
...Yang berkenan boleh vote-nya, terima kasih...
..._...
..._...
..._...
..._...
"Pak Agam, jangan main-main dengan senjata itu! Kumohooon ... biarkan aku pergi dengan mereka."
"Whuahahah, dramatis sekali, ck ck ck, tak disangka ternyata selera Pak Dirut untuk wanitanya begitu tinggi, lihat dia kawan-kawan, cantik, mulus, dan seksi, paket komplit."
"Singkirkan tangan kalian! Dasar biadab! Lepaskan dia! Lepaskan! Atau kepala kalian akan meledak satu-persatu!" teriak Agam sambil berjalan memutar dan menodongkan senjata yang mengarah pada kepala mereka satu persatu.
"Sombong sekali Anda Pak Dirut, ayo kawan kita buka masker wanita ini, siapa wanita ini? Kok bisa Pak Dirut mati-matian membela wanita ini?"
Satu orang bersiap untuk melepas masker yang digunakan oleh Linda.
"Aku LB, aku LB, kalian mau apa, hahh?! Tolong jangan bawa-bawa Pak Agam ke dalam masalahku atau semua gosip tentang aku. Pak Agam orang baik, lepaskaaan!" Linda meronta.
"Apa?! LB?! Benarkah?"
Masker Linda berhasil dibuka dan mereka terkejut.
"LB?" Menatap pada Linda, dan mematung.
"Kalian sudah tahu identitasnya. Ya, dia memang LB, dan pejabat tinggi HGC yang memiliki hubungan dengan LB adalah saya. Sayaaa!" teriak Agam. Dan pria itu mulai pasang kuda-kuda.
"Bohong! Dia bohong, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan dia. Dia hanya mengaku-ngaku saja," jelas Linda.
Sedari awal, Linda memang tidak ingin jika keberadannya di samping Agam merusak reputasi pria itu.
Dasar keras kepala. Geram Agam dalam batinnya. Serius, kali ini ia merasa sedikit kesal pada Linda.
"Halah, kalian sama saja. Kalian saling membela. Jelas sekali kalau di antara kalian saling melindungi satu sama lain." Sambil menyeret Linda ke dalam mobil.
"Tunggu lepaskan dia!" teriak Agam.
Suara Agam disusul oleh bunyi tembakan yang menghantam badan mobil itu.
'DOR.'
'TRAKKK.'
Bunyinya menyeramkan hingga Linda lemas. Namun anehnya, orang yang menghunus katana itu seolah tidak ada rasa takut sedikitpun.
Nyali mereka benar-benar luar biasa. Tidak ada yang terlonjat atau terkaget secuilpun saat moncong pistol itu meletup. Musuh Agam kali ini mungkin bukan kaleng-kaleng.
"Wah, tembakan Pak Dirut kencang juga, ini baru pistol tangannya. Tidak terbayang bagaimana hebatnya tembakan pistol kakinya. Hahahah, hahah, hah." Ujar dia yang tengah mengelus pedang katananya.
"Sudahlah jangan banyak omong! Mari duel secara ksatria, satu persatu kalau kalian memang jago dan bukan pecundang. Simpan pedang kalian, dan saya juga akan menyimpan pistol saya." Agam mulai melakukan penawaran, bernegosiasi.
Sementara Linda diam saja, ia lemas dan ketakutan.
"Buka masker kalian! Siapa yang menyuruh kalian, hah?!" teriak Agam.
"Langkahi dulu mayat kami, barulah Pak Dirut bisa melihat siapa kami. Seraaaang!" teriak pria yang tingginya hampir menyamai tinggi Agam.
Karena mereka tidak memakai name tag dan memakai masker full face, panggil saja mereka dengan sebutan si Satu, si Dua, Tiga, Empat, Lima, dan si Enam.
"Seraaang!" Si Satu berteriak lagi.
"Hiyaaat." Dua, Empat, dan Enam maju menyerang Agam.
'SWUSH, SWUSH, SWUSH ....'
Suara kibasan pedang mereka melinukan gendang telinga.
"Aaaa, tidaaak," teriak Linda.
Ia menutup mata. Demi Tuhannya Yang Maha Esa, Linda tidak ingin melihat Agam terluka sedikitpun. Linda menutup matanya rapa-rapat, bibirnya berkomat-kamit meminta pertolongan-Nya.
Batinnya menjerit mengetuk pintu langit di tengah mencekamnya suasana. Terdengar jelas di telinganya bagaimana pedang bertemu pedang yang menghasilkan bunyi ....
'TRANG.'
'TRENG.'
'TRONG.'
Terdengar juga bunyi ....
'BAGH.'
'BIGH.'
'BUGHH.'
Yang sesekali berpadu dengan teriakan bersemangat dari Agam, dan teriakan kesakitan dari para lawannya. Entah seperti apa jalannya pertarungan tidak seimbang itu, Linda sama sekali tidak ingin melihatnya. Wanita itu hanya bisa pasrah dan berserah kepada-Nya.
"Pak Agam, huuu ...." Linda kembali meratap dan menangis.
Terdengar kebisingan dari suara kendaraan yang melintas, namun kendararaan itu tetap berlalu seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di tepi jalan. Atau mereka mungkin mengira jika pertarungan itu hanya sandiwara atau latihan semata.
Pupuslah sudah harapan Linda untuk meminta pertolongan pada pengendara lain.
"To-tolong lepaskan dia ... kalian bo-boleh membunuh saya, ta-tapi ja-jangan sakiti dia." Terdengar suara kepayahan dari Agam Ben Buana.
"Lihat dia! Dia hampir mati, apa kamu tidak ingin melihat dia bernapas untuk terakhir kalinya?" ucap si Satu yang sedari tadi bertugas menahan Linda.
"Huks ...." Linda membuka matanya perlahan.
"Tidaaak," teriak Linda. Ia langsung berlari ke arah Agam saat sadar jika pria yang menahannya melepaskannya.
Kondisi Agam memprihatinkan. Senjata apinya sudah berpindah ke tangan si Dua. Ia dikelilingi oleh Tiga, Empat, Lima, Enam.
Dan yang membuat Linda berteriak adalah ... sebuah katana tampak menancap di dada kiri Agam. Lalu rembesan darah merah segar mengalir dari pusat tusukan.
"Pak Agam ...." Linda memeluk bahunya dan menangis tersedu di sana.
Jangan ditanya lagi bagaimana hancur perasaannya saat ini. Dunianya seakan luluh-lantak saat itu juga. Mata Agam terpejam, bibirnya terkatup rapat.
"Bunuh aku juga, bunuuuh," jeritnya.
Sebuah jeritan putus asa yang terdengar menyayat hati, namun tidak bagi keenam orang itu.
"Baik, kalau itu mau kamu siapa takut," kata si Tiga. Seorang pria yang terlihat paling modis di antara yang lain. Bahkan jam tangannya terlihat satu merek dengan milik Agam namun berbeda model.
"Ja-jangan sakiti dia, di-dia sedang mengandung a-anak sa-saya," dengan meringis kesakitan Agam mengatakan sebuah fakta yang membuat keenam pria itu terlonjak kaget. Bahkan ada yang sampai melompatkan kakinya ke udara karena terlalu kaget.
"APA?!" kata mereka serempak.
"Bukan, anak ini bukan anak dia. Tolong jangan percaya, dia hanya ingin melindungiku. Ya, aku memang hamil, tapi ... dia bukan laki-laki yang menghamiliku. Dia pria baik, tolong jangan mempercayainya apalagi sampai memberitahu orang lain tentang masalah ini," terang Linda sambil terisak-isak.
"Ck ck ck. LB, LB, sebesar itukah kecintaan kamu dengan pria sombong ini?"
Si nomor Satu yang awalnya hanya menonton sambil menyandandarkan tubuh ke badan mobil tampak mendekat. Dan pria itu mengeluarkan pistol yang terlihat mirip dengan pistol milik Agam.
"Kk-kamu mau a-apa? Please ja-jangan bunuh dia, dia su-sudah hampir mati, apa perlu aku bersujud di kaki kalian?"
Linda benar-benar kehilangan cara untuk menolong Agam. Ia mengiba dengan suara gemetar, lalu bersujud di kaki si Satu yang saat ini sedang mengarahkan senjata tepat ke kepala Agam.
"Tahan dia! Minggir! Bangun!" Ia memundurkan langkahnya saat Linda mendekat. Lalu Tiga dan Enam memegang bahu Linda.
"Agam Ben Buana, malam ini mungkin malam terakhirmu berada di tempat ini, tubuhmu kuat, saya yakin Anda belum mati. Cepat katakan permintaan terakhirmu pada wanita ini. Cepaaat!" teriaknya. Saat ini, moncong pistol si Satu telah menempel tepat di pelipis Agam.
Linda yang melihatnya semakin histeris. Berteriak sekuat tenaga, memohon sebisa yang ia mampu, demi Agam.
"Cukuuuup! Hentikaaan! Kumohooon .... Jika kalian ingin tubuhku silahkan. Tapi tolooong, tolong selamatkan Pak Agam, jangan membunuhnya, dan kalian juga harus membawa dia ke rumah sakit, huuks huuks."
Linda, bagaimana mungkin aku tidak mencintai kamu. Cintamu padaku ternyata begitu tulus. Dia serius ingin tetap menjaga nama baikku. Linda ... maafkan aku jika cinta yang aku rasakan kepadamu, tidak sebanding dengan besarnya rasa cintamu untukku. Batin Agam.
Perlahan sambil meringis Agam membuka matanya.
"Hahaha, baik. Setelah ini kami akan membawamu ke hotel. Asyiiik." Mereka terlihat kegirangan. Si Satu mengangkat pistol dari pelilipis Agam.
"Linda ...," lirihnya. Linda segera mendekat. Wajahnya dan wajah Agam hampir menempel.
"Sa-saya sangat mencintai kamu ...." Tangan Agam bergerak perlahan demi meraih pipi Linda.
"A-aku juga Pak ...."
"Sa-saya tidak mau pergi ke ru-rumah sakit .... Lebih baik saya mati da-daripada ha-harus merelakan tubuh kamu untuk mereka. Tolong Linda, jangan mengorbankan kehormatanmu. Please ...."
"Hahhahah, kalian menggelikan. Lelakimu tidak rela kamu menyerahkan tubuhmu pada kami, jadi ... kamu akan mati Pak Buana. Kami beri kalian waktu satu menit untuk mengobrol, cepat!" bentak pria keturunan atau si Enam.
"Pak Agam, huuu ...." Tidak ada yang bisa dilakukan Linda kecuali memeluk Agam.
"Linda ... ji-jika saya memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama, maukah kamu menjadi pendamping saya?"
"Jangan banyak bicara, Pak ... malam ini ... jikapun Bapak harus pergi, mari kita pergi bersama. Aku akan melindungi Pak Agam." Linda memeluk Agam untuk melindungi kepala Agam dengan dadanya.
Jika saja saat ini tidak dalam keadaan genting, posisi itu begitu intim. Bagaimana tidak? Kepala Agam hampir terbenam di area itu. Agam bahkan bisa merasakan keharuman dan aura kehangatannya.
"Cepat! Empat puluh dua detik lagi," teriaknya. Entah berasal dari si nomor berapa.
"Ji-jika benar saya yang menyebabkan kematian pamanmu, apa ka-kamu akan memaafkan saya ...." Bisik Agam.
"Tentu saja Pak ...."
"Ma-maukah kamu menikah de-dengan saya ...?" Suara Agam kian melemah.
"Pak Agam ... sejak aku sadar jika aku mencintai Bapak, aku sudah menentang dunia. Aku tidak rela siapapun menyakiti Bapak sekalipun itu ayahku sendiri. Kenapa? Karena mata hatiku berkata jika Pak Agam pria baik-baik, huuuks."
"Linda ... ini pesan saya ...." Mata Agam berkaca-kaca, bibir Agam gemetar. Mata sayu itu perlahan hendak terpejam kembali.
"Pak Agaaam, tidaaak ... jangaaan." Linda memeluk Agam semakin erat.
"Sebelas, sepuluh, sembilan," mereka mulai berhitung beramai-ramai di sebelas detik terakhir, sementara si Satu sudah siap dengan senjata apinya.
"Ja-jangan meninggalkan saya lagi ya ...," bisiknya.
Linda mengangguk bersamaan dengan suara letupan tembakan yang melesat cepat dan tepat mengenai sasaran.
'TAK.' Mengenai pelipis Agam.
"Tidaaak," teriak Linda.
Ia gagal melindungi Agam, dan teriakan itu adalah pekikan terakhir sebelum ia merasa dunianya gelap dan berputar. Linda pingsan seketika itu juga kerena tidak siap menerima kenyataan terburuk yang mungkin terjadi pada Agam.
'Brukh.'
Tubuh Linda terkulai lemas di atas dada Agam.
Agam segera memeluk Linda, dan mencabut katana di dadanya.
Tunggu, ada apa ini?
Keenam pria itu kini tampak membungkukkan badan sambil melingkari Agam. Mereka menunduk hormat.
"Kerja bagus, tapi khusus untuk kamu 01 (baca; kosong satu), jika wanitaku tidak cepat sadar, maka kamu akan menerima hukuman," tegas Agam.
Oh tidak, berarti ....
Adegen yang terjadi sebelumnya hanyalah setingan belaka.
"Maafkan saya Pak Buana, saya hanya bermain peran sesuai dengan keinginan Anda." Kosong Satu kembali membungkuk, dan pistol mainannya yang mirip dengan pistol Agam dilemparkan ke dalam mobil.
"Linda, maafkan saya ya. Saya melakukan ini kerena tidak ingin kamu meninggalkan saya lagi." Agam mencium tangan Linda yang masih pingsan.
"Pak Buana, ini baju ganti untuk Anda." Satu orang membawa baju.
"Tunggu, saya akan membawa dia." Agam membopong Linda ke dalam mobilnya.
Setelah itu, ia dibantu oleh para pria miterius untuk mengganti bajunya yang kotor karena darah palsu. Entah terbuat dari apa darah-darahan itu, yang jelas warnanya terlihat nyata laksana darah sungguhan.
"Bagaimana perncarian M. Setyadi, sudah sejauh mana?" tanya Agam saat ia sedang dipakaikan dasi.
"Menurut 07, yang wajahnya mirip dengan M. Setyadi, identik dengan seorang pasien rawat inap di sebuah rumah sakit, tapi bukan di kota ini, Pak. Kami masih mengumpulkan informasi dan data secara lengkap."
"Baiklah, kerja bagus. Lanjutkan, dan kalian boleh pergi."
"Siap," jawab mereka serempak.
Setelah bersalaman dengan Agam merekapun berlalu, kembali masuk ke dalam mobil dan pergi entah ke mana.
Siapakah mereka?
Benar, mereka adalah 01, 02, 03, 04, 05, dan 06. Jadi, faktanya mereka memang benar si Satu, si Dua, si Tiga dan seterusnya. Mereka sebenarnya memiliki nama, namun nama asli mereka dan identitasnya harus dirahasiakan.
Bahkan, 01 dan 02 pun tidak saling mengenal. Mereka hanya saling mengenal dan berkomunikasi melalui kode nama, dan signal lokasi, tanpa mengetahui atau saling mengenal identitas masing-masing.
Lalu kenapa mereka menjadi anak buah Agam?
Karena Agam adalah salah satu anggota atau pemilik dari kartu identitas rahasia.
Siapakah mereka?
Mereka adalah ....
"We exist for the truth, we stand for the justice, we hide for the faith, the truth is sure to win. We are anonymous."
"Kita ada untuk kebenaran, kita berdiri untuk keadilan, kita bersembunyi demi keyakinan, kebenaran pasti menang. Kita adalah anonymous."
.
.
.
Mobil mewah itu kini terparkir di bahu jalan yang sepi, sebuah jalan yang berada di sudut lain kota ini, tepatnya di kawasan pinggiran kota.
Namun pemandangan di dalam mobil itu, mirip dengan keadaan ketika mobil tersebut terparkir di bahu jalan tol kala cuaca sedang hujan, angin berhembus kencang, dan petir menyambar-nyambar.
Namun kali ini, baju yang mereka gunakan berbeda, sang pria memakai baju lengkap, tidak seperti kala itu yang hanya memakai celana panjang, bersabuk, dan dan berdasi.
Seperti 'Dejavu.'
Pria itu, kini jua sedang memeluk wanita yang sama, meletakkan kepala wanita itu di bahunya lalu mendekapnya erat. Kursi pada mobil itupun telah dirapatkan sama seperti kala itu.
Kala di mana mereka saling melepas rindu dengan cara yang tidak seharusnya. Walaupun tidak sampai terjadi hal itu, namun dosa tetaplah dosa.
"Pak Agam ... Pak Agam ... huuu huuu ... jangan pergi ...." Lirihnya, saat kedua matanya masih terpejam.
"Linda ... saya di sini, saya akan bersamamu selamanya, sampai ajal memisahkan kita." Sambil mencium puncak kepala Linda.
Dan Linda membuka matanya perlahan, ia siuman. Terkejut menyadari kenyataan ini. Linda melepaskan diri dari dekapan Agam dan celingak-celinguk.
"A-apa aku sudah mati?" tanyanya sambil memukul-mukul pipinya.
Agam tersenyum lalu menahan tangan Linda agar tidak memukul pipinya lagi.
"PP-Pak Agam?"
Matanya membulat sempurna, karena seingat Linda, Agam jelas tertusuk pedang dan ditembak.
"A-apa kamu hantu?" Linda panik, airmatanya kembali berurai, lalu memeluk lututnya dan menangis.
"Pak Agam ...," rintihnya lagi. Masih berpikir jika Agam telah pergi dan yang dilihatnya adalah delusi dan halusinasi.
Agam kembali mendekapnya di saat Linda masih kebingungan.
"Mau merasakan mencium hantu tampan?" tanya Agam. Ia meraih pipi Linda, menatap lekat mata sembab itu sambil tersenyum.
Jujur, Linda masih bingung. Pikirnya dia sudah gila. Ia menatap Agam dengan tatapan kosong.
"Agar kamu tidak bingung atau merasa tertipu, maka harus dicicipi dulu, deal?" tanyanya.
"A-apa?" Linda belum sadar sempurna.
"Rasakan di bagian ini dengan bibirmu," sambil menunjuk bibirnya sendiri.
Linda malah menekan-nekan bibir Agam dengan jari telunjuknya, dan masih kebingungan.
"Huuuh, kamu lama sekali berpikirnya. Sini saya ajari caranya." Langsung menyambar yang kini berwarna merah delima itu dan mensesapnya kuat-kuat.
Mereka kembali mengulang bumbu-bumbu zina yang dirasa teramat nikmat untuk dilewatkan. Mata keduanya sama-sama terpejam di tengah aktivitas yang membahayakan itu seiring dengan gelenyar rasa yang tidak seharusnya.
Tangan Agam terangkat ke udara untuk mencegah peluang meraba, memilin, dan lain-lain. Sementara tangan Linda terkulai pasrah.
Mata Linda lalu membulat, dan saat ini tengah berpikir keras. Akhirnya Linda menyadarinya, segera menjambak rambut Agam dan menggigit bibir pria itu.
❤❤ Bersambung ....