
Linda's POV
Bahagia rasanya saat Pak Agam mengatakan akan datang ke rumahku di pulau jauh untuk meminangku, meminta maaf pada ayah, dan ibu, serta meminta restu untuk menikahiku.
Seketika itu juga perasaan sesak di dada yang aku rasakan selama ini berubah sedikit lapang. Ya, sebelumnya dia memang mengatakan menyukaiku, tapi ... bagiku ungkapan itu tidaklah cukup.
Aku ingin dia menikahiku, membangun sebuah keluarga yang bahagia, dan memiliki banyak anak yang sehat dan sholeh-sholehah.
Memiliki putra-putri permata hati yang nantinya bisa mendoakan aku saat aku telah tiada, karena doa seorang anak pada orangtuanya tiada batasnya. Tidak terhalang ruang dan waktu.
Kata guru ngajiku, ketika manusia meninggal dunia, maka terputus sudah amal jariahnya kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.
Setelah Pak Agam mengatakan semuanya, hatiku berbunga-bunga, serasa ada taman dan kupu-kupu di dadaku. Rasanya menggelitik saat aku membayangkan bisa menikah dengan Dirut HGC.
Apa ini mimpi? Dirut HGC gitu lho. Tampan, terkenal, berpendidikan tinggi, dan tentu saja sangat mapan. Satu hal lagi yang aku tahu dari dia adalah ... wangi, dan rambutnya itu sangat lembut, dan ....
Dan dia buas, leherku digigit. Sampai saat ini masih terasa perih, tahu tidak sih? Serius lho. Oiya, tadi ... aku tertidur di mobilnya. Malunya.
Dia pasti tahu gaya tidurku yang serampangan. Tapi ... ya sudahlah dia bahkan sudah pernah melihat seluruh tubuhku, luar dan dalam. Lagi, jika ingat saat itu, hatiku kembali sakit.
Tadi aku sengaja ingin mengetesnya, aku membentaknya, berteriak padanya, minta diambilkan tas, minta diambilkan tissue, lalu sengaja berlama-lama bersolek untuk menguji kesabaran dia.
Haha, lucu tadi itu, Pak Agam sabar menungguku sambil menyandarkan kepalanya pada setir. Lucu, kalau dia kesal atau marah, telinganya merah. Lantas suka membuka kaca mata dan membersihkannya.
Haha, aku berpura-pura tidak melihat kotak tissue.
"Ya ampun, ini apa? Ini apa, apa? Hahh? Nih!" bentaknya tadi saat memberiku kotak tissue yang berada di atas dashboard.
"Pak ...."
"Ya, apa." Dia kaku lagi, sebal deh.
"Tadi bagaimana suaraku? Bagus tidak?"
"Emm, biasa saja tuh. Masih banyak yang lebih bagus dari suara kamu."
"Apa?! Serius? Kok Pak Agam tadi seperti menghayati sih?" Aku kesal, aku cemberut, memalingkan wajah ke luar jendela di mana hari sudah menjelang senja.
"Serius lah, ayo kita shalat Asar dulu, El. Hampir jam lima."
Ia melihat jam di tangan kanannya. Tapi entah kepana aku merasa tatapan Pak Agam seperti waspada, sesekali ia melihat ke kaca spion dan mengernyitkan alisnya.
"Ada apa sih Pak? Tidak ada yang mengejar kita, kan?"
Aku jadi panik, takut, dan trauma. Kejadian penculikan oleh tuan Yohan saja belum bisa aku lupakan. Spontan tanganku gemetaran. Apa ini trauma? Aku juga tidak tahu.
"Linda, kamu tidak apa-apa, kan?"
Pak Agam meraih tanganku dan mengecupinya. Bibirnya terasa hangat dan lembut. Tapi ... itu tidak membantu, aku tetap panik.
"Pak Agam ..., aku merasa takut, Pak .... Aku takut jika aku dan Bapak akan terpisah lagi."
Aku menatapnya sendu. Ketakutan itu datang saat aku sadar jika di balik sosok seorang Agam Ben Buana ada bayang-bayang keluarga Haiden yang terkenal dengan sebutan keluarga darah biru garis keras.
"Linda, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, oke? Ada saya, saya rela mati demi kamu. Saya juga rela melepaskan HGC demi kamu, saya juga ingin bahagia seperti orang lain, El."
"Selama ini, beban kerjaku sangat berat. Saya bekerja dibawah tekanan perusahaan asing yang menjamur di negeri ini, namun saya belum bisa melepaskan HGC begitu saja karena berbagai alasan."
"Perusahaan asing itu adalah pesaing HGC. Kenapa saya bekerja mati-matian demi HGC, karena saya ingin agar perusahaan anak bangsa bisa menguasai negerinya sendiri. Saya ingin berperan agar penduduk di negeri ini sejahtera dan bahagia, tinggal di negaranya sendiri dengan pekerjaan dan penghasilan yang layak."
"Cita-citamu sungguh mulia Pak Agam, aku bangga." Aku mencoba tersenyum, namun airmataku meleleh.
"Begitulah kehidupan saya, El. Kelak, setelah kamu menjadi istri saya, kamu harus faham. Alasan utama kenapa saya belum bisa melepaskan HGC sepenuhnya adalah ... saya khawatir jika kepemimpinan HGC akan jatuh ke tangan orang asing."
"Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin jika orang asing itu akan merubah semua kebijakan yang telah ditetapakan sebelumnya."
"Kalau begitu, jangan melepaskan HGC demi aku, Pak. Bapak lanjutkan saja memimpin HGC."
"Ya, El. Saya memang perlu waktu untuk itu. Setelah nona Aiza Bahira dewasa, kepemimpinan HGC akan langsung diambil alih olehnya. Tapi ... itu masih lama, El. Dia masih 18 tahun, dan sekarang sedang hamil muda. Sedangkan untuk menjadi Dirut HGC syaratnya minimal pendidikan S2, dan pernah magang di perusahaan asing minimal satu tahun."
"Saya khawatir HGC diinvasi oleh perusahaan asing, terlebih saat ini saya merasa jika kebijakan pemerintah untuk para karyawan atau buruh sangat-sangat tidak adil."
"Kamu artis, mungkin tidak tahu dunia saya," terangnya panjang lebar dengan tatapan masih di mode waspada.
"Tidak adil bagaimana, Pak ...?"
Aku berusaha tenang dengan membahas tentang kebijakan pemerintah yang dimaksud Pak Agam.
"Ini tentang undang-undang ketenagakerjaan yang merevisi beberapa undang-undang sebelumnya. Undang-undang ini merupakan isu besar di negara kita. Hmm ... saya sudah membaca undang-undang itu, isinya sangat tidak adil."
"Ada satu hal yang lucu dalam undang-undang itu, ada penetapan bonus tahunan yang intinya dipukul rata untuk seluruh wilayah di negeri ini."
"Saya tak habis pikir, kenapa harus sama? Sedangkan income HGC sebagai perusahaan terbesar di negara ini, tentu saja berbeda dengan income perushaan kecil atau menengah, janggal bukan?"
Dia menghela napas berat. Aku jadi sedih, ternyata ... Pak Agam tidak hanya memikirkan aku dan keluarganya, tapi ... memikirkan hajat hidup orang banyak juga.
"Pak Agam ...."
Tak sadar, aku menarik tanganku dari genggamannya, aku kembali membelai rambutnya yang sehat itu. Yakin, kalau dia casting iklan shampo, pasti akan diterima.
"Terima kasih, Bu Linda. Kehadiran kamu membuat saya sadar kalau saya membutuhkan pendamping, saya butuh seseorang yang bisa memenangkan, memeluk, dan membelai saya kala saya lelah atau penat," gumamnya. Suaranya pelan sekali, hampir tidak terdengar.
"Aku tersanjung dengan ucapan Bapak, aku terharu." Baru saja akan tersenyum, namun aku menyadari sesuatu.
"Pak Agam, apa mobil itu mengejar kita?!"
Aku memeluk tubuhku kuat-kuat, aku ketakutan. Jelas sekali ada mobil pikup warna hitam tengah mengejar.
"Linda ... percaya dengan saya, oke? Kita akan baik-baik saja, bayi kita juga akan baik-baik saja. Pakai ini, cepat." Tegasnya. Ia mengambil sesuatu dari kursi belakang.
"Cepat pakai, sekarang. Dan ini juga, pakai ya."
Tanganku gemetar saat meraih dua benda itu, airmataku langsung menetas. Aku tahu ini benda apa. Ini baju anti peluru, dan helm.
"Pak Agam, terus Bapak bagaimana?"
"Yang terpenting bagi saya adalah kamu, keselamatan kamu, dan bayi kita, oke? Saya mencintai kamu dan calon anak kita dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya rela mati demi kalian."
Dia terlihat sibuk memasang earphone di telinganya. Mungkin akan menghubungi seseorang yang bisa membantu.
"Bismillaah, oke? Saya akan mengemudi dengan kecepatan tinggi." Dia mengusap kepalaku yang sudah memakai helm.
"Pak, kenapa tidak langsung ke kantor polisi saja? Atau menelepon polisi kalau kita sedang dikejar."
"Aaaa ...." Aku berteriak, serius dia tancap gas.
"Linda, saya belum bisa lapor polisi. Kamu tenang saja, berdoa, dan pejamkan mata."
"Kenapa, Pak?! Kenpaaa?! Aku takut Pak Agam!" bentakku.
Aku histeris dan menangis sambil memejamkan mata.
"Linda sabar, please ... saya tidak bisa gegabah, saya tidak bisa lapor polisi karena saya belum tahu mereka itu jahat atau tidak. Bisa jadi mereka sebenarnya baik, namun salah faham."
Mataku membulat saat sejenak membuka mata, mobil ini meliuk-liuk, menyalip dan menukik dengan kecepatan tinggi. Beruntung lalu lintas tidak terlalu padat, namun tentu saja mobil Pak Agam dan pikup itu jadi pusat perhatian pengendara lain.
"Pak Agaaam, aku takuuut," pekikku.
Aku malah membuka sabuk pengaman dan bergelayut di bahunya.
"El, kamu menyulitkan saya. Jangan seperti ini." Tapi dia tidak menolak.
"Pak, aku merasa lebih aman dan nyaman kalau memeluk Bapak."
"Oya? Baiklah, lakukan sesukamu," katanya.
Pak Agam mengambil jalur memasuki tol. Dia menggunakan e-toll dengan cepat dan terampil.
"Kita mau ke mana, Pak?"
"Saya mau mencari jalur sepi yang bebas dari CCTV Polantas."
"Untuk apa, Pak?"
"Saya mau menembak ban mobil itu agar tidak bisa mengejar lagi. El, tolong ambilkan pistol di belakang kursimu."
"Apa?! Pak Agam ...."
Kepalaku menggeleng, serius aku takut, walaupun hanya sekedar mengambilnya.
"Linda, cepaaat. Sebentar lagi saya akan melewati jalur itu. Saya butuh pistolnya. Calon istri Agam Ben Buana harus mahir memegang pistol," tegasnya.
"Oke, oke, okeee," teriakku kesal.
"Nih," akhirnya berhasil juga aku memberikannya. Lalu kembali memakai sabuk pengaman, dan tidak lagi bergelayut di bahunya.
"Terima kasih, setelah kita menikah, kamu harus terbiasa memegang dan memainkan pistol, oke? Nanti saya latih."
Pak Agam mulai membuka kaca mobil, melongokan kepalanya.
"Hati-hati, Pak!" teriakku saat tangannya mengokang senjata.
"Pak Agam akan menembak sekarang?!"
"Ya."
Dan ....
'DOR.'
Pistol itu asli meletup, Pak Agam bak pemain film action, melongokan kepala keluar dan menembak, sementara tangan kirinya mengendalikan kemudi.
"Aaaa," aku kaget tentunya, dan kulihat mobil pikup itu oleng, satu bannya bocor, dan mobil itu terlihat menabrak pembatas jalan dan berakhirlah sudah pengejaran mereka.
"Yes, dasar amatiran!" seru Pak Agam.
"Saya yakin mereka bukan orang jahat."
"Kenapa Bapak yakin sekali?" tanyaku sambil mengatur napas. Pak Agam yang menembak aku yang ngos-ngosan.
"Semua musuhku kelas kakap, mereka bersenjata, yang ini saya tembakpun tidak melawan, ya ampun kasihan sekali."
"Kira-kira siapa mereka ya Pak?"
"Sebentar lagi kita akan tahu, kamera belakang mobil ini sudah merekam nomor polisinya. Saya akan cek."
Pak Agam menyalakan mini monitor di depannya. Di sana ada rekaman mobil itu berikut nomol polisinya.
DEG.
Aku terkejut saat melihat nomor polisi pada pikup itu. Aku teriak kuat-kuat.
"Pak Agam, berhentiii," teriakku. Dia terkejut.
"Ada apa? Ada apa?" Dia panik, menepikan mobil di bahu jalan.
"Pak ayo kita cek mobil yang tadi ditembak! Cepat, Pak!"
"El, tenang, ada apa?" Dia melepas sabuk pengamannya dan memelukku.
"Ada apa? Katakan, saya tidak bisa tenang kalau kamu seperti ini. Tolong jangan membuat saya panik."
"Mo-mobil tadi, i-itu ...." Suaraku tercekal-cekal.
"Iyaaa, kenapa?" Sambil mengusap air mata dan membuka helmku.
"Kode nomor po-polisi di mobil pikup tadi, i-itu kode polisi kampung halamanku, Pak."
"Apa?!"
Dia terhenyak, langsung memukul dadanya sendiri dan menghela napas.
"Iya Pak, huuu ... itu kode polisi daerahku, daerah kepulauan Pulau Jauh. Bagaimana kalau orang yang di dalam mobil itu adalah kerabatku? Ta-tadi mobilnya menabrak pembatas, kan?"
"Astaghfirullah, maafkan saya Linda. Saya tidak tahu menahu. Semoga tidak terjadi apa-apa. Tadi hanya oleng dan menabrak pembatas, itupun tidak kuat. Saya melihat mobilnya baik-baik saja."
Pak Agam terlihat panik dan gugup, lalu melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi, memutar arah untuk mengecek mobil pikup itu.
Hatiku berdebar tidak karuan, siapakah yang ada di dalam mobil itu?
Tidaak, aku takut terjadi sesuatu.
.
.
.
"Ada apa ini?"
Pak Agam bertanya pada polisi lalu lintas yang berada di persimpangan karena jalur tol mendadak macet.
"Mohon maaf perjalanannya terganggu, Pak. Ada mobil pikup menabrak pembatas jalan dan kemudian kebakaran. Kemungkinan ada korban jiwa," jelas polantas tersebut.
"Apa?! Tidaaak."
Aku langsung menangis meraung-raung setelah Pak Agam menutup kaca mobilnya.
Pak Agam dia seribu bahasa, mematung. Dan aku ....
Aku merasakan ada firasat buruk.
❤❤ Bersambung ....