AGAPE (SELFLESS LOVE)

AGAPE (SELFLESS LOVE)
Terungkap



"Dasar maniak, tapi ... aku suka," gumam Linda saat memandangi tubuhnya di pantulan cermin. Sedang menatap jejak-jejak kepemilikan yang disematkan oleh suaminya.


Ia tetap berada di kamarnya sesuai arahan pak Yudha. Jika merasa lapar, kata pak Yudha tinggal telepon saja, nanti makanannya akan diantar ke kamar oleh bu Ira.


Setelah pumping, ternyata benar-benar lapar. Linda lantas melakukan panggilan pararel ke dapur rumah ini. Sudah tiga kali panggilan, tapi tak diangkat.


"Kok tidak diangkat sih? Kemana ya pak Yudha dan Bu Ira?" Sementara perutnya terus memanggil.


Lalu menelepon memakai telepon biasa, Pak Yudha tetap tidak mengangkat. Menelepon bu Irapun sama, tak diangkat. Terakhir menelepon sang tambatan hati, Linda jadi kebingungan karena nomor Agam justru tidak aktif.


Tak mungkin juga ia membiarkan rasa lapar ini terus melanda. Di dalam kulkaspun tak ada makanan yang ia sukai.


'Kring.'


Bel kamarnya menyala. Linda yakin itu Pak Yudha atau bu Ira. Tak ada kecurigaan apapun, Linda segera membuka pintu kamarnya, dan ... terkejut. Ia yang kaget, berusaha menutup kembali pintunya tapi gagal. Tangan Linda ditarik dari luar, lalu pintu kamar tertutup secara otomatis.


"Tolooong, Pak Yudhaaa, Bu Iraaa," teriak Linda.


"Hahah, kaget ya cantik?"


Mata yang memegang tangan Linda seketika membelak. Kulit tangan Linda glowing. Melihat tangan Linda saja air liur mereka sudah berjatuhan. Bagaimana jika melihat bagian yang lain?


"Siapa kalian?! Lepaskan!" teriak Linda.


"Hwahahaha, kami musuh suami Anda, Nona LB," kata salah satu dari mereka. Ia langsung memangku Linda untuk menuruni anak tangga, sementara yang lainnya terbahak-bahak.


"Kalian gila ya?! Tolooong," teriak Linda.


"Hahaha, tenang Nona LB, kami tidak akan menyakiti Anda, justru kami akan memberikan kenikmatan pada Anda. Hahaha," kata yang berada di paling belakang.


"Tolooong, jangan menyentuhku!"


Linda meronta. Memukul bahu yang memangkunya dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Tapi yang dipukul malah tertawa sembari memukul gemas bokong Linda berulang kali.


"K u r a n g a j a r! Pak Agaaam," teriak Linda.


Ia merasa terhina. Hanya tangan pak Dirut yang boleh melakukan hal itu. Linda benar-benar merasa dipermalukan. Linda menangis sekencang mungkin. Berharap ada yang mendengar teriakannya. Ia tak mengenali satupun dari orang-orang ini. Linda yakin mereka bukan pelaku utama .


"Siapa yang menyuruh kalian, hahh?" teriak Linda yang saat ini tangannya tengah diikat.


"Anda tidak perlu tahu, Nona cantik, hahaha."


"Benar, yang kita ikat tangannya saja. Kakinya jangan, biar kita leluasa. Mulutnya juga jangan dibekap supaya kita bisa mendengar desahannya," kata pria yang saat ini tengah membuka bajunya. Dia lumayan tampan jika dibanding dengan yang lain. Tapi tidak ada sekotoran kukunya jika dibandingkan dengan Agam Ben Buana.


"Kalian b a j i n g a n! Lepaskan aku! Apa yang kalian inginkan, hah?! Huuu ...." Linda mulai menangis. Ia benar-benar putus asa. Cukup Agam Ben Buana saja yang pernah memperkosanya. Jangan ada yang lain.


"Kami mau memberimu surga dunia, Nona. Hahaha."


"Jangaaan. Kumohooon," ratap Linda.


Lalu ada telepon yang sepertinya dari bos mereka.


"Di mana kalian?! Cepat bawa LB ke hadapanku! Jangan kalian pikir aku tidak tahu kalau kalian sudah berada di rumah Dirut sombong itu!" teriak suara di balik telepon yang diloudspeaker.


"Tolooong, mereka mau memperkosaku," teriak Linda. Ia tidak tahu pria itu siapa. Namun Linda sengaja menggunakan kesempatan ini untuk mengulur waktu.


"Hei, jangan menyentuh LB! Aku dulu sebelum kalian!" serunya.


Tenyata, bos mereka tidak menginginkan LB tersentuh. Linda sedikit lega. Penjahat yang memegang ponsel mengakhiri panggilan.


"S i a l," umpatnya.


"Ya sudah, daripada uang kita raib, kita langsung serahkan pada bos saja. Tak apa kalaupun kita mecicipinya di urutan terakhir."


"Jangan mimpi!" teriak Linda. Ia teramat muak dengan apa yang mereka bicarakan.


Mereka melepas ikatan di tangan Linda, lalu menyeret paksa Linda ke dalam mobil. Saat Linda berhasil dimasukkan ke dalam mobil, Bu Ira yang masih pingsan ditendang keluar.


"Bu Iraaa," teriak Linda. Lalu mobil itu melesat meninggalkan rumah Agam.


...❤...


...❤...


...❤...


Pak Yudha di ambang kebimbangan, belum sampai rumah sakit, hatinya tiba-tiba gundah-gulana.


Bukankah ia diamanatkan untuk tidak beranjak dari rumah dan tetap menjaga Linda? Lalu kenapa ia malah melanggar perintah itu? Tapi jika tidak ke rumah sakit, bagaimana dengan nasib Gama?


Mobil yang dikendarai Pak Yudha tidak beranjak. Sungguh ia bingung luar biasa. Lekas menelepon pengacara Vano karena perasaannya tidak tenang.


"Hallo Pak Vano, Anda sekarang di mana?"


"Sebentar lagi sampai di bandara, kenapa, Pak?"


"Saya sepertinya tidak bisa ke rumah sakit, saya takut terjadi apa-apa pada LB."


"Apa?! Terus bagaimana dengan Gama?"


"Begini saja, Anda ke rumah sakit ya, saya akan kembali ke rumah. Ibunda pak Agam mungkin tidak masalah kalaupun kita terlambat menjemputnya," kata Pak Yudha.


"Ya ampun, Pak. Kenapa keputusannya mendadak? Ya sudah, cepat laksankan." Suara Vano terdengar memburu, pertanda jika pengacara tersebut sedang panik.


Pak Yudha bergegas, ia bahkan ugal-ugalan demi cepat sampai ke tujuan.


"Woy, gila ya!" teriak pengendara lain. Namun Pak Yudha tak peduli. Pikirannya mungkin sudah berada di rumah Agam.


.


Saat melihat gerbang yang terbuka, jantung Pak Yudha berdegup kuat. Lanjut memasukkan mobilnya ke garasi.


'Ckiiit.'


Segera direm mendadak saat melihat bu Ira tergeletak tak sadarkan diri di halaman rumah.


"Astaghfirullahaladzim!" Pak Yudha menyadari kelalaiannya.


"Bu Ira, Bu Ira! Bangun, Bu!" serunya.


Namun Bu Ira bergeming, dan Pak Yudha tahu jika Bu Ira dalam pengaruh obat bius. Segera membaringkan Bu Ira di sofa yang berada di ruang tamu. Kemudian berlari ke ruang CCTV tanpa mengecek kamar Linda karena Pak Yudah berpikir jika Linda telah diculik.


"Tidaaak," teriak Pak Yudha saat ia melihat rekaman CCTV terbaru di gerbang dan depan kamar utama.


Lanjut menelepon seseorang dengan tangan gemetar sambil mundar-mandir kesana-kemari.


"Kenapa nomor Pak Agam tak aktif?!"


Kepanikan kian menjadi. Kemudian menelepon nomor lain. Tapi bukan nomor Agam Ben Buana.


"Hallo Aiptu Joey, bisa bantu saya? Tolong Pak Joey, ini sangat urgen!"


"Ya Pak Yudha, kenap**a?"


"Pokoknya, saya akan kirim rekamannya sekarang juga." Pak Yudha mengakhiri panggilan. Pelipisnya sudah mulai dibasahi keringat dingin saking paniknya.


"Maafkan saya pak Agam, maafkan LB," gumamnya sambil menyalakan monitor.


...❤...


...❤...


...❤...


"Ohh ... emh ..., ya Ice, di situ Ice, tekan lebih keras istriku. Yes Ice, kamu sangat berbakat," puji Gama.


Gama sedang dipijat oleh Freissya di sela-sela ujiannya. Gama bahkan menyuruh Freissya naik ke punggungnya. Gama tengkurab pasrah. Hanya ada satu mata pelajaran lagi yang belum diselesaikan.


Freissya patuh. Ia mengikuti titah Gama dengan hati.


Sementara di luar ruang pemulihan, Vano yang baru saja tiba berpikir keras. Di depan ruangan tempat Gama dirawat, tengah bekerumun guru, dokter jaga dan suster.


Bagaimana mungkin Vano bisa masuk jika kondisinya seperti itu. Ini benar-benar di luar rencana. Belum juga ia mendapatkan ide, ponselnya berbunyi. Ada panggilan dari pak Yudha.


"Ada apa, Pak?"


"Pak Vano, LB diculik."


"APA?!" Mata Vano membelalak.


"Benar Pak, jika Pak Vano belum bertemu dengan Gama, kita prioritaskan menolong LB dulu. Pak Vano cepat beritahu pak Agam. Saya sudah menghubunginya tapi tidak aktif."


"Ya ampun, Pak. Kenapa bisa?!"


Vano menjauh dari kamar Gama. Misi memanipulasi hasil ujian Gama, failed. Beralih ke skala prioritas menyelamatkan LB.


"Sekarang bukan saatnya tanya kenapa, Pak! Sekarang saatnya menyelamatkan LB!" teriak Pak Yudha. Panggilanpun berakhir.


Vano berlari menuju lift, tangannya sibuk melakukan panggilan pada Agam. Hasilnya, sama dengan pak Yudha, nomor Agam tidak aktif.


Di mananah pria itu? Di manakah si sumber masalah itu? Di manakah si pemeran utama itu? Vano berpikiris keras.


Harus pada siapa ia meminta tolong untuk mengetahui keberadaan Agam? Di dalam mobil, ia lanjut berpikir. Ting, sebuah gagasan muncul.


"Ha-halo Tuan Deanka, mohon maaf mengganggu?"


Sudah lama ia menghindari menelepon si Tuan Muda. Sebab kata pak Barata, semenjak Aiza melahirkan, Deanka sering uring-uringan tanpa sebab. Namun di hari ke 45 pasca Aiza melahirkan, pak Barata menceritakan jika Deanka kembali ramah, bahkan lebih ramah dari sebelum-sebelumnya.


"Ada apa, Vano?!" bentaknya.


S i a l, bukankah kata pak Barata dia sudah ramah? Vano membatin.


"Apa kabar, Tuan Muda?"


"Baik," jawabnya singkat.


"Be-begini Tuan Muda, LB diculik, pak Agam tak bisa dihubungi, bisakah Anda menolong saya?"


Vano tahu jika Deanka adalah anggota BRN. Itulah alasan kenapa dirinya menghubungi Deanka.


"Oh," hanya itu responnya. Lalu Deanka mengakhiri panggilan.


"Apa?!"


Vano memasygul kepalanya. Tuan Deanka menutup panggilan sebelum memberikan solusi kepadanya.


"Aaargh!" teriaknya. Lalu melajukan kemudi menuju rumah Agam sambil menunggu informasi dari Aiptu Joey.


...❤...


...❤...


...❤...


Deanka merenung, sebagai anggota BRN ia tentu saja diharuskan menghadiri sidang etik. Usut punya usut, Agam Ben Buana ternyata ditangkap bukan untuk dieksekusi, melainkan untuk dilakukan sidang etik yang sempat tertunda.


Federasi dari BRN internasionalpun dihadirkan. Mereka semua akan mengambil voting guna menjatuhkan vonis atas pelanggaran salah satu poin 'Malima' yang dilakukan oleh Agam Ben Buna alias Maga.


Sekarang sedang dibacakan di depan sidang mengenai keputusan akhirnya. Karena Agam bertanggung jawab pada LB, dan merujuk pada beberapa keterangan LB yang isinya tentang poin positif seorang Maga, maka forum memutuskan untuk tidak melakukan eksekusi pada Maga.


Namun keputusan forum tetap mengikat jika mereka akan merekrut Gamayasa Val Buana sebagai kandidat anggota BRN. Hal ini diputuskan setelah hasil ujian akhir milik Gama ditampilkan di hadapan forum.


Agam melongo, ia kaget karena nilai Gama sempurna. Padahal ia sudah menyuruh Vano untuk memanipulasinya.


Kenapa jadi begini?


Pak Dirut keheranan, namun semenjak Gama terpilih menjadi kandidat, Agam sudah curiga jika salah satu guru Gama bekerjasama dengan BRN.


Sedangkan Deanka tengah mencari celah untuk bisa berkomunikasi dengan Agam.


"Saya bersedia mempertimbangkan keputusan BRN untuk merekrut adik saya asalkan hukum mati bagi pelanggar 'Malima' dikaji ulang. Saya juga berharap agar BRN tidak mencampuri urusan pribadi anggotanya termasuk membebaskan para anggota untuk menikah dengan wanita pilihan mereka."


"Saya merasa miris ketika BRN menolak pernikahan adat nona Aiza dan Tuan Deanka. Namun setelah kalian tahu nona Aiza adalah putri tuan Bahir Finley Haiden, petinggi BRN tiba-tiba menyetujui pernikahan itu."


Deanka menghela napas mendengar penjelasan Agam, ia sebenarnya tidak rela karena nama istrinya disebutkan di forum ini. Tapi Deanka sadar jika dalam hal ini BRN memang pilih kasih dan sangat gila kedudukan.


"Aku setuju dengan Maga, siapa yang setuju dengan pendapatku silahkan berdiri. Oiya, sebenarnya aku juga muak dengan peraturan di badan negara ini. Setelah kupikir-pikir, kurasa aku juga lebih baik mundur dari keanggotaan ini," tegas Deanka.


"Apa yang Anda bicarakan Tuan Muda? Tolong jangan gegabah dalam membuat keputusan," kata Pak Wakil.


Jika Deanka juga mundur, maka posisi BRN akan semakin lemah. Ia tahu jika Deanka bisa memanipulasi program pada cip, ia tidak ingin kehilangan Deanka.


Lalu delapan orang anggota BRN berdiri, mereka terang-terangan mengatakan berada di pihak Maga dan Tuan Deanka.


Setelah delapan orang berdiri, lima orang berdiri lagi. Posisi hampir imbang. Namun kubu yang pro pada peraturan lama masih lebih banyak.


"Kami merasa ada masalah pelik yang terjadi pada BRN di negara ini! Kami dari federasi internasional tidak akan memihak pada kubu yang jumlahnya lebih banyak. Kami hanya tunduk pada kubu yang lebih kuat," ujar ketua dari perwakilan federasi BRN internasional.


Para anggota saling menatap. Mereka sadar akan diaduterongkan.


'DOR.'


Tuan Deanka meletupkan senjatanya. Keadaan ini harus segera diakhiri. Lalu dengan lantang ia berkata ....


"Mari kita bertarung demi BRN yang lebih baik!"


"Ya, mari kita lakukan pertarungan dengan tangan kosong. Mati di sini, atau pulang sebagai pencundang!" teriak kubu anti Maga, meladeni tantangan Tuan Deanka.


"Siapa takut, kami siap!" sahut Deanka sambil menjatuhkan senjata yang dibawanya.


Apa yang dilakukan Deanka diikuti oleh seluruh anggota. Setelah tangan kosong, mereka lantas berbaris membentuk dua kubu yang saling berhadapan.


"Karena Maga eks anggota BRN, aku menginginkan agar Maga tidak ikut dalam pertarungan ini!" teriak Pak Wakil yang pada akhirnya menerima gaya rimba ini untuk mengambil keputusan.


Salah satu perwakilan dari federasi internasional tersenyum puas. Ada kebangaan tersendiri karena ia merasa jika anggota BRN di negara ini mudah diperalat.


Ia tidak sadar jika seringai liciknya dilihat oleh si raja rimba Agam Ben Buana.


Maga yang jiwa patriotnya tinggi, jelas tidak sudi jika negaranya diremehkan. Maga meloncat dan menendang meja yang berada di hadapan perwakilan federasi.


'BRAK.'


"Jangan sombong kalian! Apa kalian lupa jika di masa lalu negara kalian pernah dikalahkan oleh nenek moyang kami?! Jangan pernah melupakan sejarah!" teriak Maga.


Tindakan Maga membuat suasana di ruang bawah tanah itu semakin mencekam. Lalu seluruh anggota BRN mengalihkan pandangan pada perwakilan itu. Namun Deanka tak ingin ini berlarut-larut.


"Hiyaaa," teriak Deanka, ia memulai serangan. Tubuhnya melesat cepat melawan anggota BRN yang kontra Maga.


"Seraaang!" teriak yang lain.


Pak wakil memucat, ia tidak bisa diam. Ia yakin harus melibatkan militer dan polisi untuk menangani kekacauan ini. Namun saat hendak mengambil teleponnya, sebuah tangan menyerangnya tanpa terbaca.


"Jangan sampai Anda membuat kegaduhan baru! Negara ini sudah gaduh walau Anda tak berulah! Atau Anda sudah siap jika BRN dihapuskan dari negara ini?" Suara berat itu menciutkan nyali Pak Wakil.


"Ma-Maga?" Pak Wakil gelagapan.


"Saya akan menjadi penonton," kata Maga. Namun tiba-tiba, Deanka mendekat.


"Maga, cepat pergi dari tempat ini! Istrimu di culik," bisik Deanka.


"Apa?! Apa maksud Anda, Tuan Muda? Jangan bergurau!"


Deanka belum sempat menjelaskan apapun karena ia diserang. Namun sebelum berlalu dari Maga, Deanka melemparkan id cardnya. Maga menangkap id card itu sambil mengernyitkan alis.


Id card ini bisa digunakan untuk membuka gerbang kantor BRN yang hanya bisa diakses oleh anggota aktif.


"Cepat pergi! Atau kamu akan menyesal seumur hidup!" teriak Deanka. Magapun bergegas membawa id card itu. Namun ini tak mudah.


"Maga! Keputusan sidang etik belum ketuk palu. Anda tidak boleh pergi! Maga dihadang.


"Minggir!" Sambil menendang, lalu berlari menuju pintu keluar.


"Kejaaar, Maga mau kabur!" teriak yang lain.


Pak Wakil memijat keningnya. Ia benar-benar merasa tak berdaya dan tak punya kuasa apapun di saat seperti ini. Anggota BRN yang kontra Maga mengejar. Di satu sisi, kubu oposisi telah berhasil memukul mundur pendukungnya.


"Biarkan Maga pergi!" teriak Pak Wakil. Ia jelas tak ingin menambah keterpurukan pendukungnya dengan melawan Maga yang memang tiada tanding.


Maga akhirnya meninggalkan gedung yang sedang memanas itu tanpa aral-lintang.


Setelah berhasil keluar dari gedung BRN, Maga segera mengaktifkan ponselnya yang tadi sempat dinonaktifkan oleh tim keamanan. Lalu memasuki mobilnya, dan tangan Agam gemetar saat mendapati pesan suara dari nomor yang tak ia dikenal.


"Lepaskan! Huuu ...."


"Jangan sentuh aku, please ...."


"Pak Agam ... huuu ... huuu ...."


"Hahaha, suamimu tidak akan menolongmu. Sekarang, akulah yang akan menjadi suamimu. Hahaha, suami jadi-jadian," katanya.


Seketika wajah tampan itu merah-padam. Maga mengenali suara ini.


"REYNALDI?! KAMU?! AKAN KUBUNUH KAMU JIKA BERANI MENYENTUH ISTRIKU!!" teriak Maga. Ia membalas pesan suara itu dengan gigi gemeretak.


Lalu mengatur napas untuk meredam amarahnya. Namun Pak Dirut jelas tas bisa menyembunyikan kepanikan dan kekhawatirannya. Mata sayunya tampak berkaca-kaca. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada wanita yang sangat dicintainya.


"Sayang ... maafkan saya," lirihnya.


Pak Reynaldi, kenapa Anda tega sekali? Sedari awal, saya tidak pernah menginginkan kursi Dirut HGC. Saya dipilih menjadi kandidat Direktur karena usulan dewan direksi. Lalu terpilih secara demokratis. Saya tidak pernah mencurangi Anda untuk mendapatkan posisi ini.


Sambil melajukan kemudi, batin Pak Dirut berkecamuk. Terungkap sudah. Reynaldi adalah rival Agam Ben Buana saat pemilihan Diurut HGC yang dilaksanakan untuk menggantikan Dirut lama yang sebelumnya diduduki oleh tuan Deanka Kavindra Byantara.


...~Tbc~...