sekecil apapun."
Itulah pesan Agam yang ia kirim pada Vano sebelum lepas landas.
"Syukurlah kalau Anda segera pulang. Ada masalah apa lagi dengan Gama? Masalah Anda saja belum usai. Kepala saya mungkin sudah pecah andai bukan Yang Maha Kuasa yang membuatanya. Sampai-sampai saya tadi makan rujak dan bakso pedas. Mohon doanya semoga perut saya baik-baik saja."
Pesan balasan dari pengacara Vano sedikit monohok. Mungkin maksudnya untuk menggoda Agam, tapi sayangnya yang bisa menggoda Agam hanya Linda.
"Bagaimana dengan HGC dan perkembangan berita itu?"
"BRN bagaimana? Apa ada kabar terbaru?"
Agam mengirim lagi pesan saat heli sudah mengudara. Batinnya kacau-balau. Ia menatap bintang yang berkedipan dengan pandangan sendunya.
Daerah Pulau Jauh kian luput dari pandangan, yang tampak dari udara hanyalah titik-titik cahaya yang semakin mengecil.
Benar, aku harus segera mengakhiri kemelut ini.
Agam memijat kepalanya, tangisan bayi, tatapan Linda, dan tangisan Gama memenuhi kepalanya.
Belum lagi ribuan bullyan yang ia terima di media sosialnya. Akunnya memang jarang aktif, tapi sesekali Agam mengeceknya.
Iapun tahu jika saham HGC menurun drastis gara-gara kasusnya.
Jika diulang dari awal, semua kekacauan ini jelas berawal dari dua kata yaitu ... n a f s u dan amarah.
Di balik masker bibirnya tersenyum getir, dan balik kaca mata hitam itu, maniknya basah.
Mungkin sudah terjun dari heli andai tidak ada iman di dadanya. Beban Agam kian bertambah saat ia tiba-tiba kesulitan menghubungi ibundanya.
Pada akhirnya, hanya bisa berusaha, bersabar, dan berserah diri kepada-Nya.
Tekad Agam sudah bulat, ia akan mengundurkan diri dari HGC dan dari jabatan lainnya sebagai ketua sebuah organisasi yang bergerak di bidang pelestarian laut dan reboisasi hutan.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
~Pesisir Pantai Kota~
Setelah menelepon Agam, Gama kembali terisak. Ia berada di luar mobil, menyandarkan tubuhnya pada badan mobil sambil menatap jauh ke arah laut.
Tapi ....
BUKAN, ini BUKAN mimpi.
"Apa aku dikutuk? Kenapa?" keluhnya.
Penyesalan itu menyesakkan dadanya. Ini memang bukan kesalahannya, tapi ... andai Freissya tidak ia ajak ke pesta itu ... mungkin gadis itu tidak akan menjadi korban.
"Siapa yang tega melakukan ini padaku? Siapapun kamu, kamu PECUNDANG!"
Gama memandangi kamera kecil yang digenggamnya. Sistemnya sudah ia nonaktifkan.
Lalu berdiri perlahan dan mengintip di balik kaca. Freissya masih terlelap. Gama sudah merapikan kembali pakaian gadis itu. Dadanya kembali sakit, batinnya teriris-iris. Kemudian berjongkok kembali dan memeluk lututnya. Airmatanya terus mengalir.
Tiba-tiba teringat akan bapak dan mamanya Freissya. Mereka pasti menunggu kabar dari putrinya. Gama kembali ke dalam mobil. Kejadian panas itu ternyata terjadi di kursi bagian tengah.
"Ice ... apa yang harus aku katakan padamu?" Ia mengecup kening gadis itu.
Gama mengambil ponsel milik Freissya, berpikir harus memberi kabar pada orang-orang terdekatnya.
Ponselnya memakai kunci pengaman pola, dan dengan kemampuannya, Gama bisa membuka polanya hanya dalam dua kali percobaan, LUARRR BIASA!
Ia kemudian mempelajari gaya bahasa dan cara Freissya menulis pesan. Setelah merasa yakin, ia mulai menulis pesan dengan tangan gemetar.
"Mama, aku menginap di rumah temanku. Temanku sakit, dia sendirian di rumahnya. Mama-papanya keluar kota. Aku harus menemaninya. Tidak apa-apa ya Ma, selagi aku bebas dinas dan libur. Mama dan bapak tidak perlu khawatir."
"Kak Gio, sekarang pria itu tidak akan mengganggu hubungan kita lagi. Oiya, libur kali ini aku banyak agenda antar ayam dan pupuk. Kak Gio tidak perlu main ke rumahku ya, hehehe ... soalnya percuma, akunya kan sibuk sama ayam. Kalau aku bau ayam, nanti kakak marah-marah lagi. Hehehe. Eh ... ayam, ayam, ayam."
Pesan kedua terkirim untuk dokter Gio. Gadis ini ternyata sangat menarik. Caranya berkomunikasi dengan Gio terbilang unik. Kata 'Eh, ayam, ayam, ayam' sering disematkan disetiap pesannya pada Gio.
Setelah jaga malam, Freissya ternyata libur dua hari. Jadi, hal ini sedikit menguntungkan, Gama tidak perlu beralibi palsu atau membohongi pihak rumah sakit mengenai kondisi Freissya.
"I-Ice ... jika nanti kamu bangun dan ingin membunuhku, aku ikhlas. Kita dijebak Ice, tapi ... apa kamu akan percaya kalau kita dijebak? Sementara, aku sering menipumu."
Gama kembali meratap, matanya sudah sembab karena menangis sedari tadi. Dan ia terkejut kala gadis yang sudah ia nodai itu begerak perlahan. Gama mematung di samping Freissya
Freissya belum membuka mata, namun bibirnya yang merah dan membengkak itu bergumaman. Entah apa yang dikatan Freissya, sama sekali tidak jelas.
Ternyata Freissya merintih.
Apa yang terjadi padaku? Tadi aku mimpi apa? Awalnya aku melihat Kak Gio, tapi ... aku malah mimpi bercinta dengan pria lain. Dengan dia, gila sekali, mimpinya seperti nyata. Ya Tuhanku, apa yang terjadi?
"Ahh ... sakiiit," gumamnya.
Freissya menggelinjang perlahan saat berusaha bangun dan menggerakan kakinya.
Kenapa nyata sekali? Aku pusing, badanku pegal-pegal, dan ... kenapa ...? Kenapa di sana perih sekali? Dadaku dan perutku juga sakiiit ....
Dalam terpejamnya Freissya terus berpikir.
"I-Ice?"
Suara gemetar dan sentuhan di pipinya membuat Freissya membuka mata.
"KK-KAMU ...."
Freissya terkejut, Gama duduk di sampingnya, wajahnya sembab, matanya memerah. Bibir Gama juga membengkak. Dan hal lain yang membuat Freissya kaget adalah ... ia melihat banyak tanda cinta di leher pria itu.
Dia? Kenapa dia ada di sini? Ada apa dengan lehernya? Di mimpi itu, aku kan ... aku .... Apa itu ulahku?
Tidaaak ....
Dengan jantung berdegup, Freissya berusaha menyusun kembali kepingan fuzzle memori yang tercecer di otaknya.
"Kiss me please."
Ia teringat dengan kalimat yang diucapkannya. Di mimpi itu, jelas sekali jika dirinya sangat agresif. Menyerahkan begitu saja mahkota berharganya, dan berubah menjadi orang lain di luar nalar dan akal sehatnya.
Saat itu juga, tubuh Freissya gemetar, ia menutup mulutnya dengan mata terbelalak. Sakit di inti tubuhnya bukanlah mimpi. Ia telah melakukan perbuatan hina dan nista itu dengan pria terlarangnya.
Ya, ia tahu jika prilaku itu terlarang baik dilakukan dengan Val, Gio ataupun dengan siapapun kecuali suaminya.
Gama tertunduk saja, bahkan dagunya sampai menempel di dada.
"Aaaa, huuu ...," teriak Freissya, histeris.
Ia menampar pipinya berkali-kali sambil menangis. Masih berharap jika semua ini adalah mimpi buruk.
"Ice, hentikan jangan melukai wajahmu."
Gama menahan tangan Freissya, ia tentu saja tidak mau wajah Freissya terluka.
"Lepaskan bajingan! Kamu biadab! Kamu binatang! Kamu jahat! Kamu b a n g s a t! Kamu menjebakku! Huuu," teriak lagi dan meronta.
Lalu memukuli dada Gama yang pasrah. Freissya juga menjambak dan mencakar wajah Gama. Gama diam saja, airmatanya kembali menetas.
"Kenapa, hahhh? Kenapa kamu melakukannya?! Apa salahku padamu?! Aku sudah menuruti keinginanmu, tapi kenapa?! Kenapa kamu menodaiku dengan cara menjebakku? Huuu, aaaarrgggh! Hwaaa!"
Freissya lepas kendali, ia memukuli Gama tanpa henti. Lalu menggigit kuat tangan Gama yang berusaha menenangkan dan memeluknya.
"Ice, kamu boleh melakukan apa saja, bahkan kamu boleh membunuhku, aku juga tidak berharap kamu memaafkanku, ta ---."
"Di-diam bajingan! Dari awal aku sadar, kamu penjahat kelamin! Kamu antek Haiden, harusnya aku tidak peduli padamu, huuu ...."
Freissya menangis meraung-raung sambil memeluk lututnya. Darah yang berada di gaun membuatnya kian merasa pilu, sakit, dan hina.
"Ice, silahkan membenciku, tapi ... aku dijebak Ice, itu bukan keinginanku, kita melakukannya karena terpengaruh obat, semua terjadi di luar kendali kita," ucap Gama seraya memegang bahu Freissya, namun ditepis.
"Jangan menipuku! Aku tahu kamu berbohong, kamu jahat Val! Kamu iblis! Kamu bukan manusia! Jangan menyentuhku! Huuu ... huuukkss ...."
"Kamu memanfaatkan pesta itu demi menodaiku, kamu tegaaaa ... apa salahku? Kenapa kamu melakukannya?!"
"Ice, demi Tuhan, aku dijebak, kita dijebak. Ya, aku salah Ice. Aku yang salah, tapi percayalah padaku Ice, aku dijebak, kita berdua korban. Aku bukan penjahat kelamin! Ini pertama kalinya bagiku," kilah Gama. Mencoba meyakinkan Freissya walaupun ia tahu jika gadis itu pasti tidak akan percaya.
"Aku tidak percaya padamu! Sekarang biarkan aku pergi!"
Freissya membuka pintu mobil dan memaksa keluar.
"Ice tunggu, mau ke mana? Di luar dingin. Aku akan membuktikan kalau kita dijebak."
Gama menahan tangan Freissya, namun ditepis.
"Aku mau mati saja," jawab Freissya. Ia berlari tertatih-tatih menuju pantai.
"Ice, tunggu. Jangan seperti ini, kita selesaikan semuanya, aku akan bertanggung jawab, kita tunggu sampai kakakku datang."
Gama mengejar tanpa alas kaki begitupun dengan Freissya. Gadis itu sepertinya tidak becanda, ia benar-benar sudah menginjakkan kakinya di air laut dan terus berjalan ke tengah.
"Ice, kendalikan dirimu."
Gama memeluknya dari belakang, hatinya hancur. Ia bisa merasakan bagaimana tertekannya Freissya saat ini.
"Lepaskan! Lepaaas!" teriakan Freissya seolah menggulung deburan ombak.
Tapi Gama tidak bergeming, ia tetap memeluk Freissya.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku dijebak. Aku memang menginginkamu Ice, tapi tidak pernah terpikirkan untuk menodai kamu dengan cara sekeji itu."
"Huuu ... aku sudah kotor, lepaskan! Lepas! Lebih baik aku mati daripada harus menanggung malu atau terlibat dengan keluarga Buana!"
Freissya menggigit kembali tangan Gama, namun Gama bersikeras. Sakitnya gigitan Freissya tidaklah sebanding dengan perasaannya saat ini.
Lalu ...
'BYURRR.'
Ombak besar menghantam tubuh mereka. Gama mendekap Freissya, mereka basah kuyup. Dan Freissya kembali mengerang kesakitan saat merasakan inti tubuhnya terkena air laut yang tentu saja mengandung garam.
"Aaah ... sakit," rintihnya. Kembali memukuli Gama.
"Ma-maaf Ice, maaf .... Nanti aku obati ya ... ditiup-tiup atau di ---."
"Dasar gila! Lelucon macam apa itu!" Freissya semakin marah.
Gama memukul mulutnya sendiri, baru sadar kalau kata-katanya salah. Tadi sempat berpikir jika yang terluka adalah telunjuk Freissya. Wajar kan kalau ditiup?
Gama kehilangan kata untuk membuat Freissya tenang, lantas memeluk kaki Freissya dan memohon. Rambut Gama dipenuhi pasir, tapi ia tidak peduli. Bahkan bibir dan wajahnyapun dipenuhi pasir.
"AAAAA."
Freissya berteriak kembali sambil menatap hamparan langit yang terbentang luas. Suaranya bercampur dengan deru ombak.
Dari kejauhan, sebuah mobil memantau, siapakah mereka? Mari intai percakapan yang terjadi disana.
"Xim, ayo ke sana! Kalau Gama dan gadis itu mati, bagaimana?!"
"Enda, sabar dong! Kamu dengar perintah pengacara Vano, kan? Kita hanya memantau dan mengamankan lokasi sampai pak Agam datang."
"Kalau mereka terseret ombak bagaimana? Mau didiamkan saja?!"
"Dasar bodoh! Kalau terseret ya kita tolong lah, misi kita kan mengamankan!" teriak Maxim.
Oh, ternyata mereka adalah orang-orangnya Agam. Maxim dan Enda.
"Apa yang terjadi dengan gadis itu dan Gama ya? Aku mencium bau-bau cinta terlarang." Sambil memfokuskan teleskopnya, alis Enda bertaut.
"Sok tahu kamu! Sini, gantian dong! Ya Tuhan, Gama bersujud di kaki gadis itu, gadis yang lucu, cantik sekali. Hmm, wajahnya seperti boneka, menggemaskan."
Maxim malah berdecak dan memuji kecantikan Freissya.
"Hahaha, pada dasarnya mata Agam Ben Buana dan adiknya sama-sama mata keranjang," kata Enda.
"Maksudnya?"
"Maksudku mata mereka tidak pernah salah pilih, lihat saja LB, dia cantik luar biasa, kan?"
"Hmm, ya juga sih." Maxim manggut-manggut.
"Xim, tunggu, lihat mobil di sana, kok orang di dalamnya mencurigakan sih?"
Enda terkejut saat melihat dua orang yang turun dari mobil tersebut menyelinap dan mengintip mobil Gama yang terparkir.
"Hahh, benar mereka mencurigakan, cepat rekam. Beruntung kita ada teleskop."
Enda memasang kamera canggih pada teleskopnya untuk memantau pergerakan mencurigakan itu.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Maxim.
"Mereka masih muda-muda, seusia Gama. Yang keluar dua orang, tapi di dalam mobil masih ada beberapa orang. Kenapa mereka mengintip mobil Gama, ya? Curiga aku Xim."
"Ya sudah kamu rekam saja bagian-bagian pentingnya. Jangan lupa dapatkan plat mobilnya."
"Eh, eh, mereka pergi lagi Xim. Benar-benar mencurigakan."