AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Berkunjung ke Pearl Ocean Village [Bagian 2]



"Aku tidak seharusnya berada di sini, Pak. Bapak lihat tatapan mereka, kan?" kata Linda.


Mereka baru saja menikmati sajian makan malam di rumah itu, namun Linda hanya makan sedikit.


"El ... mereka hanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan bersedih, saya akan menjelaskan pada mereka."


"Tidak perlu Pak. Jangan mempersulit keadaan," lirihnya.


"Tapi, El."


"Pak Agam, tolong mengerti keadaanku dan perasaanku, biarkan pada aku saja mereka berprasangka buruk, tapi tidak pada Bapak."


"Linda, kita sudah janji akan memperjuangkannya bersama-sama, ya kan?"


Agam duduk bertumpu pada lututnya, menghadap Linda yang masih duduk di kursi makan.


"Ya itu benar, tapi bukan di sini, Pak. Bukan di rumah ini. Melaikan di Pulau Jauh, di rumahku, di hadapan ayah dan ibuku," ucapnya.


"Baiklah, maafkan saya, El." Agam meraih tangan Linda tapi ditepis.


"Maafkan Papa," lanjut Agam sambil menatap perut Linda yang terlihat semakin membesar saat Linda duduk.


Tadi, saat memeluk Linda, Reni dan Yanti mungkin kaget kala merasakan perut Linda membesar.


Ya, tuan Deanka pastinya hanya mengatakan jika Agam dekat dengan LB. Tapi tidak mungkin mengatakan juga pada para pekerjanya kalau Agam menghamili LB.


"Linda, saya mau memeluk kamu." Agam merentangkan tangannya.


"Tidak perlu, Pak. Kita istirahat saja, aku lelah." Linda berdiri.


"Baik, saya akan membawa camilan berat untukmu, takutnya malam kamu lapar."


Agam mengambil beberapa keping coklat dan permen, lalu dimasukkan ke dalam saku kemejanya.


"Setelah kita bertemu tuan Deanka dan nona Aiza, kita pulang saja. Saya tidak mungkin mengikuti acara saat hati kamu tidak baik-baik saja."


"Bapak ikut saja, aku tidak masalah kok," kata Linda saat mereka sudah berada di dalam lift menuju lantai tiga.


"Kita bicarakan besok ya, selain undangan itu saya juga datang ke sini karena ingin mengatur jadwal ulang untuk keberangkatan ke Pulau Jauh. Tuan Deanka bersikeras mau mengantarku."


"Ya, Pak. Mohon doanya agar aku kuat," lirihnya.


"El, saya tidak mau ini terus berlarut-larut, bagaimana kalau kita bongkar saja ke publik? Saya lelah melihat kamu menangis dan bersedih seperti ini," kata Agam. Bersamaan dengan terbukanya pintu lift lantai tiga.


"Tidak Pak, aku tidak mengizikan," sahut Linda.


Saat lift terbuka mereka langsung disuguhi oleh arsitektur yang begitu megah nan memukau. Ada taman dan kolam renang yang didisain sejajar. Terlihat jika di lantai tiga ini ada lima kamar tidur dengan bilik kaca yang menjulang tinggi.


MasyaaAllah.


"Bagus ya, Pak."


"Kamu mau rumah seperti ini?" Sambil berjalan perlahan menuju kamar yang dimaksud.


Kamar mereka ternyata berdampingan. Hanya view depannya saja yang berbeda. Ada yang menghadap kolam renang, dan ada yang menghadap ke taman.


"Tidak begitu suka, Pak. Ini terlalu mewah."


Dan keduanya terkejut saat mendengar sayup-sayup suara erotis dari salah satu kamar atau mungkin dari sebuah ruangan terbuka di lantai ini. Agam dan Linda mematung.


"Suara a ---."


Bibir Linda langsung dibekap oleh tangan Agam.


"Sssttt ...."


Agam meletakkan telunjuk di bibirnya. Pria itu celingak-celinguk, pipinya bersemburat merah. Pun dengan Linda.


Mata Linda dan Agam membulat sempurna, suara itu terdengar lagi, malah kian jelas. Suara yang seharusnya tidak mereka dengar. Itu suara pria dan wanita yang tengah memadu kasih.


"Argh, sial!" umpat Agam.


Mata Linda dan Agam bersitatap. Jantung keduanya berdegupan. Kenapa bisa kebetulan terjebak dengan kondisi ini?


Bukankah kamar Tuan Muda dan Nona Muda ada di lantai dua? Agam.


Apa itu suara tuan Deanka dan nona Aiza? Ya ampun, keduanya terdengar sangat bersemangat. Pipi Linda semakin merona.


Agam segera menutup telinga Linda dengan kedua tangannya.


"Ja-jangan didengar, lupakan, o-oke?" bisik Agam.


"Ma-masih terdengar Pak," kata Linda.


"Mari kita tidur di rumah kita."


Dengan gerakan cepat Agam membawa Linda kembali ke dalam lift.


"Pak, maksudnya kita akan pulang?" Linda bingung.


"Tidak, saya punya rumah juga di kawasan ini."


"APA?!" Linda masih tidak percaya.


.


.


.


"Baik, Pak."


Juan menatap kepergian Linda dan Agam dengan perasaan bingung.


Setahu Juan, Agam memang memiliki dua rumah di kawasan ini. Tapi, belum ada perabotan dan furniturnya. Ada satu rumah yang sudah ada tempat tidurnya. Tapi, hanya ada di satu kamar.


Apa mereka akan tidur bersama? Ck, ck, ck, Pak Agam yang saya tahu adalah orang baik, tapi ... kenapa jadi seperti ini? Desas-desus dari Yanti, Reni dan bu Lela, perut LB besar seperti hamil lima bulan.


Apa benar LB hamil? Lalu yang menghamilinya siapa? Apa pak Agam. Apa tuan Deanka tahu masalah ini?


Batin Juan berkecamuk, ia menutup gerbang sambil melamun. Merasa kecewa pada LB dan Agam jika dugaannya benar. Ia menyayangkan Agam dan LB yang seperti itu.


"Kecantikan, kekayaan, dan pendidikan yang tinggi, kalau tidak dilandasi dengan keimanan percuma saja. Eh, barangkali pak Agam dan LB sudah menikah siri. Bisa saja kan? Aku tidak boleh berprasangka buruk," gumam Juan.


***


Linda melongo saat memasuki rumah megah yang belum terisi apapun. Jadi tampak luas seluas-luasnya sejauh mata memandang.


"Mari kita ke kamar."


Linda menurut saja, tanpa berkomentar. Agam membawa tas Linda yang di dalamnya berisi perlengkapan pembelian Bagas.


Linda kembali mematung di ambang pintu kamar tersebut.


"Baru kamar ini yang ada tempat tidurnya. Rumah ini belum selesai, masih ada ruangan yang ingin saya renovasi."


"Kamu tidur di bed, saya di karpet."


Agam sibuk, ia membuka penutup plastik yang melindungi tempat tidur, merapikannya, menyapu, mengepel, lalu menggelar karpet. Linda hanya jadi penonton.


"Cepat mandi dan tidur, saya keluar sebentar," kata Agam saat kamar itu sudah siap pakai.


Linda mengangguk.


.


.


.


"Artis pendatang baru yang cantik dan seksi berinisial LB dikabarkan memberikan pengakuan pada seorang konglomerat terkait fakta tentang rahasia terbesarnya."


"LB mengakui kalau dirinya hamil di luar nikah. Sampai saat ini pria yang menghamili LB belum terungkap indentitasnya."


"Menurut keterangan narasumber, LB mabuk-mabukan di sebuah klub malam setelah acara perhelatan ajang penghargaan di mana LB memenangkan nominasi kategori pembaca berita terbaik."


"Menurut sumber, bisa saja keterangan LB adalah sebuah kepalsuan. Tapi fakta kalau dia hamil adalah kebenaran. LB juga sempat pergi ke sebuah klinik kandungan untuk menggugurkan kandungannya namun gagal karena dokter di klinik itu menolak permintaan LB."


Seperti itulah penggalan artikel berita sebuah media online yang baru saja dibaca oleh Agam. Tangannya mengepal kuat. Agam duduk di tangga rumahnya. Lagi, Linda kembali tersudutkan akibat ulahnya.


"Kurang ajar!" Hampir saja melempar ponselnya.


Agam berjalan cepat menuju kamar tadi. Ia yakin jika Linda sudah mandi dan tidur karena ia telah meninggalkannya selama satu jam.


DEG, tensentuh batinnya.


Bukannya tidur di tempat tidur, Linda malah tertidur di karpet, ia menggunakan dua bantal untuk menyangga perut dan punggungnya.


Cerobohnya Linda sepertinya memakan coklat dan ketiduran. Kini coklat itu belepotan di bibir merah delimanya.


Agam mengedarkan pandangan untuk mencari tissue, tapi tidak ada. Ia mendekat.


"Dasar jorok," gumam Agam.


Agam menatap lama-lama coklat dan bibir itu.


Apa tidak ada niatan untuk melapnya dengan handuk basah?


Atau membersihkannya dengan tangannya mungkin?


Apa ia harus terjaga sepanjang malam agar bibir Linda tidak diserang semut?


Atau mungkin, Agam akan membersihkannya dengan cara lain?


Entahlah.


Agam menghela napas berat. Berat untuk berpaling dari bibir itu. Beralama-lama menantapnya membuatnya jadi ingin membersihkannya dengan cara yang tidak seharusnya.


Kamu sengaja menggodaku ya El? Aku baru melihat wanita seusiamu memakan coklat dan belepotan.


Ia yang tidak kuat iman, sudah mendekatkan wajahnya. Bersiap untuk membersihkan coklat dengan bibirnya. Namun ... hampir beberapa centi lagi, Linda bergerak.


Agam kaget, segera mundur dan mengurungkan niat jahat itu. Bersamaan dengan tatapan Agam pada tas Linda.


Ide bagus, mungkin di tas wanita seksi ini ada tissue. Agam mengeceknya. Syukurlah ada tissue basah rupanya. Namun para penghuni tas yang tidak sengaja terpegang oleh Agam, membuat Pak Dirut harus kembali mengusap dadanya dan beristighfar.


Perlahan ia membersihkan bibir Linda dengan tissue basah, dan akhirnya ... berhasil. Agam bisa bernapas lega.


Sekarang giliran Agam membersihkan diri. Ia bergegas ke kamar mandi dengan berjalan mengendap-endap. Barulah setelah mandi, ia akan memindahkan Linda ke tempat tidur.


❤❤ Bersambung ....