
Bu Ira dan Enda menguntit dari belakang.
Bu Irapun menjadi tegang saat tahu jika tamu itu adalah ayah dari Linda Berliana. Sedangkan Agam pernah curhat padanya jika ayahnya Linda memiliki kesalahfahaman pada Agam.
"Pak Agam, tunggu."
Di antara ruang tamu dan ruang tengah yang teramat luas dengan penataan artistik itu Linda menahan tangan Agam.
"Kenapa, El?"
"Pak, maafkan ayahku jika nanti ada kata-kata ayah yang menyakiti atau menyinggung Pak Agam," katanya sambil menunduk, lalu melepaskan tangan Agam yang menggenggamnya.
Bu Ira dan Enda diam seribu bahasa. Mereka merasa tidak berhak mengatakan apapun untuk saat ini.
"Tidak apa, El. Kalaupun ayahmu memarahi ataupun membenci saya, saya terima. Saya pantas mendapatkan itu."
Agam mendekati Linda, ingin kembali memegang tangan wanita itu, namun Linda malah mundur dan memeluk Bu Ira.
"Bu Ira, aku takut ... ayahku baik, tapi kalau sudah marah, dia sedikit menakutkan," katanya.
Bu Ira terdiam, ia membalas memeluk Linda dan membelai rambutnya.
Lalu Maxim datang, tergopoh-gopoh.
"Pak Agam?" sapa Maxim, ia membungkukkan badan pada Agam.
"Kenapa menyusul?" sela Enda.
"Saya disuruh ayah Berli untuk menyusul."
"Hmm, ya sudah semuanya tenang, kita ke sana sekarang."
Agam menjadi yang terdepan, disusul Maxim dan Enda. Bu Ira menggandeng Linda di barisan paling belakang.
.
.
.
.
Dan tibalah mereka di ruang tamu, di mana Ayah Berli dan Hikam tengah duduk menanti.
"Assa ---."
"Mana putriku?"
Belu juga Agam menyelesaikan salamnya, Ayah Berli sudah menanyakan Linda.
"Ayah, se-selamat datang."
Agam memberanikan mendekat, bermaksud untuk meraih tangan Ayah Berli.
Namun sayang, Ayah Berli seolah tidak melihat keberadaan Agam. Ia bahkan tidak menerima uluran tangan Agam. Mata Ayah Berli terfokus pada putrinya, Linda.
Linda menunduk dengan tangan dan kaki gemetar. Keringat tampak membasahi pelipisnya yang seputih susu. Linda tahu ayahnya murka. Terlihat tatapannya yang begitu tajam.
Melihat keberadaan Agam tidak diindahkan ayahnya, ada perasaan yang menyayat hatinya.
"A-Ayah ...."
Linda berjalan gontai, menautkan kedua tangan, menunduk, dan mendekati Ayah Berli tanpa berani menatapnya.
"Ayah ...."
Linda langsung bersimpuh, memeluk kaki Ayah Berli dan menangis di sana.
Ayah Berli bergeming, tangannya mengepal dan gemetar, sementara di sudut mata dengan manik hitam legam itu terdapat butiran bening.
Agam masih berdiri dan mematung, waktu berjalan seolah melambat, hanya terisi dentingan jarum jam dan isak tangis pilu dari Linda.
"Hukks, maafkan aku Ayah ... maaf .... huu ...," isaknya.
Dan yang lainpun terdiam, Hikam juga diam, namun ia menatap lekat pada Agam, ia sedang memastikan jika Maga yang disebut oleh komandan militer angkatan laut itu adalah Agam.
Jika benar Agam adalah Maga, seharusnya pria itu masih kesakitan karena luka tembaknya. Tapi, seperti tidak ada tanda-tanda cidera di tubuh pria ini, yang terlihat hanya ketampanan Agam yang membuat hati Hikam memanas.
Tapi ... kenapa sosok Maga mirip sekali dengan Agam? Hikam menghembuskan napas perlahan di tengah suasana tegang ini. Lalu matanya kembali menatap cinta pertamanya.
Batin Hikam berdecak kagum. Linda sangat elok, semakin cantik jelita, dan semakin seksi. Pantas saja Agam Ben Buana tidak akan melepaskan Linda, pikirnya.
Jikapun ia ditakdirkan menjadi Agam Ben Buana, niscaya dan pasti akan menjadikan Linda sebagai wanita satu-satunya. Linda memiliki semua hal yang didamba setiap pria.
Dan keinginan untuk memiliki Linda kian menguat di benaknya. Jika Ayah Berli merestui, walaupun Linda ada kemungkinan menolaknya, Hikam yakin jika posisinya lebih unggul dibanding Agam.
Ya, ia harus memiliki wanita itu. Hikam tidak peduli jikapun dirinya bukan yang pertama.
"Jadi kehidupan seperti ini yang kamu inginkan, hahh? Kamu tega melupakan Ayah, ibumu, adik-adik kamu, dan keluargamu demi hidup di istana?" tanya Ayah Berli dengan suara gemetar, rahang mengeras, dan gigi gemeretak.
"A-Ay ---."
"Ayah tidak butuh pengakuan kamu, Ayah sudah melihat semuanya, ibu kamu bahkan sakit gara-gara kamu, sampai kapan kamu akan hidup seperti ini? Sampai kapan, Linda? Sampai kapan?"
Tes ....
Air mata Ayah Berli jatuh jua membasahi rambut Linda.
"Ayah ... dengarkan aku dulu, dengarkan penjelasanku, huukks ...." Linda semakin erat memeluk kaki ayahnya.
Agam hampir melangkahkan kakinya untuk mendekati Linda, tapi baru juga kakinya hendak terangkat, Ayah Berli telah melarangnya.
"Jangan ikut campur, ini urusanku dan putriku. Saya berhak mengambil keputusan apapun untuk putriku sendiri," tegas Ayah Berli tanpa menatap Agam.
"Ayah, saya minta maaf. Saya yang salah," kata Agam dan ia kembali mendekat, bersamaan dengan teriakan Ayah Berli.
"Cukup! Cukuuup! Cukup sampai di sini kamu mempengaruhi dan menghancurkan masa depan putriku! Putriku bukan mainan, dan aku juga tidak butuh harta kamu! Kalaupun aku miskin, aku tidak mungkin menjual putriku sendiri."
"Jika kamu serius dengan putriku, harusnya dari dulu kamu meminangnya. Apa kamu tahu? Selama 5 bulan ini aku menunggumu untuk meminta maaf dan datang ke rumahku, bukan malah mewakilkannya pada orang lain, lalu kamu memamerkan kekayaan dan kekuasaanmu," ucap Ayab Berli dengan nada yang begitu tegas.
DEG.
Ucapan Ayah Berli menghentakan kalbu, bukan kalbu Agam saja, tapi Linda juga.
"Pak, duduklah."
Maxim meraih bahu Agam dan mengajaknya untuk duduk di kursi.
Bu Ira memilih berlari lagi ke dapur, berniat mengambil camilan. Namun diperjalanan, air mata Bu Ira turut serta berlinangan.
Dan saat Maxim membujuk Agam untuk duduk, Agam menepisnya. Ia malah bersimpuh di belakang Linda bertumpu pada kedu kakinya.
Serius, saat ini ... Agam memang merasa sakit pada bekas luka tembaknya, tapi ... rasanya tidak sesakit dengan kondisi saat ini. Kondisi dimana dirinya mendapat penolakan, tersudutkan dan bingung.
"Ayah, tolong beri kesempatan untuk aku dan Pak Agam bicara, tolong Ayah ... kumohooon," Linda memberanikan diri menengadahkan kepala untuk menatap Ayah Berli.
Namun, Ayah Berli berpaling.
"Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya Ayah dan ibu menjalani hari-hari atas keputusan kamu memilih dia. Ibu dan Ayah selalu berharap kamu bisa kembali dan pulang. Tapi apa yang kamu lakukan, hahh? Kamu tidak pernah mencoba sekalipun untuk menemui Ayah dan ibu setelah hari itu."
Lalu Ayah Berli menarik tangan Linda yang melilit di kakinya.
"Ayah salah faham, Yah. Aku ---."
"Cukup, sudah Ayah katakan. Ayah tidak mau mendengar penjelasan kamu. Jika kamu ingin menjelaskan harusnya dari dulu, tidak terlambat seperti ini. Sekarang ibu kamu sudah terlanjur sakit, paman Setyadhi sudah kecelakaan, dan Ayah sudah terlanjur membenci kamu dan pria yang memperkosa kamu."
"Ayah Berli, tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan," kata Agam, dengan kepala yang terus tertunduk. Sementara di leher pria itu, tanpa aliran peluh yang semakin banyak. Ya, Agam memang sedang menahan rasa sakit.
"Pak Agam, sebaiknya Anda tidak perlu duduk bersimpuh seperti itu, jangan terlalu berusaha keras untuk menarik simpati dariku. Aku dan Anda berada di dunia yang berbeda."
"Ayah Berli, tolong beri kesempatan pada Pak Agam. Saya bisa bersaksi kalau Pak Agam itu baik."
Maxim yang dari tadi menyimak, rupanya tidak tahan juga. Ia geram dengan Ayah Berli.
"Aku dan Pak Maxim tidak ada kepentingan. Anda bilang dia baik? Apakah ada orang baik yang berani memperkosa?! Apa ada orang baik yang menyekap wanita di rumahnya? Apa ada orang baik yang kumpul kebo?!"
"Apa?!"
Kumpul kebo? Agam terkejut, pun dengan yang lain.
"Ayaaah, cukuuup!" teriak Linda.
"Aku dan dia tidak pernah kumpul kebo, Pak Agam memperlakukannku dengan baik, dari awal dia sudah ingin menikahiku, tapi aku menolaknya, huukks ...." Linda berdiri, ingin meraih kembali tangan Ayah Berli, tapi lagi-lagi ... ditepis.
"Nona, duduklah. Anda sedang hamil."
Enda meraih bahu Linda lalu dipapah menuju kursi terdekat.
"Ya, Ayah. Saya tidak pernah menodai Linda selain hari itu, saya berani bersumpah Ayah," ucap Agam.
Ayah Berli lalu bersempuh, mensejajarkan diri dengan Agam dan mengcengkram kerah baju Agam dengan air muka yang merah padam.
Linda, Hikam, Enda dan Maxim terkejut. Namun saat mereka akan bereaksi tangan Agam terangkat ke atas seolah mengisyaratkan agar tidak ada yang campur tangan.
"Jawab! Apa kamu yakin tidak pernah menyentuh tubuh putriku?!" teriaknya lagi. Cengkramannya di leher Agam semakin menguat hingga urat nadi di tangan Ayah Berli bermunculan.
"Ti-tidak Ayah ... sa-saya tidak yakin," ucap Agam sambil memberanikan diri menatap mata Ayah Berli bersamaan dengan tamparan super kuat yang mendarat di pipi Agam.
'PLAK.'
"Sudah kuduga!" teriak Ayah Berli.
Ia murka, kembali menampar pipi Agam, lalu menonjok bibir tipis yang merah alami itu hingga pecah dan berdarah. Pak Berli seoalah tidak peduli dengan jerit-tangis Linda.
"Ayaaah, hentikaaan! Jangan sakiti dia. Dia lagi sakit. Dia bukan orang jahat, Ayah. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, begitupun dengan Pak Agam," teriak Linda.
Ia meronta, namun Maxim dan Enda menahannya. Dan Bu Ira yang membawa baki minuman mematung di ambang pintu. Tangan Bu Ira gemetar, hingga gelas berisi jus yang dibawanya bergesekan dan berdenting.
Bu Ira lemas, ia kembali lagi ke dapur, lalu dengan napas terengah-engah mengambil ponsel di saku roknya untuk menghubungi pak Yudha yang berada di HGC.
.
.
.
.
"Cukup Ayah, tolong maafkan Pak Agam, please," ratapnya lagi.
Ayah Berli naik pitam, ucapan Linda membuatnya semakin tidak terkendali.
Bagaimana mungkin putri kesayangannya berani berbicara seperti itu demi seorang pria yang jelas-jelas telah merusaknya?
Siapa sih yang tidak marah dan sedih? Dalam hal ini Ayah Berli juga tidak sepenuhnya salah. Selama kurang lebih lima bulan lamanya ia menanti dalam ketidakpastian dan kekhawatiran.
Dalam cemoohan, hinaan dan rundungan. Ayah Berli juga ditekan oleh keluarga besarnya untuk segera mengambil sikap. Tegas pada Agam dan Linda, membawa Linda pulang dan menikah dengan Hikam, atau ... benar-benar mencoret Linda dari kartu keluarga.
Ya, Pulau Jauh memang daerah yang sangat menjungjung tinggi norma kesusilaan dan norma kesopanan.
Norma kesusilaan diyakini mampu mendorong manusia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk.
Sedangkan norma kesopanan adalah norma yang berhubungan dengan pergaulan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Norma kesopanan bersumber dari tata kehidupan atau budaya yang berupa kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam mengatur kehidupan kelompoknya.
"Maafkan saya, A-Ayah boleh memukul saya sesukanya. Tapi Ayah salah faham. Mari bicara," lirih Agam sambil memegang pergelangan tangan Ayah Berli.
"Anda sudah menyakiti hati saya!"
Ayah Berli menepis tangan Agam, lalu duduk di kursi. Menunduk, meremas rambutnya, lalu menyeka air mata di sudut matanya.
Kesempatan itu digunakan Agam untuk segera beranjak dan memeluk pangkuan Ayah Berli. Sebuah upaya pembuktian ketulusan cinta yang membuat semua yang hadir terhenyak dan terharu.
"Jangan seperti ini, lepaskan!" elak Ayah Berli.
"Ayah ... saya mencintai dia, saya sangat mencintainya, saya menyesali semuanya, saya akan memperbaiki semuanya sesuai dengan keinginan Ayah."
"Lepas!"
Ayah Berli berontak, tapi Agam Ben Buana itu kuat, Ayah Berli bukan tandingannya.
"Jika Ayah ingin saya dipenjara untuk mempertanggungjawabkan semuanya, atau ingin mengungkapkan ke publik bagaimana durjana dan biadabnya saya, silahkan Ayah, silahkan. Tapi ... tolooong ... tolong jangan pisahkan saya dan Linda. Saya ingin menikahinya."
"Cukup! Apapun yang Anda lakukan tidak akan merubah keputusannku. Aku berhak atas putriku. Aku akan memberinya pilihan," tegasnya.
"Ayah ... aku juga mencintai Pak Agam," sela Linda.
"Apa kamu mecintantai dia karena hartanya?" Sambil menepis Agam, Ayah Berli menatap putrinya.
"Aku tulus Ayah, tolong Ayah beri kesempatan padaku untuk menjelaskan semuanya. Ada banyak hal yang Ayah belum tahu dari dia, dia tidak seperti yang Ayah pikirkan."
Linda kembali memohon dengan tatapan memelas dan suara serak khasnya yang terdengar merdu, seksi dan memesona.
"Pak, cukup. Duduk." Enda menarik bahu Agam.
Akhirnya, Agampun duduk di samping Linda, dan langsung memegang erat tangannya.
"Kamu harus pulang dan menikah dengan Hikam," kata Ayah Berli.
"Ya, Linda. Saya akan menerima kamu dan juga anak kamu, kita kembali ke Pulau Jauh. Di sana kamu akan bahagia, tidak akan ada lagi tekanan dan gangguan dari pihak manapun," kata Hikam.
"Aku tidak merasa tertekan, aku merasa terlindungi dan aman di rumah ini, aku tidak mencintai kamu, Hikam." Sergah Linda.
"Apa kamu puas sudah berhasil memisahkan seorang gadis dengan keluarganya? Untuk saat ini aku tidak bisa mengambil keputusan. Aku mau bertemu dengan adikku, di mana kamu merawatnya?" Ayah Berli berdiri.
"Ayah kenapa jadi begini? Bukankah kita akan membawa Linda pulang?" Hikam tampak kecewa. Ia merasa Ayah Berli tidak tegas pada Agam.
"Hikam, biarkan Ayahku dengan keputusannya. Oiya, aku menolak menikah dengan kamu," kata Linda pada Hikam.
"Kita akhiri saja pertemuan ini, nanti kita bicarakan lagi. Aku lelah dan ingin segera bertemu dengan adikku."
"Bagaimana kalau pada makan dulu?"
Setelah suasana sedikit mencair, Bu Ira bersuara.
"Ya Ayah, tidak ada salahnya kalau kita makan bersama," bujuk Agam. Dan saat mata Ayah Berli mengerling ke arahnya. Agam melemparkan senyum terbaiknya.
Senyuman yang ternyata membuat hati Ayah Berli sedikit terusik. Ada perasaan yang tak bisa diurai di hatinya.
Apakah ia menyukai Agam di pertemuan pertama mereka?
Tidak mungkin.
Batin Ayah Berli menolak keras perasaan itu. Namun di balik itu semua, Ayah Berli sebenarnya ingin memastikan dulu satu hal tentang Agam
Tentang apa?
Tentang Maga.
Ssssttt ....
Tadi saat Agam bersimpuh dan memeluk pangkuannya, Ayah Berli melihat dengan jelas jika model rambut di bagian tengkuk Agam, sama percis dengan model rambut pria yang dipanggil Maga. Berbentuk lengkungan bulan sabit, rapi dan indah dipandang mata.
Ayah Berli harus memastikan tentang hal itu sebelum mengambil keputusan. Ia tidak ingin keputusannya akan menimbulkan masalah di masa mendatang.
"Terima kasih, sudah memberikan kesempatan." Agam berterimakasih dan bibirnya yang pecah itu kembali tersenyum.
Ada harapan yang menandakan jika Ayah Berli akan memberinya restu.
"Mari ke rumah sakit bersama, jika Ayah tidak mau makan, tak apa. Kita ke rumah sakit sekarang, saya yang antar," kata Agam.
Bersamaan dengan itu, Pak Yudha tiba-tiba datang dengan wajah panik.
"Pak Agam, gawat! Pak Agam harus pergi dari sini," katanya.
"Pak Yudha, tolong tenang, ada apa?" tanya Agam.
Lalu Maxim dan Enda segera keluar rumah untuk mengecek. Dan keduanya kembali lagi ke dalam rumah dalam keadaan panik juga.
"Ada apa?" tanya Linda.
Sementara Pak Berli dan Hikam hanya saling menatap.
"Di gerbang depan ada banyak wartawan," jelas Maxim.
"Apa?! Wartawan? Siapa yang mengundang mereka?" Agam terkejut.
"Xim, Cepat hubungi pengacara Vano," perintah Agam pada Maxim.
"Baik Pak."
Lalu terdengar suara dari interkom yang terhubung dengan gerbang utama rumah tersebut.
"Pak Agam, saya perwakilan dewan pers. Kami ke sini karena mendapat kabar jika Bapak akan melakukan preskon dalam rangka pengakuan dosa. Kami siap menunggu Bapak. Kami akan bertahan di sini sampai malam, sampai Bapak menjelaskan pada kami maksud pengakuan dosa itu. Terima kasih."
"Apa?! Astagfirullahaladzim ...."
Agam tertunduk lesu. Siapa gerangan yang menyebarkan issue itu?
"Pak Agam sabar ya," ucap Linda sambil mengusap bahu kokohnya.
Agam menatap Linda, tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih, El."
Interaksi Linda-Agam tidak luput dari tatapan menyelidik dari Ayah Berli dan Hikam.