AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
The Attack That Heats Up (Serangan yang Memanaskan)



"Tidak apa-apa, asalkan kamu dan bayi saya baik-baik saja."


Agam mendekap Linda dan memejamkan matanya saat tabung gas itu mendarat.


BUGH, suaranya sangat kuat.


"Tidaaak!" Linda berteriak histeris.


BRAGKH, tabung gas itu terjatuh membentur lantai, lalu menggelinding ke arah warga yang berkerumun. Warga berhamburan, ada yang melongo karena tidak menyangka jika salah satu dari mereka berani menyerang pria yang bersama LB dengan tabung gas.


Tidak diketahui apakah tabung gas bersubsidi itu sudah kosong atau masih berisi.


"Pak Agam?! Huuu ...."


Sebelum tabung gas itu menghantamnya, Linda melihat pelupuk mata Agam menyipit. Artinya, di balik maskernya, pria gila itu tersenyum. Dan saat tabung gas itu menghantam tubuhnya, Agam sama sekali tidak mengaduh. Pria itu malah mendekapnya semakin erat.


Lalu matanya mengerjap berkali-kali sebelum akhirnya terpejam, dan menjatuhkan kepalanya di bahu Linda.


Sebelum ia hilang kesadaran, Agam sebenarnya sadar jika ia terancam, namun baginya melindungi Linda adalah prioritas utama. Jika ia bergerak sedikit saja, bisa jadi serangan itu malah membahayakan Linda.


Ia berusaha melindungi Linda dengan memeluknya erat dan menjadikan punggung kokohnya sebagai tameng. Agam hanya berharap jika benda yang menyerangnya bukan benda tajam, karena sadar diri jika kulitnya tentu saja tidak kebal benda tajam.


Ia berharap diserang dengan benda tumpul. Kenapa? Karena dalam tahap latihan bela diri, tubuhnya sudah terlatih dengan serangan benda tumpul baik dari arah depan maupun belakang.


Satu hal yang selalu diingat dari nasihat sang guru adalah, "Lindungi hati dan kepalamu dari nafsu, lindungi kepalamu dari tembakan dan benturan, lindungi jantungmu dari tembakan, lindungi titik-titik kelemahan."


Untuk poin pertama, jujur Agam sudah merasa jika dirinya gagal. Namun untuk poin kedua, tiga, dan empat, sejauh ini ia selalu berhasil.


Sambil memandangi kecantikan LB yang matanya tampak panik dan menatapnya khawatir, otak Agam langsung berjalan cepat membaca situasi yang membuatnya memutuskan untuk tidak menghindar atau menendangkan kakinya ke belakang.


Terakhir kali aku mengkur tinggi badan di rumah sakit 185 cm, tinggi badan warga hanya sebatas dadaku. Tidak ada yang lebih tinggi dari aku. Saat Linda berteriak, aku mendengar ada warga yang mengerang seperti mengangkat beban berat.


Prediksiku, benda yang digunakan untuk menyerangku pasti berat. So, jika benda itu berat, dan penyerangnya pendek, maka dia tidak akan berhasil mencapai kepalaku. Fix, kepalaku aman dari benturan. Batin Agam bermonolog.


Akhirnya, ia memilih tetap melindungi Linda dengan cara mendekapnya. Pilihan yang konyol memang, namun ... dengan cara ini setidaknya ia bisa menyelam kesakitan sambil minum air. Artinya, walaupun dengan cara menyakitkan, ia bisa membuktikan pada Linda jika ia tulus ingin melindungi Linda dan bayi itu dengan nyawanya.


Entahlah Linda akan tersentuh atau tidak, ia tak peduli yang penting adalah usaha, dan ia tahu jika usaha tidak pernah menghianati hasil.


Kuharap benda itu tidak membuatku pingsan, jangan sampai aku pingsan untuk keduakalinya di hadapan dia, kata Agam dalam hatinya saat tabung gas on going.


Namun setelah benda itu menghantamnya, pandangan matanya tiba-tiba kabur dan gelap, lalu ia melupakan semuanya alias pingsan.


Linda mendekap Agam yang terkulai lemas. Tabung gas itu mengenai leher dan ujung rahang Agam. Masih untung tidak mengenai kepala Agam. Jika ya, bisa jadi akan menyebabkan trauma berat, gegar otak, perdarahan, koma, bahkan kematian secara mendadak.


Namun Linda tak mampu mendekap tubuh proporsional itu berlama-lama, dan bantuanpun akhirnya tiba.


"Angkat tangan! Jongkok! Jangan bergerak!" teriak polisi.


Nyali warga langsung menciut, mereka mengikuti anjuran polisi dengan tangan dan tubuh gemetar.


"HELP ME!" teriak Linda. Ia tidak ingin Agam tersungkur ke lantai.


Polisi bergerak cepat, tiga orang berusaha keras memboyong Agam dan merebahkannya di sofa yang ada di dapur. Petugas yang lain menggiring warga untuk berbaris di depan ruko. Ada juga petugas yang membawa tabung gas sebagai barang bukti.


"Pak Agam, tolong sadar Pak .... Maafkan saya." Linda memegang tangan Agam.


Sementara di luar, polisi sudah melakukan introgasi.


"Siapa yang mengumpulkan kalian?!"


"Siapa yang melihat LB pertama kali?!"


"Siapa yang menyerang pak Agam?!"


"Apa kalian tahu? Pria itu pak Agam Ben Buana, direktur utama HGC yang baru saja terpilih."


Keterangan Pak Polisi itu sontak saja membuat warga terkejut, menutup mulut dan semakin ketakutan.


"Apa?!" yang memukul Agam menjadi orang yang wajahnya paling pucat, sementara ibu pemilik ruko, terkencing-kencing.


.


.


"Bu Linda saya penggemar Anda lho, coba Anda usapkan air ini ke wajah pak Agam." Seorang polisi menyodorkan segelas air pada Linda.


"Saya sangat senang bisa bertemu Anda, ternyata aslinya Bu LB lebih cantik."


"Terima kasih, Pak." Linda mulai menumpahkan air ke telapak tangannya.


Dasar polisi tak tahu diri, bisa-bisanya dia memuji wanita terang-terangan seperti itu.


Ternyata saat Agam diletakkan di sofa, dia langsung sadar saudara-saudara. Ia hanya merasakan sakit pada tengkuknya. Sengaja tidak membuka mata karena ingin mengetahui sejauh mana LB peduli padanya.


Dan tangan itu mulai melumuri wajahnya dengan air.


"Setelah proses introgasi selesai dan Pak Agam sadar, boleh kan saya dan teman-teman meminta foto bersama?"


Hhhh. Agam tidak bisa tahan.


"Tidak boleh!" tegas pria yang saat ini tengah memegang tangan Linda.


"Pak Agam?!"


"Bapak sudah sadar?!


Ucap Linda dan polisi secara bersamaan.


"Sudah! Harusnya tidak perlu ditanyan lagi, kan saya sudah berbicara." Ia bangun, sedikit meringis dan masih memegang tanga Linda.


"Mohon maaf Pak. Tenang saja, kami akan menangkap biang kerok kejadian ini. Mereka masih proses introgasi."


"Tolong ambil keputusan setelah saya dan LB berbicara, saya tidak mau lagi melibatkan warga," tegas Agam sambil mengusap tengkuk untuk mengurangi sakitnya.


"Tapi mereka sudah melakukan kekerasan, Pak. Bisa dijerat pasal pengeroyokan juga."


"Saya tidak apa-apa. Saya tidak akan menuntut. Bapak bisa pergi sekarang?"


"Baik, Pak." Pak Polisi berlalu dan bergabung dengan temannya di depan ruko.


"Lepaskan." Linda menarik tangannya yang sedari tadi digenggam oleh Agam.


"Ma-maksudnya?" Linda mengerling tak mengerti.


"Warga di sini tahu kamu bersama saya, apa kamu akan meninggalkan saya? Atau ... tetap bersama saya?"


"Ta-tapi mereka tidak tahu kalau selama ini saya bersama Anda, kan?" Linda menunduk.


"Lantas?" desak Agam.


"Sebenarnya saya bingung, saya buronan atau apa sih? Saya lihat di berita pemimpin redaksi stasiun TV KITA pak Bima Setiawan telah melaporkan pada polisi kalau saya hilang, tapi sampai detik ini, saya rasa polisi terkesan diam saja dan tidak mencari saya."


"Barusan saat mereka bertemu saya mereka malah minta berfoto. Manajer pribadi sayapun tidak pernah menghubungi saya, nomornya juga tidak aktif. Selain itu, ibu dan ayahpun tidak pernah menghubungi saya padahal nomor saya masih sama."


"Bagas adalah orang terakhir yang menghubungi saya, setelah itu tidak ada satu pesan dan panggilanpun yang masuk ke ponsel saya. Anehnya seluruh kontak yang ada di ponsel saya tidak aktif. Saya hanya bisa mengirim pesan dan berkomunikasi dengan Anda."


"Hahaha." Agam malah tertawa.


"Jadi, benar Anda biang keroknya?!" Linda mengepalkan tangan.


"Untuk?" tanya Agam.


"Untuk semua keganjilan yang terjadi pada HP dan nomor saya," kata Linda.


"Mungkin," sahut Agam singkat.


"Apa Anda juga yang melarang polisi mencari saya?!" teriak Linda.


"Mungkin," sahutnya lagi seraya mengangkat bahu.


"Pak Agam! Kamu itu ---." Linda geram, ia melayangkan tangan hendak menampar pipi Agam.


Namun dalam jarak satu centi meter tangannya terhenti, dan hanya bisa gemetar.


"Kenapa, hmm? Tidak berani menampar saya?" ejek Agam.


Agam memegang tangan Linda yang gemetar itu lalu menempelkan di pipinya.


"Hmm ... telapak tangan Anda dingin sekali. Gugup?"


"Le-lepas." Linda menarik kembali tengannya.


"Oke, pembicaraan kita sudah selesai sekarang silahkan Bu Linda keluar dan katakan sesuatu pada polisi dan warga." Agam melambaikan tangannya. Lalu ia sendiri malah rebahan di sofa.


"Apa?! Apa yang harus saya katakan?!" Linda berdiri dan kebingungan.


"Terserah," sela Agam.


"Baik! Jika itu mau Anda, akan saya katakan pada mereka kalau Anda memang benar menculik saya, telah memperkosa saya, meretas dan menyadap ponsel saya, lalu menutup mulut polisi agar tidak mencari saya." Linda membalikan badan, mulai melangkahkan kaki dengan percaya diri.


"Sip, dan vidio panas kita di apartemen Green Seroja akan tersebar ke publik."


DEG, baru saja dua langkah, kaki Linda sudah mematung.


"Apa maksudnya, hahh? Jangan mengancam saya ya!" Linda kembali menatap Agam.


"Saya tidak mengancam."


"Buktikan kalau ucapan Anda benar!" bentak Linda.


"Baik." Agam lalu membuka ikat pinggangnya.


Linda terkejut dan mundur.


"Ini, perhatikan baik-baik kepala belt itu, belt saya bukan belt biasa. Di dalamnya ada kamera mikro dan nano dengan kualitas super. Semua aktivitas saya saat memakainya terekam selama 24 jam." Agam duduk santai, bertopang kaki lalu melipat kedua tangan di dadanya.


"Ka-kamu kejam, huks ...." Linda terisak.


"Pikirkan, pertimbangkan dan putuskan," kata Agam. Ia kembali melambaikan tangan mengusir Linda.


"Argh, kamu ba jingan!" Linda berlari ke arah Agam lalu menjambak dan memasygul kuat rambut Agam dengan kedua tangannya.


Agam termangu, ia pasrah bercampur kaget karena Linda ternyata sangat berani. Belum usai ia terkaget, Linda sudah naik ke pangkuannya lalu memukul dadanya membabi buta.


Agam terkejut dengan serangan itu, karena terdorong oleh tubuh Linda, spontan, ia menjadi terlentang. Linda masih menindih dan menyerangnya.


"Kamu pikir saya tiak berani, hahh?! Saya ini anak bar-bar, kejam, sadis dan jorok! Rasakan ini!"


BUK BUKK.


Entah yang ke berapa kali pukulan dari Linda mendarat di perut dan dan dada Agam. Namun saat Linda akan mencakar wajah Agam, tangan pria itu menahannya.


"To-tolong jangan lukai wajah saya, please ... di tempat yang lain saja, ja-jangan di tempat yang terlihat, o-okee?" ucap Agam.


"Lepaskan!"


Namun Agam tetap menahan tangannya.


"Dasar sombong! Rasakan ini!" Linda hendak menggigit telinga Agam.


"Ja-jangan di situ, Bu-Bu Li-Linda a-ampun. Ahhh ... Argh, a-ampuuun."


Agam menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari Linda. Serius, Agam tak berdaya, ia lemas tapi memanas. Bagi Linda ini adalah serangan, namun di mata Agam, ini laksana sebuah cumbuan.


Bersamaan dengan adegan itu dua orang polisi datang. Mereka terkejut dan terheran-heran. Seratus persen langsung berprasangka yang bukan-bukan. Ditambah dengan keberadaan ikat pinggang milik Agam yang tergelatak, sudah cukup menjadi menjadi barang bukti yang akurat.


Tapi kenapa harus di sini?


Kenapa harus dalam kedaan seperti ini?


Apa mereka terobesesi dengan momen-momen genting? Entahlah. Batin Pak Polisi berasumsi.


"Maaf, kami permisi."


Agam dan Linda yang tidak menyadari kedatangan polisi terperanjat. Terutama Linda. Ia langsung meloncat dan melepaskan Agam.


Sementara Agam masih terlentang di sofa, ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Sedangkan rongga dadanya terlihat turun naik dengan cepat.


"Pak Polisi, tungguuu," kata Linda.


❤❤ Bersambung ....