AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Keputusan yang Sulit dan Berujung Rindu



"Maga," lirih Linda saat pria itu sedang mencumbunya dengan sangat lembut.


Namun, ponsel Agam tiba-tiba berdering. Agam meraih ponsel itu untuk sesaat mengeceknya. Jelas sekali jika ia mendengus kesal, tapi tanpa melepas Linda tentunya. Linda masih ada dalam jeratnya. Wanita cantik itu tersipu-sipu.


"Apa?" kata Agam.


Rautnya terlihat kaget. Dan untuk pertama kalinya ia berani berajak. Sebelumnya, setelah dicek, ponselnya akan dimatikan.


"Sayang, maaf ya ... tunggu sebentar, janji tidak akan lama. Oiya, kamu cantik sekali dengan baju ini," pujinya.


Agam merapikan kembali baju Linda, Linda terdiam. Lidahnya seolah kelu. Ia memejamkan mata saat Agam mengecup keningnya. Lalu Linda menatap kepergian pria itu dengan perasaan berdebar.


Ingin berteriak pada Agam dan mengatakan, ada apa, Pak? Siapa yang menelepon? Apa sangat penting?


Tapi, Linda tidak berani. Saat punggung proporsional itu menghilang di balik pintu, Linda bangun. Ia duduk dan menatap pantulan dirinya di cermin.


Baju yang ia kenakan saat ini adalah gaun yang menurutnya paling cantik. Sengaja ia gunakan untuk menarik perhatian suaminya. Linda juga telah merias wajah cantiknya dengan riasan natural, rambutnya dibiarkan tergerai. Sebab, Linda pernah mendengar ucapan Agam yang mengatakan.


"Saat rambut kamu digerai, kamu semakin cantik."


"Hmm, padahal ... aku sudah mengumpulkan keberanian dan mental untuk mempersiapkan malam ini. Jadi penasaran, siapa sih yang menelepon pak Agam?"


Ia menghela napas, kemudian berdiri untuk mengambil minuman, apa yang dilakukan Agam membuatnya dahaga.


.


.


.


.


"Mister X, ada apa? Kau tahu? Kamu mengganggu saya!" teriaknya.


"Maaf Pak. Ada info penting dari mata-mata kita. Katanya, malam ini ketua BRN akan berkunjung ke rumah Anda."


"Apa?!"


"Jika sekarang jam 8 malam, kemungkinannya dia akan datang paling lambat 40 menit lagi."


"Dia gila! Kenapa harus datang ke rumah? Ini jelas sekali kalau dia telah mencampuri urusan pribadi saya!" Agam naik pitam.


"Pak, Anda tenang. Anda memiliki kesempatan untuk pergi atau menghilangkan jejak apapun yang akan menimbulkan kecurigaan ketua."


"Saya rasa biarkan saja. Saya tidak akan lari. Toh, saya yakin kalau ketua sudah tahu tentang Linda."


"Pak, tolong jangan ambil risiko. Hemat saya, untuk sementara waktu, LB harus diungsikan dulu."


"Kenapa?! Kamu jangan mempersulit keadaan ya X!"


"Pak Agam, saya tidak main-main, apa Anda sudah tahu kalau Briliant itu ---."


"Cukup, saya sudah tahu! Jangan katakan kalau kamu juga mengincar informasi dari dia seperti halnya tuan Deanka!" bentaknya.


"Pak begi ---."


Belum juga selesai Mr. X berkata, Agam sudah memutus panggilan secara sepihak. Pria itu mundar-mandir di kamar yang sempat ditempati Linda dengan wajah gusar.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Ia memijat keningnya kuat-kuat hingga meninggalkan jejak merah. Setelah mendapatkan ide, Agam bergegas ke lantai satu untuk menemui ayah Berli, Hikam, dan pak Yudha.


.


.


.


.


Ternyata, Pak Yudha dan Hikam masih mengobrol di ruang keluarga sambil menikmati kudapan dan menonton acara pertandingan bola.


"Pak Agam, ada yang bisa saya bantu? Apa mau nonton bersama?" tanya Pak Yudha.


"Tidak, Pak. Saya mau bertemu dengan ayah Berli dan kalian," tegas Agam. Lalu ia menjelaskan maksudnya.


"Malam ini juga, Pak Yudha urus keberangkatan Linda dan Pak Berli ke Pulau Jauh, untuk pak Setyadi nanti di urus di lain hari saja," terangnya.


Pak Yudha kaget, pun dengan Hikam.


"Kenapa secepat ini?" kata Hikam. Ia kaget dengan keputusan Agam. Karena ia tahu, tadi siang Agam sempat bersitegang dengan ayah Berli dan menolak keinginan ayah Berli membawa Linda pulang.


"Saya sudah memutuskan, kamu tidak perlu bertanya lagi."


"Ya, sudah saya akan bangunkan pak Berli." Pak Yudha bergegas.


"Ada masalah? Kenapa Anda berubah pikiran? tanya Hikam saat pak Yudha tidak ada di tempat.


"Saya sebenarnya ingin berbagi cerita dengan kamu, tapi kamu belum tentu dapat dipercaya."


"Hahaha, Linda sudah memilih Anda, aku dan Linda tidak berjodoh, jangan sungkan lagi," ujar Hikam.


"Hmm, terima kasih, tolong jaga istriku selama di Pulau Jauh, kalau ada apa-apa dengannya kamu akan aku bunuh," jelas Agam sambil tersenyum dan berharap jika Hikam benar-benar tulus.


Lalu Ayah Berli dan Pak Yudha datang.


"Ayah," Agam segera menyalami mertuanya.


"Ada apa Pak Dirut?" Ayah Berli duduk di samping menantunya.


"Ayah, maaf jika keputusan saya mendadak, saya setuju Ayah membawa Linda ke Pulau Jauh, tapi ... kalian harus berangkat malam ini juga."


"Apa?!" Ayah Berli terkejut.


"Ada hal mendesak yang tidak bisa saya jelaskan. Emm, tapi untuk paman Setyadhi mungkin belum bisa dibawa pulang malam ini, Ayah tenang saja, saya akan mengurusnya di lain hari."


Ayah Berli menghela napas.


"Apa Anda sudah menjelaskannya pada putriku?"


"Belum Ayah, setelah ini akan saya jelaskan. Ayah berkemas saja. Hikam, bisakah saya meminta bantuanmu?"


"Tentu saja," kata Hikam.


"A-apa? Eh, ba-baik, Pak." Walaupun kaget, Pak Yudha menyanggupi.


"Tugasku apa?" tanya Hikam.


"Kamu bantu Pak Yudha mempersiapkan semuanya. Saya akan membujuk Linda, itu saja, permisi." Agam Berlalu cepat.


Ia meninggalkan tatapan aneh dari Pak Yudha, Ayah Berli dan Hikam. Jelas sekali mata sayu Agam menyiratkan kekhawatiran dan kesedihan.


Ada apa ya?


Ketiga orang pria itu bertanya di hati mereka masing-masing. Hikam dan Ayah Berli semakin kaget saat benda-benda yang awalnya dikira hiasan di rumah mewah tersebut tiba-tiba bergerak bersamaan.


"Apa itu?!" teriak Hikam.


"Tidak perlu takut, itu robot milik Pak Agam, sebagian dari robot ini ada yang dirancang oleh Gama. Mereka akan melakukan intruksi pak Agam, sepertinya rumah ini akan disterilkan, kondisinya mungkin genting."


"Ayo, kita harus bergerak cepat. Jika robot-robot itu diaktifkan oleh pak Agam, artinya rumah ini sedang terancam keamanannya," jelas Pak Yudha sambil membuka laptop, dan memasang alat komunikasi di telinganya.


Ayah Berli dan Hikam saling menatap. Bulu kuduk Hikam tiba-tiba merinding. Ayah Berli melamun sejenak. Informasi dari Pak Yudha menyadarkannya kembali jika keputusannya menerima Agam memang akan berujung dilema.


.


.


.


.


Setelah menghubungi dokter Cepy untuk menyiapkan tim medis khusus yang siap mendampingi Linda ke Pulau Jauh, Agam bergegas kembali ke kamar Linda. Hatinya benar-benar bimbang. Sebenarnya, ia tidak rela dan tak tega untuk berpisah dengan Linda walaupun hanya untuk sementara waktu.


Tangan Agam gemetar saat ia menekan tombol otomatis untuk membuka pintu kamarnya. Batinnya semakin tidak karuan ketika Linda yang malam ini sangat cantik dan seksi menyambutnya dengan senyuman, memeluknya, dan menggelayutkan tangan di pundaknya.


"Siapa yang menelepon? Sepertinya sangat penting," ucapnya.


"Ya, sangat penting."


Dengan berat hati, Agam melepaskan tangan Linda dari pundaknya. Lalu menuntun Linda yang bingung untuk duduk di sofa. Agam kemudian berlutut dan memeluk pinggang istrinya. Ia mencium calon buah hatinya.


"Kenapa?" tanya Linda.


"El, kamu dan saya untuk sementara waktu harus berpisah dulu." Memegang tangan Linda.


"Berpisah? Maksudnya?"


"Sayang, ada masalah mendadak, demi keselamatan dan kenyamanan kamu beserta anak kita, malam ini ... kamu mau ya pulang untuk sementara waktu ke Pulau Jauh?"


"A-apa?" Linda terhenyak.


"Linda, dengar sayang ...."


Agam meraih dagu istrinya dan menatap dalam manik indah milik Linda.


"Ketua BRN akan datang ke rumah ini, saya tidak ingin dia melihat kamu, saya akan mensterilkan rumah ini," jelasnya.


"A-apa? Dia mau ke sini? Apa itu sangat berbahaya?" Bibir cantiknya gemetar, dan maniknya mulai berkaca-kaca.


"El, sebenarnya ... dia orang baik, tapi ... dia ke sini pasti tidak sendirian. Saya harus waspada pada orang selain ketua. Itu juga menjadi salah satu alasan kenapa saya pada saat itu mengusir Gama untuk tidak menampakan diri di rumah ini." Agam mengusap air mata Linda yang mulai berderai.


"Pada saat saya menyuruh Gama pergi, saya belum tahu kalau ketua akan ke mari. Info ini baru saya dapat beberapa menit yang lalu. Sekarang kamu bersiap ya sayang. Bawa hal yang menurut kamu penting saja. Oke?" Agam memeluk Linda. Istrinya terisak.


"Yang paling penting adalah ka-kamu ... Pak, apa tidak ikut?"


"Saya tidak bisa ikut, El. Tapi kamu tenang ya, akan ada pengawal yang menjaga kamu. Ada tim medis juga. Kata dokter Fatimah, kandungan kamu aman kok kalau naik pesawat, hanya tidak aman kalau kita ---." Agam tidak melanjutkan kalimatnya.


"Pak, maaf ... aku tidak mau pergi, aku ingin menghadapinya bersama-sama, aku ingin mendampingi Pak Agam, please ... boleh ya Pak ...," lirihnya.


"El, waktunya tidak banyak. Terima kasih atas kesediaan kamu. Tapi saya tidak ingin mengambil risiko. Ingat sayang, kamu mungkin saja merasa mampu dan kuat, tapi kamu sedang hamil besar sayang, kamu pernah mengalami eklampsia, tolong jangan gegabah, percayakan semuanya sama saya."


Agam kembali memeluk Linda yang terlihat rapuh, bersamaan dengan suara bising yang berasal dari halaman belakang rumah Agam.


Ternyata, di bagian lain halaman belakang rumah Pak Dirut, ada landasan helipad. Rupanya, pak Yudha telah menjalankan tugasnya dengan baik.


"Huuu huuu ...."


Linda tidak bisa menahan diri lagi. Jujur, ia juga memang ingin pulang, ia rindu pada ibu, dan adiknya. Tapi ... Linda tidak menyangka akan pulang dengan cara seperti ini.


"Kalau menurut suamiku ini keputusan terbaik, baiklah aku setuju, tapi ...."


"Tapi apa, El?" Sambil mencium kening istrinya.


"Tapi ... Bapak harus janji segera menjemput ya. Jangan lama-lama. Aku ... aku ... pasti rindu," ucapnya. Linda tersenyum getir.


"Hmm ... tidak akan sayang. Tidak akan lama, kan sebentar lagi kita akan bertemu bayi kita, saya berjanji El. Oiya, saja juga penasaran dengan kampung halamanmu, jadi ... jika semuanya telah selesai, saya pastikan akan segera menjemput kamu."


"Aku tunggu," kata Linda sambil menatap wajah tampan yang pastinya akan ia rindukan. Pun dengan Agam, ia menatap lekat wajah memesona itu dalam-dalam.


Dan saat menatap pesona istrinya, Pak Dirut selalu terhipnotis, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menikmati yang merah merekah itu detik ini juga. Hingga adegan manispun terjadi, mereka larut dalam manisnya cinta yang bercampur dengan perasaan duka karena hendak berpisah.


Semakin lama duka itu mengusik keduanya, adegan itu semakin lekat dan dalam. Seolah tidak ingin berpisah, atau mungkin saja sedang menyetok rasa manis dan nikmat itu untuk beberapa hari ke depan.


Dan adegan itu mungkin tidak akan berhenti andai ponsel Agam tidak berdering dan di luar kamar terdengar suara Pak Yudha yang melaporkan jika seluruh persiapan hampir selesai.


Keduanya kembali saling menatap. Dan Linda tahu jika di mata Agam sedang menyimpan kesedihan yang mendalam. Tatapan sayunya seakan tengah menahan desakan air mata. Mereka kembali berpelukan. Linda menghirup dalam-dalam aroma suaminya dengan air mata yang menganak sungai.


***Next*** ... mohon, ***like***, ***vote*** dan komen jika berkenan. *InsyaaAllah* ***up*** lagi hari ini.


Mohon maaf tidaak up tiap hari, kenapa? Karena nyai harus bekerja di dunia nyata dan ada banyak sekali program. 🤦‍♀️☺️



Terima kasih untuk ***fans silver***. Akan ada kenang-kenangan dari nyai untuk fans silver. Akan diberikan saat AGAPE selesai diintai.🥰🥰🥰



Jangan diketawain karena nyai menjadi fans silver untuk karya sendiri, hehe. Maklum ya, maafkan, namanya juga penulis remahan.🥰



![](contribute/fiction/2170758/markdown/13015515/1631460853334.jpg)