AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Melepasmu



Beberapa saat kemudian, Maxim dan Endapun datang. Namun sayang seribu sayang, mereka tiba dengan tangan kosong.


"Pak Agam, maaf. Suster Freissya tidak ada di rumahnya. Kata kedua orang tuanya, hari ini sudah izin mau lembur jaga dan belum pulang ke rumah," terang Enda.


"Apa? Hmm, sayang sekali." Agam merenung sejenak. Gamapun merenung. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.


"Pak Yudha, coba hubungi nomornya." Agam rupanya masih penasaran.


"Sudah saya hubungi berkali-kali, Pak. Tapi tak diangkat."


"Ya sudah, kalau tidak ada, berarti kita langsung ke bandara saja. Tuan Yohan sudah lama menunggu," kata Bu Nadia.


Lalu merekapun bersiap untuk pergi ke bandara. Sebelum benar-benar pergi, Gama berulang kali menoleh ke sudut kamar pemulihan. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang hilang saat hendak meninggalkan kamar ini.


Tiba-muncul bayangan saat dia sedang tidur, suster yang ia panggil sebagai ice cream itu, tengah membersihkan tubuhnya, menyisir rambutnya, memotong kukunya, lalu berlama-lama memandangi wajahnya.


"Gama ayo," pak Dirut menarik tangan sang adik.


"Sebentar," tolak Gama.


Gama kembali menatap kamar ini. Lalu saat melihat sofa tunggu, ia melihat bayangan tak senonoh yang terjadi di sofa tersebut. Mata Gama melotot sempurna. Ia menelan kasar salivanya.


Ia bingung, ini serpihan ingatan, atau hanya halusinasinya saja. Terlihat suster cantik itu tengah duduk pasrah di sofa sambil menutup wajahnya, lalu dirinya ada di bawahnya, menekuk kaki di lantai, tengah melakukan hal tak patut dan terlarang pada tubuh Freissya.


Gama beristighfar di dalam hatinya sambil mengerjapkan mata. Kemudian muncul bayangan saat ia memaksa mencium bibir suster itu, lalu menjamahi tubuhnya. Teringat jua ketika Ice memohon agar Gama tidak melakukannya lagi sambil menangis. Gamapun mengingat percakapan mereka pada saat itu.


"Ja-jangan lakukan lagi Val."


"Kenapa?" tanya Gama.


"Sebab aku tak bisa menolak, dan dosa kita berdua terus bertambah."


Ternyata ada banyak hal yang terjadi selama Gama berada di ruang pemulihan.


Seberapa buruk perangainya pada suster itu? Seberapa bejad ia memperlakukan suster tersebut? Memori otak Gama beputar.


Di sisi lain, otaknya melakukan penyangkalan jika memori yang ia ingat tidaklah nyata. Hanya sebuah bayangan semu yang muncul dari otak seorang pria muda bergelar small crocodile.


"Sultan Yasa, tidak ada waktu lagi. Kita harus segera pergi," kata salah seorang anggota BRN yang bertugas menjaga Gama.


Gama akhirnya duduk di kursi roda dan meninggalkan kamar tersebut. Iya yakin ada banyak hal yang telah terjadi di kamar ini, tapi tak banyak yang ia ingat.


Gama terus berpikir, bahkan di dalam mobilpun ia terus melamun. Bayangan suster cantik itu memenuhi kepalanya.


...❤...


...❤...


...❤...


Sementara itu, di rute jalan yang sama dengan Gama, terlihat seorang wanita muda tengah mengayuh sepedanya seraya bederai air mata.


Ternyata, sepulang dari rumah sakit, Freissya memutuskan untuk mengejar Gama ke bandara. Ya, yang mengayuh sepeda itu adalah Freissya. Freissya mengira Gama telah berada di bandara. Padahal posisinya saat ini, berada di depan rombongan mobil yang membawa Gama.


Jarak dari rumah sakit ke bandara memang tidak terlalu jauh. Setibanya di bandara, Freissya mematung. Ia bingung harus melakukan apa dan bertanya pada siapa untuk mengetahui informasi penerbangan milik Gama. Sebab Freissya tidak tahu ke negara mana Gama akan dirujuk.


Freissya mendudukkan diri di sudut pintu masuk bandara. Memandang lalu-lalang orang-orang yang keluar-masuk bandara. Batinnya terus bertanya dan kebingungan.


Valyasa, ya ampun, haruskah aku jadi seperti ini gara-gara kamu? Bukankah kamu sulit kuraih?


Freissya dilema. Kembali duduk dan merenung. Karena panik, ia bahkan melupakan ponselnya dan tertinggal di loker rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, rombongan Gama datang. Ternyata di bandarapun Gama dijaga ketat. Sebelum Gama tiba di pintu masuk, area pintu masuk disterilkan. Seluruh pengunjung tertahan sementara waktu di suatu tempat. Pengunjung yang berada di sekitaran pintu masuk diperintahkan menyingkir untuk mengosongkan area itu.


Alhasil, Freissyapun terusir. Freissya hanya bisa mengusap dada. Ia menatap rombongan Gama dari balik pagar bandara yang letaknya lumayan jauh dari pintu masuk.


Airmatanya menetes saat sosok yang dinantikannya benar-benar tiba. Terlihat Gama turun dari kursi roda, lalu Gama melangkah pelan sambil menunduk. Di sisi kiri dan kanannya ada Agam dan bu Nadia.


Lalu polisi dan anggota BRN bersenjata lengkap menjaga di sekelilingnya, membentuk dua barisan. Ingin rasanya Freissya beteriak memanggil nama Gama. Tapi apalah daya, kalau ia beteriak, ia pasti akan jadi pusat perhatian. Dan hal itupun belum tentu berhasil untuk mempertemukannya dengan Gama.


Kemudian Gama yang berada di ujung pandangannya, terlihat membalikan badan dan menoleh sekitaran sebelum melewati automatic sliding door bandara. Agam mengangkat tangan saat polisi hendak melarang Gama. Agam ingin memberi kesempatan pada Gama untuk melihat-lihat.


"Gama, ayo Nak!" seru bu Nadia.


"Sebentar Bu, aku merasakan ada sesuatu yang tertinggal," kata Gama.


Bola matanya terus beredar. Tangannya memegang dada. Ia merasa jantungnya berdegup. Gama juga menatap ke sana. Ke pagar pembatas di mana Freissya berada. Tapi, jarak yang terlalu jauh membuatnya tak menyadari keberadaan Freissya.


"Gama, kamu harus segera pergi," Agam menepuk bahu adiknya.


Dengan berat hati, Gama akhirnya membalikkan badan dan mendekati automatic sliding door.


"Valyasaaa."


Sayup terdengar teriakan seseorang bersamaan dengan terbukanya automatic sliding door. Langkah Gama terhenti, pun dengan Agam dan yang lainnya.


Semua mata mencari asal suara, terfokuslah pandangan mereka pada sosok cantik yang tengah dicekal dan dihadang petugas keamanan bandara karena memaksa menerobos pagar.


Awalnya Gama ingin menghiraukan, namun mata elang pak Dirut jelas bisa mengenali siapa gadis itu.


"Gama, tunggu. Itu Freissya," kata Agam.


"Pak Agam, Sultan Yasa harus segera terbang," kata polisi.


"Maaf, saya yang lebih berhak mengatur adik saya," tegas Agam. Polisi dan anggota BRNpun mengalah.


"Pak Yudha, perintahkan petugas bandara melepaskan Freissya," kata Agam.


"Baik," Pak Yudha berlari menuju pagar.


"Nona Ice, Anda di sini? Kami mencari Anda sedari tadi. Ayo!" Pak Yudha menarik tangan Freissya.


Gama mematung, manatap bingung pada Freissya yang berlari ke arahnya.


"Gama, ayo temui dia," titah Agam.


Sementara bu Nadia hanya bisa menghela napas. Sedikit aneh karena baru kali ini Agam memperlakukan pacar Gama dengan begitu serius.


Polisi dan anggota BRN memberi jalan pada Freissya. Mereka menatap gadis itu dengan kening bekerut. Gama akhirnya melangkah, mendekati Freissya. Walau teramat malu karena menjadi pusat perhatian, Freissya tetap mendatangi Gama. Dan setelah jarak mereka dekat, Freissya mematung.


"Kenapa kamu menyusulku?" tanya Gama.


"Huks, a-aku hanya ingin melihat kamu untuk terakhir kalinya," jawab Freissya. Lalu menunduk karena tak sanggup menatap mata Gama.


"Apa?! Enak saja kamu mengatakan untuk terakhir kalinya! Ice *c*ream, kamu harus ikut denganku ke luar negeri!" tegas Gama.


"I-ikut?" Freissya melongo.


"Ya, ayo ikut denganku!" Menarik tangan Freissya.


"Tidak, Val! Aku tidak mau ikut!" tolak Fressya.


"Kenapa?!" sentak Gama.


"A-aku tidak bisa, Val." Freissya tak mungkin ikut begitu saja tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau ikut!" Gama membalikkan badan dan pergi.


"Huuks," Freissya menangis.


"Apa kamu ingat aku?" teriak Freissya. Gama tak menoleh lagi. Tapi ia menghentikan langkahnya dan menjawab ....


DUARR, laksana disambar petir, ucapan Gama memekak telinga Freissya hingga suster yang hanya berselisih usia dua bulan lebih tua dari Gama itu memegang dadanya dan terpuruk di lantai bandara.


"Huuks."


Freissya bersimpuh dan menangis. Ia menyesal telah menyusul pria itu. Terlebih penyesalan menggunung karena telah membiarkan pria itu melakukan berbagai hal tak patut pada tubuhnya.


"Gama, kamu yakin mau mengakhiri hubungan kalian?" Agam menahan bahu Gama.


"Yakin," ucap Gama mantap.


Lalu berjalan tegap melewati automatic sliding door disusul oleh beberapa anggota BRN dan polisi.


Agampun terpaksa memasuki bandara. Kepala Agam dipenuhi tanda tanya besar. Agam ragu, apa benar Gama ingin mengakhirinya? Atau ada sebuah alasan yang menyebabkan adiknya mengatakan hal demikian.


"Vaaal."


Freissya masih memanggil Gama. Berharap pria itu salah ucap, atau setidaknya mau menoleh lagi untuk melihat kembali keberadaannya. Namun Gama teguh pendirian, malah melangkah kian cepat.


"Vaaal, apa aku boleh menunggu kamu?" teriak Freissya.


Langkah Gama terhenti saat Freissya mengatakan kalimat itu. Namun ia tak mengatakan apapun.


"Gama, katakan sesuatu!" seru Agam.


Gama tetap tak menjawab, kembali melanjutkan langkahnya. Agam geleng-geleng kepala.


"Jawab Val!" teriakan Freissya terdengar memilukan.


"Val huu .... Val, huuu."


Teriakan gadis itu semakin samar terdengar di telinga Gama karena tubuh Freissya telah diseret kembali oleh petugas keamanan bandara agar keluar dari area pintu masuk.


Ekspresi wajah Gama benar-benar sulit ditebak, namun saat ia hendak menaiki pesawat, ia berbisik pada Agam dan mengatakan ....


"Jika terjadi sesuatu pada suster itu, satu-satu orang yang akan aku salahkan adalah kamu!" tegas Gama.


"Apa maksud kamu, hahh?!" Agam mencengkram kerah baju Gama, jelas ia kaget karena sikap Gama berubah kasar.


Lalu Gama mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kemudian berbisik lagi di telinga Agam sambil membalas mencengkram kerah baju milik kakaknya.


"Apa kamu belum sadar apa kesalahanmu Agam Ben Buana?!" tuduh Gama dengan nada penuh penekanan. Alis Agam sampai mengernyit.


"Kamu dan wanita yang mengaku sebagai ibuku seenaknya saja menandatangani kontrak kerjaku dengan BRN tanpa bertanya padaku dulu! Kamu tak meminta pendapatku apakah aku mau atau tidak jadi anggota BRN!"


Agam terkejut. Tak menduga Gama akan mengatakan hal tersebut.


"Gama, dengarkan, Kakak!" Agam menahan tangan Gama yang saat ini satu kakinya sudah menginjak tangga pesawat.


"Terlambat! Kamu dan ibu sudah tanda tangan! Aku tak bisa menolak lagi! Aku tak mungkin membebani kalian dan cari masalah dengan BRN!" tegas Gama. Dan ia berlalu, meniti anak tangga pesawat untuk bersiap meninggalkan negara ini.


Agam malambaikan tangan sambil merenung kala pesawat itu mulai take off, lalu pesawat perlahan membumbung tinggi, mengecil dari pandangan karena kian menjauh, kemudian lenyap bak ditelan awan.


Apa yang dikatakan Gama membekaskan kegundahan di hati pak Dirut. Ya, ia dan bu Nadia memang tidak bicara dulu dengan Gama. Namun mereka melakukannya karena Gama pernah mengatakan ingin menjadi anggota BRN agar bisa menghasilkan uang sendiri tanpa bantuan siapapun.


Agam tak mengira jika keputusannya akan merenggangkan kembali hubungannya dengan Gama.


"Pak Agam," sapa pak Yudha.


"Ya, Pak. Ayo kita kembali. Oiya, Enda, Maxim, dan kamu Yanyan, mulai hari ini saya tugaskan kalian untuk menjaga suster Freissya. Jangan menampakkan diri, kalian hanya perlu memastikan dia baik-baik saja." Agam berlalu.


"Baik, Pak," sahut Yanyan, Maxim, dan Enda serempak.


Kepergian Gama ternyata tak mengurangi kekhawatirannya pada si adik kesayangan. Namun karena Gama didampingi langsung oleh ibundanya, Agam merasa sedikit lega.


...❤...


...❤...


...❤...


Freissya mengayuh kembali sepedanya sambil terisak. Ia merasa jadi manusia paling bodoh sejagat raya. Bisa-bisanya ia yakin kalau Gama serius mencintainya.


"Kamu penipu Gamayasa," gumamnya.


Lalu Freissya menepikan sepedanya di tepi jalan. Ia ingin menenangkan diri sejenak sambil menatap lalu-lalang kendaraan. Freissya mendudukkan dirinya di trotoar. Sesekali, ia menatap udara saat pesawat dari bandara melintas di atasnya.


"Val, kamu berengsek! Setidaknya kamu harus menjawab pertanyanku!"


"Jika kamu mengatakan aku harus menunggumu, maka aku akan menunggumu. Dan jikapun kamu mengatakan tak perlu menunggumu, maka aku akan tetap menunggu kamu, Val. Tapi ... kamu malah diam saja dan meninggalkanku tanpa mengatakan apapun. Huuu, kamu jahat Val," lirih Freissya.


Setelah hatinya merasa sedikit tenang, ia kembali mengayuh sepedanya. Tidak ada jalan lain kecuali mengikhlaskan kepergian Gama.


Karena sebesar apapun ia menolak perpisahan ini, faktanya Gama sudah meninggalkannya dan menggantung perasaannya. Lalu Freissya berharap agar hubungan intimnya bersama Gama beberapa waktu yang lalu, tidak menyebabkan ia hamil.


Namun Freissya menolak meminum obat peluluh karena sadar diri dosanya akan bertambah dua kali lipat jika sampai membunuh benih yang bisa jadi sudah tumbuh dan berkembang di rahimnya.


...❤...


...❤...


...❤...


"Kenapa Anda terus melamun?" tanya pak Yudha pada Agam. Saat ini, mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Memangnya tidak boleh kalau saya melamun?" sahut Agam.


"Boleh sih. Tapikan permasalahan Anda sudah hampir selesai. Hanya tinggal menunggu persidangan bu LB saja, kan?"


Dan pak Dirut menanggapi ucapan pak Yudha dengan senyuman. Sekarang bukan saatnya ia becerita masalah barunya dengan sang adik.


Lalu ponsel pal Dirut berbunyi. Agam menautkan alis saat melihat nomornya. Nomor ini sangat asing. Ia yakin jika pemilik nomor bukanlah warga negara ini. Walau keheranan, Agam tetap menerimanya. Ia tak lantas bicara.


Seperti dugaan Agam, yang menelepon memang orang asing. Di ujung telepon terdengar suara pria yang berbicara dengan bahasa asing. Nada bicaranya penuh penekanan dan ancaman.


Jika diartikan, pria di ujung telepon itu berkata ....


"Dimana Anda menyembunyikan pangeran Enver Xzavier?! Cepat beritahu kami! Jika tidak, maka jangan salahkan kami bila kami akan mengganggu kenyamanan Anda dan keluarga Anda!"


"Pangeran Enver Xzavier?" Agam jelas keheranan.


"Benar, dari data yang kami kumpulkan, Anda berteman dekat dengan pangeran kami. Jika Anda membantu kami, masalah ini tak akan berlarut-larut! Kami beri waktu pada Anda 1x24 jam dari sekarang!" Panggilan kemudian berakhir. Saat dihubungi lagi, nomor tersebut tidak aktif.


"Dari siapa, Pak?" tanya pak Yudha.


Yang ditanya masih mengernyitkan alisnya. Agam sedang berpikir keras, siapakah pangeran Enver Xzavier?


Lalu pak Dirut teperanjat. Ia mengingat seseorang yang ia duga sebagai pangeran Enver Xzavier. Segera ia menghubungi orang tersebut untuk memberitahu prihal kabar ini.


Saat nomor itu menerima panggilannya, Agam langsung berkata ....


"Hallo pangeran Enver? Apa benar kamu pangeran Enver Xzavier?" tanya Agam.


Lawan bicara Agam di ujung telepon sana tak lantas bicara. Ia diam seribu bahasa. Seolah kaget tiada terkira karena Agam mengetahui identitas aslinya.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Siapakah pangeran Enver Xzavier? nyai yakin pasti sudah pada tahu....