
Rumah Sakit Internasional The Number One, Pusat Kota
Selepas Agam pergi, Linda segera membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan pakaian pasien. Hatinya terus terpaut pada pria itu. Terbayang lagi bagaimana mata sayu Agam berkaca-kaca.
Apa gerangan yang tengah dipikirkan pria itu?
Kenapa pria setangguh dia sampai berkaca-kaca?
Apakah terpilih menjadi anggota Badan Rahasia begitu membebaninya?
Apa Agam terharu karena dirinya akan kembali virgin?
Atau ... Agam takut tidak direstui?
Batin Linda terus berkecamuk, sambil menunggu suster yang akan menginfusnya, Linda terbaring dan memikirkan hal itu. Sore ini Linda sudah berpuasa.
Jika sesuai jadwal, prosedur akan dilakukan pada pukul 16.00 sampai dengan selesai.
Lalu tiba saatnya Linda diinfus, petugas yang melakukannya begitu trampil. Terlebih Linda yang berkulit putih, membuat suster sama sekali tidak kesulitan menemukan venanya.
"Kulit tangan Nona sangat cantik dan halus, jemarinya lentik, hehehe," puji suster.
"Iya, namanya juga artis kali ya," sahut yang satunya lagi.
"Biasa saja ah. Suster-suster juga cantik kok," kata Linda.
"Izin mau kita infus ya Nona. Mau ditusuk di sini. Tarik napas ya," seru suster.
"Baik," kata Linda. Menarik napas, seraya membayangkan wajah tampan yang perkasa itu. Agam Ben Buana.
"Ahhh ... Sus, sa-sakit," rintihnya. Saat venanya ditusuk.
"Sudah selesai Nona," ucap suster setelah melakukan piksasi menggunakan plester putih bemotif banana.
"Terima kasih," kata Linda.
Kini ia sudah merasakan bagaimana cairain infus itu menyegarkan pembuluh darahnya.
"Sekarang kita akan lakukan skin test," ucap suster.
"Baik."
Dan Linda merintih kesakitan lagi. Ternyata tindakan skin test lebih menyakitkan daripada dipasang infus.
"Hehehe, ekpresi Nona Linda cantik sekali saat kesakitan, kami yang wanita saja terpesona, apalagi laki-laki kali ya." Dua suster muda itu kembali terkikik.
Dan Linda hanya tersenyum hambar, pujian mereka sangat berlebihan pikirnya.
"Nona Linda sangat istimewa, hamil tapi virgin, hehehe," lagi mereka terus mengoceh.
"Maafkan sikap kami ya Nona."
Mereka akhirnya sadar jua telah banyak berbicara.
"Tidak apa-apa," kata Linda.
"Untuk pemasangan kateternya akan dilakukan di ruang operasi," jelas suster itu.
Linda mengangguk.
Merekapun berpamitan setelah memastikan tidak ada reaksi alergi pada Linda setelah dilakukan skin test.
Dan setelah suster pergi, dua orang yang diperintah Agam tiba di ruangan. Ya, mereka adalah Briptu Joey dan Brigadir Lelly.
"Selamat sore, Nona."
"Pak Joey, Bu Lelly?" Linda kaget.
Penampilan sepasang polisi itu ternyata tidak seseram yang dibayangkan Linda. Mereka memakai baju bebas dengan tas selempang berwarna hitam terkalung di leher mereka. Jika yang tidak tahu, sama sekali tidak akan ada yang menyangka jika mereka adalah polisi.
"Selamat sore, kalian sangat modis," puji Linda.
"Hahaha," mereka malah serempak tertawa.
"Kenapa, ada yang lucu?" tanya Linda.
"Kami mendapat tugas langsung dari Komandan, Nona. Kami kira suruh menjaga siapa? Eh, ternyata menjaga bintang," kata Aiptu Joey.
"A-apa? Jadi pak Agam langsung berbicara dengan Komandan?" Linda tercengang.
"Ya Nona, Komandan kami kan masih kerabatnya pak Agam."
"A-apa?" Linda kembali terkejut.
"Kata Komandan, kami diperintah menemani sahabatnya pak Agam, hehehe," terang Brigadir Lelly.
"Oh," Linda tersenyum. Jujur, setelah ada sepsang polisi itu, Linda merasa tenang.
"Terima kasih sudah mau menemani," kata Linda.
"Dengan senang hati, Nona. Kita dibayar berkali lipat untuk tugas pengawalan ini, jadi kami sangat bersemangat."
"Hahaha, betul," ujar Brigadir Lelly.
"Hoamm, kok aku mengantuk, apa tidak apa-apa kalau aku tidur?"
"Silahkan, tidak apa-apa Nona."
Dan benar saja, Linda terelelap. Aiptu Joey dan Brigadir Lelly saling menatap.
"Sssttt, cantik sekali," bisik Aiptu Joey. Pria itu melongo.
"Ihh, Bapak, cari-cari kesempatan lho." Brigadir Lelly terkikik.
"Ya tidak apa-apa kali."
Mereka kemudian menarik kursi ke sisi bed untuk menjaga yang sedang tidur cantik sambil tersenyum-senyum.
Maafkan saya, Tuhan. Kok saya merasa jika pria yang menghamili LB adalah pak Agam. Batin Aiptu Joey.
Ia melamun dan menerawang pada pristiwa lima bulan silam di apartemen Green Seroja saat ia dan tim pertama kalinya menemukan Agam terkapar di sana. Teringat kembali akan bercak darah mencurigakan pada sprei dan bed cover.
Namun, Aiptu Joey sadar jika apa yang terjadi pada Linda dan dugaannya terhadap Agam, sama sekali tidak ada urusan dengannya.
Toh, Agam dan LB baik-baik saja, tidak ada perseteruan di antara keduanya. Malah yang ia dengar dari Komandan, Agam dan LB kini bersahabat baik.
LB dan Pak Agam sangat serasi. Saya sebenarnya tahu jika pak Agam adalah anggota BRN. Dulu, saya tidak sengaja menemukan kartu keanggotaan itu pada saat pak Agam hampir mati di apartemen itu.
Setahu saya anggota BRN rata-rata akan merahasiakan identitas orang-orang terdekatnya untuk alasan keamanan. Bisa jadi pak Agam juga sedang menyembunyikan hubungannya dengan Nona LB dari publik.
"Pak, kok melamun, sih?" Brigadir Lelly menepuk bahu Aiptu Joey.
Benar saja, ada yang masuk, dokter Fatimah dan dua asistennya.
"Anda siapanya Nona LB?" selidik dokter Fatimah.
"Kami sahabatnya LB," jawan Aiptu Joey.
"Oh begitu. Kami akan membasa Nona sekarang," terang dokter Fatimah.
"Dok?" Linda akhirnya bangun.
"Eh, Anda bangun? Operasinya akan kita siapkan sekarang, Nona. Mari ikut kami." Seorang suster mendorong kursi roda.
Aiptu Joey dan Brigadir Lelly melongo. Tapi mereka pandai mengendalikan emosi dan membaca situasi. Hanya tersenyum dan mempersilahkan.
"Saya permisi dulu," ucap Linda pada Aiptu Joey dan Brigadir Lelly.
~Setelah Linda dan tim medis meninggalkan ruangan~
"Operasi? Kok bisa ya? Bukannya hamilnya belum cukup bulan?" Aiptu Joey menautkan alisnya.
"Hmm, sudahlah Pak. Itu bukan urusan kita, kita hanya ditugaskan menemani dan menjaga LB." Brigadir Lelly mencoba berpendapat.
"Hehehe, siap," jawab Aiptu Joey, ia menatap sahabat seprofesinya itu sambil tersenyum. Dan Brigadir Lelly, jelas terlihat tersipu saat Aiptu Joey menatapnya.
"Bapak ma-mau makan?" tanyanya. Sambil menoleh ke arah lain. Kenapa melihat ke arah lain? Karena Aiptu Joey masih menatapnya.
"Boleh."
"Siap, saya akan beli dulu ya. Mau makan apa, Pak?" Polisi wanita muda yang sangat manis itu beranjak.
"Hahaha, kok beli lagi sih? Bukannya kita sudah beli? Ada di mobil, kan?" Akhirnya tersenyum juga melihat ulah rekannya itu.
"Oh, siap. Hahaha, maksud saya, akan saya ambil dulu, bukan dibeli dulu."
Brigadir Lelly lekas beranjak meninggalkan ruangan. Setelah sebelumnya memberikan hormat pada Aiptu Joey.
***
HGC
Sedang berlangsung rapat mendadak yang dihadiri, dewan komisaris, jajaran direksi, Dirut HGC dan tim pemasaran. Rapat itu sudah berjalan sekitar satu jam lamanya.
"Saya tetap pada keputusan saya di awal. Tidak akan melakukan intervensi apapun terkait LB. Saya serahkan pada forum saja," kata Agam.
Dari rapat dimulai hingga saat ini, Agam lebih banyak diam. Pikirannya dipenuhi oleh Linda, Linda, dan Linda. Satu jam yang lalu sebelum rapat dimulai, ia telah mendapat pesan dari dokter Fatimah.
Sebuah pesan yang membuat hatinya berdegup-degup, terharu, bahagia, dan menjadikannya semakin rindu saja pada Linda.
Pesan itu juga membuat wajahnya memerah karena malu. Saat membaca pesan itu, Agam bahkan sampai bersembunyi di toilet.
"Operasinya sudah selesai, lancar tanpa kendala apapun. Saya telah memperbaikinya secantik mungkin dan semaksimal mungkin. Selamat, mahkota wanita calon istri Anda telah kembali."
"Selain memperbaiki mahkotanya, saya juga telah melakukan prosedur lain yang akan menjadikan nona LB wanita yang sangat istimewa, pasti dicandui dan digilai suaminya. Hahaha."
"Prosedur ini kali pertamanya saya lakukan, sampai-sampai operasi estetika tadi menjadi operasi terlama yang pernah saya lakukan. Anggap sebagai hadiah dari saya atas kebaikan Pak Agam selama ini."
"Selain itu, tips dari Anda juga sangat pantastik. So, saya rasa Anda berhak mendapatkan hadiah luar biasa ini, hahahaha."
"Hadiah yang tidak akan Anda lupakan seumur hidup Anda, hahaha. It's a heaven on earth (sebuah surga dunia). Tolong jangan lepaskan LB untuk pria manapun, karena siapa saja yang mendapatkannya, maka saya pastikan tidak akan ada yang berani melepaskannya lagi."
"Pak Agam, maaf jika apa yang saya katakan membuat Anda tidak nyaman. Saya mengatakan ini karena ingin agar Anda segera menikahi dia. Terlepas apapun masalah yang kalian hadapi, tolong cepat lakukan sesuatu yang bisa membuat LB bahagia."
"Saat operasi berlangsung, dan LB dalam pengaruh obat bius, selama efek sedasinya, LB tidak berhenti menangis. Airmatanya mengalir terus-menerus sampai operasi itu selesai. Jika di alam bawah sadarnya LB menangis, kemungkinan selama ini LB mengalami kesedihan yang mendalam, atau bisa jadi memiliki trauma berat."
"Mungkin tekanan publik menjadi salah satu penyebabnya. Tolong jaga dia Pak Agam. Oiya, kalau saya boleh jujur, LB adalah wanita tercantik yang pernah saya tangani. Hehehe, pantas saja Pak Agam kelepek-kelepek."
Pesan-pesan dari dokter Fatimah seolah terproyeksi pada wallscreen yang ada di hadapannya. Sampai-sampai Agam menggelengkan kepala berkali-kali.
Ia bahkan tidak bisa fokus saat Ketua Dewan Komisaris HGC, Tuan Bahir Finley Haiden memberikan pemaparan.
"Me-menurut sa-saya, ko-kontrak LB ti-tidak pe-perlu di-dibatalkan. Se-sebab, ji-jika dibatal-kan dan iklan i-itu dita-rik, ma-maka bi-bi-biaya produk-si u-untuk mem-buat iklan yang ba-baru de-dengan ar-tis b-baru, dan de-ngan konsep ik-lan yang se-setara iklan LB, sa-saya ra-rasa a-akan meng-ha-habiskan dana lagi."
"Se-selain itu, ik-lan yang ba-baru ju-juga kualitas-nya be-belum tentu le-bih ba-baik dari iklan yang di-dibintangi LB. Sa-saham HGC juga di jam ini su-dah ke-kembali stabil, ja-jadi tidak ada yang perlu kita kha-khawatirkan la-lagi. Itu sa-saja sa-saran sa-saya. Sa-saya permisi, is-tri saya Nara, di-di rumah pp-pasti su-dah me-nunggu ke-pulangan sa-saya."
Huhfftt ....
Semua yang hadir seolah bernapas lega setelah Tuan Bahir Finley Haiden menyelesaikan pemaparannya. Ya, Tuan Bahir memang gagap karena efek dari trauma dan percobaan pembunuhan yang pernah dialaminya.
Awalnya, Tuan Bahir lumpuh, dan tidak bisa berbicara sama sekali, namum setelah mendapat pengobatan selama puluhan tahun dan menikah lagi dengan mantan istrinya, ia berangsur pulih dan membaik setiap harinya.
Tuan Bahir meninggalkan ruangan rapat didampingi para pengawalnya. Audiens baru duduk kembali setelah Tuan Bahir dan timnya pergi.
"Bagiamana menurut tim pemasaran dan jajaran direksi? Kita akan segera membulatkan suara," ujar Fanny.
Malam ini, Fanny berperan sebagai pemandu acara dengan setelan kantor yang teramat seksi. Memakai jas beserta rok pas badan berwarna merah, dengan kemeja putih menerawang, dan lipstik berwarna senada, merah terang menusuk mata.
Saat Fanny berdiri, roknya semakin menukik. Fanny seolah menantang hasrat dengan tujuan agar para peserta rapat tidak terkantuk-kantuk.
Dan, ya ampuh memang. Mata mereka hampir membelalak. Tapi tidak dengan Agam, pria itu malah berdiri dan berkata ....
"Mohon maaf, saya sedang tidak enak badan, mohon izin meninggalkan forum. Uhhhuk, uhhuk, hatchim, hatciiim."
Serius, pria itu bahkan pura-pura sakit, demi apa coba? Ya, demi Linda, lah.
Linda yang saat ini telah menjadi seseorang yang istimewa. Pesan dari dokter Fatimah benar-benar membuat bulu roma Agam berdiri.
"Bapak akan pergi juga?" tanya Fanny.
"Ya, silahkan lanjutkan saja, saya akan mengikuti suara forum, apapun itu," katanya.
Ia berlalu, setelah membungkukkan badan tegapnya.
.
.
.
.
"Tolong jangan lepaskan LB untuk pria manapun, karena siapa saja yang mendapatkannya, maka saya pastikan tidak akan ada yang berani melepaskannya lagi."
"ARGHH! Dokter Fatimaaah! Aku bisa gila. Kenapa Anda sampai menjelaskan prosedur itu?! ARGHH!" rutuknya.
Setelah tiba di ruangan kerjanya, Agam mengamuk di kamarnya. Melempar bantal dan guling, lalu menyerang samsak yang berada di ruangan lain.
Seperti biasa Agam menghabiskan energinya untuk bergumal melawan samsak, hingga akhirnya ia terkapar di lantai dan bermandikan keringat.
"HUHHH, HAHHH, Linda .... I love you ...," lirihnya. Dan pria itu terkapar begitu saja di atas lantai tanpa alas apapun.