
"Aku lapar sekali," gumam Linda.
Bayangkan, ia baru sarapan di Pulau Jauh. Sepanjang perjalanan menyusui Keivel. Lalu pumping saat diberi kesempatan oleh penculik. Kemudian melewati drama menegangkan pura-pura tenggelam. Setelah itu, harus melayani pak Dirut yang luar biasa perfoma dan kekuatannya. Serius, Linda sangat kelelahan dan lapar. Tulang punggungnya terasa linu. Bibirnya terasa kebas. Linda bangun sambil meringis-ringis.
Percintaan kali ini sangat menegangkan, pak Dirut begitu bergejolak, dan tak sabaran. Ya, Linda tahu, ada misi menyelamatkan Keivel setelah adegan itu. Wajar sih kalau Agam tergesa-gesa.
Masalahnya adalah ... kenapa harus bercinta di saat genting seperti ini?
Agam Ben Buana, kamu tidak gila kan? Bisa-bisanya mau bercinta dulu sebelum melawan musuh. Apa dia tidak merasa kelelahan? Dan aku juga sama gilanya. Kenapa tidak menolak saja?
Linda merutuki ulah mesum suaminya.
"Akh ... humm ...," rintihnya.
Tiba-tiba merasa miris pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia tidak sadar kapan Agam meninggalkannya. Memori terakhir yang ia ingat adalah ... saat Agam menciumi wajahnya seraya membisikan kata-kata pujian dan terima kasih.
"Terima kasih, kamu sangat indah, kamu sangat cantik, kamu sangat nikmat, saya mencintai kamu selamanya."
Kalimat itu yang Linda ingat. Pada saat itu, saking lelahnya, Linda bahkan tidak mampu mengatakan apapun. Ia hanya bisa mengangguk dan bergumaman ....
"Hmm ...."
Linda meraih handuk di sisi tempat tidur yang sepertinya telah disiapkan oleh Agam. Ia berjalan ringkih menuju kamar mandi. Setelah ia melewati adegan panas, pak Dirut selalu membuatnya berjalan bak pinguin untuk beberapa saat.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Linda mengendap-endap keluar dari kamar. Rumah ini benar-benar asing. Terdiri dari banyak pintu yang diberi nomor. Di dalamnya mirip motel, tapi bentuknya bangunannya seperti rumah.
Langsung menuju ke dapur.
"Sepi sekali, apa aku sendirian di rumah ini?" Sambil melihat-lihat sekitaran.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Aaaa," teriak Linda. Suara itu mengagetkannya. Ditambah dengan penampilan misterius pemilik suara itu.
"Maaf," katanya.
"Pe-penculik?" Mata Linda membulat. Mundur beberapa langkah.
"Tenang Bu LB, saya temannya pak Agam. Saya tidak jahat."
"Buka masker kamu, buka!" Linda masih ketakutan.
"Maaf Bu, kamu tidak boleh menunjukkan identitas kami. Anda lapar kan?" Sosok itu langsung menebak.
"I-iya, a-aku lapar." Walau ketakutan, dalam hal ini, Linda tetap jujur.
"Anda ke ruang makan saja, ada di sebelah kanan. Sebelum pergi, pak Agam telah menyuruh saya menyiapkan makanan," jelas pria misterius itu.
"Be-begitu ya, te-terima kasih," sahut Linda. Segera membalikan badan menuju ruang makan.
"Bu Linda, tunggu."
Linda berbalik.
"Ada apa lagi?"
"Ini ada salep dari pak Agam, saya tidak tahu untuk apa. Katanya Anda pasti membutuhkan salep ini." Menyerahkan kotak kecil pada Linda.
Linda mengambilnya dengan gerakan cepat.
"Terima kasih."
"Sama-sama, selamat makan Bu LB." Lalu pria itu berlalu.
Di ruang makan Linda melamun. Baru saja dua suapan, tapi n a f s u makannya langsung hilang. Bagimana mau makan banyak, sedangkan suami dan putranya ada dalam bahaya.
"Tidak bisa, aku tidak bisa tinggal diam," gumamnya.
Tapi, apa yang bisa dilakukan Linda? Jangankan uang, ponsel saja ia tidak memegangnya. Namun setelah dipikir ulang, Linda mengurungkan niatnya. Ia berpikir jika Agam sengaja menculiknya dari tangan polisi pasti karena memiliki alasan.
...❤...
...❤...
...❤...
Saat mobil taksi itu melesat menuju tubuhnya, Agam benar-benar bergeming. Anak buahnya telah beteriak sedari tadi. Namun mereka hanya bisa menatap dan tak berani melakukan apapun karena Agam telah berpesan ....
"Saya saja yang melawan penjahat itu, kalau kalian melihat saya kalah atau hampir mati, barulah boleh bertindak."
Serius, mereka tidak sanggup melihat Agam Ben Buana terluka.
Ners Sinta yang berada di dalam mobil memeluk Keivel dan menutup matanya.
"Agam Ben Buana benar-benar g i l a! Apa aku tabrak saja?!"
"Ya, tabrak saja! Kita sudah kepalang jadi penjahat! Yang penting saat kita dipenjara keluarga kita terjamin hidupnya!" kata penjahat yang ada di sisi kemudi.
Sang supir tancap gas.
Lalu, apa yang terjadi?
Saat mobil berjarak sekitar satu meter lagi ke tubuh Agam, Agam Ben Buana melompat ke atas badan mobil. Ia bergelayut dan menghalangi pandangan pengemudi.
"S i a l! umpat sang supir. Ia hampir kehilangan kendali.
"Akan aku tembak! Riwayatmu akan berakhir Pak Dirut!" Temannya bersiap. Mengambil pistol dan membidik Agam Ben Buana.
"Pak Agam!" teriak Ners Sinta.
Syukurlah, Keivel tidak menangis lagi. Bibir Keivel sedang asyik menyesap. Ia tengah bermimpi disusui momca.
'PRAK.'
Di luar dugaan, Agam meninju kaca mobil hingga pecah dan membuyarkan konsentrasi penjahat yang akan menembaknya.
"Bos hati-hati!" teriak Yanyan.
Sirine polisi terdengar, mobil yang dikemudikan aiptu Joey tiba.
"Cepat atur lalu-lintas Pak Joey, katakan sedang ada syuting!" teriak Maxim.
"Siap!" sahut Aiptu Joey.
"Dia singa!" teriak sopir jahat!
"M a m p u s kau Buana!" timpal temannya.
Pelatuk pistol ditarik bersamaan dengan teriakan Ners Mila.
'DOR.' Peluru melesat.
Namun si peluru kehilangan sasaran. Agam Buana menghindar dengan cara merayap cepat dan bergelayut di atap mobil.
'PRAK.'
Pecahan kaca mobil membesar karena tertembak. Sopir taksi berputar haluan. Mobil itu kini berbalik arah. Melawan arus, dan melaju kembali di jalur tol. Sontak menimbulkan kekacauan. Pengemudi mobil dari arah yang berlawanan panik dan kaget. Mereka menepi seraya mengumpat. Aiptu Joey dan anak buah Agam mengejar kembali mobil tersebut.
"Benar-benar merepotkan!" umpat anak buah Aiptu Joey.
Agam berpikir cepat. Ia sadar keadaan ini dapat membahayakan pengguna jalan yang lain. Segera Pak Dirut bermanuver. Memutar tubuhnya, lalu meninju kaca mobil di bagian kemudi. Ia harus melumpuhkan pengemudi. Dan Agam tahu benar identitas pengemudi ini.
Dia memang pembunuh bayaran yang memiliki keahlian di bidang kemudi. Dulu dia adalah pembalap, namum dipecat federasi setelah ketahuan menggunakan doping obat terlarang jenis meldonium. Dia sempat dipidana dan dikurung akibat kasus tersebut.
'PRAK.'
'PRAK.'
Dua kali tinjuan, kaca mobil berhasil dipecahkan. Buku-buku tangan Pak Dirut berdarah-darah. Tapi pria pria yang rambutnya masih basah itu seolah tak peduli dan tak merasakan sakit sedikitpun.
"Lawan saya k e p a r a t!" teriak Agam. Sambil menarik tangan si pengemudi dan memelintirnya ke arah atap mobil.
"Argh!" pekik pengemudi taksi. Ia terpaksa mengemudi dengan satu tangan. Wajahnya meringis kesakitan.
"Cepat lakukan sesuatu!" teriak sopir taksi pada temannya.
"Baik." Kawannya merebut bayi Keivel dari pelukan Ners Sinta.
"Kalau Anda berani mencelakai kami! Bayi Anda akan mati!" Menodongkan pistol ke kepala Keivel.
"K u r a n g a j a r!!" Agam naik darah. Tapi berusaha tenang agar rencananya tidak sia-sia.
"Huuu kembalikan Keivel!" Ners Mila melawan. Berusaha merebut Keivel tapi gagal.
'BUK.'
Kepala Ners Sinta dipukul pistol dengan kekuatan penuh hingga wanita itu ambruk ke jok dan pingsan.
Agam mencari cara. Dengan kekuatan penuh ia manarik paksa tangan sopir taksi hingga kepalanya membentur kaca mobil. Benturannya sangat keras. Kaca mobil di sisi kemudi pecah. Laju kemudi kian cepat. Mobil lepas kendali. Sang supir sengaja menginjak gas dengan tekanan maksimal. Ia berpikir lebih baik mati bersama-sama dari pada tidak berhasil menjalankan misi berani mati ini.
"Tidaaak."
Teriakan memekik dari para pengguna jalan dan anak buah Agam pastinya. Aiptu Joey juga tak kalah paniknya. Gesekan ban mobil taksi dan jalanan sampai menimbulkan percikan api saking cepatnya.
"Pak kita tembak saja ban mobilnya!"
"Tidak! Jangan gegabah! Kalau ditembak mobilnya bisa kebakaran!" Aiptu Joey memperingati anak buahnya.
Begitupun dengan Maxim dan kawan-kawan. Mereka menahan senjata dan membiarkan Agam menangani kekacauan ini. Toh sedari awal Agam lah yang keras kepala tidak ingin dibantu.
"Kita akan mati bersama-sama Agam Ben Buana! Termasuk bayimu! Dia juga akan mati!" teriak sang sopir dengan seringai liciknya.
"Tidak akan!" bantah Agam.
'TOOD, TOOOD.' Suara klakson menggema.
Dari arah berlawanan ternyata ada sebuah truk tanki yang tentu saja bermuatan bahan bakar. Dan di belakang truk itu ada sebuah truk barang yang entah bermuatan apa. Kondisi ini benar-benar membahayakan.
"Hahaha, kita akan mati! Katakan selamat tinggal pada dunia dan istri cantikmu Agam Ben Buana!" ledek si sopir jahat.
Mata Agam bergulir pada mobil truk dan Kivel. Sang sopir taksi dan temannya memejamkan mata. Mereka benar-benar rela mati konyol demi uang. Sementara sopir tanki sedang berusaha keras untuk mengerem mobil mereka.
Agam panik, ya ia juga manusia. Tanpa berpikir lagi Pak Dirut merangkak cepat ke kaca bagian depan mobil taksi yang telah hancur. Dengan gerakan mahir, ia meneroboskan tubuhnya melewati serpihan kaca guna menarik tuas rem tangan pada mobil taksi tersebut.
'SYUUUNG.'
Syukurlah, mobil truk tanki berhasil menghindar setelah berusaha mengerem dan menyalip tanpa kendala. Aiptu Joey menganga. Ia yang berada di belakang mobil taksi hanya pasrah jadi penonton.
'SRAAAK.'
'Ckiiiiit.'
Mobil taksi memutar dan berhasil berhenti mendadak. Usaha Pak Dirut tak sia-sia. Tapi masalahnya adalah ... mobil truk barang masih melaju dan berusaha mengerem.
"Aaaa," teriak sopir truk.
Ia spontan menarik rem tangan dan membanting setir guna menghindari mobil taksi aneh itu. Pak sopir merasa berada di dunia mimpi. Bayangkan, di hadapannya tiba-tiba ada mobil melawan arus dengan seorang manusia bergelayut pada mobil tersebut. Siapapun itu pasti panik.
Setelah berhasil menarik tuas rem tangan, Agam menarik Keivel ke dalam dekapannya. Jikapun mereka tertabrak truk, Agam berharap punggung kokohnya bisa menyelematkan Keivel dari benturan itu.
Agam telah ikhlas melepas semua kemewahan duniawi yang ia miliki. Agam memuji nama-Nya, memanggil-Nya dan memohon di dalam hatinya agar putranya tetap selamat.
Mata Agam terpejam, Keivel didekap, jantungnya berdentum. Samar-samar telinga Agam mendengar jua teriakan kepanikan dari arah luar.
Dan ....
'BRAK.'
Mobil truk menghantam badan mobil taksi di sisi kanan dengan benturan yang cukup keras. Remnya tidak berfungsi maksimal karena sang sopir panik. Tubuh Agam terpental akibat benturan itu. Pak Dirut melayang ke udara bersama Keivel. Agam melihat langit senja yang terbentang luas saat tubuhnya melayang.
Ia mendekap Keivel semakin kuat, lalu memejamkan mata. Agam akan memasrahkan punggungnya berbenturan dengan aspal.
Paren sangat menyayangi kamu. Jika Paren mati, tolong panjang umur, jaga momca, dan jadilah manusia yang berguna untuk agama, bangsa dan negara. Maafkan Paren, Keivel ....
Rintihan hati Agam bersamaan dengan gaya tarik gravitasi bumi yang menghempaskan tubuh Pak Dirut ke atas aspal.
'BUGH.'
Tubuh proporsional itu terjatuh dalam posisi terlentang. Keivel terlindungi, ia aman berada di atas dada bidang ayahandanya.
Bersamaan pula dengan mobil truk yang berhasil berhenti setelah menabrak badan mobil taksi. Taksi ringsek, mobil naas itu terhimpit antara mobil truk dan pembatas jalan. Kondisi penumpang di dalamnya belum diketahui.
Aiptu Joey segera berlali ke arah Agam disusul oleh Maxim dan kawan-kawan. Sementara anak buah Aiptu Joey segera mengamankan supir truk dan menelepon tim evakuasi.
"Pak Agam!" teriak Maxim. Ia memangku Keivel.
Enda dan Yanyan mengguncang tubuh Pak Dirut yang bergeming. Mata Agam menutup sebagian, bibirnya sedikit terbuka. Sementara dari kepalanya dengan rambut yang masih basah itu mulai mengalir darah segar berwarna merah terang.
"Tidaaak, Pak ...." Yanyan terpuruk.
"Cepat selamatkan Pak Agam! Pak Agam! Pak! Sadar Pak!"
Enda merengkuh tubuh Agam dengan tangan gemetar. Ia memegang nadi karotis Pak Dirut. Masih berdenyut, tapi terasa lemah.
Ambulance segera datang. Ya, sebelum kejadian ini, Aiptu Joey ternyata telah melakukan tindakan preventif dengan memerintahkan ambulance agar datang ke titik lokasi yang telah ia tentukan. Agam segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sopir taksi dinyatakan telah meninggal dunia. Sedangkan Ners Sinta dan satu penjahat lagi mengalami luka berat dan dilarikan jua ke rumah sakit oleh tim evakuasi. Keivel dibawa oleh Aiptu Joey menggunakan taksi. Maxim, Enda dan Yanyan mendampingi Agam.
Mobil derek mengangkut mobil taksi yang ringsek. Sopir truk dibebaskan tanpa syarat atas perintah Aiptu Joey. Polantas mengatur lalu lintas yang semrawut dan mengurai kemacetan.
Beberapa saat kemudian, kondisi di jalur tol itu kembali normal seperti sedia kala. Kendaraan melaju tanpa hambatan, aktivitas jalanan ramai lancar.
...❤...
...❤...
...❤...
"Cepat! Saya ada di sebuah gang," kata Aiptu Joey. Ia berbicara pelan pada ponselnya sambil menenteng sebuah dus yang diduga berisi Keivel.
"Please enter your keyword (silahkan masukan kata kuncimu)," suara dari ujung telepon.
"Magamegacode," jawab Aiptu Joey.
"Baik, letakan barangnya di tempat yang aman, saya akan ke sana dalam waktu lima menit."
"Cepat! Saya tidak punya banyak waktu," desak Aiptu Joey.
"Sabar, manusia sabar disayang Tuhan."
"Jangan menggurui saya. Eh tunggu, cepat katakan dulu kode kamu! Saya khawatir kamu menipu saya, dan saya memberikan barang ini pada orang yang salah," kata Aiptu Joey.
"X-megacode, X-megacode," jawab pria di ujung telepon.
"Baik, sesuai. Saya sudah meletakan barangnya."
"Oke."
Aiptu Joey mengakhiri panggilan dan meletakan dus itu di pinggir jalan, lalu pergi. Ia memantau dus tersebut dari kejauhan.
Aiptu Joey meninggalkan tempat itu setelah dus diambil oleh sosok misterius yang menggunakan sepeda hitam dengan kecepatan mengayuh yang terlihat tidak biasa.
...❤...
...❤...
...❤...
'Prak.'
Gelas yang dipegang Linda tiba-tiba terjatuh. Serpihannya bececeran di lantai. Linda memegang dadanya. Hatinya panas, tubuhnya lemas. Ia seolah merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada suaminya atau pada Keivel.
"Pak Agam ...." Bayangan wajah pak Dirut muncul di kepalanya.
Dengan perasaan kalut ia keluar dari kamar. Berniat menanyakan sesuatu pada teman-teman Agam yang misterius itu. Linda mencari ke setiap ruangan untuk menemukan keberadaan mereka.
"Permisi," sapa Linda. Ia mematung menatap tiga orang misterius yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Ada apa Bu LB? Ada yang bisa kami bantu?" Salah satunya bertanya.
"Aku ingin bertemu suamiku. Bisakah salah satu dari kalian mengantarku?"
"Maaf, Bu. Kami tidak bisa mengabulkan keinginan Ibu. Pak Agam berpesan pada kami harus tetap menjaga Anda di rumah ini," tegasnya.
"Kumohon, atau kalau tidak bisa, bisakah aku mengetahui kondisinya? Please," ratap Linda.
"Emh, Pak Agam baik-baik saja, kok."
"Tapi ... perasaanku tidak enak," kata Linda.
"Mungkin itu hanya perasaan Bu LB saja."
'Ting-tong.' Bel berbunyi.
"Please enter your password," kata salah satu teman Agam. Ia berbicara pada mini mike yang terhubung dengan interkom.
"X-megacode, X-megacode, assalamu'alaikuum," sahut tamu yang masih berada di luar.
"Mister X?" Satu dari mereka langsung berlari dan membukakan pintu.
'Brak.'
Saat pintu dibuka, sebuah sepeda langsung masuk ke ruang tamu. Linda kaget. Matanya sampai membulat.
"X! Kamu?!"
Mereka menatap Mister X yang bersepeda dengan satu tangan sebab tangan kirinya mengapit dus.
"Hei, setidaknya kalian jawab dulu salamku!" Sambil meletakan dus di meja kerja.
"Owhaaa ...." Sesuatu di dalam dus berbunyi. Sontak semuanya kaget kecuali Mister X.
Linda segera berlari dan membuka dus.
"Hahh? Ke-Keivel? Huuu .... Keivel ...." Lantas meraih Keivel. Memeluk dan menciumnya sambil terisak-isak.
"Mister X, bagaimana ceritanya? Kok bisa putra pak Agam ada pada Anda?"
"Ceritanya singkat sih. Aku surelkan saja ya. Sekarang aku mau kembali. Jaga mereka ya." Mister X bersiap, akan mengayuh sepedanya.
"Mister X, kamu langsung pergi? Tidak main dulu?"
"No, di markasku, aku sudah punya mainan, kok. Permisi, assaalamu'alaikuum." Mister X melesat kembali dengan sepedanya.
"Wa'alaikumusalaam," jawab semuanya termasuk Linda.
"Aku permisi," kata Linda.
"Silahkan."
Linda kembali ke kamarnya.
.
.
Di kamarnya ia menangis sambil memeriksa tubuh Keivel. Linda kaget karena pada selimut Keivel ada noda darah. Tubuh Keivel sih baik-baik saja.
Lalu dari mana noda darah ini? Linda berpikir.
Faktanya, noda darah itu berasal dari jemari Agam yang terluka akibat pecahan kaca.
"Maafkan Mom, Keivel ...."
Linda menyusui Keivel sambil berurai air mata. Batinnya tetap terpaut pada seseorang. Linda sangat mengkhawatirkan Agam Ben Buana.
"Semoga paren kamu baik-baik saja," harap Linda seraya mengelus pipi Keivel.
Yang dielus tak merespon, tetap asyik menikmati ASI dengan rakusnya. Tangan mungilnya memeluk posesif sesuatu yang saat ini menjadi haknya. Seolah ingin mengatakan pada dunia jika dialah satu-satunya pemilik sumber ASI itu. Keivel belum tahu jika selain dirinya ada orang lain yang justru memiliki hak paten.
Semoga pak Dirut baik-baik saja, aamiin ....
...~Tbc~...