
Pagi ini cuaca begitu cerah, angin berhembus menyejukkan, udara pagi menyegarkan. Ciap burung tetangga di seberang jalan bersahutan, meramaikan suasana.
.
.
.
.
Dua bocah kembar yang lucu nan cantik itu sedang bermain di taman pekarangan saat penghuni lain tengah sibuk dengan rutinitas masing-masing.
Setelah puas bermain, Yolla dan Yolli bepose gemas mengikuti intruksi Hikam.
"Bagus," puji Hikam.
Yang manakah Yolla?
Yang manakah Yolli?
Entahlah, yang hafal hanya ayah Berli, bu Ana dan Linda. Hikampun ternyata tidak bisa membedakan.
.
.
.
.
Bayi Alf dan inkubatornya telah dibawa kembali ke kamar pribadinya oleh dokter Rita. Saat ini, bayi Alf sedang dimandikan oleh dua orang suster.
Sementara di kamar utama, Agam yang sudah bersiap dengan setelan formalnya, tengah memandangi Linda yang tertidur pulas. Linda sudah mandi dan ganti balutan pada pukul lima pagi dibantu oleh dokter Rita.
Dan ketahuilah dokter Rita sempat kaget karena plester tahan air milik Linda nyaris lepas, sampai-sampai dokter Rita berkata ....
"Bu LB tidak mungkin berendam di bathup, kan? Kok, ini plesternya begini, sih? Lembab sekali. Bekas lukanya sih aman."
"Emm ...."
Hanya itu jawaban Linda pada saat itu. Tidak mungkin kan Linda bercerita kalau semalam telah menuntaskan hasrat Pak Dirut di dalam bathup?
Linda juga mengerling ke si biang kerok, yang semalam sempat berubah menjadi singa kelaparan, Agam Ben Buana.
Tapi yang dikerling malah pura-pura batuk dan menggaruk leher yang tidak gatal sambil bersiul-siul. Menyebalkan, tapi dia sangat tampan.
Agam tersenyum mengingat kejadian kala itu. Kembali menatap Linda yang terlelap.
Semalam, Linda pasti kelelahan karena harus melayani kemanjaannya, dan juga memberi ASI pada bayi Alf.
Mau membangunkan Linda, tapi ... Agam merasa tidak tega. Padahal, waktu keberangkatannya ke kota tinggal 40 menit lagi. Bahkan Pak Yudha yang kali ini akan ikut ke kota sudah menunggunya di ruang makan.
Pak Yudha sedang menatap makanan hotel bintang lima yang tersaji. Ia menahan lapar karena ingin sarapan bersama Agam.
.
.
.
.
"Maaf ya sayang," ucap Agam.
Seraya memeriksa dan memandangi sisa-sisa kenakalannya yang tertinggal di tubuh elok itu.
Sudut bibir Linda sebelah kanan memerah dan pecah. Karena gemas, semalam Agam spontan menggigitnya. Dua tanda cinta di leher Linda tampak kebiruan.
Mungkin karena Agam melakukannya terlalu kuat. Agam memukul kepalanya, merasa bersalah. Serius, saat sedang b e r c u m b u dengan Linda, ia merasa tidak bisa menahan diri.
Kembali mengecek. Benar saja, di pergelagan tangan Linda terdapat lingkaran memerah.
Agam ingat, telah memegang erat tangan Linda di bagian itu. Agam merasa sudah melakukannya dengan lembut. Tapi, sungguh di luar dugaan. Cengkramannya ternyata membekas.
Ia menghela napas, lalu mengambil salep andalan yang biasa ia gunakan untuk mengobati memar dan luka. Dioleskannya pada bagian tubuh Linda yang terdampak.
"Maaf sayang, lain kali saya akan lebih lembut dan lembut."
Di singkapnya perlahan selimut yang menyelimuti kaki Linda.
Deg, pria itu kembali menghelas napas, sekarang sambil mengusap dadanya. Ada memar juga di sana, warna kebiruannya kontras dengan kulit Linda.
Semalam, ternyata Linda sempat meronta saat Agam mengenikmati pesenti kaki jenjangnya, Linda teramat malu dan berusaha menolak. Akibatnya, Agam menahan kaki Linda, dan dari situlah asal mula memar tersebut.
Lagi, Agam mengecup bagian itu sebelum diolesi salep. Jantungnya berdegup. Sangat penasaran dengan si sepuluh persen yang masih menjadi misteri.
Linda kaget, ia terbangun karena merasakan sesuatu yang lembut menempel di betisnya. Dengan gerakan spontanitas Linda menendangkan kakinya.
'DUGH.' Tepat sasaran.
"AWH! Sa-sayang ...."
Agam memekik, hidung mancungnya terkena tendangan Linda.
"P-Pak Agam?!" Kaget.
"Uhh, sshh ... sakit, El," keluh Agam.
Mengusap batang hidungnya. Dan Agam merasa ada sesuatu yang hangat mengalir dari sana.
"Pak Agam berdarah! Mimisan!" Linda panik.
"Tolooong, dokter Rita, dokter Dani, tolooong!" teriaknya sambil melompat turun segera dari tempat tidur meninggalkan Agam yang melongo menatap tingkah Linda.
"Dia mengkhawatirkanku?" Agam bangga, rasa sakit di pangkal hidungnya hilang seketika.
"Cepat! Pak Agam mimisan, aku tidak sengaja menendangnya." Linda kembali ke kamar bersama tim medis.
"Ya ampun, Pak Agam."
Dokter Danipun panik. Segera memeriksa Agam. Ia khawatir mimisannya Agam akibat dari luka lamanya yang kambuh lagi. Dokter Dani tentu saja sudah mengetahui catatan medis milik Agam.
"Saya tidak apa-apa, tolong semuanya tenang," kata Agam.
"Pak Agam maaf ya."
Linda bergelayut di bahu Agam. Teramat khawatir, padahal yang dikhawatirkan Agam justru adalah dirinya.
"Saya bisa mengobatinya sendiri." Agam sepertinya kurang suka kebersamaannya dengan Linda terganggu.
"Ya sudah Pak, kami permisi." Mereka keluar.
"Pak Agam, maaf ...," Linda menunduk.
"Sayang, begini ya," Agam memeluk Linda.
"Tidak perlu meminta maaf, saya yang salah, El. Hanya mimisan sedikit, kok. Sekarang lihat ini sayang, saya justru mengkhawatirkan kamu. Bibirmu terluka gara-gara saya. Tubuh mulusmu juga," katanya.
Agam mengusap bibir Linda, dan memeriksa kemerahan di pergelangan tangan Linda.
"Oh, ini?" Linda tersenyum. Ia tahu Agam melakukannya tanpa sengaja.
"Nanti juga sembuh," kata Linda.
"Maaf ya sayang, semalam saya tidak menyadarinya."
"Ti-tidak apa-apa, Pak."
"Tolong jangan beri tahu masalah ini pada Vano. Kalau dia tahu, saya bisa terjerat pasal kekerasan dalam bercinta. Em, tidak, tidak. Maksudnya kekerasan dalam bercumbu," goda Agam.
"Kok, dalam bercumbu?" Linda heran.
"Kan bercintanya belum sayang," bisik Agam.
"Oh, hahaha, aku faham," ujar Linda. Lalu membantu Agam merapikan bajunya.
"Sekali lagi maaf ya, El. Saya gemas melihat kamu polos, emm ... tidak bisa mengendalikan diri," katanya.
"Aku maafkan, Pak. Kelak, aku harus banyak berlatih. Aku harus menjadi wanita yang kuat, sebab Pak Agam juga kuat." Sambil menegangkan tangannya ala binaragawan.
"Hahaha, jangan terlalu kuat sayang, saya kurang suka wanita berotot."
Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Agam membukanya.
"Pak Agam, mohon maaf. Kita sudah ketinggalan pesawat," terang Pak Yudha.
"Apa?! Ya ampun, ya sudah Pak, pesan lagi ya."
"Baik Pak, tapi kita siangan berangkatnya. Mugkin sebelum Dzuhur."
"Tidak apa-apa," kata Agam.
"Oiya Pak Agam, sarapan sudah siap, kapan Anda mau makan?" Pak Yudha masih mematung di depan pintu kamar.
"Saya mau makan di kamar saja, tolong siapkan dua porsi. Untuk saya dan Linda."
"Baik." Pak Yudha berlalu.
.
.
.
.
"Pak Agam, apa Anda yakin tidak ingin cepat-cepat ke kota?" Linda menatap Agam yang saat ini sedang mengobati kemerahan di lehernya.
"Yakin sayang, lagipula saya dapat kabar dari Vano kalau BRN sudah membebaskan Gama. Saya tidak tahu pasti alasan BRN melepaskan Gama. Tapi setidaknya saya bisa tenang karena Gama baik-baik saja. Kabar terbarunya, hari ini dia sudah berangkat ke sekolah seperti biasa."
"Oh, begitu. Syukurlah."
Linda tersenyum. Dan senyuman itu membuat Agam gemas. Segera mengurung Linda, menatapanya, dan mengecup bibirnya.
Linda mengatupkan bibirnya. Mungkin takut tergigit lagi.
"Pak Agam, bagaimana kalau tidak perlu dekat-dekat seperti ini, takut ---." Linda mengerjapkan mata.
"Takut apa, hmm?"
Di dalam selimut mereka berpelukan sambil menunggu menu sarapan tiba di kamar.
"Takut ada yang berkembang biak," bisik Linda.
"Hahaha, tidak ada biaknya sayang. Cukup berkembang saja, kalau ada biaknya berarti bertambah banyak, dong. Kalaupun ada, jangan dipedulikan," bisik Agam.
"Hahaha." Keduanya tergelak, seraya saling menatap dan melempar senyum.
"Sayang, saat kamu selesai masa nifas, kita bulan madu ya."
"Bulan madu?"
"Ya sayang."
"Terus, Keivel?"
"Ya dibawalah."
"Em, boleh tidak kalau aku mengajak keluargaku?" Sambil menelusuri alis indah milik Pak Dirut.
"Boleh sayang, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa? Harus bayar?"
"Hahaha, kamu lucu. Syaratnya adalah ... keberadaan mereka jangan sampai mengganggu malam pertama kita."
"Uhhuk, uhhuk," Linda terbatuk. Kalimat malam pertama membuatnya merinding si bulu roma.
"Pastinya tidak akan ada yang berani ganggu, Pak. Paling juga Keivel."
"Pokoknya saya tidak mau diganggu siapapun, sekalipun itu oleh Keivel," tegasnya.
"A-apa?!" Linda membelalak.
"Saya serius, El."
"Huhh," Linda menghela napas.
"Kamu hanya boleh memberi ASI pada Keivel atas izin saya. Lagipula Keivel bisa minum pakai dot, ya kan? Apa gunanya keberadaan dokter Rita dan para suster kalau tidak bisa diandalkan?" tambahnya.
"Ba-baik, Pak. Apapun mau Pak Agam, aku patuh," kata Linda.
"Nah begitu dong sayang. Hahaha," Agam tertawa puas.
"Oiya El, ada kabar juga dari tuan Deanka. Keputusan dewan direksi saya tetap Dirut HGC. Saya minta pendapat kamu. Saya lanjut bekerja untuk HGC atau membuka usaha baru?" tanyanya.
"Aku sih bagaimana Pak Agam saja, yang penting Pak Agam nyaman, aku dukung. Tapi ...." Kalimat Linda menggantung.
"Tapi apa?"
"Katanya sekretaris HGC yang baru itu," Linda mengalihkan pandangan.
"Oh, maksudmu Aulia?"
Linda mengangguk.
"Cemburu?" tanya Agam.
"Em, tidak sih," elaknya.
"Hmm, tidak perlu khawatir sayang. Cinta saya HANYA untuk kamu." Walau Linda mengelak, Agam faham maksudnya.
"Setelah acara aqiqah, kita pindah ke kota."
"Bagaimana baiknya saja," jawab Linda. Ia benar-benar menjadi istri yang patuh.
"Terima kasih," ucap Agam.
Linda yang penurut membuatnya kembali gemas. Perlahan namun pasti ia menciumnya lagi di bagian itu. Bagian yang semalam digigitnya.
"Pak Agam, sarapannya sudah siap," suara Pak Yudha.
"Hmm, gagal deh." Agam menggaruk tengkuknya, Linda terkekeh.
Lalu pelayan hotel yang disewa Agam masuk ke kamar dan menyajikan menu. Linda membelalak. Cara Agam memperlakukannya benar-benar berlebihan.
Menu sarapan sebanyak ini? Pasti tidak akan habis.
"Kenapa sayang? Tidak suka?"
"Su-suka Pak, suka."
"Mau saya suapin?" tawarnya.
"Ti-tidak Pak, tidak perlu," jawab Linda.
Serius, Agam sangat romantis. Bagaimana mungkin Linda tidak meleleh. Agam bahkan menuangkan air minum untuk Linda. Dan terus menatap Linda saat kegiatan makan sedang berlangsung. Hal ini membuat Linda salah tingkah, beberapa kali minun air putih agar tidak tersedak.
Ah, Pak Agam, kamu itu ya. Batin Linda terbuai.
.
.
.
.
Hingga saatnya perpisahan itu tiba jua. Agam mencium putranya lama-lama sebelum benar-benar pergi. Tak lupa meminta izin pada ayah dan ibu mertua, dan tentu saja sebelum mencium Keivel, di kamar utama, tepatnya sepuluh menit yang lalu, Pak Dirut telah menghabisi Linda dengan caranya sendiri.
"Jangan lama-lama."
Di halaman rumah, Linda memeluknya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak akan sayang, saya bisa gila kalau tidak ---," bisiknya. Lalu mengecup puncak kepala Linda. Entah apa yang dibisikan Pak Dirut, yang jelas pipi Linda langsung merona.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Freissya, berubah menjadi pendiam pasca kejadian itu. Ditambah dengan kecurigaan keluarga karena Freissya selalu diantar jemput oleh mobil taksi dengan plat nomor yang sama saat ia bepergian atau bekerja.
Freissya juga sering murung. Bapak dan mama Freissya mengira jika putrinya murung karena putus dari dokter Gio.
Mereka tidak tahu kalau yang memutuskan hubungan adalah Freissya. Freissya juga belum bercerita kepada keluarganya jika dokter Gio adalah cucu dokter Rama yang merupakan dokter pribadi keluarga Haiden.
.
.
.
.
Suatu hari saat Freissya bekerja, dokter Gio datang ke rumah Freissya. Menjelaskan sesuatu yang membuat Bapak dan Mama terkejut.
"Bapak, Mama, Frei memutuskanku secara sepihak dan tanpa alasan. Tolong Bapak dan Mama lebih memperhatikan Freissya. Sikap dia berubah setelah berteman dengan anak kos yang kaya raya itu. Aku yakin ini ada hubungannya dengan dia."
"Tapi, Dok. Anak itu sudah pindah, sekarang Frei juga tidak pernah bertemu dia lagi. Kalau Freissya sudah memutuskan, mohon hargai keputusannya," kata Bapak.
"Tidak bisa Pak, aku tidak terima. Bapak dan Mama pokoknya harus menyelidiki dia."
Perbincangan itu usai tanpa menghasilkan kata mufakat. Dokter Gio pergi dengan perasaan kesal. Sebenarnya kekesalannya berawal dari hasil penyelidikan yang ia lakukan pada Gama.
Fakta terbaru, dokter Gio tahu jika Val adalah adiknya Dirut HGC. Dan yang membuatnya sakit hati adalah ... ia diperintah untuk melepaskan Freissya oleh kedua orangtuanya setelah ia menjelaskan pada mereka jika Freissya dekat dengan adik Dirut HGC.
"Sudahlah Gio, dia hanya suster diploma tiga, lepaskan saja dia. Lebih baik kamu terima keputusan Freissya daripada bersaing dengan adiknya Agam Ben Buana."
"Tidak bisa Ma, tidak ada yang cantik sekaligus menggemaskan seperti Freissya."
"Ya ampun, Gio. Masih banyak yang lebih cantik dari dia. Coba kamu berpikir, apa kamu yakin Freissya masih perawan?"
"Maksud Mama apa?!"
"Kakaknya saja berani memperkosa artis, bisa jadi si Freissya juga sudah diperkosa. Feeling Mama sih begitu."
"Mama! Freissya tidak seperti itu!" bela dokter Gio.
"Coba kamu pastikan lagi. Anak gadis jaman sekaranga rata-rata gila uang. Bisa jadi Freissya juga termasuk ke dalamnya."
"Aaargh," teriak dokter Gio.
Mengingat kembali percakapan dengan mamanya, membuatnya sakit hati dan kesal.
Fix, harus memastikan ucapan mamanya. Ia membelokan kemudi ke rumah sakit, menanti kepulangan Freissya di pintu keluar.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
"Pak Agam, huuu."
Bu Ira berhambur memeluk Agam. Sudah menganggap Agam sebagai anak sendiri. Bu Ira tidak canggung lagi.
"Cukup Bu Ira," Pak Yudha mengingatkan.
"Saya baik-baik saja, Bu," kata Agam. Bergegas ke kamarnya, Pak Yudha menguntit, pun dengan Bu Ira.
Dan Agam terkejut saat melihat makanan di meja makan ada banyak. Ditambah dengan susu pertumbuhan milik Gama yang tersisa sedikit lagi di gelas yang tersaji.
"Gama pulang ke rumah, Bu?"
"Iya Pak. Pulang ke rumah, barang-barangnya yang di firma sudah dipindahkan lagi ke sini. Oiya Pak, memangnya Bapak merekrut pengawal baru?"
"Maksud Bu Ira?"
"Tadi pagi saat berangkat sekolah, Gama dijemput oleh mobil yang di dalamnnya berisi orang-orang berseragam polisi. Terus barusan berangkat les, diantar sama mobil itu dan polisi-polisi itu juga Pak," jelas Bu Ira.
"Apa?!" Pak Yudha kaget. Tapi tidak dengan Agam.
"Ya sudah, Bu, Pak Yudha, yang penting Gama baik-baik saja. Saya mau ke HGC. Bu Ira segera kabari saya kalau Gama sudah pulang."
"Baik Pak. Apa Pak Agam tidak makan dulu?"
"Saya makan di HGC saja, tuan Deanka sudah menunggu," jawabnya.
...❤...
...❤...
...❤...
...❤...
Di sana, di lantai 88 tower HGC, tepatnya di ruangan milik Dirut, Tuan Deanka terus menggerutu. Merasa kesal karena Agam mengulur waktu. Janji awal pertemuan mereka adalah pukul sebelas siang.
Sekarang sudah pukul setengah empat sore, tapi Agam Ben Buana belum tampak batang hidungnya.
Lalu interkom berbunyi, Aulia masuk bersama Juan dan seseorang yang sudah ditunggunya tapi bukan Agam.
"Juan, kenapa lama sekali?"
"Maaf Tuan Deanka, saya terkena macet, terus kan harus menunggu Nona selesai les dulu," jawabnya sambil menunduk.
"Kak Dean, ada apa sih? Kata Kak Juan ada hal penting hingga aku harus ke sini, ada masalah apa?" tanya wanita muda yang tengah hamil besar.
"Baby, nanti aku jelaskan." Sambil memeluk wanita muda itu.
Ya, benar yang dipeluk Tuan Deanka adalah Aiza Bahira, istrinya.
"Ya sudah, kalian pergi sekarang, cepat!" usirnya.
"Baik, Tuan dan Nona kami permisi." Aulia dan Juan berlalu.
'Trak.' Pintu terkunci.
"Ada apa Kak?" Aiza berjinjit, membelai rahang suaminya.
"Aku dikerjai Agam, baby. Dia adalah orang pertama yang berani membuatku menunggu dan ingkar janji. B r e n g s e k!" rutuknya.
"Kak, sabar dong." Sekarang mengelus dada Deanka.
"Kalau saja tidak berhubungan dengan kepentingan orang banyak, aku akan menolak saat ayah menyuruhku untuk mengantikannya sementara waktu," katanya. Sambil mengelus perut Aiza.
"Kak Dean berhutang nyawa pada pada pak Agam, kan? Kurasa, apa yang dilakukan Kak Dean untuk pak Agam belum seberapa."
"Apa? Kamu membela dia?!" bentaknya.
"Ssst ... Kak, tidak boleh bentak-bentak, takutnya nanti anak kita jadi pemarah."
"Ya ampun, maaf baby. Maafkan Papa ya Macil." Memeluk Aiza, menciumi perutnya.
"Ya sudah, sambil menunggu pak Agam, apa ada yang bisa aku bantu?" tawar Aiza.
"Layani aku," bisiknya.
"A-apa? Kak Dean tidak serius, kan?" Aiza panik.
"Za, dengar ya, coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kalinya? Semalam kamu beralasan mau belajar untuk persiapan ujian kelulusan, tadi pagi kamu beralasan malas keramas. Apa kamu sudah berani jadi pembangkang, hah?" Menghimpit Aiza. Tangannya menerobos lancar ke dalam gaun.
"A-apa? Tapi ... semalan dan tadi pagi Kak Dean bilang tidak apa-apa." Aiza menelan saliva.
"Sssttt, let's go baby," katanya. Sambil menuntut Aiza ke dalam kamar.
"Kak Dean, kalau Pak Agam datang bagaimana?"
"Biarkan saja dia menunggu, toh seharian ini aku juga menunggunya."
.
.
.
.
'Brak.'
Tuan Deanka menendang pintu kamar.
"Kak Dean, sa-sabar sayang ...."
Aiza ketakutan saat Tuan Deanka meletakan dirinya di sisi tempat tidur. Lalu pria itu berlutut di bawah kaki Aiza dan melepas apa yang dikenakan Aiza.
"K-Kak Dean ...."
Skip.
Aiza memejamkan mata, mengatupkan bibirnya, sambil meraih apa saja yang bisa ia pegang. Tangannya mengerat pada sperai. Sementara si Tuan Muda masih berlutut dan mendalami perannya.
Jika sudah seperti ini, Aiza tidak bisa berkutik lagi. Akan berubah menjadi wanita polos dengan sejuta pesona. Aiza memasygul rambut Deanka seiring dengan serangan rasa itu.
Tuan Deanka kian bergairah, kala ia berhasil membuat Aiza terbang ke angkasa raya. Lalu ia hempaskan lagi, seolah tengah mempermainkannya.
Hingga akhirnya, bibir mungil itu mendamba dan mengiba. Meminta sesuatu yang tidak terucap, tapi tercermin jelas dari respon dan bahasa tubuhnya.
"Kak .... Please ...." Aiza memohon dan menggelinjang.
"Sesuai permintaanmu, Tuan Putri. Hamba akan memberikannya dengan tulus hati, sekarang nikmatilah baby," goda Tuan Deanka. Lanjut memposiskan diri senyaman mungkin.
Beberapa detik kemudian, Aiza berteriak kuat dan terjadilah adegan itu. Skip.
Tuan Deanka tersenyum seraya bermobilisasi dan memandangi keindahan yang tersaji di depan matanya.
"Emh, Kak Dean ... stop'it."
"K-ke-napa, Za?"
"Ahhh ... sakiiit Kak, huuu ...."
Teriakan Aiza berbarengan dengan air jernih yang mengalir dari sana. Deanka terkejut. Menghentikan aktivitasnya, dan segera berpakaian alakadarnya.
"Apa ini, Za? Kamu kenapa baby?"
Deanka gemetar, lutut yang tadi kokoh menopang tubuh tingginya bak tak bertulang. Mata hazelnya membelalak melihat air putih jernih yang terus mengalir.
"Kak Dean ... sepertinya i-ini air ketuban, a-aku akan melahirkan, Kak ...."
"A-apa? K-kamu serius baby?" Mata Tuan Deanka mengerjap tak percaya.
"Kak ... tolong cepat, aaawwh ... perutku sakit sekali, huuwaaa ...." Aiza menangis.
"Aizaaa, huuu." Tuan Deanka malah memeluk Aiza dan ikut menangis.
"Kak ... mungkin sudah saatnya, mundur dua minggu dari tafsiran kata dokter Fatimah biasa terjadi .... Ahhhh ... sakiiit ...."
"Apa?! Baby, apa kamu yakin akan melahirkan? Bagaimana ini? Aku belum ke salon Za, aku belum siap bertemu dengan anak kita, aku malu kalau penampilanku berantakan."
"Ya ampun Kak Dean! Bukan saatnya memikirkan ke salon! Kamu tidak bisa diandalkan! Ibuuu, ayaaah, tolooong," teriak Aiza, ia kesal pada Tuan Deanka.
Tuan Deanka tersadar, segera memakaikan baju pada Aiza, dan ketahuilah yang dipakaikan pada Aiza adalah kemeja miliknya, bukan gaun bagian atas milik Aiza. Aiza tidak menyadarinya karena fokus pada mulas.
Tuan Deanka lalu memakai jas dan dasi. Tapi, ia melupakan celana panjangnya. Hanya boxer keropi yang ia kenakan di bagian bawah tubuhnya. Lalu memakai kaus kaki dan itupun hanya sebelah.
Segera menyelimuti dan membopong Aiza dengan tangan gemetar, berjalan cepat tanpa alas kaki, melupakan bala bantuan yang sebenarnya tinggal ia telepon saja tanpa harus kerepotan.
"Sabar baby, sabar ya."
Tuan Deanka menenangkan Aiza tanpa henti. Padahal, saat ini ia juga perlu ada yang menenangkan.