
Gedung Stasiun TV KITA
Pemimpin redaksi stasiun TV KITA bernama Bima Setiawan yang bertanggung jawab atas seluruh operasional departemen pemberitaan, hari ini tampak berang dan tak bersemangat. Hampir tiga bulan kepergian LB yang misterius adalah penyebabnya.
"Deasy Monickta tidak bisa menggantikan posisi LB," ujarnya kesal. Ia sedang duduk seorang diri di ruangannya.
Sebagai orang yang memiliki wewenang mengawasi seluruh kegiatan di newsroom serta merekrut dan memecat karyawan newsroom ia merasa perlu menentukan kebijakan redaksi yang baru agar kepergian LB tidak berdampak banyak pada rating acara andalan mereka.
"Saya tidak menyangka kepergian LB bisa berpengaruh pada rating bahkan berdampak pada rating proglam lain. Ya Tuhan, LB kamu di mana? Saya bahkan telah membuat laporan kehilangan kamu pada polisi, tapi mereka belum menemukan kamu."
"Saya sudah menahan sertifikat rumah kamu dan menekan orang tua kamu agar kamu kembali, tapi tidak berhasil juga. Saya tidak mungkin menggunakan cara ala mafia untuk membuat kamu ke luar dari persembunyian. LB di mana sebenarnya kamu?" Ia menatap laptop dan memutar kembali acara berita di mana LB menjadi news achornya.
"Siska tolong ke ruangan saya," ucapnya saat berbicara pada telepon paralel.
Siska adalah sekretaris pribadinya.
"Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong panggilkan produser eksekutif ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
"Oiya jam 11 siang, tolong suruh Bagas untuk menemui saya, saya yakin dia tahu keberadaan LB."
"Baik Pak. Oiya Pak, mohon maaf saya menemukan keanehan pada Bagas. Apa saya boleh cerita?" tanya Siska.
"Apa?! Tentu saja boleh, cepat ceritakan."
"Saat minggu pertama LB hilang, Bagas meminta pekerjaan pada saya karena gaji dari LB katanya sudah habis. Tapi dari kejadian itu, Bagas tidak pernah menghubungi saya lagi. Nah, kemarin sore saya melihat Bagas dan istrinya naik mobil mewah."
"Mobil mewah?"
"Iya Pak, naik mobil mewah, mereka jadi penumpangnya."
"Taksi kali Siska."
"Bukan Pak, bukan taksi, saya yakin. Terus supir mobil itu memperlakukan Bagas seperti bos gitu."
"Hmm, ini aneh, ini sudah tiga bulan dari LB hilang, harusnya dia ke sini meminta pekerjaan baru, kan?" Pak Bima menautkan alisnya.
"Iya, Pak. Saya yakin Bagas masih digaji sama LB. Saya juga yakin dia tahu keberadaan LB."
"Ya sudah, kerjakan tugas kamu." Pak Bima melambaikan tangan menyuruh Siska pergi dari ruangannya.
Beberapa saat kemudian ....
"Ada apa, Pak?" tanya produser esksekutif bernama Januar.
"Anda bertanggung jawab atas segala kegiatan produksi newscast, kan?"
"I-iya Pak, saya sudah menjalankan tugas saya semaksimal mungkin. Apa ada yang harus saya revisi? Atau ... saya perbaiki?" tanya Januar.
"Tolong kamu tolak skrip berita yang ditulis reporter, produser atau news writer yang akan dibacakan Deasy Monickta untuk jadwal live on air besok."
"Apa?!" Januar terkejut.
"Ta-tapi Pak ...."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu bahawan saya kan? Jalankan saja, saya ada rencana bagus untuk membuat LB kembali, atau setidaknya dengan cara ini saya bisa tahu siapa dalang di balik hilangnya LB. Saya yakin yang menyembunyikan LB bukan orang biasa," tegas pak Bima Setiawan.
"Ba-baik, Pak." Walaupun terlihat ragu, Januar akhirnya menyetujuinya.
***
Malam itu, di sebuah arena tembak yang dikelola langsung oleh institusi militer, seorang peserta tampak menjadi pusat perhatian. Peserta tersebut adalah warga sipil yang sudah memiliki izin dan bisa menikmati arena itu.
Arena tembak itu adalah arena milik negara di bawah pengawasan institusi militer. Arena ini diperuntukkan untuk masyarakat umum yang ingin melatih kemampuan menembak baik hanya sekedar hobi ataupun untuk berlatih dalam persiapan kejuaraan ajang tembak nasional maupun internasional.
Pria tampan nan gagah itu saat ini tengah memicingkan sebelah matanya. Telunjuk tangan kananya telah siap di depan pelatuk.
Di balik kacamatanya, mata sayunya tengah fokus pada paper tembak yang berjejer di hadapannya. Ini adalah tembakannya yang ke enam.
Dan ....
'DOR.' Cletak, tepat sasaran.
'DOR.' Cletak, tepat sasaran.
Hingga paper tembak yang ke sepuluh semuanya tepat sasaran. Seluruh paper tembak tumbang.
"Waw, amazing. Bravo, bravo, bravo," puji seseorang sambil menepuk bahu kokoh si penembak jitu.
Pria yang ditepuk bahunya tersenyum, ia lalu menyerahkan pistol pada petugas dan melepaskan ear muff pelindung telinga yang digunakannya.
"Anda luar biasa Pak Agam, berbakat dalam semua hal, karier cemerlang, cerdas dan kaya-raya, hahaha."
"Ah, Pak Barata bisa saja," kata Agam.
Rupanya mereka sudah saling mengenal. Pria bernama Pak Barata itu sudah tidak muda, tapi wajahnya begitu tampan dengan bentuk tubuh yang kokoh, tegap dan proporsional.
"Anda masih bisa ke sini dan menembak, padahal baru saja terlibat peristiwa luar biasa di komplek elit Haiden, kan? Wajah Anda lebam-lebam, mau saya bantu obati?" tawarnya.
"Hmm, tidak perlu Pak. Ini tidak apa-apa kok."
Mereka tampak berjalan beriringan ke luar arena.
"Katanya ada korban jiwa ya?"
"Kok Bapak tahu?" Agam mengerling.
"Saya tahu dari pak Jenderal," jawabnya.
"Oh, haha, saya hampir lupa kalau Anda mantan penjabat tinggi militer," kata Agam sambil berjongkok saat ia menenggak air mineral dari botol yang digenggamnya.
"Bukan jabatan, saya lebih suka menyebutnya dengan amanah."
"Baik, saya juga setuju dengan Pak Barata. Oiya Pak, bagaimana dengan tawaran saya? Apa Bapak sudah ada keputusan?"
"Saya masih mempelajarinya, setelah saya baca draftnya pekerjaan itu ternyata tidak mudah. Saya akan berbicara secara khusus dulu dengan tuan Bahir Finley Haiden."
"Tuan Besar belum bisa berbicara, Pak."
"Ya, dengan bertukar pesan mungkin, terus bagaimana dengan Tuan Muda? Apakah dia setuju jika saya menggatikan posisi pak Rudi?" tanya Pak Barata.
"Semua keputusan Tuan Muda ada di tangan saya," kata Agam.
"Oh, ya. Hahaha, siap. Saya akan kabari secepatnya. Pimpinan saya sih sudah setuju, tapi saya harus meminta izin pada istri dan anak saya dulu," ungkapnya.
"Untuk masalah gaji, apa Anda keberatan?" tanya Agam.
"Wah, untuk masalah itu sepertinya saya menyerah. Maksudnya saya, saya tak menyangka akan mendapatkan gaji dan tunjangan sebesar itu."
"Baik, saya akan menunggu keputusan Bapak secepatnya, saya permisi ya Pak."
"Oke Pak Agam, akan saya kabari. Oiya, apa Pak Agam sudah punya kekasih?"
"Kekasih?"
"Kalau belum punya, mau saya kenalkan dengan putri saya?" tanya Pak Barata.
"Em, sa-saya permisi." Agam tak merespon pertanyaan Pak Barata, ia memilih menyalami Pak Barata dan mengambil langkah panjang-panjang menuju parkiran.
Pak Barata hanya bisa menatap punggung Agam sambil tersenyum.
***
Sepulangnya dari arena tembak, malam ini Agam kembali pulang ke HGC setelah melewati hari yang sangat menegangkan dan melelahkan hingga membuat wajah mulusnya lebam. Agam baru saja menghabiskan energinya untuk membantu Tuan Muda Deanka melawan petinggi Haiden.
Ia sebenarnya sangat merindukan Linda. Setelah Agam tahu jika Linda hamil, rasa cintanya pada wanita itu kian bertambah. Namun sayangnya rasa itu seakan membunuhnya saat Agam tahu jika Linda sangat membencinya, dan wanita itu tidak menginginkan anak mereka.
Agam menatap langit-langit kamar kantornya, terbayang lagi bagaimana nyonya Aery terbunuh sia-sia setelah menghadang Yohan dan melindungi Tuan Muda Deanka dari peluru. Nyonya Aery adalah mamanya Yohan Nevan Haiden.
Yohan Nevan Haiden adalah putra salah satu petinggi Haiden. Petinggi Haiden adalah rival Tuan Muda Deanka.
Agam lalu bangun, ia mengambil kotak obat dan mengobati lebam di wajahnya.
Sekilas, bayangan perut Linda yang semakin berisi membuatnya mematung sejenak dan memukul dadanya yang tiba-tiba saja menjadi sesak. Merenggut kesucian Linda adalah hal yang paling ia sesali.
Hati Agam juga sakit, acapkali membaca pesan dari Gama jika Linda menderita maag kronis. Kata Gama, saat Agam tidak ada di rumah, Linda sering memuntahkan kembali makanan yang telah ia makan. Gama memang belum tahu jika Linda tengah mengandung.
H**arus dengan cara apa aku bisa meyakinkan Linda jika aku ingin menjadi ayah dari anak yang tidak berdosa itu? Sampai kapan aku mampu menunggu hingga wanita itu bisa membuka hatinya untukku?
Agam lalu membuka bajunya menyisakan celana panjang dan sabuk mahal yang melilit rapi di pinggangnya. Ia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat dan tidur.
Sulit, Agam kesulitan untuk tertidur. Ia merasa risau, resah, gelisah, galau dan merana. Agam menendang bantal, guling dan selimut hingga berhamburan ke lantai. Sepi, Agam kesepian.
"Lindaaa!" teriaknya.
Aku merindukanmu ....
Agam membenturkan kepalanya pada bantal. Kejadian itu selalu membekas dalam ingatannya.
Agam mengatur posisi untuk melakukan push up, dia mengangkat tubuhnya, mengatur napasnya dan mulai berhitung.
Agam melakukan push up di tempat tidur, berharap setelah kelelahan ia tidak lagi insomnia. Keringatnya mulai bercucuran, tangan yang menopang tubuhnya mulai gemetar. Entah pada hitungan keberapa, Agam tak mampu lagi mengangkat tubuhnya.
Dan ....
'Brugh.'
Agam ambruk tertelungkup dan berkeringat. Ia melewati malam dengan cara yang tak biasa. Perlahan matanya mulai terpejam, bibir merahnya tampak berkomat-kamit melafalkan doa sebelum tidur.
Akhirnya Agampun berhasil pergi dan berkelana ke alam mimpi.
***
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi seorang Agam Ben Buana. Hari ini, HGC tempat ia bekerja akan mengadakan rapat luar biasa untuk memilih direktur utama yang baru setelah direktur utama sebelumnya yaitu Deanka Kavindra Byantara mengundurkan diri.
Agam Ben Buana menjadi salah satu kandidat direktur utama terkuat karena mendapat dukungan dari mantan direktur utama dan jajaran komisaris.
Malam sebelum rapat luar biasa itu, Agam memilih menginap di rumahnya setelah dapat kabar dari Gama jika Linda sakit.
.
.
"Cepat pergi ..., Pak Agam mau ada rapat penting, kan?" kata Linda sambil memegang ujung bathup. Tangannya gemetar, ia baru saja memuntahkan isi perutnya.
"Saya tidak akan pergi sebelum melihat kamu baik-baik saja." Agam mengulurkan tangan pada Linda, berniat membantu wanita itu untuk bangun.
"Tidak perlu Pak ... aku bisa bangun sendiri." Menepis tangan Agam.
"Linda ayolah, jangan egois ...," ucap Agam.
"Siapa yang egois? Siapaaa? Tolong Anda intropeksi diri," Linda memalingkan wajahnya.
"Oke, oke, saya yang salah. Saya yang egois. Tapi tolooong ... please jangan membahayakan calon anak saya. Setelah anak itu lahir, saya berjanji akan melepaskan kamu."
"Huuu ... huuu ...," Linda malah menangis memeluk lututnya.
"Besok saya akan membawa Anda ke dokter, saya harus memastikan kandunganmu baik-baik saja. Oiya, saya sudah menyiapkan susu hangat dan biskuit di meja kamar Anda. Baiklah jika kamu sangat jijik pada saya, saya pergi ya."
Agam membalikan badan, namun Linda tiba-tiba muntah lagi.
"Hoek hoek ...." Wajah catiknya memucat.
Agam tak bisa menahan diri. Dengan gerakan cepat ia memangku Linda dan membawanya ke kamar.
"Lepaskan ...," Linda meronta dengan gerakan yang lemah.
"Anggap saja kamu sedang ditolong makhluk tidak kasat mata," tegas Agam.
Agam merebahkan Linda, lalu mengambil susu.
"Pak ... saya tidak mau susu, susu membuat saya semakin mual," kata Linda tanpa menatap Agam.
"Ya sudah saya ambilkan air hangat ya."
Agam berlari, dia sebenarnya sudah siap dengan setelan kantornya. Agam datang lagi membawa segelas air hangat. Saat Agam hendak membantunya untuk minum, Linda tidak menolak. Agam merasa senang.
Agam meletakan gelas di atas nakas berbahan kaca.
"Pak Agam," sapa Linda.
"I-iya," jawab Agam dengan gugup. Posisinya masih menghadap gelas.
"Kurasa Pak Agam akan lebih cocok memakai dasi yang warnanya lebih terang."
"Apa?!" ucapan Linda menohok hatinya. Sejak kapan wanita itu peduli pada penampilannya? Apa dia salah minum obat?
"Karena jas dan kemeja Bapak sudah berwarna gelap, jadi mati kalau dasinya gelap juga," kata Linda.
Agam berdiri, posisinya masih membelakangi Linda.
"Sejak kapan Anda peduli pada saya? Saya tak peduli dengan penampilan saya," tegasnya. Padahal bibir Agam sebenarnya terangkat sedikit karena tersenyum. Dipedulikan oleh Linda adalah impiannya.
"Saya hanya memberi saran, bukan berarti saya peduli pada Bapak," kata Linda sambil memalingkan wajahnya.
"Saya juga tak membutuhkan kepedulian Anda, saya hanya ingin kamu peduli pada calon anak saya. Saya pergi." Agam berlalu.
.
.
Setelah Agam pergi, Linda beranjak untuk mengambil biskuit. Jujur, ia juga tidak mau terjadi apa-apa pada bayinya. Walaupun tidak memiliki nafsu makan, ia memaksakan diri untuk menyantap biskuit yang disedikan Agam.
Makan sedikit-sedikit tapi sering, Linda sedang melakukan saran itu. Saran yang ia dapat dari sebuah artikel online.
Perutnya mulai nyaman, Linda lalu menyalakan televisi, entah kenapa ia jadi tertarik untuk melihat N&T. N&T adalah stasiun televisi milik tuan Muda Deanka, dan merupakan rival TV KITA.
Saat nama Agam disebut, ia refleks mengusap perutnya dan tersenyum.
Tidak, ada apa denganku? Pria itu telah menghancurkan karier dan masa depanku.
Sontak ia memalingkan wajah dari layar televisi. Tapi tiba-tiba saja Linda mengingat senyuman Agam yang meneduhkan.
"Aaaa, tidaak. Ada apa denganku? Pria itu akan membebaskanku setelah anak ini lahir, kan?" Linda kembali berbicara sendiri.
"Dia hanya menginginkan anak ini. Dia hanya peduli pada anak ini, bukan peduli padaku."
Linda kembali mengusap perutnya. Airmatanya kembali mengalir, ia merasa dirinya diperalat oleh Agam.
Linda berpikir jika Agam baik padanya karena ia hamil, jika saja ia tidak hamil, Linda yakin pria itu tidak akan memandangnya walau hanya dengan sebelah mata.
"Yolla ..., Yolli ..., Kakak kangen kalian, huuu ...."
"Kamu jahat Pak Agam, karena ulah kamu ayah dan ibuku mengusirku, sebenarnya apa dosaku? Kenapa nasibku seperti ini?" Linda kembali meratapi nasibnya.
Dua hari sebelumnya, Linda mendapat sebuah surat dari ayahnya. Entah bagaimana surat itu bisa sampai di rumah Agam, namun saat ia membacanya, ia sangat yakin jika itu asli tulisan tangan ayahnya.
Dalam surat itu, ayah dan ibunya mengatakan jika mereka tidak akan menerima Linda pulang ke rumah sebelum urusan dan masalah Linda selesai. Ayah Berli mengatakan jika ia, ibu dan adiknya akan merasa tida tenang jika Linda pulang ke rumah karena takut didatangi polisi, wartawan ataupun fans fanatiknya.
'Klik.'
Ia mematikan televisi.
"Mau kamu kalah, ataupun kamu menang, bukan urusanku," gumamnya.
"Tapi ... kenapa aku ingin melihat dia? Apa bawaan bayi?"
Dengan sedikit ragu-ragu, ia kembali menyalakan televisi.
❤❤ Bersambung ....